Ohayou! Konnichiwa! Konbawa!
.
Maaf untuk segala kesalahan di chapter lalu! Hontou ni gomenasai… (_._)
Makasih untuk semua review, anceman/ngingetin update, concrit yang sangat berguna buat Light, juga alert/fave! Arigatou gozaimasu! ^_^
Berbahagialah, Readers/Reviewers. *nyengir* Light update DUA CHAPTER! So, untuk siapapun yang berkenan meninggalkan review, silahkan tinggalkan dulu review untuk chapter ini sebelum lanjut ke chapter berikutnya! :D
Dozo, Minna-sama!
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Warning:
Canon verse, POV changing, out of character-maybe, a little typo(s) and out of topic. Full of gajeness and garingness.
.
Italic: flashback.
Bold+italic: Naruto/Hinata'sPOV
.
Special chapter without second POV.
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Tidak tahu mengapa…
Menerima kabar bahwa Kau akan bersanding dengan sahabatku, membuatku sakit hati.
Aku merasa dikhianati.
Tidak ada siapapun yang menjadi alasanku untuk merasa dikhianati.
Tapi karena Kau…
…Ya, Karena Kau…
Seorang gadis yang cukup aneh di mataku.
.
#~**~#
Believe
.
Chapter 4
.
By: Light-Sapphire-Chan
#~**~#
.
Naruto merasakan hatinya mencelos, kala pemuda itu membaca gerak bibir sang gadis. Matanya melengkung ke bawah, firasat buruk merayapinya, ia pun berbisik lirih, tanpa melepaskan pandangan terhadap mata yang berkilau karena digenangi air mata.
"Doushite, Hinata?"
"Aneh…" Gumam Chouji.
"Aku mengendus ada yang tidak beres di sini," kata Kiba curiga.
Shizune dan Hinata saling melepaskan diri, lalu saling melempar senyum tipis yang sendu. Shizune serta Neji menggandeng Hinata yang tampak tegar. Semua sampai tidak tahu harus berkata apa.
"Mari, Minna, semua sudah menunggu di kamar rawat Tsunade-sama," kata Shizune. Lalu berjalan menggandeng Hinata yang juga digandeng Neji, memimpin jalan menuju kamar rawat Tsunade.
"Semua?" Sai bergumam seraya menutup pintu kamar Naruto, dan bergegas menyusul yang lain yang sudah jalan duluan. Ketiga gadis saling berbisik-bisik khawatir. Shikamaru dan Shino walaupun berekspresi datar tapi jelas kelihatan khawatir. Chouji bergumam-gumam sendiri.
Di tengah jalan, dalam koridor rumah sakit, mereka bertemu dengan guru-guru mereka.
"Ku-kurenai-Sensei! Kenapa Kau kemari?" serbu Kiba panik.
"Sensei sedang hamil tua, lebih baik banyak beristirahat di rumah," kata Shino tenang.
"Aku tidak apa-apa, Kiba. Aku tadi dipanggil Shizune untuk ke kamar Tsunade-sama," jawab Kurenai lembut seraya menepuk-nepuk perutnya yang besar.
"Kakashi-Sensei, Gai-Sensei, Iruka-Sensei, Yamato-Taichou juga?" tanya Sakura heran.
Keempat lelaki tersebut mengangguk. Kakashi mengarahkan pandangannya pada Shizune yang juga sedang menatapnya. "Ada apa, Shizune?"
Shizune melirik Hinata yang semakin menundukkan kepalanya. Juga Neji yang kelihatan pucat walau tidak sepucat Sai. "Nanti kalian semua akan tahu…" Ditariknya Hinata pelan untuk kembali berjalan.
Kurenai mendekati kedua murid lelakinya, "Apa semua ini menyangkut dengan Hinata?"
"Kurasa begitu, Sensei," jawab Shino, matanya mengawasi Hinata yang berjalan di depan bersama Shizune dan Neji.
"Dan mencium baunya, Akamaru dan aku rasa… Ini kabar buruk," tambah Kiba, Akamaru pun mendeking.
"Kau tahu sebenarnya ada apa, Sakura?" tanya Kakashi saat menghampiri Sakura. Yang ditanya menggeleng. "Naruto?"
Naruto menggeleng, cukup mengherankan melihat pemuda ini membisu. Biasanya saja jika ada masalah, ia berteriak-teriak marah minta diberitahu permasalahan yang ada.
Semua membisu hingga mereka sampai dan memasuki kamar Godaime-Hokage. Tanpa banyak bicara mereka segera mengambil posisi yang enak untuk berdiri. Mereka yang baru memasuki ruangan sendiri cukup terkejut, mendapati bahwa Hiashi dan Hanabi ada di sana, juga para tetua.
Untung saja kamar VVIP atas nama Godaime-Hokage tersebut cukup luas, seluas kantor Hokage. Cukup luas untuk mereka berkumpul di dalamnya.
Setelah semua masuk, Shizune menutup pintu dan menarik Hinata ke samping Tsunade. "Tugas sudah selesai, Tsunade-sama!" lapor Shizune.
Tsunade mengangguk, "Arigatou, Shizune. Ne, Hinata, kemarilah…" Kedua tangan berkeriput itu menggenggam tangan halus dengan jari-jari lentik milik Hinata. Diusap-usapnya kedua tangan Hinata. "Arigatou gozaimashita, Hinata…" Kemudian dipeluknya Hinata.
"Baa-chan! Sebenarnya ada apa?" seru Naruto yang tidak tahan lagi untuk bertanya.
Tsunade melepaskan pelukannya dari Hinata, wanita tua itu mengacuhkan pertanyaan Naruto. "Shizune, Kau bawa suratnya?"
"Ya, ini suratnya… Aku juga membawa surat-surat pernyataan tiap Kage, dan surat untuk ditandatangani Hyuuga-sama," Shizune menyerahkan tumpukan surat pada Tsunade yang terduduk di kasurnya.
Tsunade mengambil selembar surat, menelitinya sesaat, dan menyodorkannya pada Hiashi. "Apakah Anda setuju atau tidak, Hiashi-sama? Neji? Hanabi? Hinata?"
Neji mendekati keluarganya. Baru pertama kali dilihatnya pamannya benar-benar sedih, ya… Tapi Hinata masih bisa tersenyum, senyum yang menyuarakan kalau ia baik-baik saja, senyum yang menenangkan…
Senyum yang tak mencapai matanya.
"A-aku t-tidak mau! Tidak setuju! Walaupun bukan a-aku yang menjalankannya! Tetap saja… A-aku tidak rela kalau Nee-chan yang harus… Melakukannya," ketus Hanabi dengan suara serak menahan tangis.
Hinata menghampiri adiknya, dielusnya pelan bahu sang adik. "Kau tidak boleh egois seperti itu, Hanabi…"
Hanabi menatap kakaknya, tatapan yang miris dialiri air mata. "Dan harusnya Nee-chan belajar bagaimana caranya egois!" suara gadis kecil itu meninggi. "Aku yakin, Godaime-sama juga tidak setuju tentang hal ini!"
Tsunade mengangguk lemah. "Gomenasai, Hanabi. Aku memang tidak bisa melakukan apapun…"
Neji menghela napas, ditepuknya lengan Hinata. "Aku juga tidak setuju, Hinata… Tapi mendengar pertimbangan, tawaran dan resiko yang ada, aku mengerti keputusanmu."
Wajah Hiashi digarisi guratan lelah. Diterimanya surat yang disodorkan padanya. Ia menerima pulpen yang disodorkan Shizune, dengan enggan ditandatanganinya kertas tersebut.
"Ne, Hiashi-sama, apa yang Hinata katakan padamu hingga Kau dan klan Hyuuga menyetujui ini?" tanya Tsunade pelan dan melihat Hiashi yang menandatangani tanda persetujuan, namun terdengar keseluruh ruangan rawatnya.
Hiashi mengembalikan pulpen dan kertas tersebut pada Shizune seraya menjawab, "Cukup membuatku menyesal sebagai seorang Ayah yang tak peduli pada putrinya," ia mengulaskan senyum sedih.
Semua yang baru datang berpandangan heran, tidak mengerti dan takut. Sesuatu yang gawat mungkin akan atau telah terjadi pada Hinata.
'Sudah cukup dengan semua ini… Aku benci melihat senyum palsunya!' batin Naruto berteriak, ketika menyadari arti senyum yang kini terpasang di wajah seorang gadis cantik…
…Yang kemarin serta tadi meminta maaf padanya tanpa menyertakan alasan atas permintamaafannya.
Naruto berjalan cepat, digenggamnya erat pergelangan tangan seseorang, ditariknya hingga orang itu berhadapan dengannya, beradu mata dengannya. Membuat Naruto menemukan air mata yang lagi-lagi menggenang di pelupuk mata ungu keperakkan indah yang dipandangnya.
Semua yang melihatnya membisu.
Mungkin hanya butuh satu langkah untuk mengeliminasi jarak di antara mereka dengan pelukan. Hinata harus agak mendongak untuk memandang Naruto yang memang lebih tinggi darinya.
Amarah yang semula bergejolak menghimpit hingga menyesaki dadanya, memudar perlahan, seiring dengan perasaan khawatir menyapunya, mata biru Naruto melebar dalam keterkejutan, "Doushite, Hinata?" tanyanya lirih.
Hinata perlahan menunduk. Sebelah tangan kirinya yang bebas terangkat, mengusap asal dan cepat air mata yang menggenang. Didongakkannya kepalanya dengan senyum terpasang di wajahnya. "Daijobou ka, Naruto-kun… Maukah Kau mendengarkan penjelasan Tsunade sama?"
"Hiks… Hiks!" suara isak tangis kecil itu membuat semua—kecuali Naruto dan Hinata yang masih saling bertatapan—menoleh. Ino menangis.
"Kenapa Kau menangis, Ino? Tsunade-sama belum cerita apa-apa, kok Kau sudah menangis duluan?" tanya Chouji dan memberikan sapu tangan pada Ino.
"Me-melihat, h-hiks, Naruto d-dan Hinata… Aku t-teringat film y-yang se-semalam kutonton…" Jawab Ino jujur dan menutupi wajahnya dengan sapu tangan yang diberikan Chouji.
"Film apa?" tanya Tenten heran. Seingatnya tidak ada acara menarik kemarin.
"Romeo and Juliet… Huwaaaaa~ eheeegh, hiks! Hiks!" Ino menangis kencang, dipeluknya asal Sakura dan Tenten yang segera mengernyitkan alis, heran.
Teman-teman sesama tim rookie 12 mendesah kesal lagi kecewa.
Ino mengangkat kepalanya dari bahu Tenten dan Sakura. "Heh, kalian para cowok yang tak mempunyai perasaan! Film itu romantis dan sedih banget tahu!" katanya galak, dan kembali menangis sedih lagi.
Para tetua hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Mereka memberi kode pada Tsunade untuk bicara.
Tsunade melirik sepasang insan muda yang pandangannya saling bertautan, sudahlah… Jangan dipandang terus. Membuat hatinya iri saja…
"Aku mempunyai kabar untuk kalian semua…" Kata Tsunade, membuat semua perhatian kembali direnggut menjadi miliknya. "Kabar baik…" Katanya dengan senyum kecil.
"Hah? Kabar baik?" beo Lee dan Gai seolah tidak percaya.
Tsunade mengangguk. "Kabar baik untuk tim tujuh," ditatapnya Naruto, Sakura dan Kakashi. "Sasuke akan kembali ke Konoha!"
Naruto yang masih menggenggam pergelangan Hinata kini benar-benar menatap Tsunade, mencoba tak mempercayai telinganya yang masih berfungsi normal. "Ho-hontou?"
Tsunade mengangguk. "Dan atas persetujuan semua Kage, Sasuke tidak perlu dihukum mati atas semua kesalahannya!"
Sakura dan Ino menjerit riang. "Yokatta ne!" keduanya berpelukan bahagia. Disambut dengan Tenten yang ikut dalam regu berpelukan riang itu.
Kakashi menerima ucapan selamat dari rekan-rekan Jounin-nya. Walaupun wajahnya tertutup masker, raut kebahagian dari nada senang lewat suaranya tak terbantahkan. Kurenai memeluknya dengan senyum hangat, dan Gai memberikan 'hadiah' berupa tantangan konyol berlari seribu putaran mengelilingi Konoha, dan Iruka tersenyum lega melihat Naruto hanya mampu tersenyum senang dan tak bisa berkata apa-apa.
Jeritan dan isak tangis serta tawa bahagia menggema di kamar rawat Tsunade, Tsunade hanya tersenyum tipis melihat wajah-wajah bahagia… Dan matanya melengkung kebawah.
Nada senang itu akan berubah menjadi lirih penuh penyesalan dan pertanyaan.
Jeritan riang dan isak tangis bahagia itu akan berganti menjadi kesedihan.
Senyuman itu akan memudar, tergantikan dengan kata-kata ketidakmengertian dan kemarahan.
Hinata tersenyum lega melihatnya, iya… Pengorbanan hidupnya tidak akan sia-sia, kan? Hanya satu hidup dan hati serta kebahagiaan yang gugur, untuk seribu hidup dengan hati yang dicerahi kebahagiaan.
Hinata percaya, semuanya akan baik-baik saja. Ini akan menjadi akhir dari kesedihan, dan di titik itu pula akan lahir kebahagiaan, menjadi awal kehidupan yang baru. Keputusannya tidak salah… Ya, kan?
Terdengar bunyi 'POOFSSSSSHH' beberapa kali di dalam ruangan itu, Akamaru menggeram, bau musuh… Yang ia tahu, itu bau musuh. Bau Sasuke Uchiha dengan tim Taka yang berbalut jubah Akatsuki.
"Sasuke… Akhirnya Kau datang," kata Tsunade pelan. Membiarkan keheningan merenggut keramaian yang tadi sempat singgah.
Sasuke mengangguk kecil. Ia tersenyum tipis pada kawan lamanya. Ya, seseorang yang bisa disebut 'Sahabat' lagi. "Tadaima, Dobe, Sakura, Kakashi-Sensei, Sai, Minna-san…"
"Wow!" Kiba dan Lee bertepuk tangan heboh.
"Kejutan yang menyenangkan, Sasuke-kun," ucap Sai dengan senyum tulusnya.
Naruto mengangguk. Senyum lebarnya terkembang. "Okaerinasai, Teme!"
Dia tahu teman-temannya akan berkoor bersama dengannya. "OKAERI~~ SASUKEEEEE!" oh ya, jangan lupakan suffix –kun khusus Sasuke dari para gadis.
Sasuke tersenyum tipis melihatnya, ya… Inilah bagian-bagian Konoha yang tetap menyayanginya dan memperjuangkannya. Semua yang sempat ia lupakan.
Tiba-tiba saja mata hitam Sasuke menajam, dilihatnya sesuatu yang tidak ia suka. Gadis yang sudah ia 'pesan', kini tangannya sedang digenggam sahabat sekaligus rivalnya. Kecurigaan pemuda Uchiha ini bangkit. "Semua sudah diberitahu?"
Tsunade tahu, kalimat tersebut ditujukan kepadanya. "Kau datang tidak tepat pada waktunya. Aku baru saja mau memberitahu mereka…"
Sasuke mengacuhkan perkataan Tsunade, ia berjalan dari jendela tempatnya berdiri. Dihampirinya seseorang yang kehilangan senyumnya, Sasuke menunduk hormat di hadapannya, dan tangan Sasuke mengambil tangan kanannya, dikecupnya jemari lentik nan cantik tersebut. "..Tadaima, Hinata-chan."
Keramaian yang bersumber dari kebahagiaan itu runtuh seketika.
Tsunade sampai tidak berani mengangkat wajahnya, tubuh ringkihnya bergetar merasakan riuh rendah kebahagiaan lenyap seketika, kesunyian itu menyuarakan kesedihan yang didominasi ketegangan.
"O-okaerina-nasai, Sa-sasuke…"Hinata tersenyum tipis, senyum yang getir. "…kun."
Ya, seluruh gadis pasti rela melakukan apapun juga, untuk bertukar tempat dengan Hinata. Kedua lengannya digenggam kedua pemuda paling terkenal di dunia shinobi, pemuda yang tampan, keren, kuat, gentle namun lembut terhadap wanita, multi talent pula.
Tapi Hinata takut dan rela menukar apapun miliknya, agar ia tak berada di posisi ini. Oh, Kami-sama…
Seumur hidup, semua yang ada di ruangan itu berani bersumpah, TIDAK PERNAH mendengar Sasuke memanggil seorang gadis dengan suffix 'chan', apalagi melihat perlakuan Sasuke sedemikan lembut (dan romantis) terhadap perempuan.
Dan yang paling utama, tidak ada seorangpun dari mereka yang pernah melihat Sasuke dan Hinata saling berbicara atau berdekatan.
Suigetsu dan Jugo menepuk pundak Karin yang kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang menahan tangis, tubuhnya sudah bergetar, selama ini dia yang bersama Sasuke, berjuang hidup mati untuk bersama pemuda itu… Tapi sekarang?
Tidak hanya Karin gadis yang paling merasa tersakiti, begitu pula dengan Ino dan terutama Sakura… Sakit hati. Tidak mengerti apa yang terjadi. Luka pun menganga di hati.
Dan suara isak tangis memecah kesunyian, gadis belia dari adik Hinata menangis sesegukan.
Tsunade berusaha menarik napas dengan teratur. "Sa-sasuke? Kau ingin bicara dengan Hinata, kan? Kalian boleh keluar, koridor depan kamar rawatku pasti sepi. Bicaralah…"
"Hn," Sasuke menarik Hinata pelan untuk keluar kamar, Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari dirinya menjadi pusat perhatian. Tapi kedua tangannya terentang, gadis itu tidak lagi merasakan pijakan tubuhnya pada bumi. Mata ungu keperakkan itu diburamkan air mata, tak ada lirih isakan meluncur dari bibirnya.
Hingga tarikan-tarikan tersebut menyentaknya, membuatnya memekik. "I-ittaiii!" Hinata meringis sakit, diangkatnya kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Lupa akan fakta kalau ia menangis, dan semua dapat melihat kalau wajah gadis itu basah.
"Hinata… Kau menangis, Sayang?" tanya Kurenai lembut, dengan baik wanita yang sedang hamil itu menyembunyikan kecemasannya.
Hinata kembali menunduk. Ia tidak menjawab.
Sasuke menoleh, merasakan Hinata tidak kunjung mengikutinya, dan matanya menangkap di seberang sana, Naruto mencengkeram pergelangan tangan Hinata dan menatapnya tajam. "Lepaskan Hinata," kata Sasuke tajam.
Kedua pemuda itu saling melemparkan tatapan tajam mematikan, beruntunglah tatapan tidak dapat membunuh manusia… Jika iya, tentu Naruto dan Sasuke kehilangan nyawa masing-masing hanya karena bertatapan.
Sai memapah Sakura, membiarkan gadis itu menangis di bahunya, "Oh… Aku kira di kehidupan nyata tidak akan terjadi scene telenovela," ucapnya inosen tanpa melepas pandangan dari Naruto dan Sasuke yang sama-sama mencengkeram pergelangan tangan Hinata.
"Naruto," panggil Shizune. "Lepaskan Hinata… Biarkan mereka bicara, sementara kita semua mendengarkan penjelasan Tsunade-sama," ujar Shizune.
"Tidak bisakah Hinata dan Sasuke ada di sini?" tanya Naruto pelan, masih tak melepaskan tatapan mautnya dari Sasuke.
"Lebih baik mereka bicara, jika mereka sudah bicara, Kau mengerti apa yang kukatakan, silahkan Kau berbicara dengan Hinata… Nanti," jawab Tsunade, hatinya merasa was-was, takut kamar—ah tidak—rumah sakit hancur karena rasengan kembali bertemu chidori.
Perlahan, Naruto melepaskan cengkeramannya, kini iris safirnya memandang Hinata, tapi Hinata tidak sedikitpun menatapnya, dan Sasuke tak membuang kesempatan untuk keluar kamar bersama Hinata.
Perlakuan Hinata dan Sasuke… Sukses membuat hatinya sakit. Ia merasa dikhianati.
Pintu membunyi ketika ditutup. Semua yang masih terguncang kini menatap Tsunade, meminta penjelasan dari hujaman pandang mereka.
"Tidakkah kalian bertanya-tanya mengapa Sasuke bisa pulang ke Konoha tanpa dihukum mati? Tidakkah kalian menyadari bahwa Sasuke tidak pernah punya niat untuk kembali ke Konoha?" tanya Tsunade memulai penjelasannya.
Tak ada jawaban, tak ada suara, tak ada pergerakan, Tsunade kembali melanjutkan.
"Beberapa hari yang lalu, saat Hinata menjengukku, dan mengobrol dengan Shizune, Akatsuki dan semua Kage tiba-tiba datang kemari, di bawah pimpinan Madara… Madara menyerahkan sekumpulan surat ini padaku," Shizune menyerahkan surat-surat yang tadi dibawanya kepada Tsunade yang kini menggenggam erat surat itu.
"Isinya tanda tangan dan stempel persetujuan damai, seorang Kage—entah siapa pastinya aku lupa—berhasil bertemu dengan Madara, dan meminta Akatsuki untuk berdamai. Namun Madara tidak setuju, ia benci Konoha karena ternyata para Tetua…" Tsunade melirik para Tetua yang tertunduk. "…Dan terutama Danzou, mengambinghitamkan Uchiha."
"Benarkah itu, Sai?" tanya Naruto datar pada temannya.
Sai menggeleng. "Aku benar-benar tidak tahu hal ini, Naruto-kun. Aku baru mengetahuinya…"
Iruka tersenyum pahit. "Pantas… Sandaime-sama sangat melindungi Sasuke. Karena ia takut para Tetua akan membunuh Sasuke, kan?"
"Para Kage membujuk, dan Madara setuju. Tapi ia meminta jaminan…" Tutur Tsunade melanjutkan. "Jaminan dari Konoha kalau Uchiha tidak akan dihakimi lagi. Dan Madara juga meminta, Akatsuki tidak boleh dihukum apalagi dianiaya—tak peduli mereka sangatlah kuat, karena yang menawarkan perdamaian bukan pihak Akatsuki, melainkan dunia Shinobi… Dan karena semua Kage setuju, akupun tidak bisa tidak setuju. Akatsuki sendiri berjanji, akan hidup di markas mereka tanpa mengganggu dunia shinobi."
"T-terus… A-apa hubungannya dengan Sasuke serta Hinata?" tanya Kakashi, berusaha tenang dengan fakta-fakta mengejutkan yang ia terima.
"Awalnya Sasuke tidak mau kembali ke Konoha, karena ia benci para Tetua… Aku bertanya apa penyebabnya, dan Sasuke menceritakan semuanya. Tentang fakta yang sebenarnya, menyembunyikan kenyataan kelam enam belas tahun lalu, Sasuke benci Konoha karena Itachi mendapat Top Secret Mission, yaitu membunuh klan Uchiha, klannya sendiri, tidak peduli Itachi adalah bagian dari klan Uchiha," Tsunade kini merubah arah pandangannya pada para tetua yang tampak angkuh.
"I-Itachi… Membunuh klan U-Uchiha u-untuk Konoha karena Top Secret Mission?" tanya Gai kaget. "Kalau begitu kenapa ia tetap dicap sebagai missing nin? Kenapa ia tidak membunuh Sasuke juga?"
Tsunade menghembuskan napas berat. "Inilah kenyataan yang menyedihkan, aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi waktu itu. Mungkin Tetua Konoha bersedia menjelaskannya, tapi nanti…" Mata sewarna madu milik wanita berumur setengah abad itu mengerling para Tetua lagi. "Itachi membunuh klannya, Orang Tuanya, Kekasihnya, tapi ia tidak membunuh Sasuke… Karena Itachi sangat menyayangi adiknya. Itachi menanamkan rasa dendam pada Sasuke, karena ingin Sasuke menjadi kuat… Dan karena Itachi percaya, Sasuke akan mendatangkan perdamaian pada dunia. Itachi memilih mati di tangan adiknya sendiri."
Setelah penuturan Tsunade, tak ada yang bersuara, Kakashi dan Naruto tidak begitu menampakkan rasa terkejut, karena Madara pernah memberitahu kenyataannya waktu itu. Hanya saja yang membuat mereka kaget, kenyataan kalau fakta itu ternyata benar adanya.
Semua membisu, tak tahu harus berkata apa.
"K-kau sudah t-tahu, Naruto? Wa-waktu itu, Ka-kau pernah ingin mengatakan hal ini padaku, kan?" tanya Sakura bergetar.
Naruto mengangguk muram. "Ya, Sakura-chan. Jadi, Sasuke tetap tidak mau kembali ke Konoha biarpun sekarang Akatsuki damai dengan dunia shinobi?" tanyanya pada Godaime-Hokage, dan Tsunade mengangguk membenarkan. "Kalau begitu, kenapa Sasuke jadi ingin kembali ke Konoha? Ada sangkutpautnya dengan Hinata?"
Tsunade mengangguk membenarkan. Lidahnya kelu untuk berkata, dan berat rasanya untuk mengungkapkan inti permasalahan, yang wanita ini tahu pasti akan banyak hati yang tersakiti setelah ia mengatakannya.
"Ya, dan sangkutpautnya dengan Hinata… Sasuke meminta, ia akan kembali ke Konoha dengan sukarela, tanpa ada peperangan, asalkan… Hinata menikah dengannya. Sasuke berani menjamin tentang hal itu…"
.
#~**~#
To be continued
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Selamat untuk semua yang udah berhasil nebak sedikit plot ini! :D *keprok-keprok*
.
Teriakan bergema di mana-mana, "LIGHT RESEEEEEEE'!"
Hoho~ pasti karena nge-cut fict ini pas di bagian "Oh nggak pas banget siih!" ya, kan? *narsis**diinjek* ehehehehe! Tapi tenang aja, silahkan lihat chapter berikutnya! UPDATE DUA CHAPTER SEKALIGUUSSS! Yatta!
Huum… Light nggak keberatan dengan review yang cuma isi satu kata yaitu "UPDATE/APDET/APDETH/APUDETO" ataupun yang sejenisnya—ya Light juga sering review nyaris hampir satu kata itu aja kalau fict yang Light review udah perfect, hihihi. Ahaha~ Light juga suka review panjang yang ngomentarin adegan, ahaha! Atau review yang bergombal ria mendukung Light *bener-bener dibikin terharu*!
Light seneeeengg banget kalau ada yang mau kasih concrit, biarpun cuma ngingetin typo! Atau saran ini dan itu… Light nggak ngasal ngebacot apalagi mau sok semuci suci. Karena… Kalo ngeliat fict para Senpai, jadi gugulingan miris sendiri sambil mikir. "Kapan ya fict-ku bisa sebagus mereka?" T.T Maka itu, Light butuh good concritter! :D
#~**~#
Balas Review Khusus yang Tidak Login.
Nagisa Imanda: *ngasih tissue gratiss* Hu-huwaa? Fict kayak gini nggak pantes ditangisin… Huweee~! T.T Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
Heiress Hinata: *blushing* Dari kata-katamu, Heiress-san tergolong Readers yang cerdas! Cara menganalisisnya yang mengandung berat pujian bikin Light teriak-teriak sendiri! :D Kalo mau kasih Light concrit, jangan pelit-pelit yah! :D Uhhmmm…Soal NH yang dipisahin...Percaya aja sama Light dan fict Believe, oke? Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
Violetta Vierra: kalo memusingkan kok dibaca? Huweehehehehe~bilang aja fict Uni bagus! Hyahahaha! Duh, Mouto…Kau kok tega banget sih ngomong gitu ke Nee? .a Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
PinQCloVeR: Nggak, Hinata nggak sakit…Cuma dilamar Sasuke dengan segala pertimbangan berat! :D*dijeburin Readers ke laut* Iya, fic lain menyusul yah! :D Makasih udah mau nungguin update! :D Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
Solid Gears: *blush* ka-kalau fict ini diteliti lebih lanjut, pasti banyak ditemukan kejanggalan dan kekurangan kok! Keep fighting! :D Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
Magrita love NaruHina: ahhmmm…Udah ketahuan kan di chapter ini? Ehehehe. Oh, soal NH bakal bersama atau nggak. Percaya aja, NH itu jauh di mata, namun dekat di hati. Makasih udah mau nunggu update fict ini dan fict lain! :D Light juga lebih sreg sama judulnya Believe! :D Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
Yang login, silahkan cek inbox ACC FFn masing-masing! Makasih udah mau review! *peyuk-peyuk* Mind to RnR again? ^_^
.
#~**~#
.
Di sini, aku kan selalu rindukan dirimu, Wahai My Reviewers~ *dihajar Rise sedunia*
Terima kasih sudah menyempatkan membaca! Kritik dan sarannya selalu ditunggu!
.
Sweet smile,
.
Light-Sapphire-Chan
.
P.S: review chapter ini dulu yah sebelum ke chapter berikutnya! ^_~
