Special thanks to my daughter Kuramichan
Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati
Lonceng di atas pintu berdenting cukup kencang tatkala pintu dibuka. Seorang pemuda dengan helai rambut coklat masuk, diikuti oleh dua orang gadis bertopi.
"Uwah— Arare ternyata cafe yang unik juga." ujar Abberlain— sang pemuda —sambil memandangi ukiran-ukiran unik di dinding. "Ayo kita bersantai hari ini, kawan!"
"Kau benar-benar berisik, Abberlain." Gabriel memukul kepala Abberlain menggunakan topi hitamnya, membiarkan rambut panjang aquanya jatuh dengan lembut di bahunya.
"Slaine-kun? Mau kemana?"
Slaine Troyard, sosok lain yang tak mengikuti ketiga temannya untuk masuk ke dalam cafe menghentikan langkahnya lalu tersenyum memandang Finnie.
"Ada yang ingin kubeli." katanya lembut. "Kalian pesanlah duluan."
"Oke. Jangan lama-lama ya, Slaine!"
Arare tampak cukup sepi kala itu, hanya ada mereka bertiga, dua orang muda-mudi yang tengah berkencan, pria berjas yang sepertinya bekerja di pemerintah, seorang wanita muda bersama seorang anak kecil di pangkuannya, dan dua orang laki-laki yang duduk tepat di belakang mereka.
Abberlain— dengan cengiran khasnya —berpura-pura menjadi salah seorang butler dengan menarikkan kursi bagi kedua gadis. Dibalas dengan senyuman lembut Finnie dan ejekan Gabriel.
"Baiklah, sekarang mari kita memilih menu fufu." Abberlain membuka-buka buku menu dengan penuh semangat.
"Aku tahu kau sangat menyukai makanan manis, tapi hei— ayolah... kau sudah sembilan belas tahun bodoh!"
Lagi— Gabriel memukul kepalanya. Kali ini menggunakan buku menu khusus minuman.
"Sudahlah teman-teman... bila Slaine-kun melihat kalian seperti ini terus dia bisa—"
"...kau melihat lambang Saazbaum Famiglia. Hari ini kau mati dibunuh oleh seorang anak yang mirip dengan pemuda yang menendang batu ke arahmu..."
Ketiganya terdiam ketika mendengar suara pria di belakang mereka yang menyebut nama Saazbaum Famiglia dengan cukup keras. Abberlain mengernyit, ia tutup kembali buku menu lalu memandang kedua temannya.
"Kalian dengar?" tanya Abberlain dengan suara yang rendah.
"Tentu saja— dua orang di belakang kita sepertinya sedang membicarakan keluarga kita." sahut Gabriel. "Dan tolonglah— aku tidak paham sama sekali lanjutan kalimatnya."
"Sebentar teman-teman... coba kita dengarkan kembali, okay?"
Mengikuti saran Finnie, ketiganya kembali diam, berpura-pura membaca buku menu namun telinga mereka fokus pada percakapan dua orang di belakang mereka.
"...akan kukatakan asal kau berjanji untuk menjauhi semua yang berhubungan dengan Saazbaum dan si penendang batu ini mengerti?"
"Oy... oy..." Abberlain berbisik dengan gigi bergemeletuk, agaknya merasa kesal saat sang pria berkata jauhi semua tentang Saazbaum— memangnya mereka orang jahat apa? Hoi, Saazbaum Famiglia itu kan adalah penyelamat. Buktinya Abberlain dapat hidup hingga saat ini berkat mereka.
"Baiklah, tapi—"
"Apa ada yang salah dengan keluarga Saazbaum?"
Suasana hening mendadak— Gabriel merutuki kecerobohan Abberlain yang kelepasan bicara dengan suara cukup keras.
"Maaf?" pemuda di belakang mereka mengerutkan kening, sepertinya sedang bingung atau bagaimana— karena mereka tidak bisa menebak emosi sang pemuda yang berwajah datar tersebut.
"Apa masalah kalian dengan Saazbaum, huh?"
Jayn menggigit bibirnya, memandangi Abberlain dengan khawatir dan sesekali melirik ke arah Inaho. Dia sadar bahwa ketiga orang di hadapannya merupakan salah satu anggota keluarga Saazbaum. Namun sayangnya Inaho tidak menyadari hal tersebut.
"Memangnya kalian siapanya Saazbaum?" tanya Inaho dengan nada yang lebih datar lagi— membuat Jayn ingin menghantamkan kepalanya sendiri ke meja.
Abberlain mendengus, entah kenapa merasa agak jengkel pada Inaho. "Kalau kubilang... kami mengenal baik Saazbaum bagaimana?"
Inaho memandang Abberlain dengan tajam— diam-diam tangan kirinya sudah menyentuh pistol beretta yang ia simpan. Apakah ketiga orang itu adalah anggota Saazbaum? Kalau memang benar, itu artinya dia dalam bahaya karena mereka telah menguping pembicaraannya dengan Jayn.
"Nana," Jayn memanggil di antara hawa mencekam. "Sebaiknya kau pulang."
Finnie mengangkat sebelah alisnya heran mendengar perintah Jayn. Rasanya seperti pria itu berusaha melindungi Inaho, tapi kenapa? Padahal mereka hanya ingin tahu apa yang salah dari keluarga Saazbaum? Namun persepsinya berubah ketika matanya tanpa sengaja menangkap kilatan di balik jaket oranye yang dikenakan Inaho.
Sebuah lencana berbentuk segi lima dengan seekor kuda hitam dan dua rantai yang melilitnya tampak ketika jaket oranyenya sedikit tersingkap. Dan itu adalah— lambang Klein Famiglia, musuh mereka.
"Klein!" Gabriel memekik, berdiri secara tiba-tiba sambil menodongkan pistolnya— rupanya juga sadar dengan lencana milik Inaho.
Inaho sendiri secara spontan ikut berdiri dan menodongkan pistolnya. "Kalian— Saazbaum."
Jayn memandang gelisah keempatnya. Abberlain dan kedua gadis itu sudah menodingkan pistol ke arah Inaho— begitu pula sebaliknya. Namun ini benar-benar tidak seimbang, tiga lawan satu.
"Mafia! Mafia!"
Dan sialnya seorang pelanggan wanita menyeru dengan lantangnya, menarik perhatian pelanggan lainnya dan juga petugas Arare.
"Oh ayolah, apa salahnya kalau kami mafia?" gerutu Abberlain. "Hoi kau, seharusnya Klein tidak—"
"Berhenti kalian!" dan perhatian mereka kembali teralihkan oleh seorang pria berjas— seseorang yang sempat Gabriel duga sebagai salah satu anggota pemerintah —yang juga sudah menodongkan pistolnya. "Sebaiknya para mafia tidak macam-macam di sini atau saya akan menahan kalian."
Pria itu menunjukkan sebuah lencana emas— lencana yang biasa mereka lihat di kerajaan.
"Sial, dia orang kerajaan!" Gabriel memandang Finnie dengan ragu. "Bagaimana ini Finnie? Kau tahu sendiri kan orang kerajaan selalu memusuhi mafia!"
Finnie membuka mulutnya, hendak berbicara. Namun terhenti ketika suara letusan pistol terdengar dan tubuh anggota kerajaan itu ambruk seketika dengan lubang di kepala.
"Hanya seperti itu saja huh?" Abberlain meniup moncong pistolnya dengan sombong.
"Abberlain!"
Setelah Finnie menjerit marah, suasana cafe menjadi ricuh. Para pelanggan berlarian keluar, petugas Arare pun ikut berlari dengan panik, hanya Jayn— satu-satunya petugas yang tetap berdiri tegap di depan Inaho, melindunginya.
"Apa kau juga anggota Klein?" Gabriel memandang sinis.
Inaho menarik tangan Jayn— menyuruhnya mundur. Inaho tahu, Jayn bukanlah seorang mafioso dan itu membuatnya ragu bila membiarkan Jayn terlibat dalam masalah ini.
Sayangnya, Jayn tetap bersikukuh dan mengabaikan tarikan tangan Inaho. "Aku temannya dan tak akan kubiarkan kalian melukainya."
"Jayn kau bu—"
"Kalian berdua— akan kubunuh kalian berdua! Dasar Klein keparat!"
Peluru kembali dimuntahkan, dengan sigap Jayn menarik Inaho untuk menghindar.
"Kenapa kalian membenci Klein?!" teriak Jayn di tengah bisingnya suara tembakan. "Apa salah Klein?!"
"Kami sudah tahu kelakuan kalian semua! Kalian yang menyiakan kebaikan hati Saazbaum! Kalian yang membantai keluarga kami!"
"Salah!"
DOR!
Hening mendadak, Jayn memandang tak percaya. Inaho berdiri di depannya— menodongkan pistol untuk melindunginya. Abberlain dan Gabriel tergugu, sedangkan Finnie hanya bisa terdiam kaget.
Inaho menatap tajam ketiganya, penuh kemarahan. Dua peluru yang bertabrakan jatuh di dekat kakinya.
Seandainya Inaho tidak bergerak dengan cepat, seandainya Inaho tidak bisa menembak dengan akurasi yang luar biasa. Mungkin peluru yang ditembakan Glock 18 milik Finnie telah bersarang di dada Jayn. Mungkin Inaho akan melihat temannya mati— untuk kedua kalinya.
"Aku tak akan memaafkan kalian yang berusaha melukai teman-temanku."
Slaine tengah menikmati aroma bunga mawar biru di sebuah toko kala itu. Memandangnya dengan senyuman teduh, bagai lukisan eropa yang membuat beberapa gadis yang lewat tersipu.
"Tolong mawar bi—"
Suara jeritan ketakutan terdengar dari kejauhan, memotong kalimat yang hendak diucapkan Slaine. Arahnya dari ujung jalan di sebelah kanan Slaine, dimana cafe yang dipilih teman-temannya berdiri.
Tunggu, bagaimana jika asalnya benar dari cafe Arare? Bagaimana jika tempat itu diserang? Bagaimana keadaan teman-temannya?
Tanpa pikir panjang, Slaine segera berlari. Membuat beberapa kelopak bunga mawar biru yang tadi dipegangnya berjatuhan dengan lembut. Slaine berlari menerobos kerumunan orang. Berlari melawan arus. Tak peduli ketika ia tertabrak, terinjak, atau tanpa sengaja terpukul. Yang penting adalah teman-temannya.
Karena Slaine tidak ingin kehilangan teman-temannya—
"Tidak mungkin..."
—untuk yang kedua kalinya.
"ABBERLAIN! GABRIEL! FINNIE!"
Slaine berlari, melompati meja-meja yang hancur, mendekati ketiga temannya yang terbaring dengan darah menggenang.
"Finnie—"
"Pergi... Slaine... kun!"
Tangannya mendorong tubuh Slaine, membuat kemeja putih Slaine ternoda darah. Finnie mati-matian membuka matanya, memandang Slaine dari balik kacamatanya yang pecah.
"Apa yang terjadi? Abberlain?!"
Slaine memandang Abberlain, pemuda itu juga dalam keadaan sekarat. Ia melempar pandangannya lagi pada Gabriel yang tertelungkup, namun tak ada tanda-tanda sang gadis pemarah itu masih bernafas.
"Apa... apa yang terjadi?"
Di tengah kebingungan dan ketakutannya, dia mendengar suara benda berat jatuh di belakangnya, diikuti suara seorang pria yang memanggil sebuah nama. Slaine segera menarik pistolnya, menodongkannya ketika berbalik.
Ada seorang pemuda berambut coklat ikal yang bertumpu pada meja, tangan kanannya yang menggenggam pistol terkulai lemah. Keringat banyak mengalir di wajahnya dan nafasnya terengah. Di sebelahnya, seorang pria terus memanggil namanya menyuruh bertahan seolah pemuda itu bisa pergi kapan saja seandainya matanya tertutup.
Slaine kenal pemuda tersebut, seorang pemuda dengan pakaian serba oranye yang sempat ia pukul menggunakan batu tanpa sengaja. Seorang pemuda yang seenaknya saja memanggilnya 'bat'. Seorang pemuda... yang matanya mengingatkan Slaine pada seseorang.
Tangan Slaine sedikit gemetar, melihat pemuda itu yang kini jatuh terduduk sambil mencengkeram bahu kanannya membuat Slaine seolah kembali pada masa dimana sahabatnya terbunuh.
Dan itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.
"Slaine—" suara Abberlain terdengar lirih, Slaine menoleh cepat dan buru-buru mendekati Abberlain meninggalkan Finnie yang memandang keduanya dengan nafas yang putus-putus. "Tembak... dia..."
Slaine tidak perlu bertanya siapa yang temannya maksud, sudah jelas Abberlain menyuruhnya menembak pemuda yang tengah kesakitan di hadapan mereka.
"Tembak... dia..." Abberlain mengulangi. "Dia... yang melakukan ini... Slaine..."
Slaine hanya diam, menggigit bibir bawahnya sambil menggenggam tangan Abberlain.
"Slaine... dia... mereka... Klein."
Dan dunia runtuh saat itu juga. Padahal Slaine sudah berharap tak pernah bertemu dengan pemuda itu lagi, tapi kenapa justru ia kembali dipertemukan bersama dengan sebuah fakta yang menyakitkan.
Sosok itu, sosok yang begitu mirip dengan sahabatnya. Adalah anggota Klein. Anggota keluarga Klein.
Saat itulah Slaine merasa geram. Tangannya gemetar bukan lagi karena ia takut dan ragu tapi karena marah. Untuk yang kedua kalinya Klein melukai temannya, untuk yang kedua kalinya Klein membunuh temannya. Untuk kedua kalinya Klein membuat Slaine merasa menjadi orang yang tidak berguna dan lemah.
Kalau memang benar pemuda itu adalah anggota Klein, maka hanya ada satu hal yang harus Slaine lakukan.
Dan suara letupan pistol pun menggaung.
"Mawar biru itu indah ya... Slaine,"
"Tentu saja."
A/N Aaaaaaa aku terlalu sibuk berkutat dengan tumpukan tugas baik itu tugas di kelas maupun ekstrakulikuler di rl jadi lama updatenya deh huft
