Naruto by Masashi Kishimoto
Our Marriage by YumeYume-Chan
Chapter 3
This Feeling
Gaara melangkahkan kakinya pelan memasuki apartemennya yang tampak sepi. Suatu keheranan kembali meyapanya, seharusnya suara Naruto dan Sasuke akan menghiasi ruangan ini dengan pertengkaran kecil mereka atau minimal suara riang Naruto. Namun apartemen ini tak menghadirkan suara mereka. Benar-benar sepi.
"Naruto?" panggil Gaara sambil melepas sepatunya, namun tak ada balasan ataupun tubuh mungil yang selalu menyambutnya saat pulang.
Setelah melepas sepatunya ia menyapu ruangan televisi dengan pandangannya dan berhenti setelah mendapati sosok Sasuke tengah duduk di beranda. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju Sasuke. "Dimana Naruto?" tanyanya pada sahabatnya itu.
"Di tempat yang aman," jawaban singkat itulah yang diberikan Sasuke padanya. Keheranan Gaara semakin bertambah, "maksudmu?"
"Dia ada di tempat di mana orang brengsek sepertimu tidak akan menyakitinya lagi," kata Sasuke. "Aku tidak mengerti," sahut pemuda berambut merah ini.
Sasuke bangkit dari kursinya, menatap datar pada Gaara, "Kalau kau tidak bisa menghormatinya, lepaskan dia!"
"Apa maksudmu?"
"Jangan berikan lukamu padanya. Dia tidak tahu apapun tentang wanita itu!" sahut Sasuke dengan nada datar, namun Gaara tahu pemuda di hadapannya tengah menahan kesal, terlebih lagi saat ia menyebut-nyebut tentang masa lalu. Wanita itu. "Aku tidak mengerti apa maksudmu. Apa hubungannya dengan dia?" tanya Gaara.
"Brengsek!" seru Sasuke yang langsung memberikan satu tinju ke arah wajah Gaara disusul tendangan yang membuat Gaara terjengkang jatuh. Sasuke langsung duduk di perut Gaara dan menarik kerah pemuda dengan tato kanji 'ai' di kening itu. "Apa. Yang. Kau. Lakukan. Di. Ruangan. Itu. Bersama. Tayuya?" desis Sasuke.
Tanpa melawan Gaara menjawab dengan tenang, "kami tidak melakukan apa-apa."
'Buk!"
Satu tinju kembali menghantam wajah Gaara.
"Dia melihatmu!" bentak Sasuke, "aku melihat dia menangis! Apa kau sudah puas menyakitinya?"
'Duak!'
Gaara menendang punggung Sasuke dengan kakinya yang bebas, membuat Sasuke terguling ke depan. Sambil meringis menahan sakit, ia berdiri dan menatap penuh amarah pada Gaara. "Aku tidak berniat menyakitinya," kata Gaara menyanggah tuduhan Sasuke padanya.
"Tidak berniat katamu? Lalu apa alasanmu menikahinya?" tanya Sasuke.
"Haha. Permintaan haha," jawab Gaara.
"Bullshit! Jangan pikir aku bodoh," sahut Sasuke, "kau bisa menolaknya atau mencari gadis lain. Kenapa harus dia? Kenapa harus Naruto kalau pada akhirnya kau tidak bisa menghormatinya sebagai isterimu? Paling tidak, anggap dia sebagai adikmu!"
"Aku tidak mengerti maksudmu Sasuke," ujar Gaara.
Sasuke menatap Gaara kesal karena pemuda itu masih saja menyangkal. "Alasanmu menikahinya, hanya untuk melampiaskan kekecewaanmu pada wanita 'itu' kan? Wanita yang tidak bisa kau raih!"
Gaara tidak menjawab atau pun menyangkalnya, hanya saja Sasuke dapat melihat perubahan gesture tubuh Gaara saat ia mengatakan "gadis 'itu'". Ia pun melanjutkan, "apa salah bila Naruto ingin tersenyum? Apa salah bila dia ingin tertawa? Apa salah bila dia ingin bahagia dan terlihat kuat di depan orang-orang? Bukan keinginannya memiliki sifat yang HAMPIR sama dengan wanita 'itu', tapi itu memang sudah sifatnya!"
Jeda sejenak.
"Aku tidak-"
"Aku terlalu mengenalmu Sabaku. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat menikahinya. Saat pertama kali melihat Naruto pun aku langsung tahu alasanmu," sela Sasuke ketika menyadari Gaara ingin menyangkal lagi.
Gantian Gaara yang menatap Sasuke dengan pandangan menusuk, "Memangnya apa yang kau tahu tentangku, UCHIHA?"
"Yang aku tahu darimu adalah KAU MENJADIKAN NARUTO SEBAGAI PENGGANTI'NYA' YANG TIDAK BISA KAU RAIH. SEBAGAI PELAMPIASAN ATAS SAKIT HATIMU YANG DITINGGALKAN OLEH'NYA'! DAN KAU INGIN 'DIA' MERASAKAN SAKIT YANG SAMA DENGANMU!" seru Sasuke, "tapi kau lupa satu hal, Naruto BUKAN 'dia'." Satu fakta yang seolah menyentakkan kembali Gaara pada bumi tempatnya berpijak.
Gaara hanya mampu terus membisu, menerima semua dakwaan Sasuke yang benar adanya. Ia tak memiliki lagi alasan untuk menyangkal. Hanya diam dan membisu, menerima semuanya, yang dapat dia lakukan.
Semua tuduhan itu memang benar, ia menikahi Naruto bukan hanya karena permintaan sang ibu, namun gadis pemilik mata safir itu mengingatkannya pada masa lalu yang tak pernah bisa ia lupakan.. Bayang-bayang gadis itu kembali menghiasi pikirannya, rambutnya, matanya yang selalu berbinar indah, suaranya riangnya saat gembira atau suara tegasnya saat memutuskan sesuatu, langkah kakinya yang sering terburu-buru, wajahnya yang merona saat Gaara memberinya hadiah dan semua kenangan tentang gadis masa lalunya kembali berputar di benaknya. Sejenak keheningan menghiasi apartemen itu.
"Lepaskan dia. Biarkan dia menikmati kehidupan yang bebas. Masalah sekolah, Uchiha yang akan mengurusnya," kata Sasuke setelah beberapa lama mereka terdiam.
"Tidak mau," kata Gaara singkat membuat Sasuke menegang dan emosi kembali menghampirinya. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Aku tidak akan menceraikan Naruto," kata Gaara.
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Sasuke segera menerjang Gaara. Suara perabotan yang hancur menjadi saksi sekaligus korban perselisihan mereka.
"Apa belum puas kau membuatnya terluka?" seru Sasuke seraya melayangkan tinjunya ke arah Gaara. "Itu bukan urusanmu! Naruto adalah istriku!" balas Gaara yang menangkis tinju dari Sasuke. "Masih berani kau menyebut kata 'isteri' setelah yang kau lakukan padanya?" bentak Sasuke lalu segera menghantam wajah Gaara, "Dasar EGOIS!"
"Kau sendiri bagaimana hah? Apa kau sudah bertanya pada Naruto?" seru Gaara yang balas menghantam wajah Sasuke.
Sasuke tersentak kaget. Ia lupa bertanya pada Naruto.
Darah dan lebam menghiasi wajah mereka berdua dengan background barang-barang yang hancur dan berserakan di lantai sebagai korban tak bersalah atas perkelahian mereka. Sasuke mundur, dan segera meninggalkan apartemen tersebut. Meninggalkan Gaara dan kekacauan yang mereka buat.
Sedangkan Gaara hanya bisa menatap hampa pada langit malam. Kata-kata Sasuke kembali terngiang.
"Naruto bukan 'dia'!"
"Naruto, ini sudah sore. Sebaiknya kau masuk ke dalam rumah," suara ramah itu menyadarkan Naruto dari lamunannya. Ia berbalik dan tersenyum singkat guna menghormati orang yang telah berbaik hati menyapanya. "Aku hanya ingin mencari udara segar sedikit lagi, Itachi-nii," katanya pada sosok yang memiliki kemiripan dengan orang yang membawanya ke rumah ini, Sasuke.
Itachi tersenyum mendengar alasan Naruto. Ia paham, meski tidak tahu masalahnya apa, Naruto tengah memendam suatu kesedihan di hatinya dan tengah mencoba untuk terlihat kuat di hadapannya. Mungkin lebih tepat bila mencoba untuk menyembunyikan masalahnya. Namun bagi Itachi, yang telah lama mengenal Sasuke yang pandai menyembunyikan perasaan dan ekspresinya, sikap Naruto terlalu mudah untuk dibaca olehnya.
Sebuah tangan terulur menepuk bahu si gadis pirang, membuat yang ditepuk menoleh dan mendapati sebuah senyum tulus dihadirkan untuknya. "Kau masih empat belas tahun, jangan memaksakan diri untuk memasuki dunia yang belum waktunya kau sentuh. Bersikaplah seperti gadis empat belas tahun lainnya yang saat ini mungkin tengah sibuk bermain-main atau memulai kisah remaja mereka," kata Itachi ramah. Keramahannya itu pun berbuah air mata haru yang terjatuh dari sepasang safir milik Naruto.
Tak pernah Naruto berpikir bahwa akan ada seseorang yang mengatakan hal semacam itu padanya. Baginya, dunianya kini telah jauh berbeda dengan dunia yang ditempati oleh teman-teman sekelasnya yang masih bebas berbicara tentang masa depan dan cita-cita. Masih bisa bebas tersenyum, berbicara tentang hal-hal yang umumnya dialami oleh seorang remaja awal seusianya. Namun baginya yang telah meninggalkan dunia itu bahkan sebelum ia menyentuhnya, semua itu adalah tabu. Tak ada cita-cita dan masa depan yang akan ia tentukan sendiri, tak ada hak baginya untuk berbicara tentang hal semacam itu, dan takkan ada yang mau membicarakannya dengan dirinya. Tak ada. Namun Itachi, dengan nada yang begitu lembut dan ramah telah mengatakan hal yang lebih jauh dari apa yang dia harapkan.
Untuk pertama kalinya ia dianggap sebagai seorang gadis yang masih perlu belajar tentang kehidupan bukan sebagai seorang perempuan yang harus belajar tentang kehidupan secara otodidak karena ia telah menikah. Untuk pertama kalinya ia dianggap sebagai gadis yang berusia empat belas tahun, bukan sebagai seorang isteri yang harus bisa bersikap dewasa dan terus menahan diri dalam bersikap. Air matanya luruh tanpa bisa dihentikan, tak pernah ia mengira akan ada seseorang yang mampu mengerti apa yang diharapkan hati kecilnya.
Dianggap dan dimaklumi sebagai anak-anak, karena sejujurnya ia memang masihlah seorang anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Ia tetaplah seorang anak-anak yang ingin memiliki cita-cita dan masa depan yang ditentukan oleh tangannya sendiri. Ia tetaplah seorang anak-anak yang ingin tersenyum riang karena bahagia ketika hal yang menyenangkan terjadi, bukannya bersikap tenang dan tertawa seperlunya layaknya wanita dewasa. Ia tetaplah seorang anak-anak yang ingin meluapkan kemarahannya ketika hal yang tak disukainya hadir di hadapannya, bukannya menahan diri dan terus memaklumi dengan hati perih. Karena ia, Naruto, tetaplah seorang anak-anak yang ingin bisa menangis ketika seseorang telah melukai hatinya, dan bukannya bersikap tegar yang secara perlahan menghancurkannya dari dalam.
Tubuh Itachi yang hangat yang tengah mendekapnya kini bagaikan dekapan seorang ayah baginya yang tak pernah mengenal sosok sang ayah. Elusan tangan Itachi yang lembut di kepalanya bagaikan tangan sang ibu baginya yang sedari kecil telah yatim piatu, dan suara lembut Itachi yang menghiburnya, merupakan nada tersendiri yang menentramkan hatinya.
'Ah, inikah rasanya memiliki sebuah keluarga?' batinnya pun bertanya-tanya. Dan seiring waktu yang terus berlalu, entah berapa lama, ia pun terbang ke alam mimpi yang indah.
"Dia sudah tidur," kata Itachi, "masuklah otouto."
Sasuke yang sedari tadi melihat keadaan Naruto dibalik pintu pun melangkah masuk. Dilihatnya sosok Naruto telah berada dalam gendongan Itachi. "Biar aku yang membawanya ke kamar," kata Sasuke seraya mengambil Naruto yang terlelap dari tangan sang kakak. Itachi pun tidak menolak, dan bahkan tidak bertanya ketika melihat lebam dan memar serta sedikit darah menghiasi wajah porselen milik otoutonya itu.
Sasuke berjalan dalam diam dan keheningan yang tercipta dari kebisuannya. Hanya suara derap langkah kakinya yang beradu dengan lantai yang menjadi nada penghias rumah besar yang sunyi itu. Tak begitu jauh berjalan, ia telah sampai di sebuah kamar yang cukup luas dan girly untuk ukuran seorang Uchiha seperti dia dan Itachi.
Kamar dengan aksen baby blue dan hiasan bintang di langit-langit kamar yang saat gelap akan mengeluarkan cahaya terang. Kamar itu juga dilengkapi dengan meja bundar dengan tumpukan buku cerita dan beberapa boneka di atasnya. Tidak melupakan rak-rak yang juga berisi boneka dan mainan. Seperti kamar bayi.
Setelah meletakkan tubuh mungil dalam gendongannya di atas kasur queen size di dalam kamar itu, Sasuke pun melangkah pergi meninggalkan gadis yang tengah lelap dalam tidurnya itu.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk membereskan kamar itu?" suara datar Sasuke menyapa indera pendengaran Itachi yang tengah duduk di sofa ruang keluarga ditemani perapian yang menyala-nyala, memberikan kehangatan bagi penghuni ruangan itu.
Itachi hanya tersenyum dan menjawab, "karena kamar itu memiliki banyak kenangan, jadi aku hanya mengganti warnanya saja."
"Kau-"
"Lebih baik kau obati luka di wajahmu itu. Aku heran kenapa kau dan Gaara selalu saja bertengkar karena masalah perempuan. Dulu juga pernah begini kan? Sekitar setahun atau dua tahun yang lalu ya?" sela Itachi memotong protes dari Sasuke.
Menuruti kata-kata sang kakak, Sasuke mendudukkan dirinya di depan Itachi yang mulai mengobati lebam di wajahnya (dengan ninjutsu/plakk!*reader: loe kira ni canon apa?). "Dulu dan sekarang permasalahannya berbeda," kata Sasuke.
"Jadi apa alasanmu sekarang, otouto?" kata Itachi yang dengan sengaja menekan lebam Sasuke dengan es batu di tangannya. Membuat sang adik meringis kesakitan dan melemparkan umpatan-umpatan yang harus disensor.
"Ukh, aku hanya mencoba untuk menyadarkannya," jawab Sasuke.
Itachi dengan gemas semakin menambah tekanan es batunya pada wajah Sasuke yang akhirnya berteriak "kuso aniki!" mendengar jawaban dari adik kecilnya itu. "Dulu juga begitu kan? Alasan yang sama."
Mereka berdua pun hanya diam. Hanya suara derik api yang melalap kayu bakar dan suara ringisan Sasuke saat Itachi dengan jahilnya terus saja mencuri kesempatan menekan lebam-lebam di wajah Sasuke saat menempelkan plester.
"Selesai," kata Itachi setelah menempel begitu banyak plester di wajah Sasuke. Ia pun lalu membereskan kotak P3K lalu meletakkannya kembali di laci meja di dinding yang ada di ruangan itu.
"Aku tidur duluan," kata Sasuke. "Masalah apa kali ini? Apa yang membuat gadis kecil seperti dia harus menahan diri dalam bersikap?" pertanyaan itu sukses menghentikan langkah Sasuke.
"…."
"Otuoto?"
"Karena dia dituntut untuk bersikap seperti itu," jawab Sasuke akhirnya, "harus memahami orang yang tidak memahami dirinya."
"Jadi masalah ini masih berhubungan dengan masalah setahun yang lalu?" tanya Itachi.
Sebelum melangkah pergi Sasuke menjawab, "tepatnya dua tahun yang lalu."
Itachi pun hanya membisu ketika mendengar jawaban Sasuke yang tampaknya dilanda emosi tingkat tinggi. "Rantai masa lalu itu belum terputus ya?" tanyanya pada keheningan malam.
Sementara itu Sasuke terus berjalan dengan langkah pasti menuju kamarnya sendiri. Tangannya terkepal menahan emosi, matanya yang hitam tampak mendeathglare apapun yang ada di hadapannya. Aura kemarahan terpancar jelas dari tubuh tegapnya. 'Selalu saja dia. Kenapa masa lalu itu tidak juga terlupakan, dan kini menjadikan orang yang tidak tahu apa-apa seperti dia harus menanggung hukuman atas kesalahan yang bukan miliknya? Tidak akan aku biarkan. Tidak akan aku biarkan Naruto tahu bahwa ia dijadikan pengganti diri'nya'!'
Suara burung yang bernyanyi riang dan sinar matahari pagi yang menyusup dengan nakalnya mengusik tidur seorang pemuda yang tengah bersembunyi di balik selimut tebal. Pemuda itu lalu mengerjapkan matanya pelan, sebelum menguceknya lalu bangkit berdiri menuju kamar mandi.
Setelah mencuci mukanya, ia pun menuju dapur saat mencium aroma masakan dan suara seorang gadis dan pria tengah beradu mulut. "Berapa kali aku harus memperingatkan kalian-" suaranya terputus saat mendapati dapur itu kosong dan rapi, aroma masakan yang sempat ia hirup pun menghilang. Tak ada tanda-tanda bahwa tadinya ada seseorang atau mungkin lebih yang menggunakan tempat itu sejak kemarin.
"Ah, aku lupa mereka tidak ada," kata pemuda berambut merah itu seraya menggaruk kepalnya yang tidak gatal. Ia lalu menuju kulkas dan mengambil sebotol air dingin dan hendak meminumnya sampai,
"Bukankah aku sudah bilang untuk tidak minum air dingin pagi-pagi Gaara? Lagi pula aku sudah menyiapkan air minum untukmu."
"Maaf aku lup-, ah sial!" umpatnya lalu segera meneguk air dingin di tangannya.
Setelah memuaskan dahaganya ia segera menuju ruang televisi yang sudah rapi setelah semalam ia memanggil orang untuk membereskannya. Ia pun duduk dan mencari channel yang menarik hatinya agar bisa sejenak melupakan masalah yang membuatnya penat.
"Ah, maaf aku tidak sengaja."
"Hn, lebih baik kalau kau menjaga sikutmu dari wajahku," katanya pada gadis yang telah menabraknya dan menyikut wajanya.
Si gadis tampak sangat terkejut, "ya ampun, ayo cepat kita ke ruang kesehatan!" seru gadis itu lalu segera menarik sang pemuda namun barus selangkah, tubuhnya sudah oleng dan malah jatuh ke arah sang pemuda berambut merah yang tidak siap menerimanya sehingga mereka berdua pun terjungkal kebelakang dengan kepala gadis itu menghantam dagu sang pemuda.
"Aduh!" keluh pemuda itu.
"Ah, maaf, maafkan aku!"
"Lupakan saja."
"Eh? Tidak bisa begitu. Pokoknya kita harus ke ruang kesehatan!" paksa si gadis.
"Hei!"
"Oh iya, siapa namamu?" tanya gadis itu tak peduli pada protes keberatan sang pemuda.
"Gaara. Sabaku no Gaara."
"Salam kenal, Gaara!" kata gadis itu riang dengan senyum manis di wajahnya yang membuat Gaara terpana," kenalkan aku…"
Gaara terkejut. Sangat. Ia tidak menyangka kenangan saat pertama kalinya ia bertemu dengan gadis itu kembali berputar di benaknya. Kenangan yang mengisi hatinya hingga saat ini, kenangan akan sosok gadis yang sangat ia cintai namun juga sangat ia benci. Kenangan tentang gadis yang telah memberikan luka pada hatinya.
"Sial!"
Mentari itu memang tersenyum,
Namun ia juga menangis,
Dan aku hanya bisa melihatnya dalam diam,
Ingin kuulurkan jemariku 'tuk menghapusnya,
Namun tanganku tak sampai tuk meraihnya,
Yang tersisa dariku hanya penyesalan
karena tak mampu menghapus tangis dimatanya…
"Ada lagi ya?" kata Naruto saat ia lagi-lagi mendapati secarik kertas berisikan kata-kata yang ditindis dengan batu saat ia tengah menikmati makan siangnya sendiri di atap sekolah. Ia memang tak pernah makan siang bersama teman-temannya karena ia tak ingin mendengar obrolan akan dunia yang tak kan pernah bisa ia masuki.
"Boleh makan di sini?" suara datar itu menyapa telinganya, sontak ia segera berbalik dan mendapati teman sekelasnya yang sangat suka memakai kacamata hitam itu berdiri di belakangnya.
"Shino! Silahkan duduk. Ini tempat umum kok," kata Naruto mempersilahkan.
Pemuda yang dipanggil Shino pun segera duduk tanpa banyak bicara dan segera menikmati makan siangnya dengan tenang.
"Shino, tumben sekali kau ke sini. Bukannya kau sering makan bareng sama Kiba?" tanya Naruto kemudian.
Aburame Shino, dia adalah anak yang cukup terkenal di sekolahnya. Bisa dikatakan sebagai bintang sekolah karena otaknya yang cerdas dan sifatnya yang tenang. Banyak teman seangkatannya yang tertarik dengannya, tapi ia tak pernah merespon. Ia selalu bersama-sama dengan Inuzuka Kiba, sahabat sejak kecilnya. Jadi sudah sewajarnya bila Naruto merasa heran karena kali ini Shino tidak bersama dengan sang partner.
Shino tidak menjawab selama beberapa saat. Setelah menghabiskan bekalnya ia pun menjawab, "ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Hm? Ahu?" kata Naruto dengan mulut penuh.
"Habiskan bekalmu dulu Sabaku-san," kata Shino lagi.
Naruto pun segera menghabiskan bekalnya. Lalu ia kembali bertanya pada Shino, "mau bicara apa? Tapi jangan panggil aku dengan nama marga, panggil aku dengan nama kecilku saja!"
"…."
"Shino?"
"Naruto, aku menyukaimu. Mau jadi pacarku?"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" dan Naruto langsung tersedak dengan air ludahnya sendiri.
"Maaf, aku tidak bisa."
"Kenapa? Kau sudah menyukai orang lain?"
"Aku rasa."
"Suka ya?" tanya gadis itu pada dirinya sendiri. Ia baru saja pulang sekolah dan sedang jalan sendiri di jalanan yang sepi. Entah ia menyadarinya atau tidak, ia kini telah berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Tempat yang beberapa bulan lalu ia datangi bersama Gaara. Tempat di mana kehidupannya sebagai seorang isteri ia mulai, tempat di mana ia selalu menghabiskan paginya bertengkar dengan Sasuke, dan Gaara yang akan menjadi penengah. Tempat yang baru saja ia tinggalkan kemarin. Apartemen mereka.
Seketika gadis itu tersentak ketika menyadari bahwa ia baru saja melangkahkan kakinya untuk memasuki gedung itu. Tak menunggu lama lagi ia segera berlari meninggalkan tempat itu.
Ia berlari, dan terus berlari tanpa tahu kemana langkah kakinya membawanya. Air matanya kembali terjatuh karena rasa perih yang ia rasakan saat kenangan akan Gaara dan Tayuya yang bersama hari itu kembali terlintas di benaknya. Rasa sakit dan perih, juga kekecewaan yang tak ia mengerti mengapa harus hadir di relung hatinya kembali membuncah, tumpah ruah bersama air mata yang kian deras terjatuh dari sepasang safir miliknya.
"Hosh….hosh…..hosh….!" dengan dua tangan bertumpu di lutut, pemilik rambut pirang cerah ini berusaha mengatus nafasnya yang tak beraturan sehabis berlari tadi. "Kenapa aku bisa tidak menyadarinya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Maaf dik, boleh kakak bertanya?" suara itu mengembalikan Naruto ke alam sadarnya. Ia pun menoleh tanpa menghapus air mata yang baru saja terjatuh dengan tambahan ingus yang juga ikut muncul sedikit, membuat sang penanya jadi ketakutan. "A…anu, kau tidak apa-apa?" tanya si penanya yang merupakan seorang wanita cantik dengan mata hijau yang menyiratkan kecemasan.
"Ah!" Naruto segera menghapus air matanya dan mencoba tersenyum seraya berkata, "kakak mau tanya apa?" dengan suara serak.
"Kau benar tidak apa-apa?" tanya gadis itu lagi mengabaikan pertanyaan Naruto. Naruto hanya mengangguk kecil dengan senyum yang ia paksakan kehadirannya.
"Kalau begitu mau menemaniku makan siang tidak? Aku lapar dan tidak tahu di mana ada restoran atau kafe di sekitar sini," pinta wanita itu. Dan Naruto, tanpa ada rasa curiga sedikit pun segera mengangguk, menyanggupi permintaan tersebut.
"Siapa namamu, dik?" tanya wanita itu lagi.
"Naruto."
"Naruto, kenalkan, aku Sakura," sahut wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Sakura-nee, kenapa pesannya banyak sekali?" tanya Naruto saat melihat berbagai makanan dipesan Sakura ketika mereka tiba di sebuah restoran. Tidak tanggung-tanggung wanita bernama Sakura itu segera memesan dua porsi ayam goreng, ayam bakar, dua gelas jus jeruk, dan ramen semuanya dalam porsi extra. Tidak termasuk makanan penutup es krim porsi jumbo dan salad buah serta pudding coklat dan strawberry.
Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum riang dan mulai menikmati makanannya, dan menjawab dengan mulut penuh, "haheha halau hahi hehah huhuh hahuh haha haha ha?"
"?"
Glek! Setelah menelan makanannya Sakura kembali menjawab, "tadi aku bilang, kalau hati sedang rusuh harus makan banyak kan? Seperti kamu sekarang ini. lagi bertengkar sama pacar kan?"
Wajah Naruto memerah mendengar kata 'pacar' disebutkan oleh Sakura. Sedangkan Sakura yang melihatnya hanya tersenyum maklum. "Dulu, aku pernah punya seorang pacar yang sangat aku cintai, dia juga sangat menyayangiku," kata Sakura memulai ceritanya. Saat bercerita ia tampak sangat sedih.
"Dia baik, sangat baik malah. Tapi, aku tidak bisa bohong kalau dari hari ke hari aku merasa jenuh dengan sikap baiknya dan malah berbalik menyukai temannya. Dia tahu, dan memaafkanku. Dia hanya memintaku untuk memilih antara aku dan temannya itu."
"Lalu Sakura-nee menjawab apa?" tanya Naruto penasaran.
"Aku menyayangi pacarku, tapi aku juga menyayangi temannya. Tetapi kebaikan pacarku membuatku tidak tega, dan aku pun memilih pacarku," jawab Sakura.
"Bukankah itu berarti Sakura-nee membohonginya?" tanya Naruto kemudian.
"Lebih tepatnya membohonginya dan hatiku Naruto," koreksi Sakura, "lama-lama aku menyesal dengan sikapku, karena ternyata aku tidak bisa menyayanginya lagi. Lalu aku pergi, tapi saat meninggalkannya aku baru sadar kalau ternyata aku masih sangat mencintainya. Karena itulah aku ingin kembali dengannya."
"Aku yakin, Sakura-nee pasti bisa," kata Naruto memberi semangat.
"Kalau kau bagaimana Naruto?" tanya Sakura yang membuat Naruto terdiam dan menunduk.
"Aku tidak tahu. Kami bersama, tapi aku tidak tahu apakah kami saling menyukai atau tidak. Lagipula aku pernah melihatnya bersama orang lain. Aku sama sekali tidak mengerti apapun," jawab gadis pirang itu.
"Dengar Naruto, saat kau merasa gugup di dekatnya dan merasa canggung, tetapi juga bisa jujur di hadapannya, itu berarti kau mencintainya. Jangan sampai kau menyesal setelah kehilangan dirinya," kata Sakura. Selang beberapa menit mereka terdiam, tiba-tiba saja Naruto berdiri dan berkata, "maaf Sakura-nee aku harus pergi sekarang." Setelah itu ia pun berlari pergi.
"Naruto!" seru Sasuke ketika melihat Naruto tengah berlari.
"Sasuke!"
"Kemana saja kau? Pulang sekolah-"
"Sasuke, maaf. Tapi aku harus pulang ke rumah," kata Naruto.
TBC
Next Chappie…..
"Gaara!"
Mata hijau itu terbelalak mendapati sosok gadis itu tengah berdiri di hadapannya, "Sakura."
"Maaf, tapi kini Gaara adalah suamiku. Saya harap anda tidak menemuinya lagi, Sakura-san."
"Naruto, kau?"
"Terima kasih untuk nasehat Sakura-nee tadi siang. Tadi aku adalah Naruto, seorang gadis yang masih bingung akan perasaannya," ujar Naruto, "tapi sekarang aku adalah Sabaku no Naruto, isteri Gaara."
semuanya...
saya mohon maaf karena belum bisa balas review di sini. sebisa mungkin saya akan balas reviewsnya melalui pm.
terima kasih.
dan saya harap kalian tetap suka fic ini...
salam sayang
Yume
