Wajah Jaejoong sudah sepucat hantu, tubuhnya hampir menggigil, ia mungkin memiliki tubuh namja, namun mentalnya benar-benar seperti yeoja, jika bisa ia mungkin sudah berkeringat banyak saat ini, tapi tubuhnya seperti seorang putri tidak mengeluarkan keringat berlebihan bahkan ketika ia sepanik ini.
"Yunho...dia...siapa?" Boa bertanya, Yunho menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal, mungkin pelampiasan akan, entahlah, mungkin bisa disebut kegelisahan.
"Dia... Kim Jaejoong..." Dan Yunho berhenti, Jaejoong menatapnya, menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan Yunho selanjutnya.
"Pacarku...?" lanjutnya terdengar seperti pertanyaan ketimbang sebuah penjelasan, seakan Yunho meragukan ucapannya sendiri. Nafas Boa tercekat, ini hal yang sangat mengejutkan, mengingat Jaejoong sendiri bukanlah yeoja.
"Heh, kau bercanda kan?" Boa meyakinkan, matanya menyipit tak percaya
"Tidak, aku serius, dia pacarku," kali Ini Yunho terdengar lebih yakin, Jaejoong masih membeku ditempat, ia tak fokus pada apapun selain noona cantik di depannya, Heechul menatapnya lurus, memandanginya dari ujung kaki, sampai ujung rambut, dengan tatapan menilai, namun ekspresinya biasa saja, tidak terbaca, entah ia sedang meremehkan atau mungkin sedang memuji.
"Baiklah... tapi dia namja," Boa masih tak terima, Yunho menghela nafas berat
"Aku serius, lagipula aku tak terlalu butuh yeoja," Jawab Yunho santai, kali ini emosi Boa seakan terpancing, ia hendak berkata lagi, namun Heechul segera menginterupsi
"Aku pergi," Heecul melewatinya, kali ini wajahnya kembali terlihat sombong, entah sedang ada urusan apa, atau memang Boa adalah pengikut Heechul tapi ia segera mengejar Heechul, menyusulnya, meninggalkan Yunho dan Jaejoong, padahal banyak hal yang masih ingin ia tanyakan. Sebetulnya...
"Well, kau tidak keberatan kan, pacarku," Yunho meniup telinga Jaejoong seduktif, membuat Jaejoong tersadar
"Kau Jung Yunho, aku bukan pacarmu," Kali ini ia sudah berhasil bersuara, Yunho tersenyum
"Ya ya ya, mungkin tidak sekarang, tapi tetap saja, kau kan milikku," Jawab Yunho, dan ia pergi begitu saja. Jika bukan karena bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, mungkin ia sudah mengejar Yunho dan memberinya pelajaran, setidaknya itu yang dipikirkannya.
OoooO
Boa berdiri di samping Heechul, kali ini mereka berada di ruang kesenian kelas Bangsawan.
"Eonnie, tidak memberitahuku," Ucap Boa, Heechul mengerutkan dahi
"Memberitahu apa?" Heechul balik tanya
"Eonni, Yunho pacaran dengan namja, dan eonnie tidak memberitahuku sama sekali," Jelas Boa memberi penekanan akan kata "namja"
"Itu bukan urusanku,"Jawab Heechul asal
"Eonnie,..."
"Ah, Jung Heechul-shii mianhe," seorang namja berkaca mata super tebal datang tergesa-gesa dan terlihat panik melihat Heechul berada didepannya
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Heechul dingin
"itu... ah... sebenarnya... aku... ingin menggunakan piano," jawabnya gugup, piano terbagus jelas sedang digunakan Heechul, dan Heechul menyipit galak
"Ah, maksudku aku bisa menggunakan yang disudut ruangan saja, itu juga jika Heechul-shii... tidak keberatan,"
"Aku keberatan, kenapa tidak kau gunakan saja, ruangan lainnya, ke kelas reguler juga bisa," Marah Heechul
"Eh, itu... maaf... tapi aku suka angin di sini sejuk... itu... membuatku..."
"Angin? Memangnya kau siapa? Air Bender" ketus Heechul, sang namja memiringkan kepala bingung,
"Itu, maksudku, aku suka udara di tempat ini karena membuatku tenang,"
"Pergilah, ke tempat lain, kau juga tidak sedang ingin bermeditasi kan, dan aku sedang tidak ingin diganggu, dan kau juga Boa, aku sedang ingin sendirian sekarang," Heechul marah-marah, ia mengusir dua orang yang sedang berada dalam satu ruangan dengannya, Boa masih dengan mata sembab mau tak mau keluar juga, dan begitu juga sang namja berkaca mata tebal ltu, ia berkali-kali menghela nafas kecewa, dan langkahnya begitu berat.
"Mungkin sedang bertengkar dengan Hangeng Oppa," pikir Boa akhirnya
OoooO
Jaejoong sudah hampir lupa keseluruhan kejadian di koridor hari itu, namun tetap saja ia tak bisa melupakan tatapan Heechul seakan tatapan itu terpaku dengan sendirinya di dalam otak kanannya. Ia sendiri juga tidak tahu entah kenapa ia begitu takut dengan Heechul, tapi jika dipaksa memberi alasan, maka alasan paling mendekati hanyalah bahwa mental lemah Jaejoong yang benar-benar takut dengan penindasan, dan Heechul selalu terlihat mengancam untuknya.
Junsu hampir tak terlihat batang hidungnya, ia hanya melihatnya 5 menit sebelum bel masuk kelas berbunyi dan Junsu kemudian keluar, beralasan bahwa ia sedang sibuk dengan klub teaternya dan melatih vokalnya, Junsu bolos kelas. Bahkan ketika bel istirahat berbunyi pun Junsu tak kembali juga, Jaejoong saat ini duduk sendirian, di salah satu bangku kantin. Ia dilirik-lirik nakal oleh beberapa namja tampan yang diduga sebagai kakak kelasnya, Jaejoong mencoba untuk tidak memusingkan godaan disekelilingnya dan terlihat fokus memainkan ponselnya.
Ia hendak berganjak pergi, sebelum seorang yeoja datang, dengan penampilan paling miris dari yang pernah ia lihat, matanya sembab dan terkena lunturan maskara, sepertinya ia habis menangis hebat. Jaejoong terperangah saking kagetnya
"Kau menggoda pacarku," Teriaknya tiba-tiba murka, Jaejoong mundur selangkah,
"Pacar?" Jaejoong bingung, dia tak pernah menggoda pacar orang, dan ada apa dengan gadis ini, pacarnya namja atau yeoja? Jarang-jarang ada yeoja yang menyerang namja untuk kasus menggoda pacar, jika tidak, pasti ada penyimpangan seksual mendasarinya, dan dalam kasus ini, kita bisa menebaknya dengan mudah, tapi jelas tidak bagi Jaejoong.
"Jangan bertingkah polos, aku tahu kamu namja penggoda, jauh-jauh dari pacarku dasar kau murahan," Makinya semakin menjadi, Jaejoong sudah hendak meninggalkannya namun ini jelas perlu diklarifikasi
"Aku tidak mengganggu pacarmu, dan siapa pacarmu aku juga tidak tahu, aku bahkan tidak mengenalmu," Kata Jaejoong berapi-api
"Kau tidak mengenalku? Kau serius tidak mengenalku?" Yeoja itu tersenyum tidak percaya, mengibaskan rambutnya dengan angkuh, dan berkata "Oh, hello, aku seorang artis ternama, dan kau tidak mengenalku? Dan lagipula kau sudah merebut pacarku, apa tidak ada yang memberitahumu?"
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan," Jaejoong sudah malas dan benar-benar akan pergi, tapi yeoja itu tak berhenti sampai disitu, ia menarik Jaejoong dengan kasar dan menyiram wajah Jaejoong dengan jus orange yang tersisa di meja, Jaejoong basah kuyup dan shock, ia terdiam beberapa saat merasakan tetesan jus orange yang menetes di helaian rambut dan wajahnya, kesal sekali, tapi sebagai namja, pantaskah jika ia membalas. Namun belum sempat memutuskan hal yang pantas dan tidak pantas, Jaejoong lagi-lagi dibuat kaget, yeoja itu terjerembab di lantai kantin, seseorang menabraknya keras dan wajah serta bajunya tertumpah minuman. Seisi kantin mendadak lebih hening, sangat hening, semuanya menatap Ara dengan prihatin, sebagian malah menatap ngeri.
"Kau...!" Yeoja itu berdiri cepat, dan menudingkan telunjuknya, namun detik kemudian ia terdiam, menciut jinak.
"Ah, maaf aku tak sengaja, Nona..."
"Nama saya Go ara, sunbaenim, dan Heechul-sunbaenim tidak perlu meminta maaf itu bukan salah sunbaenim, itu salah saya sendiri " Ara yeoja itu menjawab sambil menunduk takut
"Siapa yang peduli," Jawab Heechul acuh, ia mengangkat bahunya enteng "Dan Nona, astaga, kau jelek sekali," cetusnya datar, kemudian melengos pergi, nafas Ara tercekat, kali pertama ada yang menyebutnya jelek, dan lagi tepat dihadapan semua orang, itu sungguh menusuk, mengingat harga dirinya adalah rasa cantiknya. Kalut dan kesal, ia kembali menoleh pada Jaejoong.
"Kau! Kim Jaejoong, jangan sampai aku melihatmu bersama Jung Yunho lagi," Suaranya bergetar, pilu dan kesal, Ara membeliakkan matanya sebesar mungkin dan sesinis mungkin, Jaejoong mulai mengerti jadi yeoja ini adalah pacar Yunho? Dan Heechul, jika bukan karena takut, mungkin dengan senang hati Jaejoong akan memeluk Heechul dan mengatakan terima kasih dengan tulus karena sudah tanpa sengaja membalas perbuatan Ara.
Dan tak ada yang sadar di sudut sana, Boa menatap mereka getir.
OoooO
Beberapa hari setelah itu, Kini giliran Yunho yang didatangi Ara.
"Yunho, kenapa?" Ara merengek pada Yunho, kali ini ia sudah terlihat lebih bersih dan cantik, mungkin matanya memang sembab tapi make up nya setidaknya tidak luntur kemana-mana.
"Karena kita sudah putus," Jawab Yunho santai, ia membuka buku "Royale Family Rules", mengenakan kaca mata bacanya dan mulai membaca
"Tidak! Kita tidak putus, aku tidak pernah menyutujuinya,"
"Apa yang bisa kulakukan kalau begitu," ujarnya tanpa menoleh
"Aku tidak suka namja Kim itu, dia tidak boleh merebutmu dariku, akan ku buat dia menyesalinya, akan ku buat dia menderita" Ara menggebrak meja Yunho, Yunho mendongak, membuka kaca matanya dan menutup bukunya, kali ini matanya berkilat bahaya. Ia menarik Ara mendekat, mencengkeram dagu Ara dengan kasar. Ara terdorong ke depan.
"Kuberitahu satu hal Ara-shii," Desis Yunho dingin, Ara takut sekali, ia tak pernah melihat Yunho semengerikan ini sebelumnya,"Tidak apa jika kau tidak menganggap hubugan kita sudah berakhir, atau kau mungkin tidak menyukai Kim Jaejoong, tapi sedikit saja kau menyentuh Jaejoong, atau berpikir untuk melakukannya, aku pasti akan membunuhmu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, dan akan kupastikan kau mati di depan mataku" Kini wajah mereka sudah tak lebih dari sepuluh centi, cengkraman Yunho meninggalkan bekas memerah di dagunya, Ara tak berani bersuara, ia terdiam, wajahnya sudah sepucat tembok dan terduduk saking lemasnya, Yunho melangkah pergi, dan detik berikutnya ia sudah menangis meraung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
OoooO
Pusing dengan kejaran para wanita yang merongrongnya, Yunho berpkir mungkin menggoda Jaejoong akan menjadi hiburan yang tepat. Dan karena itulah ia sekarang berjalan gontai menuju kelas Jaejoong yang lumayan jauh terpisah dengan kelas bangsawan berhenti di depan pintu dan melihat ke sudut kelas, dan menemukan Jaejoong sedang terlibat obrolan seru dengan teman sekelasnya yang bergender namja, dan bukan Junsu. Tak suka dengan pemandangan itu Yunho menghampiri dengan wajah masam.
Ia berdiri di depan bangku Jaejoong, melipat tangan didadanya yang membusung menantang, Jaejoong mendongak meliriknya tak senang, namja yang bersama Jaejoong menoleh dan terkejut sekali, mendapati Yunho menatapnya setajam silet.
"Eh Jung Yunho-shii," Namja itu buru-buru berdiri "Aku hanya sedang mengajaknya untuk masuk klub melukis,"
"Yah, ide bagus, Jaejoog dan lukisan?Kau seharusnya meminta ijinku dulu, idiot," Geram Yunho, namja itu menunduk
"Namanya Eunhyuk, dan sikapmu tidak sopan sekali," Marah Jaejoong, Yunho menolehnya dingin, kemudian kembali menatap namja bernama Eunhyuk itu
"Jangan dekati milikku, kalau tidak mau kau dan klub lukismu itu kubuat menghilang dari sekolah ini," Ancam Yunho, Eunhyuk semakin mengkerut ketakutan "Pergi sana!" Bentak Yunho kemudian, dan berlari-lari kecil Eunhyuk meninggalkan kelasnya dan Jaejoong, langkahnya gemetaran sekali, ia bahkan tersandung alas kaki setipis kain dan membuat tubuh kurusnya menabrak Donghae ketua kedisiplinan di sekolahnya dan sepertinya ia sedang di tarik-tarik ke suatu tempat oleh Donghae secara paksa.
"Kenapa kau kemari?" Ketus Jaejoong, Yunho tersenyum dan duduk di sampingnya
"Aku merindukanmu," Jawab Yunho, telinga Jaejoong merah saking malunya
"Kenapa tak pernah sehari pun kau biarkan aku hidup tenang,"
"Karna aku tidak bisa melihatmu hidup tenang, dan lagipula kau milikku,"
"Asataga Jung, berhenti menyebutku milikmu, aku bukan milik siapa-siapa, dan orang bodoh mana yang mau hidupnya dibayangi oleh kepemilikan orang lain,"
"Kau akan kubuat menjadi orang bodoh itu,"
'Tidak! Tidak akan kubiarkan,"
"Coba saja kalau bisa, aku ingin lihat,"
"Percaya diri sekali, memangnya kau siapa?" Sinis Jaejoong, namun Yunho tak menjawab ia tersenyum lembut
"Hebat sekali, kau bahkan terlihat masih cantik bahkan ketika tak berekspresi apapun," Gumam Yunho
"Oh yeah, Yang Muliya Jung Yunho memujiku cantik, bukan main senangnya, harusnya headline news kali ini tidak ragu lagi menentukan jenis kelaminku," Ketus Jaejoong, bibirnya mengerucut imut
"Heh, kau kesal dengan berita itu, ayolah, bukankah itu wajar, mereka tidak tahu kalau kau namja, coba lihat dirimu, bagian mana yang menurutmu terlihat manly, tentu saja jika kau mau menunjukkanku benda kecil yang terbungkus di bawah itu," Yunho melirik bagian selangkangan Jaejoong (Author: Astaga seharusnya ini tidak rate T). Jaejoong buru-buru merapatkan kakinya, dan menutupi bagian bawahnya dengan tangannya.
"Ya! Dasar mesum, pergi sana," Teriak Jaejoong murka, Yunho tertawa keras saking lucunya, dan benar saja emosinya mereda sedikit dengan "bantuan" Jaejoong.
OoooO
Sehari berlalu dan masalah tak kunjung selesai, setelah Ara, kini sepertinya Boa juga sedang menunjukkan taringnya, tak masalah jika Boa langsung bicara hanya saja Boa terlihat sangat berbeda, ia tak lagi berbicara dengan Yunho bahkan manyapanya saja tidak, ini bukan hal bagus, mengingat betapa orang rumah Boa kelihatannya khawatir sekali, dan meminta Yunho untuk bicara dengan Boa. Yunho ingin melakukannya tapi ia tak punya waktu yang tepat untuk itu. Hari ini mungkin sedikit keberuntungan berpihak padanya, Ia memang ingin segera kembali ke kelas, namun sepertinya sedikit terlambat tidak akan jadi masalah.
"Yunho, aku ingin bicara," Boa datang menghadangnya di tangah koridor, Yunho menghela nafas lega,
"Kau ingin bicara apa?" Tanya Yunho tanpa mengurangi rasa hormatnya pada teman masa kecilnya itu, Boa tertunduk, dan berpikir sebentar sebelum berkata dengan lantang dan yakin
"Kau... apa kau serius dengan namja itu?"
Yunho terdiam sebentar, menimbang-nimbang apakah jawabannya tidak terlalu mengguncang untuk psikis Boa, dan buru-buru sadar bahwa ia sudah terlalu berlebihan"Menurutku tidak juga, tapi entah lah tubuh dan pikiranku mendadak melakukan sebaliknya," Jelas Yunho enteng, Boa sungguh sedih, ia mengangguk mengerti seakan sudah ikhlas
"Aku mengerti, aku mengerti..." detik berikutnya air matanya sudah tak tertahankan, dan ia terisak, Yunho tak bisa membiarkannya, bagaimana pun juga gadis itu punya sejarah panjang bersamanya, dan harus diakui bahwa mereka membesar bersama.
"Jangan begini Boa," Yunho memberikan pelukannya pada Boa, mencoba membujuk gadis itu"Kau bisa mendapat yang lebih baik dariku,"
"Aku tidak bisa Yunh, aku tidak bisa, aku terlalu mencintaimu,"
"Tidak Boa, tidak begini, aku sudah terlalu sering menyakitimu,"
"Aku tidak bisa Yunh... aku.. tidak mau, jangan tinggalkan aku untuk namja itu Yunh, aku ingin bersamamu," kali ini Boa menatap Yunho dengan mata sembabnyan "Jadikan saja aku yang kedua Yunh, kita bisa kencan bertiga, tidak masalah jika aku hanya selingkuhan," Yunho menatap Boa ngeri, ternyata gadis ini serius mencintainya dan dari semua yang pernah Boa lakukan, mungkin ini lah yang paling gila.
"Aku tidak bisa Boa, aku tidak bisa lagi, aku tidak bisa menyakitimu seperti itu, dan lebih lagi, aku tidak akan bisa menduakannya,"
OoooO
Heechul menghentakkan kakinya begitu kuat, ia melewati kelas teater yang kala itu Junsu sedang menunjukkan skill bernyanyinya pada Youchun, yang mana tentu saja ditatap Youchun dengan mata penuh cinta. Suaranya keren, pikir Heechul, dan selanjutnya ia terlihat iri sekali dengan kemesraan yang ditunjukkan Junsu dan Youchun. Namun tanpa sadar kakinya malah melangkah mendekat
"Lagu itu apa judulnya?" Tanyanya langsung, dan Junsu berhenti bernyanyi, ia dan Youchun menatap Heechul bingung.
"Proud, TVXQ?" Junsu menjawab dengan nada, seakan mengatakan ,"Kau tidak tahu lagu ini?" Heechul mengangguk mengerti, ia kemudian melangkah keluar lagi, namun Junsu memanggilnya
"Sunbaenim, apa sunbae mau mendengar saya latihan," Tawar Junsu, Heechul berpikir sejenak, kemudian mengangguk setuju, namun jawabannya malah
"Tapi mungkin tidak sekarang, lain kali saja ya," Katanya ramah, Junsu tersenyum imut, Heechul melangkah keluar. Diluar teman-teman Heechul menunggunya ,mereka berjalan beriringan menuju kelas salah satu orang yang mencoba merusak nuansa hati Heechul hari ini.
Mereka menuju kelas salah satu anak kelas dua yang beberapa hari ini menyebarkan gosip bahwa Heechul dan Hangeng sudah putus. Tidak masalah jika gosip itu tidak tertangkap ke telinga Heechul, tapi begitu terdengar maka Heechul tidak akan tinggal diam, Heechul beranggapan gadis ini harus diberi pelajaran, dan sementara yang lain menganggap gadis itu nyari mati.
Heechul menggebrak pintu kelas, dan masuk dengan angkuhnya, anak-anak kelas dua yang lain menyingkir memberi jalan begitu melihat Heechul datang. Heechul tak perlu melihat sekeliling lagi, karena mata elangnya sudah menangkap keberadaan gadis yang ia incar, duduk di deretan nomor tiga dari depan, tidak sendirian namun bergerombol bersama teman-temannya yang lain, namun begitu Heechul datang menghampiri, teman-temannya mendadak menjauh, menyisakan dirinya yang sudah berkeringat dingin.
"Heechul sunbaenim..."Yoona menatap takut seniornya yang berdiri menantang di depan bangkunya, wajahnya pucat pasi, ia melihat teman sekelilingnya bermaksud meminta pertolongan, tapi tidak ada yang berani maju.
"Kita lihat, apa yang bisa dilakukan untuk orang yang menyebarkan gosip murahan," Heechul menunduk menopangkan tubuhnya pada meja dengan kedua tangannya. Matanya menatap Yoona lurus.
"Berikan aku keranjang sampah dan seember air, kalian punya semua itu kan," Ia menatap sekelilingnya yang kala itu hanya diisi oleh para gadis dan mereka bergegas memenuhi keinginan Heechul. Yoona ketakutan setangah mati, ia memberanikan diri berganjak dari bangkunya, dan bermaksud melarikan diri, namun ia kalah cepat dengan gesit salah satu kawanan Heechul yang bertubuh paling besar menahannya, merangkulnya dengan kedua tangannya terkait ke belakang, dan tubuh gadis tambun itu menahannya, ia berdiri dengan lutut lemah, dan menangis
"Berani sekali kau lari," Heechul mendekat, Yoona gemetaran, mengingat sekeranjang sampah sudah ada di tangannya.
"Sunbaenim, maafkan saya, maafkan saya," Pohonnya sambil terisak
"Aku tidak suka gadis yang banyak omong sepertimu," Desis Heechul , mengangkat keranjang sampah itu, dan tak basa-basi lagi menyiramnya ke tubuh Yoona, belum cukup sampai disitu, ia juga menyiramkan seembar air, ke tubuh gadis malang itu. Yoona mengigil kedinginan, AC yang membeku, dan air siraman yang dingin membuatnya serasa disiram hujan salju. Si tambun sudah melepaskan kaitan tangannya sejak tadi sebelum seember air menyiram Yoona, kini ia jatuh merosot ke lantai, basah kuyup, terpukul, dan kedinginan.
"heh, bagaimana rasanya?" Heechul dengan kedua tangan terlipat di dada memandangi Yoona dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia tersenyum remeh sekali. sementara itu tanpa sengaja Jaejoong melewati kelas itu, ia begitu terkejut melihat tubuh basah kuyup Yoona dan sepertinya mengerti kenapa tidak ada satupun yang ingin membantu, karena di ujung sana ia bisa melihat Heechul masih dengan tangan terlipat di dada, berdiri menantang.
"Maafkan saya sunbae," Yoona terisak berlutut, Heechul menatapnya tajam, Jaejoong sudah tak tahan, merasa dia satu-satunya namja yang melihat kejadian disitu, jiwa kejantanannya terdorong untuk membantu , dan mengesampingkan ketakutannya, ia maju mendorong-dorong orang-orang yang menghalanginya dan berdiri di depan seperti superhero.
"Sunbaenim, hentikan, dia sudah meminta maaf," Jaejoong mencopot jasnya, dan memakaikannya pada Yoona, Heechul terdiam, membiarkannya menolong Yoona dan menatap Jaejoong lurus-lurus, dan tersenyum tipis...
"Hiks hiks gomawo," Yoona terisak dalam pelukan Jaejoong, Heechul benar-benar terpaku ditempatnya, bahkan orang disekeliling mereka termasuk kawanan Jaejoong terheran-heran melihat kebisuan Heechul.
"Sunbaenim, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Isak Yoona, dan kali ini ia tulus mengatakannya, meski Heechul masih membisu.
"Chullie, tidak lagi," Suara berat yang datang membungkam seisi kelas seketika, semua yang ada disitu mendadak hening, Heechul terlihat membuka mulutnya kaget, sementara para kawanan Heechul mundur teratur, dan para gadis di kelas itu terdiam, bahkan kelihatan tak bisa bicara sama sekali, Jaejoong hampir menikmati keadaan ini, namun ia tetap tak bisa mengesampingkan sosok di depannya ini, tinggi, wajah kalem berkharisma dan tampan, sangat rapi, baik sari segi penampilan maupun bersikap, kelihatan sekali dari keluarga baik-baik, datang menghampiri, Jaejoong menatap namja itu tak berkedip, bukan karena dia tampan atau apa, tapi ia yakin orang ini bukan orang biasa.
"Ge-ge," Bola mata Heechul menatap liar, ia seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk
"Apa yang kukatakan untuk tidak melakukan kekerasan," Kata namja itu tenang, suaranya yang berat membuat suhu diruangan mendadak adem, Heechul tertunduk mempoutkan bibirnya manja. What! Jaejoong menatap Heechul tak percaya, gadis itu berekpresi tak biasa.
"Pa..pangeran Hangeng," Bisik-bisik disekeliling Jaejoong
"Eehh," Jaejoong keceplosan saking terkejutnya, Hangeng menatapnya
"Maaf untuk kekacauan ini, apa dia pacarmu? Aku meminta maaf bagi pihak Heechul," Katanya sabar, ternyata ia punya kebiasaan menatap orang tepat dimata, dan Jaejoong menelan ludah saking gugupnya. Jarak mereka memang tak terlalu jauh lagi, dan Hangeng benar-benar wangi. Jaejoong menggelang cepat.
"Eh, di-dia bukan pacarku," Ungkapnya, Hangeng tersenyum ramah sekali
"Dia yang mulai ge-ge..."
"Aku tidak menerima alasan untuk apapun jenis kekerasan," Tegas Hangeng, Heechul tertunduk, ini adalah pertama kalinya Heechul begitu terlihat bertekut lutut, setidaknya di mata Jaejoong. Hangeng mendekati Jaejoong dan Yoona yang masih dalam pelukannya, dan berjongkok agar mereka sejajar.
"Chullie, kesini minta maaf," Titahnya
"Tidak mau," Tegas Heechul, tapi Hangeng menariknya dan Heechul tak kuasa menolak lagi
"Aku minta maaf," Katanya dingin dan penuh ego, mata Jaejoong membundar tak percaya, dan Hangeng menghela nafas
"Terima kasih sudah menolongnya, dan nona maaf untuk apa yang sudah Heechul lakukan," Ucap Hangeng tenang
"Tidak Sunbaenim, saya yang harusnya minta maaf karena sudah menyebarkan gosip yang tidak benar," ujar Yoona, Hangeng tersenyum demikian baik
"Aku mengerti," katanya penuh pengertian, kemudian ia berdiri dan menarik Heechul pergi dari kelas, "Ayo," ajaknya, Heechul dan kawanannya yang lain meninggalkan kelas. Tepat sebelum Heechul keluar kelas, ia sempat bergumam tanpa menoleh.
"Kalau Yunho melihatmu seperti itu... Dia akan membunuh Yoona,"
Dan semua tertebak ia sedang bicara pada siapa, Jaejoong menunduk malu, wajahnya langsung semburat merah.
OoooO
Terima Kasih dan Selamat Membaca
Kalian Luar Biasa... (Ala Ariel)
