Naruto © Masashi Kishimoto
Staring At You From Afar © Minako-chan Namikaze
AN : Sorry, para reader-sama…. Saya lama banget ngilangnya dan ngenelantarin ni fic .
Jujur, sebenernya saya belum mendapatkan ide apapun untuk menulis kelanjutannya setelah saya selesai mempublish chapter yang kemarin…. Dan ini pun saya hanya nulis imajinasi yang kebetulan lewat aja di pikiran saya… Jadi jangan kecewa ya kalo chapter kali ini gak memuaskan sama sekali… Maklum, otak author lagi buntu…. Masih untung author mau ngelanjutin ni fic, walopun lagi sibuk-sibuknya… Eh, author gak protres kok, Cuma mau curhat aja :D
Ah, dan juga sebenernya author sudah selesai ngebuat daftar alur buat fic ini, ada yang bisa nebak kalo fic ini bakal sampai berapa chapter? Kalo ada yang bisa nebak, author janji deh bakalan update cepet terus…. ;D
P.S : Bagi yang puasa, lebih baik membaca chapter ini habis berbuka atau setelah sholat tarawih. Karena diakhir chapter ini ada sedikit adegan 'berbahaya'. Hehe…
Pairing : Kushina Uzumaki & Minato Namikaze
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance
DON'T LIKE? DON'T READ! OKAY?
Ready?
ACTION~~!
.
.
.
"Kau… Digigiti nyamuk?" Tanya Minato sambil menunjuk Kushina dengan wajah horror, sehingga membuat Kushina yang tadinya sangat bersemangat menantikan jawaban dari Minato menjadi facepalm dengan seketika.
"Jadi benar kan?" Tanya Minato memastikan.
Kushina menundukan kepalanya sambil menggenggam erat-erat garpu yang sedang berada ditangannya, menahan segala emosi yang hampir meluap kapan saja. "Fyuh, sabar Kushina, sabar… Jangan sampai kau membunuh suamimu sendiri didepan anakmu, bukan? Sabar… Sabar…" batin Kushina mencoba bersabar.
Kushina menghela napas setelah dia bisa mengendalikan emosinya kembali,
"Huh, Minato… Masa' kau tidak ingat apa yang sudah terjadi semalam walaupun hanya sedikit?" Tanya Kushina sambil memperlihatkan senyuman termanisnya, namun bagi Minato lebih terlihat seperti senyuman iblis yang siap mencabik-cabik apapun yang ada dihadapannya kapan saja.
"Eh? Sungguh, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya." Ucap Minato dengan ekspresi ketakutan.
Sara yang sejak tadi memperhatikan kedua orang tuanya berbicara sesuatu yang dia tidak mengerti lebih memilih diam dan memakan sarapannya dengan lahap. Setelah sarapannya habis, dia segera pamit kepada Kushina dan Minato untuk main kerumah Itachi.
Setelah Sara pergi, Kushina kembali mengalihkan perhatiannya kepada Minato. Masih dengan senyuman iblisnya dia kembali bicara.
"Kau benar-benar sama sekali tidak mengingatnya?" Tanya Kushina sekali lagi.
Minato menyerngit heran. Kenapa Kushina ngotot sekali memaksanya untuk mengingat kejadian semalam. Demi tuhan, dia benar-benar tidak mengingat apapun. Dan anehnya dia tiba-tiba tidak mampu bersikap dingin lagi kepada Kushina, entah apa alasannya dia sama sekali tidak tahu. Dan juga kenapa Kushina hari ini banyak sekali bicara. Sepertinya dia memang ada sesuatu yang sangat penting sudah terjadi semalam, dan Minato sama sekali tidak mampu mengingatnya.
"Memangnya apa yang terjadi semalam?" Minato malah balik bertanya membuat Kushina ingin melempar pisau yang sedang bernaung ditangan kanannya kearah Minato.
"Grrrh…" Kushina menundukan kepalanya membuat Minato semakin ketakutan karena melihat bahu Kushina bergetar seperti sedang menahan sesuatu yang dahsyat yang memaksa keluar.
Minato hampir berteriak histeris ketika melihat benda-benda seperti garpu, pisau, sendok, piring, bahkan kursipun sedang melayang kearahnya.
"DASAR PIRANG SIALAN! MASA' KEJADIAN SEMALAM SAJA KAU TIDAK INGAT!" teriak Kushina sambil melempar barang-barang yang berada dekat dengannya. Terlihat bahwa kini dia sudah berada pada mode Habanero-nya. Rambutnya terangkat keatas menjadi Sembilan untaian.
Minato yang melihat Kushina tengah mengamukpun segera mengambil tindakan dengan bersembunyi dibawah meja demi keselamatan nyawanya.
Kushina masih melemparkan benda-benda yang berada didekatnya dengan brutal.
"Padahal aku sudah berusaha keras semalam, tapi kau malah melupakannya! Tidak bisa diterima!" batin Kushina meraung. Terlihat ada titik air mata diujung matanya.
"H-hentikan Kushina! Aku minta maaf karena telah melupakan sesuatu yang begitu penting bagimu! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" teriak Minato dari bawah meja layaknya seorang anak kecil yang tengah dimarahi ibunya.
Dengan demikian tiba-tiba Kushina menghentikan aksi melemparnya dan menundukan kepalanya. Minato yang menyadari bahwa sudah tidak ada benda-benda yang melayang kearahnya lagi, mencoba mengintip untuk melihat keadaan. Dia melihat Kushina hanya tegak berdiam diri disana.
"Ada apa, Kushina?" merasa khawatir dengan keadaan Kushina, Minato keluar dari tempat persembunyiannya lalu berjalan menghampiri Kushina. Kushina yang menyadari kalau Minato berjalan mendekat kearahnya, Kushina segera membalikan badannya dan menjawab dengan dingin,
"Tidak ada apa-apa." lalu berjalan menuju kamarnya meninggalkan Minato yang tengah mematung.
"Ada apa denganmu, Kushina." Batin Minato. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.
.
.
.
Kushina tengah duduk bersandar ditempat tidurnya. Sambil memeluk lututnya, dia bergumam,
"Apa yang sudah kulakukan tadi? Aku baru saja melempar perabotan rumah kearah Minato. Dia pasti akan marah besar dan membenciku selamanya."
"Tapi aku tidak menyangka sifat Habanero-ku bisa bangkit kembali setelah sekian lamanya.Tapi tetap saja… Kenapa dia bisa melupakan hal sepenting itu." Kushina kembali murung.
Tok tok tok.
"Kushina, boleh aku masuk?"
"!"
"Minato! Mau apa dia masuk kekamarku? Mau melampiaskan kemarahannya kah?" batin Kushina berprasangka buruk.
"Y-ya!"
Cklek.
"Kushina." Panggil Minato sambil memasuki kamar Kushina. Dihirupnya aroma kamar Kushina. Nyaman. Itulah yang dia rasakan ketika memasuki kamar Kushina.
"Ya?" sahut Kushina sambil memalingkan wajahnya. Menunggu kata-kata kemarahan dari Minato.
Minato mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur Kushina.
"Tatap aku." Perintah Minato. Kushina dengan berat hati menatapnya. Shappire dan violet akhirnya bertemu. Mata violet Kushina terbelalak melihat Minato tersenyum lembut kearahnya.
"Maukah kau jalan-jalan keluar bersamaku?" Tanya Minato.
"Eh? Maksudmu kau mengajakku berkencan begitu?" Tanya Kushina memastikan. Minato menggaruk pipinya dengan gugup.
"Ya… Bisa dibilang begitu."
"Kau tidak marah kepadaku?"
"Marah kenapa?"
"Karena… Tadi aku melemparimu dengan barang-barang."
Minato tertawa kecil, lalu mengusap rambut Kushina. Tiba-tiba Kushina merasakan nostalgia dimana Minato selalu mengusap kepalanya sambil tertawa kecil sewaktu mereka masih bersama dulu.
"Tentu saja tidak."
"Kenapa?"
"Kalau kau tanya kenapa… Aku juga tidak tau kenapa aku tidak bisa marah kepadamu."
"Eh?" wajah Kushina memerah. Dia merasakan kalau Minato yang dulu telah kembali.
"Jadi Kushi-chan, maukah kau berkencan denganku?"
Betapa senangnya Kushina mendengar Minato memanggilnya nama itu lagi.
"Ya!" Kushina menjawab dengan senang hati.
"Kalau begitu, bersiaplah." Kemudian Minato beranjak dari kamar Kushina.
Cklek. Bunyi pintu yang ditutup oleh Minato.
Jantung Kushina berdetak dengan cepat. Wajahnya merona. Betapa bahagianya dia melihat kalau Minato-nya yang dulu telah kembali.
Kushina tersenyum cerah. "Baiklah, waktunya bersiap-siap!" Kushina bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan kearah lemari. Dibukanya lemari itu kemudian sambil bersenandung ria, dia memilih baju yang pas untuk kencan pertamanya dengan Minato setelah mereka menikah.
Sementara itu diluar kamar Kushina, Minato sedang bersandar dipintu kamar Kushina. Mendengar Kushina bersenandung seperti itu membuatnya legah. Dia sudah mengingat apa yang terjadi semalam, dan dia merasa bersalah karena telah melupakannya. Pantas saja Kushina sangat marah, untung saja dia masih selamat dari barang-barang yang dilemparkan Kushina.
"Tapi tetap saja… Aku tidak bisa mengingat apa yang kurasakan ketika melakukan 'itu' dengan Kushina." Minato bergumam sambil meninggalkan kamar Kushina. Ya sudahlah, lagi pula aku bisa melakukannya lagi dengan Kushina nanti malam, pikir Minato.
.
.
.
Kushina memasuki mobil yang sudah ada Minato didalamnya.
"Sudah siap?"
"Siap-dattebane!" ucap Kushina bersemangat.
Minato tertawa kecil melihat tingkah laku Kushina yang kembali ceria. Kemudian dia menjalankan mobilnya, setelah mengirim email kepada Mikoto untuk titip Sara sebentar.
"Kau mau kemana dulu Kushina?"
"Mmmm…. Bagaimana kalau kita kebioskop?"
"Bioskop? Ada film yang kau tonton?"
"Um! Aku ingin nonton Naruto-dattebane!" jawab Kushina dengan semangat.
"Baiklah, kita menuju ke bioskop."
.
.
Ketika sampai di bioskop Minato menyuruh Kushina untuk membeli popcorn dan minuman, sementara dia yang memesan tiketnya.
"Tiket Film Naruto untuk dua orang." Ucap Minato kepada pegawai wanita yang mengurus tiket film yang akan mereka tonton. Tampaknya pegawai itu langsung terpesona oleh ketampanan Minato, terlihat dari matanya yang berbinar-binar dengan efek background bunga-bungan dibelakangnya. Dengan segera dia mengambilkan tiket untuk dua orang kepada Minato. Minato segera mengambilnya, namun pegawai itu tidak mau melepaskan tiketnya.
"Maaf, bisakah anda melepaskan tiketnya." Tanya Minato.
"Tentu saja bisa tuan. Asal anda membertahu saya siapa nama anda."
"Namaku Minato Namikaze." Jawab Minato dengan cepat.
"Minato Namikaze? Bukankah itu nama direktur utama perusahaan Namikaze Corp yang sangat terkenal itu? Wah kesempatan bagus nih." Batin pegawai itu.
"Perkenalkan, namaku Ami Yoshida. Salam kenal Minato-kun." Ucap pegawai itu sambil mengedipkan matanya.
"Siapa peduli dengan namamu. Dan jangan seenaknya memanggil nama depanku." Minato mulai jengkel dengan pegawai itu.
"Ano, bisa anda melepaskan tiketnya?" tanya Minato. Namun pegawai bukannya melepaskan tiketnya malah makin berani merayapkan tangannya keatas hingga mengenggam tangan Minato.
"Pegawai gila ini… Kalau Kushina sampai lihat ini, bisa mati aku." Minato hendak menyingkirkan tangan pegawai itu, namun Kushina keburu menepis tangan keduanya.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Kushina tengah berada di mode habanero-nya.
"Ah, Kushina kau salah paham." Namun Kushina tidak mengindahkan kata-kata minato dan berjalan kearahnya. Setelah sampai didepan Minato, Kushina menatapnya dengan tajam lalu kemudian berbalik arah menuju pegawai wanita tadi.
Brak.
Kushina menggebrak meja pegawai tadi dengan cukup keras. Dan dengan wajah garangnya dia berkata,
"Jangan-coba-coba-menggoda-suamiku, atau-kau-akan-mati." Dengan penekanan disetiap kalimatnya. Pegawai itu tampak sangat ketakutan dan menjawab dengan spontan. Lalu memberikan tiket itu kepada Kushina yang langsung segera dibayar oleh Minato. Kemudian mereka berdua meninggalkan pegawai itu dan langsung menuju ruangan tempat mereka akan menonton.
Ketika menemukan tempat duduk, Minato dan Kushina segera mendudukkan dirinya. Ruangan bioskop tempat mereka menonton tampak ramai dengan kursi yang hampir terisi penuh. Tampaknya film Naruto ini sangat diminati oleh orang-orang disini.
Kushina masih tampak kesal, tapi Minato segera menghiburnya. Dan filmpun dimulai.
.
.
.
"Wuah, benar-benar film yang menakjubkan." Ucap Kushina setelah selesai menonton film. Kini dia dan Minato sedang berjalan menuju tempat parkiran.
"Ya, Naruto itu benar-benar anak yang penuh kejutan ya."
"Um! Aku tidak akan menyesal kalau menamai anakku dengan nama Naruto."
"Eh?" Minato menghentikan langkahnya.
"Eh?" dan tampaknya Kushina juga baru menyadari makna dari kata-katanya. Dan tiba-tiba wajahnya menjadi memerah.
"Ah, i-itu, anu, a-aku.. Aduh, apa ya…?" Kushina mengutuk dirinya sendiri karena telah mengatakan hal-hal yang membuatnya terjebak dalam situasi yang sulit seperti ini. Namun tiba-tiba Minato tertawa kecil lalu melanjutkan langkahnya.
"Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Ayo kita jalan."
"Ah, iya."
Hari sudah siang, dan Minato memutuskan untuk makan siang dikedai ramen Ichiraku kesukaan Kushina. Kushina sangat senang mendengar mereka akan makan ditempat kesukaannya. Pasalnya dia sudah tidak pernah makan disana lagi semenjak berangkat keluar negeri.
.
.
.
"Fyuh, ramen buatan Teuchi-jiichan memang tiada duanya." Ucap Kushina setelah menghabiskan mangkok kelima ramen versi jumbonya. Tiba-tiba Kushina merasakan ada tatapan tajam yang tertuju kearahnya. Dia menoleh kesamping, ada seorang pria berbaju serba hitam yang tengah memakan ramen. Orang yang mencurigakan, pikir Kushina.
"kau mau tambah lagi?" tanya Minato. Kushina menggeleng.
"Tidak, aku sudah sangat kenyang."
"Baiklah. Ayo kita pergi." Ucap Minato sambil berdiri.
"Kemana?"
"Kau akan tahu nanti. Ayo!" Ucap Minato. Kushina berdiri lalu melihat kesamping, pria yang memakai baju serba hitam yang menurutnya mencurigakan tadi sudah menghilang.
Dan merekapun meninggalkan kedai ramen Ichiraku setelah selesai membayar tagihannya. Minato dan Kushina kini sedang berada didalam mobil.
"Nee, Minato. Kita mau kemana sih?" tanya Kushina.
"Ketempat kesukaanmu." Jawab Minato.
"Ketempat kesukaanku? Tapi tempat kesukaanku Cuma kedai ramen Teuchi-jiichan."
Minato sweatdrop.
"Y-ya, maksudku kita akan pergi ketempat yang akan menjadi tempat favoritmu.
Kushina hanya memandang Minato dengan bingung. Sementara Minato tengah tersenyum misterius.
.
.
.
"I-ini kan?!" ucap Kushina dengan takjub.
"Benar. Ini adalah bukit dimana ada lading bunga matahari diatasnya." Ucap Minato dari belakang Kushina.
"Indah sekali."
"Kau suka."
"Aku suka sekali-dattebane!"
"Syukurlah kalau begitu." Minato kini berdiri disamping Kushina. Dan dengan tiba-tiba dia memeluk pinggang ramping Kushina. Kushina yang kaget langsung menatap Minato. Tatapan Minato serius. Kini mereka saling berhadapan dan saling menatap.
"Kushina." Panggil Minato.
"Ya?"
"Maafkan aku."
"Untuk?"
"Untuk semua yang kulakukan kepadamu selama ini. Aku sudah ingat apa yang sudah kau jelaskan semalam. Kumohon maafkan aku."
"Minato…"
"…." Minato hanya menundukan kepalanya. Kushina meraih pipi Minato. Hari sudah senja. Matahari sudah hampir tenggelam.
"Aku memaafkanmu."
"Eh? Kenapa kau memaafkanku dengan begitu mudah? Padahal dulu aku-"
"Aku sudah tidak peduli lagi atas apa yang sudah kau lakukan dulu. Yang paling penting bagiku sekarang adalah bahwa Minato-ku yang dulu sudah kembali lagi kepadaku. Hanya itu yang terpenting bagiku sekarang ini." Ucap Kushina disertai senyumannya yang indah.
"Kushina… Terima Kasih." Minato balas tersenyum kemudia memeluk Kushina dengan erat. Kemudian berbisik ditelinga Kushina.
"Maukah kau memulainya dari awal lagi bersamaku?" tanya Minato.
"Dengan senang hati." Jawab Kushina dengan senyuman bahagianya.
Minato melepaskan pelukannya dan menatap Kushina. Wajah Kushina merona karena bahagia. Kemudian dia mendekatkan wajahnya, menutup jarak diantara mereka. Kushina menutup matanya ketika merasakan sentuhan lembut dari bibir Minato di bibirnya.
""Ayo mulai semuanya dari awal lagi."" Batin mereka berdua.
TAMAT.
#plak! Belom tamat woy! (Author dilempar kulkas sama sutradara)
.
.
.
Disuatu ruangan yang gelap, ada seorang pria duduk ditengah-tengahnya. Sambil menopang dagunya, dia berkata,
"Hm, jadi Kushina Uzumaki masih hidup?"
"Benar tuan. Salah satu anak buah kita melihatnya bersama Minato Namikaze di kedai Ramen Ichiraku."
"Begitu…"
"Apa perlu saya bereskan dia juga, tuan?"
"Jangan dulu. Aku punya rencana yang bagus terhadap Kushina Uzumaki." Orang itu tersenyum licik.
"Saya siap melaksanakannya kapan saja, tuan."
"Kalau begitu, mulailah lakukan rencananya besok." Orang itu pun memberitahukan rencananya.
"Baiklah, tuan."
"Sekarang, kau boleh pergi Obito."
Orang yang bernama Obito itu pun pergi meninggalkan ruangan yang gelap itu. Menyisakan pria yang tengah duduk dikursi tadi.
"Kushina Uzumaki dan Minato Namikaze, ya? Kelihatannya menarik." Gumam orang itu.
.
.
.
"Eh?"
"Ada apa, Kushina?" tanya Minato ketika mereka sedang menonton TV diruang keluarga. Sekarang sudah jam 10 malam, dan Sara sudah tidur.
"Ntah mengapa aku tiba-tiba merasa merinding." Ucap Kushina sambil memegang tengkuknya.
"Benar juga, aku juga merasakannya."
"Sudah malam, apa kau tidak mengantuk?" tanya Kushina mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum. Masih ada sesuatu yang ingin kulakukan. Kau sendiri kenapa belum mengantuk?"
"Mungkin karena aku sudah terbiasa menunggumu hingga larut malam."
"Hooo… Begitu." Ucap Minato sambil mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Kushina. Refleks Kushina langsung memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menyentuh sofa. Minato langsung mengunci pergerakan Kushina.
"A-apa yang sedang kau coba lakukan?" tanya Kushina panik dengan wajah yang memerah karena menyadari posisi mereka sekarang.
Minato menekan titik sensitif Kushina dengan lututnya, hingga membuat Kushina mendesah sedikit. Minato tersenyum lebar ketika mendengarnya,
"Tentu saja melakukan apa yang kita lakukan kemarin. Tetapi kali ini berbeda, karena kita harus melakukan pemanasan terlebih dahulu."
"Pe-pemanasan?!" wajah Kushina makin memerah. Minato mengecup bibir Kushina dengan singkat lalu menggendong tubuh Kushina ala Bridal Stile menuju kamar Kushina.
"Tu-tunggu Minato. Kenapa harus di kamarku?" tanya Kushina ketika Minato membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur king sizenya.
"Karna aku pikir akan lebih nyaman kalau disini." Dan setelah berkata begitu, Minato segera menindih Kushina dan melakukan 'pemanasan' seperti yang dikatakannya tadi.
Dan malam yang panjang pun terulang lagi.
BERSAMBUNG…
.
.
.
Author Note : Nantikan kelanjutan ceritanya ya ^^ Oh iya, author mau ngucapin terima kasih kepada para reader yang bersedia menunggu kelanjutan dari cerita ini. Berkat review kalian cerita ini gak jadi di discontinued. Maka dari itu, author sangat terharu karena kalian menyukai karya author dan bersedia menunggunya. Jadi kalau boleh author meminta sesuatu, maukah reader sekalian memberi author review agar semangat author untuk melanjutkan Fanfic ini terus membara?
.
.
~Salam manis, Minako-chan Namikaze~
