"Umma! Lihat, rambutku dipenuhi dengan salju!"

"Jack Frost tahu benar bagaimana membuatmu terlihat semakin manis, sayang."

.

.

.

Wu Xinlian

presents

My Boyfriend is Jack Frost

.

Sehun & Luhan belongs to SM Entertainment

.

Aku tidak pernah percaya pada Santa Claus, Peri Gigi, Kelinci Paskah, apalagi Jack Frost

.

Warning: Rated M, typos, Gender switch

.

Copyright belongs to me. Don't plagiarize, don't like don't read.

.

.

.

Konon dahulu kala, saat para Guardians belum ada, bumi masih dipenuhi kegelapan. Ketakutan dimana-mana, hanya cahaya remang bulan yang memberikan mereka harapan. Di tengah-tengah kegelisahan yang dirasakan banyak manusia, seseorang bernama Boogeyman, melakukan kesalahan. Kesalahan yang lebih besar daripada Jack Frost. Bahkan Boogeyman sendiri adalah salah satu utusan Pria di Bulan. Untuk mengawasi mereka dari balik bayang-bayang, dan mengusir kejahatan yang mengganggu para manusia dengan kekuatan gelapnya.

Dark Magic.

Itulah yang populer di kalangan manusia biasa sekarang. Hanya Boogeyman yang memiliki itu. Konon, saat pria itu tengah mengawasi dunia remang dari balik bayangan gelapnya, seorang wanita tengah berada dalam kesulitan. Meronta meminta tolong, dari ancaman manusia-manusia jahat yang ingin membahayakannya. Mengetahui tugasnya, Boogeyman segera melesat. Menghantam manusia-manusia tidak berperasaan itu. Ditatapnya wanita yang masih ketakutan itu. Dia tahu, manusia itu tidak akan pernah bisa melihatnya. Dia diutus untuk melindungi, bukan untuk dikenal ataupun diketahui. Boogeyman hidup sendiri, tak punya teman, hanya diiringi dengan petunjuk Pria di Bulan.

"Kau… Kau adalah pria dalam ramalan." Suara merdu wanita itu mengalun di telinga Boogeyman.

Untuk pertama kalinya sejak dia diutus di bumi ini, ada seorang manusia yang dapat melihatnya dan berbicara padanya. Perasaan hangat dan bahagia menjalar ke seluruh tubuhnya, mendadak Boogeyman merasa hidupnya lebih dari sekedar bayangan hitam dan kegelapan yang menakutkan.

"Kau bisa melihatku?" tanya Boogeyman senang.

Wanita itu menganggukan kepalanya. Kemudian, tangan mungilnya mengambil sebuah liontin dari dalam saku rok lusuhnya. Liontin perak berbentuk bulan sabit yang kemudian terlihat menyala terkena pantulan sinar rembulan. Diberikannya liontin itu tanpa ragu-ragu ke tangan Boogeyman yang masih tercengang.

"Pria yang akan menolongku di malam Selasa pukul 8 tepat. Itu pasti kau." Ucapnya senang. "Kau lah pendamping hidupku. Halo, namaku Sungmin."

Seketika itu, Boogeyman berpikir untuk menanyakan banyak hal pada Pria di Bulan. Dia tidak tahu apa itu pendamping hidup. Mungkinkah itu berarti dia akan mendampingi wanita ini dalam hidupnya? Bukankah tugasnya memang mendampingi kehidupan setiap manusia? Melindungi mereka dari kejahatan, dengan kejahatan itu sendiri. Boogeyman keji, mengapa wanita ini mau melihatnya dan menjadikannya pendamping?

Malam itu juga, saat wanita itu telah tertidur tanpa tahu siapa namanya, Boogeyman menatap sendu ke arah Bulan yang selama ini tidak pernah memberitahunya apa-apa. Apa lagi yang harus dia lakukan? Tidak cukupkah jasanya menjahati orang-orang jahat selama ini? Apa itu pendamping hidup dan siapa wanita ini?

Seakan mengerti renungan berat Boogeyman, sang Bulan menampakkan cahaya terangnya, memberi harapan dan bantuan kepada pria bayangan itu. Keputusan yang membuat Boogeyman harus menjadi pendamping hidupnya dan membuatnya bahagia, apapun yang terjadi. Wanita itu adalah takdirnya, baik dalam keadaan baik maupun buruk. Di masa-masa kelam seperti ini, Boogeyman harus bisa meluangkan waktunya lebih kepada Sungmin.

'Namamu Cho Kyuhyun, dan mulai sekarang jagalah Lee Sungmin.'

.

.

"Kyuhyun-ah, aku mencintaimu."

Suara merdu Sungmin yang selalu disukai oleh Kyuhyun terdengar lagi, dalam malam itu, semenjak mereka saling menyatukan tubuh mereka dalam satu jalinan, satu ikatan yang seolah tak akan bisa membuat mereka saling menjauh, wanita itu selalu membisikan kata-kata cinta di telinganya.

Cinta.

Bulan pernah menjelaskan apa itu cinta padanya. Cinta sulit dijelaskan namun dapat dirasakan. Saat kau merasa bahwa kau adalah orang yang paling tepat untuk pasanganmu. Saat kau merasa selalu rindu pada pasanganmu padahal kalian berjumpa tiap detik. Saat kau merasa ingin selalu mengecup dan merengkuh tubuh pasanganmu. Membuatnya hangat, melindunginya. Saat kau merasa degupan jantungnya semakin kencang dan seolah-olah ada beribu-ribu kupu-kupu yang terbang di dalam perutmu. Bagaimana mungkin? Hanya sedikit kupu-kupu yang pernah ia lihat. Kupu-kupu tak pernah mau terbang dalam kegelapan yang mencekam.

Kyuhyun merasakan hal-hal itu.

"Aku juga mencintaimu, Sungmin-ah."

.

.

Dia tidak tahu apa yang terjadi. Yang dia ingat adalah tubuhnya yang berlari kencang, menembus tiap-tiap bayangan di hutan hanya demi mencari sebatang pohon kecil untuk obat. Obat? Ya, Lee Sungmin tengah mengalami penyakit yang parah. Di zaman seperti ini, belum ada alat-alat medis yang memadai. Bahkan penyakit wanita itu belum diketahui namanya. Wanita yang telah dilindunginya itu kini tidak terlihat seperti dirinya yang biasanya. Warna kulitnya memucat, matanya tidak lagi memancarkan cahaya harapan. Cahaya cinta yang selalu disukai Kyuhyun. Tubuhnya terlihat semakin kurus, dan suaranya terdengar parau.

"Kyuhyun-ah, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa aku selalu mencintaimu."

"Tidak, kau tidak boleh berkata seperti itu sebelum meminum ramuan ini." Namun wanita itu malah menggelengkan kepalanya, "Kumohon, Sungmin-ah."

Lagi-lagi wanita itu menggelengkan kepalanya, namun bibirnya mengulum sebuah senyum. Senyuman yang justru membuat hati Kyuhyun terasa sakit. Seolah-olah senyuman itu adalah senyuman terakhir yang akan dia lihat di hidupnya.

"Ini adalah takdirku, Kyu. Takdir kita berdua. Kumohon, apakah kau mencintaiku?"

Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu, biarkan aku pergi."

.

.

"Keparat kau, Manny! Setelah kau memberiku tugas seperti ini, tapi Sungmin malah pergi meninggalkanku?! Kau pikir aku ini apa? Apakah kau pikir makhluk yang penuh dengan kegelapan sepertiku tidak memiliki perasaan?"

Cahaya bulan meredup, seolah benda bulat itu merasa sedih atas kemarahan dan rasa sakit yang dialami pria itu. Tidak, rupanya Boogeyman belum siap.

"Aku tidak sudi menerima perintahmu. Mulai sekarang, aku yang berkuasa!"

.

.

"Kalian tidak akan pernah bisa memenjarakanku, Guardians keparat!"

MBIJF

Cinta.

Terdengar sangat sensitif di telinga banyak manusia, bahkan bukan hanya manusia, Guardians pun juga. Mereka takut merasakan cinta. Guardians mana yang tidak mengetahui kejadian pahit yang dialami Boogeyman? Tidak ada yang mau merasakan sakit dan pedihnya kejadian itu. Tidak ada yang ingin merasakan kepahitan cinta.

"Aku tak pernah terpikir akan seperti ini, sungguh!" ujar Sehun frustasi sambil membekukan beberapa benda di hadapannya dengan tongkat kayunya.

"Itulah yang namanya perasaan." Komentar Jinki – Leprechaun, singkat sambil mengendikkan bahunya. Jujur saja, dia sudah merasa bosan akan curahan hati Sehun yang satu ini, mengenai cinta. Jika saja pertemuan gaul ini tidak didatangi oleh Kelinci Paskah dan Sandman, mungkin saja dia tidak akan hadir.

Sehun menggeram pelan akan komentar Jinki. Diliriknya pria bisu yang kini tengah menatapnya dengan tatapan prihatin,

"Jangan menatapku seperti itu, Junsu." Komentarnya sinis.

Pria yang dipanggil Junsu – Sandman kini hanya bisa menampilkan wajah sangar yang bahkan tidak terlihat menakutkan samasekali ke arah Sehun.

"Yah, semua ini sudah terjadi kan?" komentar seorang pria berperawakan setengah kelinci dengan nada tidak peduli. Di raihnya cangkir yang berada di depannya, asap mengepul-ngepul dari dalam cangkir itu, menandakan bahwa tehnya masih panas. "Kita hanya bisa berharap kau tidak mengalami kejadian seperti Pitch."

Sehun menganggukkan kepalanya. "Ssh… Jangan menyebut nama aslinya, orang-orang bisa curiga."

"Seperti mereka tahu nama-nama asli kita, Jack."

"Diam, Bunny."

"Hey, sudah hentikan!" Jinki menengahi keduanya dengan cara memukulkan tongkat kayunya ke kepala dua lelaki itu, membuat keduanya meringis kesakitan.

Sehun menarik nafas, meredam emosi dan keinginan untuk membekukan Jinki, namun dia masih terlalu sayang dengan lelaki ber-rambut coklat terang itu. Bagaimana pun juga, Jinki lah yang berusaha menenangkan dan menyadarkannya saat kejadian mengenaskan 5 tahun yang lalu itu. Ditatapnya sang Kelinci Paskah yang masih mengelus-elus kepalanya, pukulannya memang tidak terlalu keras, namun tongkat kayu itulah yang sialan!

"Tapi, Taec…" sang Kelinci Paskah mendongakkan kepalanya dan menatap Jack Frost yang baru saja memanggil nama palsunya, "Luhan tidak terlihat sakit."

Taecyeon hanya mengendikkan bahunya acuh sambil mulai meminum kembali teh hangatnya,

"Tidakkah kau tahu penyakit-penyakit jaman sekarang, Jack?"

Sehun mengedipkan matanya bingung, "Mungkin?"

Taecyeon menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, diiringi dengan tawa tanpa suara Junsu, dan senyuman dari Jinki. Guardian pengendali salju ini memang masih memerlukan tambahan wawasan selain bagaimana caranya untuk membuat orang-orang – terutama anak-anak bahagia.

"Seperti kanker? Kau pernah dengar?" Sehun menganggukan kepalanya. "Yeah, seseorang tahu mereka memiliki penyakit itu saat mereka sudah di penghujung hidup."

"Jadi menurutmu Luhan punya kanker?"

"Ani! Maksudnya bukan seperti itu! Yah pabo…" Jinki menyangkal pertanyaan polos Sehun dengan cepat sambil mengusak rambut putih lelaki itu. "Itu hanya contoh dari penyakit jaman sekarang."

Sehun memasang tampang bodohnya sebelum mengangguk dengan ekspresi datarnya kembali. Diliriknya jam yang terletak tepat di atas sebuah meja di kafe kecil itu. Sudah pukul tiga seperempat, dia harus pulang atau Luhan akan mencarinya. Maka, ia berpamitan dengan teman-teman Guardians nya. Keempat lelaki itu keluar dari kafe bersama sebelum menghilang dari sana dengan cara yang berbeda-beda. Membuat beberapa orang yang melihat aksi mereka tercengang.

MBIJF

Sehun mengamati tubuh indah Luhan yang hanya terbalut dress transparan berwarna pink itu dengan seksama, mulai dari ujung rambutnya, turun ke wajahnya yang cantik nan manis, lalu ke leher panjang bak rusanya, turun lagi ke kedua payudara sintalnya, pinggang ramping nan tingginya, pinggul seksi-nya, kaki jenjangnya, hingga ke telapak kaki mungilnya yang menggemaskan. Tidak ada yang salah dengan fisik Luhan. Namun bukankah Taecyeon bilang penyakit jaman sekarang tidak terlihat dari fisiknya saja? Luhan yang merasa diperhatikan pun hanya bisa menatap kekasihnya dengan tatapan bingung. Kini, lelaki itu kembali mengamati tubuhnya dari atas hingga bawah. Sebelum dia bisa mengeluarkan suara dari mulutnya yang telah terbuka, Sehun terlebih dulu mendahuluinya,

"Luhannie, apakah kau punya penyakit?"

Luhan mengedipkan matanya bingung. Penyakit?

"Penyakit apa?" tanyanya polos.

Sehun mengendikkan bahunya.

"Molla. Penyakit jaman sekarang?"

Kini raut wajah Luhan menunjukan bahwa gadis itu tengah bertambah bingung akan pertanyaan Sehun yang bertele-tele.

"Seperti apa?"

"Kanker?"

"MWO?!" kini kedua mata rusa Luhan bertambah besar seiring dengan kagetnya gadis manis itu, "Tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah mau punya penyakit seperti itu."

Sehun menganggukan kepalanya mengerti. Bagus. "Begitukah?" Luhan menganggukan kepalanya mantap diiringi dengan ekspresi lucunya, membuat Sehun gemas akannya. Seketika, sebuah ide nakal muncul di otaknya, berhubung kekasihnya juga sedang mengenakan pakaian yang bisa dibilang cukup menggoda baginya.

"Kalau begitu, bolehkah kuperiksa dirimu terlebih dahulu?" tanyanya diiringi dengan senyuman nakal yang tentu saja tidak disadari oleh Luhan. Dianggukannya kepalanya, menyetujui ide kekasihnya untuk memeriksa dirinya.

Tubuh lelaki itu pun mendekat ke arah kekasihnya dan lengan kekarnya dilingkarkan di sekitar pinggang ramping kekasih mungilnya. Sempurna. Lekuk tubuhnya sangat sempurna baginya. Direngkuhnya tubuh indah itu dengan lembut sebelum tangannya perlahan menyingkap bagian belakang dari dress gadis itu dan menampilkan bongkahan pantat kenyalnya yang masih tertutupi oleh celana dalam berwarna hijau pastel. Perlahan, telapak tangan besarnya mengelus pantat Luhan yang terasa lembut dan menusuk-nusuk lubang analnya lewat luar celana dalam. Luhan pun melenguh lembut, merasakan nikmat atas perlakuan kekasihnya.

"S-sehun-ahh~?"

"Hmm?" Sehun tersenyum kecil sambil terus melakukan aktifitasnya, sementara Luhan hanya bisa menggeliat tak nyaman di dalam rengkuhannya. Perlahan, tangan Sehun yang bebas menyusup masuk ke dalam dress transparan Luhan dan mengelus payudara gadis itu dengan lembut, mencubit-cubit putingnya dari luar bra ber-renda yang dikenakannya.

"Nyahh! Euhh… S-sehun… mmhh…" badan Luhan meronta-ronta minta dilepaskan, Sehun pun menurutinya. Senyum iblis terpampang jelas di wajah tampannya.

"Apa yang kau lakukan eoh?! D-dasar nakal!" omelnya. Oh lihatlah betapa menggodanya Luhan saat ini di mata Sehun. Wajahnya yang merah merona, bibirnya yang terbuka sedikit karena dia tengah mengatur nafasnya – dan sepertinya degup jantungnya, dress-nya yang sudah berantakan. Sekali sentak saja mungkin Sehun akan bisa melihat tubuh telanjang Luhan.

"Lepaskan bajumu." Titah Sehun cepat, sementara kekasih manusianya itu hanya mengedipkan matanya bingung, "Lepaskan bajumu sebelum ku-rusak baju pengganggu itu." Ancamnya dengan kerlingan nafsu di matanya.

Luhan menelan ludahnya dengan susah payah dan dengan gemetar, dia melepas dress pink kesayangannya itu. Ya, Luhan akan mendapat banyak orang yang bisa dia tarik apabila dia mengenakan dress itu untuk menggoda mereka. Karena itulah, dia tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada dress keberuntungannya itu.

Di lain sisi, Sehun kini sedang menahan monster buas yang sudah meraung minta dilepaskan dan melahap sajian berupa rusa manis nan cantik di hadapannya. Lihatlah tubuh molek yang kini tengah berdiri di hadapannya, benar-benar hidangan paling nikmat yang bisa Sehun bayangkan saat ini. Sementara itu, kekasihnya telah melepaskan dress nya, meninggalkan dirinya dalam kondisi hanya mengenakan bra manis ber-renda dan celana dalam berwarna hijau pastelnya. Gadis itu menggigit bibirnya dan menundukan kepalanya malu, tidak berani menatap Sehun yang kini telah menariknya ke dalam pelukan eratnya. Tanpa pikir panjang, Sehun segera menciumi leher panjang milik gadis itu. Aroma tubuhnya layaknya mawar, menguar dan menusuk indra penciuman dari Guardian muda itu, membuatnya mabuk. Dengan ditutupi kabut nafsu, Sehun menggigit leher itu dan menyesapnya, layaknya anak kecil yang tengah menyesapi permen manisnya.

"S-sehuunn…?" Luhan melenguh tertahan. Lengannya melingkar di leher Sehun dan dia mendongakkan kepalanya secara reflek, memberikan akses mudah untuk kekasihnya dalam kegiatan menyesapi dan meninggalkan banyak bercak merah di sana. Setiap saliva yang ditinggalkan Sehun di lehernya terasa dingin, layaknya air yang tertimbun es pada saat musim dingin.

Tangan kekar Sehun menahan tubuh Luhan yang terasa semakin merosot, nampaknya gadis itu merasa lemas dikarenakan perlakuan yang diberikan oleh Sehun pada tubuhnya. Kemudian, kedua tangan dingin Guardian muda itu bertumpu pada bokong kekasih manusianya dan meremasnya kasar dengan penuh nafsu. Lenguhan Luhan terdengar semakin kencang, terutama saat Sehun menurunkan celana dalam gadis itu dan mengelus bongkahan pantatnya yang kenyal. Tubuh Luhan menggigil merasakan dinginnya tangan Sehun di pantatnya, dan desahan pelan keluar dari mulutnya saat jari-jari panjang Sehun mulai menerobos masuk ke dalam lubang kewanitaannya, menusuknya dengan lembut, mengelus dinding vagina serta klitorisnya dengan lembut.

"Ahnghh~ a-aahhh… S-sehun-ahh…" rasanya seperti ada dua bongkahan es padat yang masuk ke dalam vagina nya. Terasa seperti es-es itu akan mencair dalam waktu beberapa detik, namun kenyataannya es-es itu malah menerobos masuk ke dalam lubang kewanitaannya lebih dalam lagi. Sehun tersenyum miring saat suara desahan kencang nan merdu keluar dari bibir kekasihnya, terlebih ujung jarinya merasakan benda kenyal yang sedaritadi memang dia senggol. Luhan berteriak penuh kenikmatan, sanggup membuat kejantanan Sehun mengeras dan berdiri tegak.

"Sepertinya benar, kau sehat-sehat saja, sayang." Bisik Sehun tepat di sebelah telinga milik Luhan, kemudian bibirnya mengecup cuping telinga yang dihiasi tindik dengan permata ruby itu. Sexy sekali.

Jari-jarinya terus bermain di dalam vagina kekasihnya. Terkadang mengelus dinding kewanitaannya, mencubit klitorisnya, atau sekedar menyenggol klitorisnya dengan jahil. Yang pasti, suara desahan Luhan terdengar semakin kencang dan gadis itu mulai meracau. Tak lama, Sehun dapat merasakan cairan hangat nan kental melumuri kedua jarinya.

Jack Frost tak suka rasa hangat.

Maka dengan segera, dia menarik jarinya keluar dari dalam vagina Luhan, membuat gadis itu melenguh kecewa. Tak ingin terlihat mencurigakan, lelaki itu segera memasukkan kedua jarinya yang masih dilumuri dengan cairan orgasme milik kekasihnya ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Rasanya manis, namun sayangnya hangat.

"Hmm… manis, dan terasa sehat." Sehun tersenyum kecil. Sejujurnya, dia menahan gejolak aneh di tubuhnya saat tubuhnya mengkonsumsi cairan hangat itu, dan untungnya dia berhasil. Suaranya masih terdengar tenang dan sexy.

Luhan terengah-engah. Penanampilannya terlihat berantakan namun sexy di mata Sehun. Digenggamnya lengan Sehun, menuntunnya pada kedua bongkah payudaranya yang masih terbungkus oleh bra. Tatapannya memelas, yang bagi Sehun terlihat seperti tatapan minta diperkosa. Gadis itu berjalan mendekat ke arah sang Guardian dan lengan-lengan kurusnya melingkari leher lelaki di hadapannya itu.

"Kalau begitu, tolong lanjutkan…" gadis manis itu berbisik, "telanjangi aku, telusuri tubuhku, dan pastikan bahwa aku benar-benar sehat."

Lagi-lagi, senyuman miring terpampang di wajah tampan milik Sehun yang sebenarnya adalah Jack Frost. Dengan cepat, lelaki itu melepas kaitan bra kekasihnya dan melemparnya ke sembarang arah, menampilkan payudara kenyal milik Luhan – yang kini telah menjadi candu bagi seorang Oh Sehun. Diremasnya kedua bongkahan sintal itu, bersamaan dengan Luhan yang mulai mendesah erotis karena merasakan nikmat yang diberikan oleh Sehun. Payudara Luhan terlalu menggemaskan bagi Sehun hingga lama kelamaan, remasannya pada bongkahan kenyal itu semakin tidak beraturan. Tangan yang kanan meremas dan memijatnya dengan kasar sementara yang lainnya menaik turunkan dan sesekali memantulkan bongkahan yang satunya. Xi Luhan hanya bisa terus mendesahkan nama Sehun akibat rasa sakit sekaligus nikmat yang dirasakannya.

"Sepertinya kau sedikit lelah, sayang…" bisik Sehun tepat di samping telinga gadisnya. Jarinya dengan jahil memainkan puting kecoklatan Luhan yang sudah mengeras diakibatkan oleh rangsangan yang diberikan Sehun, dan juga rasa dingin yang tersalur dari jari Sehun pula.

"M-mmh…? Bagaimana kau bisa t-tahu?" Luhan bertanya dengan lemah. Seluruh tubuhnya dia tumpukan pada tubuh kekar kekasihnya.

Guardian muda itu terkekeh berat, suaranya serak namun terdengar sexy bagi Luhan. Dibukanya resleting celananya menggunakan satu tangannya – sementara tangan yang lain masih mengerjai puting payudara Luhan, dan dibukanya celana serta dalamannya sekaligus dengan terburu-buru. Kejantanan Sehun menyeruak keluar dan menghantam mulut kewanitaan Luhan dengan lembut, membuatnya terasa gatal seketika karena tidak tahan untuk segera dijelajahi. Luhan melenguh tidak sabaran saat penis Sehun menusuk-nusuk bibir vagina nya dengan jahil, bukannya langsung masuk saja.

"Aku memiliki obat ampuh berupa suntikan yang dapat membuatmu merasakan nikmat duniawi." Lelaki itu mengocok penisnya yang telah mengeras, sebelum menuntun tangan mungil kekasihnya untuk menggenggam benda pusaka miliknya itu. Luhan meremasnya secara reflek, membuat Sehun harus menahan desahannya.

"Aku…ingin disuntik, dokter Sehun~" goda Luhan sambil menekan-nekan ujung penis Sehun dengan jempolnya.

Sehun tersenyum nakal. "Setelah merasakan kenikmatan itu, kau akan merasa semakin lelah, namun dapat kupastikan istirahatmu akan terasa memuaskan…" dan setelah mengatakan itu, Sehun langsung memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Luhan dengan sekali sentak, membuat gadis berumur 23 tahun itu mendesahkan nama kekasihnya dengan kencang.

"S-Sehun…aaahh~ a-ahh… dingin… sshh o-ohh…" racau Luhan tidak jelas saat penis besar Sehun mulai menusuk-nusuk lubang kewanitaannya dengan tempo sedang. Terasa dingin. Dingin sekali. Semua hal tentang Sehun selalu terasa dingin.

Kau harus membuatnya bahagia, Jack.

Lelaki itu terus menerus menggoyangkan pinggulnya, tersenyum saat gadisnya ikut menggoyangkan pinggulnya berlawanan arah dengannya.

Kau tahu kan itu sebagai bayaran atas perbuatanmu?

"Oh… Oh Sehuuuuunn~!" jeritan Luhan adalah akhir dari permainan mereka malam itu. Mereka berdua klimaks. Sperma dingin Sehun memenuhi lubang kewanitaan Luhan sementara cairan cinta gadis berkewarganegaraan China itu melumuri penis milik kekasihnya.

Kau ikhlas melakukan ini semua kan?

MBIJF

"Aku sebenarnya penasaran…"

Gadis cantik di sebelah lelaki ber-rambut putih itu menghentikan aktifitasnya meminum Iced Lemon Tea – minuman manusia yang telah menjadi favoritnya belakangan ini. Mata besarnya menatap raut wajah temannya yang terlihat bingung, namun menggemaskan. Jack Frost tak ayal adalah seorang bocah di matanya. Tak mendapat respon dari gadis itu, Sehun melanjutkan perkataannya.

"Kalau tidak ada manusia bernama Sungmin itu, apakah tidak apa bila Guardian merasakan cinta?"

Okay, benar-benar pertanyaan seorang bocah.

"Guardian tidak dilarang untuk merasakan cinta, Jack. Aku mencintaimu. Aku mencintai para Baby Tooth, mencintai North, Bunny, Sandy, Leprie, bahkan Hound Dog!"

Lelaki itu menggelengkan kepalanya kasar saat mendengar respon dari Sungjong, sang Peri Gigi. Temannya ini memang terlalu polos. Dasar Guardians, tidak pernah peka dan mengerti apa itu cinta sejati.

"Bukan begitu, Tooth!" lenguhnya kesal. "Kita takut akan perasaan cinta. Cinta sejati. Kita selalu menghindari itu, karena kita takut akan merasakan hal yang sama dengan Pitch."

Sungjong tertegun mendengar perkataan Sehun. Mengapa tiba-tiba Guardian muda ini membicarakan masalah cinta? Apakah lelaki ini menelponnya pagi-pagi dan meminta untuk bertemu dengannya hanya untuk membicarakan ini? Cinta? Sudah berapa ratus tahun topik ini tidak pernah muncul lagi di pendengaran para Guardians?

Tatapan bingung Sungjong mampu membuat Sehun mengerti bahwa gadis ini masih belum mengerti juga inti dari perkataan Sehun. Tidak, Sungjong mengerti, namun tidak mengerti apakah permasalahan yang dihadapinya, yang membuatnya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Pembicaraan dengan topik bernama Cinta.

"Aku mencintai Luhan,Tooth." Bisik Sehun parau. Diacaknya surai putihnya, sementara tangan yang satunya menggenggam tongkat kayunya dengan erat. "Aku mencintainya. Aku ingin selalu hidup bersamanya. Menjadi pendamping hidupnya, melindunginya lebih dari ini, selalu membuatnya bahagia…"

"Tapi kau membuatnya bahagia…"

"Aku adalah penyebab dari penderitaan terbesarnya, Tooth!" air mata mulai menuruni pipi pucat nan tirus milik lelaki itu. Jack Frost jarang sekali menangis. Air matanya berarti badai salju, dan benar saja. Seketika salju turun dengan derasnya diiringi dengan angin yang bertiup dengan kencang.

"Jack, berhentilah menangis… Kau membuatnya bahagia, percayalah padaku…" Sungjong memohon sambil menggenggam tangan dingin milik temannya itu. Sangat dingin. Bagaikan menggenggam bongkahan batu es yang sudah membeku beribu-ribu tahun lamanya.

Sehun menggelengkan kepalanya dengan kasar sambil terisak. Kepalanya terasa pusing dan hatinya sakit. Pusing memikirkan bagaimana dirinya dan Luhan di masa depan serta hubungan mereka, dan hatinya sakit saat sekelebat pikiran akan Luhan yang akan menjauhi dirinya saat suatu hari nanti dia mengetahui identitasnya yang sebenarnya.

"Aku membunuh orangtuanya, dan dia membenciku. Bagian manakah dariku yang membahagiakannya?"

Sungjong menyesap kembali Iced Lemon Tea nya.

"Kehadiranmu membuatnya bahagia. Kau adalah kekasihnya." Ucapnya sambil terus mengelus tangan Sehun, masih berusaha menenangkannya.

"Dan dia mencintaimu. Komitmenmu untuk melindungi serta membuatnya bahagia, pasti juga merupakan alasan mengapa dia bahagia bersamamu."

Sehun menggigit bibirnya. Air mata masih menuruni pipinya.

Itulah masalah terbesarnya.

MBIJF

Saat ini, Luhan baru saja pulang dari Glue Bar. Atasannya memutuskan untuk mengizinkan Luhan pulang cepat hari ini karena kinerjanya selama ini cukup memuaskan. Jadi bisa dibilang, dia ingin memanjakan sang gadis penggoda ini dengan cara membiarkannya pulang cepat. Setelah berpamitan pada Baekhyun dan menyuruhnya untuk tetap semnagt bekerja hari ini, Luhan segera membungkus tubuh yang dibalut dengan lingerie penggoda itu dengan mantel bulu berwarna coklat yang entah didapat Sehun darimana beberapa hari yang lalu. Mantel itu terasa sangat hangat, dan wangi tubuh Sehun menguar dari sana. Luhan tersenyum melihat beberapa orang berlalu lalang bersamanya. Diraihnya handphone nya yang dia masukkan di dalam saku mantel bulu yang ia kenakan, memutuskan untuk memberitahu Sehun bahwa dia pulang lebih cepat. Kekasihnya itu pasti sedang tidak di rumah, mengingat setiap hari dia memang selalu pergi untuk bertemu dengan teman-temannya.

The number you called has been busy, please try to call again later.

PIP –

Gadis penggoda itu memasukkan handphone nya ke dalam saku mantelnya lagi. Kekasihnya pasti sedang sibuk bercengkrama atau mungkin berunding mengenai 'pekerjaan'nya bersama dengan teman-temannya. Well, tidak apa. Kalau begitu, aku akan memberi kejutan untuknya di rumah saja.

Luhan memeluk tubuh kurusnya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya saat dirasa angin mulai berhembus semakin kencang. Malam itu terasa sangat dingin. Dia kira, mantel pemberian Sehun itu sudah mampu membuat tubuhnya terasa hangat, namun kenapa tiba-tiba salju turun dengan derasnya dan angin berhembus kian kencang, mengacak-acak surai coklat kemerahannya yang tadinya tertata rapi. Tubuhnya mulai sedikit menggigil, dan gadis itu merasa susah untuk berjalan karena angin yang terus mendorongnya mundur.

Setelah beberapa menit berjalan melawan hembusan angin, gadis berkewarganegaraan China itu menyadari bahwa saat ini sedang terjadi badai salju ringan. Angin terus berhembus dengan kencang, diiringi dengan butiran salju dingin yang menyertainya. Jalanan sudah dilapisi oleh salju, begitupula trotoar tempat dia melangkahkan kaki-kaki jenjang nan kurusnya. Mata rusa gadis itu membelalak bahagia saat melihat sebuah halte yang telah dipenuhi oleh beberapa orang. Dengan semangat, dia pun berlari kecil menuju halte itu. Well, lebih tepatnya berusaha berlari kecil. Orang-orang yang duduk di sana menatapnya saat dia akhirnya memijakkan kaki di atas marmer halte yang terasa sedikit licin diakibatkan oleh salju yang meleleh di atasnya. Diam-diam, Luhan merutuki atasannya yang selalu menyuruhnya untuk mengenakan high heels.

"Nona, duduklah di sini." Seorang pemuda yang tengah duduk di samping seorang pria tua yang tengah tertidur, menepuk bangku kosong di sebelahnya. Lelaki itu menunjukkan senyum hangatnya untuk Luhan.

Luhan menunjuk dirinya sendiri sambil mengedipkan matanya bingung ke arah pemuda itu, dan pemuda itu menganggukkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Akhirnya, gadis itu pun mendudukkan dirinya di bangku di sebelah lelaki itu. Luhan dapat merasakan tubuhnya yang masih menggigil.

"Badainya kencang sekali ya?" lelaki itu memulai pembicaraan. Sepertinya dia memperhatikan gadis China yang sibuk menggigil dan memeluk tubuhnya sendiri. Padahal mantel bulunya sudah tebal.

Gadis cantik dengan tubuh langsing itu pun menganggukkan kepalanya.

"Padahal aku harus pulang secepatnya." Gadis itu mengeluarkan handphone-nya dan melihat angka-angka yang tertera di bagian atas layar handphone-nya. Sudah pukul 6 lewat 13 menit. Dia sudah harus berada di rumah sebelum Sehun pulang, dan biasanya kekasihnya itu akan pulang pukul tujuh, bahkan kurang dari itu.

Tanpa mempedulikan badai yang masih cukup kencang – meskipun sudah sedikit reda, Luhan pun berdiri dan berniat meninggalkan halte. Namun, lelaki itu mencengkeram lengannya dengan lembut. Seketika, Luhan merasa hangat dan nyaman.

"Seseorang sedang bersedih, nona." Luhan mengedipkan matanya bingung saat mendengar kata-kata lelaki itu. "Hatinya sedang berkecamuk. Tunggulah sebentar lagi, pasti dia akan merasa lebih baik, dan kau bisa pulang."

"Apakah yang sedang bersedih adalah kekasihmu?" Lelaki itu mengerjapkan matanya. "Dia tidak ada sangkut pautnya denganku. Siapapun yang sedang bersedih, aku minta maaf, tapi kekasihku sedang menungguku di rumah."

Justru kekasihmu itulah yang sedang bersedih!

Luhan tidak tau.

Lelaki itu tidak bisa menghentikannya.

Luhan melepaskan cengkeraman tangan lelaki itu. Memang berat rasanya karena saat ini, dia membutuhkan kehangatan yang terpancar dari tangan lelaki itu, namun Sehun sudah menunggunya di rumah. Dia harus menyiapkan berbagai macam kejutan termasuk makan malam untuk kekasihnya itu.

Selanjutnya, gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat menjauhi areal halte bus yang terasa sedikit hangat dan nyaman, meninggalkan pemuda dengan rambut sedikit ikal itu menatap punggungnya dengan nanar. Gadis itu egois juga.

Beberapa menit telah berlalu, namun badai tidak kunjung reda. Sesekali angin itu berhembus sedikit pelan, namun tidak lama berhembus kencang lagi. Lelaki itu segera berdiri saat sekelebat angin yang lebih dingin daripada angin-angin kencang saat ini, berhembus sekilas dan menggelitik hidungnya.

Salju Jack Frost mulai berulah lagi.

Maka, lelaki itu pun segera berlari keluar dari halte – menembus badai salju yang ganas. Tidak lama, sepasang sayap muncul dari punggungnya, menembus jaket kulit yang dia kenakan. Sayap-sayap bulu itu mengepak dengan cepat, dan tubuh lelaki itu mulai melayang. Dengan cepat, dicarinya sosok gadis yang pastinya saat ini nyaris terkubur oleh salju.

MBIJF

Sungjong merasakan sekelebat angin yang sangat dingin menggelitik hidungnya. Dengan cepat, diliriknya Sehun yang kini tengah menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan kurus namun kekarnya. Sesekali bahunya bergetar, dan terkadang dia menghela nafasnya panjang. Lucu sekali Guardian muda ini. Pasti Taecyeon akan mentertawakannya apabila lelaki setengah kelinci itu berada di sini sekarang. Namun, masalah Sehun saat ini memang jujur saja membuat para Guardians bingung.

Mereka juga tidak bisa menyalahkan Pria di Bulan, bukan?

"Jack, saljumu mulai berulah lagi…" Sungjong mengguncangkan bahu lelaki ber-rambut putih itu dengan lembut. Namun, yang diguncang hanya menggerung rendah menanggapi kalimat peri cantik itu.

"Jack…"

"Biarkan aku seperti ini dulu, Tooth." Lelaki itu menjawab, masih dengan posisi menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya.

"Kau sudah seperti sejak 30 menit yang lalu, Jack! Ayolah! Saljumu membahayakan orang lain, bagaimana kalau kejadian 5 tahun lalu itu terulang lagi?!" tegur peri itu dengan suara yang sedikit meninggi. Gadis itu takut. Dia sangat menyayangi Jack Frost sehingga dia tidak ingin ada kejadian buruk yang berkaitan dengan lelaki itu lagi. Dia tidak jahat, sungguh. Hatinya hangat meskipun tampak luar dari Guardian muda itu memang dingin bagaikan es.

Belum sempat Sehun merespon teguran dari Sungjong, tiba-tiba seorang lelaki ber-rambut ikal yang familiar bagi mereka berdua, datang sambil menggendong seorang gadis yang terlihat familiar bagi mereka berdua pula.

Mata sipit Sehun membulat melihat kedua sosok itu. Dia segera bangun dari posisi duduknya, dan menghampiri mereka. Sungjong ikut berdiri dan mengikuti langkah Sehun. Keduanya terkesiap saat melihat gadis yang kini berada dalam gendongan lelaki yang masih terengah-engah itu. Rambut coklat kemerahannya dihiasi butiran-butiran salju, bibirnya pucat, dan dia tidak sadarkan diri.

"Hipotermia. Dia memaksakan dirinya pulang saat badai." Lelaki itu berucap, seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat dalam pikiran Sehun dan Sungjong.

.

.

"Luhan…"

MBIJF

Finally, gue balik. Silahkan timpuk gue, tp gue berusaha keras banget buat update. Thanks buat Ko Chen Teung (kalo lu baca cerita ini hehehe /ngarep.) yg udah ngasih tau ke kita semua cara nge-unblock website. Walaupun gue ga yakin it will last forever, but at least we tried right? Jadi gini, gue planning bubat mindahin semua cerita gue ke sebuah blog. Gue butuh bgt saran, mending blog ato wordpress? Ato mungkin kalian punya usul lebih bagus lagi? Tolong kasih saran di review secepatnya, ini demi kalian juga. Gue mau kalian semua selese baca MBIJF sama W&D.

Review replies? Umm... sori, bukannya apa tp review kalian kemarin buanyaaaaakkk bgt, bikin gue ngefly, geregetan/? wkwk.

Thanks to:

Oh SeRa Land ; Odult Maniac ; onkey shipper04 ; zoldyk ; hunhan98 ; oh-seha ; Jung Shou Dou ; HunHanCherry12220 ;

Hwang Yumi ; RZHH 261220 ; bbyeol ; BluePink EXO-XOXO-COUPLE ; HyunRa ; Guest1 ; Little Wolf Prince' Oh Sehun ; Guest2 ;

guess who ; Guest3 ; Baby Kim ; ares ; superholicqueen1 ; ShinJiWoo920202 ; Putri ; SonExopans ; 12 ; Ohaayou ;

fuawaliyaah ; Vita Williona Venus ; Akatsuna Cherry ; edogawa ruffy ; Rly. ; kyeoptafadila ; ChenLin21 ; ; Mey ;

ChenMinDongsaeng14 ; 9394loves ; Aileen Xiao ; Shin Yo Yong ; KOMOZAKU MITSUKI ; soka ; ohdeerhunhan ; veniantsya ; parkxxo ;

kimyori95 ; lizaa ; choi ji ha ; oh-sehawnn

.

Sori kalo ada salah tulis nama ato ada yang kelewatan. Intinya... OMG KAK LIN REVIEW FF GUE KYAAAAA! :''''*

Sori bgttt gue ga bales review kalian kea biasanya, since gue takut bgt. Sekali internet nge-lag, it won't post dude. Sumpah, gue aja udah ngutang waktu banyak bgt buat post chap ini, i'm so sorry guys T_T Sori juga update-an ini...entah knp terasa pendek bagi gue. Mungkin karna gue ngebandingin sama update-an W&D kaliya-_-

Intinya, thanks for all ur loves and supports aaahhh! I love you guys! Dan buat menjawab most of ur questions abt...the ending yea? Gue masih labil ini mau happy ending ato sad ending. Ntar diliat ke depannya aja wokeeyy? ;D dan ini janji gue: NC! wkwkwk. Jujur gue juga nulis ini sambil ngebayangin Frozen, malah kadang gue nulis sambil denger soundtrack-soundtrack nya Frozen-_- anjjj gue ketularan Heechul lol.

.

Err- gue tetep nunggu saran kalian tentang sebaiknya gue bikin secondary blog di mana. Gue bakal tetep usahain update disini, tp buat kalian yg bener2 susah bgt buka Ffn, paling engga kalian bisa baca update-an cerita gue di secondary blog itu. So pwetty please...help me T^T

.

RnR again, guys?