Suasana ruang makan tampak hening, entah bagaimana. Satu-satunya yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring keramik. Walaupun suasana dalam ruangan itu hening tapi para maid dan butler bisa merasakan suhu udara yang sangat dingin dan aura hitam pekat yang menguar dari tubuh tuan mudah mereka. Yah, walaupun banyak dari mereka tidak menunjukan ekspresi ketakutan tapi dari dalam lubuk hati yanng terdalam mereka ingin meloncat keluar jendela meninggalkan Raja setan yang sedang mengamuk ini.

Tapi bisa dimaklumi jika Akashi bersikap seperti itu. yah tak lain dan tak bukan alasannya karena sekarang ia sedang BAD MOOD. Yah, Akashi Seijuurou sedang bad mood atau lebih tepatnya murka karena Kuroko Tetsuya yang sekarang menjadi Akashi Tetsuya dengan seenak jidatnya kabur meninggalkannya. Baiklah siapa yang tidak akan marah jika istri yang baru saja kau nikahi kabur keesokan harinya dan hanya meninggalkan sebuah surat, terlebih lagi ketika kau berada di dunia mimpi 'basah' dan pagi harinya kau terbangun tidak menemukan objek mimpimu.

Ini seperti menguji kesabaran satan yang tidak mengenal kata sabar.

Stab!

Kesabaran Akashi sudah sampai puncaknya. Terbukti dengan sebuah garpu aluminium yang menancap kuat di meja. Syukur-syukur Akashi Akihiko ibu dari Akashi Seijuurou tidak ada disini. Kalau beliau ada disini dan menyaksikan apa yang baru saja putranya lakukan, sudah pasti insiden dari chapter sebelumnya akan terulang.

Suara meja yang berderak pelan membuat para maid dan butler terkejut. Mereka menatap Akashi yang sudah berdiri sambil menghela nafas. Mereka bisa melihat tatapan dingin Akashi sebelum akhirnya ia mengatakan. "Akashi Tetsuya, kau akan mendapatkan hukuman yang paling menyiksa jika aku menemukanmu." Ucap Akashi yang tentu saja terdengar sangat jelas bagi mereka yang berada di dalam sana dan sang tuan muda pun melangkahkan kaki meninggalkan ruang makan begitu saja.

Lalu setelah yakin sang Raja setan sudah pergi, para maid dan butler meletakkan tangan kanan di atas dada kirinya. Mereka menunduk ketika mendengar lagu Butterfield's Lullaby (tidak ada yang tau siapa yang memutar lagu tersebut) menghayati lagu pemakaman itu dengan sepenuh hati. Mereka berdoa dari lubuk hati yang paling dalam agar Tuhan yang maha esa bisa melindungi pria innocent ini.

Mari kita berdoa agar Kuro-Akashi Tetsuya selamat setelah bertemu dengan renkarnasi Raja setan yang mung-maksudnya kurang tinggi ini.

.

.

.

My Bride worth a million dollars

Warnings : shonen ai, AU, OOC, OC, typo(s), alur yang terlalu cepat, Nonsense, bahasa yang tidak sesuai dengan EYD atau ambigu, penggunaan tanda baca yang abal-abal, dll

Kuroko no Basuke is Tadatoshi Fujimaki's. I do not own anything except the plot

Don't like don't read don't flame

A/N: Yup, maaf banget untuk hiatus yang lama.

Enjoy and i am sorry

.

.

.

Suara-suara kecil mulai terdengar dengan volume yang perlahan membesar. Suara abstrak itu pelan-pelan bisa tertangkap, membentuk percakapan disekelilingnya. Mata Kuroko terasa berat, namun tetap saja ia paksa untuk terbuka.

Hal pertama yang Kuroko lihat ketika membuka mata adalah sosok buram yang duduk didepannya. Ia mengedipkan matanya untuk mendapatkan fokus yang lebih bagus, lalu perlahan-lahan penglihatannya menjadi lebih jelas dan mulai membentuk siluet tangan yang melambai-lambai di depannya.

"Kuroko?"

Suara khas itu...

"Eh, Yuuji-san?"

Yuuji menarik tangannya dan menghela nafas lega. Akhirnya orang di depannya sudah sadar.

"Syukurlah, kupikir kau tidak akan bangun." Ucap Yuuji

Kuroko terdiam dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dinding yang di kuning muda dan coklat, lampu lampion yang terbuat dari kertas (tidak menyala), meja berbentuk lingkaran dan persegi panjang yang terbuat dari kayu mahoni, dan dua atau empat kursi yang mengitari meja tersebut.

"Yuuji-san, ini dimana?" Tanya Kuroko tanpa mengalihkan pandangannya pada wallpaper di belakang Yuuji. Wallpaper itu bergambar seorang cewek dan cowok yang duduk berhadapan sambil menyesap kopi, ditemani dengan romantisnya kota paris dan indahnya kelap kelip lampu dari menara eiffel di malam hari.

Paris, kota yang indah dan mendapatkan julukan sebagai city of love or lights. Sayangnya Kuroko tidak menyukai Paris. Bukan. Bukan kota Paris yang ia benci, hal yang ia benci adalah kata 'Paris'.

Satu kata itu memiliki makna dan kenangan pahit di dalam memorinya. Bahkan Kuroko mencoba melupakan kenangan itu, tapi ia tidak bisa melakukannya.

Ia tidak bisa melupakan orang itu.

"Kuroko?"

Kenangan yang rumit dan sangat sulit dilupakannya.

"Kuroko!?"

Suara Yuuji membangunkan Kuroko dari lamunannya. Sungguh bodoh! Kenapa ia mau terbuai dengan masa lalu?

"Ah. Maaf Yuuji-san."

Yuuji menatap Kuroko dengan sedikit kesal. "Tidak baik melamun di pagi hari Kuroko. Sekarang kita berada di cafe."

"Eh, cafe?"

"Ya. Awalnya aku mau membawamu ke rumah sakit, tapi melihat kondisimu sekarang aku berubah pikiran dan membawamu ke sini."

"Kondisi?"

Yuuji kembali menghela nafas. "singkatnya..."

Flashback

"Cih dasar Haruhi, kenapa aku harus datang jam sembilan pagi?" Gerutu Yuuji yang melintasi jalanan sambil membenarkan ikatan rambutnya.

Ini adalah awal dari musim gugur. Di mana kita harus menyesuaikan diri dari suhu panas ke suhu dingin. Bagi Yuuji musim gugur yang dingin begini, bangun pagi adalah pekerjaan yang sangat sulit (mendekati mustahil malah). Jadi kebayangkan bagaimana kesalnya Yuuji ketika ia dibangunkan oleh sahabat sekaligus bosnya melalui telepon. Dan bosnya juga akan menghukumnya jika ia terlambat.

Oh, susahnya memiliki bos yang keras dan cerewet.

Ah sungguh menyebalkan! Kenapa ia harus dipaksa Haruhi untuk datang pagi? Kenapa Kuroko tidak pernah datang berkerja lagi? Oh Tuhan, terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab.

Lalu disaat Yuuji sibuk dengan pikirannya sendiri ia tidak sadar akan benda di depannya...

Buk

...dan ia pun tersandung dengan tidak elitnya.

"Aduh! ah dasar sialan!" Umpat Yuuji dengan kesal.

Gadis itu akhirnya berdiri dan menepuk-nepuk roknya yang sedikit berdebu sambil mengabaikan orang-orang yang memandangnya. Ia merasa sedikit malu karena jatuh di tempat umum, tapi masa bodoh. Sekarang ia harus cepat-cepat pergi ke tempat kerjanya.

Kruyuk~

"Eh suara apa itu?" Gumam Yuuji heran. Rasanya ia mendengar suara aneh, atau mungkin itu hanya perasaannya saja?

Kruyuk~

Itu bukan perasaannya. Demi Dewi fortuna, suara itu nyata dan berada dekat dengannya. Yuuji berbalik dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi ia tidak menemukan apapun yang memiliki suara aneh seperti paus mati. Apa ia berhalusinasi karena masih mengantuk?

Kruyuk~

Yuuji tersentak lagi dengan suara aneh yang mendenging di telinganya. Baiklah, kali ini Yuuji mulai takut tapi ia mulai berpikir positif. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling sekali lagi. Kali ini ia melihat dengan teliti sampai ia melihat bayangan biru.

Lalu bayangan itu sayup-sayup menjadi jelas menjadi sebuah tubuh yang tergeletak dengan posisi telungkup, menggunakan jaket orange, jeans hitam, sepatu putih, dan memiliki rambut berwarna aquamarine.

Tunggu, hanya satu orang yang dikenalnya yang memiliki rambut indah sewarna biru langit

"Kuroko!" Teriak Yuuji dengan panik. Ia mendekati Kuroko dan mengguling tubuh kurusnya menjadi posisi tengkurap.

"Kuroko... Kuroko!" Yuuji mengguncang tubuh Kuroko, bermaksud untuk membangunkannya. Tapi tubuh ringkih itu tidak terbangun dan makin membuat Yuuji panik. Ah sial, bagaimana bisa tubuhnya tergeletak di jalan tanpa ada orang yang menyadarinya sebelum Yuuji?

Ah, masa bodoh! Sekarang Yuuji harus meminta bantuan untuk...

Kruyuk~

Eh?

Yuuji menoleh dengan cepat. Menegakkan tubuhnya dan memandang tubuh ringkih di depannya. Awalnya Yuuji berharap ia salah dengar, tapi setelah berkali-kali mendengar bunyi yang cukup mengganggu itu akhirnya ia sadar.

Bunyi itu berasal dari Kuroko.

Untuk memastikan, Yuuji mendekatkan telinganya ke perut Kuroko. Ia menunggu beberapa detik sampai akhirnya

Kruyuk~

Benar saja dugaannya. Bunyi itu berasal dari perut Kuroko. Yuuji segera berdiri dan merapikan bajunya. Sekarang ia harus mencari tempat makan terdekat.

Flashback end

"Lalu aku mengendongmu ke sini karena tempat ini yang cukup dekat. Tidak kusangka Kuroko, tubuhmu ternyata sangat ringan."

Wajah Kuroko langsung memerah. Harga dirinya sudah hancur sekarang. Dicium secara mendadak di mall dan disaksikan oleh banyak orang, diculik dan melakukan pernikahan secara tiba-tiba di atas langit, dan sekarang ia pingsan dan digendong oleh perempuan.

Kasihan sekali.

"Oh iya! karena kita sudah disini, kenapa kau tidak memesan sesuatu? Kau laparkan?"

"Itu memang benar Yuuji-san, tapi..."

"Tenang saja Kuroko. Aku mentraktirmu sekarang, jadi kau tidak perlu khawatir."

'Karena Haruhi lah yang akan menggantinya.' Batin Yuuji sambil menunjukkan senyum licik.

"Tapi, bukannya Yuuji-san harus pergi ke ranggo ramen?"

"Tentu saja Kuroko. Kau dan aku akan pergi ke sana setelah makan."

Ah, Kuroko lupa akan hal itu.

"Kau harus menjelaskan pada Haruhi alasanmu menghilang selama dua hari. Ia begitu mencemaskanmu seperti induk ayam yang kehilangan anaknya." Ucap Yuuji sambil melipat kedua tangannya dan menatap Kuroko.

Kuroko yang merasa sedikit aneh dengan cara Yuuji menatapnya hanya menunjukan senyum canggung. "Maafkan aku. Aku selalu membuat masalah bagi Haruhi-san dan Yuuji-san."

"Ah tidak kok. Nah, sekarang pesanlah sesuatu."

"Terimah kasih Yuuji-san." Kuroko mengucapkannya lembut dengan nada depresi dan wajah yang tertunduk. "Kalau begitu aku memilih..." Kuroko mengambil daftar menu yang berada di depannya. Membolak-balik halamannya dan kadang terpesona dengan gambar makanan dan minuman yang ada disana. "Aku tidak tau Yuuji-san, aku bingung."

Yuuji menghela nafas dan berdiri dari kursi. "Kalau begitu aku yang memesan, kau tunggu di sini sebentar." Lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kuroko.

Sekarang Kuroko tidak tau apa yang harus ia lakukan ketika Yuuji pergi memesan. Merasa canggung karena menunggu sendirian di tengah cafe yang ramai. Ia benar-benar terkesan seperti anak hilang.

Brak!

Suara itu mengejutkan Kuroko. ia menoleh ke kanan dan mendapatkan seorang pemuda yang baru saja menghempaskan tas ranselnya dengan kasar di atas meja. Pemuda itu memiliki perawakan yang tinggi, kulitnya berwarna gelap, tubuh masculin walaupun tersembunyi dibalik kemeja abu-abu nya, rambut berwarna navy blue, dan ia juga mengeluarkan sumpah serapah entah untuk siapa. Kuroko merasa familiar dengan pemuda yang duduk di meja sebelahnya, tapi ia tidak bisa mengingatnya.

"Maaf karena sudah lama menunggu." Ucap Yuuji ketika ia meletakkan nempan yang berisi dua hot chocolate, sepiring waffle, pancake, dan tiga buah pancake.

Kuroko menoleh pada Yuuji, ia menatap horor pada nampan yang berada di depannya. "Terima kasih Yuuji-san tapi, siapa yang akan menghabiskan semua ini."

Yuuji menatap Kuroko selama beberapa detik lalu memutuskan untuk duduk. "Tentu saja kau Kuroko."

Kuroko sweatdrop. "Terima kasih banyak Yuuji-san." Lalu ia mengambil pisau dan garpu dan memotong wafle yang dipenuhi dengan potongan stawberry dan whipped cream.

"Itadakimasu." Ucap Kuroko ketika mengambil potongan waffle. Ketika si surai azure itu memasukan makanan ke dalam mulutnya, ia bisa merasakan listrik mengalir ke seluruh tubuhnya. Kalau bukan wajah datarnya dan pengendalian emosinya, sudah pasti Kuroko akan meloncat ke atas meja dan menyanyikan lagu Bohemian Rhapsody dengan kencang seperti orang psyco yang menggunakan doping. Tetapi, kekuatan waafle itu sangat kuat sampai-sampai ia sekarang bermimpi berada di wonderland, menari dalam lingkaran bersama dua waffle dan beberapa stawberry dengan latar belakang kuda unicorn raksasa yang memuntahkan pelangi.

'Aku baru saja memakan sesuatu yang turun langsung dari Surga.' Batin Kuroko

Sedangkan Yuuji yang mentraktir Kuroko merasa khawatir, pasalnya Kuroko tidak bergerak setelah mencoba suapan pertama. Pria itu hanya diam seperti batu, garpu yang menempel di bibirnya, dan mata yang berkilauan.

"Umm, Kuroko. Apa kau baik-baik saja? Apa wafflenya enak?"

Kata-kata Yuuji seperti mantra yang dapat menghentikan Kuroko dari pengaruh waffle yang ia makan. "Ini... enak." Puji Kuroko walaupun suaranya sedikit parau. Sebenarnya Kuroko ingin mengucapkan semua kata-kata yang mendeskripsikan waffle lezat itu, tapi sayangnya rasa lapar mengalahkannya.

"Syukurlah, kau boleh memakan yang lainnya jika mau." Ucap Yuuji sambi menyesap hot chocolate. "Kau tau Kuroko, sebenarnya tempat ini milik salah satu Kis-" Perkataan Yuuji terhenti ketika ia melihat seorang pria yang membawa nampan berisi secangkir kopi dan tiga buah roti croissant duduk di meja sebelah kanan Kuroko. Tidak. Tidak mungkin orang biasa seperti Yuuji bisa secara kebetulan bisa bertemu dengan salah satu Kiseki no Sedai.

"Yuuji-san?"

"Ssh!" Yuuji menempatkan telunjuk tangan kanan di depan mulutnya, mengisyaratkan Kuroko untuk diam. Kuroko pun menurut dan kembali memakan wafflenya.

Ini aneh, pasalnya Yuuji terus memperhatikan pemuda yang duduk di samping Kuroko. Pandangan matanya berbinar-binar seperti bertemu dengan artis. Kuroko juga merasa familiar dan entah mengapa ia memiliki firasat buruk dengan pria itu.

"Hah... dasar si teme itu! gara-gara dia hidupku jadi kacau!" guman pria itu sambil memakan croissantnya. Ia terus komat kamit selama makan dan kadang mengutuk kopi yang ia minum karena terlalu panas.

'Dasar bodoh.' Pikir Kuroko dalam hati ketika melihat aksi konyol pria tersebut.

"Ah, Mine-chin... tumben kau datang ke sini~" Kuroko melihat seorang koki yang datang menghampiri pria di sampingnya. Koki itu yang memiliki rambut berwarna ungu seperti bunga lavender, tinggi yang tidak masuk akal, membawa sebungkus keripik kentang, dan juga cara koki itu memandang orang lain dengan tatapan malas.

'Minechin? Jadi nama orang ini Minechin. Apakah ia orang jepang? Kenapa ia memiliki nama yang sangat aneh?' Kuroko membatin.

"Ah Murasakibara, aku hanya ingin istirahat sebentar sebelum kembali mencari istri si teme itu!" Pria itu menyuruh si koki itu untuk duduk. Sang koki pun menurut dan duduk di depannya sambil membuka satu bungkus keripik kentang.

"Teme? Maksudnya Akachin?" ucap koki itu sambil mengunyah keripiknya.

Kuroko pun kembali manatap waffle di depannya. Ia memotongnyadan memasukan waffle tersebut kedalam mulutnya. 'Akachin? Orang jepang mana yang memiliki nama aneh seperti itu' batin Kuroko ketika ia mengunyah wafflenya.

"Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan si pendek menyebalkan Akashi Seijuurou itu! gara-gara dia aku harus menjalani pagi hari dengan keliling kota Tokyo mencari istrinya!"

Dan Kuroko pun nyaris tersedak mendengar nama yang baru saja diucapkan oleh pria di sampingnya. Kuroko pun menepuk-nepuk dadanya dan diliriknya pria tersebut dengan ekor matanya.

'Akashi itu maksudnya Akashi-kun? Tunggu. Dia orang yang mencariku? Akashi-kun menyuruh orang itu mencariku? mencariku?' batin Kuroko tidak percaya. Ia pun mencoba bersikap tenang memakan waffle dan mempertajam indra pendengarannya.

"Hmm, ne Minechin. Kalau Akachin menyuruhmu mencari istrinya... berarti kau pernah bertemu dengannya yah~"

"Itu dia masalahnya. Akashi menyuruhku mencari istrinya tanpa memberiku petunjuk seperti nama atau foto."

Aomine, jika saja kau diberkahi emperor eye milik Akashi... kau pasti akan menyadari orang yang kau cari-cari duduk tepat di sampingmu...

"Lalu bagaimana Minechin mencarinya?"

"Aku sudah minta tolong pada Midorima. Dia akan mengabariku ketika mendapatkan informasi."

Kuroko panas dingin. Selera makannya sudah hilang dan ia bingung harus berbuat apa.

"Ne ne lihat Kuroko. Kita sangat beruntung bisa bertemu dengan dua anggota Kiseki no sedai di sini~" ucap Yuuji riang menatap Kuroko.

'Kiseki no Sedai? Kenapa nama itu terasa sangat familiar?'

Lalu saat Kuroko sibuk berpikir dan mengabaikan Yuuji yang masih terus berbicara tiba-tiba sengatan listrik menyambar tubuhnya ketika ia mengingat nama tersebut. Dengan cepat ia menghabiskan sisa waffle di piringnya dan meneguk habis hot chocolate yang dibelikan Yuuji (walaupun minuman itu membakar tenggorokannya). Kuroko harus segera kabur dari sini atau mungkin harus pergi meninggalkan kota Tokyo.

"Gochisousama deshita." Ucap Kuroko sambil menangkupkan kedua tangannya. "Yuuji-san terima kasih banyak tapi aku harus pergi. Aku ingat memiliki urusan mendadak dan harus menyelesaikannya."

Yuuji yang masih sibuk memandang dua cowok tampan(?) itu menoleh ke arah Kuroko "Kau bilang apa Kuroko?"

Kuak Kuak~

Suara gagak menggema dengan tidak elitnya. Tidak ada manusia yang bernama Kuroko di depannya, di sana hanya ada satu cangkir hot chocolate yang sudah habis dan garpu berserta pisau yang diletakkan di atas piring.

Kuroko sudah pergi meninggalkan Yuuji sendirian yang mematung di sana.

Yuuji hanya menganga melihat Kuroko yang sudah menghilang dalam sekejap mata. Urat-urat kemarahan muncul di keningnya, ia menggertakan giginya sampai akhirnya

"KUROKO TETSUYA!" Teriakan Yuuji menggema ke seluruh cafe dan mengakibatkan ketulian sementara bagi mereka yang mendengarnya.

o-p-i-t-i-o-p-i

Dada Kuroko terasa sesak, kakinya sudah mulai lemas, ia tidak yakin bisa berlari lebih lama lagi. Kuroko berlari menyusuri jalanan kota dan berhenti mengatur nafas sambil mengedarkan pandangannya pada jalanan kota, memastikan orang itu tidak berada dekat dengannya.

Sial sial! Kenapa disaat Kuroko berhasil kabur dari Akashi, si surai merah itu menyuruh seseorang mencarinya? Oh Tuhan, ternyata Akashi sangat serius menjadikan Kuroko sebagai istrinya. Dan sepertinya Kuroko sedikit menyesal dengan perbuatan bodohnya.

Kuroko Tetsuya kenapa kau baru menyadari perbuatannmu sekarang?kenapa kau baru menyadari bahwa kau mencari masalah dengan orang yang salah.

Wajah pemilik manik azure itu memucat. Berbagai pertanyaan terbentuk di otaknya. Bagaimana kalau orang itu menemukannya dan menyerahkannya pada Akashi? Lalu ketika Kuroko dan Akashi bertemu apa yang harus Kuroko katakan atau lakukan? Atau apa yang akan Akashi lakukan pada Kuroko? Apa ia akan menghukumnya-tidak sudah pasti Akashi akan menghukumnya. Jika Akashi menghukumnya, hukuman apa yang akan ia berikan? Apa Kuroko masih akan hidup? Atau jangan-jangan Kuroko akan bernasip seperti di film-film dimana tokoh utama perempuan yang kabur dan ditemukan oleh majikannya dan akhirnya ia akan di *beep beep* lalu di *beep beep*

Plak!

Kuroko menampar dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir seperti itu. ia mengingatkan dirinya untuk menolak ajakan Haruhi menonton koleksi drama-drama aneh milik temannya.

'Sepertinya drama dan sinetron itu membawa banyak hal-hal buruk.'

Sekarang ia kebingungan sendiri di tengah-tengah trotoar. Ia harus kemana sekarang? Kedai Haruhi? Ah pilihan bodoh. Bagaimana mungkin ia bersembunyi disana? Itu sama saja memancing singa buas ke liang kubur sendiri. Lalu Kuroko harus bersembunyi di mana? Tempat yang tidak diketahui dan aman untuk berlindung, tempat... tunggu!

"Rumah!" Guman Kuroko. Ah bodoh! Kenapa baru sekarang ia ingat tujuannya kabur dari rumah Akashi. Ia harus pulang ke sana dan bersembunyi selama beberapa hari sampai akhirnya Akashi menyerah dan mungkin akan mencampakannya dan mungkin akan memilih gadis atau mungkin cowok lain untuk menjadi istrinya. ini bagus, sangat bagus. Kuroko kembali berlari walaupun kakinya sudah protes meminta istirahat. Ia tak bisa melambatkan larinya. Ia masih bertekad untuk bisa melihat matahari terbit esok hari dan menyadari bahwa kejadian yang ia alami selama tiga hari terakhir hanyalah mimpi buruk.

.

.

"Rumah...ku" timpal Kuroko tidak percaya melihat rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Ia melangkahkan kakinya yang bergetar menuju rumahnya.

"Kejam sekali." Kuroko jatuh berlutut di depan puing-puing rumahnya. Matanya mulai sembab, bahunya bergetar. Ia ingin sekali menangis dan mengeluarkan kesedihan yang ada, tapi ia mengingatkan dirinya untuk tidak melakukannya. Kuroko anak yang kuat dan ia bukanlah anak cengeng dan lagi pula ia pernah mengalami hal terburuk dari pada ini. Kuroko menggelengkan kepalanya dan mulai membongkar puing-puing tersebut. Ia berharap bisa mendapatkan sisa sisa barangnya.

"Percuma saja kau mencari, kami sudah mengambil semua barang berharga dari gubuk bobrok itu! yah, walaupun isinya hanyalah sampah~"

Kuroko berdiri dan membalikkan badan untuk memandang pria di belakangnya dengan tajam. Pria memakai pakaian kasual itu berdiri dengan angkuh ditemani dengan empat orang yang masing-masing membawa tongkat baseball.

Dia adalah Kanbara Utsubo salah satu anak buah dari Isogai Akihiro yang ditugaskan untuk menagih utang kedua orang tua Kuroko.

Demi Tuhan, mengapa ia harus bertemu dengan orang ini disaat yang tidak tepat dan sejak kapan orang keparat ini datang?

"Kanbara-san, jika kau datang untuk menagih utang-"

"Tidak perlu Kuroko-kun, Isogai-sama merasa bosan dan muak mengikuti permainanmu. Ia mengatakan padaku untuk mencarimu dan membawamu padanya." Perkataan Kanbara membuat Kuroko waspada. Ia berjalan mundur mendekati puing-puing rumahnya.

"Apa itu ada kaitannya dengan kedua orang tuaku?" tanya Kuroko walau ia sudah mengetahui jawabannya.

Kanbara hanya mendengus dan menatap Kuroko dengan tatapan sinis. "Ohohohoho tentu saja tidak. Isogai-sama bilang ia bisa saja melunasi utang mereka, tapi dengan satu syarat~"

Sial perkiraannya benar. Kuroko memperhatikan gerak gerik empat orang yang berada di belakang Kanbara. "Syarat?"

"Kau harus menjadi sex slave untuk Isogai-sama!" Kanbara menjentikan jarinya dan seketika salah satu anak buahnya berlari kedepan menyerang Kuroko. Kuroko yang sudah bersiap dari tadi mengambil satu tongak kayu yang cukup kuat di belakangnya dan menghantam wajah orang tersebut dan membuat ia terlempar ke tanah.

Kanbara tersenyum melihat aksi Kuroko. Siapa yang sangka anak ringkih seperti dia bisa melawan. "Wah Kuroko-kun," Kanbara berdecak dan berkacak pinggang . "berani sekali kau melawan. Semuanya hajar dia!" semua anak buahnya berlari menyerang Kuroko. Mereka mendekat dan mencoba melayangkan tongkat baseball itu ke arah Kuroko, tapi sayangnya Kuroko memiliki reflek yang sangat bagus dan dapat menghindar semua serangan mereka. Setelah menghindar ia pun meloncat mundur menjauhi orang-orang itu. Kuroko mencoba mengatur nafasnya dan mengobservasi lawannya. Mereka berempat sedangkan Kuroko hanya seorang diri, mereka mempunyai tubuh yang kekar sedangkan Kuroko kebalikan dari mereka semua, dan lebih buruknya lagi tongkat kayu Kuroko akan kalah melawan tongkat baseball.

'Ini tidak bagus'

Kuroko mempererat pegangan pada tongkat kayunya dan menatap dingin keempat pria di depannya. "Apa diri Kalian pantas dikatakan sebagai laki-laki? Jika kalian berani hadapi aku satu per satu!"

"Jika itu keinginanmu Kuroko-kun~"

Kuroko menoleh dan menemukan sosok Kanbara di belakangnya. Sebelum tubuhnya menghindar Kanbara melayangkan tongkat baseball pada kepalanya. Begitu keras, hingga darah mengucur dan membuat ia tak sadarkan diri lagi.

Kanbara tersenyum sinis menatap tubuh Kuroko. "Fufufufufu... dasar anak yang naif~"

o-p-i-t-i-o-p-i

"Selamat pagi Midorima-sensei." Ucap seorang suster yang berdiri dibalik meja resepsionis dengan rama sementara sapaan itu hanya dibalas anggukan singkat dari Midorima. Ia melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. "09.45, waktu shift ku seharusnya berakhir satu jam empat puluh lima menit yang lalu. Jika saja tidak terjadi kecelakaan itu dan juga si bodoh Aomine datang kesini mungkin aku bisa menikmati waktu tidurku yang tertunda." Gumam Midorima dengan kesal ketika ia berjalan menuju ruang ganti.

Oh, masalah Midorima tidak sampai disitu saja. Ia harus berhadapan dengan istrinya yang akan mengomelinya ketika ia sampai dirumah. Jujur saja. walaupun umur pernikahan mereka masih seumur jagung, ia tidak tahan dengan mulut istrinya yang sangat cerewat ditambah dengan suara cempreng yang ia buat-buat. Ia mencintai istrinya tapi terkadang ada saat dimana Midorima ingin menyumpal mulut istrinya dengan kaus kaki.

Baiklah Mungkin itulah yang namanya uji kesabaran. Tanpa basa-basi lagi Midorima memasuki ruang ganti khusus untuk para dokter dan langsung membuka salah loker menggunakan kunci dan meletakkan guci antik miliknya lalu ia melepaskan jas dokternya dan meletakan disamping gucinya. Ia mengambil sapu tangan yang berada di saku celana dan mengusapkannya pada guci antiknya.

Drrtt ... Drrttt...

Ponsel di saku celana Midorima bergetar, seseorang menelponnya disaat ia tengah membersihkan Lucky itemnya. Berdecak kesal, midorima mengambil ponselnya dan melihat caller id yang tertera disana. Matanya sedikit membulat dan langsung menjawab panggilan itu.

"Halo-"

"Ahh Midorima! Syukurlah, kupikir kau mengganti nomormu. Kita sangat jarang berbicara terlebih lagi sekarang kau sudah tinggal bersama istrimu yang namanya err..."

" Takao Kazunari nanodayo."

"Ah ya, Takao Kazunari."

"Maaf Otou-san tapi seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau tiba-tiba menghubungi ku?"

"Oh itu karena akulah yang memeriksa istri Akashi kemarin."

"Apakah mereka pergi ke rumah sakit Kitahara kemarin nanodayo?"

"Yup~ aku mendengar dari seekor burung kecil bahwa anakku meminta bantuan untuk mencari informasi tentang istri Akashi. Itulah sebabnya aku menghubungimu sekarang."

"..."

"Kau pasti bangga memiliki Otou-san yang mengetahui semuanya kan?"

"Otou-san, bolehkah aku mengetahui nama istri Akashi sekarang nanodayo?"

Midorima Shinichi menyunggingkan senyum di seberang telepon. " Wah tidak sabaran rupanya~ baiklah, baiklah. Namanya err... kalau tidak salah Ku-Kuroko Tetsuya."

"Bagaimana rupanya nanodayo?"

"Hmm, kalau tidak salah ia sedikit lebih pendek dari Akashi, kulitnya cukup pucat, dan memiliki rambut berwarna biru langit."

"Baiklah, terima kasih ata-"

"-Oh dan satu lagi." Potong shinichi. "Kalau tidak salah orang itu memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis."

"Hawa keberadaan yang tipis?"

"Yup, butuh waktu yang lama untuk menyadari keberadaannya." 'Jika bukan karena Akashi, aku mungkin tidak akan menyadari ia di sana.' Lanjut Shinichi dalam hati.

"Baiklah Otou-san, terima kasih atas informasinya nanodayo."

"Hai hai~ oh, jika kau memiliki masalah dengan istrimu kau bisa membicarakannya dengan ku."

"Baiklah, sampai nanti Otou-san."

Beep

Setelah memutuskan panggilan ayahnya Midorima langsung mencari nomor Aomine dalam kontak handphone dan langsun menghubunginya.

"Halo?"

"Aomine aku mendapatkannya."

"Hah Mendapatkan ap- Oh shit! Baguslah kebetulan aku berada di kantor, jadi siapa namanya?"

"Namanya Kuroko Tetsuya, tubuhnya lebih pendek dari Akashi, dan mempunyai rambut berwarna biru langit nandodayo."

"Baiklah, terima kasih banyak Midorima. Aku berutang padamu."

"Ya. Dan semoga kau bisa menemukannya nanodayo"

"Oh dan satu lagi Midorima, kenapa kau mau membantu ku? Biasanya kau kan cuek dengan masalah-masalah seperti ini? Apa jangan-jangan yang dikatakan Takao itu be-"

Beep

Midorima langsung memutuskan panggilan. Ia membawa guci antiknya dan beranjak pergi. Untuk pertama kali dalam sejaah hidupnya Midorima menyesal mengikuti saran dari Oha asa pagi ini. Harusnya ia membantu salah satu rekannya yang berbintang virgo dan bukannya Aomine. Midorima menghela nafas dan berharap semoga saja hal baik akan datang padanya hari ini.

'Untuk kamu yang berbintang cancer, lucky itemmu hari ini adalah guci antik. Dan jika kamu membantu mereka yang berbintang virgo kamu akan mendapatkan hal baik dari orang yang sangat kamu sayangi.'

Yah semoga saja ia mendapatkannya.

To Be Continued