TOPENG SANG PUTERI

Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)

Genre : Kingdom, Romance, Family

Length : Chapter 4 0f ?

Summary:

Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.

Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 4

.

.

.

"Kita telah tiba, Paduka!"

"Akhirnya kita tiba juga. Aku sudah tidak sabar ingin beristirahat dan makan sesuatu. Tak kusangka upacara pernikahan dan penobatan ditambah perjalanan selama tiga jam membuatku menjadi lapar."

Luhan diam seribu bahasa. Sejak tadi ia hanya melihat keluar jendela dan mengingat lingkungan yang baru pertama kali dilihatnya.

Sehun turun dari kereta kemudian membantu Luhan.

"Kami telah menantikan kedatangan Anda, Paduka," sambut seorang pelayan. Kemudian ia membawa mereka memasuki Istana Camperbelt.

Di dalam telah berdiri seluruh pelayan yang ada di Istana Camperbelt. Mereka berbaris rapi membentuk dua barisan. Satu di kanan dan satu di kiri. Mereka membungkuk hormat ketika melihat Sehun dan Luhan.

Pelayan itu berkata lagi, "Ijinkanlah saya atas nama seluruh pelayan mengucapkan selamat atas pernikahan Anda."

"Terima kasih, Jongdae."

Luhan hanya mengangguk perlahan tapi sikapnya telah menunjukkan rasa terima kasihnya yang tulus.

"Kami yakin Paduka merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Kami telah menyiapkan kamar untuk Paduka."

"Kurasa saat ini aku hanya ingin makan."

"Kami akan segera menyiapkan makan siang untuk Paduka."

"Sementara itu suruh pelayan membantu Luhan mengganti gaun pengantinnya," perintahnya. Kemudian pada Luhan, Sehun berkata lembut, "Kurasa sebaiknya kau mengganti pakaian. Gaun pengantin itu pasti telah menganggu gerakmu."

Dengan gerakan tangannya, pelayan itu memanggil beberapa pelayan wanita.

Tanpa banyak berbicara, Luhan mengikuti para pelayan yang mengantarkannya ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya. Ketika Luhan sudah jauh, Sehun kembali berkata, "Chanyeol sudah datang?"

"Sudah, Paduka," jawab Jongdae.

"Anda mencari saya, Paduka?" Komandan Angkatan Laut Kerajaan Skyvarrna itu muncul dari belakang barisan para pelayan.

"Pantas aku tak melihatmu," gumam Sehun. "Bagaimana, Chanyeol? Semua sudah siap?"

"Sudah, Paduka," lapor Chanyeol, "Sesuai perintah Anda. Kami sudah siap berangkat sore ini."

"Bagus," kata Sehun puas. "Lanjutkan tugasmu. Kurasa tak sampai sore, kami akan segera berangkat."

"Baik, Paduka."

Sehun meninggalkan para pelayan itu. Seperti ketika Luhan berjalan di antara mereka, para pelayan itu membungkuk hormat. Sehun menuju kamarnya. Ia ingin beristirahat selama beberapa saat sebelum makan siang. Ia tidak merasa terlalu lelah tetapi kejutan yang dibuat istrinya membuatnya lelah.

Hingga kini Sehun tak mengerti mengapa gadis secantik itu disembunyikan Raja Zhoumi dari masyarakat. Raja Zhoumi juga diam saja ketika semua orang mengatakan putrinya gemuk dan jelek. Mengapa Raja Zhoumi melakukan itu semua tidak dapat dijawab Sehun. Hanya Raja Zhoumi yang tahu mengapa ia melakukan itu mungkin Luhan juga tahu. Tapi tak mungkin ia menanyakan hal itu pada Luhan sendiri. Luhan pasti sudah tahu apa kata orang tentang dirinya dan ia pasti dapat menduga bagaimana penolakan rakyat Kerajaan Skyvarrna ketika rajanya ingin menikahi dirinya yang tak jelas seperti apa.

"Luhan," gumam Sehun. Matanya menatap langit-langit kamar tapi yang muncul bukan lukisan indah di sepanjang langit-langit bukan juga patung-patung kecil di langit-langit. Sehun melihat wajah Luhan.

Gadis yang cantik dan tampak lembut. Seorang gadis yang sangat lembut khas wanita Timur. Matanya yang hitam mengandung misteri Timur. Rambut hitamnya membingkai wajahnya yang cantik.

Luhan sangat elok. Tak pernah dalam hidupnya Sehun melihat seorang gadis yang secantik Luhan. Sehun terus memandang bayangan wajah Luhan yang tampak di langit-langit kamar.

Suara dentang lonceng tanda makan siang telah siap, mengejutkannya. Sehun ingat ia sedang menanti makan siang yang disiapkan pelayan. Cepat-cepat Sehun mengganti pakaiannya.

Tak lama setelah Sehun merapikan dirinya, Jongdae mengetuk pintu. "Makan siang sudah siap, Paduka," lapornya.

Sehun berjalan lambat ke Ruang Makan. Ketika melewati kamar Luhan, ia melihat pintu itu masih tertutup rapat. Sehun berpikir Luhan masih sibuk berdandan dan ia semakin memperlambat langkahnya. Penjaga membukakan pintu Ruang Makan untuk Sehun. Sehun melangkah masuk dan tertegun.

Seorang gadis duduk di bingkai jendela dan memandang jauh ke depan. Tubuhnya yang terbungkus gaun hijau cerah tampak elok. Perlahan gadis itu memalingkan kepala. Tanpa berbicara apa-apa, ia bangkit dan mendekati meja makan.

Sehun cepat-cepat menarik kursi untuk Luhan.

"Terima kasih," kata Luhan singkat.

Sehun duduk di kepala meja samping gadis itu. "Maafkan aku. Aku pasti telah membuatmu lama menunggu."

"Saya baru tiba."

Pelayan yang telah bersiap-siap di ruangan itu segera melayani mereka. Bergantian mereka masuk sambil membawa baki perak berisi makanan yang lezat-lezat.

Mereka makan tanpa banyak bicara. Sampai pelayan membawa makanan penutup, Luhan diam seribu bahasa.

Setelah pelayan membawa masuk makanan penutup, Sehun berkata, "Mari kita ke Ruang Duduk. Ada yang ingin kukatakan padamu." Luhan tetap tidak berkata-kata saat mengikuti Sehun.

Sehun membuka pintu dan mempersilahkan Luhan masuk. Setelah itu ia menutup pintu rapat-rapat.

"Ada yang perlu kau ketahui."

Luhan diam memandang pria yang duduk di depannya.

"Ini mengenai perjalanan kita ke Kerajaan Skyvarrna," kata Sehun, "Kau pasti menduga kita akan melewati jalan darat. Tapi aku telah merencanakan kita akan melewati jalan laut. Saat ini laut sedang cerah-cerahnya kupikir kau pasti senang kalau kita lewat sana. Aku tahu kau ingin melihat dunia luar yang selama ini tak pernah kau lihat. Aku juga ingin kau melihatnya."

"Kita akan berangkat hari ini juga. Kurencanakan kita berangkat nanti sore, tetapi aku merasa kita bisa berangkat lebih pagi dari yang kurencanakan semula. Sekarang kau beristirahatlah dulu. Nanti bila hampir tiba saatnya untuk berangkat, aku akan menyuruh pelayan memanggilmu."

Luhan beranjak bangkit.

Sehun juga bangkit. Ia memegang lengan Luhan sebelum gadis itu pergi. "Aku berharap kau tidur yang nyenyak. Perjalanan dari Kerajaan Aqnetta ke Istana Camperbelt pasti telah melelahkanmu. Dari rumah musim panasku ini, kita akan ke pelabuhan. Perjalanannya kurang lebih setengah lama perjalanan tadi."

Luhan hanya melihat Sehun dengan tenang.

Sehun termenung melihat Luhan berlalu dari hadapannya dengan anggunnya tanpa menoleh lagi.

Luhan tahu ia tidak merasa lelah. Ia tidak akan dapat tidur seperti keinginan Sehun.

Luhan terus melewati tempat tidur dan berdiri di serambi. Seperti kebiasaannya, ia memandang langit di kejauhan dan berpikir. Sehun mengerti apa yang dirasakannya. Itu yang membuatnya heran. Ia tidak pernah mengatakan apa yang diinginkannya tapi pria itu tahu ia ingin melihat seluruh wajah dunia yang tidak pernah dilihatnya.

Sehun telah menunjukkan padanya rumah-rumah penduduk yang berjajar di tepi jalan. Hijaunya hutan rimbunnya pepohonan di dekatnya. Sekarang Sehun akan menunjukkan padanya indahnya laut di saat menjelang musim gugur.

Luhan termenung.

.

.

.

Sehun mengetuk perlahan kamar Luhan.

Semula Sehun ingin menyuruh pelayan membangunkan Luhan, tetapi setelah dipikir-pikir, ia merasa lebih baik ia sendiri yang membangunkan Luhan. Sekarang, di sinilah ia, menanti jawaban Luhan.

Tidak ada jawaban dari dalam.

Sehun mengira Luhan masih tidur. Sehun ragu membangunkan Luhan. Ia yakin gadis itu kelelahan setelah perjalanan jauh pertamanya. Tapi saat ini kereta telah siap mengantar mereka.

Perlahan-lahan Sehun membuka pintu itu. Perlahan-lahan pula ia menutup pintu. Sehun masih ragu membangunkan Luhan. Sehun melihat ke depan dan terkejut. Luhan duduk di pagar serambi. Seperti tadi, matanya memandang jauh ke depan.

"Luhan."

Gadis itu masih tenggelam dalam dunianya.

"Luhan!" Sehun meninggikan suaranya.

Luhan memalingkan kepalanya. Saat itulah Sehun menyadari Luhan tidak tampak telah tidur. Gadis itu masih tetap segar seperti ketika dua jam lalu ia duduk bersamanya di Ruang Duduk.

"Kau tidak tidur?" tanya Sehun heran, "Mengapa kau tidak beristirahat?"

"Saya tidak mengantuk."

Sehun memincingkan matanya dengan heran. "Kau yakin kau tidak lelah?"

Luhan mengangguk.

"Kurasa sebaiknya aku mengundur keberangkatan kita. Aku tidak ingin kau terlalu lelah akhirnya jatuh sakit."

Luhan melihat ke bawah pada kereta yang telah siap di depan Istana Camperbelt.

Sehun ikut melihat Pengawal Kerajaan yang tengah menanti mereka kemudian berpaling pada Luhan. "Mereka pasti mengerti keputusanku ini. Seperti aku, mereka juga tidak ingin kau sakit."

"Raja yang baik tidak pernah mengecewakan rakyatnya," kata Luhan sambil berlalu dari sisi Sehun.

Sehun segera mengikuti Luhan. "Ratu yang baik tidak pernah membuat rakyatnya cemas," balas Sehun.

Luhan tidak membantah juga tidak mengatakan apa-apa. Ia mengambil topinya di atas tempat tidur dan membuka pintu.

"Baiklah," kata Sehun menyerah, "Aku mengerti kau ingin segera melihat laut."

Lagi-lagi Sehun membuat Luhan heran. Ia tidak mengatakan keinginannya tapi Sehun tahu ia ingin segera melihat laut biru yang membentang luas yang bertemu dengan langit biru.

Dengan sigap, Sehun mengangkat Luhan ke dalam kereta dan menutup pintu setelah memberikan perintahnya pada prajurit yang mengawal mereka.

"Kali ini," kata Sehun tegas ketika kereta mulai berjalan, "Aku ingin kau tidur."

Luhan tetap memandang keluar jendela. Melihat matahari yang tengah memancarkan sinarnya yang menyilaukan.

Seperti tadi, Sehun membujuk Luhan. "Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu."

Luhan tetap membandel.

Sehun mengerti Luhan ingin melihat tempat-tempat yang mereka lalui. Tapi ia juga mengerti Luhan lelah. Walaupun gadis itu tak mengakuinya, Sehun tahu.

"Aku tidak akan menyentuhmu," Sehun meyakinkan Luhan, "Aku juga akan tidur. Sejak tadi aku tidak beristirahat sedikitpun."

"Lakukanlah," kata Luhan tanpa berpaling.

Tak sampai setengah jam kemudian, Luhan merasa matanya lelah. Sejak siang tadi ia memaksakan matanya melihat hal-hal yang baru. Ia senang melihatnya dan tidak ingin melewatkan tiap tempat, tapi tubuhnya menolak. Tubuhnya yang tidak pernah dibawa pergi jauh merintih lelah dan membuat matanya lelah juga.

Luhan tidak dapat menahan rasa lelahnya dan akhirnya ia memilih menyandarkan punggung sebentar. Luhan melihat Sehun tidur dengan tangan terlipat di belakang kepalanya. Sesaat Luhan ragu-ragu. Kemudian Luhan duduk menjauh di pojok kereta dan beristirahat. Ia akan mengistirahatkan matanya sebelum memperhatikan pemandangan yang baru baginya itu.

Entah berapa lama ia memejamkan mata, Luhan sudah tidak tahu lagi tetapi ia dapat merasakan sesuatu menyentuhnya. Luhan tidak tahu apakah itu ia merasa ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk membuka matanya. Sesaat kemudian Luhan merasa hangat. Seluruh tubuhnya terasa diselimuti oleh perasaan hangat dan aman. Angin yang beberapa saat lalu masih terasa menerpa tubuhnya tidak terasa lagi. Kehangatan itu membuatnya merasa nyaman. Tanpa sadar, Luhan semakin merapatkan diri ke asal perasaan hangat itu dan kembali terlelap.

Tiba-tiba Luhan merasakan angin dingin yang keras menerpa tubuhnya. Ia menggigil tapi kehangatan itu segera menyelimuti tubuhnya. Luhan semakin membenamkan tubuhnya dalam kehangatan itu.

Belum lama ia merasakan kehangatan itu ketika Luhan merasa tubuhnya seperti dibuai. Gerakan-gerakan yang lembut membuatnya merasa seperti bayi yang sedang dibuai dalam gendongan. Tiba-tiba Luhan merasa dingin. Tetapi kali ini tidak ada kehangatan yang menyelimuti tubuhnya.

Luhan mengerjapkan mata berulang-ulang ketika melihat dinding putih di depannya. Luhan kembali teringat pada perasaan hangat yang terus menyelimutinya. Pada sepasang tangan kekar yang memeluknya dengan lembut. Tangan yang memeluknya erat-erat sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan.

Luhan melihat sekeliling ruangan. Dalam kegelapan, ia hampir tidak dapat melihat apapun. Ruangan itu gelap hanya seberkas cahaya dari lubang jendela yang menyinari tempat itu.

Didekatinya jendela bulat itu dan ia tertegun.

Laut yang biru tampak hitam sehitam langit malam. Sinar-sinar bintang membuat laut tampak berkilau-kilau keemasan. Ombak-ombak kecil berlarian di permukaan laut. Di kejauhan tak tampak apapun selain warna hitam dan cahaya yang kemilauan. Langit juga tidak tampak. Laut dan langit bersatu dalam kegelapan malam.

Keindahan laut di malam hari membuat Luhan terpesona.

.

.

.

Sehun tertegun. Entah untuk keberapa kalinya Luhan membuat dirinya terpesona.

Beberapa saat lalu saat ia membaringkan Luhan, ia melihat gadis itu tertidur sangat nyenyak. Demikian pula ketika ia berada dalam pelukannya. Luhan yang telah tertidur di dalam kereta itu sama sekali tidak bergerak ketika ia meraih gadis itu dalam pelukannya dan membiarkan kepalanya terkulai lemah di dadanya selama perjalanan.

"Kau sudah bangun?"

Luhan berpaling.

"Kukira kau masih tidur. Tidurmu sangat nyenyak seolah kau tidak akan bangun sebelum pagi."

Luhan diam saja.

Sehun tersenyum. "Sebaiknya aku memanggil Kyungsoo."

Luhan menatap Sehun lekat-lekat.

"Kupikir ia akan sangat membantumu dalam perjalanan ini. Ia juga dapat menjadi temanmu," kata Sehun sambil tersenyum. Sehun meletakkan lilin di meja tengah ruangan dan meninggalkan Luhan.

Sesaat kemudian seorang wanita muncul dengan tersenyum. "Selamat malam, Paduka. Nama saya Kyungsoo. Saya di sini bertugas melayani Anda. Kalau ada yang harus saya lakukan, jangan ragu untuk mengatakannya juga jangan ragu untuk memarahi saya bila saya berbuat salah," wanita itu memperkenalkan dirinya dengan sopan.

"Paduka Raja meminta saya membantu Anda membersihkan diri," kata Kyungsoo pula.

Luhan tidak mengatakan apa-apa ketika wanita itu membantunya melepaskan gaunnya.

Luhan merasa segar kembali setelah mandi. Rasa lelah dan rasa kantuknya hilang bersama air mandinya. Ia merasakan kedinginan yang menyegarkan.

Setelah menyisir rambut hitamnya, Kyungsoo mengundurkan diri. Luhan mengawasi wanita itu hingga ia menghilang di balik pintu. Kemudian Luhan duduk dan menatap keluar jendela.

.

.

.

"Apa yang kau pikirkan?"

Luhan melihat Sehun mendekatinya.

"Maukah kau ikut denganku melihat laut musim gugur?"

Sehun tak menanti jawaban Luhan. Dengan lembut ia menarik berdiri Luhan dan menggandengnya keluar kamar.

Angin dingin laut membuat Luhan menggigil kedinginan. Tapi itu hanya sesaat, Sehun memeluknya dan membawanya ke geladak kapal.

"Indah bukan?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk.

"Kau masih kedinginan?"

Pertanyaan itu hanya dijawab Luhan dengan gelengan kepalanya.

"Seharian ini," kata Sehun, "Aku hampir tidak mendengar suaramu. Apakah kau marah padaku?"

"Tidak," jawab Luhan singkat.

"Baiklah, aku mengerti. Kau mungkin marah padaku tetapi kau tidak mau mengatakannya," Sehun mengalah.

Luhan memperhatikan laut yang tampak hitam sehitam langit malam. Laut dan langit tampak seakan-akan bersatu dalam kegelapan. Sinar bintang di langit memantul di laut yang berombak dan membuat laut bersinar kemilauan. Angin laut yang dingin terus bertiup mengembangkan layar kapal. Kapal yang berjalan perlahan dibuai oleh ombak kecil. Luhan senang merasakan buaian laut itu. Ia merasa seperti anak kecil yang dibuai oleh ibunya.

Sehun melihat gadis di sampingnya itu dengan heran. Perasaannya mengatakan gadis itu merasa senang tapi wajahnya tetap tenang. Sehun ragu apakah gadis itu menyukai perjalanan laut ini.

Diakuinya ia sama sekali tidak mengenal sifat istrinya yang ternyata berbeda jauh dari apa yang dibayangkannya juga dibayangkan semua orang. Sehun kembali memandang laut.

Perjalanan laut masih akan berlangsung seminggu lagi. Itu berarti masih seminggu lagi rakyat Kerajaan Skyvarrna akan tahu rupa Putri yang dinikahinya. Tetapi sebelum itu, pasti sudah ada berita tentang Putri Luhan di koran.

Sehun yakin seperti dirinya, semua rakyatnya akan terkejut melihat rupa Putri Kerajaan Aqnetta.

"Permisi, Paduka," kata Kyungsoo ragu-ragu.

" Ada apa, Kyungsoo?" tanya Sehun.

"Makan malam sudah disiapkan di kamar Paduka Ratu, seperti perintah Anda," Kyungsoo melaporkan.

"Terima kasih. Kami akan segera ke sana." Kemudian pada Luhan, Sehun berkata lembut, "Mari, Luhan."

Luhan tidak berkata apa-apa ketika Sehun menuntunnya kembali ke kamarnya.

Meja di tengah kamar Luhan telah diatur dengan rapi. Sepasang lilin putih dinyalakan di tengah meja yang juga dihiasi oleh mawar merah itu. Suasana di dalam kamar itu telah diubah sedemikian rupa menjadi romantis.

Sehun menarik kursi untuk Luhan. Seperti tadi siang, Luhan hanya diam saja. Sehun terus memandang Luhan yang berdiam diri sepanjang makan malam itu.

Pelayan berlalu lalang membawakan makanan dan melayani mereka.

Suasana di kamar Luhan selama makan malam itu sunyi. Tidak seorang pun di antara mereka yang berbicara. Luhan, si gadis tenang, sepanjang hari memang selalu berdiam diri. Tetapi Sehun sengaja berdiam diri. Ia tidak tahu apakah ia bisa membuat Luhan berbicara. Sepanjang hari ini ia telah bertanya banyak dan mencoba membuat Luhan berbicara tetapi Luhan lebih banyak berdiam diri.

Pelayan membawa pergi piring mereka.

Sehun diam memandang wajah Luhan.

"Ada masalah penting yang harus kukatakan padamu."

Luhan diam mendengarkan.

"Ini masalah pernikahan kita. Kau harus tahu pernikahan ini adalah pernikahan politik belaka. Hubungan baik antara Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Skyvarrna telah terjalin selama berabad-abad. Aku berpikir alangkah baiknya bila hubungan ini dipererat. Karena itu aku melamarmu. Ayahmu telah mengerti keinginanku ini dan ia juga menganggap ini adalah ide baik. Dengan pernikahan ini aku juga ayahmu mengharapkan rakyat dari kedua kerajaan ini semakin akrab."

"Dan karena kita belum saling mengenal, aku ingin kita berhubungan sebagai teman. Kau mengerti apa yang kukatakan ini bukan?"

Sejak awal Luhan juga mengerti ini adalah pernikahan politik biasa.

"Aku senang kau mengerti." Sehun terdiam beberapa saat kemudian berkata, "Malam semakin larut. Kupikir sebaiknya kau beristirahat."

Setelah Sehun menghilang di balik pintu, Luhan menuju jendela dan mengawasi langit.

"Sejak dulu langit dan bumi tidak pernah bersatu. Kini langit dan bumi terlihat bersatu tetapi dalam kegelapan yang pekat," kata Luhan termenung.

Luhan menuju geladak. Dipandanginya langit tanpa sedikit pun berkedip. Rambut hitamnya yang basah dibiarkannya dipermainkan angin laut. Sampai rambut itu kering, Luhan masih berdiri memandang laut. Gaun lengan panjang Luhan membuat gadis itu tidak terlalu merasa kedinginan. Luhan senang memandang laut dan langit yang bersatu itu seperti ia senang melihat hal-hal yang baru baginya.

Sehun telah menunjukkan banyak hal pada Luhan. Entah apa yang akan ia tunjukkan pada Luhan esok hari.

.

.

.

T B C

.

.

.

Big Thanks to (Reviewer Chap 3) :

|VelanditaSelly|hhyunn|vidyafa11|one|Happybacon|BeibiEXOl|Sanshaini Hikari|rikha-chan|lisnana1|ruixi1|Guest|SFA30|hunhanie|apalah arti sebuah nama|Xiao Rose|Oh Juna93|khalidasalsa|Guest|niasw3ty|chenma|luhannieka|Kiela Yue|cikatatsuya|LS-snowie|RZHH 261220|Kiela Yue|ichan|3678fans - EXO|doremifaseul|EXOST Panda|meimei|KyuvilHundsome|

.

.

.

So, Review again please..

.

.

.

"210115"