"37 Days"
#
#
Rate : T
Genre : Romance, Drama, School
Disclaimer Masashi Kishimoto
Warning! Absurd story, Story from me, Typo, Gaje, Mainstrem, etc
NO BASH!
NO SILENT READERS!
REVIEW PLEASE (^v^)
#
#
#
Summary :
37 hari. Hanya 37 hari yang dimiliki oleh pemuda bermanik sapphire—Namikaze Naruto—dan gadis bermanik emerald—Haruno Sakura—untuk membatalkan pertunangan yang akan terjadi setelah perjodohan yang mereka terima karena suatu alasan bodoh. Dengan perjanjian yang mereka buat bersama, mereka mulai menjalankan berbagai rencana untuk membatalkan pertunangan itu tanpa harus adanya pernyataan secara langsung yang hanya akan merugikan masing-masing pihak. Akankah rencana-rencana mereka berhasil?
#
#
#
CHAPTER 4
#
#
[Hari ke-3] Pukul 23.31
Lampu-lampu telah dimatikan. Gelap pun mulai menyelimuti bersama dengan udara dingin yang menusuk menembus tulang. Namun karena penghangat ruangan yang menyala, udara dingin bahkan tak bisa menyentuh kulit. Semua pun menjadi hangat dan begitu nyaman hingga dapat mengantarkan orang-orang untuk berbaring, menutup mata, dan mulai terhanyut dalam mimpi semu. Tak lupa mereka tarik selimut mencapai leher hanya demi menambah kehangatan dan kenyamanan. Namun rupanya dalam keheningan malam, seorang gadis masih terjaga. Tak seperti ketiga sahabatnya yang telah tertidur pulas.
Manik emerald indah gadis itu tampak menerawang jauh ke langit-langit kamarnya. Dan pikirannya berkelana ke kejadian beberapa waktu yang lalu.
Flashback ON
"Ne, Ino!" panggil Sakura ketika mereka berdua melangkah masuk ke dalam lift.
"Hm, ada apa?" tanya Ino sambil menekan tombol lantai yang akan mereka tuju.
"Apa kau mencintai Naruto?"
"H-ha? Kenapa aku harus mencintai si Baka itu?" tanya Ino tanpa menatap manik emerald Sakura. Sedangkan manik emerald itu tak pernah melepaskan pandangan dari sosok gadis cantik berambut pirang ponytail itu.
"Kau sudah lama bersama dengannya jadi tak menutup kemungkinan kalau kau jatuh cinta padanya"
"K-kami hanya teman sejak kecil dan saudara sepupu" Ino terus mengelak.
"Kau tak bisa berbohong padaku, Ino. Tatapanmu padanya berbeda dengan tatapanmu pada laki-laki lain atau siapapun. Cara kau berbicara dan bersikap padanya juga menunjukkan dengan jelas perasaanmu terhadapnya" jelas Sakura.
Ino tetap tak ingin memandang Sakura. "I-itu ti-tidaklah benar"
"Kalau begitu tatap mataku dan katakan padaku sekali lagi"
Dengan susah payah, Ino berusaha menatap manik emerald Sakura yang memancarkan keseriusan dan ketegasan itu. Namun semakin ia tenggelam dalam tatapan itu, ia jadi kesulitan berkata-kata. Seolah-olah perkataannya tersangkut di tenggorakan dan tak bisa dikeluarkan.
Melihat Ino kesulitan, Sakura tersenyum lembut dan menghangatkan tatapannya sambil memiringkan kepalanya. "Kenapa kau tak jujur saja?"
Ino yang tak lagi mendapat tatapan menakutkan dari Sakura pun merasa tekanannya berkurang. Ia hembuskan nafas lelah dan menutup matanya sejenak. Kemudian ia buka perlahan kelopak matanya. Menunjukkan manik aquamarine yang menatap Sakura malu-malu. Bahkan semburat merah tipis tampak menghias pipi putih Ino. "I-itu terlalu m-memalukan tahu" gumamnya pelan namun tetap terdengar oleh Sakura.
"Kau malu pada sahabatmu sendiri?" tanya Sakura.
"Bukan begitu. Maksudku, cukup memalukan bagiku mencintai teman sekaligus saudara sepupu" jelas Ino.
Mendengarnya Sakura menghembuskan nafas lelah seperti Ino sebelumnya. "Apanya yang memalukan? Mencintai seseorang itu merupakan hal yang indah"
"Ya, kau benar"
"Lalu, apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Naruto?" tanya Sakura dan dijawab gelengan kepala oleh Ino.
"Jika kau menunggu sampai Naruto peka, maka kau harus menunggu seumur hidupmu kau tahu?"
"Aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terlalu takut jika ternyata ia hanya menganggapku sebagai teman sekaligus saudara sepupunya. Dan rasanya aneh bila aku mengutarakan perasaanku pada orang yang telah lama bersamaku sebagai teman dan keluarga. Pasti nanti jadi canggung, kan?" Ino memainkan jari-jarinya dengan muka memerah. Kini ia tampak mirip sekali dengan Hinata. Oh, dimana sosok Ino yang selalu percaya diri itu?
"Selalu alasan yang sama. Teman dan saudara sepupu. Memang kenapa jika kalian adalah teman sejak lama sekaligus saudara sepupu? Cinta datang tak memandang siapa dia atau apa statusnya. Jadi kau tak perlu mempermasalahkannya. Walau kalian teman sejak lama dan juga saudara sepupu, cinta bisa tumbuh di antara kalian dan kalian pun bisa bersama. Tak ada yang melarang dan tak ada aturan yang mengatakan kalian tak bisa bersama" nasihat Sakura panjang lebar.
"Lagipula, setahuku Ino yang kukenal adalah gadis yang dapat dengan mudah menolak pernyataan cinta para pemuda di luar sana dan dia sangat percaya diri dengan penampilannya. Lalu kenapa sekarang dia takut menyatakan cinta karena alasan sepele? sungguh memalukan" sebuah seringai meremehkan terlukis jelas di wajah cantik Sakura. Membuat sebuah perempatan muncul di dahi Ino.
"Ck! Baiklah. Sudah kuputuskan. Aku akan menyatakan perasaanku pada Naruto. Tapi tentunya menunggu waktu yang tepat. Selain itu,.." Ino menatap Sakura dengan semangat berkobar di manik aquamarinenya. Kemudian ia meletakan tangannya di kedua pundak Sakura.
"Kau harus membantuku, Sakura" lanjutnya membuat Sakura terkejut. Namun kemudian ia tersenyum lembut.
"Serahkan saja padaku!"
Flashback OFF
Sakura merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dan membenamkan mukanya ke bantal sebentar. Lalu ia miringkan kepalanya dan menatap ke pintu kaca menuju beranda yang tertutup oleh korden berwarna biru pastel dan bermotif bunga sakura. "Serahkan saja padaku... Kenapa aku bisa mengatakan hal itu?" gumam Sakura entah pada siapa. Ia hanya ingin berbicara karena berbagai hal memenuhi pemikirannya. Ino mencintai Naruto. Tapi Sakura dan Naruto malah akan bertunangan kurang lebih satu bulan lagi. Ia harus apa?
"Padahal kenyataannya aku tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Ino telah menaruh kepercayaan besar padaku" ia kembali bergumam.
Kemudian ia membenamkam wajahnya ke bantal lagi dan bertanya pada diri sendiri. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
Sebersit pemikiran untuk pergi keluar dan menenangkan diri terlintas di otak Sakura. Ia pun beranjak dari posisi tidur tengkurapnya, mengambil jaket, dan memakainya. Lalu ia langkahkan kaki jenjangnya menuju pintu beranda. Ia buka kordennya perlahan—memperlihat pemandangan beranda di malam hari. Setelah itu ia geser pintu kaca itu dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara keras yang dapat membangunkan ketiga sahabatnya yang telah tenggelam dalam mimpi mereka.
Angin malam pun masuk dengan paksa ke dalam ruangan. Menyapa tubuh Sakura lembut namun dapat membuat bulu kuduknya berdiri karena rasa dingin yang menyengat kulit bagai listrik. Tampak Tenten sedikit terusik dengan angin itu hingga ia merubah posisi tubuhnya yang tadinya terlentang menjadi miring. Melihat hal itu membuat Sakura segera keluar ke beranda dan kembali menutup pintu kaca tersebut. Dengan begitu tak ada lagi angin yang akan mengganggu tidur ketiga sahabatnya.
Dan setelah keluar, Sakura pun menyadari betapa hangat kamarnya bila dibandingkan di luar sini. Ia bahkan sampai harus merapatkan jaketnya agar sedikit hangat. Namun ketika melihat indahnya pemandangan malam dari beranda ini, ia lupa dengan rasa dinginnya dan berjalan mendekat ke pagar beranda. Lalu ia lipat tangannya di atas pagar itu guna menumpu tubuhnya yang ingin melihat lebih jelas kerlap-kerlip lampu jalan, rumah, serta bangunan yang membuat dirinya terpesona untuk beberapa saat sebelum ia lebih dibuat terpesona oleh taburan bintang yang jarang sekali ia lihat di kota Tokyo.
"Kirei..." gumamnya bersamaan dengan hembusan angin yang datang dan bermain nakal dengan rambut merah muda panjangnya.
DRRTT!
"!" sebuah getaran ia rasakan di dalam saku jaketnya. Ia pun segera mengambil benda yang menjadi penyebab getaran itu. Rupanya handphonenya lah yang bergetar. Ia lupa mengeluarkan handphone dari jaketnya.
Tanpa melihat nama penelfon, ia angkat telfon itu dan meletakan handphonenya tepat di telinga kanannya. Sedangkan pandangannya tetap tertuju pada bintang-bintang di atas sana.
"Moshi-moshi" ucap Sakura mengawali percakapan antara dirinya dan penelfon.
"Anda akan mendapat kesialan beberapa saat lagi" balas penelfon dengan suara yang dibuat begitu berat untuk menambah kesan misterius dan menakutkan pada ucapannya.
Sedangkan Sakura malah menunjukkan ekspresi datar ketika mendengar hal itu. "Kau tak bisa menakutiku dengan tipuan seperti itu, Baka-Naruto"
"Ck! Seharusnya aku memakai rekaman film horror dan jangan menggunakan nomor ini" runtuk orang di seberang sana yang ternyata adalah Naruto.
"Jangan lakukan hal-hal yang bodoh, deh" nasihat Sakura yang tak didengar oleh Naruto. Bahkan pemuda itu malah mengganti topik.
"Malam-malam begini keluar beranda hanya untuk melihat bintang-bintang"
Muka Sakura pun memerah. "T-tak ada salahnya, kan? Di Tokyo aku tak bisa melihat hal seperti ini. Lagipula kenapa kau bisa tahu aku sedang melihat bintang di beranda?"
"Pasti kau tak bisa tidur" lagi-lagi Naruto tak mendengarkan apa yang Sakura katakan.
"Kau sendiri juga pasti tak bisa tidur. Tapi sungguh. Bagaimana kau bisa tahu aku dimana dan sedang apa?"
"Ah, ini karena aku meminum kopi sebelum tidur hingga aku sulit tidur"
"Itu salahmu sendiri. Dan hei! Sejak tadi kau tak menjawab pertanyaanku dan terus mengacuhkannya" omel Sakura.
"Ha-ah, kau berisik sekali" keluh Naruto yang membuat perempatan muncul di dahi indah—lebar—Sakura.
"Itu karena kau tak kunjung menjawab pertanyaanku dan terus menga—.."
"Arah jam 3" potong Naruto cepat. Membuat Sakura bingung.
"Ha?"
"Ck! Cepat lihat saja ke arah jam 3" perintah Naruto dan Sakura pun mau tak mau menurutinya. Dia memutar tubuhnya seperti perintah Naruto tanpa banyak bicara.
"Kupikir kau ini gadis pintar. Tapi bahkan kau tak tahu dimana arah jam 3 atau jarum jammu bergerak berlawanan dengan jarum jam lain?" ejek Naruto.
Sakura yang mendengarnya pun merasa malu sendiri. Ia telah berputar ke arah yang salah. Harusnya ia berputar ke kanan, bukan kiri. Sungguh kesalahan yang sangat memalukan. Terlebih Naruto mengetahuinya. Oh, rasanya ia ingin terjun saja dari beranda!
"Jangan berpikir untuk terjun, ok? itu merepotkanku" ucap Naruto seakan dapat membaca pikirannya.
"Apa kau esper?!" seru Sakura sambil membenarkan posisi tubuhnya. Dan manik emeraldnya yang jernih itu menangkap sosok Naruto di beranda yang berjarak beberapa kamar dari sini. Pemuda itu sedang menghadap dirinya dan menumpukan tubuhnya pada kedua tangannya yang dilipat di atas pagar beranda. Sedangkan helaian rambut pirangnya bergerak seirama angin. Sekarang pertanyaan Sakura sejak tadi telah terjawab secara tidak langsung.
"Pemikiranmu yang terlalu mudah dibaca" balas Naruto.
"Kalau begitu coba katakan padaku apa yang sedang aku pikirkan?"
"Pasti hal bodoh"
"Bukankah itu kau?"
"Ck!" Naruto berdecak pelan sebelum kembali membuka mulutnya untuk membalas perkataan Sakura. Namun panggilan Sakura menghentikan niatnya.
"Ne, Naruto!"
"Hn?"
"Apa yang akan kau lakukan ketika sahabatmu percaya padamu untuk melakukan sesuatu tapi kau sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan?" tanya Sakura dengan nada serius.
Namun hal itu malah membuat Naruto bingung. "Hah? Kenapa tiba-tiba?"
"Sudah jawab saja"
"Baka. Tentu saja tanpa berpikir terlalu lama aku akan melakukan apapun yang aku bisa walau yang kubisa lakukan hanyalah hal kecil. Karena dia sahabatku dan percaya padaku. Selain itu, berpikir terlalu lama hanya akan memunculkan banyak keraguan, kebingungan, dan pertanyaan yang dapat menghambatku dalam memenuhi permintaanya" jawab Naruto tanpa keraguan sedikitpun dan tanpa ia sadari, ia telah berhasil membuat kegelisahan Sakura musnah begitu saja. Sakura sadar, seharusnya ia tak perlu berpikir terlalu lama. Itu tak baik. Yang harus dia lakukan adalah melakukan apa yang bisa ia lakukan.
Sakura pun tampak tersenyum lembut dan menutup matanya. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah dan menari bersama rambut merah muda panjangnya. "Harusnya aku tahu pemikiranmu begitu sederhana"
"Ck! Memang kenapa jika pemikiranku sederhana? Apa itu salah?"
Sakura membuka matanya dan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Aku hanya menyukai caramu berpikir itu"
Dan karena kata-kata Sakura, semburat merah tipis menghias pipi tan Naruto. Beruntung jarak antara dirinya dan Sakura cukup jauh sehingga ia tak perlu khawatir Sakura akan melihatnya. Ia pun dengan mudah berubah menjadi tenang kembali. "Apa kamu menjadi aneh setiap malam? Ah, tidak. Kamu memang sudah aneh sejak dulu"
"Bukankah lebih bagus kau melihat dirimu sendiri sebelum mengomentari orang lain?" tanya Sakura tanpa kehilangan senyumannya dan percakapan antara dirinya dan Naruto pun terus mengalir begitu saja seperti biasa. Pertengkaran atau perdebatan kecil, saling ejek-mengejek, ataupun topik bodoh selalu saja mendominasi percakapan mereka. Namun entah kenapa ia selalu menikmatinya. Dan baginya, ini terasa menyenangkan.
..o..
..o0..
..o0o..
..o0o..o0o..[37 Days]..o0o..o0o..
[Hari ke-5]
"Hah~" Sakura menghela nafas lelah entah sudah keberapa kalinya dalam hari ini. Membuat sahabat pirangnya—Ino—menatap bosan dirinya dan berkomentar.
"Sudah berapa kali kau menghela nafas seperti itu dalam sehari ini? Apa kau sedang lelah?"
Sakura membalas tatapan Ino dengan tatapan lelah. Ya, ia memang tengah lelah. Namun ia lelah tak hanya fisik. Melainkan juga mental. Karena sejak kemarin ia telah berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam usahanya membantu Ino. Walau begitu semua usahanya itu gagal sebelum sempat terlaksana.
Semua ini karena Naruto yang selalu bersama sahabat-sahabatnya kemana-kemana dan membuat Sakura kesulitan dalam menjalankan rencana-rencananya. Naruto terlihat menikmati setiap waktunya. Padahal sebelumnya ia bilang tak tertarik. Pemuda pirang itu benar-benar telah berhasil membuat Sakura lelah tanpa membuahkan hasil apapun.
Namun Sakura tak kehabisan ide. Kalau dia kemarin tak bisa menjalankan rencananya, mungkin saja hari ini bisa. Terlebih, hari ini adalah hari bebas, yaitu satu hari dari empat hari darmawisata dimana kita dapat bebas melakukan apapun dan berkunjung kemanapun. Dimulai pagi hari dan akan berakhir ketika petang menjelang. Hari yang sangat dinanti-nantikan oleh para siswa maupun siswi untuk menghabiskan waktu mereka ke tempat yang mereka inginkan dan bersama orang yang membuat mereka nyaman. Oleh karena itu, Sakura sudah menyiapkan banyak rencana untuk hari ini. Ia yakin kalau hari ini mungkin salah satu dari rencananya bisa membuahkan hasil walau hanya sedikit.
"Are? Ino? Hinata? Tenten? Kalian dimana?" tanpa sadar, Sakura telah kehilangan jejak sahabat-sahabatnya yang ikut pergi ke daerah pertokoan ini bersama dengannya. Semua ini pasti karena ia terlalu terhanyut dalam pemikirannya sendiri.
Emerald Sakura pun melirik ke sana ke mari. Memandang semua yang dapat ia pandang di antara hiruk-pikuknya daerah ini oleh para pekerja kantoran, siswa sekolah, ibu rumah tangga, lansia, maupun para remaja yang sedang menganggur atau sibuk bekerja part-time di tempat ini. Walau Sakura telah menyusuri daerah di sekitarnya, namun emeraldnya tetap tak menemukan keberadaan sahabat-sahabatnya. Ini memanglah cukup sulit dan tidak berbeda jauh dari kata-kata 'bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami'. Padatnya daerah ini membuat Sakura kesulitan bergerak maupun menyusuri setiap tempat dengan lebih detail.
"Sakura!" panggil seseorang dari kejauhan. Sakura pun menengokkan kepalanya dan manik emeraldnya pun menangkap sosok sahabat-sahabatnya yang telah berada di sebrang sana. Mereka pun melambai-lambaikan tangannya dan berseru "Kochi! kochi!".
Sebuah senyum kelegaan terlukis di wajah Sakura. Kemudian dia bergegas menuju ke tempat sahabat-sahabatnya berada. Namun sayangnya, padatnya daerah ini membuat dirinya tak berdaya untuk menghampiri sahabat-sahabatnya itu.
"Aku akan mencari jalan pintas!" seru Sakura cukup keras agar ketiga sahabatnya itu dapat mendengarnya dengan jelas.
"Kami tunggu di cafe yang telah kita rencanakan kemarin!" balas Ino.
Sakura pun mengangguk dan memberi lambang 'OK' menggunakan jarinya. Kemudian ia pergi melepaskan diri dari kerumunan orang yang tiada habisnya itu. Perasaan lelah kembali menghampiri dirinya. Sedangkan kepercayaan dirinya tentang rencananya menyatukan Ino dan Naruto kini telah terbang menjauh dari dirinya.
Namun kemudian ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk kedua pipinya kemudian berseru pada dirinya sendiri, "Ganbatte, Sakura!".
Setelah memberi semangat pada dirinya sendiri, Sakura berjalan menuju sebuah gang yang terlihat sepi itu. Dengan harapan kalau gang ini dapat menuntunnya untuk pergi dengan cepat ke tempat sahabatnya menunggu, Sakura pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang tersebut. Sakura merasa cukup lega sekaligus senang ketika melihat aplikasi peta di androidnya. Karena menurut peta tersebut, Sakura berada di jalan yang benar. Gang ini akan menuntunnya ke tempat sahabat-sahabatnya dengan cepat. Ia juga senang karena gang ini tidak ramai seperti daerah pertokoan tadi.
"Hai, Nona! Kau sendirian?"
Sakura terkejut ketika mendengar sebuah suara dari belakangnya. Ia pun hendak menolehkan kepalamya ke belakang, tapi karena orang yang berbicara padanya kini telah berada di sampingnya—sejajar—maka Sakura tak jadi melakukannya.
"Tidak. Sahabatku sedang menungguku" jawab Sakura jujur dan ketus. Ia tak bisa ramah pada seorang pemuda asing yang tiba-tiba saja menyapa dan bertanya akrab.
Tawa pemuda itu terdengar jelas oleh Sakura yang berada tepat di sampingnya. "Baiklah... Tapi bukankah sahabatmu itu tidak di sini? Itu berarti kau sedang sendirian"
Sakura menatap tajam pemuda berambut hitam kemerahan itu melalui ujung matanya dan bertanya guna mengalihkan topik pembicaraan, "Kau sendiri sedang apa di sini?".
"Menghindari keramaian. Selain itu..." pemuda itu menggantungkan kalimatnya. Membuat Sakura penasaran dan menatap pemuda itu sepenuhnya—tidak hanya melalui ujung matanya.
"...Kami tertarik padamu" lanjut pemuda itu sambil berjalan mendahului Sakura kemudian berbalik menghadap gadis berambut merah muda itu.
Langkah kaki jenjang Sakura pun terhenti dan manik emeraldnya menatap bingung para pemuda yang tiba-tiba datang dan mengepungnya. "Eh?"
Kami-sama, tolong aku!
..o..
..o0..
..o0o..
..o0o..o0o..[37 Days]..o0o..o0o..
Segerombolan pemuda tampan dengan tampilan urakan terlihat tengah berjalan bersama menyusuri jalan setapak. Mereka saling bercanda dan membicarakan hal seru. Memang seperti itulah yang biasa para pemuda lakukan ketika bersama teman atau kelompok mereka. Namun sepertinya pemuda berambut hitam panjang yang diikat seperti nanas itu nampak tak tertarik dengan topik yang sedang teman-temannya bicarakan. Berkali-kali ia menguap sambil berkata "Merepotkan".
Hingga membuat temannya yang memiliki tato segitiga merah terbalik di setiap pipinya itu merasa lelah mendengarnya. Ia rangkul pundak pemuda nanas itu, "Hei, Shikamaru! Kau ini sejak tadi hanya diam saja, menguap, dan berkata 'merepotkan'. Beri ide pada kami, dong"
Pemuda bernama Shikamaru itu dengan perlahan melepaskan rangkulan temannya dan merapikan seragamnya. "Kenapa kau tak tanya pada Naruto saja, Kiba? Sejak tadi dia juga hanya berkomentar tanpa memberi ide"
"Ah, benar juga. Hei, Naruto! Beri ide kita harus kemana" ujar pemuda bernama Kiba itu pada Naruto yang tentu saja terkejut karena tiba-tiba saja ia ikut terseret.
"Hmmm, bagaimana jika kita mencari kedai ramen saja? Aku sudah lapar" usul Naruto setelah berpikir sejenak.
"Setuju!" seru seluruh temannya kompak.
"Kalau begitu akan kucari kedai ramen yang dekat sini" tutur pemuda tampan berambut raven sambil mengeluarkan androidnya dan mulai membuka aplikasi maps.
"Seperti yang diharapkan dari si Bungsu Uchiha" komentar pemuda berambut bob dengan mata lebar dan bulu mata lentik.
"Ck. Diamlah Lee" omel pemuda raven yang dikenal sebagai Uchiha Sasuke. Dia juga adalah kekasih Hyuuga Hinata—salah satu sahabat Sakura.
Sedangkan pemuda yang dipanggil Lee itu tampak menatap heran Sasuke dan berkata yang mengundang gelak tawa teman-temannya. "Aku tak mengerti pemikiran para gadis yang menyukai pria dingin ini. Termasuk Hinata-san"
"Jangan begitu, Lee. Kau bisa habis nanti" komentar Naruto disertai tawanya yang tak kunjung berhenti. Hingga manik sapphirenya menangkap sosok yang tak asing bagi dirinya berada cukup jauh di seberang sana. Tawanya pun dengan terpaksa berhenti. Sedangkan pandangannya tak lepas dari sosok itu. Sosok seorang gadis berambut merah muda panjang yang sedang berjalan memasuki sebuah gang yang sepi. Itu adalah Sakura!
"Apa yang akan ia lakukan disan—!" kalimatnya terputus begitu manik sapphirenya menangkap beberapa pemuda mencurigakan berjalan tak jauh dari Sakura. Bahkan mereka masuk ke dalam gang yang sama dengan Sakura.
"Apa kau mengat—!" belum selesai Kiba bertanya, Naruto tiba-tiba saja berlari dan membuat dirinya serta teman-temannya terkejut.
"Hei, Naruto! Kau mau kemana?!" teriak Lee pada Naruto yang semakin menjauh.
Tanpa mengurangi kecepatannya, Naruto menjawabnya, "Aku ada urusan sebentar. Kalian pergi duluan saja. Nanti aku menyusul".
Teman-temannya pun hanya bisa menatap bingung kepergiannya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan mereka tanpa dirinya. Sedangkan Naruto tetap terus berlari menuju gang yang dimasuki oleh Sakura dan beberapa pemuda mencurigakan tadi. Entah kenapa firasatnya buruk.
..o..
..o0..
..o0o..
..o0o..o0o..[37 Days]..o0o..o0o..
"Nona, apa kau dari Tokyo?" tanya pemuda berambut hitam dengan telinga yang ditindik.
Sakura menatap sangat tajam pemuda itu. "Tak penting darimana aku berasal. Aku hanya ingin kalian menyingkir dari jalanku"
"Wo, gadis ini bagai kucing liar!" komentar seorang pemuda berambut coklat yang membuat perempatan muncul di dahi indah—lebar—Sakura.
"Nona, kau tak boleh berbicara kasar seperti itu" nasihat pemuda berambut hitam kemerahan yang tadi menyapanya.
"Kalau begitu menyingkirlah" ucap Sakura sambil melangkahkan kaki jenjangnya dengan santai—menerobos dengan paksa.
Namun tentunya para pemuda hina itu tak akan dengan mudahnya membiarkan mangsa mereka kabur begitu saja. "Jangan begitu, dong, Nona" ujar pemuda berambut coklat.
"Ayolah, temani kami jalan-jalan sebentar" ajak pemuda berambut hitam dengan telinga yang ditindik sambil berusaha meraih tubuh Sakura.
Dengan cepat Sakura menggeser tubuhnya agar pemuda itu tak dapat meraihnya. Tatapan tajam bagai induk singa betina yang kehilangan anaknya terpancar dengan jelas dari manik emeraldnya yang indah. Sedangkan kedua tangannya kini telah memegang erat gagang payung lipat yang selalu ia bawa di dalam tasnya. "Jika kalian berani menyentuhku, aku tidak akan menahan diri untuk memukul kalian dengan ini"
"Hoho, silahkan saja jika kau memiliki keberanian untuk melakukannya" tantang pemuda berambut hitam kemerahan—meremehkan Sakura.
Tentu saja apa yang ia lakukan merupakan kesalahan besar. Meremehkan Sakura dan bahkan menantangnya. Hal itu bagai menyulut api kemarahan dalam diri Sakura. Tanpa ragu, dia pun mengayunkan dengan kuat payung yang sebelumnya gagangnya telah diperpanjang itu ke arah pemuda yang menantangnya.
Pemuda itu berhasil mengelak dan menyeringai penuh kemenangan. Namun seringai itu menghilang ketika organ vitalnya berhasil Sakura tendang dengan keras menggunakan lututnya. Ekspresi penuh kesakitan dan keringat dingin pun mengganti seringai kemenangan.
Sebaliknya, kini Sakura lah yang menyeringai penuh kemenangan. Ternyata sejak awal ia memang hanya berniat menjadikan pukulan dengan payung itu sebagai sebuah pengecoh pertahanan lawan. Sakura sadar jika hanya dengan payung saja tak mungkin bisa melumpuhkan para pemuda ini dengan mudah. Beruntung, selain payung, ia juga membawa semprotan merica yang bisa ia gunakan agar dapat melarikan diri dari mereka. Ia berterimakasih pada ibunya yang menyuruhnya membawa benda itu untuk keselamatan.
"Hei! Apa yang kau lakukan!?" bentak pemuda berambut hitam dengan telinga yang ditindik.
"Hanya mempertahankan diri" jawab Sakura dengan tenang sambil diam-diam memasukkan salah satu tangannya ke dalam tas untuk mengambil semprotan merica yang ia bawa. Sedangkan tangannya yang lain tetap memegang erat gagang payungnya dan tatapannya tak melembut sedikit pun.
Pemuda berambut coklat yang menyadari apa yang sedang Sakura lakukan pun segera menggerakkan kepalanya—memberi kode pada seseorang. Dan tiba-tiba saja masing-masing tangan Sakura ditahan oleh seseorang. Membuat Sakura tersentak—terkejut. "Hei!"
KLANK! KLANK!
Sebuah botol berisi air merica dan sebuah payung pun terjatuh dari tangan Sakura dan membentur jalan, menimbulkan suara yang keras dalam gang ini. Botol berisi air merica itu menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki pemuda berambut coklat. Sedangkan Sakura menggigit bibirnya untuk menyalurkan rasa takutnya. Ia juga merutuki kebodohannya karena melupakan dua orang yang sejak tadi berada di belakangnya. Ia terlalu fokus pada ketiga orang yang berada di depannya dan berbicara padanya. Mungkin ini adalah rencana mereka sejak awal dan ini membuat Sakura merasa sangat kesal.
"Kau benar-benar kucing liar" komentar pemuda berambut coklat itu sambil memainkan botol berisi air merica itu dengan kakinya.
Temannya yang berambut hitam dengan tindik di telinganya itu tertawa dan menepuk pundaknya. "Jinakan kucing liar itu. Kau ahlinya, bukan?"
"Jangan mengatakan hal-hal yang membuatku terlihat seperti pengendali binatang" jawabnya sambil melangkahkan kakinya pada Sakura yang kedua tangannya telah terkunci kuat. Sedangkan Sakura sendiri terus memberontak dan menatap tajam pemuda berambut coklat yang tengah berjalan ke arahnya itu. Namun ketika pemuda itu semakin dekat dengannya, ia kehilangan tatapan tajamnya dan tubuhnya bergetar hebat. Dalam hatinya ia hanya dapat menyebut satu nama.
Naruto!
BUGH!
"Kalian tahu?"
BUGH!
"Bahkan..."
BUGH!
"...pengendali binatang..."
BUGH!
"...tidak akan bisa..."
BUGH!
"...menaklukannya!"
Sakura kini telah terduduk di jalan karena kakinya yang bergetar, tak dapat menahan berat tubuhnya dan kedua laki-laki yang tadi mengunci kedua tangannya—yang membantunya tetap berdiri—kini telah tumbang dengan luka dan memar di sekujur tubuh mereka. Manik emeraldnya menatap kagum sosok pemuda yang berdiri tegap di depannya. Pemuda itu begitu tinggi jika ia lihat dari bawah seperti ini. Punggungnya tampak lebar dan kokoh. Jaket dan rambut pirangnya menari pelan bersama hembusan angin yang membawa harum tubuhnya. Sakura mengenal betul sosok itu. Dia adalah...
"Siapa kamu?!" seru pemuda berambut hitam dengan telinga yang ditindik.
"Aku?" pemuda berambut pirang itu berjalan melewati pemuda berambut coklat lalu membungkuk dan mengambil botol berisi air merica yang tadi sempat dimainkan oleh pemuda berambut coklat. Setelah itu ia lempar botol itu ke Sakura dan ditangkap dengan mudah oleh gadis berambut merah muda panjang itu.
"Aku adalah calon tunangan gadis yang kalian ganggu!" lanjut pemuda berambut pirang sambil membalikkan badannya hingga Sakura dapat melihat wajahnya dengan jelas.
...calon tunangan Sakura. Ya, memang begitu. Tapi lebih tepatnya, pemuda berambut pirang itu adalah Namikaze Naruto. Seorang berandalan juga playboy. Suka berbuat onar tapi beberapa hari ini ia tak berulah apapun bahkan membolos pelajaran seperti biasanya pun tidak ia lakukan. Pemuda yang dicintai oleh sahabat Sakura, Ino. Dan lebih buruknya lagi, pemuda ini kini bagai pahlawan bagi Sakura. Tapi rasanya Sakura sangat tidak ingin mengakui hal itu. Walau hatinya sempat mengucapkan nama Naruto untuk menolongnya.
"Cih! Ternyata gadis itu punya calon tunangan" keluh pemuda berambut coklat.
Naruto pun melangkahkan kakinya maju menuju ke tempat Sakura berada kemudian berbalik menatap dua orang pemuda yang masih dapat berdiri di depannya. "Yap! Jadi kalian jangan macam-macam padanya. Bahkan jika sekarang kalian ketakutan, kalian boleh saja pergi. Tapi cepat, sebelum aku berubah pikiran" sebuah seringai meremehkan terlukis jelas di wajah tampan Naruto.
"Ck!" pemuda berambut coklat berdecak kesal kemudian dengan cepat ia mengambil payung Sakura yang tadi terjatuh dan segera berlari ke arah Naruto. "Mana mungkin, kan!?"
Seringai di wajah Naruto semakin lebar dan dia pun meladeni apa kemauan pemuda berambut coklat itu. "Kau yang memaksaku untuk tidak bersikap baik. Yah, aku memang tak menyukainya, sih" tuturnya sambil menahan payung yang digunakan pemuda coklat itu sebagai senjata untuk melawannya.
Ia tarik payung itu sehingga pemuda berambut coklat itu ikut tertarik ke arahnya dan ia tendang perut pemuda itu dengan salah satu lutut kakinya.
BUGH!
"Arghh..." sebuah erangan kesakitan keluar dari mulut penuh darah pemuda berambut coklat.
Setelah itu, kaki yang sama ia angkat tinggi-tinggi kemudian ia jatuhkan tepat di atas punggung pemuda itu dengan keras.
BUGH!
"Akh!"
Dan dengan menggunakan lutut kakinya yang lain, ia langsung menyerang pipi pemuda berambut hitam yang berada tepat di samping pemuda berambut coklat yang kini telah jatuh tersungkur.
BUGH!
"Uhh.."
Pemuda berambut hitam itu menahan pipinya yang berdenyut sakit dengan salah satu telapak tangannya. Sedangkan telapak tangan yang lain tampak mencoba mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Itu adalah pisau lipat!
"Memakai senjata tajam, he?" tanya Naruto tanpa rasa takut terlihat di wajahnya. Bahkan seringai yang menghias wajah tampannya semakin lebar saja.
"Aku tak peduli!" seru pemuda itu dengan keringat dingin mengucur deras dari seluruh tububnya dan ekspresi ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya.
Pemuda itu berlari menerjang Naruto dengan pisau yang berkilat tajam digenggam kuat oleh kedua tangannya dan di arahkan tepat ke perut Naruto. Sedangkan Naruto memasang posisi kuda-kuda dengan tubuh yang ia rendahkan. Kemudian ketika pemuda berambut hitam itu telah berada dalam wilayah jangkauannya, ia mengelak dari pisau lipat yang pemuda itu bawa dan dengan salah satu sikutnya, ia menyikut dada pemuda itu dengan keras.
ZRASSHH! BUGH!
Erangan pun terdengar dari pemuda berambut hitam itu, "Akkkhhh.."
Dan tanpa Naruto sadari, rupanya pisau lipat itu menggores salah satu pipinya hingga membentuk satu garis lurus tipis dengan darah segar yang keluar melaluinya. Rasa sakit itu mulai terasa. Namun Naruto hanya berdesis pelan. "Sshhh..."
Pemuda berambut hitam dengan telinga yang ditindik itu sepertinya masih belum menyerah. Terlebih ia melihat luka yang ia buat pada pipi Naruto. Ia menjadi percaya diri bahwa ia bisa menang dari Naruto. Sehingga ia kembali bangkit dan menerjang Naruto. Dengan cepat Naruto pun meraih tangan pemuda itu dan membantingnya.
BRAKK!
Dan sepertinya Narutolah yang menang.
BUGH!
Tiba-tiba saja seseorang melayangkan tinju ke arah pipi Naruto yang tak tergores. Ketika Naruto hendak melihat siapa gerangan orang yang melakukan hal itu, sebuah tinju lainnya datang ke pipi yang sama.
BUGH!
Tinju ketiga pun hendak orang itu layangkan pada pipi Naruto lagi. Namun sebelum tinju itu sempat mendarat di pipi Naruto yang telah lebam itu, Naruto lebih dulu menahannya dengan menggegamnya kuat menggunakan telapak tangan dan kelima jarinya. Kemudian ia tatap dengan tatapan tajam orang yang berani melayangkan tinju padanya itu. Ternyata orang itu adalah pemuda berambut hitam kemerahan yang sebelumnya tersungkur di jalan sambil kesakitan karena organ vitalnya ditendang keras oleh Sakura.
"Owh, pasti tadi sangat sakit, ya" ujar Naruto dengan nada mengejek dan tanpa menghilangkan seringai di wajahnya.
"Urusai!" seru pemuda itu kesal sambil mencoba kembali melayangkan tinju pada Naruto dengan tangannya yang bebas. Namun lagi-lagi Naruto berhasil menahannya dengan cara yang sama menggunakan tangannya yang lain.
Ia tarik kedua tangan pemuda itu hingga tubuhnya ikut mendekat kemudian ia tendang perut pemuda itu dengan lututnya sebanyak dua kali.
BUGH! BUGH!
"Arrkkhh.."
"Itu untuk dua pukulanmu pada pipiku"
BUGH!! BRAKK!
Naruto menendang keras perut pemuda itu sambil melepaskan genggamannya pada kedua tangan pemuda itu hingga pemuda itu terlempar cukup jauh dan punggungnya menabrak dengan keras salah satu dinding yang mengapit gang.
"Dan yang itu untuk perlakuanmu pada Sakura" ujar Naruto sambil berjalan ke tempat pemuda itu terlempar.
Naruto cengkram kerah baju pemuda itu dan berkata tepat di depan wajahnya. "Cukup ini saja untukmu karena sisa hukumanmu sudah Sakura berikan padamu. Tapi jika kau berani melakukan hal semacam ini lagi padanya atau pada gadis lain dan aku mengetahuinya, akan aku buru kau"
"Saat itu tiba, siapkan peti mati untuk dirimu sendiri" lanjut Naruto sambil merapikan tubuhnya setelah lebih dulu melepaskan cengkramannya pada pemuda itu dan berdiri.
Kemudian ia langkahkan kakinya menuju ke tempat Sakura berada. "Tanamkan dalam pikiranmu!"
Sedangkan Sakura sendiri sejak tadi hanya diam melihat Naruto memberi 'pelajaran' pada para berandalan tak tahu diri yang berani mengganggunya. Yah, lebih tepatnya ia tak bisa melakukan apapun karena seluruh tubuhnya terasa kaku. Ini pertama kalinya ia diganggu oleh pemuda semacam mereka. Ini pertama kalinya ia merasa begitu takut. Ini pertama kalinya ia melihat Naruto berkelahi. Dan ini pertama kalinya ia melihat Naruto sangat marah.
"Sampai kapan kau mau duduk di sana sambil menangis, Cengeng?" tanya Naruto dengan nada mengejek yang langsung menyadarkan Sakura dari segala pikirannya. Ia pun hendak protes. Namun tiba-tiba saja sebuah uluran tangan Naruto berikan padanya.
"Ayo, aku bantu berdiri"
Dengan sangat terpaksa dan muka masam, Sakura menerima uluran tangan itu. "Aku tidak cengeng dan aku tidak menangis" elaknya.
"Lalu bisa jelaskan padaku air mata yang ada di wajahmu?"
"I-ini bukan air mata. I-ini ha-hanya keringat" jawab Sakura terus mengelak. Bahkan ia menghapus air mata di wajahnya itu dengan jari-jari lentik dan telapak tangannya.
Sedangkan sebuah tawa terdengar dari Naruto. "Aku baru tahu ada keringat yang keluar dari mata" ejeknya.
"A—.."
"Hei! Apa yang kalian lakukan di sana?!" tanya seorang petugas polisi setempat dari luar gang memotong ucapan Sakura yang hendak memberi pembelaan.
Naruto pun segera berdiri di hadapan Sakura—menghalangi pandangan polisi itu dari Sakura. "Sial! Ada polisi!" keluh Naruto dengan raut muka khawatir. Padahal saat melawan orang berpisau tadi ia menunjukkan ekspresi tenang.
"Syukurlah. Kita bisa meminta pertolongannya" tutur Sakura dengan penuh kelegaan.
"Baka! Cepat pakai ini!" seru Naruto sambil menyampirkan jaket yang sejak tadi ia gunakan ke pundak Sakura.
Sakura pun merasa tak mengerti dan bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Jangan banyak tanya dan cepat pakai saja. Pakai topinya juga untuk menutupi rambutmu" jawab Naruto sambil membantu Sakura memakainya dan terkadang ia curi-curi pandang ke polisi yang entah sejak kapan mulai berjalan menghampiri mereka. Beruntung jarak polisi itu masih cukup jauh.
Setelah Sakura menutup seluruh tubuhnya dari rambut hingga roknya menggunakan jaket Naruto, Naruto segera menggenggam salah satu tangan Sakura membuat gadis itu memekik pelan—terkejut. "Eh?!"
"Ayo!" seru Naruto sambil berlari dengan salah satu tangannya menarik Sakura agar ikut berlari bersamanya.
"Hei! Kalian jangan lari!" seru polisi itu sambil ikut berlari. Namun jarak di antara mereka tetap tak berubah.
"Naruto! Kenapa kita lari? Kita kan bisa minta pertolongannya" tutur Sakura sambil terus berlari. Ia pegang dengan kuat topi jaket Naruto yang menutup kepalanya. Itu agar topi itu tak terlepas saat mereka berlari.
"Baka! Yang ada dia melaporkan kita ke pihak sekolah dan meminta mereka untuk menjemput kita" jawab Naruto tanpa mengurangi kecepatan berlarinya. Ia terus menyusuri gang panjang ini hingga melihat cahaya jauh di depannya. Sepertinya itu adalah pintu keluar dari gang ini.
"Bukankah itu bagus? Kita akan dijemput sekolah"
"Ya, akan bagus jika ia melaporkan hal baik pada sekolah kita. Tapi kupikir dia akan melaporkan perkelahian tadi dan tentunya sekolah tak suka itu"
"Kita tinggal menjelaskan mengapa kau berkelahi dengan orang-orang itu"
"Tidak akan semudah itu. Aku yakin para polisi daerah setempat tidak mau menerima bahwa pemuda dari daerah mereka mengganggu seorang gadis yang sedang berdarmawisata. Bukankah itu hanya akan menjatuhkan nama daerah mereka dan membuat daerah ini tak lagi jadi objek darmawisata? Tentu itu akan mengakibatkan menurunnya pendapatan daerah mereka"
"Apalagi jika melihat diriku yang tak terluka terlalu parah. Sedangkan kelima pemuda itu terluka cukup parah. Mereka pasti akan berpikir kita hanya mengarang cerita saja" lanjut Naruto.
"Uuhh, kau benar. Tapi mengenai luka parah mereka itu memang salahmu yang terlalu keras pada mereka"
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah berusaha menahan diri. Tapi tingkah menyebalkan mereka membuatku tak bisa menahan diri lagi"
"Yah, aku bisa mengerti mengenai hal itu. Lalu kenapa kau berikan jaketmu padaku? Bahkan aku harus menutup rambut hingga rokku dengan jaketmu ini"
"Apa kau tak mengerti? Rambutmu itu sangat mencolok dan di sekolah hanya kamu yang memiliki rambut merah muda. Jika kau biarkan polisi itu mengenali rambutmu dan juga seragammu yang membuat mereka bisa tahu dari sekolah mana kau berasal, maka polisi itu akan mudah menemukan identitas dirimu. Begitu pula dengan sekolah yang mendapat laporan mengenai ciri-cirimu. Kau bisa terseret masalah serius yang menjatuhkan namamu"
"Bagaimana dengan dirimu? Rambutmu juga mencolok dan seragammu terlihat sangat jelas"
"Aku tidak apa-apa. Sekolah tahu kalau aku adalah anak nakal yang suka membuat kekacauan. Jadi mereka tak akan terkejut. Bahkan mungkin mereka akan lebih terkejut bila aku tak membuat kekacauan" senyum lembut tapi terlihat menyedihkan di mata Sakura terlukis di wajah tampan Naruto.
"Tidak bisa seperti it—!"
"Tutup matamu atau matamu akan sakit karena cahaya terang akan segera menyapa kita" perintah Naruto yang langsung dituruti oleh Sakura. Naruto pun ikut menutup matanya dan mereka berlari keluar gang.
Dengan perlahan, mereka buka kelopak mata mereka. Terkadang mereka kerjapkan beberapa kali mata mereka agar terbiasa dengan cahaya yang masuk. Setelah pandangan Naruto lumayan jelas, ia kembali berlari dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Sakura—menarik paksa gadis yang pandangannya belum terlalu jelas itu. Tak jarang mereka menabrak beberapa pejalan kaki di jalan setapak yang cukup ramai ini. Omelan dan teguran tak dipedulikan Naruto. Sebaliknya, Sakura terus menerus meminta maaf pada orang-orang yang ditabrak olehnya maupun Naruto.
Setelah berlari cukup jauh, mereka pun berhenti di dekat kolam ikan yang terletak di tengah taman kota. Di tengah kolam ikan yang cukup besar tersebut terdapat air mancur yang indah dan tinggi. Paling tidak ini dapat memberikan perasaan sejuk pada Sakura dan Naruto yang kelelahan karena telah berlari cukup jauh. Terlebih Sakura memakai jaket yang menutupi sekitar 3/4 tubuhnya. Ini membuatnya seperti sedang sauna.
"Kau harus tanggung jawab jika seragamku basah oleh keringat dan menjadi bau, ok?" ujar Sakura setelah dirinya tenang.
Naruto mendudukan dirinya terlebih dahulu di sebuah bangku kosong yang tak terlalu jauh dari posisi mereka tadi sebelum akhirnya membalas perkataan Sakura. "Bukankah gadis memiliki berbagai macam cara untuk mengeringkan seragamnya dan membuatnya menjadi harum lagi?"
"Ya, ya, aku akui itu" jawab Sakura sambil duduk di samping Naruto dan melepas jaket Naruto yang membalut tubuhnya. Sakura yang sedang lelah menjadi malas berdebat dengan Naruto.
Sedangkan Naruto membuka handphone androidnya dan terlihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari teman-temannya. Belum membacanya saja Naruto sudah tahu apa kira-kira isi pesan itu. Dan benar dugaannya. Isi pesan itu adalah menanyakan tempatnya berada sekarang dan menyuruhnya untuk cepat menyusul. Bahkan mereka mengirimkan alamat tempat mereka makan sekarang. Ia pun segera mencari tahu dimana letak tempat itu dengan aplikasi mapsnya dan sial baginya. Tempat itu jauh dari taman kota. Sedangkan ia telah lelah berjalan jauh. "Tempatnya jauh seka—Ittai! Apa yang kau lakukan, sih?!"
Tiba-tiba saja Sakura menempelkan sapu tangan basah di luka goresan pisau yang terdapat di pipi Naruto. Membuat rasa sakit menjalar di pipi pemuda pirang itu. "Tentu saja membersihkan lukamu, baka! Orang-orang yang melewati kita selalu menatap takut dirimu tahu! Mereka bahkan menatap curiga padaku. Sepertinya mereka pikir aku yang melakukan ini padamu" tutur Sakura panjang lebar dengan muka kesal.
Dan Naruto tampak tertawa bahagia melihat kekesalan Sakura. "Mukamu mungkin terlihat seperti muka kriminal"
"Begitu, ya..." ucap Sakura dengan seringai jahat dan tatapan yang lebih jahar lagi.
"Ittai! Oi! Oi! Kau ini berniat—Sshh.. Sakit, Baka!" protes Naruto sambil mengelak dari Sakura dan menutupi pipinya dengan kedua tangannya.
"Bukankah aku kriminal?" tanya Sakura dengan senyum penuh aura hitam.
"Ya, sekarang kau benar-benar seorang kriminal"
"Beraninya kau—"
"Ngomong-ngomong kau membasahi sapu tangan itu dengan apa?" tanya Naruto yang tak ingin memperpanjang masalah.
"Dengan air kolam" jawab Sakura ketus dan ini menimbulkan masalah baru.
"Air kolam katamu!? Di sana penuh ikan! Bagaimana bisa kau membersihkan lukaku dengan air kotor itu?!" Naruto merasa tak terima.
"Memangnya ada air lain selain air kolam?" tanya Sakura santai.
"Ini taman, Nona. Pasti ada kran air siap minum. Lihat itu!" Naruto menunjuk sebuah kran air siap minum yang tak terlalu jauh dari bangku mereka.
"Ah, benar. Aku lupa. Kalau begitu aku ke sana dulu" ujar Sakura sambil beranjak dari posisi duduknya.
"Sungguh, aku mulai meragukan kepintaranmu" tutur Naruto membuat perempatan di dahi Sakura muncul. Namun ia tak mempedulikannya dan terus melangkahkan kakinya menuju kran air siap minum itu.
Naruto sendiri kembali serius melihat handphonenya. Lokasi tempat itu terlalu jauh dan pasti nanti teman-temannya itu akan bertanya macam-macam mengenai lukanya. Memikirkan hal itu saja membuatnya lelah. Dengan cepat ia pun menekan kontak salah satu temannya, 'Nara Shikamaru' begitulah yang tertulis di layar handphone androidnya. Ia meminta maaf karena tak bisa menyusul dan berbicara beberapa hal lainnya sebelum ia putus sambungan telfon itu.
Bersamaan dengan terputusnya sambungan telfon itu, Sakura datang sambil membawa sapu tangan basah dan sekantong es batu. "Dari mana kamu dapat es batu itu?" tanya Naruto ketika Sakura duduk kembali di tempatnya.
"Aku membelinya di penjual es serut di ujung sana" jawab Sakura sambil menunjuk seorang penjual es serut yang menggunakan mobil.
"Tahan sedikit. Aku akan membersihkannya" ucap Sakura sambil mulai membersihkan luka goresan Naruto dengan sapu tangannya yang telah dibasahi oleh air bersih.
Naruto menahan rasa sakitnya dengan mengatupkan rapat-rapat giginya. Terkadang ia mengeluarkan suara desis, "Ssshhh..." dan matanya sedikit memejam dengan dahi yang berkerut.
"Selesai" ucap Sakura setelah menempelkan sebuah plaster luka di atas luka Naruto.
"Sekarang kompres pipimu yang lebam itu dengan ini" Sakura memberikan beberapa bongkah es yang dibungkus oleh sapu tangannya pada Naruto. Pemuda berambut pirang itu pun menerimanya dan melakukan apa yang Sakura perintahkan.
Sementara Sakura mengetik sebuah pesan untuk salah satu sahabatnya melalu handphonenya. "Apa yang kau ketik?" tanya Naruto sambil mengompres pipi lebamnya.
"Pesan untuk Ino dan yang lain. Mereka pasti masih menungguku di cafe. Tapi aku tak mau ke sana dengan keadaan seperti ini dan membuat mereka khawatir. Jadi aku memberitahunya kalau aku tidak menemukan jalan sepi untuk ke sana dan lelah mencari jalan sehingga aku pulang duluan ke penginapan" jawab Sakura sambil memasukan kembali handphonenya ke dalam tas.
"Jadi sekarang aku akan pulang ke penginapan. Bagaimana denganmu?" tanya Sakura sambil beranjak dari posisi duduknya.
Naruto pun ikut beranjak dari posisi duduknya. "Aku tak memiliki rencana apapun"
..o..
..o0..
..o0o..
..o0o..o0o..[37 Days]..o0o..o0o..
Udara semakin dingin seiring hari yang semakin sore. Namun Naruto hanya mengenakan blazer setelah seragamnya. Tentu dengan mudahnya udara dingin menelusup ke dalam blazer dan seragamnya lalu menyentuh kulitnya. Membuat dia merasa kedinginan. Tapi ia tak bisa mengatakannya. Karena jaketnya telah ia berikan pada Sakura yang hebatnya tak membawa jaket saat berjalan-jalan di udara sedingin ini. Jadi ia hanya dapat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya agar sedikit hangat. Dan beruntung ia kini sedang berjalan. Membuat rasa dingin tak sampai menusuk kulitnya hingga menembus tulang. Yah, lebih tepatnya ia berjalan bersama Sakura.
Ya, mereka kini sedang berjalan bersama di sebuah jalan setapak. Bukan untuk berkencan, tapi untuk pulang ke penginapan. Sebenarnya mereka bisa menggunakan taxi. Tapi karena mereka tadi sempat terjebak masalah hingga tak puas berjalan-jalan dan besok mereka akan pulang, jadi mereka memutuskan berjalan kaki ke penginapan—menikmati pemandangan kota Kyoto di sore hari—untuk mengganti waktu mereka yang terbuang. Toh, masih ada satu jam sampai batas waktu yang di tentukan untuk waktu bebas.
"Ada apa?" tanya Naruto ketika tiba-tiba saja Sakura berhenti sejenak di tengah jalan sambil memandang sesuatu di seberang jalan.
"Ti-tidak ada apa-apa" jawab Sakura sambil kembali jalan.
Naruto yang penasaran pun memandang objek pandang Sakura tadi. Itu adalah sebuah toko oleh-oleh yang besar. Dari spanduk yang terpasang, sepertinya toko itu menyediakan berbagai jenis oleh-oleh khas daerah. Dari makanan sampai souvenir yang berupa barang.
"Aku ingin membeli beberapa oleh-oleh. Okaa-chan pasti marah padaku jika aku tak memberinya oleh-oleh. Jadi ayo, kita mampir ke toko itu sebentar" ajak Naruto sambil menunjuk toko itu.
"Eh? Tapi bagaimana jika kita terlambat ke penginapan?" tanya Sakura.
"Nanti setelah membeli oleh-oleh, kita pulang ke penginapan dengan taxi agar cepat. Lagipula jika terlambat beberapa menit mungkin kita hanya akan dinasihati. Dan Aku sedikit kedinginan karena orang Baka yang tidak membawa jaket di musim seperti ini. Jadi kita bisa sekalian menghangatkan diri di sana" jawab Naruto dengan mudah.
Sakura pun tak bisa menolak dengan semua alasan logis itu. Termasuk mengenai kebodohan dirinya yang tidak membawa jaket. Ya, untuk sekarang ia akui itu Dan ia pun ingin membelikan keluarganya oleh-oleh. "Baiklah"
Setelah kesepakatan terbentuk, mereka pun segera ke tempat penyebrangan jalan untuk menyebrang. "Apa kau harus menarik seragamku?" tanya Naruto yang seragamnya dipegang erat oleh Sakura hingga tertarik.
"Uuh... Jangan tertawakan aku, ok?" Sakura terlihat malu-malu dan tak berani menatap Naruto.
"Hah? Memang ada apa, sih?"
"Aku tak bisa menyebrang..."
"Apa? Aku tak mendengarnya"
"Aku tak bisa menyebrang"
"Ha? Kamu beruang?"
"Aku tak bisa menyebrang, Baka-Naruto!"
"Pffftt—kau tak bisa menyebrang? Pfffttt" Naruto menahan tawanya.
"Ah! Kau tertawa! Seharusnya aku tak pernah memberitahumu"
"Pffftttt"
"Berhentilah menahan tawamu seperti itu. Itu menyebalkan kau tahu? Jika ingin tertawa, tertawa saja"
Naruto pun menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan—untuk menenangkan dirinya. "Kau sudah hidup berapa lama?"
"Beberapa bulan lagi 17 tahun"
"Dan kau tak bisa menyebrang bahkan dengan menggunakan lampu penyebrangan jalan?"
"Lampu itu tidak menjamin keamanan kita. Aku pernah beberapa kali hampir ditabrak kendaraan yang tidak taat peraturan"
"Lalu bagaimana selama ini kamu menyebrang?"
"Aku selalu berpegangan pada orang yang ku kenal. Jika tidak ada yang ku kenal, aku akan berdiri di samping seseorang dan mengikuti langkahnya. Dan jika tak ada lampu penyebrangan jalan, aku akan meminta seseorang di sekitarku untuk menyebrangkanku atau menunggu sampai jalanan benar-benar sepi"
"Kau ini sungguh memalukan"
"Aku tak ingin mendengar hal itu darimu"
"Terserah kau saja. Ayo!" ajak Naruto sambil mengulurkan tangannya pada Sakura.
"Kita menyebrang bersama" lanjut Naruto. Mau tak mau pun Sakura menerima uluran tangan itu. Tangan Naruto terasa hangat. Mungkin karena sebelumnya tangan Naruto selalu berada di saku celananya. Tapi rasa hangat ini membuatnya merasa aman. Ketika mereka bergandengan saat lari bersama, ia juga merasa aman. Entah kenapa.
Naruto dan Sakura pun menyebrang bersama. Bahkan sampai di dalam toko pun mereka masih bergandengan tangan. Bukannya mereka menyukainya, tapi ini karena mereka tak tahu harus bagaimana jika ingin melepasnya. Saat mereka lari sambil berpegangan tangan sebelumnya, mereka melepaskan genggaman tangan mereka bersama-sama karena kelelahan. Lalu kini mereka harus bagaimana untuk melepaskannya?
"Naruto, aku akan mencari oleh-oleh makanan ke sana" ujar Sakura sambil menunjuk area makanan.
Sedangkan Naruto menunjuk area souvenir. "Aku akan ke sana"
"Baiklah. Aku pergi duluan. Jaa!" pamit Sakura sambil melepaskan genggamannya dan pergi berlari menjauh. Tanpa diketahui masing-masing pihak, mereka sama-sama menghembuskan nafas lelah.
Seperti perkataannya tadi, Naruto pergi ke area souvenir. Melihat-lihat berbagai bentuk dan jenis souvenir yang ditawarkan sambil memikirkan kira-kira souvenir apa yang akan disukai oleh ayah dan ibunya. Hingga manik sapphirenya tertuju pada suatu benda yang menarik perhatiannya, yaitu sebuah tembikar Kyoumizu* bermotif burung dan pohon bambu. Ada juga yang bermotif daun ginko pada musim gugur.
"Pilihanmu cukup bagus, Namikaze Naruto" ucap seseorang dengan suara yang tak asing di telinga Naruto. Naruto pun berbalik untuk melihat seseorang yang menyebut namanya. Dan ia sedikit terkejut sebelum akhirnya sebuah seringai terlukis di wajah tampannya.
"Wah, siapa yang kulihat ini? Akasuna Sasori, salah satu jendral geng Akatsuki. Setelah pertarungan kita waktu itu aku tak menyangka kita akan bertemu di sini" balas Naruto.
"Benar, sebagai pemimpin geng Kyuubi, kupikir kau tak mungkin ikut darmawisata"
"Aku sendiri juga terkejut kenapa aku bisa ikut acara wisata bodoh ini"
Sebuah tawa renyah pun terdengar dari pemuda tampan berambut merah dan bermanik almond yang diketahui bernama Akasuna Sasori. "Apa kau sedang membeli oleh-oleh bersama teman-temanmu?"
"Tidak. Mereka mungkin masih berpesta di kedai ramen atau malah sudah pulang ke penginapan. Entahlah" Naruto menaikkan bahunya tanda tak tahu.
Sedangkan Sasori menaikkan salah satu alisnya—bingung—hingga membuat wajah baby face nya terlihat lucu. "Lalu kau pergi dengan siapa? Tak mungkin sendirian, kan?"
"Tentu saja tidak. Aku pergi bersama kucing liar yang tidak bisa menyebrang"
"Ha?"
"Jangan katakan yang aneh-aneh tentang diriku pada temanmu itu, Baka-Naruto!" omel Sakura yang mendengar ucapan Naruto.
"Aku hanya mengatakan fakta" balas Naruto.
"Bagaimana bisa itu disebut fakta?!" tanya Sakura dengan kesal. Namun kemudian ia berlari ke suatu rak dan berseru, "Kawaii!"
"Ck! Kau bisa membuat telinga orang rusak" tutur Naruto sambil memghampiri Sakura.
Sakura menunjukkan sebuah Tenugui*berwarna biru dengan motif kucing pada Naruto. "Lihat ini. Kawaii, kan? Oh iya! Kau sudah menemukan oleh-olehmu?"
"Ada yang menarik perhatianku. Mungkin aku akan membeli itu. Bagaimana denganmu?"
"Sudah!" Sakura menunjukkan tas belanjaannya yang lumayan besar. "Aku juga membeli untuk Ino dan yang lain. Ada juga untukmu. Aku perlu berterima kasih padamu untuk hari ini"
"Aku tak memintanya"
"Biar saja. Tapi kau harus menerimanya. Aku memaksa"
"Terserah kau saja"
Setelah perdebatan antara Naruto dan Sakura selesai, Sasori melangkahkan kakinya bergabung bersama mereka berdua. Sambil melangkahkan kakinya, ia berbicara, "Tak kusangka, kucing liar yang tidak bisa menyebrang itu adalah kau, Haruno Sakura".
"Eh? Kau kenal Sakura, Sasori?" tanya Naruto dengan terkejut tentu saja.
"Bagaimana aku tidak mengenal gadis cantik sepertinya? Bukankah kita bertiga satu SMP? Selain itu, aku pernah satu kelas dengannya. Ya kan, Sakura?" Sasori menatap Sakura yang tampak sangat terkejut dengan kehadiran Sasori di tempat ini. Ia tadi memang tak sempat melihat wajah Sasori karena pemuda tampan itu membelakanginya.
"Sakura! Oi, Sakura!" panggil Naruto pada Sakura yang hanya menatap kosong Sasori di depannya. Tanpa Sakura mengatakannya Naruto sudah mendapatkan jawaban jika Sakura mengenal Sasori.
"Sakura, kau tak apa?" tanya Sasori dengat raut muka khawatir. Ia lambaikan tangannya di depan muka Sakura.
"Ah, y-ya... Aku tak apa. Se-senang bertemu d-denganmu, Sasori-kun"
..o..
..o0..
..o0o..
..o0o..o0o..[37 Days]..o0o..o0o..
Setelah pulang dari toko oleh-oleh, tepatnya setelah bertemu Sasori, Sakura mendadak bertingkah aneh. Ia tak berbicara sepanjang perjalanan di taxi. Bahkan sampai mereka di penginapan pun gadis berambut merah muda itu belum mengeluarkan satu patah katapun. Hal ini tentu saja sedikit membuat khawatir Naruto. Bagaimanapun sejak tadi Narutolah yang bersama Sakura dan ia juga yang menyaksikan secara langsung bagaimana perubahan sikap itu terjadi.
Sebenarnya, Naruto sendiri sejak tadi tak bertanya. Karena takut menyinggung privasi Sakura. Terlebih ada sebuah perjanjian di antara mereka untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi satu sama lain. Jadi Naruto menunggu Sakura yang mengatakannya saja. Tapi jika seperti ini terus ia juga tak tahan. Dan ia putuskan untuk mencari tahu. "Sakura, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Sasori?"
"Eh?" Sakura terkejut dengan pertanyaan Naruto yang terlalu tiba-tiba. Hingga membuat Sakura mengurungkan niatnya yang hendak menekan tombol pintu lift agar terbuka. "S-seperti katanya. Kami teman satu sekolah dan satu kelas saat kelas VIII"
"Tapi kupikir hubunganmu dengannya lebih dekat dari itu. Kalian saling memanggil menggunakan nama depan"
"Bukankah kita juga? Berarti hubungan kita dekat?"
"Tidak. Itu mana mungkin. Dan hal ini dan itu berbeda"
"Apa yang membuat hal ini dan itu berbeda?"
Naruto mencoba berpikir sejenak sebelum menjawabnya, "Kau memanggilnya dengan suffix-kun"
"Pffftt—Kau mau aku memanggilmu dengan suffix-kun?" Sakura menutup mulutnya-menahan tawa.
"Tidak. Sungguh, itu menggelikan jika kau yang memanggilku dengan itu. Hei! Jangan alihkan pembicaraan"
"Aku tidak mengalihkannya. Kita masih membahas tentang suffix-kun, kan?"
"Bukan itu. Aku hanya merasa ada se—"
"Kau sendiri, apa hubunganmu dengan Sasori-kun?"
"Geng kami bermusuhan. Aku dan dia rival saat ada pertempuran di antara dua geng kami. Kami sering satu lawan satu. Terakhir kali dia kalah dariku dengan banyak luka"
"Wow, hebat. Itu Keren, Naruto-kun" puji Sakura dengan nada datar sambil menekan tombol agar pintu lift terbuka.
Naruto pun memasang eskpresi datar ketika mendengar pujian itu. "Apa itu pujian? Buruk sekali. Dan aku benar-benar merasa geli dengan panggilan itu. Jadi hentikan. Oh iya! Kau belum menjawab pertanyaanku, Sakura!"
"Ingatlah peraturan pertama. Tidak boleh ikut campur masalah pribadi satu sama lain. Atau kau ingin mendapat hukuman dariku?" ujar Sakura sambil masuk ke dalam lift yang telah terbuka. Sedangkan Naruto hanya terdiam sambil menatap Sakura serius. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Sakura menekan tombol untuk menahan agar pintu lift tetap terbuka dengan salah satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain melempar jaket Naruto yang sudah ia lepas kepada Naruto. "Arigatou. Ini jaketmu aku kembalikan dulu. Akan ku minta lagi setelah kita sampai di Tokyo untuk kucuci. Aku tak bisa menyimpannya karena di kamarku ada sahabat-sahabatku. Mereka bisa bertanya macam-macam padaku"
Selain itu, di sana ada Ino.
"Sebagai gantinya apa kau mau memberitahuku tentang hubungan di antara kau dan Sasori?" tanya Naruto dengan raut wajah serius.
Sedangkan Sakura mulai melepas tekanannya pada tombol penahan pintu hingga pintu dengan perlahan-lahan menutup bersamaan dengan jawaban Sakura. "Hukumanku tidak mudah, lho, Na-ru-to-kun"
Naruto menatap kepergian Sakura dengan kesal. "Bukankah sudah kukatakan panggilan itu menggelikan jika dia yang mengucapkannya?"
1 detik
2 detik
3 detik
"Sial!" rutuk Naruto sambil memukul pintu lift yang tertutup.
"Kamarku kan satu lantai dengannya!"
Dan Naruto pun harus menunggu hingga liftnya turun kembali.
..o..
..o0..
..o0o..
..o0o..o0o..[To be continued]..o0o..o0o..
Note :
*Tembikar Kiyomizu : salah satu perwakilan kesenian tradisional Kyoto. Kyoto telah berkembang sebagai produsen tembikar sejak zaman dahulu. Banyak orang yang menyukai tembikar Kiyomizu karena banyak pilihan pola dan bentuk.
*Tenugui (Sapu tangan) : oleh-oleh andalan dari Kyoto. Tenugui dari Kyoto memiliki beragam corak yang unik. Mulai dari motif tradisional Jepang, motif retro, bahkan motif-motif yang cute.
Haiiii, minna! O genki desu ka? Hufftt~ akhirnya Shizu berhasil menyelesaikan chapter terbarunya. Sebenarnya Shizu sudah menyelesaikannya sekitar seminggu yang lalu. Tapi karena Shizu kehabisan paket internet dan kendala lainnya, Shizu baru bisa meng-uploadnya hari ini. Gomenne... . Tapi semoga kalian semua masih setia menunggu update-nya cerita ini. ^v^
Oh iya! Bagaimana chapter 4 ini? Bagus tidak? Di chapter ini Shizu beri sedikit adegan berantemnya Naruto. Shizu membayangkannya Naruto terlihat sangat keren. Entah bagaimana dengan kalian. Mungkin di chapter lainnya nanti, Shizu akan beri adegan-adegan berantem yang tentunya lebih seru. Hahahahaha #ketawa jahat
Ok. Daripada Shizu semakin menggila, mari segera kita akhiri chapter ini dengan balas-balas review sebagai penutupnya.
Leonardoparuntu9 ini udah lanjut, kok... Paijo Payah Iya, nih, Ino main nyelip aja... Aprilia NS Ini udah next... Arez Thanks... CAR Nah, sekarang udah tahu, kan, apa yang Ino jawab... Ae Hatake Hmm... boleh juga. Akan aku coba pikirkan. Arigatou.. ^v^ NaruSakuFans Ini udah lanjut... matarinegan Semoga ini bisa menemani bobok cantikmu lagi. Hehehe.. ini udah lanjut, kok.. Guest Arigatou.. Udah lanjut, nih... namikaze aira Gomen... Shizu tidak bisa mematok kepastian updatenya setiap hari apa. Karena Shizu sedang sibuk-sibuknya. Tapi Shizu usahakan untuk update lebih cepat lagi. Hehehe... Aiko Hazuki Arigatou! Iya, ada pihak ketiganya dan mungkin... YuRia Namikaze Arigatou, sudah membaca cerita Shizu.. ^v^ Ini udah coba Shizu tambahin romantisnya. Gimana menurutmu? Guest Ini udah lanjut, kok... Arigatou,, Good luck for you too.. ame Hmm.. sepertinya harapan sudah terkabul, Ame-san. Hehehe...
Dan sekian balas-balas reviewnya. Shizu sangat berterima kasih pada para readers yang sampai sekarang masih setia menunggu cerita Shizu dan juga men-review-nya. Shizu sangat senang sekali dengan apresiasi dari kalian. Semoga kalian tidak bosan-bosan menunggu dan membaca cerita Shizu.
Untuk chapter yang ternyata cukup panjang ini, Shizu minta kesediaan para readers untuk menuliskan kritik, saran, curhatan juga boleh, minta tanda tangan apa lagi #plak! Di kotak review yang telah disediakan. Terima kasih Minna! Sekali lagi, REVIEW nya jangan lupa, ya! #Ditendang para reades (Readers : Kapan chapter ini selesainya?!) (Shizu : Hehehe.. ini udah selesai) #dicemplungin sungai
..o0o..o0o..o0o..[ARIGATOU]..o0o..o0o..o0o..
