Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre: Family, Hurt/comfort, Slice of Life, Romance, Drama

Pairing: Naruto & Hinata

Warning: Typo(s), Banyak kesalahan, Penuh kekurangan, Kamu bisa memilih untuk 'kembali' dari pada harus terjerumus pada lubang bernama kisah ini.

Liekichi-chan

Proudly Presents

つないだ手

"Hima, ayo buka mulutmu sayang. Kau belum makan sejak kemarin malam."

Gadis kecil itu masih bungkam. Tatapannya menerawang jauh dan terlihat sangat kosong. Tidak seharusnya gadis sekecil dirinya memiliki mimik wajah demikian.

"Hima, tolong dengarkan ayah. Ayah tidak ingin kau sakit. Ayah mohon ya~ sedikit saja asalkan ada makanan yang masuk kedalam perutmu."

Sang ayah masih mencoba merayunya, tapi gadis itu tak bergerak sama sekali. Bahkan melirikpun tidak.

"Hima, tolonglah. Kalau kau sakit ayah tidak tahu harus bagaimana." Tatapan pria itu terlihat sangat lemah. Walau sang ayah sudah mengemis berkali-kali, gadis kecil itu tetap tak mengindahkan ucapan tersebut.

Naruto menatap nanar wajah putri kecilnya. Hatinya berdenyut sakit tiap kali mengingat kejadian dimana Himawari harus dipisahkan dari kakaknya, Bolt. Dia benar-benar tak habis pikir dengan keputusan Hinata.

Tangan hangatnya menyentuh wajah mungil milik Hima dan lantas mengusapnya pelan. Suhu tubuh Himawari terasa sangat dingin. Bibir kecilnya pucat.

Pria itu masih mencoba untuk menahan gejolak di dadanya. Rasa sakit yang mendenyut dan membombardir seluruh rongga dadanya benar-benar sudah diambang batas. Jika dirinya bisa berteriak ia pasti sudah lakukan hal itu sejak tadi. Tapi ia masih harus bertahan. Untuk putri kecilnya dan juga untuk keluarganya.

"Hima, ayah mohon makanlah."

"…"

"Sedikit saja."

"Ayah~"

Suara serak milik Himawari menyapanya perlahan. Demi Tuhan Naruto merasakan pandangannya mengabur ketika putrinya memanggilnya. Himawari masih terlalu kecil untuk menerima beban seperti ini.

"Iya?"

"Hima sedang tidak ingin makan."

Bahu kekar miliknya melemah seketika. Semangat yang ia punya mengudara detik itu juga.

"Apa ayah juga sudah makan?"

"Sudah, sayang." Jawaban itu lebih terdengar seperti bisikan lemah.

"Ayah tidak bekerja hari ini?"

Naruto tertegun. Himawari memang sedang berbicara dengannya. Hanya saja, tatapan putrinya itu tidak sedikitpun tertuju padanya. Dia menatap lurus kedepan.

Piring berisi nasi yang sejak tadi berada pada sanggahan tangannya, kini ia letakkan diatas meja yang berada tepat disamping tempat tidur Himawari. Pria itu mencoba untuk mencari titik fokus amatan Hima.

Buku? Boneka? Ah, tidak! Terlalu banyak benda dan mainan yang teletak pada lemari kaca minimalis yang ada tepat dihadapan Himawari. Dan pasti bukan itu hal yang menarik perhatian putrinya.

Naruto mengguncang pelan bahu kecil Himawari. Dirinya masih berusaha untuk membuat Hima kecil kembali penuh pada kesadarannya.

"Ayah tidak akan bekerja hari ini kalau Himawari tidak mau makan."

Padahal sebenarnya ia sudah menyuruh tangan kanannya untuk menghandle pekerjaan kantor. Mana mungkin meninggalkan si bungsu dalam keadaan seperti sekarang.

"Bagaimana kalau Hima tidak ingin makan sampai besok, lusa, dan seterusnya yah?"

"Hima! Tidak boleh seperti itu!" Suaranya sedikit meninggi. Naruto sangat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya.

"Ayah, kenapa Ibu tidak tinggal dengan kita?"

Bertubi-tubi. Tiap pertanyaan yang muncul dari bibir mungil Himawari membuatnya merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Sang Ayah tidak mampu menjawab. Dia hanya diam tak berkutik sedikitpun.

"Kenapa Ibu tidak membawa Hima juga? Apa Ibu membenci Hima?"

'Hentikan'

"Ayah, apa selama ini Hima sangat nakal? Hima sudah sering tanyakan ini kepada Ayah. Tapi Ayah selalu bilang kalau Hima bukan anak nakal. Lalu kenapa Ibu tidak ingin bersama Hima?"

"…"

"Ayah, kenapa ayah diam saja?"

'Sudah!'

"Yah, kapan kita akan piknik bersama lagi? Lalu setelahnya mengambil foto yang seperti itu lagi."

Naruto membalikkan tubuhnya. Tangan Himawari terangkat dan menunjuk pada sebuah figura yang tanpa ia sadari ternyata menjadi objek amatan gadis kecilnya sejak tadi. Itu adalah foto keluarganya. Hinata, Himawari, Bolt dan dirinya sedang tersenyum sangat bahagia pada foto tersebut.

Pria itu bergetar. Belum hilang satu rasa sakit, kini harus bertambah lagi.

Himawari mengeluarkan air matanya. Tapi dia tidak terisak sedikitpun dan hal itu yang membuat Naruto semakin tidak tahan dengan semua yang terjadi didepan matanya. Dia ingin memeluk Himawari hanya saja tubuhnya terasa kaku.

"Ayah, Hima rindu dengan kakak dan Ibu."

'Cukup.'

"Ayah, Jangan meninggalkan Hima ya."

'Mana mungkin.'

"Ayah, kenapa disini rasanya sakit sekali?" Gadis kecil itu menyentuh dada kiri miliknya yang terasa mendenyut hebat.

*つないだ手*

"Bolt, kenapa kau belum tidur? Ini sudah sangat larut. Kau harus beristirahat agar besok keadaanmu segar saat berada disekolah." Tangan halusnya membelai surai jabrik sang putra dengan manja.

Blonde.

Warna yang diturunkan secara genetik dari Naruto.

Untuk sesaat wanita itu menyeringai. Kenapa justru warna tersebut yang dominan dan menjadikan gen warna rambut yang ia miliki resesif dalam diri Bolt.

Bolt hanya tertunduk dalam dan menikmati belaian sayang yang diberikan oleh ibunya. Untuk sesaat ia mengingat sosok Ayah. Memang, ayahnya itu bukan tipikal yang akan membelainya penuh manja begini. Bahkan bisa dibiang ayahnya pasti akan lebih memilih untuk mengacak agak kasar rambut miliknya untuk menunjukkan rasa sayangnya. Tapi walau demikian, dia sangat suka ketika ayah melakukannya. Seperti mengalirkan semangat yang sangat luar biasa.

"Bolt, apa kau marah pada Ibu?"

Bolt tidak menjawab sama sekali. Hanya saja tangan kecilnya yang mencengkram sprei tempat tidur sudah lebih dari cukup untuk menjadi jawaban bagi Hinata.

Lelaki itu masih belum menatap Hinata. Tubuhnya bergetar menahan tangis yang hampir tumpah.

"Maafkan Ibu. Tapi untuk saat ini, lebih baik begini Bolt. Tidak ada gunanya berada dalam satu atap yang sama dengan Ayahmu kalau pada akhirnya dia tidak bisa mengerti."

"SIAPA YANG TIDAK BISA MENGERTI BU? IBU MEMISAHKAN AKU DARI HIMAWARI DAN DARI AYAHKU! MASALAHNYA TIDAK AKAN SELESAI KALAU AYAH DAN IBU TIDAK MENCOBA MENYELESAIKANNYA!" Kilatan amarah terlihat jelas pada kedua mata putranya. Suaranya terdengar sangat nyaring dan sampai bergetar ketika mengucapkan kalimat panjang tersebut.

Hinata terkejut mendapatkan reaksi yang demikian dari Bolt. Tidak, putranya bukan tipikal yang seperti ini. Dia mendidiknya dengan baik, dengan sabar, dan dengan penuh kelembutan. Bolt tidak akan menjadi seperti yang sekarang ini.

"Bolt, apa-apaan tatapanmu itu? Kenapa kau semarah itu dengan Ibu?"

Wanita itu memegang erat dadanya. Begitu sakit mendapatkan bentakan lantang dari putra sulungnya.

Sedetik kemudian lelaki itu menyesal dengan perlakuannya terhadap sang Ibu. Tapi ia tak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi. Pertama-tama Ibu tidak ingin bertemu dengan Ayah, lalu setelahnya Ibu memisahkan dirinya dan Himawari. Lalu selanjutnya Apa?

Bolt mengambil tangan ibunya dengan perlahan lalu ia letakkan pada sebelah pipinya. Airmatanya sudah mengalir dan tubuhnya juga sudah bergetar sangat hebat. Mata biru lautnya memberanikan diri untuk menatap langsung pada mata sang Ibu. Dia masih mencoba untuk mengatur nada bicaranya.

"Bu, terimakasih sudah menjaga Aku dan Himawari selama ini. Ibu mendidik kami dengan sangat baik." Nafas Bolt tersengal. Air matanya tidak bisa berhenti.

"Aku sangat menyayangi Ibu dan Ayah. Begitu juga dengan Himawari."

Hinata berani bersumpah bahwa ini adalah kali pertama Bolt terlihat sekacau ini. Tapi dirinya masih belum bisa untuk membaik. Sejujurnya ia sudah sangat tidak ingin mendengarkan ucapan Bolt karena takut akan goyah.

Berkali-kali ia mencoba menarik tangan miliknya dari genggaman kecil milik Bolt, tapi saat itu pula Bolt kembali menggenggamnya semakin erat dan menahannya untuk tak pergi.

"Ibu, tolong dengarkan aku."

Abu-abu rembulan milik Hinata kembali mendung. Ia benci dengan genangan air yang menyamarkan penglihatannya tersebut.

"Selama Ibu dirawat dirumah sakit, ayah menjalankan tugas gandanya dengan sangat baik."

"Sudah Cukup! Ibu tidak ingin dengar apapun Bolt. Hentikan!"

"Setiap pagi ayah membuatkan sarapan dan mempersiapkan bento untuk kami, lalu mengantarkan kami kesekolah, setelahnya ayah masih harus bekerja keras di kantor. Kemudian ketika pekerjaannya sudah selesai, ayah akan datang untuk menjemput kami dari sekolah. Lalu ketika malam datang, ayah akan membantu aku dan Himawari untuk menyelesaikan tugas sekolah. Walau ayah juga memiliki tugas berat dari kantor, tapi ayah tetap memberikan waktunya untuk kami, bu."

Bolt menatap dalam kedua bola mata ibunya. Dia menangis.

"Walau Ayah tidak sesempurna Ibu, tapi Ayah tetap berusaha melakukan yang terbaik. Ayah tidak pintar memasak, tapi dia selalu berusaha bangun di pagi hari lalu membuatkan kami sarapan. Masakan Ayah juga tidak seenak masakan Ibu, tapi entah kenapa setiap kali memakan masakan Ayah aku merasakan cinta dan pengorbanan Ayah untuk kami."

Hinata benci dengan perasaannya saat ini.

"Ayah juga tidak terlalu tahu tentang apa yang aku dan Himawari sukai dan tidak sukai. Beberapa kali ayah meletakkan seledri pada telur gulung milik Hima, tapi Hima akan tetap memakannya. Ayah juga terkadang memasak makanan terlalu asin sampai-sampai aku nyaris mengeluarkan air mata tiap kali mengunyahnya."

"Itu karena Ayahmu tidak pernah peduli pada kalian!"

"Bu, kalau Ayah tidak pernah peduli pada kami, mungkin Ayah sudah menelantarkan kami dirumah. Tanpa makanan, tanpa perlindungan apapun, dan tanpa rasa sayangnya sedikitpun-"

"Tapi Ayah, tidak peduli selelah apapun dirinya saat pulang dari kantor, dia akan tetap menyusul kami ke tempat bibi Tsunade. Dia akan tetap menggendong Himawari untuk masuk kedalam mobil karena takut Hima akan terbangun dari tidurnya." Bolt sesenggukan hebat ketika mengingat perjuangan Ayah untuk mereka. Dia hanya berharap agar Ibunya luluh.

"Walau ayah tidak bisa membacakan dongeng sebaik yang selalu Ibu lakukan selama ini, tapi Ayah akan tetap melakukannya tidak peduli sekalipun aku mengatainya jelek, tidak menarik dan hal lainnya yang memojokkan ayah. Ayah juga tidak tahu tentang kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan sebelum tidur. Seperti menggosok punggung Hima ataupun mengusap dahiku saat aku susah tidur. Ayah sama sekali tidak mengerti tentang hal itu, bu! Tapi dia tetap berusaha dan belajar untuk mendapatkan hati kami."

Wanita itu merasakan cairan hangat yang mulai mengaliri pipinya. Bolt sudah hampir kehilangan suaranya untuk menjelaskan semua pengorbanan yang dilakukan oleh Naruto untuk mereka berdua. Dia tahu bahwa putra sulungnya berkali-kali meredam rasa sakit yang timbul dari dalam dadanya.

"Ayah itu sangat tidak teratur, semberono, dan suka ngebut di jalan. Tapi walaupun seperti itu, dia adalah Ayah terbaik dalam hidupku, bu."

Lelaki itu memeluk ibunya dengan sangat lemah. Tenaganya hampir habis, nafasnya terengah, matanya juga sudah terasa sangat berat. Dia kelelahan hebat.

"Tolong jangan pisahkan aku dari ayah, bu. Aku membutuhkannya."

Masih belum, dia masih belum selesai untuk menceritakan kepada Ibu tentang sosok Ayah yang sangat dicintainya. Jika dengan memeluk Ibu bisa sedikit memberinya kekuatan, dia pasti akan lalukan agar bisa melanjutkan kalimatnya.

"Ketika kami tidak disiplin, mungkin Ibu akan menasehati kami dengan lembut. TapiAyah? Dia akan memberikan hukuman agar kami tidak mengulanginya lagi. Dan itu adalah saat-saat yang sangat membahagiakan."

"…"

"Ada hal yang hanya Ayah saja yang bisa lakukan. Aku menyayangi Ayah sebagaimana rasa sayangku kepada Ibu. Jika harus memilih salah satu diantaranya, aku tidak akan bisa."

Kepalanya sedikit terangkat, kemudian menatap wajah Hinata yang sudah dibanjiri oleh airmata.

"Jika Ayah adalah paru-paruku, maka Ibu adalah jantungnya. Aku tidak akan bisa bertahan hidup jika harus kehilangan salah satunya. Aku membutuhkan keduanya untuk tetap hidup."

"A-ayahmu itu-"

"Dan jika Ibu masih bersikeras bahwa Ayah tidak akan bisa diibaratkan sebagai paru-paruku, tidak apa. Ibu boleh menjadi keduanya. Tapi Ibu jangan lupa, Ada yang melindungi keduanya bu."

Bolt kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Dia sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya.

"Padahal kami baru saja merencanakan petualangan yang akan datang. Kami ingin melakukannya dengan Ibu juga-"

"Bu, Ayo makan eskrim bersama dengan Ayah dan Hima."

Tes~

Air matanya lagi-lagi jatuh.

"Tolong jangan membenci Ayah."

Pelukan Bolt mulai mengerat lagi pada tubuh Ibunya.

"Dan juga, Hima tidak akan bisa hidup tanpa Ibu. Setiap malam dia mengingau dan ingin dipeluk oleh Ibu."

Hinata membatu karena ucapan putra sulung yang berada dalam rengkuhannya.

"Kenapa Ibu lebih memilihku untuk bersama Ibu? Himawari jauh lebih membutuhkan Ibu."

Hujan masih turun diluar sana. Udara juga terasa sangat dingin.

"Apa ibu masih ingin terus menghukum Ayah? Ayah sudah terlalu lelah selama ini. Mungkin Ayah pernah sangat mengecewakan Ibu, menyakiti Ibu sampai rasa sakitnya tidak bisa diobati. Tapi kalau boleh, apakah aku bisa menggantikan posisi Ayah untuk dihukum?"

Wanita itu menggigit bibirnya sendiri. Dia membekap mulutnya sekuat mungkin.

Hinata – wanita itu tidak mengerti tentang apa yang dipikirkan oleh duplikat Naruto ini.

"Apa yang sudah Ibu lakukan, sama dengan membunuh aku dan Hima secara tidak langsung."

*つないだ手*

"Hei, apa kau melihat Himawari?"

"Tidak, aku tidak lihat."

"Kalau kau? Apa ada melihatnya hari ini? Selama istirahat makan siang tadi aku tidak melihatnya."

"Kau ini aneh sekali! Dari kemarin kau sibuk mencari adikmu. Kalian kan tinggal satu rumah, kenapa bisa tidak tahu keberadaan adikmu sendiri sih?"

"Berisik kau! Aku cuma tanya kau lihat atau tidak? Tidak usah ikut campur!"

"Tidak lihat!"

Langkah kakinya kembali berjalan tergesa pada ruangan kelas.

"Hei, apa kau melihat Hima?"

"Tidak kak. Himawari sudah 3 hari tidak masuk sekolah."

"A-apa? K-kau bercanda kan?"

"Loh, memangnya kakak tidak tahu? Hima sudah tidak masuk sekolah dan tanpa ada pemberitahuan pula. Aku pikir kedatangan kakak kesini adalah untuk memberikan surat izin sakitnya atau memberikan keterangan lain perihal tidak masuknya Hima."

"Ti-tidak, aku…"

Untuk sesaat lidahnya terasa kaku. Bolt tahu adiknya bukanlah orang yang malas untuk berangkat ke sekolah. Dia hanya takut kalau perasaan buruk yang bersarang pada pikirannya ternyata adalah sebuah kenyataan.

"Ba-baiklah. Terimakasih sudah memberitahu."

"Iya kak, sama-sama. Tapi kalau boleh, tolong beritahu kepada sensei kenapa Himawari tidak masuk ya kak. Soalnya sensei sudah marah."

"Hm~"

Dia bahkan tidak tahu apapun tentang sang adik sekarang.

*つないだ手*

Tangannya bergerak lemah. Sesuap, dua suap, tiga suap nasi dengan katsu curry ia masukkan secara langsung kedalam mulutnya hingga menyebabkan gembungan hebat pada wajah cantik tersebut. Seketika rasa nyeri pada kulitnya terasa menjalar sangat hebat. Mulutnya serasa dikoyak secara paksa.

Ia merasakan bahwa masakannya terasa sangat aneh. Terkadang terkecap rasa asin dan manis yang tidak tercampur secara merata. Benar-benar tidak seimbang sama sekali. Potongan wortel yang menjadi bahan campurannya pun juga memiliki tingkat kematangan yang kacau. Dia heran mengapa Bolt masih bisa memakan masakan mengerikannya ini dengan sangat lahap pagi tadi.

Hinata mengunyah makanan itu secara cepat, lalu ia telan paksa seperti gumpalan kertas yang menyangkut dikerongkongannya. Sangat sakit.

Sudah siang hari, tapi makanan yang ia telan itu bukan hanya sebagai pemenuh kebetuhan perut untuk makan siangnya. Tetapi juga untuk makan paginya. Entah kenapa ia merasa sangat malas untuk makan, padahal sudah jelas Hanabi mengatakan bahwa dia membutuhkan banyak nutrisi untuk memulihkan tenaganya.

Bolt berkata padanya bahwa hari ini ia akan pulang lebih lama karena harus mengikuti pelajaran tambahan. Itu sebabnya Hinata masih berdiam diri dirumah dan masih belum bergegas untuk menjemput putra sulungnya tersebut.

Sekarang, lebih baik berjalan di daerah masing-masing.

Bolt dengan dirinya. Dan Himawari dengan ayahnya.

Hinata menyudahi makannya. Ia merasa malu dengan karyanya hari ini. Benar-benar sangat menyedihkan. Tidak enak sama sekali.

Wanita tu membereskan sisa makannya dengan segera. Ia mengumpulkan beberapa piring dan gelas kotor untuk kemudia ia cuci.

Suasana rumah terasa sangat sunyi. Hanabi sudah berangkat ke rumah sakit sejak dua jam yang lalu. Dan sekarang hanya ia seorang diri yang berada didalam rumah besar itu.

'Bu, tim sekolahku gagal menjadi juara di turnamen sepak bola.'

Hinata terngiang akan kalimat Bolt beberapa hari yang lalu. Wajahnya tertunduk lesu ketika pulang bertanding.

'Tapi aku tidak terlalu sedih dengan kekalahan itu. Yang jauh membuatku lebih sedih adalah karena Ayah dan Ibu tidak bisa melihatku bermain. Rasanya sangat iri sekali melihat teman-teman menunjukkan kemampuannya di depan kedua orang tua mereka masing-masing.'

Mengerjapkan matanya secepat kilat, ia lantas menyelipkan surai panjangnya kebelakang telinga. Ucapan Bolt tidak boleh merusak konsentrasinya.

'Sementara aku?'

Wanita itu mempercepat langkahnya saat akan menuju ke ruang tengah. Suara Bolt masih terus merajai pikirannya tanpa henti.

'Aku hanya sendiri, bu. Rasanya sangat sepi walaupun ada begitu banyak orang disekelilingku.'

Masih ada banyak keraguan yang mengganjal direlung hatinya, tapi akal sehatnya benar-benar seperti sudah ditelan oleh kebencian. Tidak tahu sudah berapa kali Bolt memohon kepadanya agar kembali dengan Naruto. Tapi entah kenapa, wanita tidak bisa menerima permohonan si sulung.

Dia tetap bertahan dengan pendirian yang ia ciptakan sendiri. Entah orang-orang akan menilainya sebagai Ibu yang egois, dia tidak peduli. Setidaknya untuk kali ini saja, dia akan mempertahankan keteguhan hatinya.

Hinata menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Semua acara televisi yang ia tonton terasa sangat membosankan. Seluruh koleksi majalah yang sudah ada ditangannya pun hanya menjadi objek yang hanya dirinya bolak-balik tanpa tujuan yang jelas.

"Ada apa denganku?"

Wanita itu bergumam lemah.

"Semakin aku mengulur waktu, aku hanya akan semakin goyah saja. Lebih baik diputuskan dengan segera."

*つないだ手*

Hinata mengecek kamar Bolt sekali lagi. Wanita itu harus memastikan agar putranya tidur dengan nyenyak. Bolt sedikit berubah sejak kejadian itu. Dia menjadi irit kata-kata.

Tangannya menyentuh pelan pipi milik putranya. Ia mengelusnya dengan sangat sayang sebelum akhirnya memberi kecupan selamat tidur untuk Bolt. Tak lupa memperbaiki selimut yang sedikit berantakan.

Bolt tidak boleh sampai masuk angin, itulah yang Hinata pikirkan.

"Hari ini kau pasti sangat kelelahankan? Tidurlah yang nyenyak." Sang Ibu sekali lagi memberikan kecupan pada pelindungnya. Kali ini tepat didahinya.

Kriiing…

Telepon berdering keras memecah kesunyian.

Hinata bergegas keluar dari kamar putranya kemudian menutup daun pintu ruangan itu dengan sangat perlahan. Tidur Bolt tidak boleh terganggu. Dia harus beristirahat dengan cukup.

Kriiing…

Langkahnya agak tergesa menuju tempat telepon.

Kriiing…

"Moshi-moshi~"

Ia menjawab panggilan. Wanita itu sedikit menutup ujung telepon, lalu menguap pelan. Matanya melirik pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh menit. Ini sudah terlalu larut.

Padahal sebenarnya ia berencana untuk masuk kedalam kamar setelah mengecek keadaan Bolt tadi. Hanya karena telepon rumah yang terus berdering keras, mau tidak mau ia harus mengangkatnya.

Suara diujung sana masih belum menjawab.

"Moshi-moshi~"

Hinata masih menunggu dengan sabar.

"Moshi-mos-"

"Hinata, Ini aku. Tolong jangan tutup teleponnya. Aku mohon."

Darah Hinata berdesir mendengar suara itu. Ya, suara milik Naruto.

'Untuk apa malam-malam begini menelepon ke kediamannya?' batin Hinata berperang.

Pria diujung sana dapat mendengar dengan jelas helaan berat nafas Hinata, begitu juga dengan suara gerakan tangannya yang seperti ingin menutup telepon darinya.

"Hinata aku mohon kali ini saja. Tolong dengarkan aku."

Wanita itu masih belum menutupnya. Ia hanya menjauhkan gagang telepon dari telinganya. Tapi itu hanya terjadi beberapa puluh detik saja, sebelum akhirnya ia mengembalikan telepon itu tepat pada daun telinganya.

Suara Naruto benar-benar terdengar lemah. Pria itu mengemis pada dirinya.

"Aku tahu kau disana, Hinata. Aku tahu itu. Aku mengerti dengan semua sifatmu. Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu kau akan mendengarkanku. Aku percaya padamu."

Perkataan itu terdengar tulus dan jujur.

Hinata merasakan matanya memanas. Dadanya berdegup dengan kencang antara menahan amarahnya dan meredam rasa rindu yang sebenarnya menyeruak kepermukaan ketika mendengar pria itu memanggil namanya.

Inilah alasan kenapa dia membenci sisi lemahnya sendiri.

Dan inilah alasan kenapa dia harus menjaga jarak dengan Naruto.

Dia benci jika harus menjadi lemah seperti orang bodoh.

"Hinata, tolong maafkan aku karena mengganggu istirahatmu malam ini. Aku minta maaf ~ Hah…"

Tarikan nafas panjang terdengar semakin jelas. Suara Naruto juga terdengar lebih berat dan tersendat. Sangat berbeda dari biasanya.

Hinata hanya diam. Dia tidak menanggapi Naruto sedikitpun.

"Tidak apa kalau kau membenciku. Orang sepertiku memang sudah seharusnya dibenci oleh wanita sebaik dirimu. Jika dengan melakukan ini bisa membuat rasa sakitmu berkurang, maka aku siap menerimanya dengan seluruh hatiku."

Yang Naruto tahu bahwa Hinata tidak bisa melihatnya saat ini. Jadi dia bebas mengekspresikan mimik wajahnya.

"Sudah aku katakan berulang-ulang. Kau boleh membenciku dan melakukan apapun padaku. Jika itu bisa menebus dosaku kepada keluargaku yang sangat kucintai ini, maka akan kulakukan." Air matanya mengalir.

Naruto membalikkan tubuh dan pandangannya dari objek yang sudah ia amati sejak tadi. Ia lantas memandang dinding putih dihadapannya sekarang.

Rasa sakitnya menyerang secara terus-menerus. Tidak berperasaan sama sekali.

"Ta-tapi aku mohon, jangan libatkan anak-anak."

Samar tapi masih bisa terdengar. Ada isakan tertahan diujung sana. Wanita itu merasakan kakinya yang turut melemah. Jantungnya berdebar sangat kencang.

Anak-anak?

Ya, dia membawa anak-anaknya kedalam masalah ini.

"Aku mohon jangan lebih dari ini. Dia tidak terbiasa ketika harus kehilangan semua kasih sayangmu dalam sekejap."

Ia tarik nafasnya dalam-dalam. Hinata masih berusaha mencerna maksud dari kalimat suaminya.

Dia? Dia siapa?

Oh Tuhan…

"Himawari… Himawari sedang kritis sekarang. Dia sudah kehilangan kesadarannya. Beberapa hari yang lalu saat masuk ke rumah sakit, dia masih bisa berbicara. Tapi siang tadi, dia tidak sadarkan diri sama sekali." Kali ini Naruto mengeluarkan isakannya secara jelas. Dia rasa sudah lebih dari cukup untuk menahannya. Putri kecilnya sedang berjuang antara hidup dan mati.

Hinata gemetar hebat. Wanita itu jatuh terduduk, kepalanya serasa berputar dan bahunya bagaikan ditindih oleh tiang besi yang sangat berat. Tidak mungkin putri kecilnya… Tidak, dia baik-baik saja saat itu.

"Himawari mengalami perdarahan pada lambungnya." Suara Naruto terdengar sangat pasrah disana.

Sementara Hinata, pipinya sudah basar oleh airmata. Sangat deras sekali sampai dirinya sendiri tidak bisa mengontrolnya. Putri kecilnya yang cantik. Himawari…

"Hinata aku mohon… Sejak kau pergi dia selalu memanggil namamu. Dia selalu mencarimu setiap malam, dia mengigau tentangmu, dia bilang sangat merindukanmu. Aku mohon datanglah. Lihatlah dia, aku yakin Himawari pasti bisa bertahan. Setidaknya tolonglah, kau harus ada disisinya selama dia berjuang."

Suasana dirumah sakit memang sangat hening sekarang. Itu mengapa Naruto bisa mendengar alat pendeteksi detak jantung itu dengan sangat jelas. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Himawari sedang koma.

Dia merasa hidupnya sangat terpuruk dan hancur.

"Hinata…"

"…"

Diam masih menjadi pilihan istrinya.

"Hinata, tolong jawablah aku. Tolong katakan sesuatu. Setidaknya beri aku kekuatan agar aku bisa menjalani ini dengan sedikit tegar. Aku tidak tahan melihat Himawari seperti ini."

"…"

"Hinata..."

Naruto tidak akan pernah lelah memanggil nama itu. Hinata, dia adalah ibu dari anak-anaknya. Dia adalah wanita terbaik dalam hidupnya. Hanya Hinata yang pantas menjadi tempatnya kembali. Tidak ada yang lain.

"Hi-"

"Ji-jika sesuatu terjadi pada putriku, seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkanmu, Naruto-kun."

.

.

.

TBC

Hallo minna, apa kabar kalian? maaf ya, author labil ini masih tetap datang dan pergi sesuka hatinya.

Maaf untuk kesalahan tulis disana sini. Saya sangat menyadari bahwa tulisan ini masih sangat penuh dengan kekurangan mulai dari ide cerita, diksi, penggambaran karakter, dan lain sebagainya. Tapi saya hanya berharap agar cerita yang sederhana dan apa adanya ini, bisa masuk kedalam relung hati kalian *eh

Fiksi ini sudah terlalu lama ditelantarkan, sehingga saya rasa saya masih harus berjuang sedikit lagi untuk melanjutkannya.

Saya senang NaruHina bersatu. Tapi saya juga sangat merasa bahwa ketika mereka telah berhasil bersatu, disaat itu pula mereka mulai dilupakan. Sepi dimana-mana :") jujur kadang sedih sih. Hahahah :"D Kangen sama semangat teman-teman yang dulunya begitu produktif dalam buat fanart, fanfiksi, fanvideo dan hal lainnya yang bertujuan untuk menjaga agar pairing ini benar-benar exist. Tapi ketika sudah terealisasi, justru kita berbalik dan perlahan meninggalkan (Eh, jadi baper) wkwkwkw. (Jangan dimasukin hati ya Minna. Ini hanya curhatan author melankolis yang merasa bahwa kesibukan dunia nyatanya sebentar lagi akan menelan seluruh waktunya dalam hal menulis seperti ini)

Btw, Terimakasih banyak buat yang sudah baca, review, fav, follow, dan sebagainya terimakasih banyak :"3

Terimakasih banyak~

Salam kenal buat yang baru kenal ya...

-Lichan-