This is . . .
.
Chapter 4
Sinar matahari masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka. Menghembuskan angin pagi yang sudah mulai turun salju, membuat Mamori sedikit mengigil merasakan sentuhan angin di kulit pundaknya yang tidak tertutup selimut. Mamori lalu menggulung tubuhnya lebih rapat di dalam selimut dan berguling ke sisi ranjang yang jauh dari jendela. Dia meninggalkan Hiruma yang tidur tanpa selimut dan hanya mengenakan celana pendeknya.
Beberapa menit kemudian, Hiruma membuka matanya perlahan. Ruangan masih gelap dan hanya diterangi cahaya matahari dari celah jendela yang tertutup gorden. Angin dingin menghembus tubuhnya, dia bangun dan menutup jendela yang tidak tertutup rapat itu. Kemudian dia kembali tidur dan menarik selimut yang entah sejak kapan didominasi oleh Mamori. Hiruma menariknya sampai Mamori juga ikut tertarik, dan memeluknya dari belakang. Mamori masih tetap tertidur walaupun Hiruma sudah menyelipkan tangan ke pinggang Mamori dan dia juga bisa merasakan kulit hangat Mamori di telapak tangannya.
Hiruma mendekap Mamori lebih erat lalu menutup matanya lagi. Dia berharap mereka bisa terus seperti ini sampai besok dan tidak perlu pergi kemana-mana hari ini.
.
.
Mamori membuka mata. Tangannya bergerak mencari jam weker di meja samping ranjang, sudah jam sepuluh lewat. Dia lalu bangun dan menyingkirkan tangan Hiruma sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Hiruma bergerak dan membuka matanya, "Apa yang kau lakukan, bodoh?" tanyanya sambil menarik selimut itu lagi sehingga membuat Mamori jatuh terduduk di sampingnya.
"Ayo bangun. Sudah siang."
Hiruma terduduk dan menengok ke jam wekernya. Mamori berjalan ke lemari pakaian dan memakai kaosnya sendiri yang dia simpan di apartemen Hiruma. Setelah memakainya, Mamori melipat selimut dan menaruhnya di atas ranjang. Dia memungut gaun yang semalam dia pakai, tergeletak di dekat jendela. Matanya terbelalak saat melihat gaunnya sobek dari atas pundak sampai setengah lengannya.
"Lihat apa yang kau lakukan pada gaunku." katanya lalu memperlihatkan sobekan gaun itu di depan Hiruma. "Aku baru membelinya sebulan lalu."
Hiruma tidak berkata apa-apa, lalu bangkit dan mengambil kaosnya sendiri di lemari. "Nanti aku belikan yang baru." katanya sambil memakai kaos yang diambilnya. "Lain kali beli lah gaun yang mudah kulepas."
Mamori menyikut pinggang Hiruma, "Aku membelinya bukan untuk kau lepas." balasnya.
Mamori lalu mencuci mukanya di kamar mandi dan siap untuk bertempur hari ini, bertempur dengan kotoran dan cucian-cucian kotor milik Hiruma. Mamori memulai dengan menggiling semua pakaian Hiruma di mesin cuci sembari dia membereskan dapur dan membersihkan debu-debu di ruang tengah. Di serambi depan pun sepatu-sepatu berserakan. Dia juga memasukan cd sesuai dengan bungkus kovernya yang menumpuk di rak bawah meja televisi.
Setelah mandi, Hiruma keluar sebentar untuk membeli makan siang untuk mereka. Tidak adanya Hiruma disini sangat memudahkan Mamori bekerja karena Hiruma pasti akan mengganggunya dan membuatnya tambah sibuk. Akhirnya Mamori berhasil menyuruhnya keluar untuk membeli makanan. Entah makanan apa yang akan dibeli Hiruma, tapi dia pasti akan membawa pulang Kariya Creampuff untuknya. Mamori sudah lebih dari sebulan tidak makan makanan favorit-nya itu, jadi dia sangat ingin memakannya.
Setelah selesai mencuci, Mamori menjemur di beranda dekat tempat mesin cuci, yang memang dikhususkan untuk tempat menjemur. Setelah semuanya selesai, dia tinggal menyapu dan mengepel seluruh lantai sampai bersih dan tidak tersisa kotoran sedikitpun. Tiga puluh menit Mamori selesai bersih-bersih. Dia menjatuhkan dirinya ke sofa dan melepaskan afron yang dipakainya.
Pintu masuk apartemen berbunyi di interkomnya. Mamori menyalakan layar dan dia kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Hiruma-san." sapa wanita yang ada di layar interkom. "Aku ada ada perlu sebentar. Bisa kamu buka pintu masuknya."
Mamori diam beberapa detik, dan akhirnya menemukan suaranya, "Maaf. Youichi sedang keluar sebentar."
"Oh, apa ini kekasih Hiruma-san?" tanyanya dan Mamori bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu berubah ceria.
"Hhm... Ya. Ada apa?"
"Bisa aku bicara denganmu juga? Tolong. Penting sekali..." pintanya.
"Baiklah. Silahkan masuk." Mamori lalu menekan tombol pembuka kunci otomatisnya.
"Terima kasih." wanita itu tersenyum dan menghilang dari layar. Mamori lalu mematikan layar interkomnya.
Beberapa menit kemudian bel pintu berbunyi dan Mamori membukanya lalu tersenyum melihat wanita yang dilihatnya ditempat pesta pernikahan kemarin.
"Silahkan masuk." kata Mamori ramah.
Wanita itu balas tersenyum dan masuk ke dalam. Setelah itu, Mamori menuntunnya menuju ruang tengah.
"Wah, jadi rapi begini." sahut wanita itu di belakang Mamori saat mereka sampai ruang tengah.
Mamori menoleh dan berusaha untuk tidak kaget mendengar kata-kata itu. Wanita ini tahu, kalau selama ini kamar Hiruma selalu berantakan sejak Mamori jarang membersihkannya."Risa. Salam kenal." dia mengulurkan tangannya, dengan senyumnya yang masih terpasang di wajahnya.
"Mamori." balasnya tersenyum.
"Aku selalu ingin bertemu denganmu. Tapi Hiruma-san selalu melarang."
Mamori berpikir sesaat sambil berkata, "Silahkan duduk. Mau minum sesuatu? Walaupun aku yakin hanya ada air putih."
Risa menggeleng, "Tidak. Terima kasih."
"Baiklah. Aku akan menelepon Youichi agar dia cepat kembali. Dia sedang membeli makanan."
"Ah, sebenarnya, aku tidak ada urusan apa-apa. Aku hanya ingin menemuimu. Aku tahu kamu pasti juga ada disini setelah melihatmu di pesta kemarin. Dan ternyata dugaanku benar."
"Menemuiku?" tanya Mamori bingung bercampur kaget. "Ada perlu apa?"
"Aku cuma ingin mengenalmu. Aku mau tahu seperti apa wanitanya yang Hiruma-san bilang 'tidak tergantikan'." jawabnya. "Kamu tidak mau bertanya siapa aku? Bagaimana kalau kubilang aku ini pacarnya juga?"
Mamori tersenyum. "Tidak mungkin. Aku tahu siapa Youichi."
Ya, bagi Mamori, walaupun hubungan mereka seperti ini, dia mengetahui itu. Walaupun Mamori tidak tahu siapa wanita ini, dia yakin Hiruma tidak akan berbuat suatu hal yang bisa menyakitinya. Mereka memang jarang bertemu dan bersama, tidak seperti pasangan kebanyakan, tapi mereka mengerti, kepercayaan mereka satu sama lain lebih kuat dibandingkan apapun.
"Kenapa kamu begitu mempercayainya? Melihat penampilan dia saja, orang-orang langsung tahu dia bukan lelaki baik-baik."
Mamori mengangkat bahu, lalu duduk di kursi meja makan. "Entahlah, aku sudah melakukannya dari dulu."
Pintu apartemen terbuka. Mamori mendengar langkah kaki di lorong dan Hiruma muncul dari sana. Hiruma berhenti melangkah dan melihat Risa duduk di sofa selama beberapa saat, lalu memandang Mamori yang tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Mamori bangkit dari duduknya mengambil bungkusan putih berisi makanan yang dibawa Hiruma.
Hiruma menahan Mamori dengan memegang pergelangan tangannya. Mamori berbalik dan memandang Hiruma. Dia bisa melihat wajah cemas Hiruma terpasang disana, raut wajah yang hanya bisa diketahui oleh Mamori. Sedangkan Hiruma sendiri menatap mata Mamori lama, berusaha mencari jawaban atas kekhawatirannya. Mamori menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mengusap pipi Hiruma.
"Aku ke dapur dulu." ucap Mamori dan dia berjalan menuju dapur.
Hiruma melihat Mamori masuk ke dalam. Setelah itu dia langsung menoleh menatap tamu tidak diundang di apartemennya. "Apa yang kau lakukan disini, sialan. Aku tidak ingat pernah mengundangmu kesini." tanya Hiruma datar, namun terdengar ketus.
"Oh, aku kira kamu lupa kalau aku juga ada disini." jawabnya, sama datarnya lalu bangun dari duduknya. "Sudah kubilang, aku akan mendekati pacarmu kalau kau tidak mau memperkenalkannya."
"Jangan menggangguku lagi, kau mengerti. Jangan ganggu dia."
Risa tersenyum sambil berjalan ke lorong, diikuti dengan Hiruma di belakangnnya. "Apa imbalannya untukku?" dia terus berjalan, dan tidak juga mendengar jawaban Hiruma. "Apa kamu bisa menjauhinya?"
"Kau tidak bisa seenaknya, sialan."
"Tentu aku bisa." balasnya lalu membuka pintu apartemen. "Nah, sampai jumpa nanti Hiruma-san. Salam untuk Mamori."
.
.
Wanita itu bersungguh-sungguh. Hiruma tahu dia serius. Seumur hidup, Hiruma tidak pernah merasa terancam, namun sekarang, semenjak kehadiran dia tujuh bulan lalu, Hiruma seakan tidak bisa bertindak dengan benar. Segalanya terasa salah. Dan wanita itu berhasil membuatnya tambah gelisah. Entah dengan cara apa wanita itu mengetahui keberadaan Mamori, menjadikan Mamori sebagai target sasarannya.
Mamori segalanya bagi Hiruma. Dia lebih penting dari apapun. Hiruma tidak pernah bilang dia mencintainya, tapi Mamori mengerti dan bisa merasakannya. Mamori bisa merasakan bagaimana Hiruma sangat membutuhkannya. Bukan hanya sebagai manajernya dulu, tapi sebagai wanita yang akan menerima dia apa adanya seumur hidup. Dan sekarang, menjauhinya adalah satu hal yang mustahil untuk dia lakukan. Wanita itu bukan hanya sekedar mengancam, Hiruma tahu itu.
"Lho, kemana Risa-san?" tanya Mamori muncul di lorong serambi depan.
"Dia pulang."
"Kalau begitu ayo makan. Kau beli makanan banyak sekali." Mamori menggandeng tangan Hiruma menuju meja makan.
Di atas meja makan sudah banyak sekali makanan tertata disana. Ada Oden dan Bento yang dibeli Hiruma di convenience store, dan Gyoza serta Korokke (Kroket) yang dibelinya di kedai makanan, dan tidak ketinggalan juga Kariya Creampuff. Hiruma duduk di sebelah Mamori sambil membuka tutup bungkus Oden yang berisikan telur rebus, lobak, fish cakes, seaweeds, konnyaku yang akan disajikan bersama soy souce. yang masih hangat. Gyoza dan Kroket sudah dipindahkan ke piring saat Mamori di dapur tadi. Serta creampuff setengah lusin kurang satu, karena sudah dimakan Mamori saat di dapur, disajikan masih tetap besama kotaknya.
Mamori mengambil fish cake dengan sumpit lalu menyuapinya ke Hiruma. Setelah itu Mamori mengambil telur rebusnya untuk dia sendiri.
"Ada apa?" tanya Mamori, "Kamu diam sekali." katanya, sambil mengambil lobak dan seaweed kemudian memakannya lagi.
"Apa yang wanita sialan itu katakan padamu?" tanyanya, dia mengulurkan tangan mengambil kroket yang ada di depan Mamori.
"Dia bilang dia juga pacarmu."
Hiruma memandang tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Lalu kamu percaya?"
"Kenapa aku harus percaya? Aku tidak mengenalnya."
Hiruma tersenyum menyeringai, "Apapun yang dikatakan wanita sialan itu, jangan kau pikirkan."
"Aku tahu. Kamu tidak perlu khawatir." Mamori lalu menyuapi lagi Hiruma dengan telur rebusnya. "Kamu mau bento-nya?" tanya Mamori.
Hiruma mengangguk lalu Mamori membuka tutup bento tersebut. Hiruma hanya membeli satu bento. Karena satu saja cukup karena dia membeli macam-macam makanan walaupun dengan porsi sedikit. Dan pasti bisa dihabiskan oleh mereka berdua. Mamori meletakkan bento itu di depan Hiruma dan memberikan sumpit padanya.
"Ada yang bertanya padaku." sahut Hiruma sambil memakan bento-nya, "Dia bertanya, jika aku harus memilih salah satu, aku memilih karirku, atau kamu." tanya Hiruma, "Apa yang akan kamu jawab?"
Mamori memakan gyozanya sambil bepikir beberapa saat. "Itu gampang." sahutnya cepat, "Pilih saja karirmu. Karena memilih untuk bersamamu itu adalah pilihanku, jadi kamu tidak perlu memilih keduanya." jawabnya tersenyum.
"Kau ini, heh..." sahut Hiruma, "Kenapa menjawab pertanyaan bodoh itu sebegitu gampangnya."
"Siapa memang yang menanyakan itu? Risa-san?" tebaknya.
"Hm."
"Aku sudah tahu dia tertarik padamu. Jadi dia mengancam akan mengeluarkanmu atau semacamnya begitu, kalau kamu tidak segera memutuskanku?" tebak Mamori sambil mendekatkan mulutnya ke sumpit Hiruma, dan Hiruma langsung menyuapinya dengan nasi dan fish cake.
"Kurang lebih begitu." Hiruma lalu mengambil lobak dan memakannya bersama nasi di bento-nya. "Tapi dia bukannya tertarik padaku."
Mamori tidak berkedip menatap Hiruma, "Lalu apa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya."
Mamori menghela napas. "Baiklah." jawabnya tidak menuntut lebih, lalu mengambil telur rebusnya lagi.
Oden mereka pun sudah habis. Di atas meja hanya tersisa tiga gyoza dan empat kroket. Mamori lalu mengambil kroketnya.
"Kamu masih mau bento-nya?" tanya Hiruma.
Mamori menggeleng, "Habiskan saja." jawab Mamori. "Dimana kamu membeli kroket ini? Enak sekali."
"Aku menemukannya di kedai kaki lima saat mau ke Toko Kariya."
Mamori mengangguk-angguk, lalu mengambilnya lagi. "Aku mau mandi dulu." dia lalu mengambil handuk dari lemari, karena memang dia belum mandi dari kemarin sore, dan dia sudah tidak betah sehabis bersih-bersih apartemen seharian ini. "Kamu mau ke rumahku sebentar nanti sore, Youichi?"
.
.
Dua puluh menit Mamori habiskan untuk berendam, setelah itu dia berganti dengan baju lengan panjang turtle neck berwarna abu-abu tua yang dipadankan dengan mantel cashmere berwarna pink lembut. Dia mengenakan celana jins dan sepatu boots krem-nya yang semata kaki.
Hiruma yang memang sudah siap dari tadi, sedang mengetik sesuatu di laptopnya sambil menunggu Mamori. Lima belas menit kemudian, Mamori akhir keluar kamar sambil membawa syal berwarna abu-abu di lengannya. Hiruma mematikan laptop dan meletakkannya di atas meja. Mamori menarik pelan jaket Hiruma sehingga dia menghadap ke arahnya, dia lalu memakaikan syal yang dibawanya tadi ke leher Hiruma.
"Yup. Ayo berangkat." ajak Mamori memimpin mereka jalan menuju tempat parkir mobil.
Salju sudah mulai turun perlahan-lahan. Beruntung dia dan Hiruma sudah memakai pakaian tebal sehingga tidak terlalu merasakan dingin, saat keluar apartemen. Hiruma mulai mengendarai mobilnya ke rumah Mamori yang ditempuh dalam waktu tiga puluh menit. Mamori membawa sisa creampuff untuk dia makan di jalan. Dia juga akan mampir dulu ke tempat Hiruma membeli kroket tadi, untuk membeli beberapa kroket untuk dicicipi orangtuanya, karena kroket itu sangat enak.
Perjalanan mereka jadi tertunda sepuluh menit karena letak kedai itu berbeda arah dengan rumah Mamori. Setelah sampai, Mamori turun sendiri dan Hiruma menunggu di dalam mobil. Ternyata kedai kaki lima ini lumayan ramai, dan Mamori harus mengantri di belakang tiga orang dulu sebelum membelinya. Makan kroket hangat ini memang enak saat cuaca sedang dingin seperti ini. Setelah tiba giliran Mamori, dia lalu membeli enam kroket isi daging dan enam kroket isi sayuran.
"Apa lelaki itu pacarmu?" tanya Paman pedagang yang berusia sekitar empat puluh tahunan. Dia sepertinya melihat saat Mamori keluar dari mobil tadi.
Mamori menoleh ke belakang, ke tempat yang dimaksud Paman itu. Dia lalu mengangguk dan tersenyum.
"Aku ingat dia juga membeli kroket disini tadi siang. Aku akan memberi bonus satu, karena kamu beli banyak." ujarnya tersenyum ramah.
Momori lalu tersenyum dan menundukkan kepalanya, "Oh, Terima kasih banyak. Kroketnya enak sekali."
"Ya, jangan lupa kapan-kapan beli lagi."
"Mamori tersenyum lagi. "Pasti. Terima kasih Paman."
Mamori membungkuk sambil meninggalkan kedai dan masuk kembali ke dalam mobil."Paman itu baik sekali." sahut Mamori dan Hiruma langsung menjalankan mobilnya lagi.
.
.
Suzuna berjalan keluar dari klinik sehabis check-up rutin kandungannya. Sena, yang baru saja datang, langsung menghentikan mobilnya di depan klinik dan keluar untuk membukakan pintu untuk Suzuna.
"Apa yang dokter katakan?" tanya Sena setelah dia masuk dan mulai menyalakan mesin mobil.
Suzuna mengangguk, "Baik. Tidak ada masalah." jawabnya tersenyum.
Sena ikut tersenyum, lalu berkata. "Baguslah."
Sepuluh menit kemudian, Mereka sudah tiba di depan rumah Sena karena mereka akan makan malam dengan orang tua Sena. Mengingat mereka sudah hampir sebulan lebih tidak makan malam bersama dan berhubung Sena baru kembali dari Amerika seminggu yang lalu. Tiga bulan kemarin pun Suzuna ikut Sena ke Amerika, dan dia akan tetap di Jepang selama kehamilannya, sedangkan Sena akan kembali kesana lusa depan.
Suzuna melangkahkan kakinya keluar ketika Sena membukakan pintu mobil untuknya. Dia langsung memakai tudung jaketnya karena salju yang sudah mulai turun dari tadi. Matanya lalu berhenti pada suatu benda yang dilihatnya tak jauh dari mobil mereka. Hanya berjarak tiga rumah dari rumah Sena, dan Suzuna menyerengitkan matanya melihat ke benda itu dengan lebih jelas.
Sena yang menyadari Suzuna yang menghentikan langkahnya, lalu bertanya. "Ada apa?"
Suzuna tidak menjawab, sehingga Sena mengikuti arah pandang matanya.
"Bukannya... " ucap Suzuna sambil menunjuk mobil yang diparkirkan tepat di depan rumah Mamori, "itu mobil You-nii?"
To Be Continue
.
Catatan Kecil:
Wah, akhirnya selesai juga chapter empat ini. Yeeey~ ! Di review, Zira-san bilang Hirumanya OOC banget. Bagi pembaca lain yang juga menganggap Hiruma OOC disini, duhh, maaf ya, saking keasyikan bikin Hiruma jadi orang yang sweet, malah jadi kebablasan. Mau ngelurusin lagi juga susah XD, ya sudah...
Untuk Fietry-san, sebenarnya sempet kepikiran sama pendapat orang-orang, Hiruma pakai kata 'kamu' cocok atau nggak, ya? Tapi aku ga biasa bikin cerita dengan menggunakan, 'gw' atau 'elo', jadinya ya sudah, sepakat sama diri sendiri, Hiruma akan pakai kata 'kamu' dengan bahasa yang sedikit kasar. Hehe XD.
Oh ya guys, lagu One Direction - You and I nya udah didengerin belom? bagus kan?
Nah, Typo, OOC, pasaran, atau ga jelas, mohon dimaklumi yaaa...
So guys, please Read and Review~!
Salam: De
