Author: Moshi-moshi! XD Akhirnya author sempet juga ngetik chapter 3 :)
Ryuuki: Author jahat! Masa' kemarin aku ga masuk sih?!
Author: Hehe, kau kan les kemarin *menyeringai*
Ryuuki: Author gila -_- Malah updatenya lama banget lagi
Author: Go... Gomen v^^" Yosh, Kame-chan, bacain disclaimernya!
Kameharu: Disclaimer, Vocaloid milik Crypton, cerita tetap milik Chang Mui Lie
Miku POV
"...?"
Aku terdiam sejenak setelah melihat hasil tangkapan Mikuo dan Gumiya. Semuanya adalah ikan, tapi bukan itu yang ku permasalahkan. Yang ku permasalahkan adalah ukurannya.
"KeᅳKecil sekali..." kata Gumi.
"Mau bagaimana lagi... Hanya ada ikan yang seperti itu.." kata Gumiya.
"Memang Gumiya-kun tidak bisa mengubahnya menjadi agak besar?" tanyaku.
"Itu berarti sihir pada makhluk hidup. Peri tidak diperbolehkan untuk menyihir pada makhluk hidup walaupun makhluk hidup itu sudah mati. Atau, peri harus menerima hukuman yang berat" jawab Gumiya.
"Sokka..." ucapku agak kecewa.
"Ya sudahlah... Gomen ne, Miku-chan. Kami merepotkanmu dan Mikuo-kun" kata Gumi.
"Iie, daijoubu, Gumi-nee" balasku.
"Makan seadanya sajalah.." ucap Gumiya.
"Jangan khawatir, Miku-chan to Mikuo-kun. Walaupun ukuran ikan-ikan ini kecil, aku bisa kok membuat kalian kenyang" kata Gumi sambil tersenyum.
"Hontou? Bagaimana caranya?" tanyaku dan Mikuo.
"Hahh... Dia ahlinya..." ucap Gumiya.
Gumi hanya tersenyum. Kemudian dengan menggunakan sihirnya, ia mulai memasak beberapa ikan itu dalam waktu singkat. Apa yang akan dia buat?
"Waa...~ Oishi naaa~" kataku.
"Hehe, deshou? Kalian pasti kenyang" kata Gumi.
Aku memakannya dengan lahap sampai kenyang. Begitu juga dengan Mikuo dan Gumiya. Dan sehabis makan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan yang pastinya penuh dengan rintangan-rintangan berbahaya lagi. Tapi untungnya, Gumi dan Gumiya dapat berpikir cepat sehingga aku dan Mikuo terselamatkan dari ancaman maut.
"Kapan kita akan melewati rintangan terakhir...?" tanyaku mulai lelah berjalan.
"Hm... Ku rasa disini rintangan terakhirnya" jawab Gumiya.
Aku menatap ke depanku dan terlonjak kaget.
"GoᅳGoa kematian...?"
"Konon katanya banyak peri yang mati disini karena mereka ingin segera menuju tempat dewi Kitano. Mereka mulai dihantui oleh ketamakan dan kebencian di dalam goa. Karena ketamakan, mereka menjadi ceroboh dan akhirnya mati di dalam goa ini" jelas Gumi.
"Gumi nee-chan tau banyak, ya. Aku harap hal seperti itu tidak terjadi kepada kita" kataku.
"Iya. Ayo masuk" ajak Gumi.
Kami pun masuk ke dalam goa itu. Gumi dan Gumiya menggunakan sihirnya untuk menerangi jalan di dalam goa. Ugh... Terlihat banyak tulang-tulang seperti manusia (mungkin) di sekitar goa ini, pastinya bekas peri saat datang ke sini.
"Kira-kira di dalam sini ada bahaya lain tidak, ya...?" tanyaku ketakutan.
"Terkadang ada batu kecil yang suka jatuh dari atas. Tapi kalian juga harus hati-hati, ya.. Pernah ada... kalajengking raksasa..." kata Gumi.
"Huwaa! Aku takut!" kataku langsung memeluk Gumi.
"Ahahaha, tenang saja. Kalajengking itu gampang kok diurusnya" kata Gumi berusaha menenangkanku.
"Hontou ni..?" tanyaku.
Gumi mengangguk. Aku merasa firasat buruk akan terjadi pada kami semua, entah apa itu.
KRAAKK!
"Waa!" aku kaget dan langsung memeluk Gumi (lagi).
"Ada apa lagi, Miku?" tanya Gumi.
"Tadi aku mendengar sesuatu. Bunyinya krak!" jawabku.
"Ah, aku tak mendengar apapun" kata Gumi tetap berjalan.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja" kata Gumiya.
"Tenang saja, Miku. Aku pasti akan melindungimu!" kata Mikuo.
KRAKK!
"KYAA! Itu suaranya!" kataku.
"Hah? Mana?" tanya Gumi.
KRAK! KRAKKK!
"Eh?!" Ku pikir mereka baru saja mendengarnya.
Tuhan, tolong aku...
Dan ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat sebuah makhluk binatang yang sangat besar. Besarnya hampir sebesar goa ini. Warnanya hitam dan ekornya bengkok (Author: Ini ciri-ciri kalajengking bukan, ya? Saya udah lupa 'w').
"GuᅳGuᅳGuᅳGumi... -nee..." panggilku.
"Ada apᅳ ... KYAAA!" Gumi langsung berteriak setelah melihat makhluk di belakang kami.
Gumiya dan Mikuo ikut menoleh ke belakang. Dan wajah mereka berubah menjadi kaget.
"LaᅳLa..."
"FYAKK! (?)" Kalajengking raksasa itu langsung bergerak seperti ingin memangsa kami.
"LARIIII!" teriak Mikuo.
"AAAAA!" Aku, Gumi, Gumiya dan Mikuo pun berlari sekencang-kencangnya. Oh tidak! Kalajengking itu mengejar kami!
"Gumi nee-chan! Apakah nee-chan tidak bisa melakukan sihir apapun terhadap kalajengking di belakang kita...?!" tanyaku.
"Aku tak bisa menyihir makhluk hidup!" jawab Gumi.
Oh iya, aku baru mengingatnya.. Sial, apa yang bisa aku lakukan? Aku bahkan belum memiliki senjata apapun untuk mengalahkan kalajengking ini. Tiba-tiba, di depan kami terlihat 2 lorong yang entah apa yang harus di pilih. Aku pun mendadak mendapatkan suatu ide.
"Apa tak ada sesuatu yang bisa mengubah kita menjadi kecil agar kalajengking ini tak bisa melihat dimana kita berada?!" tanyaku.
"BeᅳBenar juga! Sebentar.." Gumiya memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.
Ayolah, ada sesuatu.. ada sesuatu...
"Ini dia!" kata Gumiya mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti... permen? Warnanya ungu dan bentuknya bulat.
Gumiya langsung menjatuhkan 'sesuatu' itu ke tanah.
BOOOSSSH!
Dan dalam seketika, 'sesuatu' itu langsung menimbulkan asap yang luar biasa tebal dan membuatku menjadi batuk-batuk.
"Uhuk! Uhuk!" Aku berusaha melihat ke sekeliling dan tanpa di sadari tubuhku telah berubah menjadi lebih kecil dibanding bayi, seperti peri.
Dan ku lihat kalajengking itu berjalan melewati lorong yang berada di sisi kiri. Berarti nanti kami mungkin harus memilih lorong kanan.
"Hii...! Menyeramkan!" kataku.
"Tadi idemu itu bagus sekali, Miku! Ternyata kamu bisa berpikir juga dalam keadaan terdesak!" kata Mikuo sambil menepuk kepalaku.
"Yokatta na... Aku lelah sekali berlari" kata Gumi.
"Apakah kita harus berubah menjadi besar kembali?" tanyaku.
"Ku rasa kalajengking itu sudah agak jauh. Gumiya-kun, kembalikan kami seperti semula" kata Gumi.
Gumiya mengeluarkan sesuatu yang mirip dengan benda tadi. Hanya saja yang ini warnanya biru.
BOSHH!
Ia menjatuhkannya kembali ke tanah dan kami pun berubah menjadi besar kembali.
"Jika kalajengking itu melewati lorong yang kiri.. Berarti kita harus melewati lorong yang kanan" kata Gumiya.
"Kita tidak akan nyasar kan?" tanyaku.
"Ku rasa jalan kanan yang benar. Ayo!" ajak Gumi.
Kami pun berjalan melewati lorong kanan. Oh iya, ada yang belum ku tanyakan. Dimana letak kolam dewi Kitano?
"Nee, nee, Gumiya-kun" panggilku.
"Hm? Nanda?" tanya Gumiya.
"Kolam dewi Kitano itu ada dimana?" tanyaku.
"Pokoknya jika kau menemukan batu permata berwarna biru, itu berarti kita hampir sampai di kolam dewi Kitano" jawab Gumiya.
"Ohh.. Sokka.." aku pun kembali berjalan sambil menatap ke bawah.
Siapa tau aku benar-benar akan menemukan batu permata itu.
BLETAKK!
"Ah!" Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari atas mengenai kepalaku.
"Hm? Doushita no, Miku?" tanya Mikuo.
"Ittai..." aku lalu membuka mataku dan melihat benda yang menimpuki kepalaku itu.
"IᅳItu... Gumiya-kun! Gumi nee-chan! (Author: Ternyata Miku ga sopan sama Gumiya *troll face* | Miku: Diam kau, authorrr! *ngelempar seribu negi*)" panggilku.
"Doushita, Miku?!" tanya Gumiya.
"Aku menemukannya! Batu permata berwarna biru!" jawabku berseru.
"Nani?!" Gumiya dan Gumi langsung berlari kecil ke arahku.
Aku menunjukkan batu permata itu kepada mereka berdua. Mata Gumi dan Gumiya berbinar-binar.
"Tak salah lagi! Berarti kita sudah mendekati kolam dewi Kitano!" kata Gumiya.
"Yokattaaa...~" ucapku.
KRAKKK!
Tiba-tiba, aku mendengar bunyi itu lagi. Oh, tidak.. jangan bilang kalau di belakangku ada...
"NaᅳNani...?" tanyaku sambil menoleh ke belakang dengan pelan.
Aku membatu sejenak sedang Mikuo, Gumi dan Gumiya masih memandangi batu permata itu. KaᅳKalajengking tadi... ia disini!
"LARIII!" teriakku langsung berlari.
Gumi, Gumiya dan Mikuo menoleh ke kalajengking dan baru menyadari hal itu. "GYAAAA!" mereka pun ikut berlari menyusulku di belakang. Dan tepat di depan, aku menemukan sebuah sinar bening seakan itu adalah kaca. Oh tidak, jangan sampai itu adalah jalan buntu.
"Kyaa!" aku langsung berlari ke sinar itu dan tanpa disangka, ternyata aku dapat menembus sinar itu! Gumi, Gumiya dan Mikuo pun kaget. Sedangkan kalajengking itu tidak bisa memasuki sinar tadi.
"Ahh!" aku langsung terjatuh. Dan sialnya, Gumi, Gumiya dan Mikuo yang baru memasuki sinar itu langsung menindihku.
"Ittaiiii!" seruku.
Gumi, Gumiya dan Mikuo langsung bangkit dan membantuku berdiri. Ku lihat di sekelilingku. Aku kaget dan terkagum-kagum sejenak. Disini indah sekali! Banyak batu permata yang bercahaya dan berkilauan. Oh, bahkan sungai yang ada di depanku pun juga bercahaya. Mungkin ada batu permata di dalamnya. Namun, aku teringat dengan tujuanku datang kemari.
"Oh iya! Gumiya-kun! Gumiya-kun!" panggilku.
"Nanda?" tanya Gumiya.
"Dimana kolam dewinya?! Kau lupa, ya?" tanyaku bersemangat.
"Oh iya.. Ituᅳ"
"La la la~ Aku ada disini..." ucap seseorang.
Aku, Mikuo, Gumi dan Gumiya langsung menoleh ke belakang kami. Aku yang melihatnya langsung terbelalak kaget.
To Be Continued
Author: Yeyy! Chapter 3 akhirnya selesai diketik! Y(^O^)Y
Kameharu: Author, lain kali jangan bermalas-malasan, dong!
Author: Gomen, gomen.. Habis pada hiatus sekarang.. #masa?
Ryuuki: Lalu kenapa kau publish chapter 3 di hari ultahmu ini?
Author: Entah.. Kemarin pengen publish, tapi kelupaan (QAQ) Saya males publish pas malem-malem walaupun semalem saya on sampai jam setengah 11 malam *digampar*
Miku: AAAA! Author! Kau masih ada urusan denganku! *datang bawa pedang negi (?)*
Author: *merinding ketakutan* Yo.. Yosh.. Readers, review, ya! *langsung kabur*
