Sasuke yang tertidur pulas di samping tampak seperti patung yang dipahat langsung oleh para dewa. Naruto melihatnya sendiri dengan kedua netra, sebelum memutuskan untuk bangkit perlahan dari atas kasur karena merasa tidak nyaman tidur bersebelahan dengan pria itu.

Kaki melangkah mendekati jendela, tangan meraih tirai yang menghalau masuknya cahaya ke dalam ruang. Saat wajahnya menghangat karena terpapar sinar secara langsung, si pirang terpejam.

Dia ingat apa yang terjadi semalam. Tidak ada satu pun memori yang hilang, atau lepas. Semuanya begitu jelas hingga mulai membuatnya ragu, membuatnya bertanya-tanya, membuatnya bingung dengan pilihan yang diambil sebelumnya.

'Apa membenci Sasuke pilihan yang tepat?'

Sayangnya, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Netra ber-iris biru kembali diperlihatkan. Pengelihatan menembus kaca jendela, terfokus pada satu titik di bawah sana—pada pedang dan perisai—yang dipersiapkan para prajurit dengan sengaja.

Naruto ingin menyentuh mereka. Merasakan kulit yang melapisi pangkal gagang pedang dengan telapak tangannya, melihat bilah yang memantulkan cahaya matahari, juga mendengar bunyi denting saat kedua pedang beradu.

Dia tersenyum tipis, menyadari benar-benar menginginkan pedang dalam genggam tangan saat ini juga.

Kaki melangkah ke arah pintu, sengaja tidak membuat suara—tidak ingin membangunkan si Uchiha. Namun baru saja telapak tangan merasakan dinginnya permukaan knop pintu, namanya diseru dari arah kasur.

Tahu siapa yang memanggil, Naruto menoleh. Dia melihat Sasuke terduduk di tepi. Ekspresi wajah pria itu datar, dan dingin seperti biasa, tidak ada gelagat aneh yang ditunjukkan juga kecanggungan karena memori semalam.

Semuanya terlihat sama seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Paham apa yang harus dilakukan, si pirang hendak menjelaskan alasannya meninggalkan ruangan, tapi belum sempat mengucap kata tiba-tiba saja pria berkulit pucat itu melangkah mendekat.

"Naruto, ganti pakaianmu. Bantu aku menilai anak-anak yang datang untuk ujian hari ini."

Harusnya dia dipaksa untuk sarapan, harusnya dia dipaksa untuk mengkonsumsi obat juga suplemen yang membuat tubuhnya tidak berfungsi, dan harusnya dia tidak dibiarkan pergi keluar ruangan. Si pirang tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar. Bahkan dia menoleh sekali lagi ke arah Sasuke untuk memastikan.

"Kenapa?" tanya Sasuke tidak nyaman, ditatap oleh netra ber-iris biru si pirang. "Kau lebih mahir menggunakan pedang dibandingkan para prajurit di sini, bukan? Jadi jangan buang waktu, mereka akan datang beberapa menit lagi."

Lidahnya kelu, bibirnya kaku. Tidak ada satu pun suara yang berhasil diucap. Hingga Sasuke pergi lebih dulu meninggalkan ruangan, Naruto masih diam di tempat. Membisu selama beberapa detik.

"Naruto!" seru Sasuke dari luar.

Menoleh ke arah pintu karena terkejut. Detik setelahnya si pirang menyerah dengan seringai tipis di bibir, dan kakinya mulai melangkah mengikuti sang Master dari belakang.

45 menit berikutnya, lapangan yang semula kosong mulai dipenuhi oleh anak-anak kecil berusia 6 hingga 9 tahun dengan baju besi mereka.

Beberapa anak terlihat semangat, juga ada beberapa yang terlihat ragu, dan takut. Dari tepi lapangan Naruto memerhatikan Sasuke yang berdiri di samping rak kayu membagikan pedang.

Melihat mereka, Naruto teringat akan masa kecilnya. Dia sempat tidak ingin mengangkat pedang—membenci, lebih tepatnya trauma. Namun Ino terus memaksa berulang kali. Bahkan sengaja menipunya dengan berpura-pura mati karena diserang oleh binatang buas.

Dia benci memori itu, juga bersyukur di waktu yang bersamaan. Mungkin jika Ino tidak membuatnya kembali mengangkat pedang, dia tidak akan berdiri di sini, dia tidak akan bertahan. Mungkin dia telah lama mati.

"Naruto."

Mendengar namanya dipanggil dia melirik. Mendapati Sasuke menghampirinya dengan pedang di tangan, tubuhnya tidak lagi bersandar pada bangunan.

"Ini," ujar Sasuke menyerahkan pedang.

"Untukku?" balasnya balik bertanya. Naruto tidak menolak, tapi tidak juga terlihat senang. Pedang dua tangan yang diberikan untuknya begitu rapuh, jika dibandingkan dengan miliknya—yang masih ditahan pria itu—tentu kualitas mereka tidak sebanding.

Sasuke bergumam. Seolah tahu isi kepala si pirang dia mengucap, "Kerjakan tugasmu dengan baik, mungkin saja pedangmu akan kukembalikan nanti."

Ditantang seperti itu, Naruto tidak lagi bisa menyembunyikan seringai pada bibirnya. "Hanya melihat bagaimana cara mereka bertaruh, bukan? Itu tidak sesulit menepati janji."

Sasuke memilih tidak menjawab. Dia diam menatap si pirang pergi ke tengah lapangan dengan senyum tipis di bibir, kemudian beralih pada segerombolan anak-anak kecil yang mulai mengerumuninya.

"Berbaris," ujar Sasuke.

Naruto yang berdiri di lain tempat menarik napas, lalu menghembuskannya. Anak-anak yang berbaris tepat di depan, berbeda dengan anak-anak yang berbaris di depan si Uchiha. Entah sengaja atau tidak, tapi dia bisa memastikan semua anak yang berdiri di hadapannya terlihat memiliki ekspresi wajah yang sama—takut, terlihat hampir menangis.

"Kalian tahu bagaimana caranya bertarung?" tanya Naruto, yang direspon anak-anak itu oleh geleng ragu. "Kalian tidak tahu? Master bilang ini ujian! Sebenarnya apa saja yang kalian pelajari selama ini?!"

Dibentak, semua anak serentak memalingkan wajah karena malu hampir meneteskan air mata.

Naruto sadar anak-anak ini tidak sepertinya yang biasa diperlakukan kasar. Merasa bersalah, dia berdeham lalu menunjukkan pedang di kedua tangannya.

"Dengar. Aku tidak tahu seperti apa Master mengajar kalian, tapi aku akan menguji kalian dengan caraku sendiri," ujarnya mencoba menarik perhatian. "Genggam pedang dengan tangan dominan. Tangan kanan atau kiri tidak berbeda, yang terpenting kalian harus mengenggam dengan nyaman. Jika kalian merasa sulit menggenggam dengan satu tangan, kalian bisa mengenggam gagangnya dengan kedua tangan."

Semua anak di barisnya memerhatikan, ada juga yang mulai menirukan. Naruto tahu tidak mungkin mereka bisa melakukannya dengan sempurna dalam satu kali percobaan, karena itu dia mencoba menjelaskan lebih detil lagi.

"Genggam erat gagang pedang dengan jari kelingking, manis, dan tengah. Jari telunjuk dan ibu jari tidak harus begitu erat," ujar si pirang, "Ah! Kau yang di sana sudah benar. Mudah bukan?"

Melihat temannya dipuji, anak yang lain melirik iri. Tidak mau kalah, kali ini mereka lebih fokus memerhatikan Naruto. Bahkan ada yang terlalu iri hingga matanya tidak berkedip saat menatap.

"Tahan ujung gagang pedang kalian tepat di atas pusar, jangan menyandarkan gagang pada perut, beri jarak sedikit," jelas Naruto, "sekarang kalian bisa lihat ujung bilahnya, bukan? Pastikan mereka tetap berada pada posisi setinggi tulang dada hingga tenggorokan kalian."

Beberapa anak mengangguk paham.

Naruto kembali memperlihatkan gerak tangannya. "Saat menyerang angkat pedangmu seolah kau menusuk langit, bawa tangan dominanmu lebih tinggi melewati kedua mata. Perbedaan keduanya, tangan tidak dominan sebagai petunjuk, dan tangan dominan sebagai sumber kekuatan pada pedang. Kalian harus ingat, tangan tidak dominan harus menjadi bayang, bukan inti.

"Sekarang posisi kaki kalian. Posisikan kaki kiri di belakang kaki kanan, atau sebaliknya jika tangan dominan kalian adalah tangan kiri. Fokuskan beban pada kaki yang berada di belakang dan jaga keseimbanganmu. Saat menyerang, kalian mendorong dengan kaki kiri, geser kaki kanan, lalu angkat pedangmu sebelum mengembalikan kaki kiri ke posisi semula," lanjut Naruto.

"Apa aku sudah melakukannya dengan benar?" tanya salah seorang anak, memperlihatkan apa yang dia pelajari di hadapan si pirang.

Naruto menoleh, lalu tersenyum tipis. "Hampir," sahutnya, "kau harus menjaga lengan kanan kalian tetap lurus, tetapi tidak terkunci, lalu tekuk lengan kalian saat mencapai kepala. Kalian tidak ingin lengan yang patah, bukan? Rasanya sangat sakit, aku pernah merasakannya."

Tubuh anak-anak kecil menegang, takut harus membayangkan bagaimana jika lengan mereka patah, juga rasa sakitnya.

Naruto tertawa. "Latih terus serangan kalian. Jangan pernah sekalipun menyerang dengan lemah, ayun dengan kuat! Jika kalian sudah terbiasa menyerang beberapa bagian tubuh, arahkan tepat pada kepala mereka dan tebas le—"

"Naruto!"

Semua mata tertuju pada titik yang sama, di mana sang Master berdiri dengan ekspresi gelap di wajah.

"M-Master," panggil salah satu anak terbata karena takut. Namun Naruto yang melihat si Uchiha hanya bisa memiringkan kepala bingung.

"Apa yang kau ajarkan pada mereka?!" lanjut Sasuke membentak.

"Aku hanya mengajarkan bagaimana caranya bertarung dengan pedang? Mereka terlihat tidak paham tadi," sahut Naruto enteng.

"Aku memintamu untuk menilai bagaimana cara mereka mengangkat pedang, bukan mengajari tehnik bagaimana caranya bandit hutan bertarung! Menebas leher musuhmu dalam pertarungan ilegal hukumnya kecuali jika kerajaan telah memberikanmu izin untuk memenggal mereka!"

Melihat sang Master membentak, seluruh anak di lapangan berteriak ketakutan. Mereka berlari tanpa arah. Ada yang menangis, berjongkok. Bahkan bersembunyi di balik tumpukan kayu.

"Oh," ucap Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal, ditatap tajam oleh si Uchiha.

.

Tali kekang kudanya diikat pada pagar. Mempersilakan si pemilik bangunan dari kayu untuk membuka pintu terlebih dulu, Shikamaru menjaga kakinya untuk tetap melangkah di belakang.

Netranya memerhatikan sekitar. Bangunan di depan terlihat cukup kokoh meski dibuat dari kayu. Paham hutan memang sumber pohon, tapi Shikamaru menyayangkan tidak ada satu pun bangunan yang dilihatnya menggunakan batu sebagai bahan utama.

"Masuk," ujar Ino.

Dipersilakan sang pemilik, kakinya kini lebar melangkah. Melewati pintu utama dia disambut beberapa meja, juga rak dari kayu berisikan alkohol. Jumlahnya tidak banyak, tetapi melihat ini di dalam hutan, itu cukup membuatnya kagum.

"Rum?" tanya Ino.

Shika bergumam mengiyakan. Dia memilih duduk di salah satu meja dekat jendela, lalu bersandar pada punggung kursi. Tidak sampai 5 menit, dia bisa melihat Ino melangkah ke arahnya dengan gelas berisikan cairan berwarna keemasan.

"Nara," ujarnya memperkenalkan diri, "Nara Shikamaru."

Ino tersenyum simpul. Dia duduk di hadapan si Nara dengan tatap penuh ingin tahu. "Apa yang kau lakukan di hutan?"

"Bukankah harusnya itu pertanyaanku? Apa yang wanita sepertimu lakukan dalam hutan seorang diri," balas Shikamaru. Beberapa detik setelahnya, dia menyadari ekspresi Ino menggelap.

"Aku hanya mencari kayu bakar, karena beberapa hari terakhir ini anginnya begitu kencang," jawab Ino.

Shika tahu itu bukan kalimat yang bisa dihitung menjawab pertanyaannya. Namun dia tidak ingin memaksa. "Sekarang giliranku. Aku hanya penjual bibit gandum dari desa sebelah barat, dan aku tersesat."

"Ah," bibir Ino mengucap, "pantas saja aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya."

Shikamaru bergumam. "Kuda milikku itu sangat manja. Dia tidak mau berlari tanpa apel, sedangkan kota masih sangat jauh."

Ino tertawa, "Bagaimana dengan wortel? Aku punya beberapa yang kutanam sendiri di lahan belakang."

Shika tidak akan menolak. Dia memang membutuhkan pakan tambahan untuk kudanya saat ini. "Apa aku boleh membeli? 3 koin perunggu untuk 10 wortel?"

Ino menggeleng. "Anggap saja ini sebagai ganti karena sudah menolongku tadi. Tunggu di sini akan kuambilkan."

Saat wanita itu pergi, Shikamaru mengetuk meja dengan jemari sambil tersenyum tipis. Ino Yamanaka, anak tunggal dari keluarga Yamanaka sang saudagar tumbuhan ilegal, wanita, juga prostitusi anak di bawah umur yang dibebaskan hukum oleh kerajaan beberapa tahun lalu berada tepat di hadapannya. Rambut pirang, iris biru, dan kulit yang cerah. Sketsa wajah Ino saat masih remaja dalam berkas mudah dikenali, karena tidak begitu jauh berbeda dengan wajahnya saat ini.

Shikamaru tahu pencariannya telah selesai.

"Apa ini cukup?" Ino membawa satu ember penuh berisikan wortel. Warna oranye yang begitu segar, terlihat mendominasi seluruh ruangan yang terlihat kusam.

"Terima kasih," Shikamaru menyahut, "kualitas wortel ini sangat baik, kau bisa menjualnya cukup mahal di kota."

Ino tertawa menanggapi. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa pergi ke sana untuk menjualnya."

"Kau tidak punya kartu tanda masuk?" Diam-diam Shikamaru menyelidik dengan pertanyaan. Dia ingin melihat seperti apa ekspresi wajah Ino. Namun wanita itu terlalu sering memalingkan wajah, juga menunduk.

"Tidak. Bukan itu," sahutnya, "Kota terlalu jauh, dan aku tidak punya kuda sepertimu. Wortel-wortel ini pasti membusuk saat aku tiba di sana."

Shikamaru bergumam tanda paham. "Apa kau ingin mencobanya? Aku punya kuda."

Ino terlihat ragu menjawab. Bahkan bibirnya yang sempat terbuka, mengatup lagi di detik selanjutnya.

"Aku bisa mengantarmu ke sana dan mengantarmu pulang," desak Shikamaru.

"Tidak," sahut Ino, "aku tidak bisa, karena tidak ada yang menjaga tempat ini."

"Meski bandit-bandit hutan seperti mereka mengganggumu?"

Tubuh Ino meneggang. Pertanyaan Shikamaru menikamnya tepat di dada. Lidahnya kelu untuk menjawab, dia hanya bisa bungkam dengan telapak tangan menggenggam tepi meja.

"Aku memang membunuh mereka, tapi melihat hutan ini memang sarang para bandit, tidak perlu menunggu lama untuk pria lainnya datang mengganggumu lagi," lanjut Shikamaru.

"Ha ... haha ..., haha," Ino tertawa meski terdengar begitu memaksa. "Aku ..., aku tidak punya pilihan. Lagi pula sejak kecil aku memang tinggal di hutan. Kau benar, mereka memang mengganggu, dan akan terus seperti itu, tapi tidak semua bandit sama seperti mereka."

Shikamaru diam, sengaja membiarkan Ino bicara lebih banyak.

"Aku benar-benar tidak punya pilihan, Shika. Ibuku sakit. Dia memang sering membantuku juga ayah, tapi akhir-akhir ini kondisinya memburuk jadi tidak bisa banyak bergerak, sedangkan ayahku harus terus memastikan pasokan alkohol kami dari kota cukup," jelas Ino.

"Dari kota?" Shikamaru mengernyit.

"Dia membelinya secara sembunyi-sembunyi dari beberapa prajurit, karena kalau tidak bagaimana mungkin bandit hutan seperti kami bisa mendapat pasokan alkohol?"

"Beberapa prajurit, huh?" ujar Shikamaru dalam hati. "Mungkin aku salah, tapi apa ibumu tinggal di salah satu rumah sebelah selatan hutan?"

Ino menatap bingung. "Bagaimana mungkin kau tahu?"

"Kudaku butuh air, dan aku terpaksa meminta air pada ibumu. Dia hanya mengintip, tapi dia memberiku air yang cukup," jelas Shikamaru.

Ino tertawa lega, "Baguslah. Biasanya ibuku sangat membenci orang asing. Seberapa sulit kondisimu dia tidak akan rela membantu. Bahkan jika nyawamu terancam sekalipun."

"Apa dia tinggal sendiri di sana, bagaimana dengamu?" tanya Shikamaru lagi.

"Ayahku kembali beberapa hari sekali untuk menukar baju dan menambah pasokan alkohol, sedangkan aku ..., kau lihat sendiri aku tinggal di sini," jelas Ino.

"Lalu, bagaimana dengan adikmu?"

"Kau mengdengarnya?" Tahu jika pria itu sempat mendengar para bandit menyinggung tentang adiknya, Ino balik bertanya.

Shikamau bergumam.

Ino ragu menjawab, tapi mencoba mengucap kalimat sebisanya. "Adikku ..., adikku yang selalu melindungiku dari pria-pria itu, dia ... dia pergi tiba-tiba tidak tahu ke mana beberapa malam yang lalu. Semua bandit mengatakan dia mati, tapi aku percaya dia masih hidup. Aku benar-benar percaya dia masih hidup! Dia tidak akan mati secepat itu! Dia terbiasa hidup di hutan sejak kecil mana mungkin dia ..., dia... itu tidak mungkin, dan aku tidak akan percaya sebelum melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Shikamaru merasa ada yang ganjil, karena seingatnya dalam berkas disebut Yamanaka hanya memiliki satu anak perempuan. Tidak ada adik, atau anak angkat lainnya.

"Maaf," ujar Ino tersenyum tawar, "tidak seharusnya aku meluapkan frustasiku padamu, Shika."

Shikamaru mengelak cepat. "Tidak. Itu bukan masalah. Aku pergi ke kota hampir setiap minggu, jadi seperti apa rupa adikmu? Siapa tahu aku bertemu dengannya, dan aku bisa memberitahumu tentang itu."

Ino mendongak, ekspresi wajah tampak penuh harap. "Kau benar ..., kau benar Shikamaru! Dia seorang pria, 2 tahun lebih muda dariku. Rambut pirang juga mata sepertiku. Kulitnya kecokelatan, dan namanya..."

Ekspresi Shikamaru yang berubah, tidak menghentikan Ino untuk melanjutkan kembali kalimatnya.

"Namanya Naruto."

.

Suasana di meja makan siang itu terasa begitu tegang, dan canggung. Melihat sang Master tampak tidak senang, semua pelayan yang menunggu di samping memiliki ekspresi serius di wajah.

Naruto tentu tahu itu ulah siapa—itu ulahnya. Dia yang menciptakan atmosfer tidak nyaman di sekitar mereka, juga membuat seluruh menu dari daging, sayur, juga buah segar yang terhidang di atas meja tampak hambar.

Dari tempatnya duduk diam-diam Naruto memerhatikan Sasuke yang hanya menyuap beberapa kali; lebih banyak diam, juga meneguk air. Anehnya meski memiliki ekspresi gelap di wajah, si Uchiha tetap menunggu hingga suap terakhir di piring si pirang habis sebelum bangkit dari atas kursi.

Tahu sang Master hendak pergi, semua pelayan membungkuk sopan. Meneguk habis sisa air dalam gelasnya, cepat-cepat Naruto mengikuti pria itu dari belakang menyusuri lorong. Jujur saja, dia masih belum terbiasa harus mengikuti Sasuke ke mana pun pria itu pergi. Mungkin ada banyak hal yang harus dipelajarinya dari Shikamaru nanti, karena si Nara yang satu itu terlihat jauh lebih patuh darinya.

"Apa kau benar-benar tidak paham tentang peraturan, dan hukum yang berlaku?"

Netra yang semula memerhatikan lilin pada dinding, melirik ke arah depan—menatap punggung si Uchiha. "Siapa? Aku?"

Mendengar pertanyaannya tidak dijawab. Naruto lanjut mengucap, "Bagaimana mungkin bandit hutan sepertiku paham tentang peraturan, dan hukum berlaku yang dibuat kerajaan?"

Sasuke masih diam, ekspresi di wajahnya—dingin dan datar—sama seperti biasa.

"Bandit hutan sepertiku tidak perlu peraturan dan hukum untuk bertahan hi—"

"Kau mungkin bandit hutan dulu, tapi tidak saat ini," potong si Uchiha, "ada beberapa hal yang harus kau pahami selama kau berada di tempat ini, Naruto."

Si pirang bergumam malas menanggapi, dan Sasuke tidak lagi menyahut. Jemarinya yang pucat memutar knop pintu searah jarum jam. Dia melangkah masuk ke dalam—ke ruang kerjanya yang dipenuhi buku.

Suara dibuat bibir si pirang saat mengamati sekitar. Dia tentu familiar dengan tempat di mana dia berdiri saat ini. "Master," panggilnya, "apa kau mau bertaruh sekali lagi?"

Sasuke menoleh, tahu apa maksud dari kalimat si pirang.

"Mungkin anjing yang paham dengan hukum dan peraturan kerajaan tidak buruk juga," ujarnya mengacung kedua pedang. "Aku menang dan kau akan mengembalikan pedang milikku. Sebaliknya jika kalah, aku akan mempelajari semua peraturan dan hukum yang berlaku."

Sasuke yang mulanya tidak tertarik, tersenyum tipis. Dia merasa tidak ada salahnya mengabulkan keinginan si pirang jika memang apa yang ditawarkan padanya memiliki nilai setara. "Satu lawan satu?"

Naruto memamerkan seringai tipis. Pedang di tangan kiri dilempar ke arah Sasuke, dia memposisikan tubuhnya di tengah ruangan. "Satu lawan satu," tegasnya mengulang.

Tubuh berhadapan, mata saling menatap waspada, dan pedang saling mengacung ke arah lawan. Tanpa ada hitungan keduanya tahu kapan harus mulai menyerang.

Denting pertama terdengar saat kedua pedang beradu. Sasuke memutar tubuhnya ke samping untuk mengentak dan mengayun pedang pada detik yang sama. Tahu jarak dengan bilah pedang begitu tipis, tanpa instruksi Naruto spontan melompat ke belakang dengan tawa mengejek.

Keduanya memiliki ekspresi sama angkuh di wajah. Memiliki ekspektasi sama tinggi, juga memiliki keinginan sama kuat.

"Menakutkan," ujar Naruto, menghindar. Tidak balik menyerang karena berusaha untuk tidak berdiri di satu tempat. Sejak awal dia tahu memang Sasuke terbiasa menyerang begitu cepat, dan butuh beberapa detik lagi baginya untuk mempelajari seluruh gerak pria itu.

"Anjing kecil sepertimu harusnya minum susu, lalu pergi tidur," balas Sasuke. Jarak bilah dengan kulit pria itu kurang dari satu senti. Namun sulit baginya untuk benar-benar melukai. Gigi menggertak, dia sengaja memutar tubuhnya seolah menghindar.

Naruto yang melihat, mengira gerak Sasuke melambat karena lelah. Dia mendekat dengan tawa puas di bibir hendak mengayun pedangnya kuat. Namun Sasuke yang sengaja menjebak, lebih dulu memutar balikkan posisi mereka. Kaki mengentak, dia menangkis pedang si pirang ke arah langit-langit ruangan.

Deting kedua terdengar.

"Tch," ucap Naruto, menahan mata pedang yang berjarak tiga senti dari lehernya. "Sial, aku bodoh mempercayai taktik murahan seperti ini."

"Butuh istirahat?" Sasuke meniadakan jarak di antara mereka perlahan. Begitu dekat hingga dia bisa merasakan suhu hangat menguar dari tubuh pria itu.

"Berdua? Wajahmu sangat pucat," balas Naruto menyeringai. Genggam mengerat. Dia mendorong pedangnya dalam satu hentak.

Tubuh membentur rak kayu di belakang cukup keras. Desah pelan menahan nyeri diucap bibir Sasuke yang pucat. Dia berusaha tegap kembali pada posisi semula, sayangnya Naruto yang siap menyerang tidak lagi memberi kesempatan.

Seolah bertukar posisi.

Tubuhnya terpojok pada dinding, kedua lengan terkunci, kaki tidak lagi mampu menahan beban, dengan mata pedang si pirang mengarah tepat ke lehernya yang pucat.

Paham kemenangan sudah dalam genggam. Naruto menyeringai puas. "Jangan lupa tepati janjimu, Master," dia berbisik, tapi belum sempat mendengar respon, tubuhnya ditarik ke dalam dekap tanpa diberi aba-aba.

Kedua pedang jatuh ke atas lantai. Denting ketiga terdengar.

Pupil netra membulat, tubuh Naruto kaku menegang merasakan sensasi yang sama. Suhu pria itu yang jauh lebih rendah darinya seolah memaksa untuk membekukan seluruh tubuh, aroma segar seperti daun mint yang terendus hidung terasa begitu memabukkan, juga helai rambut hitam di permukaan kulitnya yang menggelitik. Memberontak tidak mampu, memprotes lidahnya kelu. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain diam mematung diperlakukan seperti itu.

"Tahan, Shika."

Merasa dekap pada tubuhnya melonggar. Pelan Naruto menoleh paksa ke arah tatap mata si Uchiha tertuju. Mendapati siapa yang berdiri di ambang pintu, dia mengernyit.

Nara Shikamaru, hampir menarik busur dengan tiga anak panah yang mengarah tepat ke arah jantungnya.

"Dia akan membunuhmu," ujar si Nara. Mata tidak berkedip dari sasaran, jemari pada busur melonggar seakan siap melesat kapan saja.

"Tidak," elak si Uchiha, "kami sedang berlatih."

Panah diturunkan disusul permintaan maaf, di waktu yang sama Naruto merasa dekap pada tubuhnya hilang perlahan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan selain diam di tempat memproses apa yang sebenarnya terjadi, tapi saat jemarinya disentuh telapak tangan bersuhu dingin, semua isi kepalanya buyar.

"Ada yang harus kubicarakan dengan Shikamaru, tunggu aku di luar."

Tahu maksud perintah yang didengar, hanya saja belum mampu merangkai kata untuk menanggapi. Selama beberapa detik dia menatap bingung ke arah sang Master, lalu memalingkan wajah paksa dan melangkah ke arah pintu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" ujarnya dalam hati, menatap ruas-ruas jemari yang terasa mulai membeku. "Kenapa dia selalu membuatku seperti ini?"

.

Beberapa buku tegeletak di atas lantai tidak dikembalikan ke dalam rak, beberapa furnitur tidak lagi berada pada tempatnya, juga meja yang semula kosong kini dipenuhi lembar berkas. Dari sisi sebelah kiri, Shikamaru bisa dengan mudah mengamati perubahan ekspresi pada wajah si Uchiha yang jarang terlihat.

"Mereka benar-benar masih hidup, huh?" Sasuke tersenyum sinis. Sedikit memajukan tubuhnya ke arah meja, dia menggunakan lengan sebagai titik tumpu beban. "Siapa yang menyangka jika wanita itu berani mengatakan Naruto adalah salah satu bagian dari mereka?"

Shikamaru membalas, "Kau mungkin menganggapku gila Sasuke, tapi kurasa ada yang ganjil. Naruto tidak mungkin memiliki darah Yamanaka di tubuhnya."

"Aku tahu," sahut Sasuke cepat, "kau pikir aku sebodoh itu? Bagaimana mungkin salah satu anggota keluarga Yamanaka berani menggunakan 'Uzumaki' sebagai nama mereka?"

Shikamaru diam, tahu apa yang diucap bibirnya beberapa detik yang lalu terkesan meremehkan.

"Tidak ada bukti kelahiran Naruto dalam arsip keluarga Yamanaka di kerajaan, baik dari para selir atau nyonya Yamakana sendiri. Kau bilang jarak Ino dan Naruto terpaut dua tahun? Jika memang benar adanya, nama Naruto sudah pasti masuk dalam arsip, karena Yamanaka sendiri dibebaskan dari kota ini saat putri tunggal mereka berusia 14 tahun," jelas Sasuke, "kecuali ..., mereka mengadopsi Naruto setelah tinggal di hutan."

"Aku bisa cari tahu lebih mengenai ha—"

"Tidak perlu," potong Sasuke, "beri jeda sedikit, Shikamaru. Siapa pun merasa sesak jika terus didesak, lagi pula hama-hama yang berani mejual pasok alkohol keluar dari kota harus dibasmi lebih dulu."

Shikamaru bergumam menanggapi. "Aku tahu beberapa prajurit yang rela nyawa temannya ditukar untuk beberapa koin emas. Mereka mungkin terlihat seolah memiliki hubungan erat, tapi dibalik semua itu mereka juga suka memakan bangkai temannya sendiri tanpa ragu."

"Fakta yang menyedihkan, huh?" Sasuke tertawa sinis. "Kerajaan tidak ingin membayar mereka yang dianggap tidak penting cuma-cuma. Semua koin emas yang harusnya dibagi rata disimpan sendiri untuk kepentingan pribadi para anggota keluarga membeli apa pun yang mereka inginkan. Jadi sudah sewajarnya koin emas dijadikan alasan utama para prajurit menjual pasok alkohol keluar dari kota meski itu ilegal, bukan? Aku tidak membenarkan apa yang prajurit itu lakukan, tapi kerajaan juga harus tahu ada konsekuensi dari setiap perbuatan yang mereka ambil."

Shikamaru bertanya, "Apa itu salah satu alasanmu membenci kerajaan?"

Sasuke melirik, bibir tersenyum sinis sebelum mengucap, "Aku hanya benci orang yang berada di dalamnya Shika," ada jeda sesaat, "kau bisa memanggilku munafik karena ..., lihat saja statusku, tapi hanya dengan cara ini aku bisa memantau apa yang terjadi di dalam dan di luar kerajaan tanpa sepengetahuan siapa pun."

Mereka saling menatap. Masuk detik keempat, Shikamaru mengangguk mengerti.

Dia kembali mengucap, "lalu Sasuke, bagaimana dengan Naruto?"

"Untuk saat ini sembunyikan semua tentang Yamanaka darinya. Dia tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan aku tidak membutuhkan lebih banyak opini," balas Sasuke.

"Cepat atau lambat dia pasti mengetahui tentang hal ini, Sasuke. Melihat Ino bicara aku tahu dia benar-benar menganggap Naruto seperti adik kandungnya sendiri," ujar Shikamaru.

"Dia akan hilang kendali," sahut Sasuke cepat. "Jika memang benar Naruto juga menganggap Ino sebagai keluarganya, dia akan hilang kendali. Aku tahu kau bisa membunuhnya dengan mudah, tapi Shika ..., kau juga tahu aku menginginkan Naruto sebagai anak buahku."

"Semakin lama kau merahasiakan ini darinya, akan semakin berbahaya. Mungkin tidak berpengaruh banyak untukmu, tapi bagaimana dengan Itachi? Dia akan kembali ke kota ini beberapa hari lagi dan sudah pasti Naruto akan bertemu dengannya," tegas Shikamaru.

"Tidak," sahut Sasuke, "Aku akan memikirkan cara lain. Jika benar tidak ada lagi pilihan dan keberadaanya mengancam keselamatan Itachi, aku yang akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri. Aku tahu ini sulit, tapi kau tidak perlu khawatir Shika, lakukan saja apa yang kuperintahkan."

Paham seperti apa tugas barunya, Shikamaru membungkuk setengah badan di hadapan sang Master.

"Bawa ke penjara bawah tanah, dan jangan membunuh mereka sebelum kuberi izin."

Tubuh bersandar pada punggung kursi, Sasuke terpejam di dalam ruang kerjanya yang kosong. Menarik napas dalam sesekali, dia menoleh ke arah jendela. Tatap mata kosong lekat mengamati langit yang mendung dan berawan—tidak terlihat adanya sinar matahari.

Tiba-tiba saja dia mengucap pelan, "Itachi."

Ada jeda yang terhitung lama sebelum bibirnya yang kering kembali mengucap, "kenapa semuanya jadi serumit ini? Bagaimana aku bisa memberitahu Naruto?"

.

Tubuh bersandar pada pohon, wajah menunduk, netra terkunci pada batuan kerikil di atas tanah dekat kakinya. Entah sudah berapa lama Naruto berada di posisi yang sama. Lupa menghitung meski tidak ada hal lain yang dilakukan.

Sasuke membuatnya menunggu tanpa diberitahu sampai kapan. Anehnya, dia tidak bisa membantah perintah pria itu.

Terkadang Naruto merasa dirinya tidak lagi sama seperti dulu, dia merasa seperti orang lain yang tidak dikenalnya. Ada hal yang membuatnya tidak lagi bisa bergerak bebas dan dia tidak tahu itu apa. Semakin lama berada di sini, dia sadar semakin sulit baginya memiliki kontrol tubuh sepenuhnya.

Dia takut rasa bencinya hilang.

Tanpa rasa benci dia akan mati. Tanpa rasa benci dia akan melupakan semua kejadian pahit dalam hidupnya, keluarganya, juga masa kecilnya, dan tanpa rasa benci dia tidak akan mampu mengarahkan mata pedang pada pria itu yang bernama Itachi.

Apa Sasuke sengaja membentuknya seperti ini? Apa Sasuke sengaja ingin menjebaknya di tempat ini? Naruto tahu bagaimanapun juga mereka adalah Uchiha dan berulang kali juga dia telah meyakinkan hatinya, lalu mengapa?

Mengapa sentuhan yang diberikan Sasuke padanya terasa begitu tulus? Mengapa memberinya banyak perhatian meski tidak diminta? Mengapa berada di samping pria itu membuatnya meragukan jalan yang telah dipilihnya matang-matang?

Naruto mendongak, "Aku tidak tahu."

"..., um?"

Spontan menoleh, merasakan tarikan yang berasal dari paha sebelah kanan. Untuk beberapa detik Naruto mengeryit melihat ada tangan kecil yang menggenggam celananya.

"Apa yang Master katakan benar? Semuanya?" Ekspresi takut di wajah tidak lagi bisa disembunyikan, tapi dia berusaha keras untuk terus menatap Naruto tepat di netra.

Tersenyum tipis menyadari itu anak didik Sasuke yang dilatihnya cara bertarung tadi. Sedikit membungkuk, lalu Naruto menjawab, "Itu benar."

"Ja-jadi Itu benar? Kau ba-bandit hutan?"

"Benar," sahut Naruto cepat, "aku bandit hutan, seperti apa yang Master katakan."

"Um ..., t-tapi... aku tidak percaya," sahut anak itu, air matanya mulai membendung di sudut.

Sekuat tenaga Naruto menahan tawa, karena dia ingin mendengar lanjutan kalimat yang diucap anak itu. "Huh? Kenapa kau tidak percaya dengan apa yang Master katakan?"

"Ka-kau tidak menculik kami," sahut anak itu pelan, nyaris tidak terdengar. "Cara bertarungmu memang me-menyeramkan, ta-tapi ayah bilang bandit hutan suka menculik anak-anak kecil da-dan ditukar dengan koin emas. Ka-karena kau tidak menculik kami, kau pasti bukan bandit h-hutan seperti apa yang Master bilang."

Menyerah. Tawa Naruto pecah tidak mampu lagi ditahan. Baru kali ini dia bisa benar-benar tertawa mendengar pernyataan yang sangat bodoh. Namun menghibur menurutnya.

"Apa aku mengatakan hal yang lucu?" Ekspresi takut, digantikan oleh ekspresi bingung. Sambil mengernyit, dia menyentuh lengan Naruto memastikan.

"Tidak," menjawab sebisanya sambil memalingkan wajah. Naruto tidak mampu melihat wajah anak itu, karena dia tidak ingin tertawa lebih keras.

"La-lalu kenapa kau tertawa?" tegas anak itu.

Menarik napas dalam disusul berdeham paksa, Naruto menoleh kembali pada si anak untuk mengusap puncak kepalanya. "Karena kau tidak menganggapku seperti bandit lainnya."

Merasakan sentuhan lembut, si anak menunduk dalam menyembunyikan ekspresi di wajah. "Jadi kau benar-benar bandit ya?"

Naruto bergumam mengiyakan.

"Kau tidak seperti mereka," bibirnya yang kecil mengucap pelan penolakan yang terakhir, lalu dia mendongak menatap si pirang. "Master pasti kesal jika mendengar ini, tapi caramu bertarung menurutku sangat keren."

"Terima kasih," sahut Naruto memamerkan cengir lebar, "aku bisa mengajarimu trik lainnya, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Master atau dia akan memberiku hukuman."

Seolah paham, si anak mengangguk cepat. "Hm! Aku tidak akan memberitahu siapa pun soal ini!"

Naruto tertawa, mengacak rambut anak itu dengan jemarinya. "Kau sendirian di sini? Di mana temanmu yang lain?"

"Mereka sudah pulang," sahutnya.

"Huh?" Naruto membuat nada bingung, "kau tidak pulang ke rumah?"

Anak itu menggeleng. "Aku harus berlatih untuk menyambut Uchiha Itachi datang!"

Ekspresi di wajah Naruto tidak lagi sumringah. Menggertakkan gigi, tatap matanya menajam. "Uchiha Itachi datang?" tegasnya.

"Mnn! Tuan Itachi kembali dari Suna setiap minggu kedua pada bulan kesembilan, dan dia akan menghabiskan sisa tahunnya di sini," anak itu menjelaskan, lalu memajang cengir lebar saat bahunya ditepuk si pirang.

"Kalau begitu lakukan dengan baik," ujarnya,"aku akan pergi supaya tidak mengganggu waktumu berlatih."

Balas melambaikan tangan, sebelum kakinya melangkah ke arah gerbang utama. Naruto menyeringai, menyadari info yang selama ini dicari berhasil didapat begitu mudah. "Selama ini Itachi ada di Suna? Tentu saja, aku sangat bodoh percaya dia berada di kediaman Uchiha, mana mungkin pria sepertinya berada di satu tempat dalam jangka waktu yang lama. Jadi, minggu kedua bulan kesembilan, huh? Itu tidak lama lagi."

Melihat tidak ada para prajurit yang berjaga di depan gerbang, kakinya tidak peduli untuk berhenti melangkah meski Sasuke melarang.

Menyusuri jalan utama, netra melihat sekitar. Dulu di hutan yang dilihatnya hanya pepohonan hijau, tidak banyak dihuni manusia, apalagi bisa mencium aroma daging segar yang dipanggang seperti di hadapannya saat ini.

Perut berbunyi minta diisi, Naruto melangkah menghampiri wanita tua yang menjajakan daging panggang di depan rumahnya. Dia merogoh saku, hanya tersisa dua koin emas di sana—uang terakhir yang dimiliki. Satu keping diambil, ditukar dengan daging panggang yang masih mengepulkan uap putih tipis.

"Terima kasih," wanita tua mengucap, dia megembalikan tujuh koin perak pada si pirang sambil tersenyum ramah.

Mengunyah sambil berjalan, Naruto benar-benar menunjukkan sifat natural para bandit dengan bangga. Dia tidak peduli meski ditatap jengkel, atau mendengar bisik cerca dari para ibu yang membawa anak mereka. Pertama kali tanpa Sasuke ingin dinikmati sebaik-baiknya, dia benar-benar beruntung pria pucat itu memiliki banyak pekerjaan penting hari ini.

"Ugh," bibirnya membuat suara tanda puas. Sisa daging beserta tulang dilempar ke sembarang tempat, yang langsung disambar anjing liar kelaparaan.

Naruto menarik napas dalam merasakan begah di perutnya. Memerhatikan sekitar, lalu menaikkan sebelah alis menyadari beberapa gadis diam-diam melirik pandang ke arahnya. Ada yang tersipu, tersenyum ramah, juga mengikik malu.

"Ino tidak mungkin bisa terlihat seperti mereka," ujarnya dalam hati, mengingat Ino tidak pernah merias wajah, mengenakan pakaian bagus, juga menata rambutnya yang panjang.

"Aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya."

Sontak menoleh karena terkejut. Naruto refleks melangkah mundur tiga kali ke belakang melihat sesosok wanita rambut merah muda tersenyum tepat di hadapan wajah.

"Tidak perlu kaget seperti itu, aku sedang tidak mencari pelanggan." Wanita itu tertawa geli. Kelopak matanya menutup menyembunyikan iris yang sewarna dengan batu giok.

Naruto membalas, "Kau salah satu dari mereka?"

"Memangnya kenapa kalau iya?" Wanita itu balik bertanya, "kau mau menjadi pelangganku hari ini?"

Tidak menjawab karena tidak tertarik. Naruto menepi, lalu lanjut melangkah. Dia mengira wanita itu akan pergi. Namun duganya salah saat merasakan peluk erat pada lengan kiri.

"Jangan pergi!" pinta wanita itu dengan nada manja, "kau belum menjawab pertanyaanku. Kau juga belum tahu namaku, usiaku, dan lingkar da—"

"Aku tidak ingin tahu," jawab Naruto memotong. Dia menarik lengannya, tapi peluk erat si wanita begitu sulit dilepas.

"Namaku Haruno Sakura, 26 tahun, dan lingkar dadaku tu—"

"Kau lihat? Aku tidak punya koin emas." Naruto merogoh saku, memperlihatkan betapa tidak berhartanya dia dengan harap wanita itu berhenti mengganggu.

Mendengar respon si pirang, Sakura lagi-lagi tertawa geli, "Siapa bilang aku menginginkan koin emas?"

Naruto mengernyit.

"Kau tidak berasal dari sini, bukan?" tanya Sakura, volume suara dipelankan hampir berbisik, "aku melihatmu keluar dari gerbang itu, jadi hubungan seperti apa yang kau miliki dengan Master?"

Peluk pada lengan ditepis kasar, Naruto menatap bingung ke arah Sakura yang berdiri tepat di sampingnya. "Siapa wanita ini?"

"Jangan menatapku seperti itu," Sakura tersenyum ramah, "siapa pun pasti bisa menebak dengan mudah dari penampilanmu. Tidak ada prajurit yang mengenakan pakaian kasual, dan tidak ada 'orang biasa' yang memiliki akses semudah itu."

"Master memintaku untuk mengawasi kuda-kuda dalam kandang." Tidak punya pilihan, Naruto mencoba menyusun skenario buatan di kepala. Mulanya dia ragu, tapi melihat bibir Sakura membentuk huruf 'o' sebelum mengangguk paham, dia menghela napas pelan. "Maaf, aku harus kembali untuk memberi pakan kuda-kuda itu."

Baru saja hendak pergi melangkah, tanpa disengaja sudut netranya menangkap sosok familiar yang berjalan dari arah berlawanan.

"Shikamaru?"

.

Continued