NEKO WORLD

Disclaimer:
Sampai dunia kiamat, Vocaloid itu bukan milik Suu! Karena kalau Vocaloid itu milik Suu, pasti semuanya sudah hancur! Suu cuma punya fic ini dan beberapa OC buatannya, seperti biasa.

Rating: T

Genre: Romance, Fantasy, Mystery, School Life

Warning: GAJE, ANEH, OOC, KATA-KATA TIDAK SESUAI EYD, TYPO BERTEBARAN, ADA OC BUATAN SUU, DAN LAIN-LAIN.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! SUU MENERIMA FLAME YANG WAJAR SAJA, YA. KALAU KRITIK DAN SARAN, SUU TERIMA DENGAN SENANG HATI :)

Summary:
"Kucing atau manusia, sama saja! Aku tetap suka padamu!"

Author: Huwaaa! Akhirnya Suu back juga. Kemaren itu sempet hiatus bentar. *pelukin readers satu per satu* *readers muntah-muntah*

Rin: Mudah-mudahan readers tetep menunggu, deh.

Len: Hiatus-nya kelamaan.

Author: Kan lagi sibuk dan nggak ada ide.

Rin: Halah, alasan itu.

Len: Mau sampe kapan ini?

Author: Eh, iya. Kita mulai aja, yukk...


Rin's POV

Aku menuruni tangga yang banyak itu ketika selesai mandi dan berpakaian. Aku sudah siap ke sekolah, tinggal sarapan. Di bawah aku dapat menemukan Neru-nee sedang menyiapkan piring-piring yang dipakai untuk sarapan.

"Neru-nee," sapaku padanya.

"Eh, Rin. Len mana?" sapa Neru-nee balik. Aku mengerutkan kening. Kok, Len nanya ke aku? Aku mana tahu soal Len. Yah, meskipun kamarnya bersebrangan dengan kamarku, sih.

"Nggak tahu. Belum bangun kali," jawabku singkat.

"Hah? Dia gila, ya? Nanti terlambat ke sekolah!" seru Neru-nee dengan paniknya. Aku baru sadar lalu melihat jam dinding yang tak jauh dari meja makan. Jam setengah tujuh.

"Aku bangunin dia dulu, deh," ujarku.

Aku menaiki tangga lagi, menuju kamar Len untuk membangunkannya, tentunya. Dasar, buat susah orang saja.

"Len?" seruku sambil mengetuk pintu kamarnya. Tak ada sahutan. Aku meneriakkan namanya sekali lagi lalu mengetuk pintu lagi. Masih tak ada jawaban.

Karena masih tak ada jawaban pada ketukanku yang ketiga, aku membuka pintu kamarnya pelan.

"Permisi..." Aku membuka pintu kamarnya pelan. AC di kamar Len dingin. Sangat dingin, malah. Heran. Memang kucing tahan sama yang dingin-dingin begini?

"Len," Aku memanggilnya pelan. Jengkel aku ngebangunin dia. Sampai sekarang saja masih meringkuk di kasur terbungkuskan selimut.

"Bangun. Udah siang!" seruku tidak sabaran. Aku menutup pintu kamarnya yang tadi terbuka sedikit. Lalu aku menarik selimut yang membungkus tubuhnya.

Tapi ternyata nggak ada efek. Dia masih tidur saja. Akhirnya aku berlutut di pinggir kasurnya dan mengguncangkan tubuhnya pelan. Kalau dilihat dari dekat, wajahnya keren juga. Agak shota, semacam itulah. Wajahku jadi agak memerah karenanya.

"Len, bangun," bisikku lebih pelan sambil mengguncangkan tubuhnya. Bukannya bangun, Len malah berpindah posisi.

GUBRAK!

Karena berpindah posisi, Len jatuh. Sedangkan aku berada di samping tempat tidurnya. Bisa bayangkan bagaimana nasibnya, kan? Aku terjatuh. Ditimpa olehnya. Wajahku memerah karena melihatnya dari dekat. Terlebih lagi ia memelukku. Sampai kapan kau mau tidur dengan posisi seperti ini?

"Len, bangun!" seruku sambil mencoba untuk menyingkirkan tubuhnya yang berat. Tapi pelukan ini rasanya hangat. Kehangatan dari tubuhnya menjalari ke seluruh tubuhku.

Perlahan-lahan, Len membuka matanya. Dan begitu ia tersadar akan posisinya sekarang, matanya membesar. Aku tebak, dia pasti kaget dan shock dengan posisi ini.

"R-Rin! Ngapain... Kok, bisa..." Len tak bisa berbicara apa-apa. Dengan cepat ia menyingkir dari atasku. Aku bangun dan mendengus.

"Aku mau ngebangunin kamu. Karena ini sudah siang. Aku ketuk pintu, kamu masih tidur. Aku tarik selimutmu, kamu masih tidur. Aku mengguncangkan tubuhmu, kamu juga masih tidur. Malah pindah posisi pula. Dan beginilah jadinya. Jatuh, MENIMPAKU," ujarku datar dengan sangat cepat. Kemudian aku mendengus lagi.

Len menggaruk kepalanya. Bisa kupastikan ia tak mengerti apa yang kuomongkan. Sudahlah, aku tidak peduli.

"Ngerti atau tidak, cepat mandi! Sudah telat, tahu! Lihat, jam berapa! Kamu belum sarapan!" seruku mengomelinya. Len melihat jam. Aku sendiri kaget. Jam tujuh kurang lima belas!

"Ah. Aku telat!" seru Len dengan paniknya. Kemudian ia mendorongku agar keluar dari kamarnya. Cih. Dibilangin saja aku sudah akan keluar. Tidak usah dorong-dorong begitu.

Aku turun ke bawah dan melihat Neru-nee yang sedang memakan sarapannya, roti selai.

"Lama banget?" tanyanya.

"Len susah dibangunin. Maklum dia..." Aku segera menutup mulutku. Hampir saja aku membongkar rahasianya.

"Dia?" Neru-nee memiringkan kepalanya. Tiga detik kemudian ia sudah menikmati rotinya kembali.

"Kayak kucing tidurnya. Kamarnya dingin banget. Kayaknya lima belas derajat, tuh." Aku mencari jawaban yang tepat. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Sungguh alasan yang tidak jelas.

Aku menarik kursi dan segera duduk. Kemudian aku mulai menyantap sarapanku.

"Ohayou," Aku mendengar sebuah suara yang familiar bagiku.

Aku menengok ke belakang dan menatap tajam. Dan benar. Dia Len, sudah kuduga.

"Kamu terlambat bangun," gerutu Neru-nee sambil memberikan sepiring roti pada Len.

"Gomenasai, Neru-senpai," balas Len pelan. Ia menerimanya. Kemudian kami bertiga menikmati sarapan dengan diam. Aku tak mau kejadian tadi, beberapa menit yang lalu diungkit lagi. Sungguh kejadian di pagi hari yang heboh.

.

.

Aku berjalan menuju sekolah dengan Len. Tak ada salah satu di antara kami yang berbicara. Bisa dipastikan kalau suasana di antara kami ini tenang. Aku menendang kerikil yang ada di kakiku. Len hanya diam.

Sesampainya di sekolah aku berlari mencari Gumi.

"Gumi!" seruku. Tapi ucapanku terhenti ketika melihat sebuah penampakan yang "tidak biasa". Tampak ia dan Gumiya-kun sedang menatap tajam. Bertengkarkah mereka? Apa alasannya? Yah, ini bukan masalahku. Tapi bagaimana lagi? Mereka sahabatku. Seharusnya aku membantu. Maka aku bersembunyi di tembok balik kelas. Semoga Gumi maupun Gumiya-kun tidak melihatku.

"Rin, kena-" Len datang menghampiriku. Ia langsung berhenti bicara begitu melihat aku menaruh jari telunjuk di depan bibirnya.

Aku tidak sadar aku melakukan itu. Aku segera melepaskannya. Jantungku rasanya berdegup lebih cepat. Wajahku memerah. Dan sekarang aku menghadap ke arah lain. Aku tak mau Len melihat perubahan eskpresi dari wajahku.

Tak lama kemudian aku melihat Gumiya-kun keluar dengan raut wajah kusut. Sepertinya ia bertengkar dengan Gumi.

"Kalian lihat?" tanyanya datar ke arah kami. Aku mengangguk. Len juga.

"Kenapa? Kalian berantem?" tanya Len.

Gumiya-kun tidak menjawab. Ia hanya memberikan sebuah senyuman masam. Kemudian dengan cepat ia meninggalkan kami tanpa mengatakan apa-apa lagi.

"Aneh," gumamku pelan. Lalu aku memasuki kelas dengan ragu-ragu. Tampak Gumi sendirian di situ. Ia duduk di kursinya dan menunduk.

"Gumi?" sapaku padanya. Aku menghampirinya pelan. Ketika ia menengok padaku, aku baru sadar bahwa ia... menangis.

"Huwaa! Rin, tolong aku!" seru Gumi yang langsung memelukku. Aku dapat merasakan bahwa ia menangis. Ada apa dengannya?


Gumi's POV

"Huwaa! Rin, tolong aku!" Aku langsung memeluk sahabatku itu. Kemudian aku melepaskan semuanya dengan... menangis.

Rin memelukku balik. Kemudian dengan pelan ia menepuk-nepuk kepalaku. Aku masih terus menangis. Perasaan ini tak bisa kupendam begitu saja.

"Ada apa?" tanyanya lembut. "Coba ceritakan dari awal."

Aku mengusap mataku, menghapus air mata yang terus mengalir. Kemudian mengatur napasku.

"Rin, aku merasa tidak enak badan. Mungkin mau ke UKS sebentar," ujarku pada Rin. Saat ini aku berbohong, tapi ada benarnya juga. Aku tak mungkin mengikuti pelajaran dengan wajah dan mata tak karuan begini, merah sekali. Pasti sensei akan bertanya kenapa dan aku tidak akan dapat menjawabnya. Kedua, aku juga merasa agak pusing setelah nangis.

"Benar? Kamu baik-baik saja, kan?" balas Rin. Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian Rin menaruh tasnya dan bersedia mengantarku ke UKS. Aku baru sadar kalau di kelas ini juga ada Len-kun.

.

.

"Gumi, lebih baik kamu istirahat yang cukup saja," ujar Rin. Ia menyalakan lampu dan AC di ruangan itu. Aku hanya mengangguk lalu melepas sepatu sebelum naik ke atas kasur. Setelah itu aku menarik selimut sampai ke dagu.

"Aku tinggal atau temani?" tanya Rin lagi.

"Um... Tinggal saja," jawabku pelan. Aku sudah tak mau membebaninya lagi. Rin hanya mengangguk. Setelah memastikan semuanya akan baik-baik saja, ia menutup lampu kembali dan keluar dari ruangan ini.

Ruangan ini gelap. Tapi juga dingin. Aku menarik selimutku lagi. Kejadian tadi bersama Gumiya-kun benar-benar membuatku stress. Bagaimana tidak? Hanya salah paham kecil, kita bisa bertengkar.


Flashback

Aku berjalan pelan menuju sekolah sambil bersiul-siul. Ketika menyebrangi jalan, aku tak sadar ada sebuah mobil dengan kecepatan penuh hampir saja menabrakku.

"Gumi-san! Awas!" teriak seseorang.

"Eh?" Aku menoleh. Namun secepat kilat tubuhku sudah terbanting ke seberang jalan. Rasanya sakit sekali. Ditambah orang itu menimpaku.

"I-Itai... Aduh..." Aku merintih. Orang itu langsung mengubah posisi menjadi posisi duduk. Setidaknya lebih baik daripada menimpaku. Tapi tangan dan kakiku rasanya mati rasa. Ketika kulihat, ternyata luka.

"G-Gomenasai aku menimpamu," katanya. Aku mengarahkan pandang padanya.

"Mikuo-kun, betul?" tanyaku.

Ia hanya mengangguk.

"Salam kenal, Gumi-san," jawabnya sambil mengulurkan tangan padaku, mengajak bersalaman. Tak lupa juga senyuman yang merekah di wajahnya.

Aku jadi ragu untuk ngobrol dengan orang yang tidak kukenal. Jalan ini sepi pula. Bagaimana kalau ia macam-macam? Dan bagaimana dia tahu namaku? Jawaban untuk pertanyaan terakhir langsung kutemukan. Ia memakai seragam yang sama denganku.

"Sa-Salam kenal," jawabku, akhirnya membalas perkataannya. Aku pun bersalaman dengannya.

"Mau ke sekolah bareng? Kita satu sekolah, kan? Satu kelas pula," jawabnya ramah. Aku mengerutkan kening. Nggak kenal aku dengannya. Yah, kalau cowok sih, aku cuma dekat dengan Gumiya-kun dan Len-kun, teman Rin itu.

"Hah? Sejak kapan?" ujarku tanpa disangka-sangka. Aku langsung menutup mulutku. Duh... Ucapan ini begitu tajam!

"Eh? Kau selalu diam, sih. Aku memperhatikanmu, lho. Karena aku tertarik denganmu," jawab Mikuo-kun sambil tersenyum. Wajahku memerah. Apa maksudnya "memperhatikan" dan "tertarik" itu?

"Oh, aku bisa ke sekolah sendiri," jawabku tenang. Perlu diingat, aku sudah punya Gumiya-kun.

.

.

Di sekolah aku cepat-cepat memasuki kelas. Kelas tampak sepi sekali. Mungkin aku datang terlalu pagi? Tapi di sana ada beberapa tas milik teman sekelasku. Mungkin mereka keluar kelas. Yang jelas aku melihat Gumiya-kun duduk di kursinya sambil menunduk.

"Gumiya-kun!" Aku memanggilnya sambil melambaikan tangan. Pacarku itu mengangkat kepala sebentar, lalu ia menunduk lagi. Aku mengerutkan kening. Ada apa dengannya?

"Gumiya-kun, kamu kena-"

"Kamu nggak usah pura-pura, Gumi. Aku tahu kamu tadi bersama dengan seorang anak di kelas ini, kan? Di tengah jalan, bukan? Kamu pikir aku nggak tahu?" ujarnya tajam. Aku membeku di tempat. Ada apa ini? Kenapa Gumiya-kun tiba-tiba begini. Apa orang yang dimaksud itu Mikuo-kun?

"Maksudmu apa?" Aku mencoba meluruskan.

"Kamu, dengan seorang anak laki-laki di kelas ini, tepatnya teman kita, di jalan. Bersama," jawab Gumiya-kun tidak jelas. Wajahnya kusut. Aku merasa ada yang aneh.

"Maksudnya kamu cemburu, begitu?" balasku lagi.

"Yah... Bukan cemburu juga. Aku ini pacarmu, kamu pikir aku senang melihat kamu dengan cowok lain?" jawabnya tajam. Dari kata-katanya saja sudah kedengaran cemburu. Dasar, tidak jujur terhadap diri sendiri.

"Jadi salah kalau aku bersama teman laki-laki?" balasku lagi.

"Bukan begitu!" bentak Gumiya-kun. Aku terdiam.

Gumiya-kun mood-nya sedang jelek mungkin. Sehingga ketika ia melihatku dengan Mikuo-kun, aku malah jadi sasaran.

"Kukira kamu beda di antara teman-teman sekelas kita. Di antara semua cewek yang menembakku," ujarnya dingin. Aku hanya diam, menunggu kelanjutannya.

"Tapi ternyata kamu sama saja. Tidak setia," lanjutnya. Aku merasa tersinggung dengan perkataannya. Apa maksudnya aku tidak setia? Aku selingkuh, begitu?

"Tidak! Kamu salah paham!" teriakku.

"Mau salah paham bagaimana?" bentaknya lagi.

Aku hanya diam. Aku tak bisa berdebat lama-lama dengannya.

"Terserah kamu. Aku sudah capek," ujarnya lagi. Tak terasa air mataku mulai turun.

Tanpa menunggu reaksiku, Gumiya-kun langsung meninggalkanku dengan keluar kelas.

End of flashback


Sebenarnya itu hanya salah paham saja. Tapi Gumiya-kun mungkin sedang stress, dan dia agak sensitif. Ya sudahlah, aku terima saja. Aku harap masih ada kesempatan kedua.

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Update!

Rin: Ini namanya Gumi x Gumiya, bukan RinLen -_-

Len: Kenapa, sih, update lama banget?

Author: Kebanyakan mampir ke twitter DX

Rin: Alasan aja.

Author: Buat Aishiteru!-nya sabar, ya. Masih nyari ide.

Rin: Yosh... Akhir kata, review, ya.. Supaya fic ini bisa terus berjalan.

Len: Arigatou *bows*

.

.

Note: GOMEN, MINNA! SUU SALAH FILE! GOMEN! GOMEN! MALAH KE AISHITERU! DX