Hai semuanya! Sori ya, updatenya lama...

Aku mau makasih sama para pembaca yang riview cerita ini...

merie nendy moi

Amaiii 13

Sabaku Tema-chan

ichigo

yusei'uzumaki'fudo

Masahiro NIGHT Seiran

Namikaze Sakura

Mugiwara Yukii UzumakiSakura

Kataoka Fidy

Lollytha-chan

Amamia Shinya

Kurosaki Kuchiki

Shadow Shirayuki

Deidei Rinnepero13

Saruwatari Yumi

gotcha 'avril'ogawayakko

marmoet Hime-chan

Karu Naku Sunspring

Hikari Meiko Eunjo

Rinzu15 the 4th Espada

wi3nter

sakura 'cheery' snowfalls

Makasih banyak ya, udah review! Makasih juga bagi pembaca yang udah baca :)

(sori kalau ada nama yang salah spelling-nya)

enjoy this chapter!

WARNING: OOC, alur cepat!


CHAPTER 4

Bibir kami bertemu.

Kelembutan bibirnya membuatku meleleh. Seluruh otot tubuhku tiba-tiba melemas, dan kedua kelopak mataku terbuka sesaat, membuat mataku bertemu dengan kelopak matanya yang masih tertutup.

Sakura?

Benarkah gadis yang berada di depanku ini Sakura Haruno?

Aku tidak berhalunasi kan?

Sejak dulu, aku selalu bermimpi untuk memeluknya di lenganku seperti ini. Sejak dulu, aku selalu memimpikan dirinya. Sejak dulu, aku selalu menatap dirinya yang tergila-gila akan Sasuke. Tak pernah sekali pun aku berhasil menangkap dirinya. Namun, sekarang...

Kututup kembali kelopak mataku dan tanpa kusadari aku sudah mencengkeram tangannya, membuatnya mengerang pelan. Dia sama sekali tidak sadar bahwa suara erangannya itu membuat dadaku berdetak semakin kencang. Perlahan-lahan, ciuman pelan yang kutujukan padanya berubah menjadi panas. Tanpa peringatan sedikit pun, aku melumat bibirnya, membuatnya mengerang lagi.

Sialan. Aku tidak bisa berhenti.

Sakura menyentakkan kepalanya, membuat ciuman kami terputus. Mulutnya megap-megap karena kehabisan oksigen. "N-Naruto..." dia membisikkan namaku di sela-sela napasnya. "S-sudah... cu..kup.. aku tidak..."

Ucapannya terputus ketika aku mendaratkan sebuah senyuman paksa di bibirnya.

Hentikan! Hatiku menjerit, memaksaku untuk berhenti sebelum aku melukainya. Namun, tubuhku tidak mau mendengarkan perintah itu. Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini dan sekarang saat-saat yang kunantikan itu sudah tiba. Aku tidak bisa berhenti begitu saja.

Kurasakan tubuh Sakura memanas di dalam pelukanku ketika aku mempererat pelukan kami. Kehangatan tubuhnya merasuki tubuhku, membuat pikiranku menjadi semakin tidak terkontrol. Aku sama sekali tidak sadar kalau Sakura sudah mengerang kesakitan. Dia menyentakkan kepalanya lagi dan meletakkan tangannya di atas dadaku, berusaha untuk menjauhkan tubuh kami berdua.

"Naruto...! S-sakit...!" dia mengerang lagi. Kali ini, erangannya membuat kelopak mataku terbuka. Sakura mengerang bukan karena ciuman dan pelukan yang kuberikan. Dia mengerang karena dia kesakitan. Wajahku memanas setelah sadar akan hal itu. Aku menjauhkan wajahku darinya dan melangkah mundur.

"M-maaf!" ujarku dengan panik. Aku meletakkan tanganku di bahunya dan menatapnya dalam-dalam. "Kau... kesakitan?" bisikku, cemas. Entah kenapa, wajah Sakura semakin memerah ketika dia mendengar suaraku yang parau dan bergetar ini. Dia menggeleng cepat dan menatapku dengan malu-malu.

"Aku... tidak apa-apa..." dia balas berbisik sambil melontarkan senyum simpul.

Oh, Tuhan...

Tanpa kusadari, wajahku semakin terbakar ketika melihat senyumannya. "O-oh... begitu ya... haha..." aku tertawa kaku. Sesaat, keheningan terjadi di antara kami berdua. Tidak ada seorang pun yang membuka mulut.

"Anu…" mulutku terbuka tanpa kukehendaki. "Tadi itu… ci-ci-ciuman?" wajahku seakan-akan terbakar ketika aku mengucapkan kata-kata itu.

"Ciuman…" Sakura mengulangi ucapanku dengan wajah yang tidak kalah merah terbakar. Akan tetapi, rona merah di wajahnya lenyap dan perlahan-lahan kerutan di keningnya mulai muncul. "Hinata…" dia berbisik lirih.

Klik.

Nama pacarku itu menyambungkan kabel-kabel kewarasan yang sejak tadi terputus.

Hinata.

Aku menggigit bibirku sekuat tenaga. Perasaan bersalah yang bergumpal di dalam diriku membuatku ingin meraih kunai dan menusuk diriku sendiri di detik ini juga. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap wajah Sakura.

"Kenapa kau memalingkan matamu, Naruto?" Sakura mulai bertanya dengan nada tajam. "Kau tidak mau melihatku? Kenapa? Apa karena kau kecewa karena cewek yang tadi kau cium bukanlah Hinata?"

Dadaku terasa nyaris berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan dengan nada tajam yang menusuk hati itu. "Bukan!" aku membantah sambil menatap mata emerald-nya. Hatiku terkoyak-koyak ketika aku melihat air mata yang mulai menggenang di permukaan matanya. Sorot wajahnya yang sekarang jelas-jelas menunjukkan kesakitan.

Aku melukainya.

"Kau tahu Naruto," suaranya mulai bergetar. "Aku menyukai Sasuke sejak dulu. Aku selalu membayangkan diriku berciuman dengannya. Tapi entah kenapa ketika kau menciumku, aku merasa tidak keberatan. Aku tidak keberatan berciuman denganmu. Tapi mengingat fakta kalau kau pacaran dengan Hinata dan kau menciumku duluan…"

"Sakura-chan, bukan begi…"

"Dasar cowok brengsek," dia mendesis. "Aku tahu kalau ini juga salahku karena aku bisa-bisanya terbawa suasana tadi. Tapi kau tidak seharusnya menciumku duluan karena kau sudah punya Hinata! Bisa kau bayangkan seperti apa perasaan Hinata jika dia tahu akan hal ini?" air matanya mulai jatuh. "Aku tidak mau menjadi cewek brengsek yang menghancurkan kebahagiaan orang lain…"

"Tidak, Sakura-chan! Kau tidak menghancurkan kebahagiaan siapa-siapa!" aku dengan panik menjawab. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku menciummu tadi… Aku memang merasa sangat bersalah terhadap Hinata, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku lagi!" aku menatap matanya dalam-dalam. "Aku menyukaimu, Sakura-chan!"

Aku ingin sekali menampar diriku sendiri, namun semuanya sudah terlambat.

Aku menyatakan cintaku terhadap Sakura.

Sakura menatapku dengan kedua mata yang terbelalak lebar. "Kau benar-benar cowok brengsek!" dia menjerit sambil mengepalkan tinjunya. "Kalau kau menyukaiku kenapa kau harus pacaran dengan Hinata? Tahukah kau seberapa pedih hatiku ketika tahu kau pacaran dengannya? Tahukah kau seberapa banyak aku menangis setiap malam karena hal ini? Apa maumu sebenarnya, Naruto!" dia menjerit di sela-sela tangisnya. "Kau hanya mau mempermainkan aku dan Hinata? Atau kau pacaran dengan Hinata untuk membuatku menderita karena aku selalu membuatmu menderita? Yang mana yang benar, Naruto?"

"Tidak dua-duanya!" aku balas berteriak. "Aku pacaran dengan Hinata tapi aku menyukaimu! Aku sama sekali tidak menyukainya!"

"Kalau begitu kenapa kau pacaran dengannya?"

Pertanyaan Sakura nyaris membuat jantungku berhenti berdetak.

Kenapa aku pacaran dengan Hinata?

"Itu… tak bisa kuberitahu padamu…" jawabku, pelan. Aku mengalihkan mataku dari wajahnya, namun dari sudut pandang mataku aku bisa melihat wajahnya yang merah padam karena amarah dan sakit hati.

"Oh… tidak mau bilang padaku apa alasannya?" dia bertanya pelan. "Terserah. Aku sudah tidak mau tahu lagi." Sakura melempar jaket orange yang tadi kulingkarkan di tubuhnya. Aku sama sekali tidak membuka mulut atau pun menghentikannya ketika melihat dia membalikkan tubuhnya dan menghilang dari hadapanku. Aku hanya berdiam diri di atas genangan air, menatap jaketku yang perlahan-lahan tenggelam ditelan air yang dingin.

.

.

.

.

.

"Jadi? Apa yang mau kau bicarakan denganku?" Shikamaru menatapku dengan tatapan enggan. "Kau tahu kalau akhir-akhir ini aku diperas tanpa henti oleh Tsunade. Jadi pastikan kalau percakapan ini bukan omong kosong."

"Ini tentang Hinata," aku cepat-cepat memotongnya sebelum dia mengangkat kakinya dari kedai dango ini. Raut wajah Shikamaru yang sejak tadi menampakkan kebosanan mulai berubah menjadi lebih serius.

"Sepertinya kau mengundangku kesini bukan untuk beromong kosong saja," dia menatap dango yang masih belum kusentuh sejak tadi. "Jadi, ada apa dengan Hinata? Kalau soal kondisi tubuhnya kau bisa bicarakan dengan Tsunade atau Neji kan?"

"Hinata masih baik-baik saja," aku mengangguk, serius. "Yah… untuk saat ini dia masih baik-baik saja."

"Lalu? Apa masalahnya?"

Aku menarik napas dalam-dalam. "Begini… aku… itu… anu…" mulutku megap-megap, tidak tahu apa yang harus kukatakan. "Aku… aku… itu… S-sakura…"

"Kau apakan bibir Sakura?"

"AKu menciumnya, dattebayo! Eh?" aku menatap Shikamaru dengan mata terbelalak. "Kau sudah tahu, dattebayo?" aku menjerit sambil beranjak tiba-tiba, nyaris membuat meja yang berada di hadapanku terbalik. Shikamaru menutup telinganya sambil mengerutkan kening.

"Tenang sedikit bisa tidak?" tanyanya, kesal. Aku menatap orang-orang yang mulai berbisik-bisik ke arahku. Wajahku merah padam dan sambil menganggukkan kepala aku kembali duduk di kursi. "Dasar… aku dengan sengaja memilih tempat duduk yang terpojok ini supaya fans gilamu itu tidak bisa menemukanmu, tapi kau malah dengan gampangnya membuat tempat keberadaan kita ketahuan!"

"Maaf…" aku bergumam lemah. "Tapi kau tahu darimana aku ciuman dengan Sakura?"

"Itu sih…" Shikamaru menopang dagunya. "Kemarin, di kantor hokage aku berpapasan dengannya. Matanya merah dan dia terus mengusap bibirnya tanpa henti. Awalnya aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi ketika kau menyebutkan namanya tadi aku langsung tahu apa yang terjadi."

"Uh…" aku mendesah ketika membayangkan sosok Sakura yang terus menggosok bibirnya dengan mata merah karena habis menangis.

"Jadi… tujuanmu memanggilku kesini adalah untuk mengaku dosa karena sudah berselingkuh?" tanya Shikamaru, tajam. "Neji benar-benar akan membunuhmu kalau dia tahu akan hal ini."

"Aku tahu!" desisku. "Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar menyukai Sakura…" aku mendesah. "Aku benar-benar… menyukainya…"

Shikamaru tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap wajahku yang terlihat frustasi. "Haahh… merepotkan sekali!" dia mendengus. "Sakura tahu apa alasanmu pacaran dengan Hinata?" aku hanya menggeleng sebagai jawaban. "Sakura… dia cewek yang merepotkan… Dia tidak merasa senang meskipun kau menyukainya dan menciumnya. Dia malah merasa frustrasi," ujar Shikamaru sambil mendengus.

"Dia… memikirkan perasaan Hinata…" gumamku. "Dia memang cewek yang begitu. Dia tidak akan bahagia di atas penderitaan orang lain…"

"Hhhaaahhh! Merepotkan sekali!"

Aku hanya terdiam mendengar desahan kesal Shikamaru. Bahkan orang super pintar sepertinya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Naruto, apa pun yang terjadi, jangan sampai kau memberi tahu Neji mau pun Tsunade," ujarnya dengan nada serius. "Jangan sampai Hinata juga tahu. Kau dengan sengaja pacaran dengannya untuk membuatnya bahagia, bukan untuk membuat kondisi tubuhnya semakin parah."

Aku tidak dapat menjawab ucapan Shikamaru. Wajah Hinata yang kesakitan mulai muncul di kepalaku. Aku kembali teringat sosoknya yang berlumuran darah ketika dia berusaha menyelamatkanku dari Pain. Dia berusaha melindungiku dengan tubuhnya yang rapuh itu. Dia tetap berdiri di depanku meskipun tubuhnya sudah terluka berkali-kali. Dia bersedia mengorbankan nyawanya demiku.

Aku mencintaimu, Naruto-kun.

Suara Hinata yang bergema di kepalaku membuatku semakin ingin melenyapkan diriku sendiri dari muka bumi ini. "Ukh…" aku mengerang pelan. "Aku benar-benar… cowok bajingan! Aku tahu kalau Hinata membutuhkanku untuk kepulihan tubuhnya! Tapi aku… aku…"

"Hinata tidak akan selamat. Kita semua tahu itu, Naruto."

Kedua kelopak mataku tersentak dan tanganku sudah berada di sekeliling leher Shikamaru tanpa kusadari. "Jangan pernah kau ucapkan kalimat itu lagi!" aku menggeram sambil mempererat cengkeramanku, membuat Shikamaru meronta kesakitan.

"Na-Naruto! L-lepas…!"

Aku mendengus dan menjatuhkan tanganku. Shikamaru terbatuk-batuk sambil mengusap lehernya.

"Masih ada cara untuk menyelamatkannya," ujarku, membuat kedua bola mata Shikamaru terbelalak.

"Naruto, organ tubuh dalam Hinata sudah hancur karena serangan beruntun Pain! Sudah suatu keajaiban dia bisa selamat! Tsunade saja sudah bilang kalau dia tidak akan bisa bertahan lebih dari satu bulan…"

"Aku bilang dia pasti selamat!" aku memotong ucapannya. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, yang pasti dia bisa selamat!"

Shikamaru hanya menatapku tanpa membuka mulutnya.

"Hinata… dia cewek baik… Dia tidak ingin teman-teman yang lain cemas akan kondisinya, karena itu hanya aku, kau, Neji dan Tsunade-baachan yang tahu akan hal ini," aku menggeretakkan gigiku. "Aku kira dengan pacaran dengan Hinata aku bisa membuat kondisinya menjadi lebih baik, tapi ternyata aku malah membuat semuanya menjadi parah! Bukan hanya Hinata… Sakura juga…"

Shikamaru menghela napas. "Sifatmu memang begitu. Kau terlalu polos. Kau selalu ingin menolong orang lain, tapi kau sendiri terlalu jujur dengan perasaanmu. Kau ingin membuat Hinata bahagia, tapi kau membuka perasaanmu yang sebenarnya pada Sakura. Kau hanya membuat mereka berdua menjadi semakin terluka. Kau harus memilih salah satu Naruto."

"Salah satu? Apa maksudmu?"

"Pilih antara Hinata atau Sakura. Kau tidak bisa membahagiakan keduanya dalam waktu bersamaan," dia beranjak dari kursinya. "Hinata memang membutuhkanmu, tapi dia pasti mengerti jika kau ingin berdampingan dengan Sakura. Tapi jika dinilai dari sifat Sakura, dia pasti mengharuskanmu mendampingi Hinata jika dia tahu kenyataan yang sebenarnya," Shikamaru tersenyum mengejek ke arahku. "Pikirkan saja sendiri, cowok populer!"

Aku hanya bisa mengerutkan kening sambil menatap punggungnya yang semakin lama semakin jauh dari toko dango ini. "Argh! Aku harus bagaimana, dattebayo?" aku menjerit sekuat tenaga. Seumur hidupku, baru kali ini aku berpikir begini keras.

"Datte… bayo?"

Aku menoleh ke arah suara sopran centil yang ada di belakangku itu. Kedua bola mataku menangkap sosok lima orang gadis yang berdiri di depan kedai makan ini.

"Astaga! Itu benar-benar Naruto Uzumaki!" jerit salah satu gadis. "Tidak ada cowok lain yang selalu berkata dattebayo!"

"Kyaa! Benar! Ihhh! Dia imut sekali!"

I-imut?

Sekujur tubuhku bergidik ketika mendengar suara-suara centil yang 'memuji' diriku imut ini.

"Kya! Aku ingin sekali memeluknya!" salah satu cewek dengan ukuran tubuh yang tidak kalah dengan ukuran tubuh Choji berlari ke arahku, menyebabkan lantai kayu ini berguncang dengan tiba-tiba. Cewek lainnya seakan-akan tidak mau kalah, ikut berlari menuju ke arahku, membuat lantai ini berguncang lebih kencang.

"J-jangan dekati aku, dattebayo!" aku melompat mundur, berusaha untuk kabur dari mereka. Namun, aku baru sadar kalau aku sekarang berada di pojok kedai dan tidak ada tempat untuk lari mau pun sembunyi bagiku. Jari-jari mereka yang menggapai-gapai menuju ke arahku itu membuatku bergidik. Tubuhku bergetar semakin hebat ketika melihat mata mereka yang berkilatan dan penuh akan nafsu jahat untuk menyentuhku.

Aku tidak takut dengan Pain.

Aku tidak takut dengan Akatsuki.

Aku tidak takut dengan monster rubah di dalam tubuhku ini.

Tapi aku bertekuk lutut di hadapan hal-hal gaib seperti hantu.

Dan cewek-cewek yang berusaha 'memakan'ku hidup-hidup ini lebih menyeramkan dibandingkan hantu-hantu itu.

Dengan tangan bergetar, aku meraih bola asap yang kusimpan di dalam tas ninja. Gumpalan asap memenuhi tempat ini ketika aku melempar bola tersebut. Tanpa membuang waktu, aku melompat keluar, menyelamatkan diriku dari terkaman wanita-wanita buas itu.

"Sasuke… aku mengerti perasaanmu sekarang…" gumamku sambil melesat menuju tempat latihanku yang tersembunyi. Memang, ketika aku masih kecil, aku ingin sekali dikagumi cewek-cewek seperti Sasuke, tapi sepertinya sekarang aku tidak menginginkan hal itu lagi. Aku memilih tidak terkenal dibandingkan harus mencari tempat rahasia untuk berlatih supaya tidak ada yang mengganggu. Gara-gara cewek-cewek gila itu, aku bahkan tidak bisa memikirkan langkah-langkah yang harus kuambil untuk menghadapi Sakura dan Hinata! (Selain itu, aku juga tidak bisa makan dango dengan tenang).

Aku menghela napas lega ketika aku sudah sampai di tempat latihan. Tanpa membuang waktu lagi, aku melepaskan jaketku yang basah karena air terjun. Aku duduk bersila di lantai yang dingin dan mulai memejamkan mataku. Kukosongkan pikiranku dan dalam sekejab, aku bisa merasakan energi asing di sekelilingku. Tubuhku langsung meresap seluruh energi asing itu, mencampur mereka dengan cakraku sendiri.

Aku sendiri bingung kenapa sekarang aku bisa sangat mudah menggunakan jurus Sannin ini. Dulu, aku harus berlatih mempertaruhkan tubuhku untuk menguasai jurus ini.

Jika lengah sedikit saja, aku tidak akan bisa menikmati ramen lagi seumur hidup.

Aku hanya bisa menikmati lalat dan nyamuk.

Tubuhku bergidik ketika aku membayangkan diriku sendiri melahap serangga menjijikkan itu.

"Naruto-kun?"

Aku membuka mata dan jurus Sannin ini lenyap seketika. "Ah," dadaku berdegup dua kali lebih kencang ketika aku menatap Hinata yang berdiri di depanku. "Hinata, sedang apa kau disini?" tanyaku sambil menyeringai kaku. Tanpa kusadari, keringat dingin mulai membasahi wajahku.

Apakah dia tahu tentang ciuman itu? Bagaimana jika dia tahu? Apa yang harus kulakukan?

Pertanyaan beruntun itu membuat dadaku berdetak semakin kencang. Aku berusaha keras memasang wajah yang biasa-biasa saja, namun sepertinya wajahku menjadi semakin kaku ketika Hinata mulai mendekatiku. "A-ada apa, Hinata?"

"Itu… Naruto-kun…" dia mulai memainkan jari telunjuknya. "A-aku..." ucapannya terhenti tiba-tiba. Bola matanya berputar kesana kemari, wajahnya mulai memerah. "Aku…"

"Kenapa, Hinata? K-kenapa kau panik begitu?" tanyaku, tak kalah panik. Jangan-jangan dia sudah tahu akan ciuman itu?

"I-itu… a-aku…" dia memejamkan matanya erat-erat. Aku juga memejamkan mataku erat-erat, takut mendengar kenyataan yang akan keluar dari dalam mulutnya.

"Aku suka Naruto-kun!"

"Maafkan ak… eh… apa?" tanyaku sambil perlahan-lahan membuka mataku lagi.

"Aku… suka Naruto-kun…" dia bergumam lagi, menyembunyikan wajahnya yang merah padam. "Karena itu… kita putus saja ya?" Setelah mengucapkan kalimat itu, dia ingin mencoba kabur dari tempat ini, tapi aku cepat-cepat menangkap lengannya. "Apa maksudmu?" tanyaku sambil tetap menjaga jarak dengannya. Aku tidak mau kalau dia sampai pingsan karena jarakku terlalu dekat dengannya.

Apa maksudnya dengan putus? Mengapa dia ingin putus denganku?

"I-itu…" Hinata mengalihkan tatapan matanya dariku. "Kurasa… lebih baik kalau Naruto-kun pacaran dengan Sakura-san…"

"Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?" tanyaku, panik.

"Naruto-kun suka dengan Sakura-san, kan?" tanya Hinata sambil tersenyum lemah. Mataku terbelalak ketika aku mendengar pertanyaannya.

"Kau tahu dari mana?" bisikku, lirih.

"Sejak awal aku sudah tahu kalau Naruto-kun suka dengan Sakura-san…" gumamnya. "Karena itu aku merasa tidak enak ketika Naruto-kun tiba-tiba memutuskan untuk pacaran denganku dan melindungiku…"

"Tapi aku sungguh-sungguh ingin menjagamu, Hinata!" aku membantah ucapannya. "Kau sudah berkorban banyak untukku! Aku harus membalasmu!"

Hinata tersenyum lebar mendengar ucapanku ini. "Aku tahu… hanya saja… Naruto Uzumaki yang kusukai sejak dulu adalah Naruto yang selalu mengejar-ngejar Sakura-san…" dia mulai memberanikan diri untuk menatap langsung ke mataku. "Sejak Naruto-kun pacaran denganku, Sakura-san tidak pernah lagi mengunjungimu dan Naruto-kun terlihat… sedih…"

"Tapi, aku tidak menyesal pacaran denganmu Hinata! Karena itu jangan langsung bilang kalau kau ingin putus!" aku memohon padanya. "Aku ingin terus menjagamu, Hinata!"

"Naruto-kun…" Hinata menyentuh tanganku perlahan. Entah kenapa, rona merah di wajah Hinata perlahan-lahan memudar. Wajahnya perlahan-lahan menjadi pucat. "K-kau… berhak… mendapat kebahagiaan…" napasnya mulai putus-putus. "Kejar… Sakura-san… Ohok!" dia tiba-tiba terbatuk.

"Hinata? Kau baik-baik saja?" tanyaku, panik. Aku merangkul tubuhnya dan cepat-cepat kududukkan dia di lantai gua. Tiba-tiba, sesuatu terjatuh dari saku jaket Hinata. Aku meraih saputangan yang terjatuh itu dan mataku terbelalak dalam seketika.

Saputangan itu penuh dengan noda darah.

"Ohok! Ohok!" batuk Hinata semakin parah. Di batuk yang berikutnya, semburan darah segar yang berasal dari mulutnya membasahi lantai gua.

"Hinata! Bertahanlah! Akan kupanggilkan nenek Tsunade!" aku hendak bergegas mencari pertolongan, namun sebuah tangan yang berlumuran darah mencengkeram lenganku.

"T-tidak perlu… Naruto-kun… aku sudah tidak sanggup…" bibirnya yang merah pekat itu tersenyum lemah. "Aku… lebih memilih mati disini… disisimu…"

"Tidak!" aku berteriak kencang. "Tak akan kubiarkan kau mati!" tanpa kusadari, air mata mulai menggenang di mataku. "Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan satu orang berharga lagi! Aku sudah kehilangan Ero-sannin! Aku tidak sanggup kalau harus kehilanganmu juga! Aku ingin melindungi teman-temanku!"

Kau ingin menyelamatkannya?

Tiba-tiba sebuah suara yang dingin muncul di dalam kepalaku, membuatku tersentak. Aku kenal suara ini. Aku kenal akan nada suara yang licik dan bengis ini. Kyuubi?

Aku bisa menyelamatkannya dengan cakra-ku.

Mataku terbelalak. Dia bisa menyelamatkan Hinata?

"Sungguh? Kalau begitu selamatkan Hinata sekarang! Dia sedang sekarat!" aku berteriak keras.

Aku tidak mau memberikan cakra-ku yang berharga ini padanya begitu saja.

Mendengar perkatanyaan-nya yang kejam itu, amarahku mulai muncul. "Jangan macam-macam! Akan kubunuh kau! Selamatkan Hinata kalau kau bisa!"

Transaksi.

"Apa maksudmu?"

Jika kusembuhkan dia, kau harus melakukan apa pun yang kuminta. Bagaimana?

Dadaku seakan-akan berhenti berdetak ketika aku mendengar perkataan licik monster itu. Memang, aku tidak bertemu muka dengan monster itu dan aku tidak tahu seperti apa wajahnya ketika dia melihatku dalam kondisi terdesak seperti ini, tapi aku bisa membayangkan wajahnya yang menyeringai licik. Tatapanku kembali terfokus ke arah Hinata. Napasnya naik turun secara tidak teratur. Wajahnya semakin pucat dan tangannya menjadi semakin dingin.

"Akan kulakukan apa pun asal kau menyelamatkan Hinata!" teriakku, kencang. Apa pun yang terjadi, aku tidak bisa membiarkan Hinata tewas begini saja. Banyak orang yang menginginkan dia untuk tetap hidup. Banyak orang yang mencintainya. Sesaat, aku langsung membayangkan wajah Neji.

Aku mendengar suara tawa kyuubi. Baiklah, itu janji kita. Jangan pernah melanggar janjimu.

"Aku selalu menepati janjiku, dattebayo!" bentakku. "Sekarang cepat selamatkan Hinata!"

Di detik yang sama, tiba-tiba aku merasakan hawa panas di telapak tanganku. Aku kenal cakra merah ini. Ini cakra yang dimiliki Kyuubi. Aku sudah sering menggunakan cakra ini, tapi entah mengapa, cakra merah yang menyelimuti telapak tanganku kali ini berbeda dari sebelumnya.

Ini bukan cakra untuk membunuh. Aku membagikan cakra penyembuhan yang selama ini kuberikan untukmu. Kyuubi kembali berbicara. Sekarang tempelkan telapak tanganmu itu di dahinya.

Aku melakukan hal yang disuruh olehnya dan tiba-tiba, wajah pucat Hinata perlahan-lahan memudar. Napasnya kembali normal lagi. Tubuhku bergetar karena kebahagiaan dan perasaan lega.

Hinata selamat.

"Syukurlah…" bisikku, lega.

Kau sudah mulai lega? Kyuubi bertanya dengan nada sinis. Ini barulah permulaan Naruto. Akan kupastikan kalau kau menderita karena transaksi ini.

.

.

.

.

.

"Nek Tsunade! Bagaimana dengan kondisi tubuh Hinata?" tanyaku, cemas. Wanita dengan rambut pirang dikuncir dua ini hanya menatap Hinata dengan mata terbelalak.

"Ajaib… seluruh organ tubuhnya tiba-tiba pulih seperti semula! Kau apakan dia, bocah?"

Aku tersenyum lega sambil menatap Hinata yang tertidur pulas di ranjang rumah sakit ini. "Aku… melakukan transaksi dengan kyuubi…"

Ucapanku membuat mata Tsunade menjadi semakin lebar. Aku menceritakan padanya tentang suara kyuubi yang tiba-tiba muncul dan tentang transaksi yang sudah kujanjikan itu.

"Mmm… jadi si kyuubi merasa dendam padamu karena kebebasan yang dia tunggu-tunggu sejak dulu hancur berantakan sejak Minato memperbaiki segel itu?" Tsunade mengerutkan kening. "Kau… sudah menyetujui transaksi itu?"

"Ya," jawabku dengan wajah serius.

"Tak akan kuijinkan kau melakukan hal itu!" Tsunade berteriak, marah. "Kau kira aku akan dengan mudah menganggukkan kepala setelah mendengar isi perjanjian kalian berdua? Tidak akan kubiarkan itu terjadi!"

"Aku sudah berjanji!" aku memotong ucapan Tsunade. "Aku… tidak bisa melanggar janjiku…"

Tsunade hanya menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kau… serius ingin melakukan hal itu?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Tentu. Jika kau tetap melanggarku, aku akan melakukannya dengan diam-diam," jawabku, mantap. "Aku… sebenarnya tidak ingin memberitahumu tentang hal ini, karena aku tahu kalau kau pasti tidak akan mengijinkanmu. Tapi aku merasa kalau aku harus memberitahumu akan soal ini."

Tsunade menatap mataku dalam-dalam. "Naruto, kyuubi ingin kau untuk menghancurkan dua hal yang kau sayangi. Dia ingin kau menghancurkan Konoha…"

"Sampai mati pun aku tidak akan menghancurkan Konoha," aku kembali memotongnya. "Kyuubi tahu itu. Makanya, dia hanya ingin aku untuk meninggalkan Konoha."

"Kalau kau meninggalkan Konoha tanpa ijin dariku dan para ketua, kau akan dianggap ninja pengkhianat," Tsunade menatapku dalam-dalam. "Seperti Sasuke."

"Aku… tidak keberatan…" ujarku. "Aku tidak akan mengkhianati Konoha. Aku akan terus mengawasi tempat ini dari kejauhan. Aku tidak bodoh. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan kembali bertapa di gunung Myoboku dan mencari cara untuk mengendalikan kyuubi seutuhnya dan mengambil kembali Sasuke."

Tsunade hendak membuka mulut lagi, tapi aku cepat-cepat menghentikannya. "Percuma. Apa pun yang kau katakan, aku tetap akan pergi!" ujarku, keras kepala. Tidak mudah bagiku untuk mengatakan hal ini. Aku sangat mencintai Konoha. Aku tidak ingin meninggalkan rumahku ini. Aku tidak ingin meninggalkan teman-temanku. Tapi, aku sendiri tidak bisa melanggar janji yang sudah kubuat. "Kumohon, Tsunade-sama…"

Tsunade sepertinya terkejut ketika mendengarku memanggilnya 'Tsunade-sama'. Perlahan-lahan, air mata mulai menggenang di matanya, namun dia cepat-cepat memalingkan wajahnya. Dia melemparkan suatu bungkusan dan dengan gesit kutangkap bungkusan itu. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan sebuah suntikan.

"Itu benda yang kau butuhkan untuk menepati janji kedua," ujarnya dengan suara bergetar. "Sekarang, cepat pergi dari sini! Jangan sampai aku berubah pikiran!"

Aku tersenyum lemah menatap punggung Tsunade. Bagiku, tidak ada orang lain yang lebih kutakuti sekaligus kusayang seperti dirinya. Aku mengangguk dan di detik berikutnya, aku sudah melesat keluar dari tempat ini.

.

.

.

.

.

Aku menatap langit biru tenang yang dihiasi dengan awan. Entah kenapa, pemandangan ini membuatku terhanyut di dalam pikiranku sendiri. Aku menoleh dan menatap patung wajah para Hokage. Mereka… sudah mengorbankan nyawa mereka untuk menjaga tempat ini. Tatapanku terpaku pada patung hokage keempat.

Ayah.

Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku ketika dia akan meninggalkan tempat ini?

Meninggalkan orang-orang yang dia sayangi?

"Apa maumu memanggilku kesini, Naruto?"

Aku menoleh ke arah suara yang dingin itu. Sambil menyeringai kaku, aku balas menyapa cewek berambut merah muda pendek itu. "Sakura-chan, kukira kau tidak akan datang…"

"Aku datang karena kau bilang kalau kau mau menjelaskan semuanya," dia menatapku dengan mata emerald-nya yang dingin. "Kalau kau hanya bicara yang bukan-bukan, aku akan pergi sekarang!"

Aku beranjak dari bangku taman dan berjalan mendekatinya. Wajah Sakura tiba-tiba memerah ketika jarak wajah kami berdua semakin dekat.

"A-apa maumu, Naruto?" Sakura hendak pergi menjauh dariku, tapi kedua tanganku dengan cepat merangkul tubuhnya. Tubuhnya menegang di dalam pelukanku, tapi aku sama sekali tidak melepaskan pelukanku.

"Aku… mencintaimu," gumamku, pelan. "Karena itulah, aku harus meninggalkanmu."

Sebelum Sakura sempat berkata sesuatu, aku meraih suntikan yang sebelumnya diberikan oleh Tsunade dan menusukkan benda tersebut ke lengan Sakura.

"Kau akan melupakan pemuda yang bernama Naruto Uzumaki," bisikku pelan di telinganya. "Kau tidak kenal dengan Naruto Uzumaki."

Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuh Sakura langsung melemas dan dia kehilangan kesadaran di dalam pelukanku. Aku membaringkan tubuh Sakura di kursi taman dekat gerbang Konoha. Dengan obat penghipnotis ini, Sakura akan melupakan semuanya tentang diriku.

"Nah, kyuubi, aku sudah menepati janjiku. Aku akan meninggalkan Konoha dan aku akan membuat orang yang kucintai lupa akan diriku. Apakah itu cukup bagimu?" tanyaku, pelan. Tidak ada balasan dari kyuubi, namun aku tahu bahwa dia mendengar apa yang kukatakan. Aku meraih tanganku dan dengan perlahan, aku menyentuh wajah Sakura. Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa melakukan semua ini. Hatiku bagai ditusuk pisau ketika aku membayangkan Sakura yang sama sekali tidak mengenal diriku.

"Maaf," ujarku sambil menatap wajah tidurnya. "Lagi-lagi aku tidak bisa menepati janjiku padamu… aku tidak bisa melindungimu…" suaraku tiba-tiba bergetar. "Tapi tunggulah, Sakura, aku akan kembali dan aku pasti akan menepati janjiku padamu. Aku janji, dattebayo."


TBC

maafkan daku ya, kalau crita ini gak sesuai harapan...

sori juga kalau critanya rush :P

makasih udah baca!

mind to review?

arigatou!