Previous Chapter:

Hati-hati Gary mengangkat tubuh Ji Hyo. Menyelipkan satu tangannya di tengkuk Ji Hyo dan satu tangannya lagi di bawah dengkul gadis manis itu.

Gary menggendongnya, membawa Ji Hyo ke sebuah kamar. Kamarnya yang akan menajdi milik mereka. Ya, karena dalam hati Gary bertekad,

"Mulai saat ini aku tidak akan melepaskanmu. Akan kupastikan itu, bahwa kau sekarang milikku. Selamanya."


Gary membaringkan tubuh Ji Hyo di sebuah ranjang besar dengan penuh perhatian. Ranjang di mana selama ini ia tidur seorang diri. Hatinya terasa bergemuruh karena mulai sekarang ia tidak akan tidur sendiri lagi di ranjang besar ini. Akan ada Ji Hyo di sana.

Song Ji Hyo, putri cantik yang sekarang sedang terlelap. Wajah polos itu seperti seorang bayi. Bayi yang sudah banyak menangis seharian, kemudian tertidur karena kelelahan. Gary menyentuh rambut Ji Hyo yang menutupi sebagian wajahnya. Mengatur rambut itu agar tidak menutupi pandangan matanya, dengan lembut Gary mengelus rambut hitam Ji Hyo.

Matanya dengan teliti memperhatikan wajah Ji Hyo. Menyentuh keningnya, lalu kedua alisnya, kelopak matanya, juga menyempatkan diri menyapu barisan bulu mata lentik Ji Hyo. Hidungnya yang mancung, dan kedua pipi Ji Hyo yang kemerahan akibat tamparan.

'Ha Dong Hoon harus membayar mahal karena sudah menamparmu, Sayang.'

Gary melanjutkan lagi perjalanan jarinya, berhenti di bibir Ji Hyo. Sejak pertama kali melihat Ji Hyo, bibir ini sudah menarik perhatiannya. Debaran jantungnya meningkat tanpa diperintah saat ujung jarinya menelusuri bibir bawah Ji Hyo, tapi kemudian untuk sedetik detak jantungnya berhenti. Ia melihat ada bekas luka di sudut bibir Ji Hyo, darah kering menempel di sana.

'Apa laki-laki brengsek itu yang melakukannya? Sejauh apa dia memperlakukanmu dengan buruk?'

Tangan Gary kembali bergerak, kali ini menyentuh kancing teratas dari gaun yang Ji Hyo kenakan. Gaun yang sedikit usang, warna cokelatnya bahkan sudah pudar. Perlahan tapi pasti Gary melepaskan satu per satu kancing gaun Ji Hyo. Degup jantung Gary kembali berdetak tidak karuan saat matanya menangkap pemandangan indah yang ada di hadapannya. Kedua payudara Ji Hyo yang diselimuti bra putih berenda.

Apa yang dilihatnya membuat pangkal pahanya ngilu. Payudara Ji Hyo yang tertutup saja bisa membuatnya seperti ini, apalagi saat nanti matanya melihat langsung tanpa pembatas, atau saat ia bisa menyentuhnya. Gumpalan daging putih nan mulus itu membuat rasa penasaran mengganggunya. Tapi Gary menahan diri.

Malam ini bukan waktunya untuk melampiaskan gairah dan kerinduannya terhadap Ji Hyo. Gary akan melakukannya saat Ji Hyo dalam keadaan sadar, bukan di bawah pengaruh obat tidur seperti sekarang. Jadi, Gary memutuskan untuk melanjutkan apa yang ingin ia lakukan.

Sekali lagi tangan-tangan Gary kembali bergerak, ia ingin melepaskan gaun yang Ji Hyo pakai. Dengan sangat hati-hati Gary melepaskan gaun itu melalui lengan Ji Hyo. Matanya kembali terbuka lebar saat melihat ada banyak bekas kemerahan di sepanjang lengan Ji Hyo. Seperti bekas pukulan, cakaran, bahkan di pergelangan tangannya pun terdapan bekas cengkraman yang kuat.

Setelah melepaskan gaun Ji Hyo sampai bagian pinggang, Gary hanya perlu menariknya sampai melewati kaki. Dan ketika matanya melihat kain putih berenda yang menutupi bagian kewanitaan Ji Hyo, hati Gary seakan mau meledak. Ia senang bukan kepalang membayangkan kenikmatan apa yang ada di balik kain putih tipis itu, tapi sebagian hatinya juga bertanya-tanya,

'Siapa yang pernah menyentuhmu sampai di sana? Apa selain laki-laki brengsek itu, ada laki-laki brengsek lain yang pernah melakukannya?'

Memikirkan ada pria lain yang pernah memasuki Ji Hyo membuatnya perasaannya terbakar. Ia cemburu menerima kenyataan jika bukan dirinyalah yang pertama untuk Ji Hyo. Tapi ia sudah memastikan mulai sekarang dirinyalah yang akan menjadi satu-satunya. Memiliki Ji Hyo sepenuhnya, tubuhnya, dan tentu nantinya juga cintanya.

Gairah sudah membuncah mengisi setiap sel tubuh Gary. Ia menarik napas panjang sebelum menghempaskannya lagi ketika melihat tubuh Ji Hyo yang nyaris telanjang. Kenikmatan duaniawi begitu mudah untuk direguk. Ia harus menutup matanya rapat untuk menghilangkan pikiran-pikiran untuk menjamah Ji Hyo.

Lalu ia bangkit dan menuju pintu di yang juga berada di kamarnya. Tidak berapa lama kemudian, ia kembali, duduk di sisi putri tidurnya. Ia membawa satu kotak obat dan sebuah jubah mandi. Dengan telaten Gary membersihkan luka dan memar-memar di tubuh Ji Hyo dengan cairan antiseptik. Ia juga mengobatinya dengan salep dan obat merah.

Setelah yakin memar dan luka di tubuh Ji Hyo sudah diobati, Gary memakaikan jubah mandi sutra berwarna merah marun yang dibawanya. Ketika jubah itu terpasang, Gary menutupi tubuh Ji Hyo dengan selimut.

Begitu sulit menahan hasratnya pada Ji Hyo. Terlalu lama ia menunggu saat-saat seperti ini. Hanya berdua dengan Ji Hyo, tanpa seorang pun mengganggu. Mengatahui Ji Hyo aman bersamanya. Hal itu cukup membuatnya tenang, karena mulai sekarang ia akan menjaga Ji Hyo dan tidak akan membiarkan seorang pun menyakitinya.

Gary membelai helaian rambut Ji Hyo. Obat tidur yang sengaja ia campurkan ke dalam minuman Ji Hyo memang kuat. Obat tidur yang membuat Ji Hyo bisa tidur bahkan hingga belasan jam ke depan. Ji Hyo membutuhkannya, ia harus beristirahat. Tubuhnya terlihat begitu ringkih dan letih.

"Tidurlah yang nyenyak, Song Ji Hyo," ujar Gary sambil mengelus pipi gadis yang tidur seperti anak kucing itu. "Aku perlu mengurus diriku sendiri," lanjutnya sambil melihat pangkal pahanya yang mengetat. "Aku segera kembali."


Sudah berapa lama ia tidak merasa sedamai ini? Beberapa bulan ini ia selalu tidur dalam tekanan dan ketakutan. Ha Dong Hoon bisa saja pulang tengah malam sambil mabuk dan membawa perempuan ke rumah. Tidak hanya sekali, tapi sangat sering. Tidak hanya satu perempuan, tapi terkadang lebih dari dua. Tapi, kedamaian dan ketenangan ini mungkin hanya mimpi, semua belaka dan ia harus kembali ke dunia nyata.

Perlahan Song Ji Hyo membuka matanya. Terasa begitu berat. Ji Hyo memperhatikan langit plafon putih di atasnya. Kedua matanya mengerjap cepat saat menyadari begitu halus selimut dan seprai yang menyentuh kulitnya. Ji Hyo terduduk dengan kepala yang terasa sedikit pusing.

Ia menyapu pandangan matanya ke sekeliling ruangan yang asing baginya.

"Ini di mana? Ini kamar siapa?" tanya Ji Hyo pelan. Ia sama sekali tidak mengenal ruangan ini. Kamar yang tidak terlalu banyak barang. Ini tidak seperti kamarnya di rumah Haha. Ia tidur bersama dengan tumpukan barang. Bukan di kamar mewah dan bagus ini.

"Aku…" kata-katanya terhenti karena terkejut begitu tahu ia tidak memakai gaun usangnya. "Ya Tuhan!" serunya nyaris berteriak.

Ceklek.

Ji Hyo mengantisiapasi pintu yang terbuka. Tangannya menggenggam erat selimut yang menutup tubuhnya. Dan ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu, saat ia berhadapan dengan…

"Kau…" lirih Ji Hyo. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?"

Gary tersenyum mendengar kalimat pertama yang ia dengar dari bibir mungil Ji Hyo. 'Memangnya apa yang kulakukan? Aku mengobati luka-lukamu, lalu tidur memelukmu sepanjang malam.'

"Aku?" tanya Gary santai. Ia berjalan ke arah ranjang, membuat Ji Hyo beringsut mudur ke kepala ranjang. "Menurutmu apa yang aku lakukan?" tanya Gary lagi, langkahnya berhenti tepat di ujung ranjang. Ia memperhatikan wajah manis Ji Hyo yang baru bangun tidur dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Cantik luar biasa.

Gary mulai bisa melihat air mata siap tumpah dari mata Ji Hyo yang berada tidak jauh darinya. Ingin sekali ia merengkuh Ji Hyo dan menenangkannya agar tidak menangis. Tapi ia menahan diri, tidak ingin Ji Hyo akan semakin takut padanya.

"Apa kau sudah…?" Ji Hyo bahkan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Suara tawa Gary terdengar memenuhi telinga Ji Hyo. "Aku tidak melakukan apapun padamu. Lagipula aku tidak suka melakukan apa yang ada di pikiranmu itu dengan gadis yang tidurnya mengorok."

"Mengorok?" tanya Ji Hyo dengan mimik wajah lucu yang membuat jantung Gary berdebar keras. "Aku tidak mengorok," protes Ji Hyo.

"Sudahlah, cepat ke sini," titah Gary menuju sofa panjang berwarna putih yang berada dekat dengan jendela di sudut kamar.

Entah mengapa Ji Hyo merasa percaya pada orang ini. Di samping itu, ia bersyukur dirinya masih utuh. Meski dengan langkah ragu, Ji Hyo menghampiri Gary dengan ikut membawa selimut yang ia gunakan untuk membungkus tubuhnya.

Ji Hyo memilih duduk di tepi sofa, mencoba berada sejauh mungkin dari jangkauan Gary. "Gaunku. Apa kau mengambil gaunku?" tanya Ji Hyo. Dalam hati ia bertanya apa Gary yang mengganti pakaiannya? Karena jika benar, maka pria ini sudah melihat tubuhnya yang nyaris telanjang.

Gary menganggukkan kepalanya. "Sudah kubuang. Gaun itu bahkan tidak layak untuk jadi keset," jawab Gary tenang.

"Uhm.. apa kau juga yang…" Ji Hyo tidak melanjutkan kata-katanya dan melirik ke tubuhnya yang dibungkus selimut dengan maksud bertanya apakah Gary yang mengganti bajunya.

Gary mengikuti pandangan mata Ji Hyo sebelum menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Ji Hyo kembali menangis. Harga dirinya benar-benar merasa diinjak. Bagaimana mungkin di saat tertidur ia dilecehkan seperti itu.

"Aku harus memastikan agar tidak ada luka atau memar yang terlewati saat aku mengobatinya," ucap Gary membuat Ji Hyo tertegun.

'Mengobati?' Ji Hyo menjilat sudut bibirnya yang sebelumnya terasa perih, dan bisa dirasakannya rasa asam dari obat. Ia juga melihat bekas salep yang mulai mengering di memar pergelangan tangannya. 'Mengapa dia melakukannya? Apa sebenarnya yang diinginkannya?'

"Bukan itu yang ingin aku bahas. Tapi ini," Gary mengajukan tiga buah map.

Perut Ji Hyo langsung mual melihat map-map yang isinya sudah dapat ia tebak itu. Ia muak dengan semua ini.

"Seperti yang kau ketahui. Ha Dong Hoon sudah menjualmu padaku. Dan dia sudah menerima uang tunai sebegai harganya," Gary memulai pembicaraannya. "Dia juga sudah menceraikanmu. Aku ingin kau menandatangani surat ceraimu." Ucapan Gary terdengar seperti sebuah perintah.

Ji Hyo menerima sebuah map berisi surat perceraiannya dengan Haha. Sudah ada tanda tangan Haha di sana. Ia pasrah, tidak ada pilihan lain untuknya. Toh, Haha sudah membuangnya pada pria bernama Kang Gary ini. Dengan ragu akhirnya Ji Hyo menerima pena yang diberikan Gary. Tangannya gemetar saat membubuhkan tanda tangannya di surat perceraian itu. Siapa sangka ia akan menjadi janda tanpa sedikit pun merasakan kebahagiaan menikah.

"Dan di dalam map ini adalah surat perjanjian antara kita," Gary memberikan sebuah map lainnya setelah menerima map berisi surat perceraian yang sudah ditandatangani Ji Hyo. Langkahnya untuk mendapatkan Song Ji Hyo sudah sangat dekat.

"Perjanjian kita?" ulang Ji Hyo. Ia membuka map itu dan membaca surat perjanjian yang diajukan Gary.

Song Ji Hyo membaca poin pertama dari surat perjanjian itu.

"Kang Gary adalah pemilik tunggal dari Song Ji Hyo."


TBC