Cinta itu seperti pisau, bisa menyerang siapa saja
Yamanaka Ino
LOVE THE ENEMY
By Icha Ren
NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO-SENPAI
Warning: Typo(s), Aneh, OOC, Gajeness, Kacau Balau, Gore, Dan Lain-Lain
Rate: T+
Genre: Romance, Crime, Drama
Pair: Naruto-Hinata dalam selimut kebencian
Summary:
Siapa bilang kalau orang yang kau cintai adalah orang yang kau sukai. Naruto dan Hinata, dua latar berbeda yang mempunyai tujuan kelam. Naruto sang pemburu yang merasa buruannya selesai dikejutkan dengan buruannya, Hinata, yang berhasil lolos dari misi Genosidanya. Saling mencari tahu dan saling mengincar nyawa, keduanya berada dalam permainan cinta yang mempertaruhkan nyawa!
.
.
.
Enjoy it!
Chapter 4: Olahraga
Naruto melipat seragam sekolahnya dengan cermat. Dia kemudian menaruhnya di atas meja dan tersenyum puas. Namikaze muda itu kemudian berjalan keluar kelas sambil menatap sekumpulan teman laki-lakinya yang tampak berdiskusi dengan tema yang mencurigakan.
Ya, mereka kini sedang menghadapi pelajaran olahraga, dengan kata lain Guy-sensei,dengan kata lain memakai baju olahraga, dan dengan kata lain mengganti seragam sekolah menjadi seragam olahraga. Kesimpulannya adalah para siswi-siswi akan berganti di ruang ganti. Tindakan yang akan dilakukan para pria tentu saja ingin mengintipnya.
Lee, Bee, dan Sui..tiga komandan utama dalam hal bejat ini menoleh ke arah Naruto dan melambaikan tangan mereka, memberi tanda bahwa Naruto diajak untuk ikut dalam hal tercela tersebut. Naruto hanya memandang datar ketiganya dan langsung berlalu keluar kelas.
"JANGAN SOMBONG KAU KAMREEEEET! KAU PASTI SUDAH SERING MENGINTIP INO-CHAN TELANJANG MAKANYA KAU MENGANGGAP HAL YANG KAMI LAKUKAN BIASAAAAA!" teriak Lee dengan mata berapi-api.
"IYAAAA! PANGGILANMU KAN HENTAAAAAAI!" teriak yang lainnya sambil membentangkan spanduk wajah datar Naruto dan di keningnya ada tulisan kanji "Aku Hentai".
"Lakukan saja," kata Naruto yang menoleh ke arah teman-temannya dengan wajah malas "Jika kalian ketahuan maka aku yakin, kulit kalian pasti berwarna-warni."
"JANGAN GUNAKAN KATA AMBIGU SEPERTI ITU!"
"IYA NARUTO, KATAKAN YANG SEBENARNYA!"
"LUCU SEKALI KAU MENGATAKAN HAL YANG TIDAK JELAS SEPERTI TADI!"
Semuanya protes terhadap nasihat baik yang diberikan putra Minato tersebut. Naruto mengangkat bahunya dan berjalan meninggalkan teman-temannya yang masih berantusias untuk mengintip para gadis. Lee melompat ke meja dan menepuk keningnya penuh heroik. Dan jangan lupakan api di mata bulatnya.
"DEMI GUY-SENSEI, AKU AKAN MENGINTIP PARA SISWI DENGAN SUKSES SEHAT SELALU DAN DIBERKATI KAMI-SAMA, OH KAMI-SAMA..TOLONG RESTUI KAMI!"
"UWOOOOOOOOOO!" para cowok lainnya pun mengepalkan tangan mereka penuh semangat, bahkan ada yang air matanya mengalir saking harunya.
.
.
.
"ADA APA DENGAN WAJAH KALIAN?!"
Guy-sensei memandang nanar semua murid cowoknya (kecuali Naruto) dan menghela napasnya perlahan-lahan. Kin Tsuchi langsung menunjuk para cowok dengan tampang kesal.
"INI SALAH MEREKA SENSEI! MEREKA INGIN MENGINTIP KAMI SAAT KAMI BERGANTI BAJU!"
Guy mengangguk-angguk mengerti.
"Untung saja ada Ino-chan," kata Kin Tsuchi sambil tersenyum manis ke arah Ino. Ino membalas senyuman Kin.
"Jangan lupakan Hinata-chan yang juga menjadi koordinator pembantaian para pria," kata yang lainnya dengan nada semangat. Naruto yang mendengar nama Hinata melirik sekilas ke gadis bersurai indigo tersebut dan matanya sedikit melebar.
Dada Hinata begitu menonjol di kaos ketat olahraganya. Memang pantas si mata lavender itu menyandang gelar "Dada Besar".
BUAAAGHHH! Hinata tiba-tiba sudah berada di depan Naruto dan menghantam perutnya tanpa ampun. Naruto terjungkal ke belakang dan langsung terkapar beberapa meter dari tempat berdirinya tadi. Hinata berdiri dengan wajah memerah lucu.
"A-APA YANG KAU LIHAT HENTAI!"
Naruto bangkit sambil mengusap perutnya perlahan. Safirnya menajam penuh bahaya.
"Gadis bodoh.." gumam Naruto pelan "KAU LAH YANG BERPIKIRAN HENTAI!" nada suara Naruto pun meninggi.
"AKU TAHU KE MANA BOLA MATAMU BERGERAK!"
"AKU TAHU KE MANA PIKIRANMU MELAYANG!"
"AKU TAHU KE MANA RETINAMU MENANGKAP!"
"AKU TAHU KE MANA SEMUA PRADUGAMU GADIS BERDADA BESAR!"
"OTAK HENTAI!"
"DADA UKURAN XXXXXLLLLL!"
"HE-HE-HENTAI!" kali ini wajah Hinata benar-benar memerah.
"DASAR GAGAP!"
"HENTAI!"
"DADA-"
PLANG! Naruto kembali terkapar ketika Hinata melemparinya dengan sebuah marbel kepunyaan Guy-sensei. Naruto kembali tepar di tanah.
Ino sedikit terkejut dengan perubahan sikap Naruto. Ya, semenjak kedatangan Hinata, Naruto sedikit berubah. Dulunya anak Minato Namikaze itu begitu dingin dan tanpa perasaan. Aura membunuhnya pun sangat kuat. Entah kenapa, sekarang Ino merasakan kalau aura itu tertekan dan kini Naruto seperti ada kehangatan di hatinya. Ino tersenyum tipis saat melihat Guy-sensei memisahkan keduanya sebelum adu tonjok terjadi.
"Ehem..ehem..kalian ini, para pria itu tidak boleh mengintip," kata Guy sambil memejamkan matanya dan menaruh tangan kanannya di dagu "Mengintip itu adalah hal yang melanggar moral dan perbuatan negatif, tetapi bisa berubah positif jika gurumu ini ikut mengintip juga,"
Semuanya terdiam. Guy membuka matanya dan menatap tajam para siswa kelas 2-A.
"Ingatlah anak-anak," aura di sekitar Guy berapi-api "Jika mengintip, jangan lupa ajak sensei.."
"G-GUY-SENSEI," mata Lee berkaca-kaca.
"KAU ADALAH GURU KAMIIIII!" teriak para cowok sambil memeluk kaki Guy-sensei dengan efek-efek deburan ombak di belakang mereka. Para cewek kini mendaftarkan nama Guy-sensei sebagai daftar orang yang perlu dihajar jika dia melakukan yang aneh-aneh.
"Sekarang kita akan mengambil nilai dalam beberapa cabang olahraga," Guy pun mulai menjelaskan materi pelajarannya hari ini "Yang pertama adalah cabang atletik yakni lari 100 Meter untuk pria dan wanita. Emm, emm, karena jumlah siswa kita ada 18 orang dan jumlah siswi ada 16 orang, maka sensei akan membuat para siswa akan berlari bersama para siswi secara bersamaan. Tujuan kegiatan ini adalah bagaimana perbandingan antara kecepatan lari siswa dengan siswi dan berapa persentase perbedaan tersebut. Kalian mengerti?"
"Sensei!" Lee mengacungkan tangannya "Katanya setiap siswa akan berlari berpasangan dengan setiap siswi. Tapi kan jumlah siswa lebih banyak dua orang dari jumlah siswi di kelas kami. Bagaimana itu sensei?"
Guy menutup mulutnya malu-malu dan blushing tidak jelas "Lee..kau kan sudah ada pasangan. Yaitu si Bee.."
Lee dan Bee saling bertatapan. Wajah mereka langsung memucat.
"TEDHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!" yah, itu adalah salah satu teriakan panjang mereka.
"Yawarakai Hinata dan Namikaze Naruto, sekarang giliran kalian untuk berlari!"
"KENAPA AKU SELALU BERSAMA DIA?!" teriak Hinata dengan wajah yang seperti mau menangis. Naruto hanya melirik bosan ke arah siswi manis tersebut.
"Kau kira aku mau bersamamu?"
"A-aku malas melihat wajah Hentaimu itu!"
"Heh, daripada otak Hentai sepertimu.."
"B-bodoh! Kau bodoh Namikaze-san!"
"Tsk, gadis cerewet.."
"Bodoh!"
"Cerewet, dada besar cerewet!"
"Bodoh!"
Dan semua anak kelas 2-A memandang speechless keduanya. Guy-sensei langsung berjalan ke arah Naruto dan Hinata, dan langsung melerai mereka berdua dengan wajah penuh kebijaksanaan.
"Berhenti kalian anak-anakku yang penuh semangat masa muda, perkelahian itu tidak baik. Ada pepatah yang bilang, awalnya membenci, kemudian berakhir dengan cinta..kalian mau seperti itu?"
Mata Hinata melebar. Sementara Naruto hanya memutar bola matanya dengan bosan. Hinata menatap Naruto dan Naruto menatap Hinata. Mulut keduanya terbuka dan langsung berteriak kencang.
"TENTU SAJA AKU TIDAK MAU!" teriak keduanya dengan nada tegas. Guy menyengir.
"Nah, makanya..kalian harus saling bermaaf-maafan dan ikuti saja pembagian yang telah kukatakan. Baiklah Yawarakai-san dan Namikaze-san, sekarang giliran kalian untuk berlari! Siapkan kaki kalian, dan langkahkan dengan cepat penuh semangat masa mudaaaa!"
Naruto dan Hinata kini bersiap di garis start. Saat Guy meniup peluit, keduanya pun langsung berlari kencang. Tentu saja Naruto sangat jauh meninggalkan Hinata. Saat Namikaze muda itu berdiri di garis finis selama kurang lebih 2 menit, Hinata baru sampai dengan napas terengah-engah. Naruto menyengir sambil mengacungkan jempolnya.
"Haah..haah..a-apa?"
"Larimu bagus juga,"
"Haah..haah..kau mengejekku?" tanya Hinata dengan mata kanan yang tertutup akibat kelelahan. Naruto menggelengkan kepalanya pelan. Dia berbalik dan menolehkan kepalanya sedikit ke arah Hinata.
"Tidak. Larimu benar-benar bagus. Maksudnya dadamu.."
Mata Hinata melebar dan wajahnya langsung memerah "Hen..hen..HENTAAAAAII!"
"LOMPAT JAUH!" teriak Guy-sensei. Naruto mengungguli 2 meter dari titik lompatan Hinata. Naruto kembali tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya.
"Lompatanmu bagus," puji Naruto dengan nada manis. Hinata memiringkan kepalanya.
"Jangan bilang.."
"Kau sudah tahu,"
"H-H-Hentai no baka Namikaze …Narutoooo menyebalkan!"
Dan kemudian..
"Lempar lembing!"
Para siswa-siswi lainnya berdecak kagum dengan lemparan Naruto. Namikaze muda itu kembali mengungguli Hinata dengan jarak yang cukup jauh. Naruto menyeringai. Dia senang membuat gadis manis bermata lavender itu marah. Sementara Hinata menatap tajam ke arah Naruto. Dia tidak terima mudah dikalahkan laki-laki bersurai kuning dan menyebalkan itu.
"Push up!" teriak Guy-sensei.
"WOAAAAH! DALAM WAKTU 1 MENIT NARUTO DAPAT MELAKUKAN PUSH UP SEBANYAK 134 KALI!" teriak para siswa dengan nada kagum.
"HINATA HANYA MAMPU 12 KALI SAJA!"
"Pffftt, kau membuatku tertawa Yawarakai-san," ejek Naruto yang berdiri di samping Hinata dengan wajah puas. Hinata menggembungkan pipinya. Uji coba kembali dilakukan.
"SIT UP!" teriak Guy kembali.
"NARUTO DAPAT MELAKUKAN SIT UP SEBANYAK 198 KALI DALAM WAKTU 1 MENIT! SUGOOOIII!"
"HINATA HANYA MAMPU 24 KALI SAJA! HANYA 2 KALI LIPAT DARI ANGKA PUSH UP!"
"Pffft, kau pikir Sit Up sama dengan dua kali Push Up?" tanya Naruto penuh arti dengan nada mengejek. Hinata makin menggembungkan pipinya dengan lucu.
"LARI KELILING LAPANGAN BASKET SELAMA 5 MENIT!" teriak Guy-sensei kembali. Uji coba kembali dilakukan. Kini siswa-siswi kelas 2-A berdiri di tepi lapangan basket KHS.
Naruto dengan mudah mengalahkan Hinata dalam sesi ini. Dalam waktu 5 menit Namikaze muda itu dapat mengelilingi lapangan basket sebanyak 25 kali dan masih tetap bugar, sementara Hinata hanya mampu berlari mengelilingi sebanyak 7 kali dan itu pun sudah dengan napas terengah-engah. Naruto berdiri dengan santai sambil bersidekap dada dan menatap Hinata dengan pandangan kasihan.
"Kau lelah?"
"Aku tidak perlu rasa kasihan darimu.." kata Hinata sambil berlalu dari arah Naruto. Naruto mengangkat alisnya perlahan-lahan.
"Siapa yang mengasihanimu Yawarakai-san?"
Hinata tetap berjalan menjauhi Naruto dan tidak merespon apa yang Naruto katakan. Bukannya tidak peduli, otak Hinata kini terus berputar. Dia terus mengasumsikan kalau Naruto adalah si pembunuh. Bagaimana tidak, dari semua siswa di kelas 2-A, hanya Naruto yang dapat melakukan hal di bidang olahraga sebaik ini. Hinata pernah mendengar kalau ingin menjadi pembunuh professional, maka harus memiliki fisik yang kuat serta prima. Hinata menceklis dalam hatinya, satu syarat itu sudah Naruto penuhi. Hinata melirik ke arah Naruto dan matanya tampak sangat amat tajam. Di sesi berikutnya dia tidak akan kalah, dia akan membuktikan kepada laki-laki menyebalkan itu kalau dia bukanlah wanita yang tidak bisa apa-apa.
Akhirnya sesi menembak bola basket di ring pun dimulai. Naruto dan Hinata masih tetap melakukan uji coba bersama-sama. Sementara Lee dan Bee menangis histeris kenapa mereka berdua saling berpasangan. Guy-sensei pun meniup peluitnya dan tanda untuk memulai sesi ini harus dilakukan. Naruto dan Hinata saling melirik dengan pancaran rasa bermusuhan. Mereka akan melakukan penembakan di ring sebanyak lima kali (bergantian) dan siapa yang menang adalah dia yang memasukkan bola paling banyak.
'Tembakan pertama aku plesetkan saja. Heh..aku akan membuatnya senang dulu,' batin Naruto sambil menyeringai. Dia pun melemparkan bolanya asal-asalan dan bola itu akhirnya mengenai tepi ring, berputar perlahan dan lalu jatuh keluar. Semua yang di lapangan mendesah kecewa. Tentu saja, Naruto yang merupakan tim basket KHS ternyata dapat melakukan kesalahan seperti itu.
Hinata melemparkan bolanya dengan wajah tenang. Naruto berdehem berusaha menganggu konsentrasi Hinata.
'Tidak akan, Hentai!' batin Hinata dengan tatapan yakin. Bolanya pun masuk ke ring dengan mulus. Tanpa mengena ring sedikitpun.
Naruto melongo. Semua siswa yang ada di sana melongo. Tangisan Lee dan Bee berhenti. Peluit yang berada di bibir Guy-sensei jatuh ke bawah dan bergantungan di lehernya akibat mulutnya yang menganga lebar. Hinata telah membuat semuanya takjub.
"Aku meremehkanmu ya," Naruto mendengus perlahan-lahan "Tapi kali ini aku tidak akan main-main Yawarakai-san.."
Hinata hanya memandang tajam ke arah Naruto. Naruto pun melemparkan bolanya dengan konsentrasi tinggi dan bola itu masuk ke ring tanpa mengenai lingkaran besi itu sedikitpun. Para siswa-siswi kelas 2-A bersorak gembira. Naruto telah membuktikan kalau jabatan Kapten di Tim Basket KHS pantas untuk disandangnya. Hinata maju tanpa terpengaruh sedikitpun. Naruto memandang datar gerak-gerik gadis bersurai indigo tersebut.
"AYO YAWARAKAI-SAAAN! KALAHKAN NARUTO DENGAN LEMPARAN MANISMUUU!" teriak para cowok dengan mata berapi-api. Hinata menajamkan matanya dan dengan ayunan tangan ke atas yang lembut, bola itu masuk ke ring basket tanpa cacat. Semuanya terpana. Jadi yang pertama kali itu bukan keberuntungan Hinata. Ternyata Hinata benar-benar seorang ahli basket. Ino menatap wajah Naruto dan dia menghela napasnya. Terlihat jelas ekspresi wajah Naruto sedikit mengeras.
"Bagaimana? Apa kau bisa menyengir Namikaze-san?" tanya Hinata dengan nada sedikit puas. Perlahan-lahan wajah Naruto berubah tenang. Ekspresi itu berubah perlahan dan terlihat seringaian berbahaya dari putra Namikaze Minato tersebut.
"Bagaimana kalau kita taruhan?" tanya Naruto dengan nada tajam. Semua shock mendengarnya. Hinata menaikkan alisnya perlahan-lahan. Aura di sekitar mereka semakin menjadi keruh.
"Heh, baiklah.." Hinata memiringkan kepalanya "Siapa yang kalah maka dia harus mencium kaki yang menang, setuju Namikaze-san?"
"Oi oi oi.." kata Guy-sensei berusaha menormalkan situasi tersebut. Naruto dan Hinata menoleh ke arah guru berstyle Bob Hair itu dengan tatapan horror nan mengintimidasi. Guy meneguk ludahnya perlahan-lahan.
"Baiklah," kata Naruto sambil berdiri dengan tegak "Kita lihat siapa yang mencium kaki musuhnya..persiapkan dirimu, Yawarakai-san.."
"Kau juga," kata Hinata dengan nada mantap. Ino menahan napasnya. Apa yang dipikirkan oleh Naruto? Apa dia memang benar-benar tidak mau kalah dari gadis bermata lavender itu? Guy yang sudah angkat tangan akibat tatapan mengerikan dari keduanya hanya bisa meniup peluit tanda duel taruhan itu dimulai. Naruto yang mendapatkan giliran ketiga langsung melemparkan bolanya dengan style Pemain Basket profesional. Bola itu masuk ke ring tanpa cacat.
Skor 2-2
Hinata tersenyum tipis. Kini giliran ketiganya. Naruto menatap tajam gadis Hyuuga itu sambil bersidekap dada. Semua cowok menahan napasnya. Kini tidak ada sorakan penuh penyemangat karena aura dari Naruto maupun Hinata benar-benar menegangkan. Semua yang ada di situ seperti menonton adegan final pertandingan Basket yang mempertaruhkan nyawa dan raga.
Tlang! Lemparan ketiga Hinata terkena tepi dalam ring dan berputar secara cepat. Semuanya menahan napas tegang. Lee dan Bee tanpa sadar berpelukan. Guy mengenggam erat peluitnya saking terbawa suasana. Sedangkan Naruto dan Hinata hanya menatap tajam bola penentuan tersebut.
Srek! Bola basket itu pun masuk ke ring setelah berputar tiga kali di lingkaran dalamnya. Para cowok menghela napas lega dan para pendukung Naruto yang didominasi para wanita menundukkan kepala gelisah serta galau. Wajah Naruto tetap menampilkan ekspresi datar walaupun sekarang skor kembali berbalik menjadi 3-2 untuk keunggulan Hinata.
Naruto memantulkan bola berwarna orange tersebut dan langsung menembakkanya ke ring basket pada pantulan ketiganya. Bola itu masuk kembali dengan mulus. Tembakan keempat Naruto dan skor menjadi 3-3. Naruto mengerling ke arah Hinata. Hinata maju dengan wajah tenang. Lavendernya menatap tajam ring basket dan dia langsung melemparkan bola basketnya dengan tatapan yakin. Bola itu masuk kembali tanpa mengenai ring sedikitpun. Skor kembali berbalik, 4-3 untuk keunggulan Hinata.
"Lemparan terakhir," gumam Suigetsu dengan wajah tegang. Semuanya tegang. Entah kenapa Ino juga terbawa suasana dari teman-temannya. Hening..hening yang mencekam.
"WOOOY ANAK KELAS 2-A, NANTI OROCHI-SENSEI GAK MASUK NGAJAR!" teriak salah seorang siswa dari kelas lain dan langsung ditendang anak-anak kelas 2-A dengan brutal.
"KAU MENGACAU SUASANA!" teriak semuanya bahkan Guy-sensei juga.
Naruto memutar pelan bolanya. Dia menatap ring itu dengan tenang. Bagi seorang yang memiliki predikat sebagai anak dari pemimpin Namikaze corp., Naruto harus mempunyai mental baja dalam menghadapi tekanan. Naruto akui kalau dia sedikit temperamental dan tidak mudah menerima kegagalan, tetapi..
Naruto melirik ke arah Hinata dan safir menawan itu beralih menatap tajam ke arah ring serta tembakan kelima langsung dia lakukan. Bola itu masuk dengan cepat, terpantul dua kali di ring dalam kanan dan kiri, lalu masuk dengan cepat. Para penggemar Naruto langsung berteriak senang.
"KYAAAAA! NARUTO-SAMAAAA! KAU HEBAAAT!"
"NARUTO-KUUUN! JADILAH PACARKUUU!"
"NARUTOOO! KERJA BAGUUUS!"
Walaupun sering disebut Hentai, Naruto tetaplah Naruto. Remaja rupawan dengan kulit tan eksotis dan mata biru yang begitu menawan. Naruto mengerling ke arah Hinata dan tersenyum tipis. Hinata hanya mendengus pelan.
"Aku berharap bolamu jatuh,"
"Dalam mimpimu!" kata Hinata tegas. Dia langsung berjalan ke arah ring dan siap dengan ancang-ancang tembakannya. Semuanya memandang tegang ke arah Hinata. Pelukan Lee dan Bee semakin erat. Guy-sensei meniup peluitnya dan secara lambat, semuanya menyaksikan bagaimana arah bola Hinata masuk tanpa cacat ke dalam ring.
Hinata menang telak dengan skor tipis 5-4. Semua cowok berteriak senang sementara para pendukung Naruto hanya menunduk pasrah. Ino menggelengkan kepalanya perlahan.
'Dasar keras kepala, apa yang ingin didapatkannya dari taruhan tadi..' Ino menatap sedikit kesal ke arah Naruto. Naruto mengerling ke arah Ino dan membuat tatapan 'aku-tidak-apa-apa'. Namikaze muda itu berjalan dengan langkah tenang ke arah Hinata. Kedua iris mata itu bertemu. Sama-sama menatap tajam mata lawannya dan sama-sama berpikir untuk saling menjaga jarak. Naruto mendengus pelan dan tersenyum tipis. Dia langsung membungkukkan badannya untuk mencium kaki Hinata.
"Aku tepati perjanjian kita," kata Naruto dengan nada datar. Semua siswa-siswi tidak percaya Naruto yang seorang anak pemilik perusahaan terbesar di Jepang mau melakukan hal tersebut. Saat hidung Naruto sudah 4 centi lagi menyentuh sepatu olahraga Hinata, gadis Hyuuga itu langsung menarik kakinya ke belakang dan berjalan menjauh dari Naruto. Naruto mengangkat kepalanya dan menatap tajam Hinata.
"Aku tidak perlu rasa kasihanmu, Yawarakai-san.." kata Naruto tenang. Hinata menggelengkan kepalanya perlahan. Dia berbalik dan menolehkan kepalanya sedikit ke arah Naruto.
"Aku tak perlu hal tersebut. Tapi kau," Hinata berbalik dan menggaruk pelan pipi chubbynya dengan jari telunjuk kanannya yang lentik. Mata lavendernya yang tadi tajam tampak sedikit melembut. Mata itu mengerling ke arah kanan bawah. Bibir tipis Hinata tersenyum. Tersenyum sangat tipis tapi dapat membuat Naruto bertanya-tanya, seperti apa sifat sebenarnya dari gadis itu.
"Kau," Hinata terdiam sejenak. Matanya masih mengerling ke arah lain "Kau adalah tipe lelaki sejati. K-kau berani bertanggung jawab dan mau menepati janjimu. Bagiku itu sangat cukup untuk hari ini,"
Semuanya kagum dengan perkataan Hinata. Naruto bangkit perlahan-lahan dengan safir tak bersahabat. Perasaan Naruto berkecamuk. Ingat apa yang pernah dia katakan kepada Ino? Seorang Namikaze punya harga diri!
"Tidak usah untuk-"
"Cu-cukup Namikaze-san," Hinata menghela napasnya perlahan-lahan. Dia menaruh kedua tangannya di belakang punggungnya "Untuk hari ini kubebaskan kau dari kekalahan telakmu.."
GOTCHA! Hinata tampaknya langsung menyerang hati Naruto. Naruto langsung berbalik dengan wajah merah padam. Ino yang melihat tatapan Naruto begitu membara penuh amarah langsung berjalan mendekatinya dan berusaha menanyakan sesuatu yang akan sedikit menenangkan hati sang Namikaze. Naruto tidak menggubrisnya dan berjalan mendekati tiang basket. Sementara siswa-siswi lainnya sedikit melongo melihat bagaimana interaksi antara Naruto dan Hinata yang agak sedikit aneh. Naruto menyandarkan punggungnya di tiang ring dan menatap tajam punggung Hinata yang menuju gedung olahraga. Urat lehernya sedikit mengeras, menandakan kalau Naruto sedang marah.
'Dia berusaha mempermalukan harga diriku, dasar cewek sialan!' Naruto menundukkan kepalanya dan menyeringai tipis.
'Tapi di situ letak menariknya dirimu, Hinata..'
Sementara Hinata mengerling sekilas ke arah Naruto dan tersenyum puas. Wajah cantik itu tampak senang atas perlakukannya kepada Naruto tadi.
'Akhirnya aku berhasil membuat dia malu setengah mati. Daripada menyuruh dia mencium kakiku dan membuat tanggung jawabnya lepas, lebih baik membuatnya tidak melakukan hal tersebut namun menyiksa harga dirinya,' Hinata tertawa kecil dengan tangan kanan yang ditaruh di bawah bibirnya.
'Tapi dia menepati janjinya dengan baik, dia tidaklah terlalu buruk..'
Pertarungan masih berlanjut!
Semua uji coba latihan yang diberikan Guy-sensei pun hampir berakhir. Setelah uji coba basket tadi, anak-anak kelas 2-A melakukan uji coba pada olahraga Badminton, Sepak Bola dengan uji coba dalam tahap menendang ke dalam gawang yang diberikan target tertentu, Bola Voli dalam adu service dengan batasan tertentu, dan uji coba memanah.
Naruto mengakui kalau Hinata benar-benar hebat dalam hal menembak sesuatu dengan sasaran tertentu. Buktinya dalam sesi uji coba Sepak Bola dengan target tertentu di gawang, Hinata meraih skor sempurna dan dapat menyainginya. Begitu pula dengan uji coba cabang Bola Voli. Pada cabang memanah, kehebatan Hinata begitu kentara dengan panah-panahnya yang tepat menancap di tengah lingkaran merah. Naruto benar-benar kagum dengan kemampuan mata Hinata, seolah-olah mata lavender indah itu benar-benar miliknya. Miliknya?
Naruto yang sedang memakai celana pendek-karena uji coba terakhir, yakni renang akan dimulai-, kini sedang duduk di kursi sambil memilin poni rambutnya perlahan. Safirnya menatap tajam lurus ke depan, di mana teman-temannya sedang melakukan uji coba senam gaya bebas 100 meter. Bagi yang tidak tahu berenang harus memberitahukan Guy-sensei sehingga diberi alat bantu seperti pelampung. Naruto yang masih berpikir tentang mata Hinata kini terus memasukkan berbagai macam kesimpulan atas observasi kemampuan Hinata yang begitu menakjubkan. Ya, Naruto pernah mendengar kalau keluarga Hyuuga memang memiliki kemampuan melihat yang baik. Tetapi, gadis indigo itu mengatakan kalau matanya adalah hasil transplantasi dan dia dulunya buta, serta marga yang berbeda..mata Naruto sedikit menjadi lebih tajam. Dia ingat, dulunya dia tidak bersimpati sedikitpun pada cerita itu, dan kini dia harus mencoba apa yang dinamakannya "Memisalkan" untuk membuat hipotesa apakah yang dikatakan Hinata benar atau tidak.
'Misalkan, misalkan mata itu bukan miliknya, kenapa dia mampu melakukan kemampuan melihat dengan baik. Apa ada faktor bakat, teknik yang memumpuni, atau dia sering melatih dirinya waktu di Oto..dan alternatif terakhir,' Naruto mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di bangku panjang tempat dia duduk dengan gerakan cepat 'Dia mendapatkan kemampuan tersebut akibat matanya, dan dia adalah seorang Hyuuga..' Naruto memiringkan kepalanya sedikit. Bisa jadi..
'Kemampuan memori yang hebat dan ketajaman mata yang luar biasa,Yawarakai Hinata..kau bisa menjadi seorang sniper yang handal,' batin Naruto sambil sedikit menyeringai 'Tapi sayang kau menjadi calon buruanku yang harus kuburu..setidaknya mudah-mudahan kau bukan Hyuuga,'
"H-hei,"
Naruto mengangkat kepalanya lebih tegak dan menoleh ke arah kanan. Hinata berdiri dengan swimsuit sekolah dan keelokan tubuhnya tidak dapat dielakkan. Jujur saja, di dalam hati Naruto dia benar-benar mengatakan kalau Hinata itu sangat cantik, manis, dan juga seksi. Naruto mengerling ke arah lain ketika tahu perubahan wajah Hinata yang perlahan-lahan kesal, memerah, dan marah. Hinata langsung berdiri di depan Naruto dan melayangkan telapak tangan kanannya ke arah pipi sang Namikaze. Naruto menahannya dengan santai. Safirnya menatap intens wajah chubby Hinata. Benar-benar menggemaskan..
"J-jangan menatapku seperti itu,"
"Tsk! Siapa juga yang nasfu melihatmu gadis bodoh,"
Wajah Hinata benar-benar mengeras kesal "K-kau, kata-katamu membuatku muak!"
"Muntahkan saja.."
"Aku muak bukan mual!"
"Oh,"
"Hentai!" Hinata melepaskan tangannya dari tangan Naruto dan langsung melangkahkan kakinya menjauhi Naruto. Naruto segera memegang lengan Hinata dan menatap tajam gadis berwajah manis tersebut. Hinata menolehkan kepalanya ke belakang perlahan.
"A-apa? Dan jangan pegang tanganku-"
"Kau bisa berenang?" tanya Naruto dengan nada datar. Hinata melepaskan pegangan Naruto dengan kasar dan mendengus keras. Naruto tetap memasang wajah tanpa ekspresinya.
"Kau sedang ingin mengejekku Namikaze-san?"
"Siapa? Aku hanya bertanya-"
"S-sudahlah. A-aku bisa berenang kok!"
"Benar?" Naruto tersenyum tipis dengan tatapan seteduh pantai "Jujur saja dan katakan kekuranganmu di depanku, aku hanya tertawa kecil kalau kau tidak bisa berenang, Yawarakai-san.."
"KAU MENGEJEKKU!" Hinata berteriak kesal di depan Naruto dan langsung berbalik ke arah Namikaze muda itu dengan wajah penuh amarah. "Dengar ya, Hentai-san..aku akan membuktikan kepadamu kalau aku bukanlah wanita lemah seperti yang kau pikirkan. Jangan pikir aku tidak dapat melindungi diriku, heh..aku bahkan berharap wajahmu tidak akan pernah mendekati wajahku," Hinata menggigit bibirnya perlahan "Po-pokoknya, aku tidak mau merasa rendah di depan laki-laki menyebalkan sepertimu!"
"Oh," Naruto menaikkan alisnya dengan anggun, matanya tetap tenang dan mulutnya terbuka sedikit, menandakan dia hanya menganggap kata-kata Hinata hanya curahan hati seorang wanita. Naruto berdiri dari posisi duduknya dan terkekeh pelan. Lavender Hinata menatap kesal ke arah wajah rupawan berkulit tan tersebut.
"Kalau begitu, berteriaklah di depanku kalau kau bisa berenang, wanita kuat.." Naruto berkata dengan nada sarkatik plus efek-efek dramatik. Gigi Hinata menggelemetuk perlahan.
"Cih! Siapa juga-"
"Berarti kau takut,"
"Aku tidak takut!"
"Makanya teriakkan kalimat itu di depanku!"
"A-aku.."
"Kau ragu?"
Hinata menggembungkan pipinya dengan gaya yang lucu. Benar-benar manis. Lavendernya masih menatap kesal ke arah Naruto yang berdiri dengan santai sambil menaruh tangan kanannya di pinggang. Hinata mengambil napas sebanyak-banyaknya dan saat dia ingin meneriakkan apa yang diminta oleh Naruto..
"Yawarakai Hinata," kata Guy-sensei dengan nada keras. Saatnya giliran Hinata untuk melakukan uji coba.
"A-AKU BISA BERENANG HENTAI SIALAAAAAAAAN!" teriak Hinata spontan membuat semua yang ada di kolam renang KHS menoleh ke arah Hinata secara bersamaan. Naruto tersenyum tipis dan memelintir pelan poni depan rambutnya dengan safir yang bercahaya puas. Sementara Guy yang merasa diteriaki Hinata hanya menangis Bombay sambil mengusap pipinya dengan tisu pemberian Lee,
"Aku tahu Hinata aku tahu hiks..aku tahu kau bisa berenang, ta-tapi hiks..jangan katakan aku Hentai juga hiks..hiks.."
"Guy-sensei," mata Lee ikutan berair.
"Lee.."
"Guy-sensei,"
"Lee.."
"Guy-sensei!"
"Lee!"
"WALAPUN ANDA MESUM ANDA TETAP GURU TERKEREN DI KHS, HUWAAAAAAAAAA!"
"TERIMA KASIH LEE! KAU BENAR-BENAR MURID DENGAN STYLE RAMBUT PALING KEREN DI KHS HUWAAAAAAAAA!"
Guy dan Lee pun membuat acara komedi pendek. Setelah adegan tidak penting tadi, Hinata maju dengan mata yakin. Naruto yang sedang menatapnya dari kejauhan hanya berdiri dengan tenang sambil berkacak pinggang. Sekarang waktunya untuk mengadu kemampuan Hinata, apakah dia bisa berenang atau tidak.
"Siap.." kata Guy sambil memberi aba-aba. Hinata membungkukkan badannya dalam posisi siap. Guy mengangkat tangannya ke atas dengan wajah penuh semangat.
"MULAI!"
CBUUR! Hinata pun terjun ke kolam dan langsung mengepakkan kakinya dengan cepat. Naruto yang melihat style Hinata akhirnya merasa yakin kalau gadis manis itu bisa berenang. Namikaze muda itu membalikkan badannya dan tersenyum tipis. Saat dia ingin berjalan keluar dari kolam, terdengar teriakan seorang siswi yang begitu ketakutan.
"YAWARAKAI-SAN TENGGELAM! D-DIA TIDAK BISA BERENANG!" teriaknya kencang.
"BO-BODOH! KENAPA DIA TIDAK MENGATAKANNYA KEPADAKU?!" Guy-sensei mengacak rambutnya kebingungan "BUKANKAH TADI DIA BERTERIAK KALAU DIA BISA BERENANG?!"
"YA BENAR! HEI, TOLONG DIAAA!" teriak yang lainnya kacau. Safir Naruto melebar. Dia langsung membalikkan badannya ke arah kolam dan berlari kencang. Semua mata siswa-siswi kelas 2-A terbelalak takjub. Bahkan Guy yang baru mau melompat ke kolam ternganga melihat kecepatan lari Naruto. Benar-benar cepat seperti cheetah. Naruto langsung melompat ke kolam dan berenang ke arah Hinata yang kini sedang mengepak-ngepakkan tangannya ke atas minta tolong.
"To-tolong..tolong..blup..blup.." wajah Hinata perlahan-lahan tenggelam. Hanya tangannya yang terlihat terangkat ke atas. Safir Naruto melebar.
'Dia pingsan!' Naruto langsung menangkap tangan tersebut dan memeluk tubuh Hinata dengan tangan kanannya. Naruto segera berenang sambil membawa Hinata ke tepi kolam. Ino langsung membantu Naruto mengangkat tubuh Hinata ke tepian kolam. Naruto langsung naik ke atas dan berdiri dengan napas terengah-engah. Mata kanannya tertutup kelelahan dengan mulut yang terbuka untuk mencari oksigen sebanyak-banyaknya. Berenang dua kali sambil mengangkat tubuh seorang remaja perempuan memang melelahkan. Naruto menghirup napasnya perlahan dan berusaha mengatur pola napasnya.
"Dia pingsan Naruto," kata Ino sambil mendekatkan telinganya ke hidung mungil Hinata. Ino menekan perut Hinata dan gadis bersurai indigo itu belum bergerak. Ino memasang wajah khawatir. Sementara anak-anak kelas 2-A lainnya langsung mengerumuni Hinata bersama Guy-sensei. Semuanya memasang wajah khawatir.
"D-dia.." mata Lee menjad horror, entah apa yang dipikirkannya "Y-Yawarakai-san perlu napas buatan. SINI BIAR AKU YANG MELAKUKANNYA!"
Ino pun memukul kepala Lee dengan perempatan di jidatnya "Dasar Maho Hentai!" kata Ino dengan nada kesal. Sementara Guy yang memeriksa keadaan Hinata menganggukkan kepalanya dengan wajah yakin. Mata Guy tertutupi oleh poni Bob stylenya dan wajahnya benar-benar serius. Aura di sekitar Guy pun begitu kelam dan menyeramkan.
"Dia butuh napas buatan.." kata Guy dengan suara berat.
Guy Pun tepar di samping murid kesayangannya-Lee-dengan sebuah benjol yang masih panas. Ino menggelemetukkan gigi-giginya dengan perempatan yang semakin besar. "Guru dan murid sama saja!" kata Ino sedikit menggeram.
"Bagaimana Yawarakai-san, Naruto-kun?" tanya Kin Tsuchi sambil memandang penuh harap ke arah remaja bersurai kuning tersebut. Kin Tsuchi menggaruk pipinya dengan sedikit rona merah di pipinya "A-apa kau harus memberikan napas buatan kepada Yawarakai-san?"
Naruto menoleh ke arah Kin Tsuchi dengan wajah datar "Kau. Bercanda. Kin?" tanya Naruto penuh penekanan dan aura mengerikan. Kin meneguk ludahnya perlahan-lahan.
"Bu-bukan seperti itu, ta-tapi ini request dari teman-teman," kata Kin sambil menunjuk para siswa-siswi di belakangnya. Naruto rasanya mau terjungkal ke belakang. Request kata mereka? Dasar teman-teman sialan!
Naruto menoleh ke arah teman-temannya dengan wajah datar. Semua temannya membentangkan spanduk dengan tulisan "Go Go Go Naruto! Go Go Go Hentai!"
Naruto menghela napasnya. Kin menepuk pelan bahu putra Minato tersebut.
"Kau tahu, semuanya menganggap kau-lah yang cocok melakukannya," Kin terdiam sebentar "Karena..karena sejak Yawarakai-san pindah ke sini, hanya kau yang nampak dekat dengannya dan yah..interaksi kalian sangat akrab. Kalian sering berkelahi tapi kalian berdua tampak saling melengkapi. Naruto-kun, ini hanya memberi napas buatan, tidak ada maksud lain.." Kin melepaskan tangannya dari bahu Naruto "Percayalah, kau dan dia..cocok,"
Mata Naruto melebar. Cocok?! Jangan bercanda..pada saat awal pertemuannya dengan Hinata dia dikatakan sebagai calon Harem sialan, sekarang keadaannya menjadi sedikit terbalik. Naruto memasang ekspresi kebingungan. Dia menatap datar wajah manis Hinata yang kini sedang nampak tertidur.
'Sialan! Bahkan saat pingsan dia nampak cantik..shit! apa yang kaupikirkan, Namikaze Naruto..aku,' Naruto menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kanannya sehingga hanya terlihat mata kanannya yang nampak bercahaya kejam. Sebuah sorot mata seorang pembunuh '..Untuk kali ini,' dan safir itu perlahan-lahan redup. Safir itu menjadi sedikit teduh.
'..Hanya untuk kali ini,' safir itu pun menjadi safir menenangkan yang menawan. Naruto melepaskan tangan kanannya dari wajah tan-nya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hinata. Napas Naruto berhembus pelan mengenai hidung mungil Hinata. Entah kenapa mata Naruto langsung autofokus ke bibir mungil itu. Dan memang bibir manis itu yang akan disantap oleh bibinya.
Disantap?! Jangan bercanda! Ini hanya napas buatan! Naruto merutuki kebodohannya. Baru kali ini, hanya karena hal bodoh jantungnya bisa berdebar. Padahal dia sudah membunuh ribuan orang dan jantungnya hanya berdetak biasa bahkan jika berdetak kencang itu adalah detakan-detakan rasa senang serta puas. Kali ini berbeda, detakan ini memberikan sensasi yang aneh. Sebuah sensasi yang membuat dadanya panas dan hembusannya semakin dalam dan berat. Bibir itu pun kini beberapa centi lagi mencapai bibir mungil Hinata. Semuanya memandang spechless ke arah kejadian langka ini. Bahkan ada yang menyiapkan kamera seperti Kin Tsuchi. Sementara Ino menolehkan kepalanya ke arah lain. Entah kenapa ada sedikit rasa sakit di hati gadis Yamanaka itu.
'Padahal itu kan..itu hanya napas buatan,' Ino menutup matanya 'Apa yang membuatku sakit. Perasaan apa ini?'
Naruto berhenti sejenak saat bibirnya tinggal 4 centi lagi di bibir Hinata. Dia memikirkan tentang Hyuuga dan entah kenapa otaknya terus berputar tentang pembunuhan yang dia lakukan. Naruto menutup matanya.
.
.
.
"ARRGGHH-"
"HINATA! LARI!"
"HINATA! HINATA!"
"LARI HINATA! LARI!"
"PEMBUNUH ITU ADA DI DEKATMU!"
DEG! Mata Hinata terbuka lebar. Dia langsung merasakan bau lemon mint di hidungnya dan mendapatkan wajah Naruto yang benar-benar dekat dengannya. Bibir sang Namikaze bahkan tinggal beberapa centi lagi dari bibirnya dan..dan..
'Ci-ciuman pertamaku akan direnggut si Hentai ini! Ma-matanya tertutup lagi! Da-dasar..'
"HENTAAAAAAAAAAAAAAAI!"
BUAAAAKHHH! Hinata langsung menendang 'Junior' Naruto dengan kaki kanannya hingga Naruto terjengkang ke belakang, berguling ke arah kolam, dan akhirnya tenggelam di sana. Semuanya menganga tak percaya bahka kamera yang dipegang Kin terjatuh dari tangannya. Alis Ino naik turun sweatdrop dan Guy serta Lee hanya memasang poker face.
Krikk..krikk..krikk..
"WOOY! NARUTO TENGGELAM BODOH!"
"TOLONG NARUTO TEMAN-TEMAAAN!"
"SIALAAAN! CEPAT ANGKA DIA! DIA SEPERTINYA PINGSAAN!"
Dan keributan pun kembali terjadi. Semuanya melompat ke kolam dengan wajah khawatir. Kin Tsuchi menghela napasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah bingung. Ino menepuk keningnya perlahan. Yah, nampaknya mereka berdua memang saling melengkapi.
Hinata menundukkan kepalanya dan berlari ke tepian kolam. Saat teman-teman Naruto baru mengangkat tubuh putra Minato itu ke atas, Hinata tiba-tiba muncul dan langsung menendang kepala Naruto sehingga sang Namikaze kembali tenggelam ke kolam. Semuanya memasang wajah shock.
"HENTAI HENTAI HENTAI HENTAAAAI! NA-NARUTO NO BAKAAAA!" Hinata pun berlari meninggalkan kolam renang dan menuju ruangan ganti. Sementara Naruto yang tenggelam kembali ke dalam kolam dengan kesadaran yang kembali menghilang hanya mengerutkan keningnya kebingungan.
'D-dia memanggil namaku tadi? A-apa yang..' dan Naruto merasakan semuanya gelap.
Sementara Hinata yang sudah berganti baju dengan cepat kini memegang dadanya dengan detakan jantung yang tidak normal. Wajah Hinata memerah dan dia langsung pergi ke dalam kelasnya. Hinata mengangkat wajahnya dan nampak wajah manis itu sangat amat memerah dengan mata lavender besar yang sedikit menangis saking malunya.
Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat dan segera masuk ke kelasnya sendirian.
Hinata tidak tahu..kakak sepupu Naruto, Uzumaki Karin-kelas 3-B-baru keluar dari kantin dan mengerutkan keningnya saat melihat Hinata. Apalagi matanya..
'Ciri-ciri itu..' batin Karin yang nampak mengingat sesuatu sambil membetulka letak kacamatanya.
Alaram tanda bahaya! Seorang keluarga besar Namikaze melihat sosok Hinata!
TBC
Author Note:
Haloha Minna-san, back to Icha yang baik hati dan suka mencuci kolor Pein *Pein: Woy! Gue gak ada kolor?!, krikk..krikk..krikk..* hehe, bagaimana? Icha harap chap ini bisa menghibur kalian. LTE (Icha menyingkatnya begini, boleh kan^_^) pada dasarnya memang adalah sebuah fic crime, namun Icha mencoba membuat cerita dalam sudut pandang anak sekolahan, di mana ada kegiatan ini-itu dengan NaruHina sebagai pusatnya, perkelahian mereka, rasa benci mereka, dukungan dan penolakan dari teman-teman sekelas mereka, konflik cinta, hingga yang berat di ujung klimaks, yaitu genre crime itu sendiri. Jadi Icha mencoba membuat sesi itu, yang bentuknya sama dengan MSB, namun dibumbui sedikit keseriusan dengan adanya genre Crime ini. Semoga Readers-san memaklumi yah..fic Icha yang seperti ini ya^_^
Jadi langsung saja Icha membalas yang gak login. Siamo tutti fratelli *kata-kata anak PMR^_^*
Akina: Haha, sip..si tiga gaje itu memang akan menjadi penambah humor di fic ini, soal rasa cinta itu, emm baru rasa Akina-san, keduanya masih menjaga jarak karena rasa saling mencurigai itu, jadinya keduanya masih belum tahu apa yang membuat jantung itu dag-dig-dug-ngook *suara Pein ngorok* haha, arigatou ya^_^
Guest: Arigatou ne, hehehe^_^
tsumehaza arief: Gak apa-apa. Icha bahkan berharap semua Readers di sini menggurui Icha dan mengkritik Icha supaya lebih baik. Kalau ada kesalahan di chap ini Arief-san jangan sungkan-sungkan mengkritiknya. Icha akan senang kok membacanya dan juga, arigatou ya^_^
MORPH: Arigatou ya. Untuk konflik tampaknya belum muncul kok. Masih menceritakan mereka berdua saling benci-bencian dan penuh curiga.
Crack: Haha sip..arigatou ya
Hqhqhq: Hihi, sip lah..baru belajar buat Gore selain di fic Blacklist 10. Arigatou atas semangatnya^_^
Arigatou atas semua review kritik dan sarannya minna, yang memakai akun akan Icha balas dengan PM ya, so so so..so sis so nicek *plak* maksudnya,
So, Please review and thank you..berilah Icha saran dan krtiknya agar Icha terus berusaha berkembang.
Akhir kata, Jaa Minna-san^_^
Tertanda. Icha Ren
