Disclaimer : Hoshino Katsura-sensei
Rating : T
Pairing : Yullen a.k.a Yuu Kanda & Allen Walker
Warning : YAOI
.
Chapter 3. Keputusan
.
.
.
Sakit hati...
Dirasakan Allen Walker setelah mendengar ucapan Kanda untuk menggugurkan bayi mereka. Meski didepan orang lain dia berusaha tampak baik-baik saja, namun didalam hati sungguh terasa nyeri. Allen sepenuhnya mengerti, tidak mungkin berharap pada Kanda, karena diantara mereka hanya ada permusuhan, apalagi keberadaan janin dalam perutnya hanyalah sebuah kecelakaan.
Memang dirinya sudah bertindak egois dan tidak berpikir panjang. Bertahan pada keputusan yang nanti pasti akan merepotkan banyak pihak. Tetapi, Allen tidak sanggup harus membunuh sebuah nyawa suci tanpa dosa, yang bahkan tak berharap untuk dilahirkan oleh orang aneh seperti dirinya.
Allen tahu benar bagaimana rasanya dibuang, ditinggalkan dan kesepian. Maka dia tidak akan membuat darah dagingnya mengalami hal sama. Anak didalam perutnya itu, akan menjadi satu-satunya keluarga, manusia yang memiliki hubungan darah dengannya. Meski mimpi itu sudah lama terkubur, namun memiliki keluarga adalah hal yang sangat diinginkanya.
Apalagi Allen sudah berjanji pada Mana, almarhum ayah angkat yang sangat disayanginya. Untuk terus berjalan kedepan apapun yang terjadi. Demi alasan kuat itulah dia akan mempertahankan anak didalam kandungannya meski harus berhadapan dengan seluruh dunia.
.
.
Sementara itu ditempat latihan, Yuu Kanda tampak bermeditasi dengan gelisah. Setelah kunjungannya ke kantor Komui, berbagai pikiran berkecamuk diotak, meski posisi lotusnya* terlihat sempurna kerutan tajam menghiasi wajah tampannya. Tidak lama kemudian Noise Marie datang menyusul untuk duduk disebelahnya. Meski exorcist bertubuh besar itu buta, tapi berkat pendengaran yang super, dia bisa bebas bergerak layakna orang normal.
Noise Marie sudah menganggap Kanda sebagai adiknya sendiri, apalagi hutang nyawanya pada pemuda asia itu sangatlah banyak. Mereka saling mengenal sejak 9 tahun yang lalu, melewati berbagai peristiwa bersama. Maka Marie paham benar, akan sifat dan perangai asli Kanda, juga masa lalunya yang sangat kelam.
Saat mendengar pernyataan mengejutkan dari Kanda yang membuat semua orang marah tadi, Marie merasa maklum. Dirinya yakin pasti ada alasan kuat dibalik semua kata-kata kejam itu. Oleh sebab itu sekarang dia duduk disini, bermaksud mencari tahu apa yang sebenarnya Kanda inginkan dan berharap jika bisa meringankan masalah mereka.
Selama beberapa saat keduanya terdiam, hingga akhirnya Kanda angkat bicara karena tak tahan akan aura penuh pertanyaan yang menguar dari sosok disebelahnya, "Apa maumu!?" tanya sang pemuda asia tanpa membuka mata,
"Tidak ada, hanya ingin bermeditasi. Sudah lama aku tak melakukan ini..." jawab Marie sambil tersenyum simpul.
"Cih, Kau pikir aku bodoh apa? Jika ini tentang si Moyashi itu lagi, jangan bicara! karena aku tak peduli!"
"Orang lain mungkin percaya itu... tapi aku tahu dirimu yang sebenarnya Kanda... Jadi, bisa kau beritahu aku? apa yang sebenarnya kau khawatirkan? "
"Huh...," Kanda tak menjawab, hanya mendengus keras tanda kesal. Tapi Maie tidak menyerah dan kembali bertanya.
"Semuanya mendukung keputusan Allen-kun untuk mempertahankan bayi itu, kurasa itu adalah hal yang bagus... Black Order pasti akan lebih ceria dengan hadirnya seorang anak kecil."
"Kalian memang sudah tidak waras hah!? Moyashi itu juga masih anak-anak! Dia bahkan belum berumur 17 tahun tahun! Apa nanti siap untuk menjadi orang tua!? Ini tidak sesederhana memelihara binatang! Butuh usaha yang keras untuk membesarkan seorang anak!"
"Tapi usia bukan masalah, saat inipun banyak pemuda seusianya sudah menikah dan memiliki anak. Apalagi Allen-kun adalah orang yang kuat juga bertanggungjawab. Buktinya sekarang dia mampu menjadi Exorcist yang handal dan baik."
"Che... bukan hanya kekuatan yang dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak dengan baik Marie! Justru karena kuat sebagai Exorcist, kami harus pergi menjalankan misi berhari-hari bahkan bisa kapan saja mati, mana ada waktu untuk mengurus seorang bayi yang baru lahir."
"Kau tak sendiri menghadapi ini Kanda, kami dengan senang hati akan membantu membesarkan anak itu..."
"Ya... dan suatu saat akan ada seorang bocah yang tak berhenti menangis karena orangtuanya mati, atau bahkan merubah si Moyashi menjadi Akuma, karena dia tak pernah bisa pulang lagi! Aku tak mau menambah tragedi di dunia yang sudah kacau ini."
"Kurasa untuk saat ini pikiranmu itu terlalu jauh Kanda, yang kurasa kau hannya takut untuk memiliki kedekatan hubungan dengan seseorang. Apa yang terjadi dimasa depan nanti tidak selalu buruk asalkan kita punya harapan... cobalah berpikir positif... anak yang lahir karena keajaiban Innocent, itu sebuah tanda, bahwa mungkin dewa mengirimnya untuk membawa harapan baru bagi kita di perang ini."
"Cih... omonganmu itu cuma mimpi, yang kutahu kenyataan tak seindah itu."
"Aku tahu ini berat dan tak adil untukmu Kanda. Tapi tolong pikirkan juga perasaan Allen, dia yang mendapat dampak terbesar dari semuanya... dan kau tak bisa lepas tangan begitu saja, karena bagaimanapun kalian sudah terperosok dalam satu lubang... hanya kau yang paling bisa membantu... setidaknya bicarakanlah baik-baik dengan Allen, dia sangat terluka dengan sikap dan perkataanmu tadi."
"Heh kau bilang dia teluka karena sikapku? Kurasa kalianlah yang lebih menyakitinya dengan membiarkan dia melakukan tindakan bunuh diri ini."
"Bunuh diri? apa maksudmu? Kurasa Komui sudah menjelaskan bahwa kehamilan Allen aman untuk diteruskan?"
"Untuk berapa lama? Apa kau tak lihat tampang Moyashi itu sangat pucat! Wanita saja beresiko tinggi ketika hamil diusia sangat muda, apalagi dia laki-laki. Tubuhnya tak siap Marie! Bisa saja semakin lama bayi itu ada diperutnya akan menjadi parasit, sama seperti Innocent terkutuk ditangannya!" ujar Kanda geram, sambil mengepalkan kedua tangan dia melanjutkan "Memperpendek umur juga menggerogoti seluruh tubuhnya dari dalam..."
Mendengar semua penjelasan itu Marie malah tersenyum "Tak kusangka... kau punya kepedulian yang begitu besarnya pada Allen,"
"Cih..." si exorcist Asia memalingkan wajahnya.
Noise Marie tersenyum lembut, menghela nafas lega dia berkata "Kurasa aku harus pergi sekarang, ada yang harus kuselesaikan..."
"Syuh! pergi sana! kau hannya mengganggu saja..." ujar Kanda menggerutu, sementara sang rekan tertawa kecil sambil berlalu meninggalkan ruang latihan, memegangi earphone dileher yang digunakannya untuk merekam pembicaraan mereka tadi diam-diam.
.
.
Saat itu Allen sedang duduk bersama Lavi dan Lenalee di cafetaria, atau lebih tepat disebut sebagai aula makan. Karena ukuran ruangan yang sangat luas dan banyaknya orang yang berkumpul disana. Demi menghibur pemuda berambut putih yang tampak murung setelah mereka keluar dari kantor superfisor, kedua sahabat langsung berinisiatif membawanya mencari makanan.
Mengandalkan kemampuannya untuk mengenali suara, Noise Marie bisa dengan mudah menemukan Allen meski ruangan itu cukup bising. Berjalan mendekat, Lavi langsung menyambutnya dengan lambaian tangan dan teriakan keras "Marieee! Bergabunglah sini!"
Exorcist buta itu kembali tersenyum, kemudian bergabung untuk duduk di meja makan "Kau baik-baik saja Allen?" tanyanya prihatin.
"Hmm... iya, aku tak apa-apa kok,"
"Kurasa tidak! Wajahmu terlihat sangat murung dari tadi," kata Lenalee menyela, "Marie! Kau tahu dimana Kanda? Aku ingin menendangnya! Sungguh mahluk tak punya hati! Berani sekali dia bicara begitu!" sang gadis terlihat kesal.
Tidak ketinggalan Lavi mendukung, akhirnya mereka berdua sibuk berdiskusi tentang bagaimana caranya memberi pelajaran pada Yuu Kanda.
Marie menggelengkan kepala sambil kembali tersenyum, melepas earphone dilehernya "Yah... Kanda memang pantas Allen pukul, tapi sebelum itu lebih baik dengarkan ini... kurasa bisa meringankan pikiranmu..." ujarnya sambil menyodorkan alat pendengaran itu pada Allen, yang meski bingung, tetap memakai earphone dikepalanya dan berkonsentrasi mendengar isi rekaman.
Melihat itu penuh rasa heran, Lavi dan Lenalee meminta penjelasan. Marie menjawabnya dengan senyum mengembang "Nanti kalian juga akan tahu,"
Tidak lama, ekspresi terkejut menghiasi wajah pucat Allen yang buru-buru bangun. Mencopot earphone dan berlari keluar, bahkan tidak menghiraukan panggilan Jerry yang membawa setumpuk makanan pesanannya.
"Allen! Kau mau kemana!? Tunggu aku!" teriak Lenalee hendak menyusul
Tetapi Marie menghentikannya, "Kali ini biarkan mereka selesaikan masalah itu sendiri..." katanya sambil menyodorkan earphone yang ditinggalkan begitu saja oleh Allen pada kedua orang exorcist.
.
.
TAP TAP TAP TAP...
Suara langkah kaki menggema disepanjang koridor, Allen berlari kencang menuju ruang latihan dimana Kanda bermeditasi dan kecewa karena ruangan itu kini kosong. Buru-buru dia berbalik arah kembali berlari menyusuri lorong, matanya menjelajah keseluruh penjuru, mencoba mencari sosok pemuda berambut panjang.
Ruang rekreasi, Aula pertemuan, perustakaan, laboratorium, bahkan sampai kekamar mandi, namun hasil pencariannya nihil. Beberapa saat kemudian sampailah dia pada pilihan terakhir, kamar tidur. Perlu melewati tangga menara headquarter yang berbentuk spiral untuk sampai kesana, disitulah terlihat Kanda sedang berjalan diseberang, tepatnya dibagian bawah dari anak tangga yang Allen pijak.
"Kanda! Tunggu sebentar!"
Terkejut akan suara teriakan, sang pemuda Asia menghentikan langkah dan menoleh, "Che...apa maumu Moyashi?."
"Hosh... Kita... Hosh... harus bicara..." ujar Allen ngos-ngosan, seraya mengatur nafas yang sesak setelah berlari kencang.
"Tak ada yang perlu kubicarakan denganmu." Kanda membuang muka, kembali berjalan lebih cepat.
"Hei! Tunggu!" si pemuda berambut putih berlari lagi, berusaha menyusul meski posisi mereka berseberangan, "Kalau kau tak mau bicara setidaknya dengarkan aku! Eh Bakandaaa!" merasa tak dihiraukan ia berteriak dan terus bicara dengan suara keras.
"Dengar ya, aku sudah berpikir dengan serius tentang masalah ini... dan aku akan tetap pada keputusanku." Lalu Allen mengungkapkan semuanya, segala kegelisahan dan penderitaan karena hidup sebatang kara. Karenanya saat keajaiban memberikan seorang keluarga padanya, hal itu tidak akan dia sia-siakan.
Meski Kanda tetap berjalan dengan lambat, Ia mendengarkan semua ungkapan itu, membuat Allen semakin bersemangat untuk melanjutkan ceritanya. Hingga tangga hampir mencapai lantai dasar dan Kanda menghentikan langkahnya. Posisi mereka masih tetap sama, berada di sisi tangga yang berseberangan.
Sang Samurai membalikan tubuh, menatap wajah pemuda berambut putih yang dengan penuh percaya diri berseru "Aku tidak akan menyerah Kanda! Aku akan terus berjalan kedepan apapun yang terjadi! "
Entah kenapa, pemandangan yang dilihat Yuu Kanda saat ini terlihat begitu berbeda. Allen Walker berdiri membelakangi sebuah jendela besar yang meloloskan sejumlah besar sinar matahari pagi. Bias cahaya dan hembusan angin lembut, membuat sosok berambut putih itu bersinar, layaknya seorang malaikat. Sorot mata berwarna kelabu itu juga sarat akan keyakinan dan kepercayaan penuh, sontak membuat sosok gelap sang samurai terpana dalam diam.
Kanda tidak berdaya menghadapi semua keteguhan dan keyakinan dalam diri Allen, entah itu kata-kata yang membuatnya tersentuh, atau terpukau oleh pemandangan yang dilihatnya. Kanda hanya bisa menghela nafas dalam, tanpa memberi bantahan membirkan si rambut putih melakukan apa yang diinginkannya. "Lakukan saja apa yang kau inginkan...aku tak akan ikut campur lagi,"
Seketika mata kelabu berbinar "Jadi kau setuju?" tanya Allen penuh harap,
"Terserah padamu... tapi, jangan berharap aku akan membantu," jawab sang samurai sebelum pergi menjauh, meninggalkan Allen yang tersenyum dengan perasaan lega.
.
.
.
Beberapa minggu berlalu, setiap pagi secara rutin, Allen akan mampir ke ruang kesehatan untuk pengecekan kondisi tubuh. Hal itu dilakukan untuk memastikan kesehatannya, tim peneliti yang dikepalai oleh Reever Wenham, juga sibuk mengembangkan vitamin dan obat, yang mampu mengurangi morning sickness. Sebenarnya pengembangan vitamin itu hendak dilakukan oleh Komui, tapi hampir semua orang tidak mempercayainya lagi, karena takut kejadian malpraktek terulang.
Kebiasaan baru Allen memakan daun teh mentah masih rutin dilakukan, namun berusaha untuk dikurangi. Karena selain Jerry yang mengeluh akan krisis teh di cafetaria, Suster kepala juga menyuruhnya untuk mengkonsumsi makanan lain, yang lebih bergizi seperti buah dan sayur. Masalah buah Allen masih bisa menerima, tapi tidak untuk sayuran. Karena sejak awal dia tidak doyan makan sayuran, seringkali Allen menyingkirkan sayuran dari makanannya.
Setelah berbicara dengan Kanda mood Allen membaik, terlihat jelas dari senyum yang mengembang lebar dan membuat semuanya merasa lega. Terutama Lavi dan Lenalee yang mendapat kesempatan untuk mendengarkan rekaman pembicaraan antara Noise Marie dan Kanda. Mereka tidak menyangka bahwa dibalik perkataan kasarnya sang samurai sebenarnya bermaksud baik.
Hal itu membuat Lenalee sangat bersemangat untuk membuat Allen dan Kanda berbaikan, agar hubungan diantara keduanya semakin dekat. Tentu saja si Bookman junior mendukung, karena hal itu pasti akan sangat menarik. Sayangnya Yuu Kanda salah satu target operasi, saat ini sedang pergi jauh demi menjalankan misi solo bersama para Finder saja. Rencana penyatuan itu terpaksa ditunda.
.
.
Seperti pada pagi itu, Allen telah menyelesaikan pemeriksaan dan langsung pergi menuju cafetaria bersama Lenalee. Sejak mengetahui kondisi kehamilannya, Lenalee menjadi sangat perhatian dan selalu antusias menemani untuk melakukan pengecekan di ruang kesehatan. Keduanya berbincang ringan sepanjang jalan dan tidak menyadari sebuah benda melayang dengan cepat kearah mereka.
WUUUSHHHH... TEPLAK!
"AUW! ADUH!" teriak Allen kesakitan saat benda berwarna kuning sukses menabrak kepalanya.
"Allen! Kau tak papa?" tanya Lenalee cemas, sambil memegangi bahu sang pemuda agar tidak jatuh.
"Aish...apa ini?... Eh!? TIMCAMPY!" Allen langsung memeluk golem keemasan itu dan menempelkannya ke pipi sambil menangis haru "Aku Kangen sekali padamuuu!"
Lenalee yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil, tapi sesuatu mengingatkannya, "Timcampy ada disini, apa berarti Para Jenderal sudah kembali dari pertemuan di Central?"
"Eeh?... be.. berarti... guru..." seketika wajah Allen pucat, baru sadar jika Timcampy tidak pernah berpisah dari Masternya, berarti Jenderal Cross sudah kembali.
Kondisi kehamilannya yang aneh pasti akan diketahui, tidak bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan sang guru menanggapi hal itu. Merasa belum siap, Allen memutuskan untuk kabur, sembunyi sementara waktu harus dilakukan, sebelum mentalnya siap menghadapi sikap eksentrik gurunya.
"Allen! Kau mau kemana?" teriak Lenalee melihat sang pemuda berambut putih berlari ke arah yang berlawanan dengan tujuan mereka.
"Ada yang harus kulakukan, aku pergi dulu!" jawab Allen diikuti oleh Timcampy yang langsung bertengger dipuncak kepalanya.
.
.
Yuu Kanda baru saja pulang dari misi kecilnya, dianggap kecil karena tak ada keberadaan Innocent disana, hanya beberapa akuma berlevel rendah yang dengan mudah dapat dibantai, tetapi cukup manjur untuk menyalurkan stress. Setelah menyerahkan laporan, dengan langkah panjang dia berjalan menuju kamar dan sampai di sebuah lorong yang berbelok.
"AaKh!..." ternyata dari arah yang berlawanan Allen muncul sambil berlari dan nyaris menabrak, untung dengan reflek Kanda bisa menghindar, akibatnya si pemuda berambut putih hampir jatuh tertelungkup dilantai. Tapi Kanda dengan cepat menarik bagian belakang baju rompi yang digunakan Allen, menahannya agar tidak jatuh.
"Gunakan matamu, baka Moyashi." Ucapnya dingin, seraya menarik tubuh limbung Allen hingga tegak berdiri lagi.
"Aish... untung saja... Maaf aku sedang buru-buru," ujar Allen sambil menunduk, matanya melebar saat menyadari sosok sang penolong "Eh? Kanda? Kau baru kembali dari misi?"
"Che...bukan urusanmu." Jawab sang pemuda asia judes, pergi dengan wajah masam membuat Allen mengerucutkan mulutnya kesal. Tapi Timcampy merasa tersinggung Allennya yang manis diperlakukan dingin begitu, golem emas itupun melesat cepat berniat menghantam kepala keras sang samurai. Namun golem hitam milik Kanda langsung pasang badan dan berusaha melindungi tuannya, jadilah kedua robot canggih itu berkelahi. Allen berusaha melerai mereka hingga sebuah ide muncul dikepala.
"Tunggu Kanda! Bisa tolong kau sembunyikan aku?"
Kanda menghentikan langkahnya sambil membalikan badan, "Hah? Apa maksudmu?"
"Kumohon...tolonglah...guru Cross sudah kembali, aku tidak ingin bertemu dengannya"
Sang Samurai memberinya tatapan tajam lalu berkata "Moyashi pengecut sepertimu sembunyi saja di kebun sana."
"Aku bukan pengecut! Hanya saja butuh waktu untuk me..."
"Tak ada hubungannya denganku." Kanda memotong perkataanya dan kembali berjalan,
"Hei! Dengarkan kalau orang bicara!" teriak Allen kesal sambil menarik lengan baju sang pemuda berambut panjang.
"Apa sih masalahmu! Jangan tarik-tarik!"
Dua orang itu akhirnya bertengkar, seperti golem mereka. Allen semakin keras mencengkeram lengan Kanda dan sang samurai malah menarik kerah bajunya hendak memukul. Sampai sebuah suara menghentikan mereka.
"Ckckck...baru kutinggal sebentar kau sudah membuat masalah murid bodoh!"
DHEG!
Dengan gerakan terpatah-patah kepala Allen menengok, mendapati gurunya Cross Marian berdiri tidak jauh dari mereka, menghisap rokoknya santai.
"Gu... guru..."
"Apa yang kau ributkan dengan gadis kecil sepertinya?" tanya sang guru sambil menyeringai.
Tidak terima disebut 'gadis kecil' Kanda langsung maju menghadangnya dengan geram, "Apa kau bilang!?"
"Oh... meski wajah kesalmu cukup menarik, sayangnya aku tak berminat pada mahluk bergender tak jelas sepertimu bocah..."
"KAU!" sang samurai bertambah kesal dan menghunus pedangnya, tapi Allen berusaha menahannya.
"Tunggu-tunggu! sabar Kanda!" Akhirnya Allen malah sibuk menahan Kanda agar tidak berkelahi dengan sang guru dan lagi-lagi sosok yang familiar muncul.
"Yuu-kun! Apa itu kau nak?" Dari arah berlawanan muncul Jendral Tiedol bersama Noise Marie dibelakangnya "Aah Marian! Kau ada disini rupanya!"
Saat itu Allen benar-benar merasakan suatu firasat buruk dan Kanda yang terlihat kaget langsung berhenti memberontak.
"Aah... Allen-kun, kau juga ada. Senang sekali kita sekeluarga bisa berkumpul disini," Tiedol mengusap air mata harunya dengan saputangan yang entah ia dapat darimana.
"Yang jelas aku tak termasuk dalam keluarga bodohmu itu Froi." Jawab Cross, menghembuskan asap rokok berbentuk lingkaran besar dari hidungnya.
"Oh jangan berkata begitu Marian, bukankah sebentar lagi kita akan berbesanan?"
"Kau sedang mabuk apa? Siapa yang mau berbesan denganmu?"
"Waah jangan begitu... kita berdua akan segera menjadi kakek... Bukankah Allen-kun sedang mengandung anak dari Yuu-kun, Itu artinya kita akan jadi keluarga kan?"
UHUK! Tak disangka Cross tersedak asap rokoknya sendiri, "AHAHAHAHA... Mengandung!? Perlu kau tahu Froi, murid bodohku itu laki-laki. Justru aku yang curiga apa bocah cantik disana itu benar-benar lelaki tulen?"
"Grrr..." Kanda mengeram menahan amarah, ingin sekali ia memukul sang Jenderal berambut merah, tapi kali ini Marie menahan tubuh juga membungkam mulutnya dengan tangan. Sementara wajah Allen sudah pucat pasi dan berkeringat dingin, kejadian itu bertambah parah saat Timcampy menghentikan perkelahiannya dengan golem hitam, malah terbang rendah dan berakhir menempel di perut Allen, jari-jari kecilnya tampak mengelus perut sang pemuda perlahan, seolah merasakan sesuatu didalam sana.
Melihat itu tawa Cross berhenti, rasa terkejut terpampang jelas diwajah. Dia memandang sang murid dengan ekspresi horor, "Apa maksudnya ini semua...Allen?"
GLEK Allen menelan ludah, sementara Kanda melotot tajam pada Noise Marie yang menggaruk kepalanya sambil tersenyum "Maaf aku memberi tahu guru kita, tapi cepat atau lambat beliau akan tahu kan?" katanya santai.
Mendapati tatapan penuh intimidasi dari gurunya, tanpa sadar Allen berusaha sembunyi di belakang tubuh Kanda, merapat dan kembali mencengkeram lengannya erat.
Tiedol tersenyum lebar, "Aaw...kau lihat mereka Marian, sangat menggemaskan... aah gejolak cinta dimasa muda," mendengar itu Cross tambah melotot dan mereka bedua langsung mengambil jarak beberapa langkah.
"Hahaha...mereka malu-malu..." tambah sang jenderal berambut ikual itu lagi, tanpa menyadari aura mencekam yang sudah menyelimuti mereka berlima.
Allen merasa sulit bernafas didalam atmosfer yang begitu berat, hingga suara pengumuman yang terdengar dari speaker menyelamatkan dirinya,
~Kepada Jenderal Cross dan Tiedol, harap datang ke ruangan superfisor! Sekali lagi...Pada...~
Mendengar itu Jenderal Tiedol langsung mengajak Cross untuk bergegas, tapi sebelum Allen sempat menarik nafas lega gurunya berkata, "Kau harus menjelaskan masalah ini nanti, Muridku yang bodoh."
Melihat sang Exorcist berambut putih terlihat sangat cemas, Kanda menjadi geram "Che...kau bilang akan terus lanjut berjuang Moyashi, kenapa sekarang nyalimu jadi ciut seperti itu?"
"Tapi kau tak tahu betapa mengerikannya hal yang bisa guru Cross lakukan!"
"Alasan! Katamu kau siap menghadapi apapun, lagipula meski selama ini gurumu bertindak keterlaluan, buktinya kau masih bisa bertahan hidup. Terima satu atau dua pukulan lagi tak masalah kan?"
"Ingat kau tak sendiri Allen, ada kami yang siap membantumu," ujar Marie menambahkan, sambil tersenyum dan memegang pundak si pemuda berambut putih penuh keyakinan. Meski merasa terkejut dengan kata-kata Kanda yang tampak memiliki maksud untuk menyemangatinya dan hal itu sukses menambah kekuatan bagi Allen, ia tak akan ragu dalam menghadapi sang guru nanti.
.
Menjelang waktu makan malam, para Jenderal baru selesai melakukan pertemuan dengan superfisor. Saat itu Allen sedang duduk dikamarnya bersama Lavi dan Lenalee, yang berusaha menghibur begitu mereka mendengar berita bahwa Jenderal Cross sudah kembali. Sejak tadi Timcampy juga terus menempel diperutnya. Meski Allen berusaha melepaskannya, golem kecil itu selalu kembali ketempat semula.
JEKLEK! Suara pintu dibuka, menampakan sosok Jenderal berambut merah yang langsung berseru, "Lavi, Lenalee bisa kalian tinggalkan kami sebentar?"
Lenalee dan Lavi pun saling bertukar pandang, namun mereka terpaksa pergi setelah mengucap salam singkat pada Allen dan gurunya. Cross sendiri langsung mendudukan diri disebuah kursi dan mulai menghisap rokoknya.
"Fyuuhh... Komui sudah menceritakan garis besarnya padaku... chk... dimana sih otakmu!? kali ini kau benar-benar terlibat masalah yang parah... dasar murid bodoh, ceroboh!"
"Paling tidak aku tak meninggalkan hutang dimana-mana..." gerutu Allen kesal
"Itu lain masalah... heh jika tau orientasimu begitu, dari dulu kau sudah kubimbing agar 'lurus',"
"Membimbing? asal guru tahu saja ya selama menjadi muridmu aku sudah cukup trauma dengan kelakuan 'lurus'mu di setiap tempat hiburan! dan yang terpenting orientasiku tidak menyimpang!"
Sang guru malah tersenyum mengejek "Hoo tidak menyimpang ya? jadi karena itu kau tidur dengan bocah berwajah seperti perempuan itu? Jika iya harusnya dia yang hamil, bukannya kau! Dasar Idiot!"
Wajah Allen memerah karena menahan malu dan marah, "Apa!? Perlu guru catat ya! kami melakukannya karena terpengaruh obat! Itu tidak sengaja! dan lagi, meski Kanda berwajah lebih cantik dari pria kebanyakan dia masih jauh lebih baik dari guru yang mata keranjang sepertimu!"
"Heh dan kini kau membelanya,"
"Aku tak membela siapapun! Aku hanya bicara fakta!" nada bicara Allen semakin meninggi, dia sampai bangkit dari duduknya dan menunjuk-nunjuk sang guru kesal.
"Cih... sudahlah aku tak peduli dengan kekasih kecilmu itu... yang pasti aku mau bertanya, kau yakin akan mempertahankan kandunganmu?" wajah Cross terlihat sangat serius dan seketika Allen menghentikan teriakan kesalnya.
"Apa kau tahu jika pihak Central mulai mencurigaimu memiliki hubungan dengan para Noah, karena kau bisa mengendalikan 'White Ark'? dan kondisimu saat ini bukanlah berita yang menyenangkan,"
Allen terdiam cukup lama, sebelum akhirnya dia kembali bicara "Guru... aku tahu ini terdengar egois... tapi aku ingin mempertahankanya, anak ini adalah darah dagingku" Mata kelabunya memancarkan semangat dan keteguhan yang kuat "Aku tau betapa sakitnya kehilangan dan aku tak mau mengalaminya lagi! Selama ini aku selalu berjuang bertaruh nyawa menyelamatkan roh para akuma, kali ini aku akan berjuang untuk mempertahankan dan menjaga nyawa anak tak berdosa ini!"
Cross Marian membisu, beberapa tahun dirinya lewati sebagai guru sang pemuda berambut putih, dia paham benar jika keputusan Allen kali ini sudah bulat dan tidak bisa dirubah lagi, "Hah... dari dulu kau memang keras kepala, jadi meski aku memaksamu pun takkan ada hasilnya...", ujar Cross sambil beranjak dari duduknya.
Mata Allen melebar, tak percaya jika gurunya menyerah dengan begitu mudah pada keputusan itu, "Maksud guru?"
"Untuk kali ini kubiarkan kau melakukan apa yang menjadi kemauanmu bocah." dan sang Jenderal pergi begitu saja meninggalkan Allen yang melongo tak percaya.
"Kurasa ini akan menarik." Gumam Cross pelan, bibirnya menyeringai lebar saat keluar dari kamar sang murid.
.
Keesokan harinya, seperti biasa Allen hendak melakukan pemeriksaan rutin dan sangat terkejut mendapati gurunya berada di ruang perawatan dengan menggunakan jubah putih ala dokter. Timcampy tampak senang melihat penampilan baru sang master dan memilih bertengger di pundak sang Jenderal, membuat Allen merasa terkhiananti, "Apa yang guru lakukan disini?"
"Aku sudah memutuskan untuk sementara bergabung dalam tim dokter, tentunya demi mengawasi perkembangan kesehatan satu-satunya muridku tersayang, jadi kali ini aku yang akan melakukan pemeriksaan padamu."
"Eeeeh?" rasa terkejut tak bisa ditutupi, Allen heran kenapa sang guru yang biasanya cuek mau bersusah payah seperti itu, firasat akan adanya hal yang tidak beres pun muncul.
Dugaanya itu terbukti, karena selama pemeriksaan Allen benar-benar merasa dilecehkan secara verbal oleh pertanyan-pertanyaan yang dilontarkan sang guru, "Ck...Apa kalian tak mengenal yang namanya kondom? Hah bisa sampai bunting seperti ini... dasar bocah penuh hormon yang idiot."
Apalagi saat beberapa perawat, suster kepala, para dokter lain dan Lavi yang saat itu hadir menemaninya, malah tertawa hingga terbahak-bahak, oh Allen benar-benar menangis dalam hati. Penyiksaan tidak berhenti sampai disitu, Cross juga memutuskan untuk menyusun menu khusus yang berisi sayuran segar dan ikan mentah. Juga mulai menyuntikan hormon secara rutin agar perkembangan sang janin lebih sehat. Karena meski Innocent sudah merubah beberapa organ dalam tubuhnya, tapi kebutuhan akan hormon pertumbuhan belum bisa dipenuhinya dan setiap kali mendapat suntikan, Allen selalu merasa mual dan pusing.
Ternyata bukan hannya Allen yang mendapat kesulitan dengan antusiasme para Jenderal, Kanda bernasib sama, karena Froi Tiedol tak berhenti menceramahinya tentang bagaimana cara menjadi Ayah yang baik dan bertanggungjawab. Sungguh dia sudah menolak, berusaha membantah sang guru habis-habisan, tapi orang tua yang satu itu tak pernah menyerah dan terus mengikutinya kemana saja. Kanda kehabisan tempat sembunyi di Headquarter, oleh karenanya dia memutuskan untuk datang ke kantor Komui demi meminta misi ke tempat yang jauh.
.
.
"TIDAAaaaK!" suara teriakan Allen membahana di seluruh cafetaria saat Lenalee membujuknya untuk meminum segelas jus mencurigakan berwarna keunguan.
"Ayolah Allen, ini sangat bagus buat kesehatanmu..."
"Tapi Lenalee... rasanya tidak enak! Aku sudah muak meminumnya beberapa hari ini... kumohooon... aku tak sanggup lagi..." katanya dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca, membuat siapapun yang melihatnya menjadi iba.
"Haah... baiklah aku menyerah, hari ini kau tidak usah meminumnya,"
Jus berwarna ungu itu sebenarnya berisi sayuran, ditambah multivitamin hasil penemuan tim peneliti yang dibantu oleh Cross. Jus itu masuk dalam menu harian yang harus dimakan Allen, tapi rasanya sangatlah tidak enak dan membuat perutnya terasa aneh. Lenalee dan Lavi berusaha membujuknya untuk mengkonsumsi jus itu secara rutin, tapi seringkali gagal karena tidak tega melihat wajah memelas Allen.
Kabar itu sampai ditelinga sang superfisor dan membuatnya sangat prihatin. Dibawah bujukan sang adik, Komui pun berpikir keras bagaimana membuat Allen mau sukarela meminum Jusnya. Saat itulah Kanda datang, "Cepat beri aku misi Komui! Aku sudah hampir gila diikuti orang tua aneh itu!" teriaknya dengan muka garang.
Melihat muka sangar sang samurai, langsung memunculkan suatu ide dikepala Komui, "Waah tak kusangka Jenderal Tiedol begitu mengganggumu... tapi baiklah aku akan segera mengatur sebuah misi yang jauh untukmu, tapi ada hal kecil yang harus kau lakukan sebelum itu." Ujarnya dengan mata berkilat.
Kanda terdiam, namun merasa tidak punya pilihan lagi, iapun menyanggupinya "..., Che baiklah. Cepat katakan apa yang harus kulakukan?"
Komui tersenyum lebar dan entah kenapa seketika Kanda merasa menyesal "Kau lihat botol berisi jus itu? Kau hanya harus membuat Allen mau meminumnya sampai habis."
"Tak ada tugas yang lebih penting apa?! Hal remeh seperti itu, tinggal tuang saja jus dimulutnya si rakus itu pasti langsung menelannya." Ujar sang samurai tak percaya.
"Tapi kami tak mau membuatnya tersedak Kanda! Karena ini tugas yang remeh kuharap kau bisa dengan cepat melakukannya. Setelah itu baru kita bicarakan mengenai misimu."
Mendengar itu akhirnya Kanda terpaksa mengalah dan mengambil botol berisi Jus,
"Oh ya jangan berpikir untuk membuangnya ya... karena dengan memeriksa Allen kami akan tahu apa Allen sudah meminumnya atau belum," tambah Komui dengan senyum ramah.
Dalam hati Kanda merasa kesal, tapi hal kecil seperti itu dia yakin pasti bisa melakukannya dengan mudah. Apalagi ini akan menguntungkannya, demi bisa segera mendapat misi dan menjauh dari Tiedol yang menyebalkan.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan sang pemuda berambut putih, yang sedang asik menikmati sepiring cake buah di meja cafetaria bersama Miranda.
"Oi Moyashi!"
"Ung hahafa BaKafda," jawab Allen masih dengan mulut yang penuh cake,
Kanda memandangnya jijik "Telan makananmu sebelum bicara idiot! Ini Komui menyuruhmu meminumnya," katanya sambil meletakkan botol berisi jus diatas meja.
"Mahaf... mahaf," Allen menelan makanannya dan dengan penasaran membuka botol itu, tapi begitu ia melihat isinya langsung ditutup lagi "Ugh... tidak usah terimakasih."
"Cih...itu hanya jus kan, cepat minum saja! Seperti kau tidak rakus saja..."
"Siapa yang rakus! Aku makan banyak karena Innocent parasitku dan aku tak mau meminum jus laknat itu... asal kau tahu ya rasanya sangat tidak enak,"
"Aku tak peduli! Cepat diminum, atau aku akan memaksamu!"
"Memaksaku? Heh silahkan kalau kau bisa!" jawab Allen meremehkan,
Kanda pun segera bertindak, menarik kerah baju Allen dengan tangan kanan dan mengambil botol dengan tangan kiri, hendak menuang isinya ke mulut si pemuda berambut putih. Tapi Allen berontak dan menendang keras,
"Augh!" gerutu Kanda saat merasakan sakit di kakinya, kesempatan itu dimanfaatkan Allen untuk melarikan diri sambil menjulurkan lidahnya "Weeek!"
Terbakar amarah, sang samurai langsung mengejarnya meninggalkan Miranda yang sudah menangis kebingungan melihat kerubutan mereka berdua dan para finder yang hanya bisa geleng kepala.
"Baka Moyashi! Kemari kau!" teriak Kanda tapi tak dipedulikan dan Allen terus berlari tak tentu arah. Akibatnya mereka sampai di sebuah gudang yang sudah lama tak dipakai. Kanda berhasil menarik baju Allen dari belakang dan membuatnya terjatuh diatas tumpukan kardus bekas, buru-buru dia tuangkan isi botol kedalam mulut sang korban.
BRUUSSHHH! Tak disangka Allen malah menyemburkan jus yang ada dimulut, tepat kewajah Kanda dan hendak kabur lagi sambil mengaktifkan Crown Clownnya.
Sementara sang samurai yang menjadi target penyemburan, tambah marah dan menghunus pedangnya. Perkelahian diruangan yang sempit itu menguntungkan Kanda yang kini berhasil membelit Allen dengan Jubah Innocentnya sendiri dan menguncinya ketembok dengan menggunakan mugen. Tapi meski terdesak, exorcist berambut putih tetap menunjukkan perlawanan dan sorot mata yang menantang membuat sang samurai semakin terprofokasi.
Hal yang sangat tak diduga adalah saat Kanda meminum sisa Jus yang ada didalam botol, kemudian menempelkan bibirnya ke mulut Allen, mencoba meminumkannya langsung dari mulut kemulut.
"Ung! Ummph!" teriak si rambut putih tertahan, berusaha melepaskan diri tapi tak bisa. Sementara Kanda terus menekan mulutnya, hingga akhirnya jus itu tertelan sampai habis, barulah ia dilepaskan.
"Hah rasakan itu, akhirnya kau meminumnya juga Moyashi idiot," kata Kanda sambil menyeringai, apalagi melihat wajah Allen yang merah padam, seringainya bertambah lebar.
Pemuda berambut putih cuma bisa berdiri mematung, memandangi Kanda yang pergi begitu saja sambil membawa botol kosong. Begitu sadar dari rasa syoknya, Allen langsung jatuh merosot ketanah dan berteriak keras "BAKANDAAA BRENGSEEEEK!"
~To Be-Continue~
Posisi lotus* : posisi duduk bersila dengan punggung tegak dan kedua tangan menengadah keatas ditumpukan diatas lutut.
Special thanks to reviewer di Chapter sbelumnya :
Kirin-Chan
Cloud`dy
Nia Yuuki
Kenryuu
Endou
