WARNING
Ini adalah fanfic koleksi lemon/smut one-shot. Jadi bakal banyak konten dewasanya, meskipun gua berusaha nulis dengan menjaga tata bahasanya untuk meminimilasir explicit-nya biar enak dibaca & ga bikin awkward.
Don't read if you don't like. Please consider everything before you read it, such as sins that you'll get, and before you waste your time here. LOL.
Cover credit: ErenAnnie doujinshi; 'That Day' by ソーヤー
A/N 1.0: Ini edisi valentine yang udah ditulis sejak bulan Januari & rencana mau dipublish tanggal 14 Februari, tapi ternyata ga kelar. OMG, baru bisa dipublish di Mei, tapi ga apa-apa sih, mumpung belum puasa. Bahasanya di sini agak-agak ya. Tapi ga separah AOG lah. Tema mainstream. Anyway, thanks buat reviewnya. Review kalian bisa jadi "niat-booster" untuk menulis. RnR?
.
.
.
Suara dari bel pintu menggema dan mengisi ruangan yang sunyi yang hanya dihuni oleh seorang saja. Bunyi ting-tong tersebut berbunyi sebanyak tiga kali. Hal itu membuatnya berjalan ke arah pintu setelah selesai mencuci tangannya. Sebelum ia membuka kunci pintunya, ia sedikit merapikan rambutnya dan mengencangkan jepit rambut pirangnya. Lalu ia menggapai engsel pintu tersebut dan menariknya.
Pintu terbuka, dan terlihat oleh matanya, seseorang telah berdiri di depan pintu, menghalangi cahaya yang seharusnya masuk ke dalam ruangan melalui pintu tersebut. Memberikan salam dengan senyum di wajahnya. Sepasang iris emeraldnya sangat mengkilap layaknya kelereng yang sangat bening.
Tertegun dengan kehadiran sosok yang tak ia duga—dan nantikan, setiap kata yang ingin Annie ucapkan, tertelan kembali. Dia tidak bisa mengatakan apapun sebelum Eren memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Hei…" sapa Eren dengan tersenyum lebar yang ditujukan pada Annie yang terdiam di hadapannya.
Annie mengedipkan matanya dua kali. Tatapan Annie perlahan turun dari wajah Eren ke kedua tangan Eren yang sedang menahan sesuatu di dadanya.
"Apa ini…" mata Annie kembali menatap ke wajah Eren langsung. "…surprise?" ucapnya pelan.
Eren mengangguk dan tersenyum lebih lebar.
Annie tersenyum kecil. Tersenyum kecil yang tulus dengan kedatangan Eren yang tidak ia duga sebelumnya. Meskipun Annie tidak terlalu mengekspresikan rasa senang yang ia rasakan di wajahnya, tapi dadanya berdetak lebih kencang karena di dalam lubuk hatinya ia benar-benar merasa sangat senang akan kehadiran Eren. Apalagi, hari ini adalah hari yang sangat tepat untuk bersama.
"Kau datang dengan tiba-tiba tanpa memberitahuku terlebih dahulu…" matanya turun kembali, tertuju pada sesuatu yang dibawa Eren di tangannya. "…dan juga membawa sesuatu yang aneh."
"Hehehe…" tawa Eren. "Aneh? Ini tidaklah aneh tahu. Aku tahu kau menyukainya."
"Yah, begitulah…" jawab Annie lirih dan mengalihkan wajahnya singkat. Lalu ia kembali menatap ke arah kucing berbulu abu-abu yang pegang oleh Eren dan dihiasi dengan ikatan pita merah di lehernya. Kucing tersebut juga memandangi Annie dan tenang sekali, seolah-olah ia nyaman di pelukan Eren.
Annie kemudian teringat ketika ia berjalan-jalan bersama Eren. Ia pernah melamun di depan toko hewan peliharaan untuk memandangi kucing tersebut karena saat itu ia ingin memelihara kucing. Namun karena alasan finansial, ia saat itu tidak bisa mengadopsi kucing tersebut. Ya, kucing yang saat ini berada di pelukan Eren. Kucing yang sama dengan saat itu.
Keheningan menyelimuti mereka ketika Annie tenggelam ke dalam ingatannya. Kemudian Eren menurunkannya dan kucing tersebut berjalan pelan ke dalam apartemen Annie. Mata Annie pun mengikuti sosok hewan berkaki empat tersebut pergi.
"Ehm." Eren berpura-pura batuk. "Jadi… apa aku harus pergi?" tanya Eren dengan sedikit bumbu sarkas.
Annie tersadar kembali dan menoleh ke arah Eren. "Eh?! Oh iya, masuklah." ucapnya mempersilahkan Eren masuk. Setelah Eren masuk, Annie menutup dan mengunci kembali pintunya. Lalu berjalan ke dalam mendahului Eren yang kemudian mengikutinya.
Seperti biasa, apartemen Annie selalu dalam keadaan bersih dan rapi setiap kali Eren datang berkunjung. Yah wajar saja karena Annie adalah wanita. Ditambah ada bau harum yang menusuk hidungnya, membuat Eren menyadari bahwa Annie sedang memasak sesuatu. Di sisi lain, Annie juga memakai celemek. Spekulasi bahwa Annie sedang memasak, memang tidak salah lagi.
"Apa kau sedang memasak sesuatu?" tanya Eren, seraya menebak-nebak apa yang menciptakan bau harum tersebut. Bau harum yang familiar, tapi Eren kesulitan untuk menebaknya atau mengingat sumber dari bau harum yang familiar baginya.
"Hmm… Ya." jawab Annie singkat dan terus melangkahkan kakinya. Eren juga terus mengikutinya dari belakang dengan menebak-nebak apa yang Annie masak.
Sebelum sampai ke depan kompor, akhirnya rasa penasaran Eren hilang karena ia bisa melihat isi dari panci yang sedang disulut api kompor. Isi dari panci tersebut adalah cokelat. Ia merasa sangat bodoh tidak bisa menebaknya. Bahkan dia sempat lupa hari ini adalah hari apa. Lalu perhatiannya teralihkan ke Annie yang mengambil kotak berwarna biru di atas meja. Ia berbalik, mendekati Eren yang memperhatikannya dan ia menyodorkan kotak tersebut tanpa ragu.
"Ini. Untukmu…" ucap Annie memberikan kotak tersebut kepada Eren, yang juga memberikan senyumnya yang indah dan tulus.
Eren menerimanya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Terima kasih." dan membalas senyumnya juga. Tanpa membuka pun, Eren tahu bahwa itu adalah cokelat. Cokelat valentine.
Tidak diragukan lagi, bahwa itu adalah cokelat buatan Annie sendiri. Ia memandangi kotak tersebut.
"Ngomong-ngomong, itu kualitas premium." kata Annie.
Eren menatap kembali ke arah Annie. "Premium? Maksudmu?"
"Ya, itu premium. Karena buatanku sendiri…" jelas Annie.
"Oh ya. Aku ta—"
"…karena ada bonusnya juga." tambah Annie, memotong ucapan Eren.
"Bonus? Bonus a—eh?!" kembali, Annie memotong ucapan Eren dengan menarik kerah kaosnya. Gerakkan tangan yang cepat dan Eren tak menyadarinya. Annie menariknya untuk membuat Eren semakin dekat dengannya. Membuat wajah mereka saling behadapan satu sama lain. Eren kehilangan keseimbangan tubuhnya yang membuatnya hampir terjatuh dan ingin protes, namun kemudian merasakan sesuatu di bibirnya. Mencegahnya untuk bisa memprotes apa yang dilakukan Annie yang hampir membuatnya terjatuh.
Annie menciumnya tepat di bibir, dan langsung kedua tangan Annie berpindah ke masing-masing pipi Eren untuk menahan kepalanya. Annie sengaja menarik kerah kaos Eren agar Annie bisa menciumnya, memberi Eren surprise.
Ia melumat bibir Eren dengan kuat namun tidaklah kasar. Eren merasakan bibir Annie sedikit ada rasa cokelat, dan kemudian ia memejamkan matanya. Dia menikmati momen tersebut sembari menjaga keseimbangan tubuhnya di posisi yang sulit untuk melangkahkan kakinya maju mendekati Annie di saat Annie sedang mencium dirinya untuk membuat posisinya untuk menikmatinya terasa nyaman. Tapi batin Eren—persetan dengan itu.
Ciuman mereka tidaklah lama, Annie mengakhirinya dengan mendorong kepala Eren menjauh darinya. Dengan menyisakan senyum di wajahnya, mata Annie kini menatap langsung ke mata Eren yang perlahan membuka, memperlihatkan iris hijaunya.
"Selamat hari valentine." ucap Annie, lalu mencuri kecupan di bibir Eren.
Salah satu sisi lain Annie yang tak terduga muncul kembali. Eren tersenyum padanya. Senyuman yang menghangatkan hati yang ia rindukan.
"Ya… Selamat hari valentine." balas Eren setelah memperbaiki posisi tubuhnya. Lalu ia menahan kedua bahu Annie dan mencium keningnya. Sedikit lebih lama dari kecupan singkat Annie di bibirnya.
"Terima kasih untuk hadiahnya…" ucap Annie.
"Ya sama-sama." balas Eren. "Dan terima kasih juga untuk bonusnya." tambah Eren dan menyeringai, begitu juga dengan Annie yang wajahnya memerah.
"Annie, ada yang bisa aku bantu?" Eren menawarkan diri untuk membantu Annie.
"Kau bisa mencicipi ini." jawab Annie tanpa mengalihkan fokusnya sedetik pun pada cokelat yang sedang ia aduk di dalam panci. Eren memandangnya dengan tenang yang tak ingin mengganggu Annie.
Kemudian Annie mengambil cokelat cair namun kental sebanyak satu sendok makan. Ia meniupnya untuk mengurangi panas dari sampel giri-choco yang akan ia cicipi. Kemudian dia mencolek cokelat tersebut menggunakan ujung jari telunjuknya dan menjilatnya.
Setelah berpikir sejenak akan rasa dari cokelat tersebut, ia menganggukkan kepalanya. "Aku rasa manisnya ini pas." ucapnya, dan mencolek kembali cokelat tersebut. "Cicipi." perintah Annie dengan menyodorkan cokelat di ujung jarinya di depan mulut Eren.
Eren melumat jari Annie tanpa ragu untuk mencicipi cokelat tersebut. Lalu ia mengangkat kedua alisnya ketika cokelat tersebut melakukan kontak dengan indera perasanya.
"Bagaimana?" Annie menanyakan pendapat dari Eren yang bola matanya bergerak-gerak memikirkan pendapat yang akan dia katakan.
Eren mengangguk. "Yah, aku rasa ini pas." ujar Eren. "Sudah manis. Tidak terlalu manis atau kurang manis. Sangat pas."
Mendengar hal tersebut, Annie mematikan kompor. "Baguslah kalau begitu." dan kemudian ia menyiapkan cetakan yang sudah ia sediakan sebelumnya. "Akhirnya ini selesai juga…" ucapnya sembari menghela nafas panjangnya dan mulai menuangkan cokelat cair ke tiap-tiap cetakan.
Eren masih memperhatikan Annie yang sibuk mencetak cokelat cair dengan menggunakan cetakan. Poni rambut pirangnya menggantung di dekat matanya, membuat Annie sesekali menyingkirkannya agar tak menutupi atau mengganggu pandangannya. Jumlah cetakan tidaklah banyak, karena Annie hanya memberikannya kepada orang-orang terdekatnya seperti anggota klub bela diri Muay Thai-nya dan tentunya adalah Hitch. Meskipun Hitch adalah tipe wanita yang menjengkelkan untuknya, tapi setidaknya Annie juga harus memberinya cokelat. Hanya sekedar formalitas.
Tidak lama kemudian, Annie selesai dengan itu semua. Sisanya hanya tinggal mendinginkannya saja. "Jadi, ada apa kau tiba-tiba datang ke sini? Dan tidak memberiku kabar terlebih dahulu?" tanyanya yang juga sambil memasukkan cokelat-cokelat tersebut ke dalam kulkas.
"Kau sudah mengatakannya tadi."
"Surprise…?"
"Ya." tegas Eren.
"Maksudku, kau ada maksud lain ke sini, kan?"
"Hmm… Yah. Apa aku tidak boleh bertemu dengan cinta yang kurindukan?" Eren mengangkat alisnya dan tersenyum. Annie membuka mulutnya, namun ia tak sempat mengeluarkan kata-katanya. "Aku hanya ingin mengajakmu keluar. Yah… maksudku, kencan?" lanjutnya sebelum Annie sempat membalas ucapannya.
"Hmm…" gumam Annie, tidak jadi melanjutkan kata-katanya tadi. Ia menutup matanya singkat. "Jadi itu yang kau inginkan?"
"Begitulah." jawab Eren. "Lagipula, sekarang adalah hari valentine dan hari ini libur. Aku ingin kita juga berpartisipasi untuk merayakannya. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu hari ini." tambahnya dan wajahnya memerah.
Annie tidak menanggapinya lebih lanjut. Ia membereskan kembali alat-alat masaknya. Membuat Eren sedikit bingung karena ia membutuhkan jawaban dari Annie.
"Apa kau bersedia, Annie?" tanyanya terdengar seperti sedang gelisah. "Aku akan memanjakanmu loh!" tambahnya.
"Oh ya. Tentu saja. Tapi tidak usah terburu-buru." Annie menoleh ke arah jam di dinding dan memalingkan pandangannya kembali ke Eren. "Hari ini masih panjang, dan ada hal yang ingin kulakukan." lanjut Annie, ia bersandar pada meja dan di sebelah Eren.
"Baiklah. Aku bisa menunggu." kata Eren dan tersenyum.
"Apa kau sudah merencanakan kencan kita nanti? Akan membawaku kemana saja dan memanjakanku seperti apa?" tanya Annie.
Mendengar pertanyaan Annie membuat Eren tersenyum gugup.
"Eh? Em… Itu, er, aku belum merencanakannya…" jawab Eren, mengelus rambut belakangnya dengan tangannya. Tertawa kecil yang juga sedikit merasa malu.
Annie menghela nafasnya. "Yah, sudah kuduga kau memang masih belum—maksudku tidak mungkin akan merencanakannya." kata Annie tersenyum meledek Eren.
"O-oi!"
"Tenang saja, Eren. Kemanapun jika bersamamu pasti akan menyenangkan." ujar Annie, dan tersenyum meskipun tidak ditujukkan pada Eren langsung. Tapi tangannya menggenggam tangan Eren erat.
"Kau tahu Annie, itu kata-kata yang sungguh manis yang ingin kudengar." Eren balas menggenggam erat tangan Annie. Lalu dia tersenyum riang ke arah Annie, dan Annie membalasnya dengan senyuman di bibirnya.
"Yah, selama ini aku juga tidak baik jika mengatakan sesuatu secara langsung." ucap Annie, dan kemudian berdiri. Dengan sendirinya tangan mereka berdua berpisah. Namun walau hanya sebentar, itu bisa menyampaikan perasaan mereka. "Lalu, apa yang kau lakukan untuk menunggu kencan kita? Ingin pulang?" tanya Annie.
"Hei, hei. Aku bisa menunggu di sini. Tak apa-apa, kan?"
"Tentu saja, itu bagus." ucap Annie yang juga melepaskan celemek yang ia pakai. "Apa yang akan kau lakukan dan yang kau inginkan?" tanya Annie dan ia menyampirkan celemek yang baru saja ia lepas.
"Yah, aku bisa menonton film di sini, bukan?" tanya Eren, mengangkat alisnya kembali. "Terserah. Jika ada, aku ingin cola. Kalau tidak ada ya kopi atau susu… cokelat sekalipun tidak masalah." ujar Eren, matanya mengikuti Annie yang sedang mengumpulkan sisa-sisa cokelat yang menempel pada panci yang sudah tidak panas menggunakan sendok, menuangkannya pada mangkok yang lebih kecil. Lalu ia menggunakan jari telunjuknya untuk membersihkan cokelat yang masih menempel pada sendok yang barusan ia gunakan.
Annie mencolek sedikit cokelat lagi yang ia kumpulkan di mangkok kecil tersebut dengan jari telunjuknya, lalu mendekat ke arah Eren. "Aku tanya, apa yang kau inginkan?" tanya Annie kembali, kalimat tersebut mengalun lebih tegas namun lembut, lalu tangannya meraih wajah Eren dan membelai dagunya pelan.
Nafas Eren tertahan dan itu mengacaukan ritme pernafasannya. Annie memperkecil jarak di antara wajah mereka, menatapnya dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Jari telunjuk yang dilumuri cokelat tersebut menyentuh bibir bawah Eren.
"Katakan. Apa yang kau inginkan untuk hari ini?" bisiknya lembut di dekat telinga Eren. Jari telunjuknya yang lentik itu perlahan mengoleskan cokelat di sepasang bibir Eren. "Setelah kita lama tidak bertemu, apa hanya sekedar kencan yang kau inginkan? Hm?" suara Annie semakin terdengar lembut dan sedikit mengintimidasi, apalagi Annie mengigit bibirnya sensual dan memberikan tatapan yang seduktif. Jantung Eren berdebar lebih kencang menatap Annie di hadapannya, jarak yang sangat dekat sehingga hidung mereka hampir saling bersentuhan.
Iris safir biru itu benar-benar mengkilap, bening, dan jernih. Tapi Eren juga melihat gairah di iris biru Annie yang berada di antara bulu mata yang runcing nan indah tersebut. Ditambah dengan Annie yang mengoleskan sisa cokelat di jarinya pada bibir sensualnya sendiri setelah mengoleskannya di bibir Eren, lalu mengulumnya sampai jari telunjuknya bersih dan basah itu menggoda Eren.
Eren mengerti dengan apa yang Annie maksud. Itu adalah sebuah kode dari Annie, dan itu membuatnya menelan ludahnya. Wajah Eren menjadi merah, dan tangannya bergerak menggapai pinggang Annie dengan ada sedikit ragu, menariknya ke dalam pelukan hangatnya. Annie tersenyum memandang iris Eren yang bewarna sama seperti gem tersebut dan memperkecil jarak yang memisahkan bibir mereka sampai mereka bibir mereka bertemu kembali.
Manis. Rasa manis dari cokelat mereka rasakan di indera perasa mereka yang saling membersihkan cokelat di masing-masing dari bibir mereka, yang tidak lama mereka melakukan ciuman penuh setelah Annie yang memulai meminta akses ke dalam mulut Eren, menggulat lidahnya dengan lidah milik Eren. Nafas hangat mereka saling menghembus wajah mereka satu sama lain.
Ciuman kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, gairah terpancarkan dari mereka berdua terlihat dari bagaimana cara mereka melakukannya. Sesekali kedua bibir mereka terpisah, untuk memberi ruang masuk udara respirasi, namun lidah liar dan lapar mereka masih saling menyatu. Kedua tangan Annie menahan pipi Eren sedangkan kedua tangan Eren lalu berpindah ke masing lekuk tubuh atas Annie yang juga mengelus turun kembali ke pinggang sampai ke pangkal paha belakangnya, Annie mengeluarkan gumam yang lirih. Sebagai respon lagi, Annie melingkarkan kedua tangannya di leher Eren dan Eren menggunakan telapak tangannya untuk meremas tempat kedua telapak tangannya singgah yang kemudian mengangkat tubuh Annie.
Eren menurunkan tubuh Annie yang diangkatnya di atas bibir meja dengan sedikit cepat dan tergesa-gesa, membuat Annie mengeluh ketika pantatnya mendarat di atas meja. Eren pun menyadarinya dan bermaksud meminta maaf namun Annie menyelanya terlebih dahulu dengan pertanyaan.
"Apa aku terlalu berat untukmu?" tanya Annie, menatap langsung ke wajah Eren yang berjarak tidak jauh dari wajahnya. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan sakral yang penuh dengan jebakan, membuat Eren bungkam dengan mulut sedikit terbuka. Ia harus berhati-hati dalam menjawab.
"Eh. Uhm... Tidak, tidak." jawab Eren gugup, bola matanya kesana kemari. Namun akhirnya tahu cara agar keluar dari rute tersebut.
"Hmm... Bo—" belum selesai berbicara, Eren mencium Annie kembali dan memagut bibirnya. Keraguan di dalam dirinya perlahan hilang. Tangannya membelai kembali perut Annie dan naik ke atas. Menaikkan ujung kaos yang Annie pakai sampai ke bahu, mengekspos dadanya yang dibalut dengan bra hitam.
Bibirnya terus melumat bibir Annie yang terasa manis, lentur, dan berwarna merah muda cerah yang menggodanya itu. Tidak memberikan Annie kesempatan untuk protes dan mempermasalahkan pertanyaannya tadi. Tangannya kini naik, menyelinap ke balik bra tersebut.
Tangan Eren memberi sentuhan di area tersebut. Meremasnya dan membuat Annie mendesah pelan di mulut Eren. Lalu Eren juga menaikkan bra tersebut, menyingkapnya, mengekspos seluruhnya payudara Annie yang indah tersebut dan memberi kembali sentuhan dengan menggunakan telapak tangannya. Semua terasa lembut di tangan Eren dan juga terasa kenyal.
"Emmhh…"
Ukuran yang pas di telapak tangan, membuat Eren mudah untuk memberikan sentuhannya bisa dirasakan seluruhnya oleh Annie yang mengeluarkan suara-suara aneh. Eren mencium sudut bibir Annie dan tersenyum, lalu bibirnya turun ke dagu sedangkan tangannya mengelus pelan bingkai tubuh Annie.
Annie merasa tubuhnya sudah tak ingin menunggu lama, ia mendorong bahu Eren ke bawah. Eren mengikutinya sehingga perlahan ia jongkok dan tetap menempelkan bibirnya pada kulit Annie yang hangat dan lembut. Turun untuk menciumi perut Annie yang sebelumnya Eren sempat mengecup dada Annie singkat dan membuat Annie sedikit menggeliat.
Tangan Eren yang bebas kini menyingkap celana berikut dalaman Annie, memperlihatkan bagian itu milik Annie. Dimana Annie merasa luar biasa panas di sana, ingin Eren segera menyentuhnya, maka ia berinisiatif akan menggapai rambut kepala Eren dan meremasnya pelan memberi Eren izin—lebih tepatnya memohon, dengan menatapnya sayu.
Namun sebelum itu, Annie mengangkat kaki kanannya dan menekuknya tanpa bertumpu pada apapun. Kaki kanannya menggantung di atas, sedangkan kaki kirinya menggantung dibawah permukaan meja. Kemudian Annie menggunakan tangan kanannya untuk membelai bibir area kewanitaannya tersebut. Mengelusnya dengan jari tengahnya, naik-turun sampai ke klitorisnya dan merabanya perlahan dan singkat.
Sebelum Annie sempat menggapai rambut Eren, Eren menarik tubuh Annie semakin dekat dengannya yang duduk di bibir meja paling ujung. Annie sedikit merasa terkejut dengan itu yang tiba-tiba, dan Eren menyingkirkan tangan Annie yang sedang sibuk menyentuh dirinya sendiri.
"Serahkan padaku…" ucap Eren, tersenyum singkat pada Annie. "Kau akan menyukainya."
Eren mendekatkan wajahnya ke selangkangannya Annie, dan memulainya dengan mencium pangkal paha kanan. Kedua tangannya kini masing-masing berada di paha mulus Annie yang terekspos sejak awal. Perlahan bibir Eren itu menelusur ke tengah, menuju bagian kewanitaannya yang terletak di antara pangkal paha Annie. Annie menggigit bibir bawahnya, dan salah satu tangannya mulai meremas payudaranya sendiri pelan. Wajah Annie yang memerah dan jarang-jarang ditunjukkannya itu yang menuntun Eren tidak ingin berhenti menyentuh Annie.
Annie menjadi lebih sensitif. Dadanya sedikit terasa berat. Padahal dia hanya baru merasakan hembusan nafas Eren menyentuhnya. Tapi tak lama dari itu, Annie menggeliat ketika Eren mulai mengecupnya. Wajahnya semakin memerah dan ia menutup matanya. Eren menciumi dan menggunakan bibirnya untuk memagut lipatan itu. Annie mendesah pelan ketika ujung hidung Eren juga memainkan klitorisnya.
Ide nyeleneh tiba-tiba muncul di kepala Annie yang semakin terangsang. Tangan kanannya yang bebas meraba-raba meja, menggapai mangkok kecil yang berisikan cokelat kental itu. Kemudian ia menuangkan cokelat itu ke sekitar selangkangannya. Area kewanitaannya tak luput dari itu. Ia merasa dirinya sangat bodoh, namun apa daya ia sudah sulit mengendalikan dirinya. Di sisi lain Eren sedang sibuk memberikan sentuhannya, ia mulai sedikit memasukkan lidahnya ke dalam.
"Oh, my… god!" ucap Annie terpatah-patah. Siku tangan kirinya bertumpu pada meja untuk menahan berat badannya, dan telapak tangannya meremas kembali payudaranya.
Kepala Annie mendongak ke atas, menikmati sensasi nikmat dari sentuhan Eren. Seakan Eren sudah terlalu berbakat dengan ini. Menunda sentuhannya di area pusat, Eren menjilat cokelat yang melumuri pangkal paha Annie sampai bersih. Menciumi dan membersihkan kembali setiap cokelat di sekitar area tersebut.
Di saat Eren sedang sibuk membersihkan cokelat di sekitar pangkal paha, jari tengah tangan kanan Annie yang bebas turun, memasukan dan mengeluarkan kembali ke dalam. Ia mendesah karena sentuhannya sendiri, dan Eren pun selesai membersihkan cokelat di area sekitar. Kini dia memegang pergelangan tangan Annie, dan menahannya. Jari Annie dilumat oleh Eren, dan kemudian Eren memagut bibir kewanitaannya untuk membersihkan cokelat yang sengaja Eren sisakan untuk terakhir dibersihkan.
Annie mendongakkan kepalanya ke atas lagi. Ia terus mengeluarkan desahan-desahan dari mulutnya karena sentuhan Eren yang luar biasa. Kini Eren memasukkan dua jarinya ke dalam, dan lidahnya menjilat kecil cokelat di klitoris Annie. Erangan yang keluar dari mulut Annie tak bisa ditahan lagi. Stimulasi ini, stimulasi yang sangat ia rindukan dan sangat ia butuhkan.
Seperti sudah tak bisa mengendalikan kontrolnya, Annie mengepalkan tangannya. Rasanya dia ingin memukul dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Baginya Eren sangat luar biasa, selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali akan dirinya seperti saat ini. Annie mencoba menahan suara-suara yang menunjukkan ekspresi nikmat yang dirasakannya keluar dengan cara melumat sendiri jarinya yang sebelumnya dilumat oleh Eren. Menghisapnya kuat, di saat Eren mencium dan kemudian memagut gumpalan syarafnya itu. Eren menghisapnya, membuat seluruh otot Annie menjadi kencang. Selain itu, Eren juga semakin mempercepat gerakan tangannya.
"Eren—Mhhh—" tangan Annie meremas rambut Eren. Nafas hangat Eren selalu menghembusnya. Membuat Annie ingin dan semakin menginginkan seluruh kehangatannya.
Eren memberikan sentuhan terakhir pada klitoris sensitif Annie itu dengan menghisapnya lebih kuat. Annie mengerang, Eren tahu Annie sudah dekat, Annie semakin basah. Lalu Eren berdiri kembali. Menangkap bibir Annie dengan bibirnya, dan memainkan lidahnya. Dua jarinya yang masih memberikan sentuhan semakin cepat. Area sensitif Annie semakin disentuhnya dan ditekannya.
Annie mendorong kepala Eren. "Eren… Stop!" mintanya, dengan suara sedikit serak. Dadanya terasa berat dan tangan Eren yang bebas juga meremasnya. Mata terbuka setengah karena pandangannya mulai buram.
"Tanggung." Eren hanya meresponnya dengan tersenyum. Tidak mempedulikan permintaanya. Annie kemudian mencoba memeluknya erat. Kedutannya di sana semakin luar biasa terasa.
"Jika kau ingin seperti itu, sebaiknya nan— Ahh!" namun terlambat. Seperti tersambar petir kepalanya, Annie mencapai orgasmenya. "Eren!—Ungh—Ahh!" erangannya lolos dari mulutnya dan nama Eren menggema di ruangan. Annie mengerang keras yang sudah tak bisa ditahan, sama seperti sesuatu yang menyembur dari sana. Membasahi pergelangan tangan Eren, dan tangan Eren akhirnya berhenti.
"Oops…" Eren mencium pipi Annie dan kemudian menelusur ke pelipisnya. "Kan? Sudah kubilang kalau itu tanggung. Kau sampai squirt." bisiknya, dan mengecup pipi Annie.
Annie mengatur kembali nafasnya yang masih berat. "Sialan kau Yeager. Li-lihat saja malam nanti!" ucapnya masih terengah-engah, merasakan miliknya masih berkedut. Eren hanya tersenyum.
Eren kini menatap wajah Annie. "Bagaimana? Good?" tanya Eren, menyeringai bodoh. Ia sangat senang bisa membuat dan melihat Annie seperti ini.
"Ya… Luar biasa. Keahlianmu ternyata tidak tumpul." Annie tersenyum dan menghela nafasnya.
Eren melipat poni rambut Annie yang menutupi wajahnya. Memandangi wajahnya yang indah dengan senyuman. Kemudian kedua tangannya mengelus bingkai badan Annie perlahan. Pelahan Annie juga membaringkan badannya yang membuat wajah mereka menjauh kembali. Lalu kedua kakinya dilingkarkan pada pinggang belakang Eren untuk mendorongnya semakin dekat.
"Sekarang saatnya untuk menyelesaikan giliranmu." ucap Annie. "Please, Eren… Aku menginginkanmu…" Annie memohon, wajahnya merah.
Kedua kaki Annie ia rentangkan mengambang. Lalu dua jari tangan kanannya turun untuk membelai bibir kewanitaannya. Lalu membukanya dengan membentangkannya menggunakan dua jarinya itu.
Eren kemudian membenamkan wajahnya di dada Annie untuk menciuminya. Lalu perlahan naik memberi sentuhan di leher Annie. Nafas hangat Eren di lehernya, membuat Annie memejamkan matanya.
"Kemarilah…" bisik Annie.
Di sela kesibukannya yang membuat Annie mendesah, Eren mulai melepas ikat pinggang yang mengencangkan celana jeansnya. Eren menyeringai di jenjang leher Annie.
"Yaa… Annie…" bisik Eren pelan di bawah telinganya, yang sekali lagi menyentuh lipatan hangat milik Annie yang sudah basah. "Aku juga menginginkanmu…"
"Aku sudah tak bisa menunggu lagi… Eren…" Annie mengeluh dan mengigit bibir bawahnya, tangan kirinya yang bebas meremas rambut gelap Eren.
-tbc-
Part I of II~
Sampai ketemu kapan-kapan~
A/N 2.0: Btw, buat chapter 3 - You saved me and so I did, gua hapus dulu. Karna ga tau bakal kelar kapan. Biar ff ini keliatan rapi juga. Terus buat yang An Ordinary Girl, gua hapus juga karna ada rencana dipindah ke sini kalo dah kelar & beberapa revisi. Serius, gua ga nyentuh ms word sama sekali selama beberapa bulan ini. Ada 2 draft fics baru buat ff ini yang edisi valentine, edisi ulang tahun, draft lanjutan YSMASID chapter 3, draft AOG chapter 3. Kelar kapan deh~ Ga tau. Pft.
