Selamat membaca!

Setelah bertemu dengan Wonwoo, Mingyu menuju apartemen Soonyoung.

Ya, dia tidak akan menyerah untuk bertanggung jawab pada Wonwoo. Entah kenapa selain karena harus bertanggung jawabMingyu merasa berkewajiban melindugi Wonwoo, apalagi setelah melihatnya menjadi pelayan di bar.

Setelah membunyikan bel, tak lama pintu dibuka oleh Soonyoung yang agak terkejut saat mengetahui Mingyu datang.

Setelah masuk, Mingyu melihat ada orang lain di dalam apartemen itu.

"Jihoon-ah perkenalkan dia temanku kim Mingyu, dan Mingyu dia adalah kekasihku Lee Jihoon" Soonyoung memperkenalkan mereka, namun Mingyu dapat melihat raut tidak suka dari wajah Jihoon.

"Untuk apa kau kemari." Jihoon tiba-tiba berbicara dengan dingin.

Entah mengapa, walaupun dia tahu jika masalah Wonwoo dan Mingyu bukan sepenuhnya salah Mingyu, malah mungkin kesalahan mereka berdua tapi Jihoon tetap merasa tidak suka dengan Mingyu mengingat jika hanya sahabatnya yang harus menderita sendirian.

Mingyu yang mendapatkan sambutan buruk dari Jihoon hanya dapat menghela napas mengerti.

"Kurasa kalian juga sudah mengetahui masalahku dan Wonwoo."

Jihoon hanya diam menunggu Mingyu melanjutkan ucapannya.

"Aku sungguh sangat menyesal dan ingin bertanggung jawab, namun Wonwoo tetap tidak mau dan aku tidak mengerti apa alasannya menolakku."

SoonHoon yang mendengar perkataan Mingyu menyimpulkan jika Wonwoo tidak memberi tahu hal yang sebenar-benarnya kepada Mingyu.

"Kurasa memang lebih baik kau berhenti saja Gyu." Soonyoung sebenarnya merasa kasihan, namun dia juga menghormati keputusan Wonwoo.

"Lagipula kau hanya merasa harus bertanggung jawab karena rasa bersalahmu itu, jika kalian menikah bukan karena saling mencintai bukankah lebih baik tidak usah?"

Mendengar ucapan Jihoon tiba-tiba Mingyu merasa hatinya sakit.

"Apakah jika aku berjanji untuk mencintai dan melindungi Wonwoo, kalian akan membantuku?" Mingyu memohon dengan rasa cemas. SoonHoon berpandangan ketika mendengar ucapan Mingyu yang memohon itu.

"Haa, kalian benar-benar!" Jihoon memijat pangkal hidungnya.

"Walaupun kami membantu,belum tentu Wonwoo akan berubah pikiran. Dan sepertinya Wonwoo mempunyai alasan kuat untuk menolak dirimu." Soonyoung menjelaskan.

Mingyu merasa jika masih ada beberapa hal yang tidak diketahuinya.

"Apa kalian tau apa alasannya?"

Sebelum Soonyoung menjawab, Jihoon sudah menyela terlebih dahulu "Yang pasti dia tidak ingin membuat banyak orang tersakiti, itu alasannya." Jawaban yang sama dengan yang diucapkan Wonwoo. Mingyu benar-benar merasa putus asa sekarang.

"Tapi mencoba dahulu lebih baik daripada tidak sama sekali."

Mingyu langsung mendongak mendengar ucapan Soonyoung yang berakibat delikan Jihoon itu.

"Kalian akan membantuku?"

"Bukannya membantu, namun hanya mempermudah saat kau ingin bertemu dengan Wonwoo." Akhirnya Jihoon mengalah karena rasanya tidak adil jika tidak memberikan kesempatan kepada Mingyu.

"Dan aku memegang janjimu Kim, juga jangan membuat sahabatku itu sakit jika tidak ingin kubunuh." Lanjut Jihoon yang walaupun terdengar menyeramkan, namun malah membuat Mingyu tersenyum. Rasanya lega sekali saat Mingyu berpikir jika masih ada harapan.

TOUCH ME

Wonwoo menghela napas untuk yang kesekian kalinya saat mengingat wajah Mingyu yang tersenyum kepadanya, hatinya akan berdetak cepat setiap kali hal itu terjadi.

Dia merasa aneh karena belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, parahnya dia juga menyukai suara Mingyu saat menyebut namanya, tatapan Mingyu kepadanya ,dan sentuhan lembut Mingyu di tangannya.

Lalu dia teringat ucapan Jihoon dulu, saat Jihoon baru berkencan bersama Soonyoung.

"Kau tahu, jantungku terus berdetak tidak karuan saat bersamanya dan entah mengapa rasanya bukan menyakitkan namun menyenangkan, aku juga menyukai semua yang dia lakukan kurasa aku benar-benar sudah gila karenanya."

Wonwoo mengingatnya karena saat itu adalah pertama kalinya Jihoon berbicara panjang dengan senyum tulus di setiap ucapannya, belum lagi binar matanya yang terlihat sangat Wonwoo takut, bagaimana jika dia memang menyukai Mingyu? Atau parahnya malah mencintai pria itu?

Ada rasa sesak saat mengingat bahwa dia sudah menolak Mingyu dan memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan pria tersebut.

Wonwoo mengambil satu-satunya foto keluarga yang dibawanya saat kabur. Melihat senyum bahagia keluarganya semakin membuat Wonwoo merasa sedih dan bersalah.

TOUCH ME

Mingyu bersandar di sisi mobilnya sambil menunggu Wonwoo pulang bekerja, tadi dia diberitahu oleh Soonyoung kapan Wonwoo pulang.

Dan dia benar-benar bertekat untuk membuat Wonwoo mau menerimanya.

Tak lama dia melihat Wonwoo keluar dengan menundukkan kepalanya. Wonwoo yang sedang berjalan menunduk berhenti saat melihat sepasang sepatu di depannya, lalu saat mendongak dia cukup terkejut mengetahui bahwa itu adalah Mingyu yang sekarang sedang tersenyum manis ke arahnya. Wonwoo bisa merasakan jika jantungnya mulai berdetak kencang lagi, setelah itu dia cept-cepat mengalihkan pandangannya dari Mingyu.

"Bukankah aku sudah berkata untuk berhenti menggagguku?" Wonwoo tidak berani memandang mata Mingyu karena rasanya pertahanannya akan runtuh seketika.

"Bisakah kau pulang bersamaku?"

"Tidak."

"Ada hal penting yang harus kita bicarakan."

"Semua urusan kita sudah selesai kemarin."

Mingyu menghela napas saat melihat tingkah keras kepala Wonwoo.

"Namun ini benar-benar penting, dan nanti kau bisa memutuskan akan bertemu lagi denganku atau tidak setelah kita berbicara. Sekarang kumohon ikutlah denganku."

Setelah berkecamuk dengan pikirannya, Wonwoo akhirnya menyetujui ajakan Mingyu.

TOUCH ME

Wonwoo hanya memandang keluar jendela saat di perjalanan, "Bisakah kau memberi alasan kenapa kau menolakku?" Mingyu mulai bertanya.

"Bukankah aku sudah berkata jika banyak yang akan tersakiti."

"Siapa?"

"Aku tidak bisa memberitahumu."

Tiba-tiba Mingyu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu mengunci semua pintu. Wonwoo membelalakan matanya melihat Mingyu yang mengunci seluruh pintu mobil.

"Apa yang kau lakukan? Cepat buka pintunya!" Wonwoo dengan sedikit panik mencoba membuka pintu, namun nihil.

"Bisakah kau tenang? Dan aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, hanya memastikan kau tidak pergi sebelum kita selesai bicara."

"Sebenarnya apa alasanmu sangat ingin aku menerimamu?" Tanya Wonwoo yang menyerah dan akhirnya tenang di tempat duduknya.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku."

"Dan aku sudah berkata jika itu tidak perlu."

"Berikan aku alasan sebenarnya agar kau bisa membuatku berhenti!"

"Tidak!"

"Jika begitu terima aku, aku berjanji akan melidungi dan mencintaimu."

"Aku tidak bisa."

"Satu bulan." Ucap Mingyu dan membuat Wonwoo mengerutkan dahinya.

"Berikan aku waktu satu bulan untuk menebus rasa tanggung jawabku, setelah itu kau boleh menolak dan membuangku semaumu." Tawar Mingyu.

Wonwoo sedikit terkejut dengan tawaran Mingyu, pikiran dan hatinya kembali berkecamuk.

'Bolehkah aku merasakan bahagia hanya untuk satu bulan Jungkook-ah? Aku akan membiarkan dia kembali bersamamu untuk selamanya setelah itu, biarkan aku egois untuk kali ini karena aku juga ingin merasakan bahagia karena ada orang yang ingin memperjuangkanku.'

Wonwoo mulai meneteskan air mata saat teringat oleh adiknya, yang merupakan kekasih Mingyu.

Mingyu yang melihat Wonwoo mengangguk dalam tangisannya mulai memeluk Wonwoo dan mengusap punggung pria tersebut. Wonwoo membalas pelukan Mingyu dan semakin menangis karena rasa bersalahnya, Mingyu mengecup puncak kepala Wonwoo lama untuk menenangkan tangisan pria kecil itu.

TOUCH ME

Wonwoo terbangun dengan mata bengkaknya, dia mendengar suara orang yang mengobrol di ruang tamu apartemen Jihoon.

Setelah membersihkan diri, Wonwoo keluar kamar dan terkejut melihat Jihoon yang berbicara dengan Mingyu. Keduanya yang melihat Wonwoo, tersenyum dan menyuruh Wonwoo untuk ikut duduk dengan mereka.

"Jadi Wonwoo-ya, Mingyu sudah menjelaskan padaku jika mulai hari ini dia akan membawamu tinggal bersamanya dan aku mengijinkannya."

Wonwoo terkejut mendengar ucapan Jihoon, dan apakah dia tidak salah dengar saat Jihoon berkata jika Mingyu diijinkan membawanya tinggal bersama, bukankah sahabatnya ini sangat protektif padanya? Belum sempat selesai dengan rasa terkejutnya, Mingyu menarik tangan Wonwoo untuk mulai mengemasi barang-barang yang akan dibawa Wonwoo.

"Kau tidak bekerja?" Tanya Wonwoo ragu.

Mingyu tersenyum mendengar pertanyaan Wonwoo, "Tidak, aku mengambil cuti sehari untuk membantumu pindah hari ini."

"Jihoon bisa membantuku."

"Dia harus berangkat pagi hari ini Won." Setelah berkata seperti itu, Jihoon masuk ke kamar Wonwoo untuk pamit berangkat bekerja.

"Apa kau tidak sarapan dulu Jihoon-ah?" Wonwoo mencoba menahan Jihoon berangkat lebih lama agar dia tidak ditinggal berdua saja dengan Mingyu, entah mengapa dia merasa sangat gugup berada di dekat pria tampan itu.

"Aku bisa sarapan nanti Wonwoo-ya, lebih baik kau nanti makan bersama Mingyu saja."

Wonwoo merasa ada yang aneh dengan sahabat pucatnya itu, tapi Mingyu sudah dulu mempersilahkan Jihoon untuk berangkat.

Setelah selesai mengemasi barang-barang Wonwoo, Mingyu berjalan ke dapur lalu mulai membuka kulkas dan memperhatikan bahan-bahan yang ada disana. Dia mengambil beberapa telur, daging , dan sayuran. Wonwoo masih berdiri bingung melihat apa yang dilakukan Mingyu, lalu setelah itu dia merasa tanganya ditarik lembut dan dia didudukan pada salah satu kursi di meja makan oleh Mingyu.

"Mingyu-ssi apa kau akan memasak?"

"Tentu saja, dan bisakah kita berhenti berbicara formal Wonwoo-ya, tidak apa-apa kan aku memanggilmu begitu?" Jawab Mingyu dengan tangannya yang cekatan meracik bahan masakannya.

"Aku saja yang memasak, Mingyu-… ya?" Ragu Wonwoo. "Tidak perlu Won, aku hanya ingin cutiku hari ini lebih bermanfaat dengan memasakanmu sarapan." Wonwoo hanya dapat mengangguk mendengar ucapan Mingyu.

Sepuluh menit kemudian dua piring omelet sudah disajikan oleh Mingyu, saat mencobanya Wonwoo terkejut karena rasanya sungguh lezat.

"Bagaimana won?"

"Enak." Jawab Wonwoo dengan jujur, dan tanpa sadar tersenyum manis. Mingyu ikut tersenyum dan mulai memakan sarapannya juga.

TOUCH ME

Mingyu dan Wonwoo sekarang sedang berada di mall untuk membeli keperluan Wonwoo yang sebenarnya sudah di tolak oleh Wonwoo. Saat masih melihat-lihat, Wonwoo merasa jika tangannya di genggam.

"Biarkan seperti ini ya?" rasanya Wonwoo tidak dapat menolak saat melihat Mingyu memohon dengan senyuman manisnya itu.

"Baiklah."

Wonwoo tidak memikirkan apapun saat menyetujui permintaan Mingyu, lagipula tangan Mingyu itu hangat dan nyaman.

Dan mereka mulai berbelanja dengan tangan yang saling bertautan. Terlihat serasi sekali saat orang melihat mereka, tanpa tau apa yang terjadi pada hubungan mereka sebenarnya.

TOUCH ME

Seminggu tinggal bersama Mingyu, Wonwoo merasa jika dia bahagia walaupun awalnya cukup canggung. Entah karena perlakuan lembut Mingyu kepadanya atau karena dia yang memang menyukai apapun yang dilakukan Mingyu.

Seperti hari ini, Mingyu membangunkannya dengan kecupan di dahinya. Mereka memang berencana pergi di hari minggu ini, karena hari-hari sebelumnya Mingyu harus bekerja dan pulang cukup sore, beruntung jika pria itu tiba-tiba bisa pulang lebih cepat.

Namun Wonwoo senang dan bersyukur karena Mingyu tidak pernah absen menemaninya makan, entah saat sarapan, makan siang maupun malam.

Ah, dan Mingyu menyuruh Wonwoo untuk sementara berhenti bekerja di bar dan Wonwoo hanya menurut karena kedua temannya juga memaksanya.

Seminggu ini mereka juga masih mencoba agar bisa lebih dekat, dalam hati Mingyu ingin memperlakukan Wonwoo seperti kekasihnya dan melupakan semua kecemasannya. Jadi mereka hanya akan mengobrol dengan sedikit sentuhan skinship dari Mingyu untuk membuat Wonwoo nyaman dengannya. Atau beberapa kali makan bersama di luar sekaligus jalan-jalan di dekat apartemen Mingyu.

Dan hari ini Mingyu ingin sebuah kencan sederhana dengan Wonwoo di Lotte World. Saat sampai disana, mereka awalnya melihat-lihat wahana apa yang akan dinaiki dengan diselingin candaan ringan.

Jangan lupa dengan tangan mereka yang saling menggenggam, mereka berdua tidak sadar jika hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka sekarang jika sedang berjalan berdampingan.

Mereka menaiki semua wahana yang diinginkan Wonwoo dengan raut bahagia yang terlihat dari wajah mereka, hingga mereka cukup lelah dan memilih beristirahat sekaligus makan karena merasa cukup lapar setelah semua wahana yang mereka naiki.

Setelah mengisi perut mereka yang lapar, Mingyu membelikan Wonwoo ice cream sebelum mereka menuju wahana terakhir yang akan mereka naiki.

Bianglala.

Dengan masih membawa ice cream nya yang belum habis Wonwoo duduk berhadapan dengan Mingyu yang tersenyum tampan sambil menatapnya. Wonwoo bisa merasakan pipinya panas dan pastinya memerah hanya karena dipandangi begitu oleh Mingyu.

"Wonwoo-ya." Wonwoo menatap mata Mingyu yang memanggilnya, entah perasaannya saja atau Mingyu memang terlihat sangat tampan malam ini apalagi saat pria itu tersenyum dan memperlihatkan gigi taringnya yang menawan itu.

Setelah itu Wonwoo bisa merasakan ibu jari Mingyu yang menyeka noda ice cream di bibirnya, sebelum rasa terkejutnya selesai Wonwoo membelalakan matanya saat jari yang awalnya berada di bibirnya sekarang sudah berganti dengan bibir lembut Mingyu.

Ya.

Mingyu.

Mencium.

Wonwoo.

Mingyu bisa merasakan bibir Wonwoo yang terasa manis berkat ice cream yang dimakannya, dia juga merasakan bahwa Wonwoo terkejut dengan apa yang dilakukannya. Wonwoo bahkan menjatuhkan ice cream nya yang masih tersisa.

Tak lama rasa terkejutnya berubah menjadi senyuman dan rasa menyenangkan saat dia merasakan kupu-kupu di perutnya dan kehangatan di hatinya. Wonwoo pun membalas ciuman Mingyu yang terasa begitu manis itu, dengan memejamkan mata mereka saling melumat perlahan bibir satu sama lain seiring dengan jalannya bianglala yang juga berjalan pelan seperti mendukung mereka untuk bersama lebih lama.

Rasanya Wonwoo lupa segalanya.

Perjanjiannya dengan Mingyu,

Perhatian Mingyu hanya karena rasa tanggung jawabnya,

Hubungan Mingyu dengan Jungkook,

Dan bahwa hanya dia yang mencintai Mingyu,

Ya.

Wonwoo mengakui jika dia mencintai Mingyu.

TOUCH ME

Di rumah keluarga Jeon yang sudah tidak terlihat begitu hangat setelah satu tahun lalu anak sulung mereka kabur.

Jungkook masuk ke sebuah kamar yang sudah tidak di huni selama setahun oleh pemiliknya, Jeon Wonwoo, kakaknya.

Jungkook duduk di pinggir kasur kakaknya dengan perasaan rindu yang sangat besar, dia masih belum mengerti kenapa kakaknya kabur tanpa meningglkan pesan apapun.

Dipandanginya salah satu fotonya dengan Wonwoo yang ada di kamar tersebut dengan senyuman sedih. Ibu dan Ayahnya sudah tidak sesehat dulu setelah kakaknya kabur, dan dia terpaksa mengambil alih perusahaan yang harusnya di lakukan kakaknya.

Dia tidak masalah jika harus mengesampingkan melukis yang sangat disukainya dan membuka pameran untuknya sendiri, dia juga tidak marah kepada kakaknya karena sudah meninggalkan tanggung jawabnya karena dia tahu bahwa kakaknya memiliki alasan.

Jungkook mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, Kekasihnya, lelakinya.

"Halo!" Sapa kekasihnya.

"Aku merindukanmu, mari kita bertemu lagipula aku lelah hari ini jadi tidak bekerja."

"Baiklah sayang, aku juga merindukanmu."

"Sampai jumpa nanti."

"Sampai jumpa."

Setidaknya kekasihnya bisa mengurangi rasa sedihnya karena merindukan kakaknya.

TOUCH ME

Setelah kejadian di bianglala kemarin, sepertinya Wonwoo benar-benar melupakan segala kecemasannya dan berfokus pada rasa jatuh cinta yang baru pertama kali dirasakannya ini. Hubungannya dengan Mingyu juga semakin dekat, mereka bahkan tidur bersama sekarang dan saling memeluk dengan sayang.

Oke, tidur secara harfiah.

Tidak lebih.

Mingyu juga sangat senang saat melihat Wonwoo sudah dapat menerimanya dan dia juga semakin bertekat membuat Wonwoo menerima ajakan pernikahannya nanti.

Hari ini Wonwoo sudah siap menunggu Mingyu pulang untuk makan siang bersama, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Mingyu menelponnya, dia tersenyum sebelum mengangkat telponnya.

"Halo won?"

"Ya gyu."

"Maafkan aku ya, sepertinya hari ini aku tidak bisa menemanimu makan siang karena ada rapat mendadak."

"Benarkah, jadi kita tidak bisa makan bersama?" Wonwoo terdengar cukup sedih, ini pertama kalinya Mingyu tidak menemaninya makan.

"Maafkan aku sayang, tadi aku juga sudah menelpon Jihoon untuk menemanimu bukankah kalian sudah lama tidak bertemu."

"Baiklah, jangan lupa makan dan hati-hati saat pulang nanti."

"Baiklah sayang, maafkan aku sekali lagi."

"Tidak apa-apa gyu, kututup ya telponnya."

"Iya." Dan telpon terputus bersamaan dengan helaan napas Wonwoo, dia merindukan Mingyu. Untungnya Jihoon datang menjemputnya tidak lama setelah Mingyu menelponnya sehingga dia dapat sedikit melupakan rasa rindunya pada Mingyu.

Namun, tiga hari setelahnya Mingyu masih absen menemaninya makan siang. Wonwoo mencoba mengerti karena Mingyu memang terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini.

Tiba-tiba terpikir di kepalanya untuk membawakan Mingyu makan siang. Tidak ada salahnya kan memberikan kejutan kepada Mingyu, hitung-hitung Wonwoo juga penasaran dengan perusahaan Mingyu.

Setelah selesai memasak makanan untuk Mingyu, Wonwoo menelpon taksi yang akan mengatarnya ke perusahaan Mingyu. Untungnya Mingyu pernah memberitahu nama perusahaan tempatnya bekerja, tepatnya di PLEDIS CORP.

Wonwoo tersenyum setelah membayar taksi yang mengantarnya tadi. Dia memandang perusahaan yang harus diakuinya besar itu, tentu saja karena perusahaan itu merupakan salah satu yang terbesar selain perusahaan milik ayahnya. Saat akan melangkah masuk tiba-tiba kakinya terhenti saat melihat Mingyu keluar bersama seseorang, senyumnya hilang bersamaan saat dia mengetahui siapa pria yang sedang dibukakan pintu mobil oleh Mingyu beberapa meter dihadapannya.

'Jungkook?'

Wonwoo bisa merasakan matanya memanas, namun dia mencoba sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. Dia melangkah mundur perlahan dan berbalik cepat bersamaan dengan mobil Mingyu yang melaju pergi.

TOUCH ME

Setelah membuang makanan yang dibawanya tadi, Wonwoo segera menuju kamar mandi dan merendam tubuh dan kepalanya dengan air dingin untuk meredam tangisannya.

Bersyukur Mingyu absen menemaninya lagi hari ini, mengingat alasan Mingyu tidak menemaninya beberapa hari ini semakin membuat hati Wonwoo sesak. Dia tiba-tiba teringat alasannya tinggal bersama Mingyu dan perjanjian yang mereka buat hampir sebulan lalu.

Benar, kurang tiga hari lagi perjanjian mereka akan selesai. Wonwoo sepertinya harus berbesar hati untuk mengubah keputusan yang telah dipikirkannya matang-matang beberapahari ini dan menetapkan keputusan baru.

'Dasar bodoh kau Jeon Wonwoo.' Pikir Wonwoo sambil tertawa meratapi nasibnya yang menyedihkan.

Malam ini Mingyu pulang lebih cepat, Wonwoo sedikit terkejut sebenarnya. Beruntung matanya sudah tidak bengkak dan menyebabkan Mingyu curiga.

Wonwoo menolak ajakan Mingyu untuk makan malam dan berkata jika hanya ingin memeluk Mingyu lalu tidur lebih cepat. Sadar atau tidak, sebenarnya Wonwoo memakai pakaian yang cukup terbuka saat ini, kemeja putih besar Mingyu dan celana pendek di atas lutut.

"Wonwoo-ya kau kenapa?" Mingyu sudah merasa cukup aneh dengan Wonwoo sejak dirinya pulang tadi karena sebelumnya Wonwoo tidak pernah berperilaku manja padanya.

"Mingyu." Bukannya menjawab, Wonwoo malah memanggil nama Mingyu dengan jarinya yang mulai membuat pola di punggung Mingyu.

Mingyu dapat merasakan tubuhnya menegang, dia cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Wonwoo tapi juga tidak menghindar ataupun menolak sentuhan Wonwoo. Tapi lama kelamaan Mingyu berusaha menghentikan sentuhan Wonwoo karena takut tidak bisa menahan diri. Sebenarnya Mingyu sudah menahan hasratnya untuk menyentuh Wonwoo sejak awal mereka tinggal bersama.

"Wonwoo-ya hentikan sebelum aku tidak bisa menahan diriku lagi." Mingyu mengingatkan Wonwoo dengan suaranya yang mulai serak, tanda jika dia mulai hilang kendali.

Namun bukannya berhenti, Wonwoo malah semakin merapatkan tubuhnya ke Mingyu. Dia mendongakan wajahnya dan bibirnya langsung tepat menyentuh rahang Mingyu. Wonwoo mulai mengecupi rahang Mingyu perlahan dan membuat napas Mingyu semakin memburu karena perilaku Wonwoo. Mingyu melonggarkan pelukan mereka dan menatap mata sayu Wonwoo yang terlihat bergairah itu, lalu mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir merah Wonwoo.

Kurang satu senti bibir mereka akan bertemu tapi Mingyu berhenti, mata Wonwoo bahkan sudah terpejam siap menerima ciuman Mingyu.

"Wonwoo-ya, apakah boleh?" Mulut mereka bersentuhan ringan saat Mingyu berbicara dan itu membuat mereka semakin gila karena gejolak yang mereka rasakan.

Sebenarnya Mingyu takut melakukan hal lebih dari ciuman kepada Wonwoo karena peristiwa saat itu, dia hanya tidak mau menyakiti hati Wonwoo.

Bukannya menjawab Wonwoo malah langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Mingyu dan menempelkan bibir mereka berdua. Mingyu yang merasa bahwa sudah mendapatkan jaawaban dari Wonwoo langsung memperdalam ciuman mereka dan mulai melumat bibir Wonwoo dengan sedikit kasar. Tangannya mempererat pelukannya di pinggang Wonwoo dan mulai memijat perlahan pinggang Wonwoo dengan sensual, hal itu membuat Wonwoo mendesah dalam ciuman mereka yang panas itu.

Setelah cukup lama berciuman dan merasa jika pasokan oksigen mereka menipis, Mingyu pindah menciumi leher putih Wonwoo dan sesekali menggigit leher itu dengan gigi taringnya yang mempesona itu. Bercak-bercak merah mulai tercipta di leher Wonwoo, belum puas dengan itu Mingyu mulai mengecupi dan membuat tanda di pundak Wonwoo yang telihat. Wonwoo hanya bisa mendesah lirih dengan apa yang dilakukan Mingyu kepadanya.

Mingyu baru menyadari jika Wonwoo terlihat sangat sexy saat menggunakan kemejanya dan itu semakin membuatnya menggila untuk terus menyentuh Wonwoo.

Selanjutnya hanya terdengar detik jam dan desahan yang menemani malam panas mereka.

TBC

/

/

/

Maaf ya lanjutannya agak lama.

Author belum punya waktu buat ngetiknya disaat idenya terus bermunculan hehehehe.

Dan karena author belum berpengalaman buat bikin adegan yang "ehem"

Juga rated ff ini bukan mature jadinya di skip deh.

Wkwkwkwkwk!

Author juga sangat berterima kasih pada readers yang mau membaca karya ku dan comment.