Everybody give me an attention!
When I still didn't know a thing and had no choice but to just keep moving forward (This is the story of my glory road)
Ono Kensho – ZERO
"Lebih baik biarkan Tecchan bermain basket. Jangan dilarang seperti itu, nanti Tecchan makin berontak." Obaasan mulai angkat bicara dan itu membuatku tidak jadi pergi dari ruang keluarga.
"Tapi Bu, tubuhnya sangat rentan," kata Okaasan.
Obaasan tersenyum padaku. "Setidaknya biarkan dicoba dulu. Kalau memang Tecchan kecapekan sampai sakit, baru kalian boleh melarangnya."
"Apa Tetsuya setuju?" tanya Otousan.
Aku terdiam. Itu berarti aku harus bisa menjaga kondisi tubuhku supaya tidak sakit.
Perlahan aku mengangguk, menyanggupi tawaran yang diberikan Obaasan. "Iya!"
"Baiklah, kita sepakat, ya!"
Aku dan Otousan membuat janji jari kelingking setelahnya.
Setelah aku mengikat janji jari kelingking dengan Otousan, aku ingat, Okaasan masih tidak terima. Dengan berbagai macam alasan, ia memberikan penolakan atas kesepakatan itu.
"Ada beberapa hal tentang laki-laki yang tidak bisa dimengerti perempuan, Yui."
"Tapi Takeru—"
Otousan tersenyum padaku. "Baiklah, nanti Otousan belikan bola basket. Tapi jangan sampai nilai pelajaranmu turun karena terlalu banyak bermain basket ya, Tetsuya," putus Otousan.
Rasa senang membuncah di hatiku. Aku masih bisa merasakannya.
Aku yang sudah berdiri di dekat pintu langsung menerjangnya yang sedang duduk di sofa. Aku memeluk lehernya sambil berjinjit karena tidak sampai. "Terima kasih, Otousan! Aku sayang Otousan!"
Di samping kiri Otousan, ada Obaasan yang duduk sambil memandangku.
Senyum lebar kuberikan padanya. 'Terima kasih, Obaasan!' Bibirku berucap tanpa mengeluarkan suara.
"Haaah... Okaasan kalah, ya?"
Aku melepas pelukanku lalu berdiri di depan Okaasan.
Kepalaku mendongak karena Okaasan tengah berdiri saat itu. Mataku menatap lurus pada matanya yang sewarna denganku. Perlahan kepalaku menunduk. Aku merasa pipiku memanas kalau ingat apa yang terjadi setelahnya.
"Aku minta maaf karena sudah mogok bicara. Otousan juga, aku minta maaf."
Ucapanku terdengar polos sekali.
Seingatku, aku juga hampir menangis ketika mengatakan hal itu.
Tiba-tiba Okaasan memelukku. Ia menggelengkan kepalanya saat memeluk tubuhku yang masih kecil. "Bukan salah Tetsu-kun, kok. Jangan minta maaf, ya." Pelukan itu terlepas, Okaasan menatapku seraya tersenyum. "Tapi Tetsu-kun harus tahu kalau kami tak mau sampai Tetsu-kun sakit dan sebagainya. Makanya Okaasan dan Otousan sempat melarangmu," jelasnya.
Aku mengangguk paham.
Tangannya mengacak pelan rambutku.
"Terima kasih, Okaasan! Aku sayang Okaasan!"
"Okaasan sayang Tetsu-kun juga!"
Momen seperti itu, aku takkan melupakannya.
Sampai akhirnya Obaasan membicarakannya baik-baik dengan kedua orang tuaku. Aku ingat, aku tersenyum lebar pada Obaasan. Lalu saat aku meminta maaf, Okaasan memelukku dan bilang kalau itu bukan salahku.
~ Tetsuya's 4th Paper End ~
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fanfic ZPS! #bow
CHAU!
