Previous On...

Sasuke pulang dari New York tepat pada hari dimana Naruto menghilang. Err, ini menimbulkan banyak masalah. Apalagi kata-kata perpisahan Naruto yang sangat jelas memberiku rasa galau.

"Meskipun ini permintaan yang egois, aku mohon…berjanjilah padaku, Jika Sasuke pulang nanti, tunjukan padanya betapa kau mencintainya dan jangan pernah kau hiraukan aku. Jangan pernah kau fikirkan tentang aku. Paham?"

Si Bangsat Bajingan Uchiha Sasuke tak pernah mempercayaiku. Yeah, entah sejak kapan. Itu membuatku merasa sangat kecewa karena selama dia pergi, aku selalu menjaga Naruto dengan baik. Penjagaan yang ku lakukan karena mengharapkan perhatian Sasuke.

.

.

Menangislah Untuk Tersenyum

.

.

Chapter 4

"I Hate To Hating"

~Kohan44~

.

.

.

"Dengar Karin, cinta itu bukan perasaan yang mudah. Aku tidak tahu cinta apa tepatnya yang kau rasakan. Aku hanya ingin kau tetap tersenyum. Karena cinta itu terkadang berbalik menyeramkan. Jika suatu hari nanti itu terjadi, kau boleh datang padaku. Kita bisa berbagi suka dan duka. Janji?"

Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti. Beberapa menit yang lalu, senpai menyatakan perasaannya padaku secara gamblang. Sekarang, dengan mudah dia bertindak sebagai kakak. Ini membuatku bingung. Selain ini pertama kalinya ada yang menyatakan cinta padaku, aku selalu tidak tahu apa yang harus ku lakukan setiap kali berada di sisi senpai.

"Sai.. senpai…"

"Nah, bagus! Jika kau ragu, kau tak perlu membuat janji. Jika kau tidak suka, kau tidak perlu menerima. Hidup itu bagian dari kebebasan."

"Senpai…"

"Eh? Kau kenapa? Apakah kata-kataku salah?"

"..hiks.. hiks.. senpai…"

"Ja-jangan menangis!"

"Doushio? ..hiks.."

Senpai dengan wajah panik, tak tahu apa yang harus dilakukannya karena aku menangis tanpa alasan yang dia ketahui. Sai senpai tahu, aku benci saat seseorang menyentuh kacamataku. Tetapi di lain pihak, dia ingin menyeka air mataku, menghapus sedih di baliknya.

"Kenapa senpai selalu di sisiku? ..hiks.. doushio? apakah senpai tidak pernah merasa sakit? ..hiks.. karena aku tidak pernah mencintai senpai walau hanya sedikit. ..hiks.. hiks.."

"Bagiku, rasa sakit itu… timbul saat kau kehilangan senyum…"

Dan aku tetap menangis meski senpai berkata demikian. Aku tak peduli seberapa terlihat cengengnya aku di hadapan senpai.

"Aku ingin menjadi sesuatu yang dapat menghentikan tangismu.."

Isakku masih tak berhenti sampai sebuah sentuhan lembut di bibirku terasa begitu mengagetkan. Tetes air mata terakhir menitik. Angin musim panas berhembus ramah. Mengeringkan jejak air mata di pipi. Nafasku tercekat begitu menyadari Senpai memiliki cara yang tak dapat ku duga untuk menghentikan air mata. Bagaimana dia memagut bibirku dan menyentuh lidahku adalah bagian yang membuat air mataku benar-benar terhenti. Mengalihkan pikiranku dari hal yang sedang ku tangisi.

"Nah, sekarang kau berhenti 'kan?"

Ku tundukkan kepala dalam-dalam. Menyembunyikan rona merah di kedua pipiku. Aku tak bisa mengungkiri rasa senang karena tindakan senpai barusan. Meski aku tak yakin oleh sebab rasa senang itu sendiri.

"…arigatousenpai.."

.

~I Hate To Hating~

.

Matahari menyeruak masuk dari cela-cela ventilasi. Kaca jendela bergetar tiap batu kecil membentur. Aku mengerjap-ngerjap ringan karena merasa terganggu oleh gaduh kaca. Merentangkan kedua tangan kemudian bangkit dengan rasa sakit kepala luar biasa.

"Errrghhtt… shit!"

Masih dengan pemandangan buram, aku membuka tirai. Melepas cahaya bebas masuk sembari menghindari kontak langsung dengan cahaya matahari dan membuat anak-anak yang melempari kaca jendelaku berlari terbirit-birit karena kaget. Sayang sekali, aku tidak sempat mencaci mereka. Padahal aku sedang ingin mencaci.

"Cih! Bocah…"

Kemudian aku berjalan gontai menuju dapur. Duduk tenang di kursi meja makan dan menunggu sesuatu yang entah apa itu.

"Mattakun…" gumamku begitu sadar aku menunggu hal yang tidak mungkin datang. Aku lupa, hari ini Naruto tidak ada. Itu artinya tidak ada pula yang memasak suatu makanan untukku. Kembali aku beranjak menuju ruang tengah. Melihat selewat jam dinding. Pukul dua siang tepat. Tidurku cukup lama juga.

Drrrrdd.. drrdd.. drrrdd… "kahosoi hi ga kokoro no haji ni tomoru.. Itsu no manika moe hirogaru netsujou…"

Getar khas dan alunan melodi piano dari lagu Magnet menarik tubuhku secari otomatis mencari ponsel. Tanpa banyak peduli, ku lempar satu persatu bantal dari ranjang. Mengacak-acak seluruh kasur sampai aku bisa menemukan ponsel flap kesayanganku.

"Geez…" aku mulai menggerutu lagi ketika aku melihat tampilan layar ponsel. 72 panggilan tak terjawab dan 30 pesan diterima. Ada 29 pesan berisi sumpah serapah dari Shikamaru yang dikirim dalam waktu yang berbeda, dan satu pesan yang membuatku tertegun cukup lama. Satu pesan dari alamat mail Sasuke.

"Apakah kau sudah bangun? Aku di luar, menunggumu…" dikirim jam 07.59 pagi tadi. Buru-buru jempolku bergerak lincah menuju menu log panggilan. Nama teratas dari panggilan tak terjawab yakni, Nara Shikamaru. Sisanya adalah deretan nama Sasuke. Waktu terakhir dia mencoba meneleponku pada jam 08.43 pagi, beberapa menit setelah aku bertemu Sasuke.

Yang ku tanya-tanyakan adalah bagaimana bisa Sasuke mengetahui nomor ponselku? Ah, shit! Sekarang dia orang kaya yang bisa membeli salah satu pulau kecil di Indonesia. 'Membeli' nomor ponselku tentu saja hal yang mudah baginya dengan bantuan FBI. Aku sendiri mendapatkan alamat mail dan nomor ponsel Sasuke secara diam-diam dari ponsel Naruto. Menyimpannya selama tujuh tahun. Hanya menyimpannya saja dan tak pernah menghubungi Sasuke sekalipun. Ya, aku tahu itu terdengar menyedihkan. Cukup. Tidak usah dibahas panjang lebar.

Sasuke benar-benar mencari Naruto. Tapi aku belum tahu alasan dia pulang ke Jepang secepat ini. Ku dengar dari Naruto, Sasuke seharusnya pulang dua tahun lagi.

Flop! "Masa bodo…" ku lempar ponsel ke atas kasur setelah menutup flapnya keras-keras.

Ku lempar tubuh di sofa yang empuk. Menyalakan tv dan berusaha berkonsentrasi dengan apa yang ku tonton. Ah… aku tidak bisa mengungkiri bahwa aku benar-benar lapar dan tak sanggup hanya berdiam diri saja. Aku tidak bisa menolak keinginan perut.

Aku kembali ke ranjang. Memungut ponsel yang tadi ku campakkan. Mengenakan jas dan syal. Menyelipkan dompet di salah satu saku jas. Kali ini aku benar-benar ingat mengunci pintu dan menyimpan kunci itu sendiri dalam saku. Sambil berjalan menuju lift, aku memikirkan tempat makan mana yang enak. Aku rasa kedai ramen saja cukup.

.

Uap kuah ramen menyebar kemana-kemana. Tak bisa dibedakan antara uap ramen dan uap nafas. Suhu mendadak dingin sekali meski salju belum juga turun. Aku terus meneguk sake sendirian. Mengabaikan seberapa panasnya aku. Pasti pipiku kemerahan sekarang. Ah, siapa yang peduli? Aku di sini ingin melepas beban pikiran.

"…si bangsat bajingan itu… harus membayar segalanya~" aku menggumam kurang jelas dalam suara cukup besar dan diakhiri dengan sendakwa yang membuat orang-orang di sekitar menatapku aneh. Namun aku dalam keadaan setengah mabuk. Segala hal yang seharusnya membuatku tak nyaman, ku tepis dengan enteng dan tidak menjadi beban pikiran.

"Maaf nona, apakah bangku di depanmu kosong?"

"..akan ku bayar setiap satu balok kecil otaknya. Yaa… jika otaknya pintar." Ku teguk satu gelas penuh sake sekaligus.

"saya rasa kosong. Terimakasih telah membiarkan saya duduk di sini."

"..bajingan itu tidak akan datang. Melemparku sesuka hatinya. Dia pikir aku ini ibu kekasihnya apa? Bahkan aku tidak mendapat bayaran satu sen pun!"

"Apakah nona sedang punya masalah?"

"Masalah hiks.. sepele."

"Sou ka?"

Aku melirik orang di hadapanku sepintas. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Pemandanganku serba beruap dan buram. Yang jelas, dari posisi dia duduk, dia sedang bertopang dagu memperhatikanku. "..hiks.. cinta bertepuk sebelah tangan. Ironisnya, hiks dia berpacaran dengan euuugghhsendakwa―teman dekatku sendiri."

"Dan kau terus mencintainya selama tujuh tahun?"

Sontak aku menengadah, menatap lurus-lurus orang di hadapanku. Tangan kananku meraba-raba permukaan meja sebelah kiri. Mendapatkan tekstur kacamata lalu buru-buru memakainya. Beberapa kali mataku mengerjap dengan kerutan ekstrim di kening.

"Tehee~ Ohisashiburi!"

Aku membuang nafas tak acuh. Melepas kacamata lalu meneguk secangkir sake lagi. "ku kira siapa… kenapa kau masih di sini? Kau bilang tugasmu selesai."

"Ya, memang sudah selesai. Sekarang aku bekerja di Jepang, bukan sebagai agen."

"Kau dipecat?"

"Tidak. Aku mengundurkan diri. Menjadi seorang agen itu berat jika kita memiliki keluarga."

Sekilas aku meliriknya lesu sementara jari-jari kananku memainkan cangkir sake dan tangan kiri menopang dagu. Mengingat-ingat dengan baik dua tahun yang lalu di musim panas. Pertemuan pertamaku dengan agen rahasia FBI. Dia mengenalkan dirinya sebagai Kiba. Entah nama asli atau bukan. Oh, sekarang dia lebih cocok disebut mantan agen rahasia. Dulunya dia salah satu sewaan Sasuke. Dia salah satu dari dua agen yang dekat denganku. Biasanya, jika Naruto sedang di dalam apartemen atau sudah tidur, kami sering bercakap-cakap singkat.

"Kau sudah punya istri, huh? Berapa anakmu?"

"Ahahaha tidak! Tidak! Aku baru mau berkeluarga."

"Oohh… aku kaget. Umurmu kan masih muda. Kapan kau menikah?"

"Ahahaha ettou.. anou, sebenarnya perempuan itu.. ettou.. masih calon pacar. Eehehehhe" aku membuang lirikan darinya. Entah kenapa aku merasa tak bersemangat. Mungkin ini bawaan dari rasa lesu kelelahan. Biasanya aku bisa tertawa terbahak-bahak bersama anak ini. Sikap dan tingkah lugunya lah yang sering membuatku ingin tertawa.

"Siapa perempuan itu? Siapa tau aku kenal."

"E-ettou… ahahha Karin-san tidak akan kenal."

"Sou ka? Hm… aku pikir semua agen rahasia itu pandai memikat dengan bakat 'aksi pertunjukan' yang memukau. Jadi, kau pasti bisa mendapatkannya." Kataku sambil memperhatikan lalu lalang orang-orang. Ada yang sedang memesan, sibuk makan ramen, sibuk mengobrol sampai mengacuhkan ramen, dan sibuk dengan telepon genggam.

"So-sou nanda…"

Aku memutar kepala perlahan-lahan ke arah Kiba. Aku tak tahu dia kenapa. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dengan jelas. Lagi pula, sepertinya dia sedang menunduk. "he? Kenapa?" tanyaku.

"Me-menurut Karin-san, apakah perempuan yang bertingkah kasar.. e-eh? Maksudnya tomboy, e-eh! Bukan! Bukan! Yang tidak terlalu feminim…"

"Maksudmu seperti aku? Atau maksudmu menyindirku, hah?"

"I-iya, eh tidak! Maksud saya, mirip Karin-san! menurut Karin-san… apakah dia akan.."

"Jika kau berusaha meraihnya, kenapa tidak?"

"Ha?"

Kiba nampak tercekat kaget. Dia pikir aku tidak bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya? Dia tipikal orang yang sulit mengatakan sesuatu hal yang menurutnya adalah bagian dari privasi. Tapi tanpa dia sadari, sebelum dia bisa mengatakannya, dia telah menjelaskan segalanya.

"Kau seorang agen 'kan?" aku diam beberapa saat, menunggu jawaban dari Kiba. Namun, Kiba malah diam, menunduk ragu-ragu. "yaa.. walaupun sekarang kau seorang mantan agen, tetap saja dulu kau pernah menjadi agen. Menurutku, sebenarnya kau memiliki kepribadian yang mature. Kau pasti tahu kan seorang agen itu harus pandai menggunakan minimalnya senjata api?"

"Ya, benar.. tapi.. selama aku bertugas, aku tidak pernah mendapat tugas berat, seperti menakhlukan bom atau menangkap teroris kelas C. tugas yang paling berbahaya yang pernah ku lakukan hanya mengawal presiden. *sigh*"

"Hahaha kau lucu!" aku tertawa palsu. "kau pernah mengawal presiden Amerika 'kan? Kau pasti berlatih simulasi kemungkinan bahaya yang terjadi 'kan? Jadi, secara tidak langsung, kau seolah-olah telah berperang melawan musuh bersenjata yang levelnya mungkin setingkat dengan kelas A."

"Tapi kan itu simulasi penyerangan yang direncanakan…"

"Hahh… kau ini.. berapa umurmu sekarang?"

"Dua puluh satu.."

"Kau harus mencari pasangan yang mencintaimu karena dia merasa nyaman saat bersamamu. Tidak peduli seberapa membosankannya kau dan sejelek atau semiskin apapun kau. Tetaplah menjadi dirimu sendiri."

"Eh? Tapi bagaimana jika dia tidak mau dengan aku yang seperti ini?"

"Aku kan sudah bilang, cari pasangan yang mencintaimu karena dia merasa nyaman saat bersamamu. Bukan berarti kau harus menjadikan perempuan yang sedang kau incar sekarang ini harus menjadi pasanganmu. Masih ada banyak perempuan… santai sajalah.. lagian umurmu masih 21 tahun."

"Tapi.. tapi.. tapi aku ingin dia!"

"Haaa dasar kau anak manja! Untuk apa kau mecintai jika itu artinya melukai diri sendiri? Cintailah orang yang patut kau cintai!"

"Karin-san sendiri mengejar-mengejar Sasuke-sama sampai tujuh tahun." Keluhnya datar.

"Apa? Waktu itu aku masih terpengaruh pikiran anak SMA!"

"He? Maksudnya, sekarang Karin-san sudah….?"

"Yaa.. kau tidak perlu tahu juga sih. Sudah, ah!" aku bangkit berdiri. "aku masih punya banyak pekerjaan rumah. Sampai nanti!"

Di situ lah pertemuan antara aku dan Kiba berakhir. Seharusnya sih kami menghabiskan waktu lebih banyak dari pada ini. Hampir dua tahun kami tak bertemu. Dipertemukan oleh musim panas, dan dipisahkan oleh musim dingin. Siapa sangka musim itu berpengaruh. Semoga dia bisa mendapatkan seseorang yang bisa menerima dia apa adanya. Semoga saja…

.

.

Senja nampak enggan ditelan malam. Samar-samar deret kereta melaju terdengar semakin menjauh. Kali ini aku bisa mendengar dan melihat segalanya dengan begitu jelas. Aku telah terbebas dari pengaruh sake. Aku duduk di beranda apartemen, menikmati dua botol anggur pemberian tetangga sebelah.

Pada dasarnya aku bukanlah seorang pemabuk, tetapi kondisi membuatku seperti ini. Yahh.. apa boleh buat. Lagi pula anggur ini bisa mubazir jika tidak diminum. Sepertinya aku tidak akan mabuk hanya karena anggur.

"…Wataru~ ayo cepat!"

Oh, aku mendengar teriakan anak remaja di bawah sana. Teriakan yang nyaris melengking. Terdengar sangat manja. Pasti anak SMA. Ini bukan ilusi.

"Aku sedang berusaha!"

"Ayoo~ kayuh sepedanya lebih cepat!"

"Berat badanmu naik lagi ya?"

"Hoaa kau jahat!"

Sejujurnya, aku benci masa-masa SMA. Aku benci mengenal Namikaze Naruto. Tapi aku lebih benci mengenal seorang teman. Semua itu jika diingat-ingat lagi sekarang, membuatku membenci segalanya. Aku tidak ingin masa lalu terjadi di masa sekarang. Aku tak mau…

.

.

.

"Karin.."

"Hn?"

"Coba tebak… jam istirahat tadi Sasuke mengatakan apa padaku?"

"Apa?"

"Dia bilang…"

Aku tahu… aku tahu dengan tepat. Membuatku ingin menjerit dan menangis. Ini berita buruk bagiku. Lebih baik aku tertidur lalu terbangun di esok hari. Berpura-pura hari ini tidak pernah ada. Karena itu, aku tak mau mendengar apapun. Tolong jangan katakan apapun…

"Begitukah? Waaw… dia benar-benar mengatakannya padamu?"

"i-Iya.. k-kau tidak merasa aneh?"

"Hahha sekali-kali mainlah ke kamarku. Ada banyak manga shonen ai di rak mangaku."

"B-benarkah? Jadi kau tidak keberatan jika aku berpacaran dengan Sasuke?"

"kenapa aku harus keberatan? Aku senang dua kawanku menjadi satu. Hihihi."

"Syukurlah…"

Berhenti tersenyum.. ku mohon… aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Tidak bisa… berapa kalipun aku mencoba… seperti ada luka yang terus-menerus membuat tubuhku merasa sakit. Aku tidak bisa menahannya lebih lama dan aku tidak bisa menangis… sama sekali tidak bisa. Karena itu, aku tersenyum sebagai pengganti dari tangis…

.

.

.

Drrrdd! Drrrdd! Drrd! Yurusarenai koto naraba nao sara noe agaru no… dakiyosete hoshii takashimete hoshii… FLOP!

Aku menutup flap ponsel. Mengabaikan siapa yang menelepon. Mataku masih layu sama seperti pada saat aku dibawah efek sake. Aku yakin betul, sekarang ini aku tidak sedang mabuk. Aku hanya sedang terkena syndrome malas berfikir. Mungkin tidak masuk akal, tetapi itu benar.

Bosan juga hidup tanpa kesibukan. Apalagi sekarang aku tak punya tetangga yang bisa di ajak berbagi. Emm… aku butuh seseorang untuk menemaniku. Erght! Pada akhirnya aku membutuhkan teman juga. Hal yang sulit aku terima.

"Mattakun…"

Jadi teringat Kiba yang mencari seseorang yang dapat menerima dia apa adanya. Adakah seseorang yang seperti itu untukku? Mungkin ada.. mungkin juga tidak ada. Hari ini aku bertemu dua orang yang sedang 'mencari'. Sasuke memiliki jalan yang sama dengan Kiba. Apa tidak apa-apa ya aku tidak membantu Sasuke?

Pst! Aku sudah membantu Sasuke lebih dari tujuh tahun ini. Bukannya aku pamrih, tapi itu lebih dari batas wajar. Lagi pula bukan salahku juga jika Naruto menghilang. Suruh siapa pergi jauh ke New York. Memangnya Jepang tidak cukup luas untuk dia, hah? Atau… Naruto menghilang karena aku? Karena pertengkaran kecil semalam? Oh my god.. aku sering sekali bertengkar dengan Naruto. Sumpah demi lobak, tadi malam itu pertengkaran yang bukan apa-apa dibanding pertengkaran sebelum-sebelumnya.

"Kuso!"

Aku bangkit dari kursi beranda. Mengambil mantel dan syal yang lebih tebal. Kembali lagi ke kursi beranda untuk mengambil ponsel. Buru-buru aku mengambil kunci apartemen di atas tv tanpa menutup pintu beranda. Bergegas aku pergi dengan sepatu boots se-betis. Dalam langkah lebar-lebar, aku mengetik beberapa huruf di ponsel. Lalu menempelkan ponsel di telinga. Beberapa detik aku menunggu selagi nada sambung berdengung.

"Kiba?" sapaku langsung. "kau dimana sekarang? ….tidak, tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Tunggu di situ, aku segera datang. …tunggu saja!"

FLOP! TING! Tepat setelah menutup flap ponsel, kakiku melangkah masuk lift dan pintu lift segera tertutup. Dalam diam yang panik, aku berharap kecepatan lift bisa bertambah 10 kali lebih cepat. Aku butuh kecepatan untuk menghemat waktu. Ada hal yang harus ku selesaikan agar perjuanganku selama tujuh tahun tidak berakhir sia-sia.

.

.

Lexicon

Doushio : Why? / Why it must happen?

Manga Shonen Ai : Boys Love Comic

Kuso : I think it has a similar meaning with "shit"

Mattakun : ungkapan lelah, seperti "ya ampun.." atau "aduh, aduh.." etc

.

Aku senang mendapatkan review dari kalian semua. Semoga ceritaku menjadi lebih baik dan dapat lebih dinikmati. Terimakasih.