A/N : Akhirnya! Maafkan untuk update yang sangat lama, selain karena pc harus diformat, saya juga ada UTS. Mohon read and review ya, maaf jika ada salah ketik atau ceritanya kurang bagus.
OH! 4
Setelah kejadian yang sangat menguras emosi dan tenaga itu, Tifa memutuskan untuk berbaring di kamar seharian. Sebenarnya dia harus mengerjakan pekerjaan rumah untuk mengejar ketertinggalannya, tetapi dia mengerjakannya nanti malam saja. Dia masih ingin menenagkan diri, jadi dia mengambil sebuah majalah edisi terbaru dan membacanya di atas ranjang. Tetapi sialnya, topik majalah kali ini adalah mengenai sebuah keluarga yang berhasil meraih ssarjana bersama-sama. Yang membuatnya kesal bukan karena kata 'sarjana', melainkan karena kata 'keluarga'.
Tidak lama setelah membacanya habis, Tifa menutup majalah itu dan keluar dari kamarnya. Dari bawah terdengar suara pisau dan makanan yang direbus, sudah pasti itu adalah suara ibunya yang sedang menyiapkan makan malam. Dari baunya sih sepertinya mereka akan makan kari, dengan sushi vegetarian sebagai sampingannya. Ketika Tifa turun dan berjalan menuju dapur, terbukti kalau perkiraannya memang tepat.
Evelyn yang masih tengah memotong sayur menyadari kehadiran anaknya dan bibirnya menyunggingkan senyum. Senyum tanda lega, karena kesedihan sepertinya sudah hampir hilang seluruhnya dari wajah putri semata wayangnya. Dengan sebuah isyarat, Evelyn meminta Tifa untuk membantunya memasak. Tifa segera datang dengan senang hati. Dengan lihai, Tifa mengambil pisau dan menggantikan tugas ibunya memotong sayur. Disampingnya terdapat rice cooker dan nasinya masih belum matang.
Karena suasana cukup canggung, Evelyn memutuskan untuk memulai topik pembicaraan.
"Hati-hati pakai pisau."
"Aku tahu," jawab Tifa. "Apa ini untuk menu di restoran nanti?"
"Bisa dibilang begitu."
"Ah, restoran kita pasti akan ramai, Sushi buatan kaa-san kan nomor satu."
Evelyn menjawabnya dengan tertawa, dan kemudian dia mengaduk-aduk kari sambil mencium baunya. Berniat mencoba rasanya, Evelyn mengambil sebuah piring kecil dan menyendokinya sedikit. Sementara Tifa, dia sudah selesai memotong sayur, tinggal menyiapkan nasinya dan alat khusus menggulung sushi. Karena ibu Tifa biasa membuat sushi dengan bentuk seperti itu, seperti kimbap.
"Sejauh ini ada kesulitan?" tanya Evelyn.
"Tidak kok, tapi mana nori-nya?"
"Coba lihat di rak atas."
Tifa mengangkat tangannya dan membuka pintu rak yang berada tepat di depannya. Evelyn menyimpan banyak bahan makanan di sini. Bumbu sphagetti, saus tomat, cabai, mie instan, sampai ada susu bubuk segala.
Tetapi tidak ada nori sama sekali. Tidak ada kemasan berwarna hijau bertuliskan 'Norimaki Oishi' yang juga adalah nori kesukaan mereka.
"Kaa-san, mana nori-nya?"
"Tidak ada di sana?"
Tifa menggelengkan kepalanya. Entah karena tidak percaya atau apa, Evelyn memeriksa isi rak itu. Dia langsung syok ketika menyadari bahwa perkataan anaknya memang benar. Sebelum panik, Tifa langsung menepuk pundak ibunya sambil tersenyum.
"Aku akan membelinya. Supermarket dekat dari sini, kan?" tanya Tifa. "Biar pakai uangku dulu."
Tanpa menunggu jawaban ibunya, Tifa langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil dompet dan segera pergi keluar.
"Jangan lama-lama, soalnya makanannya mau matang," kata Evelyn.
"Baik, aku pergi dulu."
Tifa membuka pintu dan ia langsung dihembus oleh sejuknya angin malam. Suasana jalanan sudah agak sepi, berhubung sekarang sudah jam setengah tujuh malam. Selama Tifa melangkahkan kakinya, dia mendengar macam-macam suara. Suara dua orang bapak-bapak yang sedang bermain mahjong, suara makanan yang digoreng, suara radio yang sudah cempreng, dan masih banyak lagi. Ketika dia masih tinggal di Nibelheim, suasananya sungguh jauuuuuh lebih sepi karena penduduknya yang rata-rata memang cuek dan pendiam. Karena itu, Tifa tidak terlalu menyesal karena pindah ke sini.
Supermarket sudah terlihat setelah tiga menit ia berjalan. Supermarket sederhana dengan dua buah boks pendingin es krim yang terletak di depan. Tifa masuk dan keluar setelah membeli barang-barang yang diperlukan. Sepuluh ribu gil, jumlah yang bisa dibilang cukup murah untuk dua buah nori lunak. Selain itu, Tifa juga membeli dua kaleng jus jeruk sebagai penambah tenaga.
Tidak lama setelah membayar dan berterima kasih pada kasir, Tifa berjalan keluar sambil bersenandung. Sekarang sudah jam... tujuh kurang lima belas menit. Berhubung sang ibu menyuruhnya untuk pulang cepat, Tifa mempercepat langkahnya di jalanan yang sepi ini, sampai-sampai langkah kakinya terdengar begitu jelas. Dan mungkin karena buru-buru, dia tidak menyadari bahwa di belakangnya ada seorang pria berkacamata dan bertopi yang tengah mengikutinya diam-diam.
Tifa berjalan dan terus berjalan, dan tiba-tiba saja dia didorong hingga jatuh dari belakang. Belum sempat melihat siapa pelakunya, kantongnya sudah dirogoh-rogoh dan dompetnya diambil. Ternyata pria misterius yang mengikutinya tadi adalah seorang pencopet!
Tifa berusaha untuk bangun dan berlari mengejar pencopet itu. Pencopet itu larinya tidak terlalu cepat, tetapi berhubung Tifa payah dalam berlari, maka dia tidak bisa segera menyusulnya. Sehingga akhirnya Tifa berteriak-teriak untuk meminta bantuan.
"PENCURI!"
Teriakan Tifa bisa dibilang kencang, tetapi karena tidak ada orang di sekitar sini, maka tidak ada yang datang menolong. Tifa terus berlari dan berlari, tetapi entah kenapa jarak antara dia dan pencopet itu tidak juga menipis. Sehingga lama kelamaan, kaki Tifa merasa lelah juga dan kecepatannya melambat. Oh Tuhan, apakah dia harus menyerah sampai di sini? Di dompet itu terdapat banyak barang berharga selain uang!
Kaki yang lemas, ditambah dengan stamina yang sudah menurun membuat Tifa akhirnya terjatuh untuk kedua kalinya. Dan sementara dia jatuh, pencopet itu semakin lama semakin tidak kelihatan. Dengan kekuatan terakhirnya, Tifa mengangkat tubuhnya dan mencoba berteriak lagi untuk kedua kalinya, dengan harapan semoga ada seseorang yang mau menolongnya.
"PENCURI! TOLONG TANGKAP DIA!"
Hening...
Hening...
DUAK!
Sebuah suara benturan keras terdengar tidak lama setelahnya, dan kemudian, suara langkah kaki copet yang lari itu tidak terdengar lagi. Apakah... apakah ada yang menolongnya?
Perlahan-lahan, Tifa mendengar suara langkah kaki lagi, tetapi dia tahu kalau ini bukan langkah kaki si pencopet. Langkah kaki ini terdengar lebih berat. Langkah kaki itu terdengar semakin jelas dan Tifa juga sangat penasaran dengan siapa yang (kelihatannya) datang menghampirinya. Semakin dekat, Tifa kali ini bisa melihat siluetnya. Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap, mengenakan T-shirt, celana selutut, dan sepatu berukuran besar, mungkinkah sepatu olahraga?
Sosok itu semakin lama semakin mendekat. Dan ketika cahaya lampu jalan menyinari wajahnya, mulut Tifa langsung menganga.
"Cloud... senpai?" tanya Tifa.
"Oh... kau..."
...
Secara perlahan, Cloud membuka matanya dan langsung disambut dengan silaunya cahaya lampu kamarnya di langit-langit. Setelah mengucek-ngucek matanya, Cloud segera bangun dan mengambil ponsel miliknya untuk melihat jam, jam enam sore. Jam segini biasanya Sephiroth mencari inspirasi di perpustakaan sampai jam delapan malam. Cloud bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju ruang makan di bawah, seperti yang diduga, Sephiroth sudah menyiapkan makan malam.
Setelah menghabiskan makan malamnya dalam waktu yang singkat, Cloud mengambil sebuah bola basket dari sofa dan mengenakan seoatu olahraga miliknya. Selain ayahnya, Cloud juga memiliki kebiasaannya tersendiri, yaitu bermain basket di lapangan dekat rumahnya. Cloud biasa bermain saat malam karena lapangan sepi, jadi dia bisa bermain tanpa ada yang mengganggu atau melihatnya.
Cloud mengunci pintu rumahnya dan segera berjalan menuju ke lapangan. Lapangan yang hanya berbeda dua blok, dan sering bermain basket membuat kaki Cloud menjadi kuat. Sebelum mulai bermain, Cloud sudah biasa berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali, dan dia juga lebih memilih untuk berjalan kaki jika jaraknya dekat.
Sesampainya di lapangan, dugaannya memang tepat bahwa tempat ini sangat sepi. Jadi dia langsung saja masuk sambil melakukan dribble, lalu lay up, dan kemudian... shoot. Dia melakukan tiga gerakan itu berkali-kali sampai-sampai dia sering lupa waktu. Dan ketika dia mau melakukan shoot untuk kesekian kalinya, dia dikejutkan dengan sosok pria paruh baya bertopi dan berkacamata yang tengah berlari. Cloud tadinya masa bodoh, yah... mungkin saja orang itu memang sedang terburu-buru.
Yah, dia memang berpikir begitu, sampai dia mendengar sebuah teriakan.
"PENCURI! TOLONG TANGKAP DIA!"
Pencuri?
Tangan Cloud yang baru saja melempar bola langsung ia hentikan. Pencuri? Apakah yang dimaksud dengan pencuri itu adalah pria yang sedang berlari tadi? Cloud berjalan keluar lapangan dan melihat ke kiri dan kanannya. Dari arah pria itu berlari, Cloud melihat siluet seorang perempuan yang tengah berbaring, hanya saja tidak begitu jelas karena gelap. Tetapi sepertinya memang dia adalah korban dari pria (yang ternyata) pencuri tadi.
Dengan mengandalkan kekuatan kakinya, Cloud segera berlari sambil menenteng bola basketnya. Jika dikejar, seharusnya pencuri itu masih bisa disusul. Selain karena Cloud mampu berlari dengan cepat, pencuri itu tampak sudah berumur, larinya juga tidak begitu cepat. Seharusnya Cloud masih bisa menandingi kecepatannya. Dan benar saja, dia melihat pria itu tengah berlari menuju ke sebuah bangunan kosong, mau sembunyi rupanya.
"Jangan pikir kau bisa lolos," kata Cloud sambil menyiapkan bola basketnya. "Rasakan ini!"
Setelah melakukan kuda-kuda, tangan kanan Cloud melempar bola basket itu dengan tenaga penuh ke kepala sang pencuri, dan hasilnya... kena telak! Dengan tambahan sebuah bunyi yang cukup kencang. Pencuri itu juga langsung teler, dan akhirnya pingsan. Cloud segera menghampiri pencuri itu dan mencari-cari barang yang dicuri, yang untungnya mudah ditemukan karena masih dicengkram dengan erat di tangan kanan. Sebuah dompet berwarna cokelat tua.
Oke, dia sudah berhasil 'menegakkan keadilan', saatnya untuk mengembalikan benda ini. Sambil berjalan, Cloud juga memikirkan sosok pemilik dompet ini. Jika dilihat dari siluet yang ia lihat tadi sih sepertinya dia perempuan, perempuan yang ceroboh.
Cloud sudah mendekati siluet itu sekarang. Dalam beberapa langkah, dia sudah bisa melihat wajahnya. Apa yang harus dilakukannya ketika ia menyerahkan dompet ini? Langsung menyerahkannya? Atau mengatakan 'hati-hati lain kali' terlebih dahulu? Pikiran itu langsung buyar ketika akhirnya Cloud bisa melihat wajah sang pemilik dompet. Dan bukan hanya Cloud, tetapi si pemilik dompet juga sama kagetnya.
"Cloud... senpai?"
Dia adalah Tifa, yang sudah ketiga kalinya secara kebetulan ia temui hari ini.
"Oh... kau..."
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku..." entah kenapa Cloud terlihat bingung untuk menjawab, tetapi ketika melihat dompet yang ia pegang, ia langsung teringat. "Apa ini milikmu?"
"Ah, iya! Itu mi—aduh!" jawab Tifa yang berusaha bangun. "Lututku..."
Cloud hanya menatapnya dengan heran dan kemudian membantunya berdiri, kelihatannya lututnya terluka. Tadi dia terjatuh?
"Terima kasih."
"Kau... tadi terjatuh?"
"I—iya, waktu aku mengejarnya tiba-tiba saja aku tersandung."
"Oh," kata Cloud. "Ini dompetmu, berhati-hatilah lain kali."
"Iya, terima kasih senpai."
"Daerah ini memang agak sepi saat malam, jadi berhati-hatilah."
"Aku... aku mengerti."
"Rumahmu dekat sini?"
"Iya, ternyata senpai juga tinggal di sekitar sini?"
"Begitulah," kata Cloud sambil menyeka keringatnya. "Kau bisa berjalan?"
"Entahlah, tetapi sepertinya bisa."
Tifa mengambil plastik berisi barang belanja yang ada di sampingnya dan kemudian mencoba untuk berjalan. Tetapi yang ada dia malah kepayahan dan hampir terjatuh lagi. Sehingga lagi-lagi Cloud harus menolongnya.
"Sepertinya tidak bisa ya?" tanya Cloud.
"Ma—maaf."
"Jangan ceroboh lain kali," kata Cloud. "Entah bagaimana cara mengantarmu pulang."
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri."
Tidak lama setelah berkata begitu, Tifa langsung nyaris terjatuh lagi. Cloud menghela napas dan menolongnya.
"Apa boleh buat."
Cloud berjalan ke depan Tifa, dan kemudian dia berjongkok.
"Naiklah."
"Eh?"
"Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu sampai rumah."
"Ti—tidak..."
"Naik, kau jangan membuang-buang waktu. Pegang bola basketku selagi kugendong."
Dengan sedikit ragu-ragu, Tifa memberanikan diri untuk naik ke punggung Cloud. Tubuh Tifa terasa begitu ringan, benarkah ini tubuh seorang wanita kelas dua SMU? Atau mungkin tubuhnya saja yang terlalu besar? Tetapi sebenarnya, bukan ini yang paling membuat Cloud heran.
Mengapa... mengapa dia bisa begitu terbuka pada gadis ini?
Mengapa juga dia bisa langsung menawarkan ini?
Menggendongnya, menggendong seorang gadis yang belum lama ditemuinya.
Mengapa?
Mengapa?
Cloud terus menggendong Tifa dengan kepala yang menunduk.
"Senpai, belok kanan."
"Eh?" tanya Cloud yang tersadar. "Ah, ya."
"Anu, maafkan aku."
"Hah?"
"Maaf merepotkan, maksudku."
Entah bagaimana menjawabnya. Kalau Zack sih, dia tinggal menjawab 'Hahaha, ini bukan apa-apa!' dengan wajah ceria tanpa dosa. Tetapi kalau dia? Cloud bukanlah tipe yang pandai bergaul dengan wanita. Jawaban apa yang harus dikatakannya? Rasanya sulit.
"Tidak," hanya itulah kata yang mampu Cloud katakan.
"Hm."
"Tidak," kata Cloud lagi.
"Oh..." kata Tifa. "Ah, itu rumahku, dan.. ibu?"
Di depan rumah Tifa yang sudah terlihat, terlihat seorang wanita paruh baya yang terlihat khawatir. Itukah ibu Tifa? Wajah mereka berdua memang sangat mirip. Sama seperti wajahnya dengan... sial, kenapa dia harus memiliki wajah yang sama dengan ibunya? Yang bahkan Sephiroth selalu bilang 'kau memang sangat mirip dengan ibumu'. Apakah Sephiroth tidak tahu, bahwa Cloud sangat benci dibanding-bandingkan dengan ibunya?
Wanita yang ada di depan rumah itu menyadari sosok Cloud dan Tifa yang tengah berada dalam gendongannya. Dengan wajah yang cemas, ia langsung berlari menghampirinya. Tifa turun secara perlahan dan langsung memeluk ibunya.
"Tifa! Kenapa kau lama sekali? Dan ini..."
"Em maaf kaa-san, tadi aku dicopet."
"Di—dicopet ?!"
"Iya, tapi tidak apa-apa, karena dia menolongku," kata Tifa. "Perkenalkan, ini Cloud, kakak kelasku. Senpai, ini ibuku."
Ketika Cloud baru berniat menjulurkan tangan, tiba-tiba Evelyn sudah menghampirinya dengan mata yang agak berair. Kedua tangannya yang kecil dan kurus menggenggam tangan Cloud yang jauh lebih besar.
"Terima kasih banyak, Cloud. Terima kasih karena sudah menyelamatkan anakku," kata Evelyn. "Aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk berterima kasih."
Evelyn tidak kuasa lagi menahan air matanya. Sementara Cloud, dia hanya bisa menatap Evelyn dengan rasa heran bercampur dengan tidak menyangka. Dia menangis hanya karena masalah sepele seperti itu? Apakah rasa sayangnya memang sangat besar?
"Ah ya," kata Evelyn sambil mengelap air matanya. "Kau mau masuk? Makan malam memang belum selesai seluruhnya, tapi kalau kau menunggu..."
"Tidak, terima kasih," kata Cloud. "Aku harus pulang."
"Senpai, hanya sebentar saja kok."
"Ayahku akan khawatir jika aku tidak juga pulang."
Tifa dan Evelyn langsung berkata 'oh' ketika mendengarnya.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih atas bantuannya," kata Evelyn sambil membungkuk.
"Hati-hati senpai."
Tidak menjawab, Cloud membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan mereka berdua.
Cloud berjalan dengan pandangan yang terus mengarah pada langit. Kalau saja sekarang siang hari, dia pasti sudah menabrak orang karena suasana jalanan masih sangat ramai. Entah kenapa wajah bersyukur Evelyn, ibu Tifa, serta rasa sayangnya selalu terbayang-bayang dipikiran Cloud. Sama dengan Tifa, ketergantungannya pada ibunya, reaksinya ketika dia bertemu ibunya.
Sebelumnya dia selalu memasang tampak jijik ketika melihat ibu-ibu yang berpura-pura baik di depan anaknya, padahal aslinya, mereka tidak segan-segan untuk memukul anaknya jika berbuat salah.
Tetapi kali ini...
"Sepertinya... tidak semua ibu dan wanita seperti dia ya?"
...
"Oke, selesai!"
Hidangan sushi roll itu adalah hidangan terakhir, dan kini mereka berdua melepaskan celemek dan duduk di kursi masing-masing. Tifa dan Evelyn mengucapkan 'itadakimas' sebelum mengambil sumpit dan menyantap hidangan mereka.
"Tifa," kata Evelyn.
"Hm?"
"Sepertinya dia pria yang baik."
"Siapa? Cloud senpai?"
Evelyn mengangguk.
"Yah, begitulah. Tapi dia dingin, kaa-san."
"Tapi kalau menurut kaa-san, sikap dinginnya bukan sikap dingin yang natural."
Tifa mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Maksudnya, dia bersikap dingin bukan dari dulu. Jadi, ada sesuatu yang menyebabkan dia bersikap seperti itu, begitulah."
"Oh," kata Tifa. "Mungkin itu memang benar, tapi..."
"Tapi?"
"Tapi setidaknya dia membuatku tahu."
"Tahu apa."
"Tahu..."
Tifa mengunyah dan kemudian menelan makanannya terlebih dahulu.
"Bahwa tidak semua laki-laki itu seperti tou-san."
Mohon isi kotak review yang di bawah ya, terima kasih hehehe.
