With White become Black
Sherry Dark Jewel Present
Disclaimer: "Harry Potter" milik J.K Rowling. Dan Tom milik Yuki Gak bisa diganggu gugat..#dihajar rame-rame
Author : Yuki
Rate : T
Pairing : TMR/HJP
Genre : Adventure/Romance
Warning : OOC, AU, OC, MaleXMale, Slash, Dumbledore Bashing.
Summary : "Profesor Dumbledore bukankah kau sudah berjanji akan menolong Lily dan keluarganya? L-lalu kenapa? Kenapa kau tak menolongnya KENAPA..?"/ "…berdirilah bersamaku, kita bisa menghancurkan Voldemort bersama-sama…"/ "Apa ia akan baik-baik saja.. maksutku apa tak apa Sirius bersama Lestrange?"/ "…Harry bukan calon Dark Lord selanjutnya kan?"/ "Aku tak membenci Muggleborn"/ " K-Kau.. Hamil?"/ "Ini semua gara-gara TUAN BODOHMU ITU. Jika bukan karena DIA, MEREKA PASTI MASIH HIDUP SEKARANG, MEREKA TAK AKAN MENINGGALKAN KU"/ "…apa kalian ingin menyuapku untuk bergabung dengan Dark karena kalian menyelamatkanku?"/ "Sekarang kau adik ku.. Lily"
PENTING : Yuki bener-bener acak-acak cerita aslinya maaf tante J.K. (Y^Y) di cerita ini Sirius lebih tua dari pada Bellatrix
Ini data umur mereka di saat tahun 1981
LILY POTTER 21 Tahun (lahir 1960)
SIRIUS BLACK 21 Tahun (lahir 1960)
REGULUS BLACK 20 Tahun (lahir 1961)
NARCISSA MALFOY 25 Tahun (lahir 1956)
ADROMEDA TOKS 22 Tahun (lahir 1959)
BELLATRIX LESTRANGE 20 Tahun (lahir 1961)
RODOLPHUS LESTRANGE 23 Tahun (lahir 1958)
RABASTAN LESTRANGE 23 Tahun (lahir 1958)
LUCIUS MALFOY 27 Tahun (lahir 1954)
Moga gak bikin binggung ya..(^w^). Hahaha salahkan imajinasi Yuki yang entah gimana jadi aneh kayak gini Happy Reading buat semua…Review ya.. bener-bener diharap Reviewnya.
Masak dari yang baca ni cerita gak ada 2% yang Review. Mungkin karena Cerita ini jelek ya..#pendung di atas pohon(?)
Abaikan HAPPY READING….
.
Don't Like Don't Read
.
Chapter 4
Spinner End 01.00 am 1st November 1981
Severus hanya bingung dengan semua ini. Ia lah yang menyebabkan Lily kehilangan Suaminya. Meski harus Severus akui ia bahagia dengan hal itu. namun Lily pasti tidak, Lily terlalu mencintai Jemes. Sama seperti dirinya yang terlalu mencintai Lily. Bahkan ia ragu akan ada wanita yang bisa menyentuh hatinya yang sekarang telah membeku. Severus sudah capek dengan cinta bertepuk sebelah tangannya. Namun bayangan Lily masih tak bisa terhapus dibenaknya hingga sekarang. Berharap, ya Severus berharap akan ada wanita yang bisa menaklukkannya. Wanita yang bisa menghapus nama Lily yang telah terpahat apik di hatinya serta menghapus semua gambar Lily di benaknya.
Saat Severus menemui Tuannya. Ia menduga Lily akan terbelenguh di penjara bawah tanah manor milik tuannya itu. namun melihat Lily di hadapan Tuannya bersama putranya ia benar-benar tak menyangka. Ditambah dengan kenyataan yang diberikan oleh Tuannya. Severus merasa bagai terhempas dari langit ke bumi. Lily akan menjadi adik Voldemort. Itu-itu sungguh tak pernah terduga.
Tapi ia bersumpah akan selalu setia pada Lily. Ya.. hanya pada Lily. Ia akan mengikuti Voldemort karena Lily. Ia akan melakukan rencana Tuannya demi Lily. Semuanya hanya untuk Lily dan putranya.
.
.
Slytherin Manor,1St November 1981
Lily terbangun dari tidurnya. Melihat sekeliling mengingat dimana ia sekarang. 'Ah benar, aku ada di Manor Dark Lord' batin Lily. Lalu ia melihat buah hatinya, Harry masih tertidur lelap di sebelahnya. Lily tersenyum melihat wajah damai sang putra. Pandangan Lily menuju jam yang ada di meja nakas 'pukul 8' batin Lily.
Ingatannya kembali pada peristiwa kemarin malam. Ia mengingat semua ucapan Voldemort, tentang siapa dirinya yang sebenarnya, dan tentang ramalan palsu. Ramalan Palsu.. Albus Dumbledore.. Mengingat semua itu kemarahan membludak keluar dari dirinya.
Albus Dumbledore telah menipunya, membuat sang suami tewas di tangan Dark Lord. Jika Dumbledore tidak berbohong tentang ramalan ia yakin suaminya pasti masih hidup sekarang. Ia tak menyalahkan Voldemort untuk kematian suaminya. Yang patut disalahkan adalah Dumbledore jika ramalan itu tidak pernah di ada-ada oleh Dumbledore keluarga mereka pasti masih utuh hingga sekarang. Suaminya pasti masih hidup sekarang, dan putranya tak akan menerima takdir menjadi calon Drak Lord selanjutnya.
Tapi.. bukankah menurut ramalan yang diucapkan kemarin ada kalimat 'Pangeran kegelapan dan sang Equal akan saling memerintah bersama atau saling menghancurkan.' Bukankah itu artinya Harry hanya akan membantu memerintah dengan Dark Lord tidak menjadi calon Dark Lord selanjutnya. Lily mulai berpikir keras, memutar otaknya menyusun semua teka-teki yang ia terima, tentang ramalan, niat Voldemort sebenarnya, rencana apa yang akan Voldemort lakukan, niat Dumbledore sebenarnya dan apa yang akan ia lakukan.
Pop
Peri rumah muncul didepannya, "Master meminta Minxy memberitahu Madam untuk bersiap-siap. Karena saat pukul 9 nanti sarapan akan siap.. Madam diminta hadir di ruang makan utama." kata sang peri rumah.
Lily terdiam sesaat, menghelang nafas panjang lalu kembali memandang Minxy. "Baiklah Minxy.. aku akan mandi sekarang. Tolong kau jaga Harry sebentar."
"Baik Madam.. Minxy juga akan menyiapkan Gaun Madam segera" Lily hanya mengangguk lalu mulai berjalan menuju pintu kamar mandi.
20 menit kemudian Lily keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi dari sutra berwarna hijau tua. Melangkahkan kaki mendekati ranjangnya. Senyuman terkembang di paras cantiknya saat melihat buah hati kecilnya yang terlelap disana. Di samping sang buah hati tergeletak sebuah gaun yang disiapkan Minxy untuknya. Gaun panjang berwarna hijau zamrut dari bahan sutra dengan model simpel serta hiasan berlian yang menempel di kera rendahnya hingga dada dan juga sedikit berlian di lengan gaunnya. Indah.
.
.
Lestrange Vacation Cottage ,8.30 am, 1st November 1981
SERANGAN KAU-TAHU-SIAPA
Oleh : Mary Seeker
Kemarin malam telah terjadi serangan Kau-Tahu-Siapa di dua tempat yang berbeda. Yang pertama di rumah Keluarga Potter, yang diserang sendiri oleh Kau-Tahu-Siapa dan yang kedua di rumah Keluarga Longbottom yang dilakukan oleh pelahap maut kepercayaan Kau-Tahu-Siapa Bellatrix Lestrange.
Pada penyerangan di Rumah Keluarga Potter tercatat tiga orang korban tewas yaitu James Potter, Lily Potter dan Harry Potter. Tak ada korban selamat dan rumah itu dibakar setelah membunuh keluarga Potter. Diduga bahwa sang penjaga rumah Keluarga Potter Sirius Black lah yang telah member tahu Kau-Tahu-Siapa tempat persembunyian Keluarga Potter.
Sedangkan pada penyerangan di Keluarga Longbottom terdapat dua korban tewas yaitu Frank Longbottom dan Alice Longbotto. Sedangkan sang anak Neville Longbottom selamat dari penyerangan Bellatrix Lestrange… (baca : hal 16)
.
.
LOLOSNYA DUA TAHANAN DEPARTEMEN AUROR
Oleh : Mary Seeker
SIRIUS BLACK dan BELLATRIS LESTRANGE telah di bebaskan oleh para Death Eater yang menyerang Departemen Auror pada pukul 01.00 pm tadi.
Sirius Black yang ditangkap karena tuduhan membunuh 12 muggle dan seorang penyihir bernama Peter Pattigrew serta penghianat Keluarga Potter. Telah lolos bersama Bellatrix Lestrange yang telah menyerang Keluarga Longbottom kemarin.
Terdapat 2 korban tewas sedangkan 10 orang auror sisanya hanya menderita luka ringan… (baca : hal 23)
"hahaha.."
"Ada apa Rab?" Tanya Rodolphus pada sang adik yang sedang membaca Daily Prophet di ruang tamu.
"Pagi kak"
"Pagi" jawab Rodolphus "Tumben kau sudah bangun jam segini Rab?"
"Aku hanya ingin melihat berita penyerangan kita kemarin" Rabastan menyerahkan Daily Phophet pada Rodolphus. "Lihatlah Kak.."
Rodolphus masih memasang tampang tenang namun Rabastan tahu sang kakak tengah bahagia karena ia melihat bibir sang kakak yang sedikit berkedut ingin tersenyum tapi ditahan. Rabastan hanya geleng-geleng kepala kenapa ia memiliki kakak minim ekspresi seperti ini.
"Kak..apa kakak iparku yang cantik itu sudah bangun?" Tanya Rabastan.
"Belum, biarkan saja dia istirahat. Bagaimana dengan Sirius ,Rab?"
"Hem.. Sirius juga masih tak sadarkan diri. Mungkin beberapa jam lagi ia baru sadar" jelas Rabastan. Dan hanya ditanggapi angukan oleh Rodolphus.
"Dan lagi kita selamat karena kita segera bergegas pindah kemari. Jika kita masih di manor mungkin kita tertakap." Gumam Rabastan.
.
.
Hogwards,09.00 am, 1St November 1981
'Bagaimana mungkin? Potter terbunuh. Sekarang yang tersisa hanya bocah Longbottom yang sekarang berada di rumah Adik Frank. Jika memang Harry Potter bukan bocah dalam ramalan berarti Neville Longbottom lah bocah dalam ramalan itu.' batin Dumbledore. Ia tengah binggung untuk menyusun ulang rencananya. 'Seharusnya anak dalam ramalan itu adalan Potter tapi ia Mati terbunuh kemarin bersama Lily dan James. Sayang sekali padahal mereka adalah tentara yang sangat mudah untuk dikendalikan. Sekarang aku benar-benar harus menyusun ulang rencana' lanjut Dumbledore dalam hati.
"Lalu bagaimana dengan Snape?"
Tok
Tok
Tok
Ada yang mengetuk Pintu ruangan Dumbledore. Dumbledore tersenyum saat tahu kalau tamunya pagi ini adalah Snape. "Masuk"
Pintu terbuka sedikit kasar, Severus Snape memasuki ruangan dengan ekspresi garang. Ia marah pada Dumbledore karena tak menepati janjinya. "Profesor Dumbledore bukankah kau sudah berjanji akan menolong Lily dan keluarganya? L-lalu kenapa? Kenapa kau tak menolongnya KENAPA..?" teriak Snape. Kemarahan benar-benar terlukis diparas yang biasanya datar itu.
"Severus..maafkan aku.." pinta Dumbledore dengan nada menyesal. "Aku tak bisa menolongnya.. maafkan aku.."
"Kau bahkan tak berusaha menolongnya" suara Snape rendah. Masih diselimuti kemarahan.
"A-aku..maafkan aku Snape. Bukan maksutku tak menolong, pikirku cukup dengan mantra Fidelius Rumah itu tak mungkin bisa diketahui oleh Voldemort namun sepertinya Sirius menghianati kepercayaan kami. Ia malah memberikan alamat itu pada Voldemort. Maafkan aku Severus."
"Kau..Kau membuat Lily dan keluarganya Tewas kau.." Severus mengepalkan tangannya. Terdiam mengatur amarahnya. Dumbledore harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan kepercayaan Severus. Severus adalah aset berharga, ia bisa menjadi agen rahasia untuk memata-matai Voldemort. Ia bisa menghancurkan Voldemort dengan bantuan Severus. Memikirkan hal itu Dumbledore tersenyum dalam hati.
"Anakku.. kita bisa membalaskan dendam Lily.. berdirilah bersamaku, kita bisa menghancurkan Voldemort bersama-sama. Kau hanya harus memata-matai pergerakan Voldemort, dan kita bisa menghancurkan Voldemort. Membalaskan Dendammu." Ajak Dumbledore. "Pikirkanlah Severus" Severus menundukkan kepalanya, lalu mengangguk pada Dumbledore. 'Ini akan mudah' pikir Dumbledore.
"Baiklah Profesor.. aku akan melakukannya karena Lily. Untuk Lily dan Putranya" ujar Severus.
"Sangat bagus anakku…"
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang Profesor?" Tanya Severus. Yang berhasil mengembalikan ekspresi datarnya.
"Untuk awal aku akan melindungimu dari Kementrian, untuk berjaga-jaga kau bisa menjadi asisten Horace. Mungkin tahun depan kau bisa mendapatkan posisi Profesor Ramuan. Dengan itu akau bisa melindungimu dari Kementrian, jika kau dituduh menjadi pelahap maut. Bagaimana.?"
"Ramuan? asisten Profesor Slughorn? Baiklah.." jawab Severus lirih.
"Bagus.. kau bisa kemari minggu depan. Aku akan mempersiapkan ruangan untukmu" jelas Dumbledore bahagia.
"baik.."
"Apa ada hal lain Severus?"
"Tidak Profesor, aku akan pergi sekarang. Terima Kasih"
"Tak Masalah Severus"
Severus berbalik menuju pintu dengan seringai di bibirnya 'rencana kedua.. complete. Tapi aku harus berakting semakin sulit. Ini akan menguras banyak tenaga' batin Severus.
Sedangkan Dumbledore tengah berbahagia, sangat. Karena mendapat seorang mata-mata. Tak sia-sia juga kematian Potters itu. dan sekarang ia harus mendapatkan Neville Longbottom. Ia akan mengambilnya dan melatih dia menjadi pahlawan. Tawa kecil terdengar dari mulut sang Kepala Sekolah itu.
"Aku harus menghadiri acara pemakaman Potters siang nanti. menyusahkan"
.
.
Slytherin Manor,09.15 am, 1St November 1981
Ruang Makan
Lily sudah tiba di Ruang Makan. Ia melihat Voldemort tengah membaca Daily Phophet dan duduk di kursi yang ada di ujung meja makan.-Kursi yang lebih besar dari kursi-kursi lainnya. Lily tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya berdiri dan mengigit bibir bawahnya. Sekarang ia benar-benar gugup. Lebih gugup dari pada kemarin malam.
Voldemort yang merasa dipandangi pun menutup Daily Phophet lalu memandang tempat Lily berdiri. "Lily..Kemarilah dan duduk disini" perintah Voldemort -yang Lily tak sangka- dengan suara tenang dan bijaksana.
Lily mengira Voldemort akan selalu berbicara dengan nada menyeramkan atau angkuh. Namun mendengar nada Bijaksana –yang tidak dibuat-buat– keluar dari mulut sang Dark Lord. Lily semakin yakin banyak sekali rahasia yang yang masih tersembunyi dari sosok sang Dark Lord ini.
Lily mengangguk dan mendekati kursi di sebelah kanan Voldemort. Lily binggung harus bagai mana. Namun suara Pop menyelamatkannya. Minxy datang dan memunculkan makanan di meja makan. Banyak sekali macam makanan di atas meja. "Apa master dan Madam memerlukan sesuatu yang lain?" Tanya Minxy.
"Minxy.. jaga Harry di kamarnya. Jika ia bangun bawa dia kemari" perintah Voldemort. Lily hanya Syok melihat perhatian Voldemort pada Putranya. Tentu saja, bukankah Harry lah yang akan membantu Voldemort mendapatkan kekuasaannya.
"Baik Master" jawab sang peri rumah lalu menghilang dari hadapan mereka.
Lily masih diam saja. "Makanlah" perintah Voldemort pada Lily. Dan Lily hanya mengangguk pelan lalu mulai sarapan bersama Voldemort.
Sarapan berjalan dengan keheningan. Saat selesai, Perkakas makan di atas meja pun menghilang dengan sendirinya. Lily masih merasa canggung, ia melirik Voldemort.
"Bertanyalah?" ujar Voldemort memandang Lily. "Bukankah kau ingin bertanya Lily. Tanyakanlah?" Lanjut Voldemort.
Lily mengangguk lalu mulai membuka suara "Hemm.. siapa yang memberitahu anda tempat kami?"
"Jangan terlalu formal Lily,dan jangan tegang. Aku sebentar lagi akan menjadi kakakmu bukan" Ujar Voldemor lembut-meski masih bertampang datar. Lily bahkan tak menyangka Dark Lord yang ia yakini kejam ini bisa berkata lembut padanya. "Dan jawaban atas pertanyaanmu tadi. Yang memberitahuku adalah Wormtail. Kau pasti bisa menduga bukan"
"Ta-tapi Peter" Lily mengigit bibirnya kuat. "Apa ia pelahap mautmu? Ataukah kau memaksanya memberi alamat kami?"
"Ya.. dia seorang pelahap maut, dan ia memberi alamat rumahmu dengan suka rela. Namun aku yakin ia menjadi pelahap maut karena suruhan Dumbledore" Lily semakin tak menyangka Peter melakukan itu semua.
"Dumbledore?"
"Hn.. aku sedikit melakukan legilimency padanya" jawab Voldemort santai. "dan kau tahu Lily sepertinya yang menjadi korban adalah Black. Ia tertangkap karena dituduh membunuh Peter dan muggle kemari"
"What..? Sirius? Tapi dia tak bersalah sama sekali.."
"Ya.. tapi tenang saja sepertinya Rodolphus dan Rabastan menyelamatkannya saat menyerang Departemen Auror kemarin" Voldemort menyerahkan Daily Phophet pada Lily "Lihatlah sendiri"
Lily membaca berita di Daily phophet dengan cepat lalu memandang Voldemort "Apa ia akan baik-baik saja.. maksutku apa tak apa Sirius bersama Lestrange?"
"Ya.. aku yakin Black baik-baik saja. Apalagi Bella sangat sayang padanya, kau tahu. Meski Bella terlihat gila, namun ia sangat melindungi orang-orang yang dia sayang terutama Rodolphus dan Black."
'Bellatrix?' Lily tak menyangka bahwa Bellatrix yang terkenal gila memiliki sifat seperti itu. 'tentu saja.. mereka semua Slytherin.. mereka akan memasang topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya' pikir Lily.
"Lalu.. tentang ramalan kemarin.. Harry bukan calon Dark Lord selanjutnya kan?" tanya Lily dengan suara lirih.
Voldemort menyeringai "Ternyata kau sadar Lily. Ya.. dia bukan Calon Dark Lord selanjutnya, tapi Harry ditakdirkan untuk membantuku. Dan perlu kau tahu Lily aku tak bercanda tentang ramalan asli itu. dan sebenarnya terdapat satu bait lagi di dalam ramalan yang asli"
"Satu bait lagi? Apa bunyinya?"
"Dan entah harus mati ditanagan yang lain untuk tidak bisa mati sementara yang lain bertahan"
"Artinya.. kau dan Harry akan mati jika saling membunuh. Dan akan tetap hidup jika salah satu hidup?"
"Ya."
"Dapat di artikan bahwa Harry dan kau terikat akan mati jika salah satu mati atau keduanya hidup dan saling membantu" kata Lily. "Lalu apa sebenarnya tujuanmu? Dan bagaimana kau menyikapi Muggleborn?"
"Aku tak membenci Muggleborn" Voldemort menahan Lily yang akan menyela ucapannya "Dengarlah dulu Lily. Aku tak membenci Muggleborn, karena mereka membawa darah sihir bersama mereka. Mereka tetaplah peyihir. Aku hanya ingin menutup dunia kita dari para Muggle. Karena aku tak suka Muggle. Muggle adalah orang-orang yang takut pada hal yang tidak mereka ketahui. Saat mereka mengetahui tentang kita maka mereka akan mencoba mencuri sihir kita atau bahkan menghancurkan kita.
"Ditambah perkembangan zaman Muggle lebih maju pesat dari pada Dunia Kita. Itu akan berbahaya, dengan persenjataan mereka. Mereka dapat membunuh kita secara masal, seperti serangan bom yang terjadi saat perang Muggle terjadi kau tahu kan maksutku?" Lily mengangguk, ia mengetahui sejarah perang dunia kedua Muggle banya korban disana. Salah satunya pemboman yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki Jepang. Muggle bisa membuat senjata yang berbahaya.
"Aku ingin menyembunyikan Dunia Sihir dari mereka. Namun Dumbledore beranggapan Muggle dan penyihir dapat bersatu dan hidup damai. Namun nyatanya tidak, aku melihat sebuah desa muggle membantai beberapa penyihir yang tinggal disana. Penyihir-penyihir muggleborn yang tinggal di desa itu di bakar hidup-hidup. Tak banyak yang selamat, aku hanya bisa menyelamatkan seorang anak berusia 4 tahun." Lily ngeri mendengar cerita Voldemort. Lily mulai memahami apa yang dimaksut Voldemort.
"itukah sebabnya kau membantai sebuah desa muggle beberapa bulan yang lalu?" Voldemort hanya diam. Karena Lily sudah tahu jawabanya " Lalu bagaimana anak kecil itu?"
"Ia aku titipkan pada seorang pelahap mautku. Pelahap maut yang tak pernah menunjukkan wajah dalam pertemuan dan serangan. Tenang saja ia aman disana. Ditambah tak banyak yang mengetahui tentang anak itu."
"Lalu bagaimana cara mu untuk melindungi Dunia sihir? Apa kau hanya akan membantai Muggle seperti beberapa bulan yang lalu?"
"Membantai muggle akan menjadi pekerjaan yang sia-sia Lily. Tahap pertama Aku akan memulai mengambil para penyihir kelahiran Muggle. Mungkin aku akan menggunakan salah satu manorku untuk menampung mereka."
"Tapi bagaimana dengan keluarga mereka? Akan terlalu jahat memisahkan mereka dengan keluarga mereka" protes Lily.
"dan mengambil resiko orang tua mereka memberitahu saudara mereka ataupun tetangga mereka bahwa anak mereka adalah penyihir? Asal kau tahu Lily banyak Muggleborn yang tersiksa hidup di tengah Muggle. Banyak dari mereka yang disiksa dan dikucilkan karena perbedaan mereka. Dan Dumbledore selalu mencoba hal-hal yang sia-sia saja. Dengan membuat muggle dan penyihir berdamai. Itu Omong kosong."
"Tapi orang tuaku tidak" sangkal Lily. Meski mereka orang tua angkatnya, namun mereka masih menerimanya dengan tangan terbuka. Kecuali Petunia.
"Aku akui memang terdapat beberapa yang menerima mereka namun banyak yang tidak Lily. Dan aku akan mengambil mereka dari muggle-muggle bodoh diluar sana"
Lily tak pernah mengetahui kalau Voldemort memiliki sebuah visi seperti ini dan harus ia akui ia akan mendukung hal itu atau mau tak mau akan mendukung hal itu. namun ia ingin berpendapat juga "A-aku setuju dengan visimu namun hanya tentang mengambil anak-anak yang disiksa saja. Akan terlalu kejam mengambil anak dari orang tua yang menyayanginya dan menerima keadaan mereka sebagai seorang penyihir." kata Lily lirih.
"Baiklah..Lily aku akan menurutimu.. namun kau harus membantu menjaga mereka."
Lily terkejur "Aku?"
"Ya.. aku ingin kau membantu menjaga mereka.. karena masih banyak pelahap mautku yang tak begitu suka dengan para muggleborn"
"lalu bagaimana dengan James?" Tanya Lily lirih sambil menundukkan wajah.
"Lily..Maafkan aku. Aku tak berniat membunuh Suamimu, namun ia menyerangku. Itu membuatku mau tak mau membunuhnya." Jelas Voldemort. Ia menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf. Lily saja tak menyangka Voldemort mau meminta maaf padanya, apa karena ia akan menjadi adiknya?. "Dan bukankah Severus mencintaimu Lily? Kenapa kau tak mau menyambut hatinya?"
"A-Aku tak bisa aku terlalu mencintai James, bagiku Severus hanya sahabatku" jelas Lily seraya mengigit bibir bawahnya.
"Baiklah Lily, jangan membenci Severus. Ia terlalu menyayangimu" Lily mengangguk pelan.
Tiba-tiba Minxy muncul dengan Harry lalu menyerahkan Harry yang tengah menangis pada Lily "Madam, Putra Madam terbagun"
"Terima Kasih Minxy" Sedangkan Minxy hanya memasang raut wajah aneh mendengar ucapan terima kasih itu. lalu mengalihkan perhatiannya pada Voldemort.
"Apakah Master memerlukan sesuatu?" tanyanya antusias.
"Tidak.. kau bisa kembali Minxy"
"Baik Tuan" lalu Minxy pun menghilang dari pandangan Voldemort dan Lily.
Harry sudah tenang di pelukan ibunya. Mata Hijau Harry mengerjap lucu saat melihat Voldemor lalu Voldemort memasang senyum tipis saat melihat hal itu. Dan Lily sadar Voldemort pun masih seorang manusia. Ia masih bisa tersenyum meski tipis.
"Lily bersiaplah, Kita akan ke Gringotts untuk mengatur Kubah Potter agar tak jatuh ketangan Dumbledore. Kemungkinan Dumbledore akan berusaha mendapatkan Kubah Potter untuk mendanai Light" Vodemort berdiri lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai tiga. "Sebelum itu kita akan ke Godric Hollow melihat pemakaman suamimu"
"Baik.." Lily sedikit tersenyum, membawa harry menuju Kamar mereka untuk menganti baju Harry. Mungkin sedikit memandikan Harry akan bagus.
.
.
Lestrange Vacation Cottage 11.00 am, 1st November 1981
"Ughh.." erangan lirih terdengar dari atas tempat tidur King Size dengan bed linen Coklat tua dan empat tiang ranjang berwarna hitam. Di atas tempat tidur itu terdapat sesosok wanita yang mulai terbangun dari tidurnya. Mata Hitam wanita itu terbuka sepenuhnya menatap terdiam atap ranjang. 'kamar kami..Rodo. tapi tidak di Manor' pikir wanita itu
KRIETT
Pintu dikamar itu terbuka menampilkan raut seorang Rodolphus Lestrange. "Bella..kau sudah sadar?" Tanya Rodolphus pada istrinya yang sekarang telah mendudukkan diri diranjang. Bella hanya tersenyum manis dan mengangguk kecil. Senyum itu, Rodolphus selalu mendambakan senyum itu. Senyuman yang selalu diperlihatkan Bellatrix saat ia masih kecil namun senyum itu hilang saat Sirius keluar dari rumah. Rodolphus baru menyadari, ternyata sudah dari kecil ia menggagumi sang istri, ia selalu sembunyi-sembunyi memandangi Bella setiap pertemuan pesta yang di adakan keluarga Black.
Namun sejak Sirius pergi dari rumah ia menghapus senyuman manisnya, ia selalu memasang tampang datar dan sejak pernikahan mereka ia mulai memasang tampang Gila. Tapi sekarang Senyuman itu kembali untuknya bukan untuk Sirius lagi. Tanpa sadar Rodolphus membalas senyuman itu. ia melangkah mendekati sang istri, lalu membelai serai hitam berantakan Bella.
"Rodo.." gumam Bella lirih sambil menutup mata menikmati belaian Rosolphus.
"Bagaimana keadaanmu Bella.." Tanya Rodolphus. Menghentikan belaiannya. Bella merenggek pelan saat merasakan tangan Rodolphus menjauh darinya. Ia pun membuka matanya tuk menatap sang suami.
"Aku baik.." jawab Bella pelan. Bella mengigit bibir bawahnya ia ingin mengutarakan sesuatu namun tak berani ia utarakan. Bukankah ia sudah bertekat akan mengatakannya? Kemana perginya keberaniannya sekarang?.
"Jangan membuatku khawatir Bella" Rodolphus memberanikan diri berkata apa yang ia pendam sambil mengalihkan wajahnya yang tengah sedikit memerah. Bella terteguh mendengar ucapan itu ia pun memandang Rodolphus bahagia. Apa ia memiliki peluang untuk bisa bersama Suaminya.
"Maafkan aku Rodo.. aku tak akan pernah membuatmu khawatir lagi" tekat Bella. Rodo tersenyum mendengar itu dan membelai kepala Bella sekali lagi.
"Aku senang mendengarnya" Bella tersenyum lagi. "Aku senang bisa melihat senyuman manismu lagi Bella" jujur Rodolphus. Bella semakin memerah padam.
"Ro-rodolphus.. a-aku.." sebelum Bella mengutarakan apa yang ingin ia utarakan pada sang suami. Rodolphus terlebih dahulu menutup bibir Bella dengan bibirnya. Melumat lembut bibir sang istri.
Manis itulah yang Rodolphus rasa saat ia melumat bibir Bella, ia pun dengan berani menjelajahi mulut sang istri. 5 menit mereka saling melumat bibir pasangannya, mereka pun melepas ciuman mereka untuk mengambil nafas. Bella memerah sangat ia hanya bisa menunduk tak berani memandang Rodolphus.
Rodolphus menggangkat paras sang istri yang tengah tertunduk. Rodolphus bisa meihat wajah sang istri yang memerah malu, ia tersenyum geli tak pernah ia melihat raut wajah istrinya yang menurutnya sangat imut itu-jika Bella sudah menata rambutnya dengan benar.
Rodolphus mengarahkan jarinya menuju poni Bella yang menjuntai menutupi mata kirinya lalu menyematkan helaian rambut itu ke belakang telinga. "Aku mencintaimu Bella, jangan melakukan hal yang membahayakan lagi. Tak apa-apa kau melakukan perintah Dark Lord, tapi tetaplah berhati-hati Bella".
Bella terteguh ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari sang suami. "A-aku berjanji aku akan lebih hati-hati lagi, Aku juga mencintaimu Rodo" ucap Bella. Dengan wajah memerah padam.
"Aku tak ingin kehilangan mu, kau tahukan hanya kau dan Rabastan saja yang ku punya" jelas Rodolphus.
Bella tersenyum manis melihat sang suami. " Aku tak akan meninggalkanmu Rodo. Dan tak hanya aku dan Rabastan saja yang kau punya tapi juga Bayi kecil ini" kata Bella menunjuk perutnya. Lalu memalingkan mukannya yang semakin memerah.
"Be-Bella.. maksutmu.." Bella mengangguk " K-Kau.. Hamil?" Bella tersenyum.
"Ya"
Rodolphus pun memeluk sang istri dengan erat. Ia tak menyengka ia akan mendapatkan seorang bayi. Ia akan menjadi seorang ayah "Terima Kasih" gumam Rodolphus di telinga kiri Bella. "Bella..coba tata penampilanmu aku ingin melihat dirimu yang cantik, seperti saat kau masih kecil." ujar Rodolphus.
"Rodo.. kau tak suka aku yang seperti ini?" Tanya Bella sambil memasang tampang gila.
"Tidak" jujur Rodolphus. Bella cemberut mendengar jawaban itu. "karena di benak ku selalu terlukis wajah manis Bella kecil yang tengah bermain dengan senangnya" lanjut Rodolphus. Bella hanya blushing parah sekarang. Dan Rodolphus hanya terkikik melihat wajah istrinya.
.
.
Godric Hollow, 11.50 am, 1st November 1981
Lily,Harry dan Voldemort berada di balih pohon dekat pemakaman di Godric Hollow mereka melihat pemakaman James dari jauh. Mereka tak bisa mendekat, terlalau berbahaya. Voldemort mengunakan glamor untuk menutupi identitasnya dengan mengubah surai hitamnya menjadi coklat muda, iris matanya yang berwarna merah kini telah berubah menjadi coklat tua, berdiri menemani Lily dengan Jubah Hitam. Benar-benar membuat imet seorang Pureblood dengan memasang ekspresi tenang dan angkuh.
Sedangkan Lily masih mengunakan gaun Hijau Zamrudnya tadi. Namun sekarang Surai Merahnya telah berubah menjadi Hitam dan iris matanya pun sekarang berwarna Biru pucat. Dengan mengedong Herry-yang tengah tidurlelap. Berdiri beriringan melihat setiap prosesi pemakaman.
Disana banyak sekali sahabat-sahabat Lily dan James yang datang berkabung. Sebagian dari mereka meneteskan air mata kesedihan. Lainnya hanya memasang wajah prihatin. Bahkan banyak orang-orang yang tidak dikenalnya ikut melihat prosesi pemakaman. Mungkin warga Dunia Sihir yang prihatin dan kasihan pada mereka.
Saat mata nya tertuju pada sosok Dumbledore yang berdiri di barisan depan dengan memasang raut kasihan. Kemarahan benar-benar menyelimutinya. Mungkin jika tidak ditahan oleh Voldemort ia sudah membunuh Dumbledore dengan kutukan pembunuh. "apa sebaiknya kita pergi saja?" Tanya Voldemort.
"Tidak, aku masih ingin disini" Lily mulai menekan kemarahannya. Ia belajar memasang tampang tenang dan ramah. Tapi mata tak bisa menyembunyikan ekspresi tersakiti dan kesedihannya. Air mata mengalir dari matanya menetes tampa ia sadari.
"Lily.." Voldemort mengenggam tangan Lily. Ia melihat sisi yang tak perna ia lihat dari Lily. Sejak dulu Lily selalu terlihat sebagai wanita yang kuat dan tak takut berhadapan dengannya. Tapi Lily tetap seorang wanita, ia mudah tersakiti. Awalnya ia memang hanya ingin menmafaatkan Lily saja. Tapi sekarang ia tak bisa seja melihat air mata Lily. Ia ingin membuat Lily tersenyum, Lily lebih cantik jika tersenyum dari pada menangis.
Satu jam mereka disana. Voldemort hanya mememani dan mencoba menemangkan Lily dengan mengenggam tangannya memberikan pesan kalau ia tak sendiri. Lily menghapus tangisnya lalu memadang Voldemort. "Ayo kita pergi ke Gringotts" ajak Lily. Dan mereka pun berApparate menuju Gringotts.
.
.
Gringotts, 01.00 pm, 1st November 1981
Voldemort menemani Lily dan Harry menuju Gringotts. mereka berjalan beriringan dengan memasuki gedung Gringotts. Masih dengan gelamor saat mereka mengunjungi pemakaman James. "Permisi saya ingn bertemu dengan Tuan Ragnook yang mengurus berangkas Keluarga Potter" ujar Lily pelan pada sesosok goblin yang ada di depannya.
Goblin itu memandang Lily lama lalu mengangguk menyanggupi permintaan Lily. "Mari ikut saya Madam". Mereka melangkah menuju sebuah ruangan dengan pintu coklat tua. "Madam ini ruangan Tuan Ragnook. Anda sudah ditunggu oleh beliau" setelah mengucapkan itu dan membuka pintu untuk Lily Voldemort dan Harry. Goblin yang mengantar mereka mengundurkan diri.
Lily melangkah masuk diikuti Voldemort. "Madam Potter.." sapa Ragnook saat melihat Lily "Dan Dark Lord" Voldemort hanya mengagguk menangapi.
"Tuan Ragnook" balas Lily dengan senyum di bibirnya.
"Silahkan Duduk" kata Ragnook sambil menunjuk dua kursi yang ada di depan mejanya. Dan Lily serta Voldemort pun mendudukkan diri. "Ada perlu apa Madam Potter kemari?"
"Aku hanya ingin melihat surat wasiat James" ujar Lily to the point.
"Baiklah menurut Surat Wasiat Lord Potter atau suami anda. Semua Harta Keluarga Potter akan diberikan pada putra anda Harry Potter. Ini Surat-suratnya" Ragnook memberikan surat wasiat Jemes pada Lily. Dan Lily pun membaca surat-surat itu.
"Baiklah.. tolong juga rahasiakan keberadaan kami. Terutama pada Dumbledore jika ia bertanya tentang Brangkas Milik keluarga Potter. Dan aku ingin menanyakan apa ada berangkas keluarga kandungku. Aku baru mengetahui bahwa aku hanya adopsi keluarga Evans" pinta Lily.
"itu bisa kita lihat dengan ritual darah kecil. Dan kata bisa mengetahui keluarga kandung anda apabila ada berangkas keluarga kandung anda di Gringotts ini." jelas Ragnook.
"Baiklah bisakah kita melakukannya sekarang? Aku tak yakin akan bisa mengunjungi Gringotts dalam waktu dekat"
Ragnook pun menyiapkan semua ritual darah dan tes-tes kecil untuk Lily. Lily hanya disuruh memberikan Darahnya sedikit yang dia masukkan ke dalam botol kecil. Menunggu 30 menit lalu Ragnook menemui Lily kembali dengan sebuah perkamen ditangannya.
"Baiklah madam menurut hasil ritual yang kami lakukan. Anda terbukti seorang Roserough terahir. Jadi kami bisa memberikan kunci berangkas Keluarga Roserough pada anda jika anda menanda tangani perkamen ini. jumlah harta anda akan muncul dan anda bisa mulai menakses harta keluarga anda" jlas Ragnook dan Lily pun melukai jari tengahnya lalu meneteskan darahnya ke perkamen yang disodorkan Ragnook padanya.
Perkamen itu pun bersinar lembut lalu dari perkamen itu keluarlah data berangkas-berangkas milik keluarga Roserough.
~ Liliana Elena Roserough ~
~ 30 Januari 1960 ~
~ Umur : Dua Puluh Satu Tahun ~
.
~ Vault Informasi ~
.
Roserough Family Vault 124
.
Galleon: 986.755.874
Sickle: 432.980
Knuts: 1.322.845
.
Objek : Artefak Keluarga Roserough
Tanah : Roserough Family manor, Roserough Summer House, Roserough Winter House, Roserough Vacation Cottage, Roserough Beach Villa, Roserough Italia Cottage, Roserough Beach Cottage, Pulau Pribadi Keluarga Roserough di Skotlandia Timur, Satu Villa di Greenwich.
.
Elf Rumah : 103.560
Anggota keluarga : Harry James Potter – Roserough (putra)
Saham dan Kursi : –
Kepala Keluarga Roserough Vault 167
.
Galleon : 675.663.523
Sickle : 234. 675
Knuts : 355.986
Alexander Bryan Roserough Vault 233
Status : Ayah (mati)
.
Galleon : 433.873.632
Sickle : 436.876
Knuts : 96.862
Elena Deisy Roserough Vault 246
Status : Ibu
.
Galleon : 231.876.126
Sickle : 125.792
Knuts : 175.233
Lily Potter Vault 326
.
Galleon : 162.562.422
Sickle : 231.438
Knuts : 63.854
"Semua ini?" Tanya Lily tercengang. Ia tak menyangka harta sebanyak ini adalah miliknya. Tangannya sedikit bergetar melihat warisan yang ia dapat dari keluarga kandungnya.
"Ya.. ini semua dari total berangkas keluarga Roserough. Sedangkan semua berangkas Keluarga Potter sekarang telah menjadi atas nama anak anda." Lily hanya mengangguk. "Ada lagi yang anda perlukan madam?"
"Tidak.. hanya ingat tolong jangan memberitahu siapapun tentang kami masih hidup terutama orang-orang Light"
"Baik"
Setelah itu pun Lily dan Voldemort berdiri dan melangkah keluar Gringotts. Tak banyak kata yang mereka ucapkan. Hanya kesunyian yang menghiasi perjalanan kembali ke manor Voldemort. Voldemort hanya diam membisu sedangkan Lily masih memikirkan Berangkasnya.
Saat mereka tiba di manor. Lily benar-benar ingin bertanya sesuatu pada Voldemort. "My Lord…" nada gugup terdengar binggung harus memanggil Voldemort apa.
"Kau bisa memanggilku Kakak jika kau mau. Nanti malam kau akan menjadi adikku kan." Ujar Voldemort.
"Ba-baiklah, Ka-kakak… ke-kenapa a-aku harus me-lakukan Ritual Darah n-nanti malam? B-bukankah a-aku sudah terbukti se-sebagai keturunana terakhir keluarga Roserough?" Tanya Lily sedikit gagap.
"Ya menurut Gringotts kau keturunan terakhir Keluarga Roserough. Namun aku hanya ingin menarik darah Roserough milikmu. Untuk menyadarkan sihir keluarga Roserough yang tertidur. Hal itu dapat membantumu lebih mudah mempelajari Parselmagic. Dan juga mengikat kita menjadi saudara."
Lily mengangguk mengerti. Lalu berpamitan menuju kamar bersama Harry-yang masih tertidur lelap.
.
.
Lestrange Vacation Cottage, 08.30 pm, 1st November 1981
Bellatrix sekarang tengah duduk di kursi yang ada di kiri ranjang Queen Size dengan bed linen Biru tua. Diatas ranjang itu terdapar sang kakak sepupunya. Sirius Black. Saat ini penampilan Bella benar-benar sudah berubah ia menata rambutnya meski masih mengunakan gaun gotik gelap.
Sudah satu jam ia disini demi menjaga sang kakak sepupu. Setelah makam malam tadi ia langsung pergi kemari, untuk menemani Sirius yang semenjak kemarin malam belum sadarkan diri.
"Sirius" gumam Bella sambil membelai rambut hitam sang pria. Kakak sepupunya ini tak banyak berubah, masih seperti dulu. Raut wajah jahil dan sedikit menakutkan. Ia jadi ingat kebersamaannya dengan Sirius saat ia kecil. Bermain bersama bahkan membuat kejahilan bersama. Saat itu target paling menyenangkan adalah kakak-kakaknya. Narcissa dan Andromeda, sayang sekali Regulus lebih senang mengunci diri di perpustakaan dari pada bermain bersama mereka berdua.
"Ugh.." Bella tersenyum saat mendengan erangan dari pria yang tengah terbaring lemah di atas ranjang. Bella mendekat dan mendudukkan diri di ranjang dekat Sirius. Masih membelai surai hitam milik sang kaka sepupu.
Mata hitam sendiri itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Sirius memandang Bellatrix yang tersenyum padanya. 'Bella? Dimana aku? Bukankah aku tertangkap para Auror?' Sirius menyergitkan dahi. "Bella?"
"Siri.. bagaimana keadaanmu?" tanay Bella ramah. Nada suara ini, nada suara yang selalu Bella gunakan saat berbicara padanya sebelum ia pergi dari rumah.
Sirius mencoba mendudukkan diri, sedikit susah. Mungkin karena ia sudah tak sadarkan diri terlalu lama dari biasa ia tertidur. "Bagaimana aku ada disini?" Tanya Sirius saat ia sudah berhasil mendudukkan dirinya.
"Rodo menyelamatkanmu dari Departemen Auror" jawab Bella. "Aku senang kau baik-baik saja"
"Rodo?" Bella hanya mengangguk menanggapinya. "L-lalu bagaimana James,Lily dan Harry? JAMES..WORMTAIL AKU HARUS MEMBUNUHNYA DIA" Sirius tiba-tiba berteriak histeris.
"Tenang Siri..tenanglah.." pinta Bella mencoba mencegah Sirius turun dari tempat tidur.
"Tidak Bella.. tidak.. WORMTAIL.. Dia penghianat ia membuat James,Lily dan Harry mati. Ia" tampa sadar Mata Kiri Sirius telah menjatuhkan manik-manik air mata. "Mereka sudah tiada, aku-aku.."
"Tenangkan dirimu Siri. Kumohon tenanglah.." Pinta Bella lagi sekarang ia memberanikan diri memeluk tubuh sepupunya itu. namun Sirius dengan cepat menghempaskan tubuh Bella, memasang tatapan marah yang ia tujukan pada Bellatrix.
"Ini semua gara-gara TUAN BODOHMU ITU. Jika bukan karena DIA, MEREKA PASTI MASIH HIDUP SEKARANG, MEREKA TAK AKAN MENINGGALKAN KU" Sebelum Sirius melanjutkan kemarahannya ia sudah ditodong tongkat sihir oleh Rodolphus.
"Jangan coba-coba menyakiti istriku Black" geram Rodolphus berbahaya. Sirius terdiam dan menatap benci pada Rodolphus.
"Hei-hei.. ada apa ini.. kenapa suasananya memanas seperti ini? ah Bella.." Ujar Rabastan yang baru saja masuk kedalam kamar itu. ia membantu Bella berdiri dari lantai, Rodolphus, Rabastan dan Sirius bisa meluhat air mata di mata Bellatrix.
Mereka semua tahu, Bellatrix tak pernah menangis. Ia sudah berhenti menangis sejah Sirius pergi dari rumah. Tapi sekarang ia..menangis dihadapan mereka. Sirius terteguh melihatnya, wanita yang selalu bertingkah gila itu menangis karena dia. Bella masih adik kecilnya, ia bisa melihat Bellanya saat memandang mata yang biasanya diselimuti sinar gila.
Rodolphus menurunkan tongkatnya dan langsung menuju Bellatrix lalu memeluknya tubuh sang istri erat "Apa kau tak apa? Tak ada yanga sakitkan?" Tanyanya pada Bella lalu mengelus perut Bella lembut.
"Aku tak apa-apa" gumam Bella menyelipkan wajahnya ke dada sang suami.
"Oh Sirius lihatlah kau buat Bella menangis" kata Rabastan enteng. Ia sekarang sudah ada di tempat Rodolphus tadi dan mengantikan Rodolphus menodong Sirius dengan tongkat sihir.
"Bella" gumam Sirius.
Bella mengangkat wajahnya melihat sang kakak sepupu. Ia tak berani berkata-kata.
"lebih baik kita bicara dengan baik-baik. jika kalian bertengkar" Rabastan menunjuk Rodolphus dan Sirius "Bella akan menangis lagi" Akhirnya mereka berdua mengangguk. Menyanggupi ajakan Rabastan. Sedangkan Bella masih terdiam dipelukan suaminya.
"Kenapa kalian menyelamatkanku" Tanya Sirius langsung tapi ia tak berani memandang Bella.
"tentu saja karena permintaan Bella" saat Rabastan menjawab pertanyaannya ia langsung menatap Bella yang sekarang menenggelamkan parasnya di dada Rodolphus lagi.
"tapi kenapa..? apa kalian ingin menyuapku untuk bergabung dengan Dark karena kalian menyelamatkanku?" Sirius menggunakan nada sinis saat ia bertanya hal itu.
"Tidak.. pihak Dark tidak ingin orang yang bergabung karena paksaan. Kami bergabung kalau kami ingin. Kami bukan pemaksa" jelas Rabastan tenang. "Dan lagi Lily dan anaknya selamat. Tapi sayang James tidak bisa tertolong. Jika ia tak menyerang Dark Lord pasti ia hanya di lumpuhkan saja." Lanjut Rabastan.
"APA..? Lily dan Harry?"
"Rabastan kita tak boleh menceritakan hal itu pada orang selain dari pihak Dark" Rodolphus menegur Rabastan. bagaimana ia berani melanggar perintah sang tuan.
"Tenang saja kakak.. cepat atau lambat Lily pasti meminta untuk bertemu dengan Sirius. Dan lagi malam ini akan di adakan upacara darah. Pasti besok Lily sudah meminta bertemu Sirius" ujar Rabastan terlalu santai.
"A-apa maksutmu Lily? Upacara Darah?" Tanya Sirius tak mengerti.
"Tenang saja Sirius kau akan tau besok lebih baik sekarang kau istirahat. Atau kau lapar? Akau bisa memintakan makan malam pada peri rumah untukmu" jawab Rabastan.
"ayo keluar Bella" ajak Rodolphus, dan kedua pasangan suami istri ini pun melangkah keluar dari kamar yang dihuni Sirius.
"istirahatlah .. aku akan menyuruh Griff mengantar makanan untukmu" Rabastan pun melangkahkan kaki meninggalkan Sirius. "Sabarlah Sirius. Besok kau pasti akan mengerti jawaban dari semua pertanyaanmu." Lanjut Rabastan lalu menutup pintu kamar.
.
.
Slytherin Manor,11.45 pm, 1St November 1981
Disebuah ruangan yang luas terlihat Lily dan Harry yang duduk di kursi yang diletakkan di ujung ruangan. Ditengah ruangan terdapat Voldemort yang tengah mengambar sebuah pentagram dengan huruf huruf rune kuno yang mengelilingi pentagram itu. setelah huruf-huruf rune kuno itu ada hurut yang kemungkinan adalah huruf Parsel. Karna tampa sadar Lily bisa membacanya. Voldemort mengambar pentagram itu dengan sebuah ramuan yang Lily tak tahu namanya. Yang Lily tahu Ramuan itu terdapat campuran darahnya dan Harry.
Saat selesai Voldemort memanggil mereka berdua, Lily mengunakan jubah hitam gelap dengan mengendong Harry di pelukannya. Harry tengah terselimut kain hitam di pelukannya.
"Lily berdirilah di pusat lingkaran." Lily menurut. Ia berdiri di pusat pentagram bersama Harry. Voldemort ada di luar lingkarang. "Bersiaplah" Voldemort membaca sebuah mantra yang mirip dengan nyanyian ditelinga Lily. Mantra itu panjang mungkin di telinga orang lain itu hanya desisan.
Gambar dan tulisan yang ada dilantai mulai bersinar emas. Lalu dari tulisan itu mulai keluar kabut Hitam kehijauan yang mulai menyelimuti tubuh Lily dan Harry. Kabut Hitam kehijauan itu mulai mengumpal menyelimuti tubuh Lily dan Harry seperti bentuk bola.
Lily merasa inti sihirnya ditarik ke permukaan. Teriakan lolos dari bibirnya, ia mempererat dekapannya pada Harry. Namun Harry sama sekali tak berteriak. Harry hanya tenang menerima kabut hitam kehijauan yang merayap memasuki kulit mereka.
20 menit pun berlalu. Kabut hitam kehijauan itu telah sempurna masuk kedalam tubuh Lily dan Harry. Lily merasa lelah, kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya tapi ada Harry di pelukannya. Lily mulai terjatuh namun sepasang tangan mencegahnya jatuh. "kau tak apa?" tanya Voldemort.
"Ya.. tapi aku sudah tak kuat berdiri." Jawab Lily.
"tak apa..kita bisa melanjutkan ritual terakhir dengan duduk. Duduklah" Lily didudukkan di lantai, masih ada gambar pentagram di bawahnya. Mereka akan memulai ritual kedua tapi sekarang Voldemort ikut mendudukkan dirinya di depan Lily. "Ritual kedua adalah untuk mengikat darah kita. Aku akan tahu jika kau ada dalam bahaya. Harry tidak akan mengikuti Ritual kedua ini. Ritual ini akan mengikat kita sebagai kau bersedia Lily. Untuk menjadi Adikku melalui ritual darah?" Jelas Voldemort. Lily hanya mengangguk.
Voldemort mengiris jari telunjuknya. Lalu mengeluarkan dua tetes darah di atas pentagram. Pisau perak kecil itu voldemort arahkan kepada Lily. Meminta Lily melakukan hal yang sama seperti dia. Lily melakukan seperti apa yang Voldemort lakukan ia meneteskan dua tetes darahnya ke atas tetesan darah Voldemort. Lalu Lily dan Voldemort menutup kedua mata mereka.
Kembali, Voldemort mengucapkan mantra yang Lily tak mengerti. Mantra itu panjang dan mirip seperti nyanyian. Lalu darah mereka mulai bersinar bersama pentagram namun tetesan darah itu lebih bersinar terang dari pada sinar dari pentagram. Lalu sihir mereka mulai keluar dan bercampur saling mengenal. Saat selesai Voldemort dan Lily membuka mata mereka.
Dapat Lily lihat senyum di bibir Voldemort. Senyum manusiawi, bukan seringai mengerikan yang biasanya ia tunjukkan entah di pertemuan saat mereka menjadi musuh tau kemarin malam saat pertama ia yang Voldemort berikan pada Harry pagi tadi. Tapi sekarang itu untuknya. "Sekarang kau adik ku.. Lily" entah mengapa Lily membalas senyuman Voldemort. "Lily apa kau akan tetap mengunakan nama Keluarga Potter? Sekarang kau harus mengunakan nama Keluarga Roseroughmu. Nama aslimu"
"Ya..sekarang namaku Liliana Elena Roserough adik Dark Lord Voldemort" ucap Lily lalu memandang Harry yang ada di gendongannya. Memandang mata hijau sang putra. "dan sekarang namamu Harrison Bryan Roserough" Harry hanya tertawa lucu mendengar ucapan sang ibu. Ia seperti mengerti apa yang di ucapkan sang ibu.
.
.
-TBC-
Author Note:
Hai Minna-san…
Gimana kali ini? jelek ya?
Entah kenapa Yuki malah gak dapet Srek nulis pas percakapan Tom sama Lily..T^T
Tapi pas nulis Bella ma Rodo
Ah tangan serasa jalan sendiri #timpuk bata
Ya entah napa bisa gitu..
Mungkin gara-gara liat gambar Bella.. pas Browsing carik gambar Rodo…*Author Gila
Hahaha.. baru nyadar Rodolphus kan di Film Harry Potter Cuma nampil Nama doang..#ketawa gila..
Lalu cerita ini kepanjangan gak?
Bosenin ya?
Dan Typo(s) pasti masih ada..#angguk-angguk..
Maklum Yuki kan manusia jadi maklum kalau masih ada yang salah..
Hehehe..
dan disini Buka Rita seeker... tentu aja ini latar tahun 1981 jadi Rita masih di Hogwart buat sekolah#ngarang
Oke.. Bales Review yuk :
: Seneng deh kalau Key-chan suka..hahaha..
Dan ni udah update..Maaf ya kalau jelek..
And Yuki juga entah napa suka banget pas nulis RodoBella hahaha… Makasi Reviewnya
Review lagi ya..^^ di tunggu..
.
skygirl25 : saying sekali TomHarry nya bakal lama muncul.. hahaha…
kalau Severus kayaknya ngak bias deh.. aku masih butuh Lily sendirian dulu.. tapi tetep mungkin bakal ada SevLily momen namun bakal Chapter kedepan, entah Ch berapa..
syukurlah kalau suka.. entah napa aku juga suka ma Bella.. jadinya gak begitu bias sakitin Bella..
Ni dah Update,, Makasi Reviewnya Review lagi ya.. di tunggu…
.
Lindy : Ya seneng kalau Lindy suka ma pair satu tuh.. Rodo memang gentlemen harus dong..
Dan makasi doanya..
Yuki binggung mau bales pa lagi.. Makasi Reviewnya review lagi ya.. ditunggu..
.
hatakehanahungry : hata-san #bolleh panggil gitu?.. iya.. cerita tentang Harry bakal ada 2 chapter kedepan atau 3..#dihajar..
ditunggu aja Yuki masih mau ngurus Sirius dulu..#smirk..
Makasi Reviewnya Review lagi ya… di tunggu…
.
Par MinYeon : Makasi Reviewnya.. ni dah update.. maaf James ku bunuh..#nangis..
Dan Sirius..dichapter ni gak di apa-apain kok mungkin Chapter depan..#Smirk..
Ditunggu Reviewnya..
.
Rika : Makasi reviewnya..di sini ada lagi..RodoBella…Sirius entahlah.. gak kepikiran buat dia jadi DE tapi liat aja nanti. SiriRemmy.. hemm kayaknya.. tidak, maaf aku udah punya gambaran khusus buat moony..xixixi.. Severus jadi dong.. aku suka dia pas ngajar dengan killernya..hahaha#ditimpuk
Maaf ya soal JamSev.. tapi mungkin bakal aku buat dikkit untuk mu… tapi bakal nunggu lama..Lihat aja nanti#smirk
Draco aku buat jadi manusia hahahah…#digorok ditunggu aja ya
Gak papa kok banyak Tanya,, maklun Yuki juga suka gitu soalnya..hehehe..
Di tunggu Review nya..lagi..
.
Kim Ri Ha : maaf James udah mati#ditimpuk dan Lily sekarang menjanda..
Maaf ya jadi acak-acak cerita asli yang udah Ri Ha-shi bayangin.. Mianhamnida..
Bella..? jujur Yuki juga ntah napa tiba-tiba ngetik kayak gitu.. Bella itu menurut Yuki Char yang menarik sih.. jadi Yuki suka ma dia..^^
Ni udah lanjut. Makasih Reviewnya.. dan Review lagi ya..^^
.
Al-Mcs :Makasih Reviewnya.. nih dah lanjut.. makasih juga doanya..^^ Yuki jadi semangat..
Seneng kalau Al-Mcs suka pair tu..^^
Ditunggu Reviewnya lagi
Buat semua yang baca..
makasi ya
ditunggu Reviewnya..^^
