Sang Pelindung (Remake)
Karya Alexandra Ivy
Main Cast : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Warning : Genderswitch, typo(s)
Disclaimer :
Cerita ini adalah karya asli Alexandra Ivy dengan judul
When Darkness Comes (Sang Pelindung dalam terjemahan Bahasa Indonesia).
Dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast.
Sumarry :
Beberapa menit sebelumnya, Byun Baekhyun adalah seorang gadis biasa
yang bekerja sebagai pelayan. Sekarang ia adalah seorang Chalice,
wanita yang terpilih untuk menghancurkan kegelapan. Park Chanyeol adalah vampir
yang selama ratusan tahun menjadi pendamping Chalice, meskipun dia tak menyukainya
karena tubuhnya terasa sakit.
.
Chanyeol memaki kebodohannya sendiri.
Selama 341 tahun dia telah menjadi pelindung Phoenix. Tanpa kerelaan, tapi juga tanpa kemurkaan akan nasibnya, toh ia tetap melakukannya dengan dedikasi penuh. Ia tidak punya pilihan. Para penyihir yang membuatnya seperti ini.
Tapi sekarang, ketika bahaya besar tengah mengancam, ia sadar bahwa dirinya hampir tidak mampu berkonsentrasi pada hal itu.
Dengan tidak sabar ia menarik rambutnya kusut ke belakang. Ada sedikit keajaiban yang membuat pikirannya sedikit teralihkan. Hanya dalam beberapa jam, ia telah mengalami kejadian yang membuatnya terguncang lebih daripada apa yang pernah dialaminya selama berabad-abad. Kematian Soyou yang seharusnya hidup kekal. Kegembiraan luar biasa ketika ia merasakan rantai itu mulai mengendur. Dan rasa negri ketika melihat Phoenix itu berpindah ke tubuh Baekhyun.
Baekhyun.
Ia menatap ke tubuh ramping itu. Semenjak ke datangannya ke rumah Soyou, wanita itu seperti wabah bagi dirinya. Dengan kulit sehalus satin, rambut ikal berwarna merah madu membingkai wajahnya yang kukuh, mata yang rapuh dan gairah yang seakan-akan selalu menyala di bawah sikapnya yang selalu tak acuh. Gairah yang selalu memanggil Chanyeol seperti nyanyian putri duyung. Baekhyun adalah hidangan lezat yang akan sangat dinikmatinya.
Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Sekarang Baekhyun bukan lagi pengalih perhatian yang menggoda. Tidak ada lagi permainan. Baekhyun adalah orang yang harus ia lindungi. Dan ia akan melakukannya sampai mati.
"Ayo." Chanyeol memberi perintah dengan nada yang halus. "Ada yang mendekat."
Berusaha untuk berdiri, Baekhyun menatapnya dengan waspada. "Apa?"
Dipegangnya lengan Baekhyun dengan kencang. "Iblis." Ditengoknya kembali pintu itu, mencoba merasakan aroma kegelapan yang mulai mendekat. "Dan lebih dari satu."
Wajah Baekhyun memucat, tapi dengan ketabahan yang selalu membuat Chanyeol kagum, ia tidak pingsan atau menjerit atau hal lain yang selalu dilakukan manusia ketika mereka menghadapi hal-hal yang berbau mistis.
"Tapi tentunya mereka tidak akan menyulitkan kita. Kita tidak punya apapun yang mereka inginkan."
Bibirnya tertarik keatas. "Kau salah, Sayang. Kita memiliki harta karun yang selalu mereka inginkan."
"Apa.."
"Tahan semua pertanyaanmu sampai nanti, Baekhyun."
Ditariknya Baekhyun mendekat, dengan pelan ia berjalan menuju pintu di samping ranjang. Chanyeol meraih gagang pintu dan mendorongnya dengan kuat. Pintu terbuka dengan debu berhamburan dan mur-mur yang terlepas. Sambil tetap memeluk Baekhyun dengan erat, ditariknya wanita itu menuju ruangan sebelah yang remang-remang, hampir tidak menoleh ke pemabuk yang teler karena minuman keras.
Chanyeol langsung bergerak ke sebuah jendela sempit. Sambil berusaha untuk membukanya, ia beralih dan mendekatkan bibirnya ke telinga Baekhyun . "Tetap berada di dekatku dan jangan membuat suara!" Bisiknya. "Kalau kita diserang, aku ingin kau tetap berada di belakangku dan jangan lari! Mereka bisa makin tergoda untuk menggiringmu ke dalam perangkap."
"Tapi aku tidak mengerti kenapa.."
"Tidak sekarang, Baekhyun." Geram Chanyeol tidak sabar. "Kalau kau mau kita keluar dari sini dengan selamat, kau harus mempercayaiku. Kau bisa mempercayaiku?"
Hening sesaat. Dalam keremangan, Chanyeol bisa merasakan keraguan Baekhyun. Wanita itu hampir ambruk, dan Chanyeol hanya bisa berharap saat itu bisa ditunda dulu sampai mereka benar-benar aman.
Akhirnya Baekhyun menghela napas lalu mengangguk dengan enggan. "Ya."
Ditatapnya mata Baekhyun dalam-dalam, terkejut dengan sedikit sinar hangat yang memancar.
"Kalau begitu, ayo kita pergi."
Sambil memegang tangan Baekhun, Chanyeol membantunya memanjat jendela yang sempit dan menunggu sampai wanita itu berdiri di tangga darurat sebelum akhirnya ia sendiri menyusul. Ia berhenti sesaat untuk memerhatikan keadaan gang yang kotor di bawah mereka. Nalurinya memberitahu bahwa iblis yang sedang mengintai mereka tidak berada jauh dari situ. Berdiam disini hanya akan membuat mereka terperangkap. Tidak ada pilihan lain, mereka harus tetap maju.
Atau dalam hal ini, turun.
Dengan muram, Chanyeol menunjuk tangga terdekat dengan kepalanya. Baekhyun melangkahkan kakinya dengan ragu ke atas balkon, memaksakan diri untuk menuruni setiap anak tangga itu. Chaneyol menunggu Baekhyun sampai di bawah, baru kemudian ia menyusul dan berdiri di samping tubuh Baekhyun yang menggigil.
Baekhyun baru akan membuka mulut untuk mulai berbicara dan Chanyeol langsung menekankan jari telunjuknya ke depan bibir Baekhyun dan menggelengkan kepalanya dengan keras. Wajahnya menyiratkan tanda bahaya. Ada sesuatu yang mendekat. Sangat dekat. Chanyeol menoleh ke tempat sampah besar, dan berjalan pelan kearahnya.
"Tunjukkan dirimu!" Kata Chanyeol memerintah.
Ada suara gemerisik di balik bayangan, lalu diikuti derit tajam suara cakar di atas aspal sebelum akhirnya sesosok bayangan raksasa muncul perlahan-lahan. Sekilas, iblis itu terlihat seperti mudah dikalahkan, seperti monster yang bodoh dan canggung. Dengan kulit yang tebal, kasar, dengan bopeng dimana-mana, dan kepala dengan bentuk aneh dengan tiga mata, iblis itu cocok dengan karakter monster yang ditakuti anak-anak akan muncul di bawah kolong tempat tidur mereka. Tapi Chanyeol sudah terlalu mengenal iblis seperti ini, dan tahu bahwa dibalik keburukan itu, tersimpan kelicikan yang lebih membahayakan daripada sekedar otot besar.
"Halford." Chanyeol membungkukkan badan, mencemooh.
"Aah, Chanyeol." Suara yang dalam itu mempunyai aksen yang elegan dan halus. Sangat kontras dengan wajahnya yang mengerikan. "Aku tahu kau akan muncul segera setelah kau bisa menangkap bau para iblis pemburu tadi. Ratusan tahun aku melatih mereka untuk bisa bergerak lebih hati-hati, tapi mereka memang selalu bergerak terburu-buru saat menyelinap justru akan menjadi gerakan yang terbaik."
Meyakinkan diri bahwa ia sudah berdiri diantara Baekhyun dan si iblis, Chanyeol menggerakkan bahunya ke atas.
"Iblis pemburu memang tidak pernah pintar."
"Ya. Sayang sekali memang. Tapi, toh mereka tetap ada gunanya. Seperti membersihkan mangsa sehingga aku tidak perlu repot-repot melakukannya sendiri." Halford melemparkan pandangan menghina ke arah hotel bobrok itu. "Terus terang, Chanyeol, kupikir kau punya selera yang lebih baik daripada ini."
"Tempat apa yang lebih baik untuk bersembunyi dari bajingan kalau bukan di bawah hidung mereka sendiri?"
Suara tawa Halford terdengar membahana dan menggaung mengerikan di gang itu. "Siasat yang cerdas kecuali kenyataan bahwa semua saudaraku di kota ini bisa membauimu dari jarak berkilo-kilometer. Aku khawatir kau tidak akan bisa bersembunyi lagi."
Chanyeol memaki pelan. Walaupun Baekhyun kini memiliki Phoenix, ia belum sepenuhnya bisa menggunakan kekuatan atau pengetahuan apapun tentang bagaimana cara mengendalikannya. Sampai saat itu tiba, Baekhyun akan menjadi santapan lezat para iblis yang berada di dekatnya.
"Kau memandang rendah kemampuanku." Ujar Chanyeol dengan nada menghayutkan.
"Oh tidak, aku tidak akan bertindak bodoh dengan memandang rendah kemampuanmu, Chanyeol." Iblis itu maju, cakarnya membuat jalanan aspal itu berdebu. "Tidak seperti saudara-saudaraku yang lain, aku bisa dengan mudah merasakan kekuatanmu yang sudah dipaksakan untuk terus terkekang selama ini. Dan dengan alasan itulah aku akan membiarkanmu pergi. Aku tidak ingin membunuhmu."
Chanyeol mengangkat alisnya. "Kau membiarkanku pergi?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah menikmati membunuh sesama keluarga." Bibir Hlford terkembang. Mungkin tersenyum. Susah dikatakan karena ia mempunyai tiga lapis gigi. "Tinggalkan gadis itu dan aku berjanji kau tidak akan mengalami kesulitan lagi."
Ah. Tentu saja. Chanyeol baru saja menyadari sesuatu. Halford sedang sendirian, dan iblis itu tidak yakin akan bisa mengalahkan seorang vampir. Setidaknya sampai yang lain bergabung dan memperkeruh suasana.
"Tawaran yang sangat dermawan." Guman Chanyeol.
"Kupikir juga begitu."
"Walaupun demikian, harta karun sebesar ini seharusnya ditukar dengan sesuatu yang lebih berharga. Lagipula, kalau kau memaksakan diri untuk melawanku saat ini, kau tahu kau harus berbagi kemenangan dengan iblis-iblis lain yang bergegas datang kemari."
Dengus nafas Baekhyun mendadak terasa di tengkuk Chanyeol, yang langsung yakin bahwa wanita ini mendengar kata-kata ejekannya tadi, dan pasti langsung mengambil kesimpulan yang pasti sudah bisa diramalkan. Bagaimanpun, Chanyeol adalah seorang vampir.
Chanyeol langsung meraih ke belakang dan mencengkeram pergelangan tangan Baekhyun dengan erat. Ia tidak boleh mengambil resiko karena Baekhyun bisa kabur kapan saja.
Halford menyipitkan matanya. Ketiga matanya. "Apa lagi yang lebih berharga dari hidupmu?"
Chanyeol mengangkat bahunya. "Ada banyak konsekuensi dari hidup kekal di tengah-tengah manusia yang menyedihkan. Seperti yang tadi kau sebutkan, aku memang terbiasa hidup mewah yang sepertinya akan segera berakhir karena kini Soyou sudah mati."
"Kau..." dengan geraman rendah, Baekhyun berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Chanyeol, menendang dengan buas yang akan membuat manusia biasa roboh.
"Diamlah, Sayang." Kata Chanyeol memerintah tanpa perlu melihat ke belakang. "Halford dan aku sedang bernegosiasi."
"Brengsek. Monster. Iblis."
Chanyeol tidak mengacuhkan setiap umpatan Baekhyun yang diimbuhi dengan tendangan. Ditatapnya mata Halford yang kagum melihat tingkah polah Baekhyun.
"Sangat bersemangat." Ujar Halford.
"Hanya sedikit kekurangan yang bisa dibenahi dengan mudah."
Halford menekuk tangannya yang besar. "Mudah sekali. Sekarang, kita selesaikan urusan kita. Berapa hargamu?"
Chanyeol pura-pura berlagak. "Persediaan darah yang tak terbatas, tentu saja. Kau pasti tahu, berbahaya sekali berburu di luar dengan keadaan yang tak menentu akhir-akhir ini."
"Itu bisa diatur."
"Dan beberapa iblis wanita untuk menghangatkan ranjangku disaat malam." Gumannya, dengan sengaja memilih iblis wanita yang memang tak pernah merasa puas akan nafsu seksual mereka.
"Ah vampir dengan selera yang sangat tinggi. Cuma ini?"
Chanyeol merasa saatnya untuk menyerang semakin dekat ketika melihat kilau kemenangan di mata Halford. Iblis itu telah termakan bayangan kemenangannya saat ia bisa menyerahkan Phoenix ke Sang Pangeran.
"Sebenarnya tidak. aku juga membutuhkan ini." Chanyeol melepaskan pegangannya pada Baekhyun, membungkuk dan dengan satu gerakan mematikan ia mengambil belati yang tersembunyi di balik sepatunya. Pada saat yang sama, ia berguling maju, lalu saat ia berdiri tegak, belati itu sudah tak lagi berada di tangannya.
Untuk sesaat Halford hanya berdiri diam di kegelapan, seakan belum sadar ada belati yang tertanam dalam mata tengahnya juga di perutnya. Tapi apapun itu, belati itu telah melakukan tugasnya dengan baik. Dengan erangan serak, iblis itu terjatuh di atas tumpukan sampah yang memenuhi gang.
Chanyeol berjalan maju. Dengan sigap, disayatnya tenggorokan Halford lalu memotong jantungnya. Ia tidak pernah bertindak bodoh dengan membiarkan iblis mati tanpa menggenggam jantungnya. Setelah puas, ia kembali mendekat ke tempat Baekhyun berdiri yang tergesa-gesa melangkah mundur. Mata Baekhyun terbelalak ketakutan.
"Baekhyun."
"Tidak." Baekhyun mengangkat tangannya ke depan. "Jangan dekati aku!"
Berusaha untuk menekan rasa tidak sabarnya, Chanyeol memaksakan diri untuk mengembalikan belatinya yang kotor dengan darah ke dalam sepatu botnya. Ia mengusap rambutnya yang kusut ke belakang sebelumnya melangkah lagi ke Baekhyun. Sedikit lagi, wanita itu sudah hampir mengambil langkah seribu. Satu langkah yang salah maka Chanyeol terpaksa mengejar wanita itu menembus ruwetnya gang-gang kota Chicago.
Sebenarnya itu satu situasi yang sangat menyenangkan untuk dilakukan, aku Chanyeol dengan sedih. Bagaimanapun malam ini sama sekali bukan situasi yang normal.
"Baekhyun, iblis itu sudah mati." Ujar Chanyeol menenangkan. "Dia tidak akan menyakitimu."
"Dan bagaimana denganmu?" tanya Baekhyun menuntut dengan suara sumbang. "Kau tadi berniat untuk menjualku ke dia. Demi darah."
"Jangan bodoh! Tentu saja aku tidak akan melakukan itu." Ia mengulurkan tangan dan memegang dagu Baekhyun, memksa Baekhyun untuk menatap ke dalam matanya. "Aku hanya ingin mengalihkan perhatian Halford supaya aku bisa menyerangnya. Kalau memang luput dari perhatianmu, dia lebih besar dari pada aku. Kupikir lebih baik untuk menghindari perkelahian dengan otot."
Baekhyun membasahi bibir dengan lidahnya. Suatu tindakan kecil yang tak disengaja, tapi membuat pegangan Chanyeol mengencang di bawah kulit Baekhyun yang halus. Bahaya apapun yang ada di hadapan mereka, berdekatan dengan Baekhyun menimbulkan perasaan lapar yang menyiksanya. Perasaan yang tidak akan bisa diredakan dalam waktu dekat.
"Kenapa aku harus mempercayaimu?" tanya Baekhyun.
Chanyeol tersenyum seraya menurunkan tanganya. "Karena untuk saat ini, Sayang, kau tidak punya pilihan lain."
Keheningan muncul diantara mereka, saat Baekhyun berusaha berperang dengan dirinya sendiri, sebelum akhirnya ia menerima bahwa iblis yang kini sedang memburu mereka jauh lebih berbahaya daripada vampir rupawan yang kini berdiri di hadapannya.
Walaupun begitu, Baekhyun tetap menerima uluran tangan Chanyeol dengan enggan.
Tanpa memberi Baekhyun waktu untuk ragu-ragu, Chanyeol menggenggam jemarinya dan menariknya, berlari menembus kegelapan. Chanyeol cukup terkejut dengan rasa kecewa yang dirasakannya ketika menyadari bahwa Baekhyun masih merasa takut kepadanya. Oh, memangnya apa yang diharapkannya dari seorang manusia?
Iblis yang ditakuti Baekhyun akan mengejar ternyata sudah beberapa langkah di belakang mereka. Bukan hanya beberapa langkah, lebih tepatnya beberapa langkah kecil, sehingga menimbulkan sensasi yang kosong dalam diri Chanyeol.
Ketika berbelok di tikungan yang ada di depan mereka, Chanyeol berusaha untuk terus melindungi Baekhyun yang berusaha keras untuk menyamai langkahnya yang panjang. Kehangatan kulit Baekhyun yang menempel ditubuhnya membuatnya tidak waspada, sehingga saat itu iblis meloncat ke atas dan menyerangnya, Chanyeolpun terjatuh ke jalanan.
Dalam sekejap Iblis itu menekan Chanyeol ke tanah. Giginya meneteskan air liur yang melukai kulit Chanyeol.
"Brengsek." Maki Chanyeol. "Dasar makhluk bau tak berguna."
Berusaha mengulurkan tangannya ke atas, Chanyeol berniat untuk merobek tenggorokan iblis itu ketika tiba-tiba ada kibasan angin diikuti dengan derakan suara tulang yang hancur. Chanyeol mengerjap ketika iblis tersebut terjatuh ke samping. Mati.
"Kau tidak apa-apa?"
Seperti dalam mimpinya, Baekhyun membungkuk di atasnya. Wajahnya kotor dan rambutnya menggantung tak beraturan, tapi wajahnya menyiratkan kecemasan. Chanyeol mengulur waktu untuk melihat wajah itu lebih lama, menyimpannya dalam ingatannya, lalu ia bangun dengan enggan. Ditengoknya iblis yang kini sudah tak bergerak lagi sebelum kembali menoleh ke Baekhyun.
"Pukulan yang hebat, Sayang." Gumannya sambil mengambil pipa karatan yang terus dipegang Baekhyun. "Pembunuh iblis yang hebat. Hampir sehebat..."
"Kalau kau menyebut nama Buffy, aku akan menikammu." Ujar Baekhyun mengingatkan sambil mengangkat pipa itu dengan mengancam.
Chanyeol terkekeh pelan. "Sangat menakutkan, Sayangku, tapi kalau kau benar-benar ingin membunuhku, maka kau harus mengganti pipa itu dengan kayu."
"Itu bisa diatur."
"Aku yakin begitu." Chanyeol berdiri dan menepuk kotoran yang menempel. "Sayangnya hal itu harus menunggu sampai nanti. Sekarang kita harus melanjutkan perjalanan kita."
Dipegangnya lengan Baekhyun dan mereka kembali menyusuri gang-gang kota Chicago. Kali ini ia meningkatkan kewaspadaannya.
Brengsek. Ia berhasil dijatuhkan oleh iblis. Di depan seorang wanita cantik. Chanyeol tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan lagi.
Terbunuh, masih bisa. Tertikam, atau terpenggal kepalanya, mungkin. Tapi tidak dipermalukan. Pilihan yang tidak akan dipilih oleh seorang vampir dengan harga diri yang tinggi.
Hampir setengah jam lamanya mereka bergerak dalam hening, terus merangsek ke dalam kekumuhan. Tidak ada lagi serangan mengejutkan, tapi Chanyeol masih bisa merasakan iblis di kejauhan.
Sial, ia harus menentukan apakah iblis-iblis itu masih mengikuti atau ia dan Baekhyun telah berhasil mengecoh mereka.
Chanyeol memperlambat langkahnya. Matanya menelusuri kegelapan sampai menemukan sebuah pintu sempit yang ada disebuah bangunan bata merah. Ia memandang sekelilingnya untuk meyakinkan diri bahwa mereka telah sendirian, lalu ditendangnya pintu besi itu dari engselnya. Ada suara jatuh keras diikuti oleh awan debu tebal, tapi Chanyeol tidak berhenti sama sekali. Sambil menarik Baekhyun ke dalam garasi terbengkalai itu, iapun bersandar dibingkai pintu yang telah rusak untuk mengawasi makhluk-makhluk jahanam yang mungkin bersembunyi di kegelapan.
Saat menegangkan itu berlalu sebelum akhirnya Baekhyun mulai kehilangan kesabarannya.
"Apa yang kita lakukan disini?" tanyanya dengan nada menuntut.
"Menunggu."
"Apa kau tahu kita mau pergi kemana?"
"Jauh dari sini."
Gigi Baekhyun terkatup. "Pernyataan yang samar. Seperti biasanya. Mungkin untuk membuatmu terlihat semakin misterius?"
"Aku memang misterius." Dengan nekat dipandangnnya mata Baekhyun yang memancarkan kemarahan. "Kau suka lelaki yang seperti itu, kan?"
"Aku suka lelaki yang mempunyai degup jantung dan makan pizza. Bukan darah." Baekhyun langsung menjawab dengan kasar.
Chanyeol terkekeh pelan seraya kembali mengawasi keadaan di luar gang. "Kenapa kau bisa seyakin itu, Cinta? Kau belum merasakan menjadi vampir. Aku berjanji hal itu akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah kau lupakan."
"Ya ampun, kau sudah sinting. Atau memang vampir paling sombong yang..."
Tiba-tiba Chanyeol mengangkat tangannya untuk menyuruhnya diam. "Ssstt."
Langsung waspada, Baekhyun ikut mengintip ke dalam kegelapan. "Apa ada yang datang?"
"Ya. Tetap di belakangku."
Mereka menunggu dengan tegang sampai akhirnya mendengar langkah kaki yang mendekat. Chanyeol mengendus udara yang berbau busuk sebelum akhirnya ototnya yang tegang sedikit mengendur setelah yakin bahwa langkah itu milik manusia. Manusia sama sekali tidak berbahaya untuk Chanyeol.
Lalu, keheningan itu pecah dengan suara orang yang berbicara di radio panggil. Baekhyun terkesiap.
"Chanyeol, itu polisi. Mereka bisa menolong kita." Desis Baekhyun tiba-tiba, menyusul Chanyeol yang berdiri di ambang pintu.
Dengan refleks, Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menahan Baekhyun. Dengan luwes ia mendorong Baekhyun ke tembok bangunan itu. Tangan Baekhyun mulai terangkat untuk memprotes perlakuannya. Chanyeol yang telah memperkirakan tindakan itu langsung merendahkan kepalanya dan membungkam mulut Baekhyun dengan bibirnya.
Niatnya mulia. Ciuman itu hanya untuk mencegah terjadinya keributan. Namun disaat Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun yang selembut satin, niat itu langsung terlupakan.
Tubuh mereka memanas saat Chanyeol mengencangkan pegangannya. Bibirnya melumat Baekhyun dengan rasa lapar yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Gila, ia sangat menginginkan wanita ini. Chanyeol ingin merayu, merasakan dan menyatukan tubuhnya sampai ia sendiri terpuaskan.
Tangan Chanyeol dengan gelisah naik ke punggung Baekhyun, mengusap kulit tengkuk wanita itu yang terasa menyihir kesadarannya, sebelum akhirnya berhenti di rambut ikal Baekhyun. Dipegangnya kepala Baekhyun dengan mantap, sambil terus menelusuri mulut wanita itu dengan rakus. Semua bahaya dan ketegangan tidak lagi dirasakan seiring tubuhnya semakin hilang dalam kenikmatan.
Dengan tubuh Chanyeol yang kokoh menahan tubuhnya, Baekhyun terkejut dengan tindakan Chanyeol yang tidak disangkanya itu. Hanya butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menerima Chanyeol dengan lenguhan pelan dan mengalungkan lengannya disekeliling leher sang vampir seraya membuka bibirnya untuk menerima ciuman lebih dalam. Baekhyun menginginkan Chanyeol sama seperti Chanyeol menginginkannya.
Seakan tunduk dengan tindakan Baekhyun, secara naluriah Chanyeol memperlembut ciumannya tanpa sedikitpun mengurangi hasratnya. Gerakan Baekhyun yang gelisah menekan tubuh kokohnya ketika bibirnya turun menelusuri pipi, rahang dan terus turun ke lekukan leher Baekhyun. Mereka berdua tenggelam dalam api gairah yang sudah sekian lama mereka tahan.
"Baekhyun.. Sayangku, Baekhyun. Aku ingin merasakan tubuhmu." Guman Chanyeol dengan suara serak.
Chanyeol merasakan tubuh Baekhyun yang bergetar, menginginkan hal itu menjadi nyata sebelum tiba-tiba wanita itu menarik diri dan memandangnya dengan tatapan tak percaya.
"Kau gila ya?" pekik Baekhyun sambil menekan jarinya ke bibirnya yang bengkak.
Terkejut dengan tindakan Baekhyun, Chanyeol menggeretakkan giginya dan mendorong tangannya masuk ke kantong celana. Ia membutuhkan sedikit waktu lagi untuk meredakkan nafsu yang masih menguasai tubuhnya.
Hanya perlu merobek sedikit baju, sedikit ciuman bergairah tanpa jeda, dan Chanyeol pastilah bisa membaringkan Baekhyun ke lantai berdebu dan bersatu dengan tubuh ramping itu.
Sedikit demi sedikit kesadaran mulai mengambil alih pikirannya yang masih buram dengan kabut gairah. Ia melangkah ke belakang, dan akhirnya ia dapat berkata dengan tenang.
"Aku hanya beusaha untuk mencegah kita berdua terbunuh. Aku tidak ingin membiarkanmu memanggil polisi-polisi tadi." Ujar Chanyeol menjelaskan dengan nada pelan.
Alis Baekhyun bertaut. "Apa iblis telah menyusup ke kepolisian Chicago?"
"Bukan begitu. Menurutku kalau kita berusaha untuk menjelaskan keadaan kita kepada bapak polisi yang baik hati tapi tidak punya imajinasi tinggi itu, kita hanya akan berakhir di bui. Mungkin malah dengan tuduhan pencobaan pembunuhan terhadap Soyou. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi aku tidak ingin berakhir dengan baju garis-garis dan terperangkap di penjara dengan pemandangan matahari terbit yang indah."
Wajah Baekhyun mengeras, seakan berusaha untuk melawan argumentasi logis Chanyeol. Merasa kalah, iapun melipat tangannya di depan dadanya dan menghela napas dengan kesal.
"Baik. Dan ini adalah solusi terbaikmu? Merangkak di gang-gang menjijikkan sepanjang waktu?"
Chanyeol mengangkat bahunya, bergerak ke arah pintu yang terbuka. "Kuharap tidak lama. Aku tahu satu tempat tapi aku harus yakin bahwa kita telah berhasil mengecoh iblis-iblis jahanam tadi."
"Ya Tuhan, kacau sekali semua ini," guman Baekhyun sambil mengusap wajahnya.
Chanyeol memaksakan taringnya memendek kembali ketika ia merasa gairah itu tetap ada di dalam tubuhnya, menyiksanya.
"Untuk sekali ini, kita sepakat dengan satu hal, Sayangku."
.
TBC
.
Chanyeol dan Baekhyunpun akan segera memulai petualangannya yeeeyyyy ...
