THE DOLPHIN TRAINER

By Sava Kaladze

Disclaimer: Absolutely, Tite Kubo..

Cinta itu datang tanpa diprediksi, tanpa kalkulasi, tanpa dimengerti dan bisa datang di mana saja, kapan saja dan pada siapa saja. Oleh sebab itu, tak perlu berusaha memahami apa itu cinta.

Nikmati saja tiap detik berharganya…

Chapter 4

.

.

.

.

Ocean Arena.

Kelima pelatih lumba-lumba yang baru saja menampilkan penampilan terbaik mereka di hadapan pengunjung Ocean Arena, menundukkan tubuh mereka sebagai penghormatan terakhir kepada pengunjung yang sudah jauh-jauh datang dari berbagai tempat di Jepang.

Penghormatan mereka itu dibalas dengan standing ovation oleh hamper seluruh pengunjung. Pertunjukan lumba-lumba memang sangat menarik, khususnya bagi pengunjung yang belum pernah menyaksikan atraksi lumba-lumba sebelumnya. Kebetulan pengunjung hari ini hampir seluruhnya adalah sekolah-sekolah dari luar Karakura yang memenuhi undangan Ocean Arena. Mereka sangat puas dengan atraksi barusan. Senyuman, decak kagum dan komentar-komentar memuji keluar spontan dari mulut para pengunjung tersebut.

Lumba-lumba adalah mamalia terpintar. Pelatih lumba-lumba adalah pemandangan terindah.

Pelatih lumba-lumba berambut orange bergegas meninggalkan panggung untuk membereskan perlengkapan yang mereka pakai pada atraksi sebelumnya. Beberapa gelang-gelang berukuran besar tergeletak berantakan di atas lantai, juga potongan-potongan ikan yang tercecer dari ember. Beberapa benda lainnya juga terletak tak beraturan. Ichigo paling tak bisa melihat benda yang berantakan, oleh sebab itu selalu ia duluan yang turun tangan merapikan dalam setiap akhir sesi atraksi.

Grimmjow tak mau membuang waktu begitu melihat Ichigo tinggal sendirian di dekat kolam. Dihampirinya pemuda yang sedang mengutip gelang-gelang di lantai itu.

"Ichigo, aku mau bicara,"katanya tegas.

Ichigo sudah tahu cepat atau lambat, Grimmjow pasti akan bicara padanya. Ia sudah tidak perlu menerka tentang apa, ia sudah tahu. Ini pasti soal kencan buta dengan gadis bernama Rukia kemarin. Kencan yang sudah ia gagalkan sepihak.

"Iya. Tentang kencan kemarin kan?"sahut Ichigo dengan tenang dan masih sibuk membereskan gelang-gelang yang jumlahnya ada lebih dari dua puluh itu.

Grimmjow merengut melihat ketenangan di wajah Ichigo. Bisa-bisanya kau setenang itu, ujarnya membatin,"Kenapa kau tidak menemuinya?"

Ichigo tersentak dan mengangkat wajahnya menatap Grimmjow. Ia tahu Grimmjow akan bertanya soal kencannya, akan tetapi ia tidak mengira bahwa Grimmjow tahu ia tidak menemui gadis itu.

"Kamu tahu?"

Grimmjow mengangguk setengah emosi,"Ya pasti tahu, aku ada di sana…Baka!"

Ichigo mengerutkan alisnya yang memang sudah berkerut,"Hah! Kau ada di sana? Kau…membuntutiku ya?"tanyanya menuduh.

"Hei, aku tidak membuntuti! Aku hanya mengintip. Aku harus memastikan kau bertemu dengan Rukia. Akan tetapi yang aku lihat, kau malah tidak jadi menemuinya dan kabur. Dasar baka!" Wajah Grimmjow memerah karena kesal.

Wajah Ichigo terlihat kurang nyaman dengan perkataan Grimmjow barusan, ia menelan ludahnya dengan enggan,"Aku…aku…aku kan sudah bilang, aku tidak mau dijodoh-jodohkan."

"Siapa yang mau menjodohkanmu, Baka? Ini zaman modern dan aku bukan ibumu. Aku hanya ingin kau sekali-kali berkencan, itu saja."

"Aku juga mau kok…berkencan!"Ichigo membela diri.

"Tapi buktinya apa? Sudah susah payah aku usahakan kencan dengan Rukia, kamu malah kabur."

Lagi-lagi Ichigo menelan ludahnya,"Aku…aku…bagaimana bilangnya ya? Aku …aku…tidak ada chemistry dengan gadis itu,"katanya pelan.

Grimmjow melongo mendengarnya. Chemistry? Perlahan tapi pasti sebuah seringai nakal muncul di wajah urakan Grimmjow. Ia lalu merangkul bahu Ichigo dan menjitak kepala orange itu perlahan.

TUK!

Meski tidak sakit sama sekali, Ichigo tetap saja mengusap kepalanya. Ia memandangi Grimmjow dengan kebingungan.

"Kau ini polos sekali, Ichigo. Benar-benar polos. Mungkin cowok terpolos yang pernah kutemui hahahahahaha.."Grimmjow tertawa geli.

Ichigo masih terpaku bingung di tempatnya berdiri. Grimmjow lalu menarik tangannya untuk duduk di tepi kolam. Mereka duduk bersisian dengan setengah kaki terjuntai di dalam kolam.

Grimmjow lalu memandang wajah Ichigo dengan tampang serius. Hal yang jarang terjadi sebenarnya. Ichigo bertampang serius, itu sudah pembawaan. Grimmjow? Itu berkah Yang Maha Kuasa.

"Apa sih itu chemistry, Ichi?"

Ichigo mengangkat bahunya. Tidak tahu.

"Oke, biar aku jelaskan. Everything based on my experience,"Grimmjow melirik Ichigo, mengharapkan suatu reaksi.

Ichigo mengangguk. Ia terlihat seperti seorang murid yang siap diceramahi panjang lebar oleh gurunya.

"Yang dimaksud dengan chemistry dalam hubungan percintaan, bisa kau artikan sebagai getaran. Chemistry sering diartikan saat kau pertama kali bertemu seorang gadis di suatu tempat misalnya, kali pertama kau melihat wajahnya…deg, kau merasa hatimu berdebar-debar dan entah kenapa, saat itu kau tahu dialah gadis yang kauinginkan dalam hidupmu."

Ichigo mengangguk-angguk tanda memahami perkataan Grimmjow.

"Itu chemistry model pertama."

"Oh ada model lain?"tanya Ichigo penasaran.

Grimmjow mengangguk-anggukan kepalanya,"Tentu saja ada. Aku paling sering mengalami chemistry yang seperti ini."

"Seperti apa, Grimm?"

"Chemistry yang kedua adalah chemistry yang timbul saat kau berteman baik dengan seorang gadis. Kau sering ngobrol dengannya. Kau menemukan banyak hal dalam dirinya yang mungkin memiliki persamaan denganmu. Atau jika hal-hal dalam dirinya berbeda dengan dirimu, paling tidak kau bisa menerima perbedaan itu sebagai suatu hal yang membuatmu tertantang. Membuatmu tetap ingin mengenal dirinya. Membuatmu tidak takut dengan segala macam perbedaan. Lalu…" Grimmjow terdiam sesaat. Matanya menatap jauh ke dalam kolam.

Ichigo tambah penasaran,"Lalu apa, Grimm? Jangan berhenti di tengah-tengah dong!"

Grimmjow menghela nafas dalam-dalam, seakan mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya,"Lalu…saat kau menyentuh tangannya, kau merasakan dirimu bagaikan tersengat listrik. Membuatmu kaget dan tak percaya bahwa kau bisa merasakan getaran begitu hebatnya saat kulitmu bersentuhan dengan kulitnya."

Ichigo terpana,"Wow…sedahsyat itu?"

"Ya," Lalu Grimmjow melihat ke arah wajah sahabatnya itu,"Dan satu hal lagi. Saat akhirnya kau mencium bibirnya…" Ia berhenti sebentar dan mengecek reaksi Ichigo.

Ichigo melongo. Mulutnya membentuk huruf O, tak bisa berkata apa-apa. Cukup raut wajahnya yang penasaran setengah mati saja yang menjelaskan bahwa ia ingin tahu.

"Saat kau mencium bibirnya…kau tahu, kau rela mengorbankan apapun yang kau miliki di dunia ini hanya untuk dirinya. Hanya untuk dirinya seorang. Itulah chemistry yang kumaksud,"Grimmjow menyeringai.

Ichigo lagi-lagi menganggukkan kepalanya,"Dahsyatnya."

"Ya."

Ichigo menatap Grimmjow dengan penuh selidik,"Artinya…kau pernah merasakan chemistry itu dong, Grimm?"

Wajah Grimmjow mendadak tertunduk. Terlihat awan gelap menggelayut di matanya yang sebiru laut.

"Aku berkali-kali kenalan dan berpacaran dengan gadis-gadis cantik, Ichigo. Semua mantan-mantanku mungkin tipe gadis yang akan kau suka. Kau tahu kan? Cantik, rambut panjang, seksi, yah…mungkin tipe yang akan membuat mata laki-laki akan melotot matanya saat pertama kali melihat mereka."

Ichigo menyeringai nakal. Tipe idamanku, ia membatin.

"Tapi…jujur…aku tidak pernah merasakan chemistry yang demikian dalam seperti yang aku gambarkan padamu. Listrik saat bersentuhan, ada tapi tidak sedahsyat yang aku gambarkan. Saat aku mencium mereka, ada rasa ingin tahu, penasaran, dan mungkin juga nafsu. Itu saja. Tidak ada yang membuatku ingin mengorbankan segalanya untuk dia. Itu sebabnya…setelah berciuman, tak lama kemudian aku pasti putus," Grimmjow lalu menoleh ke arah Ichigo. Matanya terlihat kelam, tak seindah biasanya.

"Hah! Kenapa?"Ichigo terpekik,"Mereka kan cantik!"

"Duh Ichigo, ini persis seperti masalahmu. Rukia juga cantik, tapi kau bilang tak ada chemistry. Kau malah lebih parah, mendekatinya saja kau sudah antipati. Nah untuk mendapat chemistry, kau kan harus mengenalnya."

"Rukia memang cantik, tapi tidak seksi. Kalau mantan-mantanmu aku yakin pasti cantik dan wow,"tangan Ichigo meliuk-liuk di udara seperti menggambarkan gitar spanyol.

Grimmjow menggeleng-gelengkan kepala,"Intinya cantik dan seksi saja tidak cukup untuk membuatmu mendapatkan chemistry, Ichi. Kau harus mengenal seseorang untuk mendapatkan chemistry dan jatuh cinta. Aku saja yang berkali-kali gonta-ganti pacar yang cantik, tetap tidak dapat menemukan chemistry yang seutuhnya. Nah bagaimana kamu mau merasakan apa itu chemistry, kalau kamu terlanjur antipati!"

Ichigo merengut, merasa ucapan Grimmjow ada benarnya, akan tetapi setengah hati menerima kebenaran itu. Ia lalu berkata pelan,"Iya. Tapi kau sendiri juga tak pernah merasakan chemistry..."

"Pernah tapi tidak dahsyat, tidak membuatku ingin mengorbankan segalanya,"tukas Grimmjow cepat.

"Terus siapa yang pernah?"

"Kisuke san pernah," jawab Grimmjow menyebutkan nama pemilik Ocean Arena, Urahara Kisuke. Pengusaha taman hiburan yang terkenal sangat peduli pada kelangsungan hidup binatang dan habitatnya.

"Oh ya?"

"Ya, dengan istrinya Yoruichi san. Kisuke san juga agak playboy sepertiku, sering kali bergonta-ganti pasangan, tapi tak pernah ada yang sanggup menyeretnya ke altar pernikahan. Yoruichi san adalah sahabatnya sejak sekolah. Tempat ia berkeluh-kesah, berdiskusi masalah bisnis, masalah hidup dan segalanya. Tentu saja Yoruichi san tahu dengan jelas sepak terjang Kisuke san dengan wanita-wanita, dan meski sesungguhnya ia mencintai Kisuke san, ia tetap setia di sampingnya sebagai sahabat tanpa mengindahkan kelakuannya. Sampai…"

Mata Ichigo membelalak penasaran,"Sampai apa, Grimm?"

"Sampai akhirnya Yoruichi san kejatuhan cinta seorang pengacara tenar, Aizen Sousuke."

"Aizen Sousuke yang pengacara pejabat dan artis itu!"

Grimmjow mengangguk,"Orang pintar selalu tahu berlian yang belum diasah sempurna, Ichi. Yoruichi san itu sangat pintar dan baik orangnya. Ia sangat low profile meski keluarganya di Tokyo memiliki bisnis yang bagus. Aizen Sosuke mencurahkan banyak perhatian pada Yoruichi san, mengiriminya bunga, hadiah, membawanya makan malam ke tempat-tempat yang sangat bagus. Wah pokoknya benar-benar memperlakukannya seperti putri."

"Hebat memang pengacara itu. Tampan dan karirnya bagus."

"Saat Yoruichi san sudah sibuk dengan Aizen, barulah Kisuke san sadar bahwa ia tak pernah benar-benar berusaha menemukan pendamping hidup yang sesungguhnya, karena ia merasa di dalam hidupnya…ia sudah memiliki wanita yang mendampinginya, meski hanya sebagai seorang sahabat. Yoruichi san membuat hidup Kisuke san nyaman dan lengkap. Saat itulah ia baru tahu bahwa ia memiliki chemistry yang sedemikian dalam pada diri Yoruichi san."

Ichigo terbelalak lagi,"Wow…ceritamu tambah seru. Kemudian apa yang terjadi?"

"Perjuangan Kisuke kan mendapatkan hati Yoruichi san. Tidak mudah awalnya, karena Yoruichi san melihat Aizen san juga pria yang baik dan bias membuatnya merasa terlindungi. Tapi Ichigo…cinta selalu menang. Kerja keras Kisuke san dalam merubah diri, gaya hidupnya dan menunjukkan cintanya, melelehkan hati Yoruichi san. Ia lalu memilih Kisuke san, sahabatnya sendiri."

Ichigo tersenyum lebar,"Kok kamu tahu sebanyak itu tentang kehidupan Kisuke san atasan kita, Grimm?"

Grimmjow menyeringai nakal,"Kau jarang baca tabloid gossip atau nonton infotainment ya, Ichi?" ia tertawa. Tentu saja aku tahu, Yoruichi san kan kakak kandungku, ujarnya dalam hati.

"Hehehehehe jarang. Aku kan tidak malas sepertimu!"cibir Ichigo.

"Hei…aku tidak semalas itu, Baka. Aku kerja sebaik-baiknya kok sama sepertimu,"Grimmjow terlihat berpikir sebentar,"Tidak sama sepertimu deh. Kau workaholic. Aku womanholic."

Keduanya lalu tertawa terpingkal-pingkal.

"Jadi seperti itu ya chemistry?"tanya Ichigo lebih kepada dirinya sendiri.

"Ya."

"Tidak mudah mendapatkannya,"ujar pemuda berambut orange itu lagi.

"Tidak sulit kalau mau mencoba,"sahut Grimmjow.

"Rukia itu marah tidak ya karena aku tidak datang?"

Grimmjow tertunduk lagi. Wajah gadis manis bermata violet yang teduh bermain-main di benaknya. Senyuman gadis itu begitu manis dan membius. Kata-kata yang irit keluar dari mulutnya seakan membuat pendengarnya menunggu-nunggu apa yang akan ia katakana berikutnya. Apa ia irit omongan karena belum mengenal aku ya? tanya Grimmjow dalam hati. Rukia kan tidak tahu bahwa aku yang selama ini membalas sms-smsnya untuk Ichigo, tentu saja ia jadinya tidak mengenalku.

Grimmjow melirik Ichigo yang sedang menunggu jawaban darinya. Muka Ichigo terlihat polos, terlihat penuh rasa ingin tahu, terlihat penasaran. Gadis sebaik Rukia mungkin akan cocok dengan seseorang sepolos Ichigo, batinnya berkata. Mungkin.

"Tidak, Rukia kan baik,"jawab Grimmjow singkat—memutuskan bahwa Ichigo tidak perlu tahu bahwa ia sudah menggantikan kencan gagal Rukia dengan Ichigo dengan kencan menyenangkan antara Rukia dan dirinya.

"Begitu ya? Sepertinya ia memang baik. Tapi…"Ichigo menghembuskan nafas keras-keras dari mulutnya,"Aku tetap mengidam-idamkan gadis yang seksi."

"ICHIIIIIIIII!"seru Grimmjow,"Bagian mana sih dari ceritaku yang kamu tak mengerti?" Grimmjow mengetuk-etuk dahi Ichigo, mengecek apakah otaknya masih berfungsi atau tidak,"Haloooo, apa ada orang di sana?"

Ichigo tertawa renyah,"Dasar! Aku mengerti kok, tapi tidak salah kan kalau aku punya tipe wanita idaman?"

Grimmjow tertegun. Ditatapnya Ichigo lekat-lekat.

Memang tidak salah. Ucapan Ichigo memang tidak salah. Tidak salah kalau seorang laki-laki punya tipe wanita idaman. Benar-benar tidak salah. Seratus persen tidak salah.

Hanya saja…kok sayang sekali kalau Ichigo tidak naksir Rukia yang manis itu?

Manis? Gadis itu memang terlihat manis dengan tubuhnya yang mungil kan?

"Tidak salah juga sih,"Grimmjow sedikit merengut,"Tapi harusnya kamu tidak antipati begitu. Beri dia kesempatan. Ia kelihatannya suka sekali denganmu."

Ichigo terdiam. Grimmjow pun sungkan melanjutkan obrolan. Wajah pemuda berambut orange itu terlihat berpikir keras dan Grimmjow tidak enak mengganggunya.

.

.

.

Karakura School.

Ruangan kelas yang didominasi warna hijau itu terlihat lengang. Sudah tidak terlihat seorang murid pun di dalamnya. Semua murid sudah pulang lebih dari sejam yang lalu dan jika masih ada satu dua murid yang berkeliaran di kelas-kelas atau lapangan sekolah, itu pastinya karena mereka belum dijemput orang tua mereka.

Rukia masih menekuri tumpukan tinggi kertas di atas mejanya. Semuanya adalah hasil ulangan harian murid-muridnya untuk pelajaran Math, Science dan English yang diajarkan Rukia. Minggu ini adalah pekan ulangan dan itu artinya bukan cuma belajar ekstra keras dari murid, tapi juga kerja ekstra bagi guru untuk mengkoreksi semua kertas ulangan murid-muridnya.

Rukia berkali-kali mengernyitkan dahinya membaca tulisan tangan murid-murid. Tulisan anak kelas 1 SD memang belum bagus. Mereka baru belajar membaca dan menulis. Sudah bisa baca saja sudah syukur, apalagi kalau tulisannya bagus. Sayangnya tidak semua anak tulisannya bagus kalau belum dilatih secara intensif kan? Rukia paham benar hal itu dan ia pun tidak melulu focus menilai hanya pada tulisan tangan anak-anak, akan tetapi lebih kepada isi jawabannya.

Melatih anak-anak menulis butuh waktu lebih panjang. Akan tetapi berdasarkan pengalaman, dengan berjalannya waktu dan kerjasama melatih anak menulis antara guru di sekolah dan orang tua di rumah, pelan tapi pasti anak akan dapat menulis dengan tulisan yang mudah dibaca.

Hinamori Momo masuk ke kelas dengan tas yang sudah dijinjing. Dua anak perempuan yang umurnya tidak jauh beda mengikuti langkah Momo yang berjalan cepat.

"Rukia belum pulang?" ia menyapa keheranan.

"Belum Momo san, aku masih harus koreksi. Besok mau aku bagikan, karena minggu depan sudah ulangan,"jawab Rukia pelan.

Momo terlihat bingung. Wajahnya terlihat ragu untuk sesaat. Ia melirik pintu kelas seakan-akan sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Aku pikir kau akan pulang cepat hari ini,"ujar Momo lagi—masih dengan nada yang ragu-ragu.

Rukia mengangkat wajahnya dan tersenyum,"Tidak Momo san. Aku memang menjadwalkan pulang sangat terlambat hari ini, aku khusus menyediakan waktu siang sampai sore nanti untuk menyelesaikan koreksian ini. Lihat kan koreksian ini sudah menggunung?" Rukia nyengir.

Momo mendesah. Ia jadi ingat koreksian pelajarannya yang juga menggunung. Hanya saja, ia menyembunyikan tumpukan kertas itu di dalam lokernya. Melihat tumpukan kertas menggunung hanya akan membuatnya stress.

"Begitu ya? Aku pikir…" Momo masih juga terlihat bingung dan ragu-ragu.

Rukia akhirnya menangkap nada keragu-raguan yang kental dalam suara Momo. Ia lalu mengamati Momo dengan seksama.

"Ada apa, Momo san? Kok terlihat bingung?"

Momo mengangguk-anggukan kepalanya,"Aku pikir kau akan pulang cepat karena ada janji dengan seseorang."

Rukia mengernyitkan keningnya,"Janji? Tidak ada. Dengan siapa?"

"Ada seorang laki-laki celingukan bertanya, di mana kelasmu. Aku kebetulan melihat dia sedang bertanya pada satpam. Aku sih tidak kenal siapa dia..tapi aku merasa pernah melihat dia entah di mana. Lama aku berpikir…baru aku ingat. Laki-laki itu…dia pelatih lumba-lumba di Ocean Arena!"

Rukia terpana. Pelatih lumba-lumba?

Apa itu….

Ichigo…?

Rukia masih terperanjat dan belum bereaksi atas omongan Momo saat sebuah ketukan di pintu terdengar halus, diikuti sesosok jangkung masuk ke dalam kelas dengan langkah tegap.

"Halo…"

…..

…..

To be continued

A/N: akhirnya saya update setelah ketemu fic yang tertinggal di PC kantor ini hehehhehhehhe, makasih atas review semua teman2. Saya akan jawab via PM ya semua reviewnya.

Please..tetap review.

Arigatou.