Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo. Kami hanya pinjam tokohnya saja.

Warning: Rate 15+ (T); Alternate Universe.

Cerita kolaborasi dengan mbak erikyonkichi.


Chapter 4: Tatakau


You know that I can't live without you
I will protect you till the day I die
I don't want to lose you-please come back to me


Rukia melangkah tanpa fokus. Sorot matanya kosong, kakinya lunglai. Langkahnya sesekali membengkok, tidak terpastikan dalam sebuah garis lurus, dan tidak pula mantap dan terfokus sebagaimana biasanya Rukia berjalan. Kelihatan sekali pikirannya sedang tidak berada dalam tempatnya. Padahal tugas kuliahnya sedang banyak lantaran sudah seminggu dia mangkir kuliah dengan alasan palsu. Namun tetap saja mata ungu itu kaku; menukik menatap lantai.

Hati dan otaknya berada dalam kekalutan, yang kian hari terasa kian menyesakkan. Padahal, sudah seminggu dia coba berpikir ulang. Tentang perasaannya, tentang hatinya. Tentang Ashido… dan pria kedua bernama Ichigo Kurosaki. Tapi dia masih belum mendapat jawaban apa pun, malah otaknya semakin runyam. Selalu ada pertanyaan dalam setiap jawaban yang coba diajukan; selalu ada bantahan dalam setiap argumen yang diutarakan.

Tapi bukan berarti perenungannya mutlak tak berguna. Satu keputusan pasti telah diambilnya di tengah kegalauan itu.

Dia harus menjauhi Ichigo Kurosaki.

Memang, kadang Rukia masih bertanya pada dirinya sendiri, atas dasar apa dia menjauhi Ichigo. Dia tidak menjauhi Ichigo karena dia benci. Hanya saja pria bersurai jingga itu sudah terlalu banyak mengontaminasi pikirannya. Sekelibat bayangannya saja sudah mampu memakukan sanubari Rukia pada apa pun yang terkait dengan pria itu. Misalnya bayang matanya. Sejuk tatapannya. Colok rambutnya. Bidang dadanya, atau kokoh posturnya. Seolah-olah otaknya langsung menguarkan hormon kekonyolan setiap impuls serupa itu tiba.

Tapi itu tidak sehat. Sangat tidak sehat. Terutama bagi kelangsungan hubungannya dengan pria merah marun yang berstatus sebagai pacarnya.

Memang, Rukia juga banyak mempertanyakan hubungannya dengan Ashido. Ashido memang memiliki tempat spesial di hatinya. Statusnya sebagai pacar Rukia sudah jelas. Dan mereka punya banyak kenangan indah bersama. Tentu saja Rukia tidak lupa bagaimana Ashido mengejar-ngejarnya dua tahun lalu. Mana mungkin dia tak yakin dengan pernyataan cintanya.

Dan Rukia harus jujur, kesungguhan Ashido itulah yang membuat Rukia mengiyakan permintaan si pria beriris abu-abu.

Tapi apa dia cinta?

Ya, dia cinta…

Semestinya cinta…

Tapi kenapa pula dia harus ragu soal sepele begini?

Rukia menggaruk kepalanya kesal. Dia yakin, dia sayang dengan Ashido. Sangat sayang. Hampir sama sayangnya dengan ayahnya sendiri. Tapi apa dia cinta? Nanti dulu, batinnya berlirih. Ada suatu kerikuhan terasa ketika pertanyaan itu dia ajukan pada dirinya sendiri. Entah mengapa… dia ragu. Memang dia mengatakan mencintai Ashido ketika pria itu mengatakannya. Kalau Rukia ditanya, apa dirinya mencintai Ashido, maka dia akan menjawab yakin: Ya.

Namun mengapa akhir-akhir ini dia merasa bahwa jawaban itu mulai terisi kebohongan?

Rukia sadar, pendiriannya mulai goyah. Dan pikirnya, dia tahu siapa penyebabnya. Kadang dia sedikit menyesal sudah berjumpa dengan pria itu. Seandainya Ichigo Kurosaki itu tidak muncul, hidupnya pasti lebih tenang. Tidak seperti sekarang, karena hampir setiap malam ia tidak bisa tidur lantaran berpikir keras apakah Ashido mencium gelagat selingkuh dari tingkah laku Rukia.

Bagi Rukia, itu cukup. Dia sudah tidak tahan seperti maling yang menyembunyikan curiannya di hadapan Ashido. Rukia tak boleh mempermainkan perasaan Ashido, karena dia tahu, perasaan bukanlah harga barang yang bisa seenaknya dinaikturunkan. Lebih-lebih, kekasihnya itu sudah sangat menghargai perasaannya. Dan Rukia rasa, dia harus bertindak serupa.

Dengan menerima lamaran Ashido.

"Kuchiki… Kuchiki!"

Tersentak, Rukia mendongakkan mukanya. Seorang pria paruh baya bersetelan putih-putih dengan rambut panjang penuh uban menatapnya dengan muka mengernyit.

"Ah, Ukitake-sensei. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"

Rukia masih mencoba mengumpulkan nyawanya ketika pertanyaan itu terlontar. Dia malah menjepitkan rambutnya di belakang telinga, dan melayangkan tatapan ke taman di tengah sana seraya mundur selangkah. Angin bertiup lembut, membuat anak rambutnya berayun. Sepertinya musim panas akan segera berakhir.

Jushiro mendesah. "Aku sudah mencarimu ke mana-mana, Rukia. Dan menghubungimu berkali-kali, asal kau tahu, kecuali kau tak membawa ponselmu sekarang."

"Eh? Benarkah?" Barulah Rukia bisa benar-benar sadar. Ia membuka tas tangannya dan merogohnya beberapa saat sebelum mendapati HP-nya tidak berada di sana. Cepat-cepat ia berkata menyesal pada profesornya, "Maaf, Sensei, sepertinya HP-ku tertinggal di rumah." Ia menutup tasnya, kemudian menentang muka Jushiro lagi.

"Ada apa memangnya?"

Profesornya tersenyum kecil. Dia memasukkan tangan dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah undangan resmi sebelum memainkannya dengan tangan. "Begini. Aku ingin minta bantuanmu, sekali lagi saja. Sore nanti ada lokakarya dari British Council, dan aku diundang, tapi aku tak bisa hadir. Anakku masuk rumah sakit, dan istriku panik menjaganya sendirian. Jadi…" dia menatap sedih undangan itu, "apa kau bisa menggantikanku pergi ke sana dan menjadi panelis dalam diskusinya?"

Rukia terbelalak. Mestinya ia sudah bisa mencium maksud Jushiro dari nada suaranya. "Hah? Aku?" serunya heran. Waduh, sebenarnya dia benar-benar tidak mau menghadiri apa-apa hari ini. Datang ke kampus pun sebetulnya dia benar-benar enggan. Rukia cuma kepingin tidur, beristirahat, merehatkan otaknya sembari berharap semoga kepalanya bisa jauh lebih ringan, dan akhirnya bisa memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat ketimbang betapa dua orang pria itu sudah terlalu gentayangan dalam hari-harinya.

"Bisa, kan? Lagi pula kau tak punya jadwal kuliah lagi hari ini." Nada suara Jushiro kini lebih cenderung memutuskan, ketimbang meminta.

"A-aku…" Rukia tergagap. Matanya bergetar, menatap wajah profesornya dan undangan itu berulang-ulang.

"Kumohon, Rukia," kata Jushiro lagi. "Kampus ini bergantung padamu. Maksudnya, kau salah satu mahasiswa terbaik di sini, jadi pasti bisa membuat pihak British Council dan kedutaan terkesima dengan kemampuanmu. Aku hanya tak ingin membuat kampus ini terlihat buruk di mata mereka. Coba kau bayangkan kalau kuberikan tugas ini pada mahasiswa lain, apa kau tidak malu?" Kali ini sorot mata sang profesor sudah setengah memelas.

"Y-ya, Profesor, tapi…"

Kalau ada perlombaan profesor merajuk, mungkin Jushiro bisa masuk nominasi. "Aku mohon bantuanmu, Rukia. Tolong sekali. Kau hanya perlu berbincang sebentar dengan duta besar dan perwakilan Oxford serta Cambridge, tak sampai satu jam, aku jamin. Paling lama satu jam, sih, tapi tak apa-apa, kan? Aku benar-benar meminta bantuanmu, Rukia. Lagi pula mereka sudah tahu kalau kau anak Byakuya Kuchiki," tutupnya sambil menyeringai.

Oh, dibujuk dengan cara seperti ini oleh seorang profesor Universitas Waseda membuat Rukia tidak tega. Apalagi kalau nama ayahnya sudah dibawa-bawa. Setelah mengembuskan napasnya berat, dia mengangguk. Undangan di tangan Jushiro pun berpindah tangan. "Baiklah," desahnya, mencoba ikhlas. "Satu jam saja."

Pikirannya bekerja lagi. Satu jam tidak lama. Dia akan melewatinya dengan cepat, kemudian pulang, tidur, dan melupakan seminar tak berguna yang diselenggarakan negeri kerajaan itu.

Lagi pula, tak mungkin ada hal menarik terjadi dalam sebuah seminar.

xxXxx

"Berapa kali harus kubilang? Kurosaki itu pengkhianat! Pengkhianat besar! Dia tak pantas lagi kita anggap sebagai bagian dari bangsa Vizard."

Suara kasar si pria rupanya tak sejalan dengan orang-orang terhormat yang hadir dalam balairung besar itu. Adalah seorang kapten senior bermarga Aizen yang berbicara. Kacamatanya sudah terlepas dan tergeletak di atas tumpukan kertas. Dia menatap sekeliling ruangan, mencoba mencari siapa yang sudi membantah perkataannya.

"Ho? Memang kau siapa? Pendiri bangsa ini?"

Sebuah suara nyelekit menusuk telinga Aizen bagaikan seiris sembilu. Mata tajam Sousuke menoleh, dan yang berbicara adalah musuh bebuyutannya.

Kisuke Urahara.

"Maaf-maaf saja," lanjut Urahara yang mulai tersulut meski dia masih berusaha tenang, "tapi sepertinya aku harus bertanya apakah kau masih punya nurani. Sederhana saja, apakah ketika seseorang mencintai orang lain, dia bisa disebut pengkhianat? Apa yang salah dengan Ichigo? Dia tidak merugikanmu, dia tidak memecah belah bangsa kita! Dia hanya mencintai seorang shinigami, itukah yang kau sebut pengkhianat? Menjijikkan!" ujarnya ketus. Kalau dia bisa meludah pada laki-laki brengsek itu, dia akan melakukannya sejak tadi!

Ruangan mulai ramai dengan bisik-bisik, sementara dua kapten itu masih tetap berdiri, tak ada yang mau mengalah. Namun suara deheman tegas membuat para taichou terdiam, termasuk Kisuke dan Sousuke. Mereka menoleh dan langsung duduk kembali di tempatnya ketika mata Yamamoto menusuk tatapan mereka, mencerai-beraikan kemarahan di dalamnya.

"Aku harap rapat bisa berlangsung tanpa perang mulut," katanya tenang, namun dengan ketegasan yang mengintimidasi. Mulut semua orang langsung terkatup. Mata Soutaichou mengarah pada Urahara, dan Kapten Divisi Sebelas tahu, dirinya harus bicara.

"Menurutku perjanjian pascaperang musim dingin sudah tidak relevan lagi," Urahara melanjutkan pandangannya. "Seireitei sekarang sudah jauh berbeda dengan ratusan tahun silam saat perang melanda. Kita sudah bisa berdiri kokoh, berkat bantuan dua bangsa, Vizard dan Shinigami. Dan kalau masih ada di antara kita yang menganggap bangsa yang satu lebih tinggi dari bangsa lain," matanya menatap meja Aizen sinis, "maaf-maaf saja, tapi itu bodoh. Karena tidak ada lagi bangsa kelas dua. Mau tidak mau kita harus akui kalau shinigami telah berkontribusi besar terhadap pembangunan Seireitei! Anda bisa melihat sendiri, Soutaichou, bahwa para fukutaichou yang berasal dari bangsa Shinigami juga memiliki prestasi yang tak kalah dari bangsa Vizard, malah kadang lebih! Aku yakin, bahkan jika mereka memakai ban taichou pun, Seireitei tak akan hancur karena itu. Malah kita bisa jadi lebih solid, karena kita menempatkan orang-orang terbaik pada posisinya."

"Lantas kau berharap kita akan mengikutimu dan lupa akan apa yang telah dilakukan bangsa Shinigami pada kita?"

Suara bernada tajam lain membuat Urahara menoleh. Seorang pria ber -haori putih dengan kanji angka empat, berambut keperakan dengan muka seperti rubah, menentang mukanya sinis.

"Aku tak pernah berharap begitu, Ichimaru," sahut Kisuke tegas. Keningnya mengernyit. "Dan aku tak mungkin melupakan sejarah. Kita hidup sebagai akibat dari masa lalu, tapi apa masa lalu akan menahan kita menatap masa depan? Kupikir tidak," katanya dengan senyuman tak kalah sinis. "Kuakui, di Akademi, dari zaman kita baru masuk sampai detik ini, selalu diajarkan sejarah tentang kepengecutan bangsa Shinigami. Tentang bagaimana bangsa itu lari tunggang-langgang saat Espada menyerbu kita, padahal sebelumnya mereka bersiap membantu. Aku ingat, meskipun aku tidak percaya." Matanya kini menyorot Aizen.

Dan Kapten Divisi Tiga juga membalas dengan tatapan yang sama bencinya.

"Kalian mungkin bertanya, kenapa aku tidak percaya. Itu karena apa yang diajarkan di Akademi hanyalah teori yang diceritakan turun-temurun selama berabad-abad, meskipun tak ada bukti nyata yang membuktikan bahwa hal itu benar-benar terjadi." Urahara menutup kata-katanya dengan kesangsian yang amat sangat.

Kali ini Soutaichou yang terbelalak. "Kisuke, apa kau mencoba untuk menjelaskan bahwa ada sesuatu yang dimanipulasi tentang penyerangan Espada?"

Pertanyaan itu membuat semua mata tertuju pada Kisuke. Dia menyentuh topi hijau-putihnya sekali. "Tidak, tidak demikian, Soutaichou," katanya takzim. "Aku hanya merasa aneh saja dengan buku sejarahku. Lebih-lebih fakta bahwa Soutaichou pada masa itu bermarga Aizen…"

Urahara tak perlu repot-repot melanjutkan perkataannya karena seseorang sudah menggebrak meja keras. "Apa kau mencoba mengatakan bahwa nenek moyangku sudah menipu kita semua? Berani betul kau!" teriaknya marah. Dari tempatnya berdiri, Urahara bisa melihat sorot kemarahan berusaha menelanjangi seluruh tubuhnya.

Tapi Urahara tahu, dia harus mengatakannya. "Berani… kupikir ya, Sousuke," katanya tenang. "Karena aku punya bukti. Aku sudah meneliti kebohongan ini selama bertahun-tahun, asal kau tahu itu. Aku sudah bertemu dengan beberapa tetua bangsa Shinigami dan menanyakan hal ini pada mereka, tapi semua tak ada yang mau memberi informasi."

"Sudahlah, katakan saja kalau kau mengarang semua ini untuk mengulur waktu," dengus Gin.

Urahara memilih untuk mengabaikannya. "Ya, aku memang berpikir untuk berhenti meneliti ini dan menuruti cerita karangan di buku sejarah," katanya dengan mata tajam sampai Gin mengkeret. "Tapi kasus Kurosaki-taichou membuatku mengingat luka lama yang pernah kualami, dan aku harus menghancurkan penyebabnya, agar tak ada lagi di antara kita yang harus mengalami rasa sakit seperti kami. Yah, sekarang aku sudah mendapatkan semua yang perlu untuk membuka kebenaran. Kuharap Soutaichou mau meluruskan sejarah dengan menghapuskan diskriminasi ini. Tak ada gunanya berkasta-kastaan, karena kita adalah sama. Kita semua bisa membangun Seireitei tanpa harus menganggap bangsa yang satu lebih tinggi dari bangsa yang lain," tutupnya bijak.

Meja Aizen tergebrak untuk kesekian kalinya. "Omong kosong! Kau… kau bilang nenek moyangku memanipulasi buku sejarah? Pembual betul kau! Kakek buyutku adalah Soutaichou terhebat dan dia tak punya waktu melakukan manipulasi bodoh seperti ini!"

Seringaian malah tercipta di bibir Urahara. "Oh ya, Shintaro Aizen adalah orang hebat, aku tahu. Shikai dan bankai-nya legendaris, aku ingat. Bahkan pedangnya adalah milikmu sekarang, kan? Tapi dia bukan Soutaichou yang terhebat, Sousuke. Aku prihatin padamu, kalau mengingat bahwa apa yang tertulis di buku sejarah tentang kakek buyutmu adalah kebohongan kotor semata."

Sousuke sebenarnya sudah mau mengeluarkan katana-nya, tapi dia berusaha sabar. Marah-marah di sini sama artinya dengan memberi poin pada Kisuke. "Baik, kalau begitu perlihatkan buktinya," katanya seraya menghela napas berat. "Perlihatkan padaku siapa saksi yang kau katakan tadi, beserta bukti bahwa kita tidak pantas merendahkan bangsa rendahan itu. Kami di sini tidak membuat kebohongan sepertimu," tantangnya.

"Oh, dan membiarkanmu menghabisinya? Bodoh sekali kalau aku sampai melakukannya. Itu sama saja dengan membiarkan pembunuhan Yoruichi terulang kembali, Sousuke," kata Urahara sigap. Ada penekanan kebencian ketika dia menyebut nama depan Aizen, seolah-olah Aizenlah yang menghabisi nyawa Yoruichi di laboratorium itu.

Dan sepertinya Sousuke sadar akan sindirannya, karena ia mengepalkan tangannya penuh amarah. "Akui saja kalau kau memang membual," dia berusaha menahan diri agar tidak berteriak. "Dan apa yang kau katakan tadi? Yoruichi? Bahkan penyelidikan ulang oleh Central 46 sudah jelas menyatakan kalau itu murni kecelakaan dan bukan sabotase seperti omongan gilamu!" Jarinya mengacung pada Kisuke, menudingnya benci.

"Aku sudah berulang kali menyatakan kalau aku tak percaya, dan aku memang tak percaya, Aizen. Karena kenyataannya, Yoruichi dibunuh seseorang, yang ketakutan rahasianya akan terbongkar." Ia diam sebentar. "Sebuah rahasia yang bisa membuat seisi Seireitei heboh."

Urahara bangkit dan memilih meninggalkan rapat. Di belakangnya, Sousuke menatap punggungnya penuh kebencian, sementara sang pemimpin rapat memilih diam, tepekur, mencoba menyusun satu demi satu fakta yang tadi dipaparkan Kapten Divisi Sebelas.

xxXxx

"Apa kau sudah mempekerjakan pengawal untuk menjaga Rukia, Abarai?"

Wangsit beku sang duta besar membangunkan Renji dari keasyikannya ber-SMS dengan pacar barunya, seorang artis Korea. Membuka mulutnya karena terkesiap, dia mengalihkan pandangannya dari layar HP pada sang atasan. Bahkan Byakuya tak menggeser matanya dari berkas-berkas supertebal itu.

Tapi bukan berarti atasannya tidak menunggu jawaban. "S-sudah, Kuchiki-san. Semestinya sudah."

Barulah Byakuya mengangkat mukanya. "Semestinya?"

Aura intimidasi yang familiar mengisi ruangan, membuat Renji terbata-bata. "Saya sudah menyuruh beberapa bodyguard untuk mengawalnya, tapi Rukia menolak. Katanya dia bukan anak kecil dan bisa menjaga dirinya sendiri."

Berkas-berkas di tangan Byakuya dihempaskannya ke atas meja. "Anak itu keras kepala sekali."

"Persis ayahnya," timpal Renji sambil tertawa kecil dan kembali menekuni ponselnya.

Sayang tawanya langsung berhenti dalam beberapa detik ketika ia sadar tatapan atasannya bahkan telah mengebor habis telepon genggamnya. Seandainya Byakuya punya penglihatan seperti Cyclops, batin Renji, dia pasti sudah bisa menghancurkan Seoul dalam sekali pandang.

xxXxx

Rukia menghela napasnya kuat-kuat. Dia kesal. Semestinya dia langsung pulang setelah seminar sialan tadi, daripada mengikuti arahan protokol dan terperangkap dalam pesta koktail dengan kostum yang sangat salah. Dan ukuran tubuh yang sangat salah, kalau ada yang mau menambahkan. Bagaimana tidak? Para tamu undangan seolah terlahir dalam ras raksasa yang ukuran badannya hampir dua kali lipat darinya. Begitu kontras dengan dirinya yang kecil dan kurus. Tapi dia tak bisa ke mana-mana, karena duta besar Inggris untuk Jepang terus menempel dirinya begitu tahu dia memang anak Byakuya Kuchiki. Padahal dia ingin segera melarikan diri dari sini!

Rukia memandang berkeliling, dan lagi-lagi matanya menangkap bayangan seseorang yang tak mau ia temui.

Ichigo Kurosaki.

Semestinya ia ingat, kalau pria itu mahasiswa dari Inggris, jadi mustahil dia tidak hadir dalam acara seperti ini. Padahal dia sudah berusaha menghindarinya selama seminggu terakhir. Dan selama seminggu terakhir itu pula, Rukia sudah berhasil untuk tidak bertatap muka dengannya. Tapi mengapa mereka harus berjumpa dalam situasi seperti ini?

Dan mengapa pula pria jingga itu harus bersenda gurau dengan wanita montok sialan berambut hijau di sebelah sana?

Ah, mungkin itu pacarnya dari Inggris. Atau mungkin dia teman sekampusnya. Peduli amat! Siapa pun wanita Kaukasian yang sedang berbicara dengannya itu, tak jadi soal. Rukia tak peduli. Ichigo Kurosaki hanya orang asing dalam kehidupannya, tidak lebih. Kenapa dia jadi ingin tahu begini. Masih banyak hal penting ketimbang seorang pria bernama Ichigo Kurosaki.

"Sampaikan salam untuk Profesor Ukitake, Kuchiki-san," kata seorang pria tua berambut pirang, sang duta besar. Suaranya membuat Rukia tersadar bahwa tatapannya sudah terlalu lama terpaku pada si pria bersurai jingga. Sedikit gugup, Rukia mengalihkan pandangannya kembali pada si duta besar.

"Tentu, Mr. Canning. Akan saya sampaikan," balasnya sambil tersenyum.

Rukia menyesap minuman nonalkoholnya. Sedikit banyak, ia mulai menerawang tentang mengapa dia bisa berada di sini. Tugasnya memang berakhir baik, dia berhasil menjadi pembicara di dalam diskusi tadi dan mendapatkan pujian dari sang duta besar dan kontingen universitas besar Inggris. Dan semestinya pesta ini akan menjadi menyenangkan, kalau saja bayangan jingga itu tidak datang, ditangkap saraf-saraf penglihatannya, dan ujung-ujungnya menghancurkan segalanya. Mereka memang belum mengobrol, mana mungkin Rukia mau memulai pembicaraan dengan laki-laki itu, tapi mata gadis ini terus saja mengekor ke mana pun Ichigo pergi.

Tapi dia harus pulang, demi kebaikannya. "Sepertinya saya harus pergi, Mr. Canning," katanya kalem. Sang duta besar mempersilakannya tanpa curiga. Sudah semestinya Rukia pulang.

Ya, sudah semestinya Rukia pulang.

Tapi kenapa kakinya malah melangkah mendekati meja makanan?

Rukia terkesiap mendapati dirinya malah tidak berjalan ke pintu keluar. Bingung, dia memutuskan untuk mengambil beberapa kue-kue tradisional Inggris. Tapi matanya ternyata kembali menatap pria jingga di sudut sana.

Dia mengamati Ichigo. Lagi.

Dalam batinnya, ia mengutuk keras tindakan ini. Sebenarnya apa yang ia lakukan? Memata-matai Ichigo Kurosaki? Yang benar saja. Lelaki itu sama sekali tak berurusan dengan hidupnya, langsung maupun tidak. Semestinya dia tidak menuruti keingintahuannya sampai sejauh ini, dan mengapa juga otaknya mempertanyakan hubungan antara Ichigo dengan gadis aduhai berambut hijau itu?

Tapi, kendati bantahan-bantahan muncul satu demi satu dalam otaknya, kakinya urung beranjak pulang. Malah, ada desiran sakit terasa di hati setiap kali menatap Ichigo tertawa bersama wanita itu, sementara dia di sini, berdiri seperti mata-mata, menyaksikan semua dengan mata kepalanya sendiri.

Tunggu. Apa ini? Masa dia cemburu dengan laki-laki itu? Oh ayolah, Ashido sepuluh kali lebih sempurna dibandingkan mahasiswa pertukaran ini. Dia bahkan belum sebulan mengenal Ichigo, kenapa pula mesti cemburu? Membuang-buang waktu saja. Ichigo Kurosaki bukanlah hal yang penting dalam kehidupannya.

Tiba-tiba si gadis berambut hijau memeluk pria itu, membuat mata Rukia terbelalak. Tidak. Hati tak boleh dituruti sampai sejauh ini, batinnya sambil cepat-cepat meletakkan gelas dan piring kaca, meskipun tangannya gemetar. Dan walaupun otaknya mengulang-ulang adegan pelukan beberapa detik itu, Rukia tahu dia harus pergi. Dia mengembuskan napasnya kesal, berbalik, dan memilih meninggalkan ruangan tergesa-gesa.

Sama sekali tidak sadar bahwa ada sebuah seringaian kemenangan tertuju padanya.

xxXxx

Retsu Unohana meletakkan gelas berisi air dan beberapa butir pil dalam bungkusannya di atas meja. "Ini obat yang harus Anda minum, Soutaichou," katanya lemah. Kemudian dia menyilangkan tangannya sopan, sambil memegang nampan untuk menunggu kalau-kalau ada hal lain yang harus dia laksanakan. Matanya menatap pria ringkih di hadapannya, yang belum mengalihkan penglihatannya dari senja yang mulai menguncup di ufuk.

Sebuah senja yang akan lekas pergi, berganti dengan kuasa gelap. Peralihannya memang saat-saat yang begitu sayang untuk dilewatkan, terutama bagi pria tua seperti Soutaichou. "Terima kasih," akhirnya dia bergumam. "Akan kuminum sebentar lagi."

Merasa tak dibutuhkan lagi, Retsu berbalik, bersiap pergi. Hakama-nya berayun di atas lantai ketika tubuhnya berputar.

Tapi sang pemimpin tiba-tiba menahannya. "Tunggu dulu, Unohana. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Seketika, Retsu berbalik. Tatapannya bingung. Langkahnya langsung terhenti, otaknya sibuk menerka apa yang akan dikatakan sang tetua. "Ya… ada apa, Soutaichou?" tanyanya lemah. "Apa saya membuat kesalahan?"

Yamamoto langsung menggeleng. "Tidak, tidak, sama sekali tak ada yang salah. Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu." Tidak mendapat jawaban dari perawatnya, Soutaichou menggumam, "Apa kau pernah mendengar cerita tentang kami, para vizard, saat kau kecil dulu?"

Kening Retsu mengerut. Matanya menatap pemimpinnya penuh tanya. Kenapa Soutaichou harus bertanya hal yang sensitif begini? Tergagap-gagap, dia menjawab, "S-saya tidak mengerti apa maksud Soutaichou bertanya demikian. Tapi yang orang tua saya katakan dulu hanyalah bahwa kami harus menghormati bangsa Vizard, karena kami terlahir sebagai bawahan para vizard," katanya hati-hati. Sebisa mungkin dia tak boleh menyinggung perasaan vizard di depannya ini.

Karena Retsu hanyalah seorang shinigami.

Soutaichou menghela napasnya. Matanya mulai ditajamkan sedikit. Bukan jawaban seperti ini yang dia inginkan, dan dia tahu wanita di depannya ini ketakutan. Tangannya saja sedikit gemetar. "Tidak perlu takut, Retsu," sahutnya tenang. "Katakan sejujurnya. Aku hanya ingin tahu apa pandanganmu terhadap bangsaku."

Mulut Retsu kembali terkatup. Ia menggigit pelan bibirnya, mencoba merangkai kata. Bisa saja kalau dia katakan seluruh kejelekan bangsa Vizard, tapi itu sama saja dengan menjatuhkan diri ke dalam jurang gelap di sudut Seireitei, tempat eksekusi para pengkhianat. Tapi dia harus bicara…

"S-saya dibesarkan dengan pandangan bahwa kami harus menghormati bangsa Vizard," mulainya. "Kami harus tunduk pada aturan apa pun yang ditetapkan bangsa Anda, karena sudah kodrat kami untuk berperilaku demikian."

Yamamoto tak suka akan kata-kata yang terputus. "Lalu?"

Retsu menelan ludahnya. Semestinya dia tidak mengatakan hal-hal tadi. Soutaichou hanya akan memintanya untuk melanjutkan, dan setelahnya tak mungkin lebih baik dari beberapa detik yang lalu. Mau tak mau dia harus jujur. "Kami… sudah dipesankan untuk selalu menghormati bangsa Vizard, karena kalau tidak… kalau tidak…" Kepalanya tertunduk dalam. Duh, mengapa dia harus memancing Soutaichou bertanya dengan dua kata terakhir?

"Kalau tidak?"

"Jika tidak…" suara Unohana malah semakin rendah, "maka bangsa kami akan musnah dihancurkan bangsa Vizard."

Kata-kata itu tak lebih dari seleret gumaman, bahkan hampir-hampir berupa bisikan. Namun itu sudah jauh dari cukup untuk membuat sang pemimpin membelalakkan matanya. "Apa?" sahutnya heran. Keningnya berkerut dalam. "Dihancurkan… oleh kami? Apa kau pernah berpikir bahwa kami tega melakukan hal sekeji itu?" Intonasinya berubah, sedikit geram. Apa sebenarnya yang dikatakan perawat ini, tanyanya dalam hati. Apakah Retsu memaksudkan bahwa bangsanya, bangsa Vizard, akan melakukan apa pun supaya dapat memperbudak bangsa Shinigami?

Mata Retsu tetap saja betah menempel di lantai. "S-saya tidak tahu, Soutaichou. Y-yang jelas," si perawat mencoba menjelaskan, "kakek dan nenek saya selalu berpesan untuk melakukan semua itu, agar… agar kejadian dulu tak terulang kembali," katanya penuh penyesalan. Mestinya dia tak mengatakan hal-hal itu, tapi mulutnya seolah tak bisa direm. Dia mencoba mengangkat mukanya, hanya untuk semakin ketakutan melihat warna wajah Soutaichou yang merah padam menahan keterkejutan.

"Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada nenek moyang kalian?"

Bentakan itu meluncur mulus dari mulut Soutaichou.

Retsu langsung menggeleng. "T-tidak ada, Soutaichou. Tidak ada yang terjadi pada nenek moyang kami," gumamnya cepat sambil berbalik dan meninggalkan ruangan Soutaichou dengan langkah yang terburu-buru. Tak dihiraukannya seruan sang pemimpin untuk tetap berada di ruangannya. Biarlah Retsu menanggung hukuman dari divisinya setelah ini, yang jelas informasi tetap tak boleh terkuak, kalau dia masih mau melihat matahari terbit esok hari.

Soutaichou terduduk dengan keterkejutan terlukis jelas dalam setiap gerak-geriknya. Ada apa ini? Benarkah ada sesuatu dengan perjanjian itu? Dan apa itu berarti Kisuke Urahara tidak bercanda, tentang semua konspirasi dan manipulasi sejarah?

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

xxXxx

Stasiun Chiyoda ditinggalkan Rukia dengan kemarahan yang makin lama makin menjadi. Kini dia menyusuri blok-blok pertokoan di pinggir jalan dengan muka memerah dan tangan terkepal. Wajahnya masih tergurat kekesalan, hatinya pun tak bisa dikatakan tenang. Ya Tuhan, apa dia benar-benar cemburu, tanyanya pada diri sendiri. Melihat seorang pemuda yang berusaha dijauhinya berpelukan dengan wanita lain semestinya tak meninggalkan bekas apa-apa, tapi kenapa sekarang hatinya seperti dihujam pedang samurai.

Dan kata cemburu itu terdengar sangat salah. Dia tak boleh cemburu! Dan perasaan tadi—kemarahan tadi—itu bukanlah sebuah kecemburuan! Hanya sebuah kekesalan karena tidak dianggap…

"Acaranya bahkan belum beres, kenapa kau pulang duluan?"

Rukia terkesiap. Oh tidak, batinnya. Beberapa kendaraan lewat di sampingnya, tapi dia tak peduli. Itu tak mungkin dia, kan? Oh ya, lelaki sialan itu kan masih bersenang-senang di sana, batinnya sambil memutar badan.

Sayang dugaannya tak terkabul karena pria yang berbicara barusan memang Ichigo Kurosaki.

Rukia mundur selangkah, berusaha membangun jarak di antara mereka. "Mau apa kau di sini? Membuntutiku, ya? Kau stalker?" tuduh Rukia langsung, tanpa basa-basi. Matanya dilebarkan menatap si pria tegap.

"Aku cuma kebetulan lewat. Ini kan jalanan umum, jadi tak ada larangan bagiku untuk lewat. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau pulang secepat ini? Acaranya kan belum selesai!" balas Ichigo langsung.

Rukia melengos dan memilih untuk beranjak. "Bukan urusanmu!"

Tapi si pria lebih cepat, dia berjalan lebar-lebar dan langsung menarik tangan Rukia, menjadikannya tertahan. Rukia bisa merasa betapa terkejutnya sorot mata ungu miliknya ketika tatapan mereka bertemu.

"Tunggu dulu!" seru Ichigo sedikit kasar. "Dari tadi sepertinya kau menghindar dariku terus—tidak," dia menggeleng, "bahkan sudah sejak seminggu ini. Teleponku tak kau angkat, e-mail-ku juga tidak kau balas. Dan sekarang kau seolah menjaga jarak dariku. Apa yang salah denganku, Rukia Kuchiki?" Pria ini menuntut penjelasan.

Suasana seketika berubah. Rukia berusaha menepis tangan kokoh pria itu, meskipun untuk saat ini usahanya masih sia-sia. "Sudah kukatakan, itu bukan urusanmu! Sekarang lepaskan tanganku dan kembalilah bersama pacar bulemu itu!" bentaknya kasar. Rahangnya tampak makin mengeras, mulutnya juga terasa panas, mungkin sebentar lagi Rukia bisa menyemburkan api seperti seekor naga.

Tapi dibentak seperti itu belum membatalkan gemingan Ichigo. Malah dahinya berkerut heran. "Pacar? Siapa?"

Usaha kedua Rukia melepaskan diri dari pemuda ini belum juga membuahkan hasil. "Gadis seksi yang tadi bersamamu itu!" Dia hampir berteriak. Beberapa pejalan kaki menatap mereka selama sejurus, namun setelahnya sorot mata para penonton berubah mafhum. Mungkin mereka berpikiran kalau Ichigo dan Rukia hanya sepasang kekasih yang tengah bertengkar.

Kerutan di kening Ichigo mendadak sirna. "Oh, Neliel maksudmu?"

Rukia memutar bola matanya. Ia merendahkan suaranya sedikit. "Siapa pun dia, itu bukan urusanku. Sekarang lepaskan tanganku karena aku mau pulang," katanya.

Ichigo malah menyeringai, meskipun tangannya tetap tak mau berpisah dari Rukia. "Dia bukan pacarku," katanya menahan tawa. "Dia cuma teman seangkatanku. Memang dulu dia pernah menembakku, tapi langsung kutolak, yah karena aku tak suka," sambungnya.

Lawan bicaranya mengerang, kemudian balik menyorot mata Ichigo dengan tatapannya yang tajam menusuk. "Memang itu penting bagiku? Terserah!" bantahnya sengit. "Aku tak peduli dengan siapa wanita yang bersamamu, karena itu bukan urusanku! Siapa yang memintamu bercerita tentang kehidupan cintamu yang menjijikkan itu? Aku tak pernah ingin tahu apa pun tentangmu," katanya sambil berusaha meronta.

Tapi pria yang sepuluh kali lebih kuat itu malah menyeretnya dan mencampakkan punggung Rukia pada sebuah dinding bata di lorong yang baru saja mereka masuki. Kini mereka berdua berdiri begitu dekat, hanya selebar sebelah tangan Ichigo yang menempel pada kaca toko, sedangkan tangannya yang satu lagi masih menggenggam erat pergelangan tangan Rukia.

Mata madu si pemuda seolah berusaha mencari celah dalam iris violet gadis di depannya. Ichigo menyeringai lebar.

"Katakan saja kalau kau cemburu padaku."

Kali ini usaha Rukia menarik tangannya dari genggaman Ichigo berhasil. Tapi dia tetap belum bisa keluar dari kurungan si pemuda, akibatnya dia hanya bisa mendongak seraya berujar ketus, "Cemburu? Mimpi kau! Aku masih punya banyak hal penting yang harus kupikirkan, ketimbang cemburu dengan orang asing sepertimu!"

Ichigo tersentak. Dikatakan orang asing oleh wanita yang sangat dicintainya benar-benar membuat hatinya teriris-iris. "L-lantas kenapa kau tetap memandangiku sedari tadi?" Ia berusaha menutupi perasaannya. "Kenapa kau tak mendekatiku dan menyapaku, daripada melihatku terus tanpa henti? Aku tahu kalau mukamu itu tertekuk saat melihatku mengobrol dengan Neliel," tuduhnya sinis.

Pukulan telak. Kali ini Rukia mulai panik, sorot matanya tampak bergetar. "Sudah kubilang, itu bukan urusanmu! Mata mataku, sesukaku mau diarahkan ke mana saja! Dan kau hanya orang asing bagiku, sekali lagi orang asing, jadi aku tak merasa penting kalau aku harus membuang waktuku hanya untuk mendekati dan menyapamu seperti gadis-gadis murahan tadi." Ia berusaha mendorong dada bidang Ichigo untuk menjauh dengan telunjuknya, tapi usahanya sia-sia.

Karena tubuh Ichigo justru semakin mendekatinya. Bahkan Rukia bisa merasakan deru napas si pemuda yang sudah tersengal-sengal, persis dirinya. "Oh, begitu?" tantang Ichigo. Senyum sinis terkembang dari bibirnya. Baru kali ini Rukia melihatnya dalam jarak lima sentimeter. "Lantas kenapa kau kabur begitu saja ketika melihatku berpelukan dengan Nel, Rukia? Akui saja kau tak suka melihat wanita lain berpelukan denganku, karena kau cemburu, Rukia Kuchiki!"

Ichigo mengatakan hal itu dengan suara kerasnya dalam jarak mereka yang sedemikian dekat. Rukia yang mendongak hanya bisa melebarkan matanya gara-gara terlalu kaget, sementara tatapan manik amber di hadapannya demikian mengunci seluruh pergerakannya. Tapi dia tak boleh kalah hanya dengan ini!

"Jangan berlagak seolah-olah kau paling tahu apa yang ada dalam hatiku, Ichigo Kurosaki!" bentak Rukia ketus dengan napas yang demikian memburu. "Aku sudah memiliki calon suamiku, Ashido Kano, dan aku tak mungkin cemburu dengan laki-laki lain!" Dibuang mukanya sesaat setelah mengucapkan hal itu. Ia tak mau bertemu pandang lagi dengan pria ini. Hanya mengacaukan perasaannya saja.

Tapi gelakan Ichigo membuat Rukia kembali terkejut, meski kini bercampur keheranan. Mengapa pria ini seolah kegelian mendengar kata-katanya barusan?

"Ya, lelaki bernama Ashido Kano," ejek Ichigo sinis. Tanpa persetujuan Rukia, pria ini sudah menggenggam dagunya kuat, menjadikan mata mereka bertemu lagi. Bagaimanapun Rukia mencoba mengalihkan mata, eratnya pegangan Ichigo membuat gadis ini tak berkutik. "Aku ingin dengar, seberapa besar kau mencintai laki-lakimu itu. Tatap aku, dan katakan, Rukia, apa kau benar-benar cinta dengan Ashido." Intonasinya menurun di akhir kalimat, menguarkan suatu dingin yang demikian menyiksa batin Rukia.

Rukia sudah benar-benar panik, mulut dan seluruh tubuhnya gemetar, tak mampu menjawab. Matanya seakan terpenjara dalam telaga cokelat yang sungguh dalam menenggelamkan dirinya. Bola mata itu membuat lidahnya kelu, seluruh suara yang berusaha dikeluarkannya menggumpal di ujung tenggorokan. Seolah-olah ada listrik mengalir dari dalam sana, menyetrumnya, membuatnya terpaku.

"Katakan padaku, apa benar kau mencintai Ashido Kano!" perintah Ichigo terdengar kasar.

Kasar dan jauh…

Mendadak, telinga Rukia seperti disinggahi suara tawa. Tawa seorang gadis, yang anehnya persis dengannya. Oh, dia pasti berhalusinasi. Tapi mengapa suara tawa itu makin lama makin keras? Gadis di telinganya seolah membisikkan kata, seperti sebuah nama, panggilan kesayangan yang demikian lembut, demikian sejuk, tapi suara-suara lain mendadak membuatnya terparalisis.

Karena suara itu berubah menjadi jeritan yang membuat bulu kuduknya berdiri… jeritan kesakitan. Rukia seolah-olah bisa merasakan rasa sakit itu; kepiluan yang terpatri dalam setiap sel tubuhnya. Seolah-olah tubuhnya menguarkan amis darah, lebam keunguan, dan jerit kengerian. Hanya saja nama yang diucapkan gadis itu tetap mengalun, menjadi semakin jelas, semakin kuat, dan semakin keras…

Sampai akhirnya nama itu tersebut.

"Ichigo…"

"Apa? Apa yang barusan kau ucapkan, Rukia?"

Rukia langsung mendorong tubuh berotot Ichigo kuat-kuat, sampai pemuda itu mundur dua langkah. Rasanya seluruh isi perut gadis ini akan keluar dan ia sama sekali tak suka dengan hal itu. Satu hal yang pasti, matanya tak boleh lagi menatap lurus dalam bola mata pemuda di depannya itu! Apa pun yang ia dengar, apa pun yang ia rasa saat ia menatap bola mata Ichigo, semuanya hanyalah ilusi semata. Tak memiliki hubungan apa pun dengan dirinya!

"Tidak! Menjauh dariku!" sergah Rukia kasar saat Ichigo mencoba mendekatinya. Padahal yang ingin dilakukan pemuda ini hanyalah merengkuhnya dalam sebuah dekapan, setelah ia melihat wajah Rukia memucat… apakah dia mendapatkan penglihatan masa lalu? Atau dia sudah mulai ingat tentang siapa sebenarnya dirinya? Ichigo merasa sangat bingung, tapi ia tahu kalau dia harus melanjutkan ini.

Sayang, sebelum dia mulai bicara, Rukia sudah mendahuluinya. "Dengar, Kurosaki," katanya, berusaha tenang, "aku sangat menyayangi Ashido." Entah mengapa, wajah gadis ini tertunduk saat mengatakannya. Dengan sendirinya dia sudah melanggar perkataannya untuk mengucapkan hal ini saat tatapan mereka bertemu. Tapi Ichigo tak memaksanya, karena kondisi Rukia jelas sangat tidak baik. Badannya gemetar hebat. Ichigo tidak tahu, tapi di lain pihak, Rukia merasa sangat ketakutan ketika mendengar suara-suara dari kehidupan yang baginya terlalu menyeramkan itu.

Namun bagaimana mungkin Ichigo bisa menyerah dalam keadaan begini? "Seberapa besar, hah?" tantangnya marah. "Aku yakin, kalau kau memberiku sedikit waktu, kau akan sadar bahwa aku jauh lebih pantas untukmu daripada lelaki bernama Ashido itu."

Oh, akhirnya diucapkannya juga kalimat itu. Tapi Ichigo sudah tak peduli lagi dengan apa pandangan Rukia. Dia sudah terlalu panik.

Rukia mengangkat mukanya, kendati ia tetap tak mau menatap langsung mata Ichigo. Terlalu menakutkan baginya! "Kau tak perlu menawarkan dirimu seperti itu, Ichigo Kurosaki," dia berusaha sinis, "karena aku tak akan menerimanya. Asal kau tahu, aku sangat yakin kalau Ashidolah pria yang paling tepat untukku. Sebentar lagi kami akan bertunangan, dan setelah Ashido menyelesaikan kuliahnya, kami akan segera menikah. Simpan saja rayuanmu untuk wanita lain," pungkasnya tegas. Ya Tuhan, Rukia harap dirinya sudah mengatakan hal yang tepat…

Tapi bagi Ichigo, kata-kata barusan bagaikan petir di siang bolong. Jantungnya berdetak mengalahkan detik yang berlalu, matanya terbelalak, pikirannya berada dalam kekalutan yang hebat. Pertunangan. Pernikahan. Semua itu akan dilakukan Rukia dengan pria yang bukan dirinya…

"Tidak," Ichigo mencoba membantah. Kali ini suaranya yang bergetar hebat. "Katakan padaku kalau kau berbohong, Rukia. Katakan padaku kalau itu hanya leluconmu saja. Kau akan memberikan kesempatan padaku, dan kau tahu itu. Matamu memberi semua jawaban padaku, Rukia, jangan bohongi dirimu sendiri."

Tapi Rukia malah memalingkan mukanya, dan protes dengan kemeradangan yang mulai terbit. "Mata? Mata apa?" tukasnya ketus. "Aku tak pernah berbohong, karena itu memang bukan sebuah kebohongan!" katanya, entah mengapa ketegasannya sedikit mengambang. "Dan itu juga bukan lelucon, karena aku tak berniat melucu padamu. Itu kenyataan. Kumohon padamu, Ichigo, pulanglah ke negaramu. Sekarang juga. Pulanglah, terimalah kenyataan takdirmu."

Rukia sudah bersiap untuk pergi, tapi dia tidak memerhatikan perubahan ekspresi seketika dari lawan bicaranya. Dia juga tidak sadar… bahwa Ichigo sudah menariknya dalam dekapannya, mengelus rambutnya dengan tangannya yang gemetar, sampai matanya terbelalak dengan sendirinya. Untuk sesaat Rukia merasa bahwa dirinya bisa mendengar detak jantung pemuda bersurai jingga ini…

"Tidak! TIDAK!" teriak Ichigo lantang. "Itu bukan takdirku, itu bukan takdir kita! Kau adalah kekasihku, baik dulu maupun sekarang. Dan takdir kita adalah bahwa kau akan menikah denganku, bukan dengan pria lain!" Suaranya tetap mengeras ketika mengatakan hal itu.

Rukia berusaha meronta, tapi pelukan Ichigo justru semakin kuat. Mendadak matanya terasa panas, rasa sesak berkecamuk dalam dadanya. "Lepaskan aku! Siapa kau? Kau bukan siapa-siapa bagiku! Kau hanya orang asing!" Kembali, Rukia berusaha melepaskan diri, tapi lagi-lagi usahanya sia-sia belaka. Dia sudah setengah menangis berusaha pergi dari pria ini, tapi mengapa Ichigo tetap bersikukuh?

"AKU BUKAN ORANG ASING BAGIMU, RUKIA-FUKUTAICHOU!" Akhirnya Ichigo berteriak sangat keras. "Ingatlah aku! Ingat kebersamaan kita di bukit Rukongai! Ingat hari-hari kita di Seireitei! Kita saling mencintai, baik dulu atau sekarang! Jangan bantah itu Rukia, kumohon!" Ichigo sekarang benar-benar lepas kendali. Mendengar berita bahwa wanita yang sangat dicintainya akan menikah dari mulut wanita itu sendiri benar-benar menghancurkan kehidupannya. Sudah tak peduli lagi ia apakah dirinya akan dicap sebagai orang gila atau bukan. Apapun, ya, apapun akan ia lakukan agar Rukia ingat apa yang pernah terjadi, agar Rukia ingat bahwa pria inilah kekasihnya!

Tapi yang terjadi, Rukia malah mendorong Ichigo keras sambil berteriak. Air matanya sudah meleleh di kedua pipi, ia terisak hebat. Diacungkan jarinya ke arah Ichigo, seraya berteriak, "Jangan menggunakan alasan murahan seperti itu padaku! Fukutaichou apa? Rukongai apa? Seireitei apa? Aku tak tahu apa pun yang kau bicarakan!" bantahnya lantang, suaranya tak jelas lantaran bercampur dengan tangis.

"Rukia, kumohon ingatlah…" desah Ichigo penuh luka. Dia seolah abai dengan sekitarnya yang mulai menggelap, karena senja telah terselimuti gelapnya malam yang pekat.

Rukia berusaha tenang, tapi emosinya malah semakin menjadi. "Cukup. CUKUP! CUKUP DENGAN SEMUA OMONG KOSONG INI!" teriaknya. "Mungkin kau memang punya ingatan yang tidak-tidak tentangku, tapi kuberitahu kau, bahkan kalaupun kita di kehidupan lampau adalah sepasang kekasih, aku jamin aku lebih bahagia di kehidupan saat ini, KARENA AKU MEMILIKI ASHIDO!" teriaknya dengan air mata yang tetap mengalir.

Ichigo tertegun. Lututnya mulai melemas, tapi untung saja dia masih bisa berdiri. Matanya yang terluka dan terpinggirkan menatap gadisnya dengan kesedihan yang amat sangat. Hanya tempaannya sebagai seorang taichou yang membuatnya mampu untuk tidak menitikkan air mata di saat-saat seperti ini, kendati hatinya seperti tercabik-cabik.

"Jadi kumohon, Ichigo," kata Rukia yang masih terisak, "kumohon, pergilah dari kehidupanku. Lanjutkanlah kehidupanmu, dan lupakan apa yang pernah terjadi pada kita di masa lalu," tutupnya tegas.

Tanpa menoleh, Rukia melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan Ichigo yang tengah terdiam lantaran terpukul mendengar keputusannya barusan. Dia tak boleh berbalik.

Dia tak boleh berbalik, karena itu semua akan membuat kehidupan dan hatinya hancur lebur…

xxXxx

Rukia membanting pintu kamar tak berdosa itu keras-keras, menimbulkan bunyi berdebum yang memekakkan telinga. Dia benar-benar marah. Tak hirau, gadis ini memilih menghempaskan diri di kasur yang senantiasa ia tiduri, mencoba menghilangkan guratan amarah di wajah yang seolah tak mau pergi. Dunia yang ia rasakan dalam bola mata Ichigo yang menyihir, tatapan penuh luka dari pemuda itu, serta robeknya hati ketika dia mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan Ashido, membuat kepalanya benar-benar berdenyut hebat, disertai rasa sakit yang tak mampu ditahannya.

Ia menutup wajahnya yang masih terasa panas dan lengket gara-gara air mata, mencoba rileks, tapi usahanya sia-sia saja lantaran kepalanya justru berdenyut makin dahsyat. Tawa dan jeritan yang tadi mengisi pendengarannya masih terus menghantui, seolah tak puas melihat keadaannya kini. Siapa gadis yang menangis itu? Dari mana asal jeritan itu? Mengapa warna suaranya betul-betul familiar bagi Rukia? Mengapa suara itu begitu mirip dengan suaranya?

Rukia mencengkeram rambutnya kuat, merasa sangat lelah dengan semua ini. Dia bangkit dan beranjak ke kamar mandinya yang mewah. Didekatinya wastafel marmer dengan cermin besar di dekatnya, dan tanpa berkaca dulu, Rukia membuka keran, membiarkan aliran air tertahan di bak kecilnya. Setelahnya, dia membasuh wajahnya yang sepertinya makin panas. Tapi hasilnya nihil, lantaran suara-suara tadi tetap menghantuinya, membuat otaknya makin tersiksa.

Putus asa, Rukia membungkuk dalam, mengguyur wajahnya dengan air keran yang mengalir deras, membasahi tengkuknya, wajahnya, dan masuk ke telinganya. Tapi dia tak hirau, suara-suara itu tetap tak mau pergi. Bahkan setelah pundak dan blusnya mulai basah pun, suara itu terdengar makin menusuk kalbunya, membuatnya ingin berteriak!

Mengabaikan air yang mulai tumpah ke lantai kamar mandi, Rukia terdiam dan mengangkat mukanya di cermin. Dia menatap seseorang… tapi itu bukan dirinya! Siapa wanita menyedihkan yang membalas tatapannya itu?

Mencengkeram erat pinggiran wastafel dengan tangan gemetar hebat, air mata mendadak berkumpul di sudut matanya, dan mengalir tanpa perintah. Ia menangis? Untuk apa? Bahkan dia merasa tak punya alasan untuk menangis, karena menurutnya, tak ada seorang pun yang sudah membuatnya berada dalam situasi seperti ini selain dirinya sendiri…

xxXxx

Sentuhan lembut di pipi membuat Rukia menggeliat. Perlahan-lahan ia membuka kelopak matanya, sebuah pekerjaan yang cukup berat karena indra penglihatannya itu seolah menolak untuk dibuka. Hal pertama yang diketahuinya adalah cahaya mentari sudah masuk ke dalam kamarnya dari sela-sela tirai, membuat matanya memicing lagi, mencoba menyesuaikan diri dengan kesilauan yang baginya sedikit menusuk. Agaknya ia sudah tidur lebih dari sepuluh jam. Seingat Rukia, ketika dia beranjak terlelap kemarin langit belum terlalu pekat hitamnya.

Sayup-sayup ia mendengar suara pria yang familiar di telinganya. "Panasmu sepertinya sudah turun," katanya tenang.

Rukia melenguh, sebelum beringsut sedikit agar pandangannya tak terlalu tertusuk cahaya matahari. Dia menoleh ke arah sumber suara sebelum sadar warna merah marun mengisi matanya yang masih kabur. "Ashido…" gumamnya lirih. Ia berusaha tersenyum dan mengangkat kepala, tapi otaknya lagi-lagi terasa berputar, seperti ditimpa atap gedung pencakar langit.

"Jangan bangun dulu," kata Ashido cepat sambil menahan tubuh calon tunangannya. "Kau sedang sakit. Tadi aku menelepon dan ayahmu yang mengangkat, katanya badanmu panas."

Bagus. Bahkan ayahnya pulang tanpa sepengetahuannya. Sepertinya tidurnya tadi malam terlalu nyenyak. "Aku hanya sedikit pusing, kok," Rukia mencoba membantah.

Ashido tersenyum kalem. Dia sudah paham betul sikap pacarnya yang satu ini. "Ya sudah. Aku akan turun dan mengambil makanan. Kau harus mengisi perutmu dulu sebelum minum obat," katanya sambil melayangkan kecupan pada dahi Rukia sebelum mencoba untuk beranjak. Sayang ia urung melangkah karena tangannya ditahan cepat oleh kekasihnya itu.

"Jangan pergi dulu, Ashido," kata Rukia. Dia mulai bangkit dari tidurnya. Sedikit pusing, tapi ia masih bisa menoleransi hal itu. Matanya mencoba membentrokkan diri pada iris abu-abu milik pacarnya. "Nanti saja makannya. Aku… ingin minta tolong sesuatu padamu," kata Rukia kemudian.

Sambil mengerutkan dahinya keheranan, Ashido mendudukkan dirinya kembali. "Hm?" bisiknya mesra. Ia menempelkan dahinya pada kening Rukia. "Apa yang kau inginkan, Rukia?" tanyanya. Tak biasanya Rukia meminta sesuatu padanya. Biasanya Ashido harus menawarkan dulu, barulah Rukia mau ikut. Tapi kali ini…

"Aku ingin kau memelukku, Ashido. Apa kau mau?"

Kekasihnya menjauhkan muka, meski tangannya memegang kedua lengan Rukia lembut. "Tentu saja aku mau," sahutnya. "Tapi tumben. Kenapa kau tiba-tiba ingin bermanja-manjaan begini?" tanyanya balik dengan seulas senyum tersungging. "Sakit semalam tidak membuat otakmu rusak, kan? Kau masih tetap Rukia, kan?"

Gadis bermata ungu itu menonjok bahu Ashido lembut. "Tentu saja tidak, bodoh. Aku masih tetap Rukia Kuchiki, calon tunanganmu," katanya. Ada sedikit kegamangan di akhir kalimat itu, namun kenyataan soal nada suara yang demikian cepat-cepat Rukia tepis. "Aku cuma sedang kedinginan, masa kau tak mau memelukku?" pintanya.

Melihat mata Rukia yang begitu memohon membuat Ashido langsung mengabulkan permintaannya. Didekapnya tubuh Rukia erat, begitu eratnya, hingga sesaat wajah Rukia yang menempel di dada Ashido yang kokoh itu sedikit kesakitan. Beberapa menit Rukia berada dalam rengkuhan kekasihnya, membiarkan sunyi berlagu dalam melodi pengisi waktu, karena tak ada siapa pun yang ingin berbicara. Seolah-olah, mereka telah saling mendengar detak jantung satu dan yang lainnya.

Rukia melepaskan pelukannya sambil menyunggingkan sebuah senyum. "Terima kasih, Ashido," katanya. Ashido membalas senyumannya dengan sebuah kecupan singkat di bibir, sebelum berdiri dan beranjak turun untuk mengambil makanan. Ia merasa sangat senang, karena Rukia kini sudah sepenuhnya menerimanya sebagai calon suami. Selangkah lagi, dan dia akan benar-benar menjadi pemilik dari putri tunggal Byakuya Kuchiki.

Sayangnya ia tak menyadari kemuraman yang terbit di wajah Rukia. Kalau menurut Ashido pelukan tadi adalah validasi perasaan Rukia terhadapnya, tidak demikian halnya dengan gadis itu. Rukia justru merasa takut setelah memeluk Ashido barusan.

Karena pelukan itu terasa sangat… dingin.

xxXxx

Rukia termenung sendiri di pembaringannya. Ashido sudah pulang, baru saja, dan dia tidak minta diantar karena katanya Rukia masih terlalu lelah untuk bergerak. Meskipun pria itu berusaha menutupinya, tetap saja Rukia dapat melihat sekelebat senyum sumringah membayang-bayang di wajah dingin bersurai merah marun milik calon tunangannya. Melihat itu, Rukia bukannya senang, tapi dia malah merasa sedikit tidak enak.

Karena tujuan sebenarnya ia meminta pelukan pada Ashido sama sekali tidak untuk bermanja-manja, apalagi bermesraan. Ia hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu dari pelukan itu. Dan ternyata, jawabannya sama sekali tidak memuaskan…

Rukia memejamkan matanya, mencoba mengingat kilatan-kilatan mimpi yang semoga saja masih tersisa dalam benaknya. Semalam ia seolah bermimpi melihat seorang gadis muda seumuran dirinya, dan dengan postur tubuh mirip dirinya, mengenakan kimono putih seraya menangis tersedu di tengah remang-remangnya sebuah ruangan. Tubuhnya yang kecil penuh lebam dan luka berdarah, kakinya gemetar menahan dingin yang menusuk. Anehnya, Rukia seperti bisa merasakan dingin dan sakit yang dialami gadis itu…

Kemudian datanglah seorang pria. Laki-laki bertubuh tinggi besar, berpakaian serba hitam. Ia berlutut di dekat si gadis, kemudian memeluknya begitu erat. Hangat, hanya itu yang dapat dirasakan Rukia. Kehangatan yang begitu menggelora, begitu menguar sampai-sampai rasa nyaman itu memancar ke segala arah. Sayang, wajah si pria tidak terlihat, karena mimpi seolah mengaburkannya. Satu-satunya hal yang Rukia ketahui adalah bahwa pelukan pria itu sangat menyamankan, karena si gadis menghentikan tangisnya tepat setelah sentuhan si pria membuainya dalam ketenteraman.

Tapi tak lama berselang, petir menyambar, suaranya demikian menggelegar. Pria dalam pelukannya mendadak hilang, membuyar bersama kegelapan yang sewarna dengan pakaiannya. Ia kembali berteman dengan gigilnya malam. Tangis kembali pecah, menyakitkan dan memilukan, membuat luka yang ada kembali membuka, memancarkan perih ke seluruh tulang si gadis.

Dan tadi, begitu Rukia terbangun, entah mengapa ia merasakan perih yang sama seperti si gadis dalam mimpinya. Seolah tanpa dikomando, ia ingin merasakan kehangatan yang sama seperti yang dirasakan si gadis dalam mimpi. Ia ingin merasakan kebahagiaan dan kenyamanan itu. Maka ia meminta Ashido untuk memeluknya, sebagaimana pria tak dikenal yang mendatangi gadis dalam mimpinya tadi.

Sayang, meski telah beberapa menit berlalu dalam dekapan Ashido, tak ada apa pun yang terasa. Rukia tak bisa lagi merasakan kehangatan seperti apa yang ia rasa saat ia terlelap.

xxXxx

Ashido menutup pintu apartemennya dengan kegembiraan yang membuncah. Ia asal melempar tasnya di sofa, dan menghenyakkan dirinya di tempat yang sama. Matanya mengitari kamar apartemen bernuansa putih itu, sebelum terhenti pada sebuah foto di atas meja teleponnya. Sembari bersiul, dia bangkit dan menatap gambar itu penuh kasih.

Itu foto Rukia, saat dia berada di Riviera setahun lalu. Ashido sendiri yang mengambilnya, dan ia menganggap, senyum gadisnya di foto itu adalah senyum terindah, bak seorang malaikat yang memberinya anugerah untuk hidup. Dia ingat, Rukia langsung tertawa ketika mendengar Ashido memujinya seperti itu. Dalam hati dia berpikir, betapa bahagianya dirinya sebagai seorang pria apabila bisa bersanding dengan gadis berambut hitam kelam ini di pelaminan.

Ah, perjuangannya untuk bisa bersama dengan gadis bernama Rukia Kuchiki ini memang sama sekali bukan hal mudah, bahkan bagi seorang Ashido Kano. Sejak saat pertama kali dia mengetahui ada insan bernama Rukia Kuchiki, dia tahu bahwa dirinya adalah pria tertepat bagi gadis itu, dan jatuh cinta terhadap seorang Rukia adalah anugerah terindah yang pernah dialami Ashido dalam 26 tahun masa hidupnya di atas dunia ini.

Ashido tahu, Rukia memang bukan gadis biasa. Tiga tahun lalu, saat Rukia berdiri di atas podium sebagai perwakilan mahasiswa baru, sudah membuktikan pada pemuda ini bahwa Rukia memang berbeda. Dia punya aura yang kuat, tegas, namun di dalamnya lembut dan membuai nikmat. Gadis itu berbicara penuh percaya diri, bahkan pada awalnya sedikit angkuh. Namun bukan kesombongan yang ditangkap Ashido, melainkan kewibawaan yang telah mendarah daging, seolah memerintahkan seisi dunia untuk diam dan menekuni pembicaraannya. Kesan pertama yang dalam bagi seorang wanita, batin Ashido kala itu berbicara.

Waktu itu, Ashido sama sekali bukan peserta di acara tempat Rukia menjadi pembicaranya, dia hanya mahasiswa S3 yang kebetulan lewat di depan aula, tapi suara dan penekanan dalam gaya bicara Rukia membuatnya tersihir. Sihir yang sangat kuat sampai-sampai mampu menumbuhkan benih kasih, yang akhirnya tumbuh membesar dan mendorong Ashido untuk mencari tahu siapa gerangan jelita yang membetot hatinya hanya dengan sebuah pidato berdurasi sepuluh menit.

Awal-awal kedekatannya dengan Rukia juga tak bisa dibilang kacangan. Ashido tahu betul, dia punya banyak saingan. Sangat banyak. Tidak hanya mahasiswa senior seangkatannya, tetapi juga mahasiswa baru yang seangkatan dengan Rukia. Tapi memang, untuk mendapatkan permata seperti Rukia, seorang laki-laki harus melakukan pengorbanan yang sepadan. Bahkan untuk mendapatkan lirikan dari gadis itu saja, Ashido harus berjuang ekstra keras. Misalnya saja ketika dia harus naik kereta Yamanote paling pagi agar bisa bersua dengan gadis itu. Atau saat dia menyamar sebagai tutor di kelas Rukia, yang pada akhirnya gagal karena kepergok oleh dosen mata kuliah tersebut. Memang dia merasa malu dimarahi di depan seluruh kelas karena penjelasannya yang acak-acakan, tapi dia cukup senang karena Rukia tergelak sambil menatapnya.

Ashido tersenyum. Hal-hal konyol sedemikianlah yang membuat dia dan Rukia akhirnya menjadi semakin dekat. Ternyata kesukaan mereka sama. Minat mereka pun tak berbeda. Singkatnya, ada banyak kecocokan di antara mereka, dan itu membuat Ashido semakin yakin bahwa dirinyalah pria yang diciptakan sebagai pengisi hati Rukia. Pepatahnya, Rukia tercipta dari tulang rusuk Ashido. Mereka sudah terikat benang merah Venus, karena mereka berjodoh…

Tapi, semenjak pesta kembang api beberapa minggu yang lalu, Ashido merasa tidak nyaman. Seolah ada ancaman bagi keberlangsungan hubungannya dengan Rukia Kuchiki. Dan itu terjadi tepat ketika Rukia mengenalkannya dengan seorang pemuda lain, seorang laki-laki berambut jingga bernama Ichigo Kurosaki. Posisi Ashido seolah tergoyahkan dengan hadirnya pria ini, Ashido sadar akan hal itu. Sebenarnya Ashido sudah menyelidiki hubungan antara Rukia dengan pria bernama Ichigo ini, dan hasilnya sedikit memuaskannya. Mereka hanya sebatas teman dekat, karena Rukia diminta dosennya untuk menemani pria ini melakukan penelitian selama dia berada di Jepang.

Namun instingnya menunjukkan arah yang seolah-olah berbeda. Intuisinya berkata, pria bernama Ichigo ini ingin mengklaim Rukia sebagai miliknya. Laki-laki itu berbeda dengan saingan lain yang pernah Ashido temui. Ichigo Kurosaki, siapa pun dia sebenarnya, seperti memiliki sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tak dipunyai Ashido, dan sesuatu itu pulalah yang membuat sikap Rukia berubah, mendadak mendingin beberapa hari terakhir.

Ashido bangkit, menyambar jaketnya, dan melangkah keluar.

Dia tidak suka dengan kehadiran pria itu, dan dia harus menyelesaikannya.

xxXxx

Ichigo menekuni lembar kosong program pengolah kata di komputernya. Beberapa baris tulisan dalam bahasa Inggris dia ketikkan, namun sebagian besar darinya langsung dia hapuskan dalam rentang sepersekian detik. Kembali dia menekan tuts-tuts papan ketiknya, mencoba merangkai kata, namun dalam secepat kilat, kata-kata itu kembali menghilang. Otaknya benar-benar tak bisa diajak berpikir malam ini.

Pria beriris madu itu mengerang keras. Rambutnya yang sudah berantakan diacak-acak lagi, sehingga semakin kelihatan tidak teratur. Betapa dia tak bisa bekerja kalau benaknya terus-menerus melayang pada satu kejadian, meskipun telah berlalu beberapa hari. Tapi satu kejadian yang dimaksudnya itu benar-benar menyiksa, karena telah menyia-nyiakan perjuangannya selama beratus-ratus tahun terakhir…

Suara bel membuat Ichigo benar-benar membanting lid laptopnya. Menggeser kursinya keras, seraya mematikan lampu belajar, Ichigo bangkit dan melangkah ke genkan.

Ia berusaha untuk tidak terlalu terkejut ketika mendapati seorang pemuda berambut merah marun dan dengan mata abu-abu pekat balas membentrokkan pandangannya dengan tatapan yang bagi Ichigo sepertinya tidak terlalu bersahabat. Mendadak Ichigo menjadi waspada, bahkan dia lupa menyilakan tamunya untuk masuk karena kakinya saja enggan bergeser dari tempatnya berdiri.

"Selamat malam," pria itu berkata dengan suaranya yang dalam. "Maaf kalau aku mengganggu malam-malam begini," katanya membuka obrolan. Ichigo tahu pria ini berusaha terdengar bersahabat, tapi kebohongannya malah semakin terlihat.

Ichigo sedikit tersentak ketika mendengar suara si pria sebelum menyahutinya. "Ah, tidak, kau tidak menggangguku. Tapi…" tatapannya berubah bertanya, "ada apa kau malam-malam datang ke tempatku?"

Mata abu-abu lawan bicaranya mendadak mengeras. Ia berucap dengan kesungguhan mendalam, "Ada yang ingin kubicarakan. Ini tentang Rukia Kuchiki."

xxXxx

"Lebih baik kita hentikan saja kasus Kurosaki ini, Aizen. Jangan kita ungkit-ungkit lagi, toh tak ada gunanya bagi kita," kata Gin dengan nada santai, meskipun keningnya berkerut dan garis matanya menunjukkan kekhawatiran.

Orang yang diajak Gin bicara hanya menoleh sebelum mendecakkan mulutnya penuh kebencian. Kilatan benci bahkan tergambar jelas dari balik kacamatanya. "Tidak," jawab Sousuke tegas. "Aku ingin bajingan itu menjadi manusia biasa yang mati dan bereinkarnasi berulang-ulang. Dendamku masih belum terbalaskan dan kau mestinya tahu itu!" serunya beringas.

Gin hanya mengangguk-angguk sambil mengembuskan napasnya. "Ya, aku tahu, kau dan aku membenci Kurosaki. Tapi kita sudah hampir terpojok dengan perkataan Urahara di rapat tadi siang," ia mencoba realistis. "Kuperingatkan kau, ya, jika kita masih terus berusaha membawa kasus ini pada forum, aku yakin Urahara tak akan segan-segan memusnahkan kita. Dan kau bilang dendammu belum terbalas? Dendammu sudah terbalas, Sousuke Aizen. Ichigo sudah bukan seorang vizard lagi—dia tak mungkin menjadi kandidat pengganti Soutaichou. Satu-satunya kandidat kuat untuk mengganti pria tua itu hanya kau," jelas si muka rubah sambil mengacungkan jarinya ke arah Sousuke.

"Bukan itu penyebab dendamku pada bedebah Kurosaki itu!" Aizen berseru sengit. "Kau tak paham, tapi Kurosaki harus merasakan apa yang aku alami ketika dia mempermalukanku dengan bankai yang tingginya selangit saat kita bertanding dulu! Kau tentu tak tahu kalau dia membuatku, penyandang nama Aizen, harus kehilangan muka di hadapan tetua keluargaku, Ichimaru!" sambungnya geram.

"Tapi berpikirlah realistis, Sousuke!" ingat Gin. "Walaupun dulu kau pernah dipermalukan olehnya, tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang! Kalau kau terus seperti ini, posisimu akan semakin tidak aman! Bagaimana kalau Urahara benar-benar mengeluarkan saksi itu? Bagaimana kalau Urahara ternyata tahu alasan sebenarnya kita menghabisi Yoruichi? Semestinya kau memikirkan hal-hal seperti itu dan tidak terlena dengan dendammu hanya karena kalah bermain pedang!" tukasnya tak percaya. Sungguh, bagaimana mungkin seorang taichou seperti Sousuke Aizen berpikiran seperti anak enam tahun begini?

Tapi lawan bicaranya justru mendengus. Katanya, "Tenang saja, Gin. Kau jangan berlebihan begitu. Aku seratus persen yakin, bangsa Shinigami tak akan ada yang mau bicara. Shintarou Aizen, kakek buyutku, tak hanya hebat, tapi dia juga licik," ujarnya dengan senyum terkembang. "Dia telah mengancam seluruh shinigami dengan mengatasnamakan bangsa Vizard. Dan aku sangat yakin, bangsa kecil seperti shinigami pasti akan kocar-kacir menghadapi vizard yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dari mereka."

Gin diam sebentar, mencerna penjelasan Sousuke. "Menurutmu begitu? Tapi bagaimana kalau ternyata bangsa Shinigami sudah tahu hal yang sebenarnya? Bagaimana kalau mereka ternyata sudah tahu kalau Shintarou Aizenlah yang mengadu domba mereka dengan para vizard? Bukankah ini berarti mereka dengan mudah akan mengungkapkan fakta pada Soutaichou setelah Shintarou Aizen?"

Mendadak, tangan Sousuke gemetar. Suara dan tingkah lakunya berubah gusar. "Itu tidak akan terjadi, Gin Ichimaru. Karena aku sudah bersumpah pada para nenek moyangku."

xxXxx

"Jadi… hal apa tentang Rukia yang ingin kau bicarakan?"

Mereka berdua duduk berhadapan di ruang tengah apartemen Ichigo. Selama beberapa saat tadi tidak ada yang bicara, namun aura permusuhan sudah penuh mengisi ruangan. Mengambil inisiatif sebagai tuan rumah yang menghargai tamunya, Ichigo membuka obrolan, meskipun matanya tetap menilai pria di hadapannya ini, mencari-cari apa yang dimiliki Ashido namun tak ada dalam dirinya.

Sejauh ini, hasil penemuannya adalah tidak ada.

Tiba-tiba Ashido tersenyum. "Namaku Ashido Kano. Kita sudah berkenalan, tapi kupikir kau pasti lupa akan hal itu."

"Aku tahu," jawab Ichigo dingin.

"Sepertinya Anda tak suka berbasa-basi, Ichigo Kurosaki," kata Ashido dengan kebekuan yang tak kalah dengan ucapan Ichigo beberapa saat lalu. "Jadi… yah, kukatakan saja langsung: jauhi Rukia."

Ichigo mengerutkan keningnya dalam. "Maaf?"

Dengusan kecil dikeluarkan Ashido. "Jauhi Rukia," katanya jelas dan tegas. "Aku tak tahu apa sebenarnya tujuanmu mendekati Rukia. Tapi sebaiknya kau paham kalau dia sudah punya kekasih yang akan segera bertunangan dengannya."

Kemarahan mulai terbit dalam kilatan mata Ichigo. "Sebenarnya apa maksudmu datang kemari?" Nada suaranya mulai meninggi, disusul keheningan yang tajam setelah gema suara itu hilang ditelan malam.

"Jauhi Rukia karena dia milikku!"

Mata Ichigo terbelalak beberapa saat, kemudian ia mengepalkan tangannya penuh emosi. "Milikmu? Kau bahkan tak tahu apa pun tentang Rukia, dan kau masih mengatakan bahwa dia milikmu? Lucu sekali!"

Kali ini giliran Ashido yang kesal. Dia berdiri. "Memang apa yang kau ketahui tentang Rukia? Kalian baru saja berkenalan, belum sampai sebulan, dan kau kini seenaknya mengatakan bahwa kau lebih mengenal Rukia daripadaku? Tidakkah sebenarnya itu justru kau yang tak tahu apa-apa soal Rukia?" tanyanya ketus.

Ichigo mendongak, dan menatap Ashido penuh tantangan. Sebuah seringaian mendadak menghiasi mulutnya. "Aku tak perlu bercerita padamu tentang seberapa jauh aku mengenal kekasihmu itu. Tak ada gunanya, sebab aku yakin kau tak akan percaya. Kau juga tak tahu kebenarannya. Tapi satu yang perlu kau tahu, aku memahami Rukia bukan hanya pada apa yang kau lihat selama ini di luar, tapi aku lebih memahaminya dari apa yang ada di dalam Rukia."

Kata-kata seperti itu jelas membuat Ashido tersulut emosi. Dia mencengkeram kuat kerah baju Ichigo, dan baru saja akan melayangkan pukulan pada pipi pemuda itu jika saja Ichigo tak segera berteriak,

"TAPI SEMUA TAK BERGUNA LAGI KARENA RUKIA SUDAH MEMILIHMU!"

Ashido tersentak dan langsung menghempaskan diri Ichigo ke tempatnya semula. Barulah dia sadar ada luka dan kesedihan yang demikian mendalam terpancar dari sorot mata pemuda ini, walaupun Ichigo sedang tidak menatap Ashido sekarang.

Namun tetap saja ini sulit untuk dipercayai pemuda rasional seperti Ashido. "A-apa?" gagapnya.

"Rukia sudah memilihmu, Ashido," kata Ichigo kemudian setelah beberapa lama berselang. "Kau menang. Rukia milikmu sekarang."

"Apa? Apa maksudmu?"

Ichigo tak menjawab, matanya lebih memilih menatap benda lain ketimbang lawan bicaranya. Sementara Ashido menatap pria yang tiba-tiba mengerut di depannya ini dengan sejuta tanya berkecamuk dalam benak. Apa yang salah dengan laki-laki ini? Mengapa sekarang pria ini begitu… lemah dan tak berdaya? Sorot matanya tak lagi memancarkan keberanian yang biasa; tantangan tersirat tentang Rukia yang pernah dirasakannya saat pertama kali berkenalan.

Tiba-tiba Ichigo menoleh. "Sekarang berjanjilah padaku, kalau kau akan membahagiakan Rukia," Ichigo berkata sambil menatap mata saingannya. "Berjanjilah padaku, kau akan membuat Rukia bahagia selamanya."

Ashido tak berkata apa-apa, tapi dia bisa merasakan satu hal setiap kali Ichigo mengucapkan kalimat-kalimat terakhir itu.

Sorot mata cokelatnya yang hampa, seolah tanpa nyawa.

.

.

to be continued.

2012.11.22 9.36 am.


Note:

Ohayou gozaimasu. Senang rasanya bisa kembali lagi ke sini. Setelah 10 hari bedrest karena saya terkena radang hati. Oke, sakit kuning, tepatnya. Jadinya nggak boleh bangun dari tempat tidur. Sebenarnya cerita ini selesai 10 November lalu, tapi gara-gara sakit, jadinya baru di-update sekarang. Maaf, ya.

Tidak usah banyak omong, terima kasih banyak sudah membaca. Kritik dan saran, dukungan atau cacian, selalu saya tunggu pada tempatnya. Akan saya balas.

Sekali lagi, terima kasih banyak.

Balas Review:

can-can: okee... ini (akhirnya) saya lanjutkan. Hehehe. Maaf menunggu lama. Terima kasih sudah review!
Nyia: wuaduh, maaf banget saya nggak bisa update kilat. Tapi karena sekarang sudah sedikit lebih mendingan, akan saya cicil pelan-pelan. Terima kasih banyak sudah review, dan maaf sudah menunggu lama!
guest: ooo tentu, sesuatu yang cetar membahana! Alhamdulillah, ya, hahaha... #okesip wah, jangan panggil saya senpai! terlarang itu. masih banyak author yang lebih senior daripada saya di sini. kalau Eri-senpai sih bolehlah, tapi kalau Reiji-senpai, it's a big no no hahaha... oke ini sudah update, thanks udah review dan maaf menunggu lama!