Author :: Aurelia Christy
Genre :: Romantic and Sad
Warning :: YAOI. Ini pertama kalinya aku membuat FF dari member BTS, I'm still ELF but gak sengaja ngeliat kedekatan V dan Jhope member BTS, there something special between them, mengingatkan aku dengan kedekatan KyuMin :') more than brothership, not just fanservice, aku gak berani bilang Vhope is real like Kyumin do, but tetap ada yang special antara V dan Jhope. Rasanya ini seperti pertama kali jatuh cinta pada Kyumin, i love this couple too ^^. DON'T LIKE DON'T READ ok ^^v
Cast : Taehyung as Himself
Hoseok as Himself
Cho Kyuhyun as Himself
Lee Sungmin as Himself
Kim Saeun as Herself
Jeon Jongkook as Himself
And the other's member
Pairing: Vhope
Kyumin
Summary :: The thousand of time in one day, that I repeat and think of your apparance. I remember the unforgiving words that you said to me, that icy gaze and those cold expressions. You were an incredibly pretty person, please dont be like this to me, you know me well.
"Kau yakin tidak suka jika aku yang memanggilmu begitu? Itu nama yang imut untuk namja seimut kau, Taetae-ah"
Part IV
Author's POV
"Hoseok hyung sebenarnya kita mau kemana?..."
"Panggil saja Hobie"
"Tapi…"
"Aku memaksa, panggil aku Hobie, arra?" Hoseok tersenyum lembut yang lagi-lagi membuat Taehyung tertunduk malu. "Kita sudah sampai"
"Dimana ini?" Taehyung mengitari pandangannya kesekeliling, dia tidak mengenal tempat ini
"Selamat datang di apartemenku"
"Mwo?.. A..aku disini saja!" Taehyung mulai gugup, malam-malam bersama namja yang baru dia kenal, mengajaknya ke apartement BERDUA! Itu sangat mengerikan.
"Aku tidak akan macam-macam, jika aku berbuat hal yang tidak senonoh, kau bilang saja pada Jeon Jungkook, dia orang pertama yang akan membunuhku. Hm? Kau mau masuk kan?" Hoseok mengulurkan tangannya. Perlahan Taehyung menuruti ajakan Hoseok.
"Kau tinggal sendirian? Dimana Kookie dan keluargamu yang lain?" Taehyung berkeliling mengamati luasnya ruangan yang cukup rapi itu. Ruangannya didominasi warna biru, sofa, gorden, taplak meja dan lainnya, membuat apartement ini terkesan modern.
"Mereka tidak tinggal disini, ini jarang sekali aku tinggali, hanya sesekali jika aku merasa bosan diappartement Appa. Tunggu sebentar aku menyiapkan makanan untuk kita." Hoseok bergegas pergi kedapur.
Beberapa saat kemudian.."Ini diaaaa.. Bulgogi special ala chef Hobie. Semoga kau menyukainya."
"Kau yang membuatnya hyung?"
"Ani.. ani.. aku memesannya, jadi tinggal dipanaskan saja hehehe.."
"Gumawo hyung, kau baik sekali"
"Bagaimana? Mashitta?"
"Hmm,, ini adalah salah satu makanan favoritku" Taehyung tersenyum manis dan segera melahap habis bulgogi yang tersaji dihadapannya.
Taehyung POV
Tadinya aku sangat malas meladeni namja yang suka memaksakan kehendak dan egois seperti Hoseok hyung, tapi berhubung aku memerlukan tumpangan untuk pulang dan perutku benar-benar sudah sangat lapar, maka kuturuti saja kemauannya.
"Well hyung, ini sudah sangat larut aku mau pulang, kau mau mengantarkanku kan?"
"Ne.. aku antar kau Taetae-ah, tapi kau harus menjawab pertanyaanku dulu"
"Aiishh, aku sudah lelah hyung, jangan menyodorkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu" aku mendengus kesal
"Aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?"
Wait
Wait! Dia bilang apa? Kekasih? Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.
"Taetae-ah? Kau mendengarkanku kan?"
Aku, Taehyung, seorang namja muda Wakil Direktur Sendbill Corporation yang terhormat, tiba-tiba disodori penyataan cinta seorang namja tengil yang baru kukenal. What the?!
"Aku tidak suka bercanda hyung"
"Aku serius! Apakah kau lihat aku sedang bercanda?"
Aku langsung terdiam, "Dengar Hoseok-ssi, kita baru kenal, kau namja, aku namja, kau sehat?"
"Come on Tae-ah, aku tau kau tidak tertarik dengan yeoja, kau kira sebelum aku menyatakan cinta padamu aku tidak mengetahui apapun tentangmu? Kau adalah pewaris tunggal tahta Mr. Lee pemilik Sendbill Corporation, namja yang mandiri dan tidak bergantung pada orang tuamu, kau menyukai warna merah, kau menyukai semua makanan korea dan kau tidak menyukai yeoja"
Suasana didalam ruangan ini mendadak hening. Peluh terasa menetes dipelipis kiriku. Siapa namja ini? Stalker? Pasti dia orang jahat! Pasti!
"Aku pulang!"
"Hei Taetae-ah tunggu dulu" Dia mencengkram tanganku erat
"Lepaskan Hoseok-ssi, atau aku akan berteriak!"
"Woo..woo.. calm down Taetae, duduklah dulu"
"Andwe! Kau pikir dengan kau mengetahui latar belakangku, mengetahui siapa aku, siapa keluargaku dan lain-lain lalu kau anggap aku bisa menerima begitu saja pernyataan hinamu barusan?" Aku benar-benar emosi sekarang.
"Mianhae Tae-ah, mungkin ini terlalu terburu-buru, mianhae"
BIG NO Hoseok-ssi!
"Tapi, bukankah kita bisa mencobanya dulu Taetae-ah? Oke, kita baru kenal dan kita belum memahami pribadi kita masing-masing, tapi kita bisa coba menjalaninya dulu kan? Pacaran saja dulu, aku menyukaimu dan aku yakin kau juga akan menyukaiku. Kalau kau menolakku maka maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang"
"Kau?! Itu memaksa namanya!"
"Apakah kau tertarik?"
"Aku lebih baik aku pulang sendiri!"
"Kau yakin bisa sampai ditujuan dengan selamat? Kau baru pertama kali kesini kan, dan lagipula aku ragu apakah masih ada taksi yang mau singgah dimalam selarut ini, kalau adapun pasti kau akan diculik dan…"
"Sungguh! Aku menyesal berkenalan denganmu hyung"
"Taetae-ah, kenapa kau sarkastik begitu, aku hanya mencoba mendekatimu, kenapa kau menjadi sangat tersinggung?"
"Karena bagiku cinta itu sakral Hoseok-ssi, aku tidak pernah bermain-main dengan cinta, harus ada ikatan yang kuat dari kedua belah pihak, bukan pernyataan cinta main-main seperti ini. Aku bukan namja murahan!"
"Mianhae, jeongmal mianhae, aku sangat lancang dengan ucapanku tadi. Baiklah kita berteman dulu saja, arrachi?"
"Aku sudah tidak berminat denganmu" Entah apa yang membuat aku jengkel dengan namja kurang ajar ini
"Arraseo, kita berteman saja dulu, tapi mulai besok aku yang mengantar dan menjemputmu"
"Andwe!"
"Aku aggap kau setuju, aku antar kau pulang sekarang Taetae-ah"
Oh Tuhan, mengapa aku menjadi sangat sial!
Author's POV
Park Jimin, seorang namja berusia 24 tahun dan berniat mencari pekerjaan setelah dia lulus kuliah. Dengan paras tampan, smile eyesnya dan keramahannya, pasti dengan mudah bisa mendapatkan pekerjaan yang dia mau. Jimin bukan orang miskin, tapi dia sadar dengan kondisi ayahnya yang adalah seorang pegawai swasta dan ibunya seorang ibu rumah tangga, membuatnya harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Mulai hari ini, dari hari Senin sampai dengan Jumat, dia mulai bekerja di sebuah restoran kenamaan di kota Seoul. Tidak susah, bekerja dari jam tujuh pagi hingga sembilan malam, sebagai Waiters, Jimin pasti bisa melakukan semua dengan baik. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja, dia terlihat sangat bersemangat.
"Selamat datang Park Jimin, selamat bergabung direstoran kami" Da Eun, wanita dengan postur tubuh tinggi langsing dan anggun menyapanya dengan ramah. "Perkenalkan saya Da Eun, Manager Operasional di restoran ini."
"Anneyong Da Eun-ssi,mohon bantuannya untuk membimbing saya" Jimin membungkuk dengan hormat.
"Baiklah Jimin-ah, list pekerjaanmu sudah ada dibelakang, hari ini kau mulailah bekerja dengan membersihkan meja –meja yang ada didepan, arrachi? Oh ya, seragammu ada dibelakang"
"Ne Da Eun-ssi, terima kasih arahannya" Jimin langsung bergegas menggunakan seragam yang sudah disediakan dan mulai bekerja.
"Hai, karyawan baru?"
"Ah, ne Park Jimin imnida" seru Jimin saat menyadari ada lelaki bertumbuh gempal menghampirinya
"Shindong imnida. Kau sepertinya masih sangat muda, berapa umurmu?
"24 tahun, jadi aku memanggilmu hyung?"
"Haha, ne Jimin-ah, waiters di restoran ini ada 4 tapi masih sering kewalahan karena makin banyak pengunjung yang datang"
"Kau sudah lama bekerja disini hyung?"
"Ne, sejak restoran ini berdiri, 2 tahun yang lalu. Kau mengenal pemiliknya? Namja muda, tampan, lahir dari keluarga terpandang tapi mandiri dan mampu mendirikan restoran hingga sebesar ini. Haahh, kenapa diumurku sampai sekarang aku belum bisa mendirikan satu perusahaanpun" keluh Shindong
"Haha, syukuri saja pekerjaan ini hyung, toh kita masih memiliki pekerjaan ya kan"
"Ne.. ne.. Sana, aku bersihkan meja-meja ini dan kau bersihkan cooler box saja, arra?"
"Baiklah hyung" Berjalan seolah dirinya ingin cepat dan sampai, Jimin tiba dapur dan mulai membersihkan cooler box, tapi kran air tiba-tiba bocor dan membuat baju seragamnya terkena cipratan air. Shit! Jimin menyumpah dalam hati. "Menyebalkan! Kenapa jadi bocor sih?!" Jimin mulai menggerutu karena airnya bertambah banyak dan mulai bercipratan kemana-mana. Jimin mulai kesal pada seonggok kran yang menempel pada westafel.
"Perlu bantuan?"
Tiba-tiba ada suara mengangetkannya, membuat Jimin hampir meloncat kaget, karena pundaknya disentuh oleh namja bersetelan serba hitam dan dasi merah yang terikat dikerah namja itu. Dandanannya yang rapi membuat Jimin bertanya, siapa lelaki ini?
"Aniyo, tidak usah tuan, saya hanya ingin mencuci cooler box saja" Jimin menundukan kepalanya ingin memberi hormat, siapa namja ini, Jimin pun belum kenal, yang pasti dia memiliki kedudukan yang penting di restoran ini.
Seorang petugas cleaning service kebetulan saja masuk kedalam toilet untuk mengepel lantai, "Maaf, bisa kau ganti kran ini dengan yang baru?"
"Baik Mr. Jeon" petugas cleaning itupun segera mengiyakan dan pria berjas hitam itu segera kembali kedepan setelah mencuci tangannya diwestafel sebelah.
Jimin masih diam seolah dirinya masih bertanya, siapa namja itu? Jimin bergegas menghampiri Shindong. "Mianhae hyung, kau mengenal namja berjas hitam tadi?"
"Oh, kau belum kenal ya? Itu adalah pemilik restoran ini, yang aku ceritakan tadi"
"Kalau tidak salah namanya Mr. Jeon ne?"
"Ne, Mr. Jeon Jungkook"
Taehyung POV
Cuaca hari ini sedang tidak bersahabat, sudah memasuki bulan keketujuh di tahun ini, memasuki musim gugur, membuatku sering menggunakan mantel tebal. Hari sudah sore dan rintik hujan masih setia menemani sore hariku. Sambil menyerumput kopi panas aku memandang keluar jendela, terlihat orang berjalan kaki lalu lalang, sebagian memakai jas hujan, sebagian membawa payung, pemandangan yang menyenangkan disore ini.
Baiklah, hidupku baik-baik saja sebelum aku mengenal namja gila, keras kepala, egois dan haahh, apakah Tuhan sangat yakin menciptakan namja dengan segudang sifat buruk seperti dia? Tapi, itulah awal perkenalan sekaligus awal bagaimana aku bisa jatuh cinta dengannya.
Jung Hoseok. Mengingat namanya saja sudah membuat aku panas dingin apalagi jika aku bertemu langsung dengannya. Aku bukannya tidak percaya dengan yang namanya CINTA. Tapi dengan orientasi seksualku yang berbeda dari yang lain, membuat aku tidak percaya diri dengan kata-kata cinta.
Sampai aku bertemu dengan namja *gila* yang belakangan selalu berseliweran dikepalaku. Namja yang tampan, tinggi, putih, dengan hidung sempurna, mata tajam dan senyuman mematikan.. Ssstt! Aku tidak berlebihan, karena itulah yang aku rasa, tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Kata Jimin cinta yang bahagia itu seperti kisah Cinderella, seorang upik abu yang miskin tapi cantik jelita, yang menikah dengan pangeran dari keluarga kaya raya dan akhirnya mereka berbahagia selamanya. Haha, haruskan aku terbahak-bahak sekarang? Cinderella macam apa yang bertemu dan jatuh cinta pada namja tengil dengan segudang sifat buruk yang sudah kubeberkan diatas. Kadang aku sering mengingat-ingat apa dosaku dimasa lalu sehingga aku harus meladeni dengan senang hati semua perlakuannya yang manis dihadapanku. Stupid Taehyung!
Bolehkah aku menceritakannya sekali lagi pada kalian? Dibalik sederet keburukan, dia memiliki banyak kelebihan. Ini membuktikan bahwa Tuhan itu memang adil.
Buatku dia adalah orang yang penuh dengan semangat dan penuh dengan kejutan. Seperti minggu kemarin, saat seharian dia tidak bisa kuhubungi, tiba-tiba saja dia datang didepan pintu ruangan kantorku dengan sebanquet bunga mawar, aku namja bukan yeoja paboya! Tapi jujur aku senang dengan perlakuan-perlakuan manisnya. Tapi selain itu dia juga penuh misteri, aku merasa banyak hal yang masih dia sembunyikan dariku. Sorot matanya yang tajam kadang membuatku teduh dan takut disaat yang bersamaan. Selain Jeon Jungkook, aku tidak mengenal keluarganya yang lain, karena dia juga tidak pernah menceritakan siapa keluarganya, dimana mereka tinggal, dan lain-lain. Dia hanya bercerita bahwa dia anak pengusaha, memiliki 2 saudara dan hmm.. just it, aku juga tidak ingin bertanya lebih, aku tidak ingin menyinggungnya, aku mencintainya dan aku percaya suatu saat dia akan memperkenalkanku pada keluarganya.
Aku melirik arlojiku. Ah, sudah jam 6 sore, aku melangkah dengan tergesa.. sebentar lagi Hobi hyung akan menjemputku, seingatku bahan makanan diappartementnya sudah habis, aku menyempatkan diri ke supermarket diseberang kantorku. Aku mengingat-ingat apa-apa saja yang harus kubeli..
"Tae-ah" aku menoleh hei..
"Jungkook-ssi? Omona! Apa kabar?.. Kau mau belanja juga?"
"Ne, aku tadi dari lantai atas, kau?.. Wah, banyak juga yang kau beli"
"Hehe.. ini untuk persediaan makanan di appartement Hobi hyung.. jadi.." aku terdiam, sorot matanya tiba-tiba berubah. Apa aku salah bicara?.. "Kookie-ah? Kau kenapa?"
"Ah.. itu untuk Hobi hyung ne? Oh, arrachi. Tae-ah, apakah kau dan dia, sudah jadian?"
Aku menggaruk tekukku yang tidak gatal. "Bagaimana menceritakannya ya, sejak kau mengenalkannya padaku tempo hari, dia mulai mendekatiku, menyatakan cinta, kau tau, hyungmu itu memang gila! Tapi kegilaannya yang membuat aku jatuh cinta.." Astaga, kenapa pipiku terasa panas saat menceritakan Hobi hyung.
"Kalian sudah tinggal bersama?"
"Eh? Tinggal bersama? Haha, apa-apaan kau Kookie, hubungan kami tidak sejauh itu, dia hanya mengantar dan menjemput aku, makan siang bersama, sometimes dinner, jalan-jalan diakhir pekan, hanya itu. Waeyo?"
"Ah, mianhae, hanya saja Hobie hyung akhir-akhir ini jarang pulang ke apartement kami, jadi aku hanya mengira-ngira kalian sudah tinggal bersama diapartement pribadinya."
Tunggu sebentar, bukankah Hobie hyung bilang dia selalu pulang ke appartement mereka, dia selalu membiarkan appartement pribadinya kosong, jadi?
"Ah, arraseo, aku pergi dulu, baik-baiklah dengan Hobi hyung ne?"
"Eh Kookie-ah?..." Aku belum menyelesaikan kalimatku saat dia sudah berlalu. Otakku mulai berpikir, apa Hobie hyung berbohong? Memang masih belum mengenalnya dengan baik, tapi aku percaya dia mencintaiku, hanya saja, kenapa perasaanku seperti ini? Apa ada yang dia sembunyikan dariku?
Hoseok POV
"Enngg.. ahhh.. iiisshh… fas.. ter.. aarrggghhhhhhh.." dia merintih saat aku menghentak-hentakan tubuhku, sesuatu keluar.. aahh.. ini sangat nikmat..
"Ennggghhh.. kau sangat hebat chagi-ah" aku mengecup bibirnya
"Kau yang hebat oppa.. aku sangat puas" bisiknya dengan seduktif
"Hmm.. you are the best"
"The best hm? Berarti kau pernah mencobanya dengan yeoja lain?"
"Well, kadang-kadang kalau aku mau" seruku cepat, aku harus segera menjemput Taehyung. "Palliwa, cepat pasang bajumu!"
"Ck! Tergesa-gesa sekali, janji menjemput yeojachingumu ne?"
"Namjachingu tepatnya"
"Woooo,, aku terkejut mendengarnya Mr. Jung Hoseok"
"Berhenti mengejekku dan cepat keluar dari sini. Jangan lupa bersihkan semua 'sisa-sisa'mu dari kamar ini. Oh ya, siapa namamu tadi?"
"Kau bahkan tidak ingat namaku, baka! Mana bayaranku?"
"Ini, gumawo, aku puas hari ini" Drrrt.. drrrttt.. aku melirik handphoneku di atas meja,, itu pasti pesan dari Taehyung.
"Aku hubungi kalau aku ingin 'memakai'mu" CHU~ aku melumat bibirnya sebelum dia pergi.
Aku bergegas memasang bajuku yang tadi sudah berserakan dilantai , membersihkan bed yang kacau karena 'kegiatan' ku, agar Taehyung tidak curiga. Aku memang hebat, Taehyung yang notabenenya tidak mudah jatuh cinta pada namja atau yeoja manapun, dengan mudah masih tipu dayaku. Mulutnya tidak cerewet menanyakan siapa aku sebenarnya, yang dia tau adalah, aku mencintainya haha. Sejujurnya aku tidak menyangkal bahwa aku mulai benar-benar tertarik dengan Taehyung, awalnya hanya ingin balas dendam, namun makin lama aku mulai sangat bergantung padanya. Dia sangat memperhatikanku, menyiapkan sarapan, mengingatkan makan siang, menyiapkan makan malam, mencuci baju, membersihkan appartement, sudah seperti pembantu saja hahaha.. hmm aku tau dia sangat mencintaiku.. aku memang hebat!
Taehyung POV
"Hobie hyung, kau lama sekali sih?" aku pura-pura cemberut
"Mianhae Taetae-ah, tadi aku macet dijalan, jangan marah arra?.." dia mencubit pipiku dengan gemas.
"Hmm.. arraseo.. mana mungkin aku marah hanya gara-gara hal sepele hehe… Ini aku belikan bahan makanan untuk persediaanmu, kau harus berterimakasih padaku.." CHU~ "Hei, kenapa kau tiba-tiba menciumku?" selalu seperti ini. Gerakannya yang spontan bisa membuatku terkena serangan jantung, pipiku memanas menahan malu.
"Itu ucapan terima kasihku. Bagaimana kalau kita langsung ke appartementku saja, kau harus membuatkan makan malam special untukku"
"Andwe! Aku belum mandi hyung.. aku.."
"Hei, diappartementku banyak baju, kau boleh memakai baju manapun yang kau suka.. pokoknya kau tidak boleh menolak karena aku memaksa!"
"Dasar namja egois" seruku. Tunggu dulu, aku melirik kemejanya yang tidak terpasang dengan baik, aku menyipitkan mataku
"Hyung?.. itu.. kenapa lehermu penuh dengan tanda merah?"
TO BE CONTINUED
Maaf, ada beberapa adegan yang 'merusak' otak polos chinguya haha *bow*
