A/N: Hai! Maaf atas keterlambatan author dalam melanjutkan fict ini. Saya abis umm… mati? O_o XD

Major thanks to: The Devil's Eyes(makasi udh nge-follow fict aku :'3 ), Addys Noveanette (YANG SEKARANG AKUN FFN-NYA UDAH DI HACK SAMA ORANG BRENGSEK T_T),Vanya-Chan & Nakamura Noki(romance NaruKiba nanti bakal terasa, sekarang fokus ke family dulu),Shinji Tanaka(You're my mood booster, dude!),SingingBell, Azuza, &SJ Key(update-an sudah dataang ;D ), MoodMaker (no-no-no, sepertinya permohonanmu dirusak oleh author ini XD karena harapanmu ga sesuai dengan kenyataannya di fict ini #plakk)


NARUTO © Masashi Kisimoto

The Black Hole © Lemmiere Chrys

Sekali lagi, fict ini bukan dimaksudkan untuk bashing kok. Dan yang alergi yaoi jauh-jauh aja for safety

Rate: M for language, violence, and chara death for this chap.

Summary: Ayah. Akhirnya sosok yang mereka nantikan datang. Tapi keberadaannya tidak bisa Kiba terima begitu saja karena orang itu telah berbuat suatu hal yang terlanjur menjadi 'ampas kopi pahit' yang mengendap di hatinya.

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=x=

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=xx=x=x=

KIBA POV

Yang terdengar di ruangan itu hanyalah suara para komedian di televisi yang melontarkan lelucon—yang menurutku sangat garing. Deidara menatap televisi namun tidak menontonnya. Pikirannya tampak kosong dan wajahnya kusut, lebih kusut dari biasanya. Sedangkan Kirei dan aku hanya … menatap sesosok pria berbadan tegap dihadapan kami. Yoshio Iwa, ayahku.

Sesuai surat yang telah dikirimnya, ayah memang benar-benar kembali.

Aku tak begitu bisa mengingat rupa ayah. Yah, untuk apa aku memikirkannya. Itu bukan hal penting. Namun warna rambutnya masih sama seperti dulu—kuning seperti Deidara. Badannya tegap, kekar seakan-akan dia rajin berolahraga. Ada codet di wajahnya, mungkin wajahnya tergores sesuatu. Fisiknya memang jauh berbeda dengan aku dan Kirei. Kami memang mewarisi fisik ibu. Bahkan nama belakang kami pun diambil dari nama keluarga ibu.

Sungguh, pandanganku tak henti-hentinya menatap pria itu. Seluruh pikiran bergejolak didalam kepalaku, menusuk-nusuk seperti ingin keluar dari kepala. Yah, itu semacam; 'Ini ayah?' 'Untuk apa dia kemari?' 'Apa dia masih mengingatku dan Kirei?' 'Oh pasti dia hanya sehari berada disini. Setelah itu meninggalkan kita lagi.'

"Ada apa Kiba? Melihatku seperti itu…" teguran ayah membuyarkan semua skenario didalam kepalaku.

Aku pun sadar bahwa dari tadi aku memandang ayah seperti polisi yang sedang menginterogasi seorang tersangka, "Uh-oh. Tidak."

"Kirei? Ingat aku?" ayah tersenyum lembut pada Kirei. Senyumnya masih sangat kuingat sejak malam dimana ayah pergi meninggalkan rumah.

Kirei hanya terdiam, memandang ragu ayah. Bukan salah Kirei ia bersikap seperti itu. Kirei masih berumur empat tahun saat ayah pergi, dan waktu itu ia baru saja sadar dari comma selama dua minggu—oke, Kirei memang memiliki fisik yang lemah—dan hal itu tentu saja membuat ingatannya kurang baik.

"Ah, tentu saja. Bukan salah kalian lupa padaku. Memang aku yang—"

Aku dengan lancang menyela ucapan ayah, "Ya! Memang ayah yang meninggalkan kami disini! Hanya bersama adikmu itu!"

"Kiba, turunkan suaramu! Memang, aku tahu aku salah. Aku telah meninggalkan kalian berdua sejak ibu pergi. Tapi apa yang salah dengan Deidara?" ayah merasa heran.

Oh Tuhan, aku tak mungkin menjelaskan semua hal mengenai Dei di hadapan ayah, Kirei, bahkan Dei sendiri. Padahal aku sangat ingin...

"Ooh lupakan saja tentang Dei! Intinya, kau meninggalkan kami disini. Kami hidup seakan-akan merupakan anak yatim piatu! Dan tiba-tiba hari ini kau datang. Apa yang ada di pikiran ayah? Mencoba untuk mengubah semuanya?" mataku mulai terasa panas, "Hey, ayah. Apa yang ayah lakukan bila berada di posisi kami? Bila orang bertanya-tanya dimana ayah dan ibumu, bila orang bertanya-tanya apa pekerjaan orangtuamu, dan bila mereka semua ingin tahu tentang keluargamu?"

"Aku..." ayah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

"Kami hanya bungkam, ayah," kini giliran Kirei yang bicara, "Dan bila pada akhirnya kami terdesak, kami hanya berbohong—mengarang cerita. Ibu dan ayahku sedang bekerja diluar negeri. Begitulah yang selalu kami katakan." kini wajah Kirei sudah basah dengan air mata.

"Aku memang begitu tolol nak, tapi sungguh, disaat ibu kalian meninggal, aku begitu hancur. Tidak, bukan hanya diriku yang hancur, tapi keluarga kita ini. Disaat ibu masih mengandung Kirei, aku dipecat dari tempat bekerjaku. Lalu ketika ibu melahirkan Kirei, dia berpulang. Seolah-olah penderitaan ini masih kurang, aku tak dapat melunasi berbagai hutang. Rumah kita, sudah seharusnya disita. Dan aku tahu bila kita tidak pergi darisana, aku hanya akan membahayakan kalian. Tepat sehari setelah aku menitipkan kalian pada Deidara disini, para yakuza mendatangi rumah kita dulu. Akhirnya aku pergi berkelana untuk menghindari kejaran yakuza itu—terkadang aku mencari uang dengan menjadi seorang arkeolog. Aku meneliti tempat-tempat kuno yang terpecil. Dan aku hanya dapat berharap kalian baik-baik saja disini. Suatu keuntungan bahwa kalian menyandang nama ibumu sebagai nama keluarga." ayah menarik napas dengan dalam.

"Inuzuka. Itulah nama kami berdua. Sedangkan ayah masih memakai nama Iwa." ujarku.

Ayah mengangguk, "Ya. Tapi tidak, ayah berkelana tanpa memakai nama itu. Aku berulang kali berganti-ganti nama. Banyak identitas, kau tahu? "

"Seperti teroris." Kirei yang tadinya menangis kini tersenyum kecil, menahan tawa.

"Haha, ya begitulah aku. Lalu bagaimana dengan kondisimu, Kirei?" ayah tersenyum lembut membelai rambut Kirei.

Kirei tersipu, lalu tersenyum manis, "Aku tidak apa-apa. Aku tidak lemah, ayah! Bahkan aku juga pergi sekolah."

"Bagus sekali, Kirei. Semangat yang tinggi," ayah menunjukan cengirannya, lalu berpaling kepadaku. Ia menepuk tengkuk ku yang masih terasa sakit, "Dan bagaimana dengan sekolahmu, Kiba?"

Aku terdiam sejenak—menahan rasa sakit. Ayah menyadari aku yang membisu, "Ada apa, nak?"

Ucapannya membuyarkan aku yang terdiam, "Ah, tidak apa-apa. Baik yah, kehidupan sekolahku baik-baik saja. Tidak ada yang spesial."

"Begitukah? Bagaimana dengan nilai-nilaimu?"

"Um ... standar, yah." ucapku hati-hati. Bagaimanapun, aku memang tidak bodoh, tapi aku bukan orang yang kelewat jenius seperti Shikamaru ataupun Hyuuga.

Kupikir ayah akan marah atau kecewa, namun ia justru tertawa, "Tidak apa-apa. Setidaknya kau tidak sepertiku yang di cap sebagai anak badung saat sekolah dulu. Ha ha ha…"

Kami terus bersenda gurau dengan ayah. Kirei tampak ceria sekali, ia tertawa lepas. Begitu juga denganku. Sedangkan Dei telah masuk ke ruangannya sedari tadi. Sungguh, saat-saat seperti inilah yang amat kuinginkan. Saling bercerita, bercanda, oh seakan-akan semua hal yang mengganggu lepas dari pikiran kita. Namun, walau begitu masih ada satu hal yang terus menyangkut di kepalaku. Deidara.

Aku benar-benar berharap ayah akan membawa aku dan Kirei keluar dari tempat ini, tinggal di rumah baru. Aku ingin jauh dari Deidara.

Tak sadar, waktu sudah berjalan hingga pukul dua dini hari. Kirei terlelap di sofa, seakan-akan tidak ingin mengakhiri percakapan dengan ayah.

"Kiba, bawa Kirei ke kamarnya. Jangan sampai ia jatuh sakit." ucap ayah sambil merapikan lembaran koran.

"Iya, baiklah," aku menuju Kirei dan hendak menggendongnya, namun aku akhirnya mengeluarkan suara, "Ayah. Masih ada yang … ingin kubicarakan. Hanya berdua dengan ayah."

Ayah menaikan alisnya, "Apapun itu Kiba, sebaiknya kau ceritakan itu besok pagi. Kita sama-sama lelah, bukan? Tidurlah." ia tersenyum lembut. Oh aku heran, dengan codet sebesar itu di wajah, bagaimana ia bisa tampak begitu ramah.

Aku bergumam, dan merasa sedikit kecewa, "Um … baiklah. Tapi aku benar-benar menunggu ayah besok pagi, ok? Aku tak akan memaafkan ayah untuk yang kedua kalinya bila besok ayah pergi lagi." aku tersenyum kecil.

"Oh tentu, Inuzuka-ku! Ha ha ha." ia tertawa renyah.

Setelah membaringkan Kirei di ranjangnya, lalu aku berbaring ke ranjang—milikku sendiri tentunya—dan setelah kepalaku dipenuhi oleh pikiran tentang ayah, mataku terpejam dan aku jatuh tertidur.

**Keesokan harinya**

Aku terbangun dari mimpiku. Mimpiku malam itu tentang ayah. Kucoba mengingat-ingat mimpiku kembali, tapi aku tidak bisa. Yah, mimpi memang tidak akan bisa sepenuhnya teringat.

Aku sedikit terkejut ketika melihat alarmku di meja. Memang sengaja kumatikan alarmnya karena ini hari libur, namun yang membuatku terkejut adalah posisi jarum pendeknya. Jarum pendek telah menunjukan angka sepuluh pagi. Wow, sungguh heavy sleeper aku ini. Namun rupanya Kirei pun belum terbangun dari tidurnya.

Aku membangunkannya, mencoba mengguncang pelan tangannya. Tapi tangan itu terasa panas. Suhu yang sama pun kurasakan saat aku menempelkan punggung tanganku di dahi Kirei. Wajahnya juga memerah. Demam.

Segera saja aku membuka laci lemari. Laci itu dipenuhi oleh berbagai macam obat untuk Kirei. Kuambil sebotol paracetamol, namun sialnya botol itu kosong. Isinya mungkin telah habis diminum Kirei saat ia drop sebelumnya. Tak ada jalan lain, aku akan membeli obatnya lagi.

Setelah melakukan mandi yang sangat singkat (hey jangan salahkan aku, aku terburu-buru!), aku pergi ke ruang tamu untuk pamit dengan ayah. Namun flat itu sepi. Tampaknya Deidara sudah pergi dan ayah pun masih terlelap di sofa panjang. Yeah, kurasa bukan hanya aku yang bangun kesiangan. Dan tanpa membangunkan ayah, aku keluar untuk mencari toko obat.

KIREI POV

Aku terbangun dengan rasa pusing yang sangat mengganggu. Kepalaku rasanya berat sekali, dan badanku pegal-pegal. Tubuhku rasanya panas, pasti aku demam—lagi.

Nii-san pasti sedang pergi keluar, tapi kemana ya kira-kira?

Aku berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Kulihat ayah tertidur di sofa. Setelah menghabiskan air, au mengambil selimut dari kamarku dan kembali lagi ke ruang tamu untuk menyelimuti ayah. Aku tersenyum simpul melihat wajah ayah yang sedang tertidur. Begitu damai dan hangat. Aku belum pernah melihat wajah seperti itu sebelumnya. Yeah, sejak usia empat tahun, aku lupa seperti apa wajah ayah ayahku sendiri.

Aku ini memang aneh. Aku sering jatuh sakit, punya fisik yang lemah, dan bahkan terkadang aku sulit untuk mengingat hal yang sudah lama terjadi. Dan aku tidak tahu apa sebetulnya penyakitku ini. Dei tidak pernah membawaku ke rumah sakit untuk check up. Kiba memang sesekali membawaku berobat, tapi karena Dei tidak memberi uang untuk membayar pengobatanku, Kiba hanya bisa menggunakan uang sakunya untuk membawaku ke klinik kecil saja.

Eh. Aku baru sadar bahwa aku telah melamun. Daripada aku menganggur, aku memutuskan untuk mandi. Siapa tahu setelah mandi badanku akan menjadi lebih segar sedikit.

Kuhabiskan waktu selama tiga puluh menit untuk mandi. Lalu suara keras mengejutkanku saat aku sedang menyisir rambut di depan cermin. Aku tidak pernah mendengar sesuatu berbunyi dengan keras seperti itu. Karena penasaran, aku keluar dari kamar. Namun baru saja aku sampai di meja makan, tubuhku seakan-akan membeku. Buluku terasa seperti berdiri semuanya, dan lama kelamaan kurasakan kakiku bergetar.

Tepat di sofa berlengan, ayahku duduk dengan koran di tangannya. Ada darah tepat di dada ayah. Lalu Dei, dan temannya—aku lupa siapa nama temannya itu—berdiri dihadapan ayah. Temannya memegang sebuah besi berpelatuk, sedangkan Dei bersender di pintu masuk menonton ayah yang kelihatannya sudah … mati?

"A-ayah…" suaraku tercekat.

Segera saja mereka berdua menyadari kehadiranku. "Ohayou, Kirei…" pamanku menyunggingkan senyum sambil menyapaku.

"Ayah … ayah!" aku masih tidak bisa dengan lancar mengeluarkan suaraku.

"Mati, tentu saja." pria berambut keperakan itu mengantongi besi berpelatuk itu kedalam saku jasnya.

"Ti-tidak…" air mata mulai menyeruak keluar dari mataku, turun membasahi pipiku.

"Hey, kau kenapa, keponakanku? Kau seharusnya senang kok, karena aku akan membuatmu menyusulnya." Dei berkata seperti itu, dan ia maju menuju tempatku berdiri. Wajahnya sangat mengerikan, seperti binatang. Aku ingin lari, tapi tubuhku menolak untuk bergerak. Yang dapat kulakukan hanya mengeluarkan teriakan, yang segera saja dibungkam oleh Dei.

To be continued…


A/N: satu atau dua chapter lagi mungkin akan tamat ._. Btw, gomen, aku gabisa dekskripsikan apa penyakit Kirei XD lol. Dan maaf rasanya fict ini gaje banget =_= apalagi ayahnya Kiba. Duh, yakali ada arkeolog kayak teroris kerjaannya kabur mulu XD #plakk #OCgagal