My Puppy

.

.

.

"Aku tidak takut."

Dada Jongin berdegup sangat kencang. Ia ingin sekali mendekap sehun dan tak akan pernah melepaskannya lagi. Ia ingin menyentuh tubuh itu, lalu menciumnya sampai puas. Bercinta dengannya sepanjang malam dengan penuh gairah. Dan menjadikan Sehun miliknya. Hanya dia seorang.

Tapi rasa enggan di dalam dadanya tak juga hilang. Sebuah perasaan takut. Takut membuat hidup Sehun yang sempurna berantakan. Sehun tak boleh ia sentuh, tak boleh ia lukai. Ia harus tumbuh dewasa dengan teman-teman sebayanya. Berkencan dan sesekali berbuat kenakalan. Lalu masuk ke universitas terkenal kemudian lulus dan bekerja di perusahaan besar. Bertemu dengan seorang gadis yang cantik dan juga baik. Lalu menikah kemudian punya anak. Harusnya hidup seperti itulah yang akan ia jalani. Dan entah bagaimana Jongin ingin menjaganya. Ia ingin Sehun menjalani hidup normal yang indah. Bukan hidup dalam lingkupnya yang benar-benar kotor dan salah.

Jongin sadar. Ia memang terlihat mabuk di luar, tapi otaknya masih waras. Toleransi alkoholnya bisa dibilang cukup bagus. Dan untuk pertama kalinya ia menyesali itu. semuanya akan lebih mudah jika ia kehilangan fikiranya. Ia bisa melakukan apapun pada Sehun, tanpa banyak perhitungan. Mungkin ia akan menyesal di keesokan harinya. Tapi semuanya sudah terjadi bukan?

Jongin mencium pucuk kepala Sehun. Lalu berdiri sempoyongan. Ia berjalan lunglai ke kamarnya. Kemudian setelah pintu tertutup, kakinya lemas. Ia merosot. Terduduk di lantai sambil berandar pada pintu. Tangan kanannya terangkat ke atas. Mengusap setitik airmata di ujung matanya.

Jongin menangis. Dan itu justru membuatnya tertawa. Ia pernah mengalami hari yang benar-benar buruk, tapi tidak pernah sampai menjatuhkan air mata.

.

.

.

"Kau menyukainya?" Suho bertanya sambil menyajika minuman pesanan Jongin.

"Sepertinya begitu."

"Wahhh, daebak! Aku harus bertemu bocah itu secepatnya."

"Tidak, Hyung,.. kau tahu kan.. dia.."

"Arra,.. lalu bagaimana dengan bocah itu? Dia menyukaimu?"

"Mungkin hanya sedikit terpesona, dia masih sangat polos untuk menyukai laki-laki."

Jongin menyruput latte-nya.

"Apa yang harus ku lakukan?" Mata Jongin menerawang jauh ke keraimain yang terasa hampa di depannya.

"Jujur saja pada perasaan mu itu, berapa kali kau pernah jatuh cinta dalam hidupmu? Sangat jarang kan?"

Perkataan Suho melayang-layang ditelinga Jongin. Kepalanya jadi terasa benar-benar berat . Bahkan tadi seharian Sehun tidak keluar dari kamarnya. Itu membuatnya benar-benar merasa tertekan. Ia merasa bersalah. Tapi bagian lain dari dirinya berkata itu tidak apa –apa. Tidak apa-apa untuk memberi jarak pada Sehun. Ia bahkan berfikir untuk membuat hubungan mereka tidak baik.

"Bagaimana kalau kau cari one night stand saja dan mencoba melupakan bocah itu?"

"Tidak bisa, aku tidak ingin bercinta dengan siapapun lagi. Itu membuatku merasa kotor." Jongin memeluk tubuhnya sendiri dengan ekspresi yang menurut Suho terlihat menjijikan. Baru kali ini ia melihat Jongin terlalu melankolis. Dan ia berharap ia tak akan melihat Jongin yang seperti ini lagi.

Suho menggeleng heran. Ia tahu Jongin itu sedikit tidak waras, tapi kali ini sudah di ambang batas. Dia sudah benar-benar gila.

Di sudut ruangan nampak seorang yeoja yang sudah melirik Jongin dari tadi. Jongin tahu itu, dan hanya butuh seringaian kecil untuk membuat sang gadis mendekat ke arahnya. Tapi ia tidak ingin melakukannya. Ia sedang tidak ingin bercinta dengan siapapun, kecuali Sehun tentu saja.

Lalu seseorang berpakain formal dengan rambut klimis mendekat hati-hati ke arah Jongin. Matanya menerawang penuh arti ke arah Jongin.

"Jongin-ssi?" tanya laki-laki itu sedikit keras karena suara bising di sekitar mereka.

"Nuguseo?"

"Perkenalkan, namaku Lee Sooman, " jawab Lee Sooman sambil mengulurkan tangannya.

Jongin membalas jabatan tangan Sooman dengan sedikit canggung dan dipenuhi rasa curiga. Ia sama sekali tidak pernah berminat dengan laki-laki separuh baya. Ia suka yang muda, dan tampan seperti Sehun.

"Mau kah kau bergabung denganku, jadilah sutradara di tim film ku," tawarnya sambil mengeluarkan secarik kartu bertuliskan namanya beserta sebuah nama perusahan pembuat film yang lumayan terkenal.

"Aku tahu kau mempunyai kemampuan yang sangat bagus, ikutlah denganku. Jangan sia-siakan bakatmu dengan bekerja di bidang AV. Hubungi aku jika kau berminat." Lee Sooman tersenyum meyakinkan Jongin kemudian beranjak keluar dari klub.

Jongin mencoba mencerna apa yang sekarang tengah terjadi. Ia memandang kertas di tangannya seperti menatap berlian paling mahal di dunia. Ini adalah kesempatan yang sangat besar.

Membuat film normal yang memiliki pesan moral adalah cita-citanya dulu. Dulu sekali sebelum Jongin harus berhenti kuliah karena keadaan yang tidak memungkinkan. Dan sekarang kesempatan itu datang dengan sangat mudahnya. Jongin menarik nafasnya dalam-dalam. Sebuah perasaan penuh gairah yang dulu sempat ia rasakan kini kembali muncul. Matanya sedikit berair, dan tangannya bergetar memegang sebuah kertas persegi berwarna merah muda.

"Seolma! Aku pasti sedang bermimpi."

.

.

.

Wajah Sehun nampak sangat terkejut ketika ia membuka pintu kamarnya. Pasalnya sudah seharian ini ia tidak keluar dari kamar karena menghindari Jongin, tapi ketika ia merasa cukup aman untuk keluar justru Jongin berada tepat di depan pintu kamarnya hendak mengetuk pintu.

"Ehm, K,. Kau mau kemana?" Suara Jongin terbata.

"Erg... aku lapar." Sehun mencicit.

"Oh, makanlah kalau begitu. Jangan sampai kau sakit."

Jongin seperti hendak berkata lagi, tapi kemudian melangkah dengan canggung ke kamarnya. Membuat Sehun menghembuskan nafas panjang karena rasa gugup yang ia tahan dari tadi. Sesuatu beban yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya menindih dadanya. Membuatnya terasa sesak dan ingin marah. Apa Jongin tidak tahu jika Sehun dari tadi tidak keluar dari kamar sama sekali? Meskipun sebenarnya lebih baik jika Jongin tidak tahu, tapi Sehun ingin Jongin tahu. Ingin Jongin khawatir dengan dirinya. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi menurut Sehun. Karena ia hanyalah anak anjing yang terlantar. Anak anjing kampung yang sama sekali tidak berharga.

"Hyung!"

"Nde?" Jongin berbalik di kejauhan. Memperhatikan Sehun yang tiba-tiba memanggilnya.

"Joahae..." Sehun bekata dengan suara bergetar.

"Mwoya?"

"Aku menyukaimu, sangat menyukaimu."

Sehun berjalan dengan cepat menghampiri Jongin. Ia meraih kerah kemeja Jongin kemudian menarik pemuda itu kedalam sebuah ciuman lembut. Hanya sedetik, kemudian menjauh untuk melihat tanggapan Jongin atas apa yang ia lakukan.

Sehun memutuskan untuk melumat bibir Jongin lagi ketika mendapati namja itu seperti kehilangan rohnya untuk sesaat.

Jongin mendorong tubuh Sehun yang terasa sangat ringan. Ia baru saja mendapatkan akal sehatnya kembali ke dalam kepalanya. Matanya seperti berkunang-kunang, dan perutnya sedikit mual. Kemudia tatapan matanya teralih pada Sehun yng menundukkan kepala dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca. Ia tidak tega membuat Sehun ketakutan seperti itu. Tangannya menarik Sehun dalam pelukannya.

Harusnya bukan seperti ini.

Sehun mendengar Jongin menghembuskan nafasnya panjang. Seperti membuang beban di dalam dadanya.

"Aku akan sangat berdosa."

"Mwo?" Sehun tidak mengerti maksud perkataan Jongin.

"Aniya," Jongin sekalil lagi menghela nafas panjang.

"Nado, Joahae,..."

"Jinjja?"

Jongin menyudahi pelukannya lalu meraih dagu Sehun, membawa Sehun dalam ciuman lembut. Yang paling lembut yang pernah Jongin lakukan. Dan ia dapat merasakan bibir Sehun yang bergetar. Dapat merasakan jantungnya yang berdegub sangat kencang. Dan ia juga dapat merasakan berat tubuh Sehun yang mendadak kehilangan tenaganya.

"Hya! Bagaimana bisa kau lemas hanya dengan ciuman saja?" Jongin menggoda

"Hyung,..."

Wajah Sehun memerah. Sangat memerah. Hingga terasa seperti terbakar.

"Hyung,... maukah kau..bercinta dengan ku?" suara Sehun mencicit.

Jongin menatap kosong ke arah Sehun. Lagi-lagi pikiranya melayang.

"Shireo," Jongin tersenyum pahit.

"Aku akan pergi dalam waktu yang lama." Kata Jongin lagi.

"Apa kau pergi karena aku?"

"Aniya, akau akan membuat film di luar negri untuk waktu yang cukup lama, mungkin sangat lama."

"Adult Film?"

"Aniya.. Film yang benar-benar film. Film yang akan tayang di layar lebar, bukan hanya di layar komputer."

Sehun terdiam. Ia memandang mata Jongin sayu. Berharap ia sedang di bohongi.

"Nanti,ketika aku kembali ke korea, dan kau masih menyukaiku sama seperti saat ini,.. aku berjanji."

"Aku akan bercinta denganmu selama yang kau inginkan."

Jongin tersenyum, kemudian ia memeluk Sehun yang tubunya terisak. Dia hanya akan memeluk. Tidak lagi mencium. Karena ia bisa saja lepas kendali di saat-saat terakhir.

"Saranghaeyeo,.. Anjing kecil-ku."

.

.

.

TIGA TAHUN KEMUDIAN

.

.

.

Sehun menatap credit title hingga tulisan yang paling bawah. Ia masih duduk di kursi penonton meskipun hanya tinggal dirinya yang berada di dalam bioskop.

Sudah seminggu film yang ia tonton ini rilis di bioskop. Dan ia sudah menontonya sebanyak tujuh kali. Lalau besok akan menjadi kali ke delapan ia menontonya. Ia akan menontonya hingga film itu sudah tidak lagi di putar di bioskop . Ia bahkan hampir bisa menghafal seluruh dialog tokoh utamanya.

Sehun bukanlah maniak film. Bahkan bisa dibilang ia sama sekali tidak tertarik pada dunia film. Ia menonton hanya untuk melihat nama sutradara di akhir cerita. Dan setiap kali ia melihat nama itu di layar, jantungnya berdebar sangat hebat.

Kim Jongin.

Yang bahkan sampai sekarang tidak memberinya kabar apapun.

Apa ia sudah lupa dengan Sehun? Setidaknya ia harus mengunjungi apartementnya yang ia titipkan pada seorang anak kelas tiga SMA yang sedang butuh uang? Bagaimana jika ia menjualnya ? apa Jongin tidak takut. Lagi-lagi dada Sehun sesak.

"Film-nya sudah selesai dari tadi. Apa yang kau lakukan disitu?"

Sehun melihat ke arah datangnya suara. Ia tahu betul itu milik siapa.

"Hyung?"

"Ayo pulang, aku sangat lelah."

.

.

.

FIN

.

.

.

.

Maaf lama update. Sebenarnya ini sudah selesai dari minggu-minggu lalu. Cuman karena saya dapet kerjaan baru, dan laptop ada di kampung. Jadi gak ke urus.

Baru sempet ngambil laptop

Dan untuk adegan hot nya gak saya post.

Hehhee... mianhae. Malu sendiri bacanya. Masih kurang PD

See you at the next story. Tetep Kaihun.