Bangtan Boys's Fanfiction "Which One?" Chapter 3

.

.

.

Inspired by "Cheese In The Trap"

.

.

.

Thanks for waiting! Akhirnya laptop ane kembali T^T setelah sekian lama nginep di Mall Mangg*a Dua (?) laptop ini kembali normal seperti sedia kala T^T Akhirnya kerinduan ane dengan youtube, dramkor, dan FF mulai terobati (azek efek kaga punya hape pasca ujian)

.

.

.

Lagi mavok couple YoonMin :v (?)

.

.

.

Hope you enjoy!

.

.

.

"Karena kau bahkan tidak pantas berdiri dihadapanku. Apalagi untuk memberiku sepotong kue dan menuntutku untuk menikmatinya."

Seorang pemuda bersurai hitam mulai menggigit kecil kuku lentiknya. Sembari menopang dagu, dan menatap kosong hamparan rumput hijau yang menari pelan tergelitik angin.

"Tidak mungkin. Aku pasti salah dengar" Pemuda itu menggelengkan kepalanya pelan. berusaha menghapus ingatan kecil yang bersarang ria didalam otaknya.

Tubuhnya yang masih terduduk damai dibawah rindang pohon halaman belakang sekolah, mulai kaku saat ia terus menerus mengulang adegan yang sama, adegan dimana Jimin berketus merdu pada seorang gadis yang tidak diketahui namanya itu. 'Park Jimin tidak mungkin seperti itu. Jimin tidak mungkin seperti itu.' Ia kembali mengangguk pasti.

"Hei" Seorang pemuda cantik lain berjalan mendekati mahluk yang masih sibuk dengan pikirannya tadi. Helaian rambut hijau muda mulai bergelombang ria mengikuti irama rumput-rumput indah yang hamper sewarna dengan tatanan surainya.

Obsidian Jung Hoseok -Jhope, sapaan akrab pemuda yang masih saja bimbang dengan ingatan kecilnya itu- mulai terperangah ke arah pemuda berkulit pucat pasih dihadapannya. Ia dongakkan sedikit kepalanya sehingga ia dapat dengan jelas melihat wajah pemuda manis yang hamper silau karena perpaduan kulit pucat dan sinar matahari yang semakin terik.

"Ada apa?" Jhope mulai mengerlingkan sebelah alisnya. Merasa sedikit tersaingi dengan wajah manis yang terukir diwajah pemuda bersurai hijau tersebut.

"Aku anak baru disini, namaku Min Yonggi. Bisa kau panggil Suga." Jawabnya tanpa menampakkan sebuah ekspresi spesial. Berkenalan untuk pertama kali tanpa mengukir senyum? Cukup sulit bagi Jhope untuk menggambarkan sifat apa yang dimiliki seorang Min Yonggi.

"Lalu?" Tutur Jhope tak mau kalah dingin.

"Aku disini untuk mencari si brengsek, Park Jimin. Apa kau tau dia? Kalau kau tidak tau, aku mau langsung pergi. Jangan basa-basi, jawab ya atau tidak." Suga memicingkan kedua bola matanya.

Jhope sedikit terguncang. Baru saja ia mendengar sendiri dengan gendang telinganya, seorang Park Jimin yang bicara ketus pada salah seorang penggemarnya. Dan kini? Seorang mahluk yang amat sangat manis namun dingin, secara tiba-tiba mencari Park Jimin dengan modal kata 'brengsek'?!

"Apa maksudmu dengan menyebut kata 'brengsek' untuk mengiringi nama
Park Jimin? Apa kau tidak punya otak?" Jhope terbangun dari posisinya. Kini ia dapat lebih jelas menatap obsidian Suga, dan secara tidak sengaja sadar bahwa Suga sedikit lebih pendek darinya. Manis, cantik dan bertubuh mungil, kurang sempurna apa mahluk bernama Min Yonggi ini.

"Jadi kau mengenalnya. Dimana aku bisa menemuinya?" Suga masih bertahan dengan wajah datarnya.

"Sekarang masih jam pelajaran. Dia masih ada dikelasnya. Hey tap-"

"Kelas berapa dia?" Potong Suga.

"Dia kelas 2-F. Tapi kau masih ada urusan deng-" Jhope terdiam sejenak. Mendapati Suga yang langsung berbalik membelakanginya "nganku. Brengsek." Umpat Jhope yang masih diam diposisinya.

.

.

.

"Wah jam istirahat kedua memang tiada dua-nya! Hey! Ayo traktir aku nyonya Park!" Seokjin melesat cepat kedalam kelas 1-C, kemudian merangkul manja leher hoobaenya yang satu itu.

Jungkook yang hanya bisa pasrah, menghela nafas pendek diselingi anggukkan kecil tanpa ke-ikhlasan.

"Kenapa hyung harus datang kesini? Bertengkar lagi dengan Namjoon sunbae? Hyung datang kekelasku kalau ada maunya saja. Aku lelah hyung. Dan apa maksudnya dengan panggilan 'nyonya Park' ? Aku tidak suka, hyung" Jungkook memutar bola matanya. Sedikit kesal dengan tingkah hyungnya yang satu itu.

"Hei hoobae setan calon kekasih Tuan Park Jimin. Bukannya berterimakasih! aku juga lelah bolak-balik turun tangga demi kekelasmu, bocah ingusan" Jin masih menarik Jungkook didalam rangkulannya.

Lorong mulai terisi dengan ratusan siswa yang hilir mudik disana-sini. Rangkulan Jin yang sedikit keras serta langkah mereka yang semakin cepat –takut kehabisan tempat duduk di kantin—, membuat Jungkook sesekali menabrak beberapa siswa yang pada akhirnya menatap sinis pemuda yang sudah masuk dalam barisan siswa paling beken serta paling dicari tim jurnalistik sekolah itu.

"Itu kan bukan cuma ke arah kelasku, tapi juga ke arah kantin yang ada di lantai paling bawah, hyung." Jungkook -kesekian kalinya- menghela nafas pendek.

"Cerewet sekali kau bocah" Tukas Jin sembari mengacak-acak rambut ungu muda milik Jungkook.

"Lihat, karena kau lama, seluruh tempat duduk sudah terisi" Jin mengerucutkan bibirnya. Sukses membuat beberapa seme di kantin tersebut naas meneteskan setitik darah dari hidung mereka.

Dari kejauhan, seorang mahluk berkulit sawo melambai-lambaikan tangan panjangnya. Jungkook dan Jin menyipitkan mata mereka, berusaha memastikan, siapa yang dengan riangnya melambai-lambaikan tangan pada kedua uke ini.

"Bukankah itu Namjoon sunbae?" Jungkook menoleh pada Jin. Didapatkannya Jin yang tengah bertolak pinggang dihiasi wajah masamnya.

"Ayo kita pergi."

"Tap- tapi hyung ..." Jin bersiap untuk berbalik arah. Tak lupa dengan Jungkook yang sudah berada dalam genggaman tangannya.

"Maaf"

Sebuah suara berat bergema ditengah keramaian kantin. Seluruh mata berpindah, dan fokus pada sang pemilik suara. Tentu saja, tidak terkecuali Jin dan Jungkook.

"Kim Seokjin" Namjoon bangkit dari duduknya dan berlari kecil kearah pintu depan kantin, tempat Jin dan Jungkook yang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Namjoon kini tengah berdiri tepat dihadapan Jin. Kedua bola matanya dengan serius menelusuri manik mata milik mahluk kesayangannya itu. Tatapan itu, tatapan yang memiliki sebuah arti. "Maafkan aku, Jinnie."

"Papa Joon.." Kedua insan kasmaran itu langsung memeluk satu sama lain tanpa mengindahkan tatapan haru dari beberapa siswa yang menyaksikan mereka. "Aku janji tidak akan lupa tanggal anniversary kita lagi, Jinnie" Namjoon mengelus lembut surai hitam lebat milik Jin.

"Papa Joon. Hiks" Jin merundukkan kepalanya begitu Namjoon melepaskan pelukan mereka. Pemuda berkulit sawo itu lalu mengangkat dagu kekasihnya hingga ia sukses mendapatkan kecupan singkat dari bibir tebal milik Jin. "Kookie. Aku pinjam dulu hyung mu ini" Namjoon melirik kecil pada Jungkook yang sudah melemparkan tatapan sinis padanya. "Ayo Jinnie" Tutur Namjoon sembari merangkul Jin dalam dekapannya. Tidak memikirkan perkara pelik antara dia dengan Jungkook, Namjoon langsung mengambil langkah pergi dari kantin yang sudah kembali ramai.

"Ditinggal lagi ditinggal lagi." Cibir Jungkook yang langsung mengambil langkah ke sebuah kios makanan.

"Pesan satu hweori gamja-nya, ahjumma" Jungkook mengulas senyum tipis. Si lawan bicara hanya mengangguk mengerti tanpa berhenti sibuk mengerjakan pekerjaannya mengingat pembeli yang masih membeludak memenuhi kios-nya.

"Maaf" Sebuah tangan menyapa kasar pundak Jungkook.

"Ya?" jawab Jungkook usai ia tolehkan kepala mungilnya.

"Tolong dibayar, nak" Laki-laki paruh baya yang berpeluh keringat itu menyodorkan secarik kertas. Terdapat kata "Bon" terpampang jelas dipojok atasnya.

"Kenapa aku yang bayar?" Jungkook memiringkan sebelah alisnya. Jaga-jaga bila ini adalah sebuah modus penipuan baru.

"Loh, kau itu Jeon Jungkook kan? Kau juga punya rambut ke-ungu-ungu-an. Jangan coba-coba kabur dariku, bocah tengil" Si laki-laki paruh baya berkecak pinggang.

"I-iya. Tapi kenapa aku harus membayar sesuatu yang tidak aku pesan, ahjussi?"

"Huh? Kau kan temannya si tengil Taehyung kan? Dia bilang, kau akan membayar ini. Kalian ini sama tengilnya"

"Taehyung sunbae? Dia bilang aku yang harus membayarnya?"

"Ya. Dan katanya aku harus memberikan surat ini padamu. Anak itu seenaknya menyuruh-nyuruh orang tua sepertiku. Haish. Sudahlah bayar ini"

Jungkook menggigit bibir bawahnya. Ragu tentang apa yang ada didalam dompetnya. Khawatir uang sakunya tidak cukup membayar makanan yang kini sudah berdiam ria didalam perut si tengil, Taehyung.

"Ini, ahjussi" Tanpa basa-basi, si pria paruh baya itu berbalik arah meninggalkan Jungkook.

"Astaga, sunbae itu apa maunya sih?!" Jungkook mencengkram dompetnya ganas. Ia daratkan perhatiannya pada secarik kertas yang sedari tadi ia anggurkan. "Pakai surat-surat segala. Dia pikir dia tidak punya mulut apa?!"

Jungkook membuka kertas itu perlahan. Berusaha sabar dan bersiap dengan apa yang tertulis dalam surat tersebut.

'Hitung-hitung bayar hutang. Tapi ice cream yang aku beli saat jam istirahat pertama tadi seharga 2000₩. Jadi kau masih ada hutang 1000₩. Mengerti? –Kau tau siapa'

"Sunbae itu rupanya benar-benar harus diberi pelajaran" gumam Jungkook.

Ia topang dagu-nya malas diatas meja yang baru saja ia duduki. Sendirian di tengah keramaian, ditemani tatapan sinis, uang yang mulai menipis. Entah kesialan apalagi yang akan menimpa pemuda bersurai ungu itu.

"Bisakah kau menjauhi sunbae kebanggaan sekolah ini?" Seseorang menggebrak meja yang sedang Jungkook naungi.

"Minjae?" Jungkook menatap heran teman seangkatannya itu, Kim Minjae. Sudah Jungkook duga hal ini akan menimpanya, mengingat Minjae yang sudah dikenal sebagai fans sejati Kim Taehyung.

"Anak biasa sepertimu harusnya tau diri. Mana mungkin bisa mendapatkan sunbae sempurna seperti Taehyung sunbae. Akan aku belikan kaca kalau kau tidak mampu membelinya."

"Aku tidak pernah berharap mendapatkan sunbae kebanggaan-mu itu. Aku berharap untuk mengenalnya saja tidak pernah"

"Kau itu percaya diri sekali ya rupanya" Minjae menarik kerah baju Jungkook. "Jauhi dia atau akan kubuat kehidupan sekolahmu bagaikan neraka, Jeon Jungkook" lanjutnya.

oOo

"Taehyung Sunbae!" Jungkook memekik kencang di pinggir lapangan. Taehyung yang sedang asyik dengan pantulan bola basketnya, mendadak terlonjak kaget.

"Ini masih jam pelajaran, Kook. Ada ap—"

"Berhenti menggangguku, sunbae! " Jungkook menggeram.

"Tenanglah, Jungkook" Taehyung berlari menghampiri Jungkook yang masih diam dipinggir lapangan. Dari dekat, dapat ia pastikan setitik airmata keluar dari sudut mata Jungkook.

"Bagaimana bisa aku tenang? Saat aku dihadapkan dengan dua orang seperti kalian, sunbae" Jungkook semakin menderaskan tangisannya.

"Tapi aku hanya takut—"

"Takut apa sunbae?! Harusnya aku lah disini yang merasa takut!"

Taehyung yang mulai panik, langsung menarik Jungkook kedalam dekapannya. Ia biarkan airmata Jungkook yang mulai membasahi seragam olahraganya. Setidaknya hingga Jungkook mulai bisa mengontrol emosinya.

"Lepaskan aku sunbae. Aku tidak bisa bernafas" Suara lirih Jungkook menyapa kedua indera pendengaran Taehyung, membuat Taehyung langsung melepaskan Jungkook dari dekapannya.

"Maaf, Kook. Kau tidak apa-apa kan?!" Taehyung mengguncangkan tubuh lemas Jungkook dengan cemas. Getir-getir ke khawatirannya dengan jelas tampak kepermukaan.

"Kau membuat ku pusing, sunbae"

"Ah maaf."

"Sunbae. Sepulang sekolah nanti, temui aku di perpustakaan. Ada yang ingin aku bicarakan."

Taehyung meng-iyakan ajakan Jungkook. Wajah Jungkook yang kelewat datar, membuat Taehyung tak ada kesempatan untuk menolak. Tepatnya, menolak ribuan pertanyaan serta omelan yang pasti akan Jungkook lontarkan pada dirinya. Ditambah lagi kepribadian Jungkook yang memiliki pendirian kuat –Taehyung mengetahuinya setelah ia mengorek informasi dari berbagai sumber—, mau sekuat apapun Taehyung menghindar, pada akhirnya ia akan kalah juga.

"Kalau begitu aku mau kembali ke kelas. Jangan sampai lupa, sunbae" Pemuda berkulit putih susu itu kemudian berbalik arah meninggalkan Taehyung yang masih mengamatinya dari belakang

.

.

.

"Jimin sunbae?" Jimin mengulas senyum ramah-nya. Ia sodorkan sebuah helm pada Jungkook.

"Aku harap kau tidak akan menolak permintaan ku ini."

"Pulang bersama?"

"Ehem" Jimin menepuk-nepuk kursi belakang motornya dengan satu tangan lainnya. Memberi kode agar Jungkook mau duduk disana.

"Maaf, sunbae. Aku ada janji dengan Taehyung sunbae sekarang" Jungkook mengulas senyum, berusaha tidak menghapus kesan kehormatan seorang sunbae dimatanya – yang mungkin tidak berlaku pada Kim Taehyung –

"Taehyung?" Jimin menarik kembali sodoran helm ditangannya. Ia taruh kembali helm itu pada tempatnya. "Kuharap kau jangan terlalu dekat dengannya" lanjut Jimin lembut.

"Kenapa, sunbae?"

"Dia bukan orang yang bisa kau sebut baik." Jungkook terdiam. Ia mengamati ke-elokkan wajah Jimin. Ia jarang sekali melihat wajah Jimin yang terlihat serius begini. "Intinya, aku tidak suka melihat kau terlalu dekat dengannya, Jungkook –ssi"

Jungkook masih tidak berani buka mulut. Ia jadi tidak mengerti tentang situasi apa yang tengah dihadapkan olehnya. "Kalau begitu, kau boleh pergi. Janji itu tidak boleh diingkari" Jimin kembali mengulas senyum. Senyuman yang dapat membuat siapa saja terhanyut kedalam kedamaian.

"Iya. Hati-hati, sunbae" Jungkook berlari pergi meninggalkan Jimin. Meninggalkan pemuda yang kini masih diam mengamati punggungnya yang lama-kelamaan mulai menghilang ditelan jarak.

"Jeon Jungkook" lirih Jimin diiringi senyuman tipis.

.

.

.

Jhope's Pov

Hari ini hari yang begitu melelahkan. Bertubi-tubi hal tidak masuk akal terjadi hari ini. Terutama tentang si tampan, Park Jimin. Dia itu sebenarnya punya masalah apa sih?

Hei tunggu. Bukankah itu Jimin? Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Kali ini aku harus pulang diantar olehnya. Apapun itu caranya, akan aku lakukan demi naik boncengan motor kerennya.

Tunggu, ini belum saatnya. Sial, Jungkook sialan itu. Trik apa yang dia lakukan pada Jimin! Aku sangat amat membenci-nya. Seperti sedikit bumbu penyedap akan membuat permainan ini semakin menarik.

Mau apa si bocah sialan itu masuk kedalam perpustakaan seusai sekolah? Bukankah kawasan perpustakaan selalu sepi usai jam sekolah berakhir? Ini kan sudah mau lewat tengah sore. Apalagi penjaga perpustakaan sedang cuti sekarang. Dia pasti akan sendirian disana.

Hm. Jam segini, Kim Ahjussi tidak akan mengunci perpustakaan. Jadi masih ada waktu. Enaknya aku mengerjai-nya atau menghampiri Jimin ya.

"Nak, ayo kita minum bir"

Pengemis ini menganggu saja. Bau badan serta bau alkohol menyengatnya membuat aku ingin muntah saja.

"Sana pergi kau! Menjijikan!"

Bagus sedikit hinaan dapat membuat gembel ini pergi.

"Ayo temani aku minum bir!"

Loh? Apa-apaan pengemis jelek ini?! Apa dia mulai membentakku?! Huh? Tunggu. Aku punya ide bagus.

"Ahjussi. Kau lihat pemuda berambut ungu tadi? Yang masuk ke perpustakaan tadi? Dia itu sangat suka menemani orang minum bir! Aku jamin kau tidak akan kesepian bersamanya!"

Yes! Gembel itu mengangguk-angguk ria. Yuhu! Lihat, dia mulai berjalan riang kea rah perpustakaan. It's show time, Jungkook. Tapi tunggu, kenapa dia memecahkan botol birnya didepan pintu masuk? Bukankah beling pecahannya bisa berbahaya? Dia itu kan sedang mabuk.

Astaga, Jhope, apa kau sudah keterlaluan?! Apa aku harus menyelamatkannya?! Tapi aku takut! Bagaimana ini?! Adukan pada Kim Ahjussi?

Iya, Jimin! Aku harus minta pertolongan padanya! Sekaligus dia akan menilai-ku sebagai orang baik! Ya, kau cerdas! Ayo lari menuju gerbang depan! Sepertinya Jimin belum meninggalkan sekolah ini.

"Jimin!" Aku harus mengontrol nafasku. Jangan sampai dia curiga.

"Ada apa?"

"Aku tadi melihat ada pengemis mabuk yang membawa pecahan beling, lalu masuk kedalam perpustakaan! Kupikir Jungkook ada didalam sana sendirian. Aku khawatir akan terjadi apa-apa padanya!"

"Apakah itu menjadi urusan-ku?"

Deg!

A-ada apa ini? Mengapa Jimin menjadi seperti ini? Dia tidak peduli? Tunggu, Jimin benar-benar tidak peduli?! Mengapa dia malah men-gas motornya? Hey! Dia malah meninggalkanku?!

Bagaimana ini?! Aku tidak boleh tinggal diam. Oke, tenang. Kau harus tenang.

Sekarang aku harus berlari ke perpustakaan. 3 menit menuju kesana. Ayo lari lebih kencang, Jung Hoseok.

Stop! Kim Ahjussi?! Dia sudah menangkap pengemis mabuk itu?! A-apa yang tengah terjadi?! Apa Jungkook tadi berteriak? Atau ada yang memergoki-nya lalu langsung memanggil Kim Ahjussi?!

Ya Tuhan, apa yang tengah terjadi?!

TBC

.

.

Jhope & Suga's style : Run era

.

.

.

Jangan lupa tinggalkan jejak ^3^