Taerin menatap jalanan kota Seoul dengan mata berbinar. Gadis cantik yang sedari tadi tidur selama diperjalanan dari Busan langsung membuka matanya lebar melihat jalanan disekitarnya.

Jongin yang duduk disampingnya hanya bisa mengulum senyumnya melihat betapa berbinarnya Taerin berada di ibu kota negara gingseng tersebut.

Bahkan dari bibirnya tidak terputus-putus kata-kata pujian untuk jalanan dan bangunan di Seoul.

"Ayah ini benar-benar luar biasa." Ucapnya antusis menatap Jongin.

Jongin hanya tersenyum sembari mengusak pucuk kepala gadis tersebut.

"Kau suka berada disini?"

Anak itu mengangguk, "Ya, aku menyukai disini. Meski Busan tak kalah bagus tapi Seoul terbaik." Dan setelahnya gadis itu kembali mengalihkan atensinya kesegela penjuru jalanan yang dilewati oleh mobil Jongin.

Selang 30 menit kemudian, mobil Jongin memasuki kawasan elit perumahan di Gangnam. lagi-lagi Taerin harus berdecak kagum melihat pemandangan sekelilingnya.

"Apa rumah ayah berada dikawasan ini?" jongin hanya mengangguk sebelum mobilnya berbelok kesebuah rumah dengan gerbang tinggi menjulang. Ditekannya klakson sekali dan 3 detik kemudian pintu gerbang itu mulai dibuka.

Mobil yang dikendarai Jongin mulai masuk kedalam gerbang dan berhenti persis didepan bangungan megah bergaya eropa yang tidak lain dan tidak bukan milik Jongin.

Taerin turun dari mobilnya dengan rasa terkagum-kagum dengan bangunan didepannya. Sementara Jongin langsung membuka bagasi dan mengeluarkan seluruh barang-barang yang dibawa Taerin.

"Ini rumah ayah?" tanya gadis itu menghampiri Jongin yang membawa kopernya.

"Ya, dan sekarang ini juga menjadi rumahmu Taerin-ah. Jadi, ayo sekarang kita masuk kedalam."

Jongin menggiring Taerin masuk kedalam. Pintu otomatis dibuka dari dalam oleh para maid yang mendengar bahwa majikan mereka datang membawa nona muda baru mereka.

Didalam mereka sudah disambut dengan tundukan para maid yang memang sengaja disuruh menyambut untuk menghormati kedatang Jongin dan Taerin. Sementara diujung tangga. Taerin dapat melihat seorang wanita yang mungkin berada diumur 50 tahunan berdiri dengan senyum yang cantik ikut menyambutnya.

"Itu eomma ayah, dia nenekmu." Bisik Jongin.

Mata Taerin langsung berkaca-kaca ketika Jongin mengatakan bahwa ternyata yang berdiri disana adalah neneknya. Setelah 14 tahun masa hidupnya yang hanya mengenal kata ibu, kini dia memiliki ayah beserta nenek sekaligus.

"Halmonie," lirih gadis itu. Ibu Jongin tersenyum dan berjalan menghampiri Taerin yang masih berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Lalu setelah mereka berhadap-hadapan, wanita paruh baya itu membawa Taerin kedalam pelukannya.

"Hei sayang, selamat datang kerumah dan maafkan halmonie yang tidak pernah mencarimu selama ini."

Taerin mengeratkan pelukannya dan menangis dipelukan sang nenek. Akhirnya selama 14 tahun dia bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki nenek seperti teman-temannya.

Dan Jongin tak urung ikut menahan air matanya melihat bagaimana ibunya memeluk Taerin seakan wanita itu benar-benar merindukan cucunya.

.

.

.

.

.

REPEATING

...Baby_Vee...

KAISOO – GS

.

.

.

.

.

Hidup Taerin berubah 180 derajat dimulai saat kakinya menginjak kediaman ayahnya. Marganya yang awalnya Do kini berganti menjadi Kim, seperti marga keluarga ayahnya.

Dia serasa seperti hidup dinegeri dongeng. Dimana yang awal mula dia menjadi upik abu kini dia berubah menjadi putri cantik keluarga Kim. Disini segala kebutuhannya dipenuhi oleh ayahnya. Dia juga dilimpahi sejuta kasih sayang oleh nenek dan kakeknya. Bahkan awal pertemuannya dengan sang kakek langsung memberikan sebuah hadiah Audy keluaran terbaru padahal Taerin masih tidak diperkenankan untuk menyetir. Namun kakeknya tetap membelikannya.

Dihari kedua dia berada di istana ayahnya, Taerin mendapat segepok uang dan 2 kartu kredit yang tidak memiliki limit meski dipakai untuk memborong segala isi mall di gangnam.

Kamarnya yang dulu hanya berukuran 2x3 kini berubah menjadi seluas flat kecilnya dulu. Didalam kamar dengan nuansa serba merah muda itu sangat lengkap. Barang-barang murah yang dibawanya dari Busan kini terongok digudang dan berganti barang-barang dengan harga selangit. Satu hal yang tetap Taerin pertahankan adalah sebuah boneka kelinci dengan audio suara ibunya yang diberikan pada ulang tahun ke-10 nya dulu.

Hidupnya makin berbeda kala dia mulai masuk ke sekolah barunya satu bulan kemudian. Taerin yang masih trauma tentang pembulyan yang dulu teman-temannya lakukan kini juga merasakan hal sama dilingkungan baru. Dia hanya takut kali ini dia tidak memiliki teman seperti kala dia dulu di Busan.

Tapi sepertinya itu hanya pemikiran Taerin saja karena saat awal dia masuk dan diperkenalkan sebagai murid baru juga cucu pemilik yayasan, seluruh teman sekelasnya menyambutnya dengan suka cita. Mereka begitu terbuka dan menerima Taerin begitu saja. Taerin yang semulanya tidak memiliki teman kini menjelma menjadi gadis cantik dengan banyak teman. Dan hal itu membuatnya menjadi sedikit lebih angkuh.

.

.

Taerin keluar dari salah satu outlet milik gucci. Entah menjadi kebiasaan atau apa. Tapi gadis itu selalu akan datang setidaknya satu minggu sekali ketoko tersebut dari beberapa waktu belakang.

Dia berjalan dengan kepala yang melihat kesekeliling mall yang ramai. Ini adalah akhir pekan dan tentu pasti banyak keluarga yang menghabiskan waktunya disini untuk sekedar melepas rindu berkumpul bersama keluarganya.

Taerin tersenyum ketika melihat sebuah keluarga dengan sepasang anak kembar dan orang tua yang sedang bergurau bersama. Dia jadi merindukan ibunya. Kadang dia juga bertanya-tanya bagaimana kabar ibunya di Busan sana.

Taerin yang masih sibuk dengan pikiran tentang ibunya tidak menyadari bahwa disebelah kirinya ada segerombolan gadis sekitar 4 orang sedang berjalan kearahnya. Gadis-gadis itu dengan sengaja menabrak Taerin membuat Taerin harus sedikit oleng karena tabrakan tak terduga.

"Ohhh lihat kita bertemu siapa disini?" ucap salah satu dari empat gadis itu.

"Bukankah dia si gadis tanpa ayah yang melarikan diri dari sekolah? Ahhh tidak disangka kita bertemu lagi dengannya ditempat sebagus ini." sahut satunya lagi.

"Hei apa yang kau lakukan disini? Apa kau sedang berusaha menjual diri seperti apa yang ibumu lakukan itu?"

Taerin menunduk dan mengepalkan tangannya diantara badannya. Emosinya semakin naik saat mendengar gadis yang menghinanya kini tengah menertawakannya.

Gadis itu mendongak dan mentap tajam keempatnya. "Seharusnya aku yang bertanya, kenapa anak kampung seperti kalian ada disini? Dan kenapa penjaga disini membiarkan kalian masuk? Ahhh sepertinya mall ini memerlukan penjaga baru yang lebih jeli agar tidak membiarkan orang-orang dengan uang yang hanya sedikit bisa masuk kemari."

Taerin melempar seringai kearah mereka setelah mengejek dengan ucapan seperti itu.

Mereka berempat menggeram marah karena diejek oleh Taerin. "Kau_" ucap salah satu dari mereka hendak memukul Taerin namun berhenti ketika melihat seorang lelaki dewasa menghampiri mereka berlima.

"Hey sayang maafkan ayah terlambat dengan janji kita."

Mendengar suara itu, Taerin langsung menengok kesamping dan tersenyum cerah menemukan ayahnya sudah berdiri disebelahnya.

"Tidak masalah ayah, aku sudah selesai lagi pula." Jawab gadis itu.

"Lalu bagaimana, kau sudah mendapatkan tas barumu?"

Taerin menggeleng, "Tidak, mereka belum memiliki tas baru seperti yang berada dikatalog. Katanya itu masih akan datang sekitar 4 sampai 5 hari lagi dan aku tidak memiliki alasan lebih untuk tetap membeli disana."

"Tidak masalah, nanti biar ayah titip salah satu pegawai ayah yang berada di paris."

"benarkah?" tanya Taerin dengan senang, "tentu, anything for you."

Sementara kedua bapak anak itu berbicara tentang tas yang diinginkan Taerin maka, keempat gadis yang ternyata teman sekolah Taerin dulu hanya bisa mengernyit bingung tentang siapa lelaki yang berbicara dengan Taerin ini.

Jongin yang merasa diperhatikan akhirnya mengalihkan pandangannya kearah gadis-gadis yang sepertinya seumuran dengan Taerin.

"Taerin-ah, siapa mereka? Apa mereka teman barumu?" tanya Jongin.

"Ohh ayah, perkenalkan mereka adalah teman-temanku disekolah yang dulu. Ini Luna, Yerim, Jihyo dan ini Hana. Dan kalian, perkenalkan ini ayahku." Ucap Taerin sembari menggandeng tangan Jongin, bermaksud memamerkan ayahnya.

Dan keempat gadis tadi langsung membungkuk sopan kearah Jongin. "Anyeonghaseo ahjusi, senang bisa bertemu dengan paman." Ucap Luna.

Sementara Jongin hanya bisa membalas dengan senyum, "Ya, senang juga bertemu dengan kalian. Ahh apa yang kalian lakukan disini? Apa kalian berencana untuk menemui Taerin?"

"Aniyo ahjusi. Kami hanya berniat jalan-jalan disini dan tidak sengaja bertemu Taerin disini jadi kami bermaksud menyapa teman lama." Itu Hana yang jawab.

Jongin mengangguk, "Baiklah, apa kalian sudah makan? Ahjusi dan Taerin berencana untuk makan direstoran yang ada dibawah apa kalian mau bergabung sekalian?"

Mereka berempat menggeleng bermaksud menolak namun suara Taerin sudah memotong terlebih dahulu.

"Ayolah jangan menolak, santai saja jangan khawatirkan biayanya karena ayahku yang akan teraktir. Benarkan ayah?" tanya Taerin yang dibalas dengan anggukan oleh Jongin.

Dan setelahnya tidak ada yang bisa menolak karena Taerin sudah menarik mereka untuk ikut bersama.

.

.

.

Mereka berenam duduk mengelilingi sebuah meja dengan menu dimasing-masing tangannya. Taerin membaca dengan santai apa kiranya yang akan dia pesan. Sesekali dia melirik kearah teman-teman lamanya yang sepertinya tercengang dengan harga yang tertulis didalam menu.

"Kalian sudah memilih?" tanya Taerin. Keempat teman lama Taerin itu mendongak lalu menggeleng.

"Belum, kami bingung memilih yang mana."

Taerin mengangguk, "Ahhh bagaimana jika kita samakan saja? Aku dan ayahku sudah sering makan disini dan makanan kami selalu makan ini."

Keempat teman Taerin itu hanya mengangguk. Kemudian Taerin beralih kepada Jongin yang masih sibuk dengan tab ditangannya.

"Ayah," panggilnya. Jongin langsung mendongak dan tersenyum kearah Taerin.

"Ya sayang? Sudah memilih mana makanannya?" gadis itu mengangguk.

"Ya, pesanan kami disamakan saja seperti biasanya."

Jongin yang mengerti langsung mengangguk dan memanggil pelayan. Setelah pelayan datang Jongin menyebutkan apa saja yang dia pesan beserta minuman serta pelengkapnya. Setelah selesai pelayan itu pamit untuk mengundurkan diri.

Namun tiba-tiba Jongin tidak sengaja melihat bayangan seorang wanita yang dikenal, jadi lelaki itu mencoba memanggilnya.

"Baekhyun-ah!" panggil Jongin. wanita yang tak lain Baekhyun itu langsung mengedarkan pandangannya dan tak lama menemukan Jongin yang melambai kearahnya.

Jongin berdiri ketika melihat Baekhyun berjalan kearahnya.

"Hei lama tak jumpa. Bagaimana dengan LA?" tanya Jongin menyalami Baekhyun.

Baekhyun tersenyum tipis kearah Jongin, "Not bad, dan apa yang kau lakukan disini?" tanya Baekhyun.

"Oh aku sedang makan siang dengan anakku dan teman-temannya." Balas Jongin dengan senyum.

Baekhyun sedikit curiga saat Jongin berkata tentang anaknya. Dan saat Jongin berbalik memanggil anaknya, kecurigaan Baekhyun terjawab sudah.

"Oh Baekhyun imo?" ucap Taerin ketika berbalik dan mendapati sahabat ibunya berada didepannya.

"Taerin?" bingungnya, "Bagaimana bisa kau berada disini?"

"kalian saling mengenal?" tanya Jongin yang tidak tau apa-apa.

Kini Baekhyun beralih menatap kearah Jongin. dia sepertinya mulai mengerti kenapa Jongin dan Taerin bisa berada di Seoul sementara setahu Baekhyun Taerin itu tinggal dibusan bersama ibunya, Kyungsoo. Jadi untuk itu, Baekhyun meminta waktu sebentar kepada Taerin untuk berbicara dengan Jongin.

"Taerin-ah, bisa imo pinjam ayahmu sebentar?"

Setelah mendapat anggukan dari Taerin, Baekhyun langsung menggeret Jongin membawanya keluar dari restoran.

Setelah mendapat tempat yang sepi, Baekhyun langsung menghempaskan Jongin ketembok. Jongin yang mendapat perlakuan tidak mengenakkan seperti itu langsung protes.

"Apa-apaan kau Baek, apa maksudmu memperlakukanku seperti ini."

Baekhyun menatap tajam kearah Jongin dan mengangkat jarinya sembari menunjuk Jongin tepat dimatanya.

"Kau! Kau yang apa-apaan. Kenapa Taerin bisa bersama denganmu disini? Lalu bagaimana dengan Kyungsoo jika Taerin kau bawa pergi!"

"Kyungsoo yang memberikan Taerin kepadaku. Lagi pula aku ayah taerin, aku juga berhak atas kehidupan anakku."

"Berhak atas anakmu?" baekhyun mendengus, "Katakan itu kepada orang yang menginginkan kematian anaknya yang bahkan masih berwujud segumpal darah."

Jongin menghela nafas, lelaki itu mengusak wajahnya sebelum mulai berbicara lagi kearah Baekhyun.

"Baek itu hanya masa lalu. Lagi pula kau tidak tau apa-apa tentangku ataupun Taerin. Jadi jangan ikut campur!"

Baekhyun mendengus sekali lagi. "Tidak tau huh?" wanita itu menatap rendah kearah Jongin.

"Kau yang tidak tau! Apa kau tau bagaimana hidup Kyungsoo setelah kau campakan dulu? Apa kau tau bagaimana dia yang diusir dari rumahnya tanpa sepeser uang pun? Apa kau tau bagaimana dia mempertahankan kandungannya bahkan saat dokter sudah menyarankannya untuk menggugurkan Taerin karena bayinya yang sangat lemas. Apa kau juga tau bagaimana kehidupan Kyungsoo yang berjuang dan cemooh setiap orang karena hamil tanpa memiliki suami? Apa kau juga tau bagaimana Kyungsoo yang rela tidak makan demi memberi makan Taerin? Apa kau tau semua itu Kim Jongin? katakan jika kau tau segala perjuangan Kyungsoo selama 15 tahun ini." baekhyun diam sebentar dan melihat reaksi Jongin yang hanya diam mematung didepan Baekhyun.

Kemudian wanita itu mulai melanjutkan kembali, "Kau tidak tau kan? Jadi siapa disini yang tidak tau apapun. Aku atau kau?"

Jongin hanya diam, tidak menjawab ataupun membantah. Karena dia tahu bahwa disini dia yang tidak tahu apa-apa. Jadi dia lebih memilih diam dan membiarkan Baekhyun berkata semaunya.

"Heh, dan bagaimana anak itu bisa malah memilihmu sementara Kyungsoo memperjuangkannya dulu setengah mati. Kenapa dia tumbuh jadi anak yang tidak tau diri?"

"Jaga bicaramu, jangan sebut sembarang anakku." Ancam Jongin. lelaki itu tidak masalah Baekhyun menghinanya, asal jangan anaknya. Cukup dia, jangan Taerin.

"Ahhh aku lupa jika dia darah dagingmu. Jelas pasti dia menuruni sifatmu yang tidak tau diri itu." Baekhyun semakin memandang rendah kearah Jongin yang terlihat sedang menggeram menahan emosinya.

"Ku do'akan kali mereasan akibatnya nanti setelah Kyungsoo benar-benar sudah berpaling dari kalian."

Dan setelah mengucapkan itu, Baekhyun berlalu meninggalkan Jongin yang sudah dipuncak emosinya.

Lelaki itu menggeram sembari berteriak marah,

"ARGHHHH, sial. Brengsek kau Baek!"

.

Sementara didalam restoran sembari menunggu pesanannya datang. Taerin disibukkan dengan ponselnya melihat-lihat tentang apa kiranya keluaran terkini.

"Taerin-ah..."

Taerin mendongak, menatap kearah Luna yang barusan memanggilnya.

"Ya? Kenapa?" tanya gadis itu.

"Emmm, begini.. kami berempat ingin meminta maaf atas perlakuan kami selama ini yang kerap membully mu.."

Taerin tersenyum, menaruh ponselnya kedalam tas. "Gweanchanayo.. aku sudah memaafkan kalian. Tidak usah dipikirkan lagi." ucap gadis itu.

Sontak ucapan Taerin itu membuat keempat gadis didepannya tersenyum.

"Jadi apa kita berteman sekarang?"

"Berteman?" tanya Taerin yang langsung diangguki oleh keempat gadis didepannya.

"Akanku pikirkan nanti karena kurasa aku sudah memiliki banyak teman disekolah baruku." Tutup gadis itu dengan senyum.

.

.

.

.

.

Taerin pikir, hidup bergelimang harta itu akan membuatnya bahagia. Dia juga mendapat kasih sayang yang berlimpah dari orang-orang sekelilingnya contohnya seperti ayah, nenek dan kakeknya. Bahkan kini pegawai ayahnya, entah itu dirumah ataupun dikantor selalu membungkukkan badannya jika bertemu dengannya. Ya, dari dulu kehidupan seperti itu yang Taerin inginkan. Bagaimana orang-orang yang menghormatinya dan tidak memandang rendah dirinya lagi.

Ya itulah yang dipikirkan oleh Taerin ketika mendapati fakta bahwa ayahnya masih ada bahkan ayahnya adalah orang yang bergelimang harta. Jadi gadis itu berfikir, bukankah lebih baik jika dia ikut ayahnya dan hidup seperti impiannya.

Tapi sayangnya seluruh kebahagian yang diimpi-impikan oleh Taerin terasa kurang. Dia berusaha menutup-nutupi bahkan mencari pengalihannya. Namun kiranya rasa rindunya kepada ibunya tetap bersarang disana. Ya, Taerin akui dia merindukan sosok ibu yang selama ini selalu bersamanya.

Hidup selama 14 tahun selalu bersama ibunya, membuat Taerin merasa kurang jika tiba-tiba hidup berpisah jauh dari ibunya.

Hal ini semakin terasa saat kedatangannya yang sudah genap 3 bulan di istana ayahnya. Mungkin dia tidak akan serindu ini jika saja jika disekolahnya teman-temannya selalu menceritakan tentang bagaimana kegiatan mereka dengan ibunya. Sementara Taerin hanya bisa menceritakan bagaimana akhir pekannya bersama ayah atau kakek neneknya. Itu terasa aneh untuk gadis itu.

Dan hal yang semakin membuat Taerin frustasi adalah bagaimana ponsel ibunya yang tidak pernah bisa dihubungi semenjak gadis itu memutuskan untuk meninggalkan ibunya sendiri.

Untuk itu Taerin kini mendatangi kamar ayahnya, mencoba berbicara dengan lelaki itu. Menceritakan segala gundah gulananya. Setelah mengetuk pintu dan mendapat persetujuan dari dalam, Taerin segera masuk.

"Apa ayah sudah ingin tidur?" tanya gadis itu. Jongin hanya balas tersenyum.

"Belum, apa ada yang ingin kau ceritakan?" gadis itu mengangguk, "Kemarilah." Undang Jongin menyuruh Taerin untuk tidur dipahanya.

Taerin tentu langsung menurut dan menyamankan tidurnya sembari memeluk Mr. Bunny –Bonekah kelinci pemberian ibunya.

"Ada apa hmm? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"

Gadis itu mengangguk, "Ya, aku merindukan ibu."

Jongin yang sedang mengelus kepala Taerin berhenti sebentar mendengar jawaban Taerin sebelum didetik setelahnya lelaki itu kembali mengelus kepala Taerin.

"Ayah juga merindukan ibumu.."

"Benarkah?" tanya Taerin melirik kearah Jongin yang berada diatasnya.

"Hm, sangat. Bahkan kami baru bertemu beberapa kali setelah belasan tahun lamanya tidak pernah bertemu. Andai saja ibumu mau ikut bersama kita saat itu."

"ya andai saja ibu ikut bersamaku dan ayah disini." Balas gadis itu.

"Ayah?" panggilnya. "Ya?"

"Ceritakan bagaimana ayah dan ibu bertemu dulu."

"Kau ingin mendengarkannya?" gadis itu mengangguk. Kemudian Jongin memperbaiki duduknya sebelum memulai bercerita kepada Taerin.

"Ayah dan ibu bertemu pertama kali disebuah pesta yang diadakan oleh teman ayah. Paman Sehun. Dia sekarang berada di China beserta istri serta anaknya. Ayah ingat sekali bagaimana ibumu terlihat begitu cantik diantara gadis lain saat memasuki tempat pesta tersebut. Ibumu terlihat asing dengan pesta yang diadakan disebuah klub. Dia hanya terus diam, duduk dikursi paling pojok hanya melihat teman-temannya yang sedang menari dibawah. Sementara ayah terus memperhatikannya dalam diam dari sana. Saat pesta hendak berakhir, ibumu menghampiri paman Sehun yang duduk bersebelahan dengan ayah, bermaksud berpamitan. Dan saat itulah ayah menawarkan tumpangan kepada ibumu tapi ibumu menolak dan berkata bahwa dia sudah dijemput oleh supirnya."

"Supir? Ibu memiliki sopir dulu?" tanya Taerin. Jongin mengangguk.

"Ya, ibumu itu anak terakhir dari pasangan pengusaha properti serta perancang busana ternama. Apa ibumu tidak menceritakan itu sebelumnya kepadamu?"

Anak itu menggeleng. Lalu Jongin hanya tersenyum, "Mungkin karena sikap rendah hati ibumu yang tidak pernah mengumbar kekayaan keluarganya makanya tidak pernah menceritakan kepadamu. Jadi apa ayah boleh melanjutkan ceritanya?"

Setelah mendapat anggukan dari Taerin, Jongin kembali melanjutkan ceritanya.

"Lalu setelahnya ayah kembali bertemu ibumu dirumah bibi Baekhyun. Saat itu sedang ada acara kumpul-kumpul dan untuk pertama kalinya ibumu ikut bergabung bersama kami. Yahh meski itu karena sedikit paksaan dari bibi Baekhyun yang disuruh paman Sehun untuk membawa ibumu kembali karena ayah yang ingin mendekati ibumu. Dan untuk kedua kalinya, malam itu ayah kembali ditolak oleh ibumu. Bahkan ibumu tak menanggapi ayah sama sekali kecuali tersenyum kecil dan hanya menjawab seperlunya. Dan itulah yang membuat ayah penasaran kepada ibumu dan bertekat untuk mendapatkannya.

Karena alasan itu, tiap pulang sekolah ayah akan selalu siap didepan gerbang sekolah untuk menunggu ibumu keluar dari dalam sekolah. Tapi berkali-kali ayah hendak mengajak pulang ibumu, supir ibumu sudah menggiring ibumu keadalam mobil. Tentu lama kelamaan ayah jadi kesal dengan sopir itu. Belum lagi selama itu ayah tidak pernah ditolak sekalipun oleh seorang wanita. Jadi, keesokan harinya ayah membawa paku dan mengembeskan kedua ban belakang mobil jemputan ibumu. Dan rencana ayah berhasil. Mereka kelimpungan karena ban yang tiba-tiba kempes dan ayah datang sebagai pahlawan menawarkan tumpangan. Ibumu yang tidak memiliki waktu karena masih memiliki les mengiyakan saja. Dan dari sanalah ibu dan ayah dekat." Ucap Jongin sembari tersenyum.

"Lalu bagaimana tiba-tiba bisa ada aku jika ayah dan ibu saja seperti itu?"

Jongin tersenyum sebelum mengusak gemas kepala Taerin.

"Itu terjadi saat dua bulan ayah dan ibu dekat. Ibumu memang masih canggung kepada ayah, tapi ayah selalu mencoba mendekatkan diri kepada ibumu. Entah bagaimana ceritanya, kami terjebak diapartemen ayah hari itu setelah menyelesaikan kumpul-kumpul seperti biasanya. Seluruh teman ibu dan ayah sudah pulang dan hanya tinggal ibu dan ayah yang berada diapartemen karena ibumu masih menunggu jemputan yang ternyata sedang terjebak oleh hujan karena sedang hujan deras hari itu. Dan semua terjadi begitu saja, kami melakukan sesuatu yang sepatutnya tidak dilakukan oleh remaja seusia kami tanpa memikirkan resiko kedepannya.

Semenjak hari itu ayah tidak pernah bertemu ibumu karena kami sama-sama sibuk dengan ujian kelulusan kami yang tinggal menghitung hari. Kami sibuk dengan urusan masing-masing sampai satu bulan kemudian ayah dinyatakan lulus, ibumu tiba-tiba datang kesekolah ayah dan mengajak bicara empat mata berkata ada yang penting. Dan hari itu ibumu memberitahu bahwa dia sedang mengandungmu. Ayah yang masih muda tentu menolak karena berfikir belum saatnya ayah memiliki bayi sedang ayah sendiri masih suka bermain-main diluar. Ayah menolak tegas dan mengatakan bahwa lebih baik ibumu gugurkan saja kandungannya, tapi yang tidak ayah tahu ternyata ibumu tetap mempertahankanmu dan ayah baru mengetahuinya setelah 15 tahun berlalu saat tidak sengaja menabrakmu. Ayah merasa ini seperti takdir yang mempertemukan kita kembali dan menyuruh ayah untuk bertanggung jawab untukmu."

Sekilas Jongin melihat bagaimana Taerin yang mulai menitikan air matanya dan bergumam kata ibu dibalik Mr. Bunny

"Ayah menjalani hidup seolah-olah tanpa beban. Ayah bahkan mendapat gelar doktor diusia 27 tahun dan langsung diangkat menjadi direktur diperusahaan kakek. Tentu ayah merasa senang dan sejenak melupakan tentang ibumu. Sampai saat diumur 30 tahun ayah masih sibuk bekerja tanpa berniat mencari pasangan hidup dan untuk itu nenekmu mencarikan jodoh untuk ayah. Ayah menerima-nerima saja begitupun dengan gadis yang dijodohkan dengan ayah itu. Kami menjalani sebagai pasangan selama 2 tahun dan semua berjalan baik-baik saja. Tapi semua berubah saat sebulan sebelum pernikahan ayah dan gadis itu berlangsung. Semua sudah siap, mulai dari gedung, gaun, dekorasi dan undangan yang bahkan tinggal sebar seminggu lagi. tapi tiba-tiba gadis itu datang kepada ayah membawa seorang pria yang diakui sebagai kekasihnya. Gadis itu berkata bahwa dia sudah hamil 2 bulan hasil hubungannya dengan lelaki itu. Dan saat itu ayah langsung teringat tentang ibumu. Ayah berfikir mungkin ini karma ayah yang dulu menolak kehadiranmu. Untuk itu maafkan ayah Taerin-ah...

Maafkan yang menyianyiakan kau dan ibumu dulu.."

Gadis itu menggeleng, "Hiks, ibu... ibu... ayah, aku ingin bertemu ibu..."

Jongin mengangguk, "Kita akan bertemu ibu tenanglah. Besok kita jemput ibu oke? Jadi sekrang kita tidur dulu, sudah jangan menangis lagi. ibu akan menghawatirkanmu jika melihat mata cantik putrinya jadi sembab."

Dan karena janji itu lah Taerin mau tidur malam ini meski tetap dengan sesenggukan dipelukan Jongin.

.

.

.

Dan seperti yang sudah Jongin janjikan. Pagi-pagi sekali mereka segera berangkat ke Busan bermaksud untuk bertemu dengan Kyungsoo. Namun saat mereka sampai disana mereka hanya mendapati flat yang dulu Kyungsoo tinggali tidak berpenghuni sama sekali.

Padahal setahu Taerin ibunya akan libur jika dihari minggu. Dan ibunya tidak akan kemana-mana karena dia akan menyelsaikan pekerjaannya melaundy pakaian milik tetangga.

Mereka berdua tetap berusaha mengetuk pintu berharap Kyungsoo akan membukanya dari dalam dan menyambut mereka dengan senyuman khasnya. Namun bukannya Kyungsoo yang keluar, malah tetangga sebelah mereka yang keluar.

"Oh Taerin? Kukira siapa yang membuat keributan siang-siang begini." Ucap wanita yang biasa Taerin panggil bibi Nam.

"Apa yang kau lakukan disana Taerin-ah?" tanya wanita itu.

"Aku mencari ibu, apa bibi nam tau kemana ibu pergi? Biasanya ibu akan menitip pesan kepada bibi jika sedang pergi sebentar."

"Lho, bukannya ibumu sudah pindah dari sini?"

"Pindah?"

Wanita itu mengangguk, "Ya, ibumu pindah 3 bulan yang lalu tepat setelah kau pergi bersama ayahmu. Apa ibumu tidak memberitahukannya kepadamu?"

Taerin menggeleng membuat bibi nam sedikit terkejut, "Omooo, bagaimana bisa ibumu pergi tanpa memberitahu kepadamu."

"Apa bibi benar-benar tidak tau kemana Kyungsoo pergi?" kali ini Jongin yang bertanya karena Taerin hanya bisa diam dan memandang kosong kedepan. Sepertinya gadis itu sedikit kaget dengan berita kepindahan ibunya.

Bibi nam beralih kepada Jongin, wanita itu menggeleng dengan raut wajah yang meminta maaf.

"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak tau kemana Kyungsoo pindah. Dia hanya berpamitan sebentar kepadaku dan berkata bahwa akan pindah dari sini. Saat kutanya dia akan pindah kemana, Kyungsoo hanya balas tersenyum."

Jongin tersenyum miris kearah bibi nam, "Ahhh seperti itu. Terimakasih untuk informasinya bibi. Sepertinya kami harus pamit dan mencari Kyungsoo ketempat lain. Kalau begitu kami permisi, mari.."

Bibi Nam balas mengangguk saat Jongin membungkuk kearahnya dan pergi dengan Taerin yang dipapahnya.

.

Didalam mobil, Taerin hanya diam dan menangis membuat hati Jongin teriris melihatnya. Lelaki itu menepikan mobilnya sebelum mematikannya lalu membawa Taerin kedalam pelukannya.

"Shttt, tenanglah sayang. Kita bisa cari ibu lagi nanti oke."

Taerin menggeleng, "Tidak ayah, bahkan ibu juga sudah mengundurkan diri dari restoran. Lalu kita harus mencari ibu kemana lagi?"

"Apa kau benar-benar tidak tahu dimana tempat yang paling ingin ibumu pergi?"

"Ibu tidak penah mengatakan kemana dia ingin pergi. Dia hanya terus bilang kemana pun aku berada disanalah tempat yang akan didatangi oleh ibu. Selama ini ibu memang tidak pernah mengatakan keinginannya karena ibu hanya memprioritaskan keinganku, terlepas itu ibu bisa atau tidak pasti ibu akan mengusahakannya."

Jongin menghela nafas mendengar penuturan putrinya. Dia merasa berdosa karena menyebabkan kedua ibu dan anak ini berpisah. Lalu lelaki itu mengusak kepala Taerin sebelum melepaskannya.

"Sekarang kita pulang oke?"

"Tapi ayah bagai_"

"Ayah akan menyuruh anak buah ayah untuk mencari ibumu diseluruh Busan. Jadi sekarang kita pulang oke karena sudah akan sore sementara kau harus sekolah besok pagi." Potong Jongin.

Taerin hanya bisa menurut saja dan bersedia ikut pulang bersama Jongin ke Seoul. Dia setidaknya ayahnya sudah berjanji kepadanya untuk menemukan ibunya.

.

.

.

Sebelum pulang kerumah, mereka mampir untuk makan malam disebuah restoran saat sampai di Seoul. Jongin melakukan itu bermaksud membuat mood taerin kembali lagi seperti semula. Tapi sepertinya rencana Jongin itu tidak berhasil karena Taerin yang terlihat hanya memakan dua suap saja dan sisanya gadis itu hanya memainkan nasinya. Dan Jongin hanya bisa menghela nafas melihat taerin seperti itu. Dia juga tidak bisa menyalahkan Taerin dengan sikapnya yang membuang-buang makanan seperti itu.

Mereka keluar dari restoran satu setengah jam setelahnya.

Taerin berjalan dengan lesu disebelah Jongin. tapi Jongin dibuat gelagapan sendiri saat mendapati Taerin yang tiba-tiba berlari kesuatu arah dan memanggil nama ibunya.

Taerin tau dan hafal betul bagaimana ibunya. Jadi meski dalam jarak 10 meter didepannya dia akan langsung mengenalinya. Meski pun wanita itu memakai baju yang berbeda dan dandanan yang dibubukan diwajahnya. Jadi karena keyakinannya itu Taerin langsung berlari dan memeluk wanita yang dikira ibunya.

Jongin lari mengejar taerin. Bermaksud meminta maaf kepada wanita yang dipeluk Taerin secara tiba-tiba. Namun bibirnya seakan terkunci ketika melihat siapa wanita yang dipeluk oleh Taerin itu.

Itu Kyungsoo.

Jongin yakin 100% itu Kyungsoo. Wanita itu persis seperti Kyungsoo yang pertama kali Jongin temui 15 tahun lalu dipesta ulang tahun Jongin. dengan gaun dan dandanan sederhana yang tampat seperti Kyungsoo sekali.

"Soo-ya.." lirih Jongin. namun lelaki itu dibuat bungkam dengan apa yang wanita itu ucapkan.

"Maaf Tuan. Apa ini anak anda? Bisa tolong bantu lepaskan? Saya memiliki janji didalam."

Sungguh, Jongin tidak mengerti dengan maksud dari Kyungsoo didepannya ini. untuk itu Jongin membuka suara untuk memastikan,

"Apa maksudmu Soo? Dia Taerin anak kita. Kenapa kau bersikap seperti ini kepadanya?"

Namun wanita didepan Jongin mengernyit tampat seperti tidak mengerti, "Maaf? Tapi sungguh saya tidak mengerti maksud anda Tuan."

Jongin hendak berbicara sekali lagi, namun kata-kata yang belum keluar itu diintrupsi oleh suara dari belakangnya membuat Jongin menoleh kebelakang dan mendapati seorang lelaki dewasa yang sepertinya tampak tidak asing dimatanya.

"Kyungsoo ada apa? Kenapa kau tidak juga masuk kedalam?" tanya lelaki itu.

Wanita yang dipanggil Kyungsoo itu terlihat menghembuskan nafas lega, "Hahh, syukurlah oppa datang. Bagaimana aku masuk kedalam jika tiba-tiba gadis ini memelukku erat dan memanggilku ibu padahal kami tidak pernah saling kenal sebelumnya."

Taerin yang masih memeluk Kyungsoo itu menggeng.

"Ani. Ini aku bu, ini aku Taerin anak ibu. Aku anak ibu. Taerin mohon ibu jangan seperti ini." histerisnya.

Sementara Kyungsoo terihat semakin risih dengan taerin yang semakin mendekapnya. Melihat itu lelaki yang tadi Kyungsoo panggil sebagai oppa itu berinisiatif untuk berbicara kepada Jongin.

"Sebelumnya maaf Tuan, tapi apa gadis ini anak anda? Jika iya saya mohon tolong lepaskan pelukannya karena kami memiliki acara didalam. Sungguh saya mohon pengertian anda."

Jongin mengehala nafas sebelum dengan berat hati melepas pelukan Taerin kepada Kyungsoo. Taerin memberontak tidak mau melepas namun tenaganya kalah besar dengan Jongin tentunya membuatnya menyerah dan melepas pelukannya.

Setelah pelukan terlepas, wanita yang bernama Kyungsoo itu menghembuskan nafasnya lega dan membenarkan gaunnya yang sedikit berantakan karena perilaku seorag gadis yang tiba-tiba memeluknya.

Setelah pakaiannya rapi, Jongin dapat melihat wanita itu menatap sekilas kearahnya dan Taerin sebelum berjalan kedepan kearah lelaki yang dipangginya oppa tadi. Mereka lalu berjalan lurus kedepan tanpa menoleh kebelakang ataupun menanggapi bagaimana Taerin yang menjerit-jerit memanggil-manggil ibunya.

Jongin hanya bisa mengusak punggung Taerin untuk menenangkan.

"Shttt,,, tenanglah sayang. Jangan seperti ini."

"Tapi.. tapi.. tapi, itu ibu ayah... kenapa ibu seperti.. seperti... hiks."

"Sttt, sudah nanti kita caritahu lagi oke. Kita caritahu itu ibu atau bukan."

.

Yang tidak Taerin dan Jongin sadari adalah bahwasanya dari lantai restoran terlihat seorang wanita sedang memperhatikan mereka berdua dengan pandangan sendu melalu kaca yang menampilkan jelas bagaimana keadaan dibawah sana.

Wanita itu mengalihkan pandangannya saat merasakan pundaknya yang ditepuk seseorang. Dia berbalik dan mendapati seorang laki-laki tersenyum miris kearah.

"Sudahlah Soo, itu yang mereka inginkan bukan? Jadi kau harus kuat ara?"

Wanita yang tidak lain dan tidak bukan Kyungsoo itu tersenyum lemah sebelum mengangguk.

"Araseo Seungsoo oppa, tenang saja aku hanya belum terbiasa seperti ini."

Lelaki tadi menepuk pundak Kyungsoo sekali, "Kajja, eomma dan appa sudah menunggu kita."

Kyungsoo mengangguk dan mengikuti Seungsoo kemeja dimana keluarganya berada.

.

.

.

.

.

Te Be Ce

.

.

.

.

.

Huft /elapkringet/

Akhirnya setelah pemikiran yang cukup dan sangat panjang akhirnya chapter ini jadi juga. Hohhh serius baby vee sedikit bingung sebenernya ini mau diterusin atau dipotong aja, tapi setelah dapet saran dari salah satu temen baby vee yang nyuruh diterusin biar kenak katanya dan akhirnya baby vee terusin tanpa baby vee potong..

Semoga pada puas ya, ini paling panjang dari yang lain. Baby vee juga update khilaf hehe XD maklum dapet jatah libur 3 hari karena gak ada jadwal uts akhirnya baby vee manfaatin buat nulis chap ini sama nyelesaiin ff satunya..

Jadi yang review minta ini cepet diup tadi di ff baby vee yang TDPR ini udah baby vee up jangan pada protes lagi okehhh...

Dan agak bingung kenapa readers pada nangis padahal baby vee aja gak dapet feelnya lhoo yang chap kemarin. Atau mungkin karena baby vee yang buat jadi udah enek kali ya baca tulisan sendiri :v

Oh ya kemarin ada yang bilang kalo ff ini mirip sama ffnya author EarthTelephort Word yang judulnya Sad Movie. Baby vee emang awalnya keinspirasi dari sana kok tema ceritanya, tapi selebihnya baby vee buat sendiri jadi enggak sama kayak punyanya author EarthTelephort Word. Lagian baby vee juga gak bakalan bisa buat ff kayak punyanya author itu karena demi apa bahkan waktu baca sad movie baby vee udah nangis duluan padahal chap 1 belum selesai. Sementara kalo di ff ini baby vee lebih gunain perasaan baby vee sendiri gimana rasanya jadi korban broken home. Jadi plisss jangan terlalu ngecap jelek ke Taerin disini karena baby vee tau gimana rasanya kadang pingin tinggal sama orang tua. Ahhh jadi sedih kalo inget kan. Udah ahh lupain aja tentang kisahnya baby vee.

Oke satu lagi, ada salah satu readers yang ngereview gini "Dih niat ga sih lo nulis nya dikit2 begini? Alurnya juga lambat bgt. Yg becus dong kalo jd author" nahhh berhubung dia pakeke nama Guest tanpa akun resmi jadi baby vee gak tau dia siapa.

Oke jadi sedikit konfirmasi aja ya baby guest. Baby vee nulis ff ini Cuma buat ngisi waktu luang sama nyalurin imajinasi aja. Ada yang sukur ada yang gak suka juga sukur. Intinya baby vee emang bukan author kok. Baby vee juga gak suka dipanggil author makanya baby vee selalu ngajarin manggilnya baby atau vee ajah. Nulis dikit? Baby vee kalo nulis itu sesuai mood. Kalo mood nya lagi bagus ya bakalan jadi banyak tulisannya tapi kalo lagi jelek ya bakalan dikit tulisannya. Alur lambat? Baca ff oneshoot aja beb kalo pingin alur yang cepet. Ini chaptered jadi jelas alur lambat. Intinya baby guest sayang,,, baby vee itu punya juga punya kehidupan nyata didunia nyata gak cuman diem doang didepan leptop. Baby vee juga punya beasiswa yang harus dipertahanin. Jadi intinya baby vee harus bisa bagi waktu antara nulis ff sama belajar ataupun ngerjain tugas. Bukannya gak suka dikritik atau apa ya, cuman tolong ngertiin baby vee juga disini. Kalo baby guest baca, baby vee mau minta maaf sebelumnya kalo balesannya baby vee nyinggung kamu. Tapi seenggaknya baby vee udah jelasin ya gimana cara baby vee buat ff

TERAKHIR! Baby vee mau ngucapin terimakasih buat yang udah review chapter kemarin. Demi apa, gak nyangka bakalan dapet respon yang postif dari kalian hiks, baby vee jadi terharu T.T

Sering-sering aja yang ngereview banyak biar baby vee semakin kebut updete nya^^,

Akhir kata, see you next chap.. love you :* :* :*

Bye.. byee...

.

Thank's to :

Ndsookai ... BubbleXia ... Priscillamh ... Gita7702 ... Ussyana610 ... wulankai500 ... kim gongju ... Rizkinovitasarii ... Loyh ... sara jong ... ssuhoshnet ... nesyarera ... Nara ... katarinamozelle ... kyungie love ... Zilver Iluna ... Guest ... ryaauliao ... kyungin ... Lovesoo ... T.a ... 21hana ... chansekyuu ... dhyamanta1214 ... erikaalni ... dinadokyungsoo1 ... TulangRusuknyaDyo ... IraMimora ... belamsmwdreal ... kyungiee ... Ahan2021 ... XOXO178 ... dohchoco ... kimisoo ... anindyakp ... ChocoPink28 ... channiemolly ... itsrain222