Chapter 3: Kepada siapa mereka berurusan. Kepada APA.
.
.
.
Shiho bolos seminggu. Ia benar-benar takut bertemu 2 kelompok yang disebutnya sebagai penguasa itu. Shinichi sendiri sudah membaik. Tinggal serumah dengan apoteker membuatmu tak butuh ke rumah sakit. Lagipula Shiho benar-benar tak ingin mengambil resiko sampai-sampai berniat keluar dari perkerjaannya yang langsung disumpahi Shinichi.
"Gila aja, mau keluar! Lalu kita makannya gimana?" pekik Shinichi saat itu yang langsung meringis karena lukanya belum sembuh. Sementara, Shiho mendengus kesal melihat reaksi Shinichi.
Dan sekarang sudah seminggu. Shinichi juga sudah bisa bermalas-malasan seperti biasa bisa turun ke bawah atau naik ke atas untuk tidur tanpa dibantu Shiho. Tapi tetap saja Shiho cemas.
"Kau tak kerja lagi?" tegur Shinichi.
"Kenapa tak kau saja yang kerja?" desis Shiho kesal.
Shinichi hanya diam tak menjawab. Tepatnya tak punya jawaban. Namun tak lama, ia berbicara lagi, "Sudah seminggu. Mereka pasti sudah tak ada."
"Belum tentu. Tinggal kota ini yang belum mereka kuasai. Kota ini yang mereka perebutkan," ucap Shiho. Shinichi terdiam lagi. Ia ingat penjelasan Shiho tentang kedua kelompok tersebut begitu mereka sampai rumah.
Flashback:
"Penguasa? Apa maksudmu?" Tanya Shinichi tak mengerti.
"Mereka penguasa dunia ini, Shinichi. Oh Tuhan, bacalah Koran dan tontonlah berita!"
"Kalaupun iya, aku tetap tak mengerti! Aku amnesia, ingat?"
Shiho mendengus. "Kurasa aku harus menjelaskan semuanya dari awal."
"Dari awal?"
"Apakah kau tahu, dulu langit berwarna biru dan ada pohon? Dulu, matahari bersinar terang sekali, dan orang-orang penuh warna."
Shinichi hampir tak percaya mendengarnya."Benarkah? Dan apa itu pohon? Apa itu? Benda berwarna hijau yang pernah kau taruh di ujung jendela namun langsung mati itu? Lalu apa pula matahari?"
Shiho mengangguk. "Itu bukan benda. Itu makhluk. Dulu, ada 3 makhluk hidup secara garis besar. Manusia, tumbuhan, dan hewan. Tumbuhan adalah pohon itu, termasuk bunga, rumput dan lainnya. Sementara hewan adalah makhluk hidup seperti manusia hanya terbagi menjadi beberapa jenis, tapi tak memiliki pikiran dan akal sehat."
"Apa? Seperti apa makhluk itu?"
"Cari saja sendiri!" seru Shiho kesal karena penjelasannya dipotong terus. "Kau tahu, sekitar 15 tahun yang lalu, manusia meributkan yang namanya global warming. Bumi memiliki atmosfir yang melindunginya dari sinar ultraviolet yang berasal dari matahari "
"Apa matahari itu? Apa itu makhluk juga?"
Shiho memutar bola matanya kesal sementara Shinichi membela diri, "Hei, aku sudah menanyakannya tapi kau malah menjelaskan pohon!"
"Itu adalah benda ciptaan Tuhan yang menjadi poros di Galaksi Bima Sakti. Kau tahu galaksi kan? Matahari bersinar menyinari benda-benda langit di Galaksi Bima Sakti hingga benda-benda langit itu mengelilinginya untuk mendapatkan sinar. Sinar matahari sangat terang, bahkan dapat membuat kekeringan. Karena itulah bumi memiliki atmosfir, sebagai penyaring cahaya matahari. Di atmosfir itu ada sebuah lapisan bernama ozon yang menipis karena global warming."
"Global warming? Pemanasan Global?"
"Ya. 15 tahun yang lalu, suhu bumi bertambah akibat efek rumah kaca berlebihan."
"Aku tak mengerti! Apalagi efek rumah kaca itu?"
"Baiklaah," Shiho menggeram kesal. "Singkatnya begini, suatu hari ozon benar-benar tipis hingga tinggal menunggu waktu sampai matahari berhasil menembusnya dan mencairkan air di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Kalau es disana mencair, banjirlah seluruh bumi dan menenggelamkan semua pulau.
"Saat itu, muncul 2 ilmuwan yang awalnya dianggap gila mengatakan mereka dapat membuat ozon dan oksigen. Keduanya bilang, ini dapat menjadi solusi seluruh makhluk hidup. Salah seorang ilmuwan itu membuat ozon namun terlalu tebal, hingga sinar matahari yang masuk sangat amat sedikit, hingga saat siang, warna langit kelabu bukan biru. Karena matahari tak bisa masuk, bagaimana tumbuhan penghasil oksigen bisa hidup dan berfotosintesis? Karena itulah ilmuwan yang satu lagi membuat oksigen dan keduanya berhasil. Di tengah-tengah keterpurukan dunia itu, tak ada cara lain selain memakai penemuan keduanya. Keduanya terkenal dan berhasil menyelamatkan seluruh umat manusia di bumi."
Alis Shinichi masih berkerut, namun mulai mengerti kenapa langit berwarna kelabu. "Lalu? Apa hubungannya dengan Jubah Putih dan Hitam yang kau sebut penguasa itu?"
"Kedua ilmuwan itu meninggal dan mewariskan penemuan muthakir mereka pada asisten masing-masing. Para asisten itu pun saling curiga dan iri menyangka warisan yang diturunkan pada mereka ada pada asisten yang lain. Mereka terpecah menjadi 2 kelompok Asisten Ilmuwan yang menciptakan ozon dan Asisten Ilmuwan yang menciptakan oksigen "
"Siapa sih, nama mereka? Ribet sekali kau menjelaskannya!"
"Yang menemukan ozon adalah Profesor Conan Edogawa, sementara yang menemukan oksigen Profesor Ai Haibara," ucap Shiho, merasa aneh saat menyebutkan kedua nama itu. Kepalanya seakan diguyur air dingin setelah kehujanan membuat air dingin itu berubah hangat.
"Ai Haibara? Cewek?" Shinichi terkejut bukan main.
"Hei, emansipasi wanita sudah dari berpuluh tahun yang lalu!" tukas Shiho kesal. "Ya. Keduanya meninggal bersamaan di lab mereka dengan alasan jantung, walaupun aku tak percaya. Ada yang bilang mereka dibunuh atau apalah, aku tak perduli. Semalam sebelumnya, mereka telah mewariskan penemuan mereka itu pada asisten masing-masing dan berkata akan memberikan kuncinya besok pagi namun malamnya, mereka meninggal. Ironis kan? Asisten Prof. Conan menyangka kunci itu ada di tangan Asisten Prof. Ai dan sebaliknya. Paginya, setelah kedua ilmuwan itu meninggal, mereka saling tuduh dan saling curiga bahkan hampir saling bunuh. Kecelakaan pun terjadi. Rupanya, di lab itu, kedua ilmuwan sedang melakukan percobaan sesuatu yang akan mereka umumkan besok pagi, hanya keduanya keburu dijemput ajal."
"Apa yang kedua ilmuwan itu kerjakan?"
"Cairan yang jika manusia meminumnya dapat membuat manusia itu menjadi mutan."
Mata Shinichi melebar. "Seperti di film! Tak mungkin!"
"Tapi itulah kenyataannya. Dan dari berbagai macam tabung reaksi yang ada disana, kedua belah asisten saling bunuh. Bodoh kan? Tabung reaksi itu bertemu satu sama lain dan meledak. Lab itu hancur, sementara para asisten yang masih bertahan menjadi mutan entahlah apa sebutannya. Mereka sangat cepat, daya tahan tubuhnya sangat kuat, ditambah kecerdasan mereka yang meningkat. Sangat sempurna bagi manusia, namun tetap ada kekurangannya. Mereka tak dapat mengontrol emosi, cepat marah, dan sangat suka bertarung "
Shinichi dapat membayangkannya. Melihat kedua wanita itu saling serang. Melihat Gin si rambut perak mendorongnya pelan, namun efeknya yang sangat besar. Sangat beruntung mereka bisa kabur dari sana.
" Dengan cepat mereka menguasai dunia. Dan tinggal kota ini yang belum. Makanya mereka ada disini! Dua-duanya pula! Satu saja sudah mengerikan!" desis Shiho frustasi.
"Kenapa tinggal kota ini yang belum diambil?"
"Entahlah. Mana aku tahu?"
Otak Shinichi tak percaya akan cerita Shiho. Ada sesuatu yang janggal . Entah mengapa, Shinichi yakin ada yang mereka perebutkan.
"Lalu, mereka masih berperang sampai sekarang?"
"Seperti yang kau lihat."
"Kenapa? Apa mereka masih berperang karena memperebutkan penemuan itu? Bukankah sampai sekarang penemuan itu tak diketahui dimana adanya?"
Shiho menatap Shinichi agak bingung. "Entahlah itu yang dikatakan semua orang. Itu rahasia umum, kau tahu? Mungkin itu sudah menjadi budaya. Sudah lebih dari 10 tahun mereka berperang."
End of Flashback.
"Aku tahu, Shiho! Jangan berkata tentang itu lagi!" seru Shinichi kesal.
"Tapi memang benar kan?"
"Ya, tapi lupakanlah! Kita hanyalah tikus bagi mereka! Ini salahku karena terlalu penasaran. Sudah untung kita dapat pergi, jadi lupakan saja! Kita ini tak penting bagi mereka!"
Shiho terdiam. Tangannya yang menggenggam roti bakar terhenti di udara.
"Sana, pergilah kerja."
Shiho menatap Shinichi ragu.
"Aku tak apa, tenang saja. Ini persediaan makanan terakhir kita, lho," Shinichi mengingatkan.
Shiho menghela napas. "Baiklah, besok aku akan mulai kerja lagi."
Shinichi menatap televisi bosan. Tangannya menyetuh udara, mengganti channel televisi. Shiho sudah pergi kerja sekarang. Seminggu bersama Shiho membuatnya terbiasa. Shinichi sendiri baru tahu sisi feminim gadis itu saat ia merawat tubuh Shinichi yang terluka. 3 tahun tinggal bersama tak membuat Shinichi tahu segala hal tentang gadis itu.
Teng-tong.
Shinichi mendelik. Shiho pulang hari gini? Setelah membolos sekian lama, gadis itu mau pulang cepat juga? Benar-benar.
Shinichi bangkit dan berjalan malas-malasan ke pintu. Sambil menguap, ia membuka pintu.
"Shinichi Kudo."
Mata Shinichi melebar begitu tahu siapa di pintu. Bodoh! Shinichi mengutuk dirinya sendiri. Harusnya ia lihat dulu siapa yang ada di balik pintu, bukannya langsung membuka pintu!
"Ya?" Shinichi menjawab ragu. Ia masih mengingat jelas kata-katanya kemarin. "Ya, tapi lupakanlah! Kita hanyalah tikus bagi mereka! Ini salahku karena terlalu penasaran. Sudah untung kita dapat pergi, jadi lupakan saja! Kita ini tak penting bagi mereka!"
Dan ia salah.
Kedua orang bertubuh besar, dengan jubah putih kusam menjuntai sampai lantai kini berdiri di hadapan Shinichi.
"Ikut kami."
ya! I'm back! Saya mengganti chapter ini sedikit, karena baru nanya sama mbah Google soal Efek Rumah Kaca. Semoga hasilnya memuaskan ^^
