End of Flashback.

Sakura terlarut dalam cerita Ino tersebut. Ia memandangi wajah Ino yang begitu sedih mengingat masa lalunya.

"Ino-san, jangan bersedih lagi," ucap Sakura menenangkan. Ia mengelus pundak Ino. Ino menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

"Ah, rupanya aku sangat cengeng, ya? Maafkan aku, Sakura-chan," ucap Ino sambil tersenyum sedih. Sakura menggeleng. Kemudian seperti teringat sesuatu.

"Jadi, rumor siswi yang bunuh diri di sumur itu Ino-san?" tanya Sakura tak percaya. Ino tertawa kecil.

"Mungkin," jawabnya tanpa rasa sesal. Sakura menatap Ino dengan pandangan yang tak bisa dilukiskan dengan jelas. Antara kagum atas kegigihan Ino, kasihan atas penderitaan Ino. Diam beberapa saat diantara mereka.

"Ino-san, err... apakah Ino-san menyesal berada disini?" tanya Sakura. Ino tersenyum manis. Kesedihan yang sebelumnya perlahan menguap begitu saja.

"Terkadang jika aku mengingat sahabat baikku. Tapi dengan keberadaan kalian semua disini, aku merasa senang," ungkap Ino dengan nada gembira yang sangat kentara. Sakura tersenyum kecil.

"Ah, iya. Lalu berarti itu artinya, kita semua disini dipilih untuk berada disini, begitu kan, Ino-san?" tanya Sakura meyakinkan. Ino mengangguk.

"Tepat. Aku, kau, Naruto, dan Sasuke memang telah dipilih berada disini untuk mencari sebuah batu kebahagiaan," ucap Ino dengan nada cerianya seperti biasa. Sepertinya tidak akan ada yang menyangka kalau ia baru saja menangis jika melihat wajahnya yang kembali semangat—abaikan bekas air matanya.

"Apakah ada orang lain lagi?" tanya Sakura lagi.

"Kalau pembatas itu sudah hilang, berarti memang cuma kita berempat," ungkap Ino.

"Pem-pembatas?" tanya Sakura bingung. Ino mengangguk mantap.

"Ya, pembatas. Sebelumnya kami bertiga tidak bisa pergi melampaui padang savannah tempatmu ditemukan itu, Sakura-chan," Ino tersenyum. Sakura mengangguk disertai bunyi 'oh begitu' dari mulutnya.

"Ya, kalau tidak, Sasuke sudah melarikan diri dari dulu. Hahaha," ucap Ino sambil tertawa. Sakura tiba-tiba teringat. Wajahnya muram kembali.

"Aku belum meminta maaf kepada Uchiha-san," katanya dengan nada sedih. Ino menepuk pundak Sakura.

"Tak apa, Sakura-chan. Tak perlu khawatir berlebihan. Aku akan membantumu, Sakura-chan," kata Ino menenangkan. Sakura mengangguk. Dengan Ino, Sakura merasa segalanya akan menjadi lebih baik.

"Errr... Kita makan dulu, yuk? Aku sudah sangat lapar," ucap Ino tiba-tiba. Ia memegangi perutnya yang keroncongan. Sakura mengangguk.

"Nah, pasti Naruto dan Sasuke sudah mencari makan," ungkap Ino dengan nada semangat. Dengan sigap ia memegang lengan Sakura dan menuntunnya keluar kamar. Kemudian memasuki ruangan di depan kamar Ino, yang ternyata adalah dapur.

Terdapat meja kecil dan sebuah kursi dengan beberapa mangkuk dan gelas—dari bambu diatasnya.

"Ah, belum yah. Kalau begitu, kita keluar saja, Sakura-chan! Pasti kedua laki-laki itu ada diluar membakar ikan seperti biasanya," kata Ino. Kedua gadis itu pun melangkahkan kakinya ke bagian depan rumah itu. Ino membawa Sakura melangkah lebih jauh, mendekati tempat mandi yang tadi pagi ditunjukkan oleh Naruto. Akan tetapi kali ini mereka berdua berbelok ke kiri, dan tak jauh dari situ terlihat Sasuke tampak serius sedang mencoba menangkap ikan dengan tongkat panjang yang ujungnya runcing. Ia tampak menggulung celananya sampai lutut dimana batas air itu mengenai tubuhnya.

"Oi, Sasuke! Dimana Naruto?" Tanya Ino setengah berteriak mengingat jarak mereka lumayan jauh. Sakura dengan cepat menyembunyikan dirinya di balik tubuh Ino—lagi. Ino terkikik kecil.

"Ayolah, Sakura-chan, tidak apa-apa," ucap Ino menenangkan. Sakura menggeleng.

"Ta-tapi dia bilang—"

"Tidak usah dipedulikan. Ne, sekarang ayo kesana!" kata Ino lagi, menyeret lengan Sakura mendekat ke arah Sasuke yang kini menatap mereka berdua. Sakura merasakan panas dingin ketika pandangan Sasuke mengarah kepadanya. Cepat-cepat ia menunduk menghindari bertemu pandang. Sasuke melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tanpa mengatakan apapun. Ino mendengus pelan.

"Ayolah, jangan seperti itu, Sas—"

"Oi! Aku dataaaaang!" sebuah suara cempreng memutus kalimat Ino. Mereka berdua—Sakura dan Ino yang berdiri di tepi sungai melihat Naruto yang muncul dari sebuah hutan kecil sambil membawa buah-buahan di tangannya di depan dada. Ia berlari-lari mendekati rombongan teman-temannya.

"Ah, aku dapat lumayan banyak nih. Dan—wah! Sakura-chan! Kau cantik sekaliiii!" ungkap Naruto dengan pandangan takjub ke arah Sakura yang langsung menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ino tersenyum manis.

"Iya dong. Aku yang mendandaninya loh!" Ino menepuk dadanya bangga.

"Aku tidak tanya tuh!" kata Naruto mencibir. Ino membeliakkan matanya jengkel.

"Jangan mulai atau kupukul kepala durenmu!" kata Ino sambil mengangkat kepalan tangannya. Sakura tertawa kecil.

"Ck! Daripada bertingkah bodoh lebih baik bantu aku menangkap ikan," sela Sasuke dengan suara dingin. Kedua gadis beserta seorang lelaki berambut pirang menoleh kepada seorang laki-laki yang berwajah kesal.

"Eh, baiklah..." ucap Naruto dan Ino semangat.

"Aku suka sekali bermain di sungai!" ucap Naruto dengan nada riang. Segera, digulungnya celana panjang oranyenya sampai ke lutut, dan mengambil kayu runcing di dekat sungai kemudian ia berjalan menuju sungai menyusul Sasuke.

"Ah, aku juga ingin membantu!" ucap Ino dengan riang. Ia langsung berjalan menuju ke sungai. Saat ini ia memakai rok di atas lutut, sehingga ia tidak perlu repot menggulungnya seperti kedua temannya yang lain.

Sakura terpaku menatap mereka. Sebenarnya ia juga tidak enak jika berdiam sementara yang lain bekerja. Tetapi, di sana ada Sasuke, yang membuatnya takut.

"Sakura-chan! Apa kau ingin juga kemari? Airnya sangat segar!" ucap Ino sambil mengacungkan tongkat runcingnya. Naruto disebelahnya mencibir.

"Kau kan cuma bermain saja, Ino!" kata Naruto sambil menjulurkan lidahnya kearah Ino, membuat gadis dengan tubuh bagus itu menodongkan tongkatnya ke arah Naruto yang segera bersembunyi di balik tubuh Sasuke yang lebih tinggi.

"Ck! Berhentilah bermain-main!" ucap Sasuke dengan nada jengkel. Ia melanjutkan kegiatannya. Naruto memonyongkan bibirnya ke arah Sasuke dan kemudian berjalan lagi untuk mencari ikan.

"Tidak asik!" cibinya mengabaikan perempatan jalan muncul di dahi Sasuke.

Sakura tersenyum. Sekarang ia mempunyai teman—mungkin? Dengan segera ia melangkah ke sungai. Air segar membuat kulitnya nyaman. Ia menjadi bersemangat. Di hari yang belum begitu panas ditemani cicit burung, keempat remaja itu mencari ikan bersama.

"AAAA! IKAN BESAAAAR!" teriak Naruto seketika. Ketiga remaja lainnya menoleh ke arah lelaki berambut pirang itu dan terkejut melihat ikan yang sangat besar berada di dekapan Naruto.

"Waaaah! Hebat kau Naruto!" seru Ino seketika. Bahkan ia memuji Naruto, tidak seperti biasanya. Sakura tertawa kecil sedangkan Sasuke hanya menyeringai. Naruto menggaruk belakang kepalanya salah tingkah, kemudian menggosok hidungnya.

"Hihihi! Iya dong! Aku ka—" perkataan yang tak akan pernah selesai karena tiba-tiba ikan besar dalam dekapannya itu meloncat kembali menuju sungai.

"TIDAAAAK!" seru Naruto histeris. Dengan segera ia mengejar ikan yang telah berenang cepat menuju ke arah Sakura yang berada di depan Sasuke. Sedangkan ketiga orang lain belum sadar dengan apa yang barusan terjadi.

Dan bukannya menangkap ikan, Naruto malah menubruk Sakura mengakibatkan gadis itu jatuh kebelakang menimpa Sasuke.

BYUUUR

"BHAHAHAHA!" tawa Ino pecah melihat ketiga teman dan posisi mereka. Sasuke jatuh terduduk dengan Sakura berada di atas tubuhnya, ditambah Naruto yang menubruk Sakura.

"BERAT!" ujar Sasuke sambil berusaha menyingkirkan tubuh kedua orang di atasnya.

"U-Uchiha-san, maaf. Aku tidak—" Sakura berusaha berdiri namun tubuhnya pun tertindih oleh Naruto.

"Aduh, aduh! Kenapa jadi seperti ini?!" Naruto yang saat ini posisinya paling atas—memeluk perut Sakura segera berdiri sambil nyengir minta maaf. Dengan segera Naruto menarik tangan Sakura membantunya berdiri. Dan terakhir, membantu Sasuke yang menggerutu tidak jelas.

"Bodoh!" cibir Sasuke sambil melihat ke seluruh pakaiannya yang basah kuyup. Naruto cemberut. Ia masih memeras ujung pakaiannya yang basah sama seperti Sakura.

"Mana aku tahu kalau akhirnya begitu!" belanya pada dirinya sendiri. "Dan Ino! Bukannya membantu malah tertawa!" sergah Naruto kesal karena melihat Ino masih tertawa cekikikan.

"Hahaha. Iya iya!" Ino berkata dengan mata sedikit berair mendekati Sakura yang memeras bajunya yang basah.

"Ne, maafkan aku, Sakura-chan! Nanti kau ganti baju lagi ya!" kata Ino dengan senyum manisnya. Sakura hanya mengangguk malu.

"Kau harus mencari ikan, Naruto!" kata Sasuke tajam. Ia memandang Naruto dengan death glare andalannya. Naruto mendengus pelan.

"Iya iya! Asal kau ambilkan baju ganti!" kata Naruto. Dengan cepat ia merebut tongkat Sasuke dan berjalan untuk mencari ikan. Ino ikut membantu Naruto.

"Eh, Sakura-chan! Kau ambil baju ganti bersama Sasuke tidak apa-apa kan?" ucap Ino sambil memandang Sakura. Sakura hanya melongo.

"Ta-tap..." Sakura menggelengkan wajahnya. Ino menggaruk kepalanya sambil nyengir.

"Maafkan aku Sakura-chan! Tapi... Hm, okedeh aku saja kalau begitu. Kau disini saja dengan Naruto," ucapan Ino membuat Sakura benar-benar lega. Ino segera pergi dari sungai.

"Jaga Sakura-chan baik-baik, Naruto!" ucap Ino. Naruto memutar bola matanya.

"Tentu saja!"

Detik berikutnya Ino segera berlari menyusul Sasuke yang sudah berjalan jauh menuju ke rumah.

"Oi! Tunggu aku Sasukeeeee!"

.

Sakura mencoba untuk membantu Naruto mencari ikan dengan mengambil tongkat yang sebelumnya ditinggalkan Ino di tepi sungai. Dengan segera ia menyusul Naruto yang sedang serius untuk membidik ikan dengan tongkatnya.

"Naruto-nii?" ucap Sakura ketika sampai di sebelah Naruto. Naruto tersentak kaget.

"Sakura-chan! Kau bantu aku menangkap ikan, ya!" ucap Naruto semangat. Ia segera menggandeng tangan Sakura—lagi-lagi membuat wajah gadis itu merona. Kedua remaja itu pun asyik dengan kegiatan masing-masing.

(_ _')zzZZ

"Akhirnya dapat banyak juga, Sakura-chan! Ngomong-ngomong, Teme dan Ino lama sekali. Sedang apa ya mereka?" tanya Naruto sambil mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan di atas tumpukan daun disebelah kayu bakar. Sakura mengangguk. Hari sudah mulai panas dan pakaian yang ia kenakan hampir kering tetapi Ino dan Sasuke belum juga muncul.

"Jangan-jangan mereka..." ucap Naruto sambil menyeringai lebar. Sakura yang melihatnya menjadi ngeri.

"Mereka ke-kenapa, Naruto-nii?" tanya Sakura bingung. Naruto menoleh kepada Sakura dengan masih menampakkan ekspresi sebelumnya.

"Ya kau tahu lah, Sakura-chan. Laki-laki dan perempuan berduaan..." kata Naruto kemudian tertawa terkekeh. Sakura yang mendengarnya wajahnya kemudian merona. Pikirannya melayang kepada Ino dan Sasuke yang sekarang tidak ada disini. Sedang apa ya mereka? Apa mereka sedang... Ah tidak, tidak! Jangan berpikir mesum, Sakura! Tapi kalau dipikir-pikir... Ino dan Sasuke sangat cocok juga. Mereka sama-sama dewasa, dan sama-sama berwajah diatas rata-rata. Tinggi mereka benar-benar serasi. Membayangkannya saja membuat Sakura merasa Ino dan Sasuke benar-benar pasangan yang sempurna. Dan ia benar-benar tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya kepada lelaki yang sedang duduk di sebelahnya—yang rupanya sedang membuat api dengan korek api lusuh.

"Na-naruto-nii. Bolehkan aku bertanya?" kata Sakura malu-malu. Naruto yang sebelumnya berkonsentrasi menoleh kepada Sakura.

"Tentu saja!" ucap cowok itu dengan ceria. Sakura merona kembali untuk yang keberapa kalinya hari ini. Sakura pun mencoba mengeluarkan pertanyaan yang sebelumnya mengganggu pikirannya.

"Anoo... Memang benar, ya. Kalau Ino-san dan Uchiha-san itu pacaran?" tanyanya dengan ekspresi lugu. Membuat Naruto tersenyum kecil. Beberapa detik kemudian lelaki penuh semangat itu tertawa.

"Bhahaha, bukan kok... Hehehe, Sasuke saja orangnya cuek seperti itu!" kata Naruto. Sakura menganggukan wajahnya.

"Sayang sekali ya..." ucapnya dengan kepala menunduk. Naruto mengangkat salah satu alisnya tinggi-tinggi.

"Kenapa?"

"Ya ka-karena mereka cocok. Itu saja," ungkap Sakura kemudian tersenyum. Naruto tersenyum lebar kemudian nyengir.

"Hahaha, yang benar saja, Sakura-chan. Si galak disandingkan dengan si cuek? Mana bisa?" katanya sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri. Sakura menelengkan wajahnya.

"Ke-kenapa tidak? Bukannya saling melengkapi?" tanyanya bingung. Naruto memandang Sakura dalam. Sakura terkesiap kemudian menunduk. Ia berani bersumpah sempat melihat wajah Naruto muram tadi.

"Na-naruto-nii. Maafkan aku," ucap Sakura pelan.

Diam sejenak dan itu membuat Sakura merasa tidak nyaman.

"Maaf untuk apa? Hahaha, ada-ada saja kau Sakura-chan!" kata Naruto dengan nada riang kemudian menepuk kepala Sakura pelan. Sakura tersenyum dipaksakan.

"Bah, mereka lama sekali! Kalau begitu kita bakar duluan ikannya, Sakura-chan!" ujar Naruto. Ditusukkannya ranting runcing ke tubuh ikan yang sudah dicuci tersebut dan mulai memanggangnya di atas api yang rupanya sudah mulai membesar. Sakura mengangguk dan mulai membantu Naruto.

(_ _')zzZZ

"Gomen lama, teman-teman!" teriak Ino dengan napas ngos-ngosan ketika ia mencapai Sakura dan Naruto yang sedang menekuni aktivitas mereka—membakar ikan. Dibelakang Ino tampak Sasuke. Naruto nyengir.

"Kalian habis apa?" tanyanya dengan cengiran berniat menggoda. Sasuke berdecih.

"Seenaknya saja kau bilang apa! Tadi kami menemukan ular masuk rumah tahu!" tukas Ino galak sambil menoyor kepala Naruto membuat lelaki itu menggerutu.

"U-ular?" tanya Sakura takut. Binatang berdarah dingin dan mengerikan itu? Ino tampak mengangguk.

"Yeah, Sakura-chan! Tapi kau tak usah takut, karena Sasuke sudah membunuhnya!" kata Ino sambil mengacungkan jempolnya. Sakura menunduk.

"Ayo makan!" suara Naruto memecah keheningan yang sempat terjadi. Ino dan Sasuke pun bergegas duduk mengelilingi api. Mereka berdua memberikan pesanan rekan mereka yang lain—pakaian ganti.

(_ _')zzZZ

"Kenyangnyaaaaa!" ungkap Naruto dan Ino bersamaan. Sakura tersenyum kecil melihat Ino dan Naruto mengelus perut mereka berdua, kompak.

"Hei, Ino, menurutmu kapan kita akan mencari batu kebahagiaan itu?" tanya Naruto sambil menoleh ke arah gadis yang sedang mengelus perutnya. Ino menoleh.

"Kau ingin secepatnya, Naruto?" bukannya menjawab, Ino malah balik bertanya. Naruto mengangguk.

"Kapanpun kalian semua mau," kata Ino sambil tersenyum memandangi teman-temannya. Sakura memiringkan kepalanya.

"Batu kebahagian itu bagaimana, Ino-san?"

Ino mengangguk. Kemudian berkata,"Ne, Sakura-chan, Aku sendiri kurang yakin sih. Tapi dikatakan dalam buku yang aku temukan di perpustakaan desa, apabila kita menemukan batu kebahagiaan kita akan menemukan kebahagiaan pula. Aku pun tidak tahu kebahagiaan yang seperti apa. Tapi... aku pikir ini adalah kebahagiaan secara subyektif. Menurutmu, apa arti kebahagiaan bagimu, begitu," terang Ino panjang lebar. Sakura mengangguk.

"Wujud batunya seperti apa?" tanyanya penasaran. Ino menaruh telunjuk di dagunya kemudian berpikir.

"Kurang tahu. Yang jelas itu adalah sebuah batu. Entah batu apa, tidak dijelaskan secara rinci,"

"Lalu bagaimana kita tahu batu itu ada dimana?" tanya Sakura kembali.

"Ne, di dalam buku yang sudah aku bawa, disana ada petanya, Sakura-chan," jawab Ino.

"Haaah, ada-ada saja ya, dimensi ini!" ujar Naruto sambil menaruh tangannya di belakang kepalanya. Ino tersenyum.

"Yeah, tapi kau membutuhkannya juga, kan?" tanya Ino sambil menyeringai. Naruto membuang wajahnya. Mereka semua terlarut dalam pikiran masing-masing. Batu kebahagiaan? Bisakah mereka mendapatkannya nanti?

"Hn, aku duluan," ujar Sasuke setelah sekian lama berdiam. Ia berdiri kemudian melangkah menuju ke rumah. Sakura terdiam mengamati lelaki yang ditakutinya itu menjauh.

"Hah, tetap tidak berubah. Suka menyendiri!" cibir Naruto.

"Ya, tapi ada peningkatan, kan? Ia sudah mau bersosialisasi dengan kita? Sudah sedikit akrab malah!" kata Ino. Mereka bertiga mengawasi punggung tegap Sasuke menjauh. Laki-laki itu tak menoleh sedikitpun, pandangannya lurus ke depan.

"A-apa maksudnya?" tanya Sakura bingung. Berada di saat orang lain membicarakan sesuatu yang tak kau tahu membuatmu canggung sekaligus bingung. Naruto dan Ino menoleh.

"Yeah, dulu waktu kesini ia adalah pribadi tertutup dan menyebalkan. Beberapa kali ia terus mencoba mengakhiri hidupnya tapi entah kenapa selalu gagal," kata Ino sambil mengangkat bahunya. Ia membenahi duduknya menjadi bersila—sebelumnya ia bersimpuh sama seperti Sakura.

"Benarkah? Memangnya kenapa dengannya, Ino-san?" tanya Sakura kaget sekaligus bingung. Ino menghela nafas.

"Yaaah, dia mengalami hal menyedihkan waktu di dunia kita. Katanya semua keluarganya dibunuh oleh seseorang," ucap Ino dengan wajah iba. Sakura tersentak kaget.

"Benarkah? Bagaimana ceritanya?" tanyanya penasaran. Naruto di sebelahnya hanya menampakkan ekspresi muram.

"Aku juga kurang tahu. Dulu sewaktu pertama disini ia seperti gila. Beberapa kali ia mencoba bunuh diri tapi selalu gagal. Untung saja beberapa hari kemudian Naruto muncul dan mengubahnya sedikit demi sedikit," ucap Ino sambil tersenyum kecil. Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya. Sakura menatap kedua orang berambut kuning di depannya dengan tatapan kagum. Di satu sisi, mereka berdua—Naruto dan Ino bisa bertengkar karena hal sepele, di sisi lain mereka bisa saling memuji dan kompak. Selain itu, mereka seperti bisa memberikan terapi penyembuhan untuk Uchiha Sasuke yang mungkin mengalami trauma hebat waktu itu.

"Kalau begitu, kasihan sekali Uchiha-san itu..." ucap Sakura sambil menunduk. Helaian poninya menutupi dahinya.

"Yeah, aku kira kita semua bernasib sama, Sakura-chan. Tapi kita harus yakin kalau kita bisa menjalaninya!" kata Naruto tiba-tiba. Sakura menoleh cepat, memandang wajah lelaki yang sedang tersenyum sambil menerawang ke langit. Sakura dan Ino tersenyum.

"Naruto-nii, juga?" tanya Sakura tak percaya. Lelaki penuh semangat ini...

Naruto menghela napasnya kemudian mengangguk.

"Yeah. Tapi yang lalu biarkan saja berlalu Sakura-chan," ucap Naruto kemudian tersenyum manis. Sakura membalas senyum Naruto.

"Hoaaaaahm. Aku ngantuk. Aku tidur dulu ya teman-teman. Nanti malam kita bahas tentang batu kebahagiaan. Oke?" ucap Ino setelah menguap lebar kemudian berdiri dan merapikan bajunya. Ditepuk-tepuknya roknya untuk menjatuhkan debu maupun rumput kering yang menempel.

"Dasar pemalas," cibir Naruto yang segera terbalaskan dengan jitakan maut Ino.

(_ _')zzZZ

"Uwaaaaaa, kelincinya lucu sekaliiiiii~" ucap Sakura ketika ia sedang berjalan-jalan di luar. Ia melihat seekor kelinci berbulu putih yang cantik dan terlihat sangat halus. Berniat menyentuh, Sakura mencoba mendekati kelinci mungil tersebut.

Saat ini memang ia sedang mencoba berkeliling sebentar, mencoba menghapalkan keadaan sekitar.

"Eh?!" ucapnya ketika tiba-tiba kelinci itu berlari menjauh.

"Ah! Tu-Tunggu! Uh!" mengejar kelinci itu, Sakura berlari.

KRESEK KRESEK

"UH! Dasar kelinci nakal. Akhirnya kau tertangkap juga!" ucap Sakura ketika berhasil mendekap kelinci setelah menerobos semak-semak.

"Hihi! Benar kan, kau lembut sekali!" tersenyum, Sakura menggendong kelinci tersebut dan mendekapnya di dada sambil mengelus bulu-bulunya.

"Kyaaaaa! Lembutnya! Sangat lu—"

Sebuah pemandangan langka membuat perkataannya terhenti. Wajahnya benar benar memerah. Bagaimana tidak? Karena di depannya ada Sasuke yang rupanya sedang mandi. Bahkan seluruh tubuhnya terekspos dengan jelas di depan Sakura. Ah, rupanya Sakura tidak menyadari dia memasuki area mandi para cowok.

"U-Uchiha-s-san! K-ka—"

.

.

BRUK

.

Dan Sakura pun tidak tahu lagi apa yang terjadi.

(_ _')zzZZ

AN : Gomen. Lama apdet... T_T

Sudah dua tahun ternyata. Maaf kalau ceritanya juga nggak memuaskan...

Terimakasih buat teman-teman yang mengingatkan lewat FB, juga temen cowok sekelas ternyata author juga... Gomen terlalu lama apdet...

Terimakasih... Mulai sekarang semangat lagi... Arigatouuu... sudah baca, review, fav, mengingatkan... T_T

Arigatou...

Dan yang diatas itu... yang adegan akhir itu stuck... T_T

Korekara Ganbarimasu... harus semangat lagi.. :D

Arigatouuuuuuuuuu minna... :D