Disclaimer: Bukan punya saya ya, kalau punya saya mana mungkin saya nulis cerita ini. Ehehe
Dedicated for GHARALS (Gaara Hinata Adolescence Romance in A Love Song) and also for Sabaku no Gaara who had his birthday today! XD
Chapter 4
And She Will Be Loved...
"Kau tahu... aku tak peduli pada pendapat orang lain. Tapi menurutku kau memiliki banyak hal yang tak dimiliki Sakura. Kau pekerja keras. Kau memiliki kekkei-genkai yang unik. Kau mempunyai pemandian air panas yang bagus. Kau cantik..." Aku menciumnya kembali. Ciuman panas yang kupastikan tak akan pernah ia lupakan. Aku menarik bibirku hanya beberapa inci di atasnya, lalu bergumam "...dan aku suka kau. Mengerti?"
Ia terpana selama beberapa saat. Dengan punggung tangannya ia mengelus wajahku yang luka-luka. Sentuhannya lembut dan ringan. Ia tersenyum padaku, senyuman sedih, kemudian mengangguk.
Dan aku menciumnya lagi.
Saat itu yang ada di pikiranku adalah beberapa menit lagi aku pasti akan bercinta dengan gadis di bawahku ini. Bagaimana tidak? Dia begitu terbuka dan sama sekali tak keberatan dengan lelaki telanjang yang sedang bercumbu dengannya.
Namun beberapa saat kemudian, ketika tanganku meraih payudaranya, mendadak ia mendorongku. Mendorongku dengan tenaganya―yang sampai sekarang masih misteri bagiku dari mana sumbernya― hingga aku tercebur ke kolam air panas.
"WHAT THE HECK?"
Aku meraung marah begitu berhasil kembali berdiri. Walaupun masih di kolam, aku bisa menggunakan jurusku untuk meremukkan badan perempuan sialan ini.
Dia duduk disana, kakinya ia silangkan sedemikian rupa agar menutupi kemaluannya. Matanya yang besar itu dipenuhi kekhawatiran saat tangannya menutupi mulutnya yang ternganga.
"M-M-Maafkan aku. K-Kau baik-baik saja?" Ia bergeser hingga kakinya masuk ke kolam. Telapak tangannya kemudian bersatu seperti posisi berdoa. "S-Sungguh. A-Aku tak bermaksud melemparmu. H-Hanya ingin... m-m-menghentikanmu. S-Sungguh."
Aku menghembuskan napas kesal. Telanjang sambil memohon maaf seperti itu seharusnya tergolong perbuatan kriminal. Kalau semua perempuan meminta maaf seperti itu, aku yakin tak ada lagi yang namanya penjara perempuan.
"Kenapa kau ingin menghentikanku?" Dia tak bergerak dari tempatnya saat aku kembali menghampirinya. Kedua lenganku masing-masing berada di sisinya, memenjarakannya. Ia dengan canggung memainkan kedua telunjuknya sambil tersenyum gugup.
"A-A-Aku..." Ia terdengar ragu-ragu. "Umm... Itu... Eh... S-Sebelum kau... m-melakukan itu," Ia menekankan suaranya, "...m-mari kita telaah s-situasi kita masing-masing terlebih dahulu."
Aku mencengkeram kedua bahunya, lalu memandang tajam matanya. Ia melirik tanganku dengan gugup. "Kita ada di pemandian. Hanya kita berdua. Telanjang. Aku terangsang. Kurasa tak ada lagi yang perlu ditelaah."
Dia terlihat panik sekarang. "K-Kurasa a-aku belum siap..." Ia menggigit bibirnya, kemudian terkesiap saat aku memberi gigitan kecil pada lehernya.
"Jangan khawatir. Aku akan pelan-pelan." Aku berusaha meyakinkannya. Sekali lihat aku tahu cewek ini masih perawan. Aku tak akan berbuat kasar padanya. Kecuali kalau dia yang minta.
Aku menciumnya lagi, kali ini dengan gigitan pada bibir bawahnya. Ia terkesiap lalu aku bisa merasakan tangannya yang halus meraba-raba punggungku.
Ia menyukainya.
Aku menjauhkan bibirku, kemudian menyeringai padanya. "Mau lagi?"
"T-Tidak," lalu ia terlihat ragu, "A-Aku gak tahu..."
"Ya, kau mau lagi." Aku menyimpulkan jawabannya, kemudian menggiti bibirnya lagi. Kali ini dengan lebih ganas.
Ia mendorongku menjauh, lalu menyentuh bibirnya yang membengkak. "A-Aku masih belum tahu mau melakukan ini apa engga... B-Beri aku waktu."
Aku menghela napas. "Kenyataan bahwa kau masih disini membuktikan secara sadar ataupun tak sadar kau tertarik dengan seks." Aku mulai berfilosofi. "Kau juga tak mendorongku lagi seperti tadi. Artinya aku membuat suatu kemajuan disini."
"T-Tapi ini terlalu cepat! A-Aku.. Aku masih 18 tahun..."
"Terus kenapa? Aku kehilangan keperawananku waktu aku umur 14 tahun."
Ia terkesiap mendengarnya. "B-Benarkah?"
"Ya. Jadi kau tak perlu khawatir, aku berpengalaman."
Dia menggeleng-geleng. "A-Aku masih gak yakin."
"Kau boleh memegang kendali kalau begitu. Lakukan apa yang kau mau pada tubuhku." Aku merentangkan lenganku, memberinya izin.
Seluruh wajah dan lehernya memerah.
"A-Aku bahkan tak tahu apa yang harus kulakukan!" Ia tertawa gugup.
"Kau tahu Hinata," Aku menyentuh dagunya, membuatnya mendongak padaku, "Semakin kau menolak, semakin ini akan terasa kasar bagimu." Aku menggeram padanya. Kemudian ide itu tiba-tiba terlintas, membuatku tertawa kecil lalu berbisik padanya, "atau mungkin itulah yang kau inginkan dari tadi? Kau mau aku melakukannya dengan kasar? Tidak masalah. Kau hanya perlu meminta."
Dia menatapku tak percaya. Apa aku menebak dengan benar? Ya Tuhan, aku tak menyangka perawan seperti dia ternyata punya fantasi jorok seperti itu. Tapi seperti yang pepatah bilang, jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Si Hyuuga ini boleh saja terlihat polos, tapi ternyata dalamnya liar.
"Haruskah aku menunggu sampai kau menjerit dan menendangku?" Aku mendorongnya hingga terlentang, kemudian merangkak di atasnya.
"A-A-Aku tidak melukai orang dengan sengaja. I-Itu melanggar kode etikku."
Aku suka dia. Dalam posisi seperti ini biasanya perempuan lain sudah akan membiarkanku melakukan apa saja. Tapi perempuan ini tidak. Dia masih tetap menggodaku dengan berpura-pura menolak. Aku suka perempuan yang jual mahal begini.
"Bagaimana kalau aku memperkosamu?"
Matanya sontak melebar dan pupilnya mengecil. Dia merasa dirinya terancam sekarang. Namun sebelum ia benar-benar menendangku, aku sudah menahan kakinya dengan lututku.
"TIDAK!" Ia berteriak. "JANGAN!" Kepalannya sudah hampir meninju wajahku kalau aku tak menangkapnya. "BERCINTA HARUS DIDASARI DENGAN CINTA! BUKAN PAKSAAN!" jeritnya panik.
Dia memang benar-benar lucu. "Shh. Tenang. Aku cuman bercanda."
Ia membuang muka, menoleh ke samping, mengabaikanku. "Aku tak suka candaanmu," katanya.
Apa dia ngambek?
Ia kemudian mendorongku. Dengan wajah seperti itu aku tahu kalau aku tak menyingkir, ia pasti akan menggunakan tenaganya untuk melemparku lagi. Sambil menyilangkan kedua lengan di depan dadanya, ia berdiri dan meraih handuk.
Dengan tenang aku kembali masuk ke dalam kolam. Aku tahu ini curang, dan ia pasti tak menyukainya. Tapi aku tak bisa membiarkannya meninggalkanku dalam keadaan terangsang. Tanpa berbalik pun aku bisa membayangkan ekspresi wajahnya.
Kalau tadi dia ngambek, mungkin sekarang dia murka.
"Gaara!" Ia berseru.
"Ya?"
Aku bersandar pada pinggir kolam, membelakanginya.
"L-Lepaskan aku!"
"Memohonlah."
"L-Lepaskan aku! K-Kumohon!" Dia benar-benar melakukannya. Tapi seharusnya dia juga tahu aku sama sekali tak ada niat melepasnya.
"Tidak cukup."
"G-Gaara, k-kumohon dengan amat sangat l-lepaskan p-p-pasirmu." Suaranya terdengar pecah sekarang.
Aku berbalik, kemudian memandang perempuan itu dengan dagu di atas kedua lenganku yang terlipat. Ia tampak sangat takut melihat pasir yang membentuk borgol di kakinya.
"Kalau kulepas kau akan kembali kesini?"
"I-I-Iya," Dia mengangguk. Cengkeramannya pada handuk menguat, seakan-akan takut aku akan menggunakan pasirku untuk menariknya.
Haha.
Maka aku pun melepaskannya. Tapi, begitu butir pasir terakhir meninggalkan kakinya, perempuan itu langsung melesat keluar dari pemandian, meninggalkanku sendirian. Aku tak bisa membiarkannya.
Setelah mengambil handuk, aku pun melesat keluar mengikutinya. Aku bisa melihat jejak air di lantai serta suara langkah kakinya. Masih terlalu cepat seratus tahun baginya untuk kabur dariku. Dalam beberapa detik aku sudah menyusulnya dan gadis itu sudah hampir memasuki sebuah ruangan.
Aku mencengkeram lengannya lalu menariknya ke arahku.
Dia menjerit, lalu menginjak kakiku. Pijakannya membuatku kaget hingga peganganku padanya terlepas. Ia mengambil kesempatan tersebut untuk lari dariku. Tapi aku langsung mengejarnya, kemudian menarik rambutnya.
Gadis ini lucu sekali.
Ia berputar kemudian menggigit tanganku. Dan sekali lagi berhasil kabur.
Permainan apa ini? Kucing-kucingan? Apa aku jadi kucingnya? Ya, kurasa saat ini aku jadi kucingnya. Baiklah, kalau dia mau main, aku akan meladeninya. Tunggu sampai aku menangkapnya.
Muaha.
Dia sudah berada di ujung koridor kemudian menoleh ke belakang dan terkikik melihatku. Aku tersenyum melihatnya. Kurasa ia sudah tak ngambek lagi. Tanpa diduga ternyata gadis ini tak begitu buruk. Perempuan kalau sudah ngambek biasanya suka menghancurkan barang, seperti Temari, atau mendadak jadi banyak mau. Mau beli inilah, beli itulah, mau makan inilah, makan itulah. Tapi Hinata tak begitu. Dia cuman butuh... butuh apa? Cuman butuh dikejar?
Saat itu aku memutuskan, tidak hanya lucu, tapi Hinata ternyata gadis yang unik.
Unik karena ia tak seperti gadis kebanyakan.
Aku berhasil menghentikannya. Kali ini tak hanya menarik rambut atau menahan bahu, tapi aku memeluk tubuhnya supaya dia tak bisa lari kemana-mana. Ia meronta-ronta, namun aku mempererat pelukanku. Dan ia tertawa cekikikan.
"Ampun..." katanya disela-sela tawanya. "Ampun... Aku gak akan lari lagi."
Siapa yang percaya? Aku mengangkatnya lalu memanggulnya di bahu. Ia memekik kemudian meronta-ronta sambil memohon padaku untuk menurunkannya.
Yang mungkin akan kulakukan nanti.
Aku membawanya kembali ke tempat semula, ke pemandian campur, lalu menurunkan Hinata yang wajahnya merah karena kebanyakan tertawa ke kolam. Bukannya marah, tawanya malah makin keras. Aku tak mengerti lagi apa isi kepala cewek ini. Tapi melihatnya tertawa seperti itu aku sendiri tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum.
"Pembalasan," ujarku saat ikut masuk ke dalam kolam.
Begitu tawanya mereda, ia bergegas ke pinggir kolam untuk memeras air dari handuknya yang basah kuyup.
"Sudah lama aku gak ketawa sampai suaraku serak," bisiknya pelan.
"Tidak sulit membuatmu tertawa." Ya, kalau hanya kejar-kejaran begitu yang dibutuhkan, aku bisa membuatnya tertawa seratus kali sehari.
"Hanya kesempatannya yang tak pernah ada."
Itu memancing perhatianku.
"Jelaskan." Itu bukan permintaan, itu perintah.
Hinata menghela napas, kemudian membaringkan kepalanya pada lantai di pinggir kolam. Ia tampak menyusun kata-katanya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Aku memang tak memiliki banyak kesempatan untuk tertawa. Kerja, latihan, kerja, latihan, hidupku begitu monoton hingga rasanya aku mau menjerit."
"Kenapa tak kau lakukan?"
Dia tertawa kecil. "Sudah sering. Tapi... kau tahu, rasanya seperti masturbasi. Kau tak mendapatkan kepuasan yang sesungguhnya. Hanya dengan berteriak, maksudku." Wajahnya memerah.
"Jadi kau tahu bagaimana rasanya masturbasi?" Aku menyeringai padanya.
"Aku ini gadis 18 tahun yang normal." Ia menegakkan badannya, lalu memunggungiku.
"Kalau begitu kenapa kau tak menikmati seks seperti gadis 18 tahun normal lainnya?"
Ada sebuah keheningan yang menyesakkan selama beberapa saat sebelum Hinata tiba-tiba berbicara.
"Gaara, a-a-apakah kau ingat kapan kita t-terakhir kali bertemu?" Ia menoleh ke belakang, ke arahku, pandangannya serius.
Hinata Hyuuga... Terakhir kali aku bertemu dengannya tentu saja ketika ujian Chuunin sewaktu ia melawan sepupunya yang beringas itu. Tapi, tadi dia bilang kalau dia pernah melihatku waktu aku melawan Seimei. Jadi dia pasti ikut serta dalam misi pembantaian Seimei juga. Tapi saat itu aku tak ingat pernah melihatnya, jadi... apa yang harus kujawab?
Kalau kujawab dengan jujur, dia pasti makin rendah diri karena aku jelas-jelas tak mengingatnya saat misi melawan Seimei. Tapi kalau aku berbohong, aku bisa mengatakan dia akan tahu kalau aku berbohong.
Sejak kapan aku jadi memikirkan perasaan perempuan lain seperti ini?
"Waktu ujian chuunin. Itulah terakhir kali aku melihatmu," jawabku jujur.
Dia menghela napas, kemudian tersenyum sedih. "Kamu sudah lupa, ya?"
Aku tak menjawab. Sudah lupa apa? Aku dengan sempurna bisa mengingat semua masa kecilku sampai sekarang, tak ada satu pun yang terlewat. Aku pasti tahu kalau aku pernah bertemu dengannya setelah ujian chuunin. Dia orang yang unik, tak mungkin aku melewatkannya.
"Dua tahun lalu... di ruang kerjamu..."
Aku mengernyit. Apa yang terjadi dua tahun yang lalu?
"Apa kau akan memberitahuku apa yang terjadi dua tahun yang lalu, atau aku harus mengingatnya sendiri?"
Dia menunduk tak menjawab, yang berarti aku harus mengingatnya sendiri atau gadis ini akan meledak.
Dua tahun yang lalu, ya? Hmm... Dua tahun yang lalu aku sudah lepas dari Shukaku, menyelesaikan sengketa ini dan itu, membuat perjanjian ini dan itu, pergi ke banyak tempat termasuk Konoha... tapi aku yakin tak sekalipun aku pernah bertemu dengan gadis ini, apalagi berbicara dengannya.
Jadi apa maksudnya dengan 'dua tahun yang lalu'?
Tidak mungkin dua tahun yang lalu aku mabuk di Konoha lalu tanpa sengaja menidurinya 'kan? Tidak, aku tak seceroboh itu.
Mendadak Hinata mendongak, dua butir air mata bergulir di pipinya, lalu dia berseru, "Kamu jahat!" Ia terisak lalu keluar dari kolam. Aku masih tercengang dengan semburannya barusan hingga tak sempat mencegahnya meninggalkan pemandian.
Ya Tuhan, apa lagi yang sudah kulakukan?
Sama seperti Hinata, aku juga tak repot-repot membilas diriku. Aku hanya mengeringkan badan, kemudian mengenakan kimono lagi sebelum meniggalkan pemandian. Jika dugaanku benar, maka Hinata mungkin berada di ruangan pribadinya, merajuk sambil memaki-maki diriku, atau sedang di dapur, yang tak kuketahui dimana letaknya, untuk menepati janjinya membuatkanku makanan.
Firasatku mengatakan, ia mungkin melakukan yang kedua.
Jadi aku kembali ke ruanganku. Tidak ada gunanya mencari gadis itu. Toh, dia pasti akan mendatangiku lagi dengan makanan yang dijanjikannya. Gadis itu tak terlihat seperti orang yang akan mengingkari janji. Meskipun ia mungkin akan menepati janjinya sambil menggerutu.
Haha.
Aku tak menunggu lama ketika dugaanku terbukti. Hinata memang datang bersama gadis kecil yang tak kuingat siapa namanya itu dengan membawa makan malam. Kurasa mereka lupa kalau aku hanya sendirian dan terbawa suasana hingga memasak makanan yang cukup untuk sepuluh orang.
"Maaf membuat anda menunggu." kata Hinata sopan sambil memindahkan satu persatu piring ke atas meja. Wajahnya mulus tanpa ada tanda-tanda air mata sedikit pun. Aku mengikuti setiap gerakannya dengan mataku. Walaupun berusaha menyembunyikannya, aku tahu ia gelisah.
Begitu selesai, kentara sekali Hinata ingin cepat-cepat keluar. Tapi aku menahannya. "Bisakah kau menemaniku di sini, Hinata?"
Dia terlihat kaget, lalu cepat-cepat menolak, "M-Maafkan saya, Tuan. Tapi saya harus membereskan..."
Tapi si gadis kecil langsung menyelanya. "Tidak masalah, Nona. Saya bisa membereskan dapur sendirian. Anda di sini saja temani Tuan ini." katanya dengan nada ceria. Aku tak melewatkan saat gadis itu diam-diam mengacungkan jempolnya pada Hinata. Walaupun masih kecil tapi aku menghormatinya karena mengetahui niatku.
"Dia benar. Kau di sini saja."
"Sungguh, tidak apa-apa Nona. Saya bisa mengerjakan semuanya sendirian." Ia membungkuk hormat pada kami berdua, "Saya permisi dulu."
Aku mengangguk padanya. Sementara Hinata memberinya pandangan yang seolah-olah berkata 'dasar iblis kecil!'
Begitu pintu tertutup, dan yakin bocah itu tak mencuri dengar, Hinata berkata "S-Sudah berkali-kali kubilang padanya, a-aku tak akan memberikan servis apapun pada tamu selain makanan."
"Tapi dia sepertinya berpikiran lebih maju daripada kau." Aku berkomentar sambil mencomot beberapa buncis menggunakan sumpit.
"Dasar mesum," Ia menggerutu pelan. Namun aku mengabaikannya.
"Kemarilah." Aku memberi sinyal padanya supaya mendekat. Meskipun ia terlihat ogah-ogahan dengan bibirnya yang manyun, namun tetap saja ia bergeser mendekat padaku. Aku menyodorkan sepotong buncis menggunakan sumpit ke arahnya. Ia terpana menatapnya, kemudian memalingkan wajahnya.
"I-Itu dariku untukmu."
Aku memegang dagunya, lalu membuka paksa mulutnya. "Dan ini dariku untukmu."
Ia tak punya pilihan kecuali menerima buncis tersebut. Aku tersenyum puas melihatnya. Aku terus melakukannya, menyuapinya makan sambil sesekali menyuapi diriku sendiri. Kami berdua makan dalam diam, sampai aku memutuskan untuk bertanya.
"Jadi... apa kau akan memberitahuku kenapa kau memanggilku jahat?"
Baiklah, di masa lalu aku mungkin salah satu bajingan kejam yang tak segan-segan membantai orang hanya demi kepuasan pribadi. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Semuanya salahku sendiri karena aku menuruti kata-kata iblis berekor satu yang hidup dalam otak-ku dulu. Namun beberapa tahun belakangan ini aku mulai berubah. Ya, aku berusaha berubah menjadi orang yang lebih baik setelah dipromosikan menjadi Kazekage.
Mungkinkah aku pernah menjahati gadis ini di masa lalu? Karena aku yakin dosaku paling banyak menumpuk pada periode sebelum aku bertemu dengan Naruto.
Hinata menatapku dengan pandangan kecewa. Bibirnya yang indah melengkung ke bawah.
Ya, bibirnya memang indah. Kalau bukan indah, mungkin seksi? Bibirnya penuh dan berwarna pink. Namun karena hampir setiap saat ia gigit, bibir pink itu berubah warna menjadi merah.
Ia menghentikan gerakanku saat aku hendak menyuapkan sepotong daging padanya. Lalu ia mengambil alih sumpit yang kupegang, dan malah menyuapkan daging itu padaku. Aku tidak menolak.
"Dulu... Ayahku pernah mendekatimu d-dengan... proposal pernikahan, 'kan?" Ia berbisik pelan sambil terus menyuapiku.
Bukannya mau sombong, tapi sejak diangkat menjadi Kazekage, aku sudah menerima puluhan bahkan mungkin ratusan proposal pernikahan dari berbagai negeri. Dan tak semuanya yang kulihat. Ada beberapa yang Kankurou atau Temari lihat, lalu bila menurut mereka proposal itu menjanjikan, mereka akan menyuruhku menemui pengirim proposalnya.
"Iya, kan?"
Aku mengernyit.
"Aku tidak tahu. Aku menerima banyak sekali proposal pernikahan, dan..."
"Kau pasti menerimanya!" Ia tiba-tiba berseru. "Kalau kau tak menerimanya, tak mungkin ayah menyuruhku menemuimu!"
"Dengar, mungkin kau salah orang..."
Mendadak wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku. "Aku tak mungkin salah." Ia menatapku tajam. "Karena aku bertemu dengan anda, Yang Mulia Kazekage."
Eh? Benarkah?
Aku mengerjap beberapa kali.
Dia pernah bertemu denganku?
"Aku pasti ingat jika aku bertemu denganmu..."
Dia memandangku kecewa, lalu kembali duduk di tempatnya semula dan menghela napas. "Hanya dua menit, Kazekage-sama... Hanya dua menit yang kau butuhkan untuk memutuskan bahwa aku tak pantas menjadi istrimu. Hanya dua menit yang kau butuhkan membuat ayahku percaya bahwa aku tak bisa melakukan apapun selain mempermalukan namanya!"
Aku tercengang mendengarnya.
"Terlalu pemalu dan penggagap, 'kan? Kau tak tahan berada di ruang yang sama dengan orang sepertiku lebih dari dua menit." Matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah sekarang, "Karena itu kau pura-pura ke toilet padahal sebenarnya kau meninggalkanku di situ." Ia mengusap matanya menggunakan ujung kimono-nya. "Kenapa? Kenapa waktu itu kau tak membiarkanku mencoba? Lalu sekarang... kau tiba-tiba datang, menebarkan pesonamu seakan-akan semua gadis akan dengan mudah jatuh ke pelukanmu." Ia terisak. "Kau egois... Kau sangat egois." Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Ya Tuhan.
Aku ingat sekarang.
Dua tahun yang lalu aku memang pernah mengiyakan sebuah proposal yang diajukan oleh Kankurou. Seorang tuan tanah dari klan terhormat di Konoha. Demi persahabatan desa Suna dan Konoha, serta demi Kankurou, aku setuju untuk bertemu dengan mereka. Aku tak benar-benar serius mau mempertimbangkan proposal itu. Hanya supaya aku bisa berkata pada Kankurou kalau aku sudah 'mencoba'.
Hari itu adalah hari yang panas, dan gadis itu datang ke ruanganku. Yang kuingat darinya hanyalah rambut panjang serta poninya yang tak kalah panjang dan menutupi matanya. Gadis itu terus-terusan menunduk, berbicara dengan gagap, dan tak berhenti meminta maaf. Aku tak suka gadis pengecut seperti itu. Sekarang saja ia sudah tak berani menatapku, bagaimana pula saat menikah denganku nanti? Karena itulah dalam dua menit... aku keluar ruangan dengan alasan ke toilet, padahal sebenarnya aku pergi ke gurun dan bersemedi disana sampai malam.
Begitu kembali, gadis itu sudah tak ada. Aku berbicara pada Kankurou keesokan harinya, dan kurasa Kankurou menyampaikan kata-kataku pada ayahnya.
Tak kusangka gadis itu adalah Hinata.
"Hey..."
Isakan Hinata tak berhenti. Aku tak pernah terjebak dalam situasi seperti ini dan aku tak tahu harus berbuat apa. Karena itulah aku hanya diam di tempatku dan menunggu sampai tangisannya selesai.
"Hinata..." Aku memanggilnya begitu ia tangisannya reda, "Lihat aku..."
Entah hal buruk apa yang terjadi padanya akibat keputusan bodohku itu. Aku tak menyangka mood-swing ku dua tahun yang lalu itu dapat menyebabkan kemalangan pada gadis ini. Dan mungkin segala kenangan buruk akibat kejadian itu kembali menghantuinya gara-gara aku.
Aku bergeser mendekat ke arahnya. Kedua lenganku kuselipkan di bawah dadanya, lalu aku menariknya ke pangkuanku.
"Aku memang bajingan."
"Bajingan mesum..." Ia menambahkan.
"Ya, ya, bajingan mesum..." Dia benar. Tanpa mengetahui kejadian itu tadi aku hampir memaksanya untuk bercinta denganku. Pantas saja dia terus menolak. Tapi aku malah menganggap penolakannya sebagai taktik untuk menggodaku. Aku pantas ditonjok.
"Dan brengsek..." tambahnya lagi.
"Ya, ya, bajingan mesum brengsek..." Aku mungkin salah satu penyebab rasa rendah diri gadis ini selama ini dan aku tak pernah menyadarinya. Aku mengeratkan pelukanku. "Maaf..."
Kata terakhir itu merupakan salah satu kata yang paling jarang kugunakan selama 18 tahun kehidupanku ini. Ya, aku memang sudah berubah menjadi manusia yang lebih baik. Tapi aku sudah terbiasa hidup di lingkungan dimana orang-orang memaklumi kesalahanku. Namun kali ini, kurasa gadis ini tak mungkin memaklumiku. Dia tak seharusnya menangis, seharusnya dia marah. Akan lebih melegakan rasanya kalau gadis ini mengamuk seperti Temari daripada menangis seperti ini.
Dia membuatku merasa bersalah.
"Aku sudah memaafkanmu sejak dulu..."
Eh?
"Tapi aku tak pernah melupakan kejadian itu. Setelah itu, gosip menyebar bahwa aku ditolak oleh Kazekage. Ayahku malu sekali. Tidak ada laki-laki yang mencoba melamarku. Aku makin tak berguna. Tapi sekarang kau mendadak muncul lagi, dengan lukamu dan segala macam. Lalu kau bilang kau tak ingat pada..."
Aku mencium bibirnya sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya dan menangis lagi. Ia meronta-ronta di pelukanku dan berusaha menelengkan kepalanya agar bibirnya terpisah dariku. Namun aku memperkuat pelukanku padanya dan menahan kepalanya agar tetap di tempat.
Setelah ia menyerah pada ciuman tersebut, aku melepasnya.
"Aku memang bajingan tolol dan idiot karena meninggalkan kau saat itu dan aku benar-benar menyesal karena tak tahu apa yang sudah kulewatkan. Aku melewatkan kecantikan yang kau sembunyikan di balik rambutmu yang seperti tirai ini. Aku melewatkan tawamu yang kau sembunyikan di balik kegugupanmu. Dan aku melewatkan kebaikanmu... karena keegoisanku." Aku menciumnya lagi. "Beri aku kesempatan. Kita ulang dari awal lagi?"
Aku melihat saat berbagai emosi berkelebat di matanya. Namun kemudian ia memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Selama beberapa saat kami hanya terdiam dalam posisi tersebut. Sampai tiba-tiba...
PLAK!
"ARGH!"
Ia menepuk kedua pipiku dengan kencang. Atau lebih tepatnya menepuk luka di pipiku dengan seluruh tenaganya.
"APA-APAAN KAU...?" Aku menepis tangannya dariku. Namun dia hanya tersenyum.
"Bagaimana rasanya?"
Oh, ayolah. Yang benar saja?
"Kenapa kau mau mengulanginya dari awal?"
Aku meringis, lalu menyentuh luka pipiku dengan hati-hati. Rasanya makin perih. "Karena kalau tidak, kau akan melakukan hal seperti ini!" Aku membentaknya.
"Aku melakukan itu karena tampaknya sangat mudah bagimu mengatakan," ia merendahkan suaranya dan meniru gaya bicaraku, "'mari kita ulang dari awal lagi'. Kamu pikir semuanya segampang itu?"
"Jadi apa maumu?" Aku tak ingin menaikkan suaraku, tapi lama kelamaan perempuan ini membuatku lepas kendali. "Aku sudah minta maaf, menawarkan perdamaian, kau mau apa lagi? Kau mau aku memutar waktu kembali lagi ke saat itu?"
Ia berdiri di kakinya, "Kenapa jadi kamu yang marah-marah?"
Aku juga ikut berdiri. "Aku tidak marah-marah. Kau yang memulai semuanya. Kau tak perlu memukul lukaku seperti itu. Kupikir melukai orang tanpa alasan melanggar kode etikmu?" Sindirku tajam.
Ia kelihatannya tak terima mendengar sindiranku. "Aku punya alasan!" Ia mengacungkan telunjuknya ke arahku. "Kamu sendiri yang mengakuinya tadi! Kamu adalah bajingan mesum brengsek! Bajingan mesum brengsek pantas mendapat pukulan itu!"
"Baik. Kau sudah mendapat pukulanmu. Lalu apa lagi maumu sekarang? Kau mau aku bersujud padamu?" HAH! Yang benar saja. Sampai seratus juta tahun pun aku tak akan mau bersujud di hadapan manusia lain.
Ia menatapku tajam, "Ini bukan saatnya bercanda, Kazekage-sama," katanya sambil menggertakkan gigi.
"Siapa yang bercanda?" Aku mengguncang-guncang bahunya. "Sudah kubilang tadi kalau aku menyesal meninggalkanmu seperti itu. Aku tak tahu apa yang kulewatkan! Seandainya aku tahu kalau kau... adalah kau... aku tak akan meninggalkanmu!"
Dia terdiam. Selama beberapa saat kami hanya bertatapan satu sama lain. Kemudian ia menepis tanganku dan berbalik menuju sudut kamar, lalu duduk meringkuk di sana.
Aku tak mencoba mendekatinya. Aku kembali duduk di tempatku semula dan menyantap makananku lagi. Meskipun rasanya tiba-tiba terasa hambar, aku tak peduli. Akan canggung rasanya kalau aku hanya duduk bengong tanpa melakukan apapun.
"Bagaimana rasa makanannya?"
Hinata tiba-tiba bertanya, memecahkan kebisuan dalam ruangan.
"Enak," jawabku singkat. Aku tidak bohong. Sebelum bertengkar tadi makanan ini memang sangat enak.
"Kamu suka?" tanyanya lagi.
"Iya."
Dia terdiam lagi.
"Tadi... waktu di kolam... k-kamu bilang aku c-cantik. K-Kamu serius?"
Aku memandangnya. Dia menenggelamkan wajahnya di lututnya, menghindari pandanganku.
"Apa aku terlihat bercanda saat mengatakannya tadi?"
"T-Tidak. H-Hanya saja... kamu terlihat sangat t-t-terangsang tadi. J-Jadi... k-kupikir k-kamu me-mengatakan i-itu semua h-hanya karena... p-pikiranmu s-sedang berkabut?"
Dia benar juga. Dia melanjutkan lagi. "D-Dan... aku tak cantik. J-Jadi kupikir..."
"Kau pikir aku mengatakannya hanya supaya kau mau bercinta denganku?"
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tetap menyembunyikan wajahnya.
"Kau tahu... lama-kelamaan rasa rendah dirimu membuatku gerah," kataku tenang.
Kepalanya langsung menoleh ke arahku. "Eh?"
"Jadi berhentilah melakukannya. Menurutku kau cantik. Dan masa bodoh dengan siapapun yang berkata sebaliknya, mau itu ayahmu, Sakura, Naruto, atau siapapun. Kau cantik, mengerti?"
Ia terpana mendengar kata-kataku. Kurasa aku baru saja mengatakan sesuatu yang mengubah mind-setnya. Dan kuharap perubahannya ke arah yang lebih baik. Perlahan-lahan sebaris senyum merekah di bibirnya. Senyuman indah seperti yang kulihat di pasar tempo hari. Senyumannya yang ikhlas.
"Nah, begitu lebih baik."
Senyumnya memudar. "L-Lebih baik apa?"
"Kau terlihat lebih baik saat tersenyum." Kini ia menyandarkan punggungnya pada dinding di belakang, sambil memandangku dengan tersenyum.
"K-Kamu suka senyumku?"
Aku menaikkan sebelah alis, lalu menyeringai padanya. "Tentu saja. Apalagi kalau kau tertawa."
Ia tertawa mendengarnya. Tawanya ringan dan terdengar seperti bunyi lonceng dari surga. Aku belum pernah ke surga. Tapi kurasa kalau suatu saat aku pergi kesana (walaupun aku masih ragu aku akan berakhir di surga atau tidak), aku yakin bunyinya pasti terdengar seindah tawanya Hinata.
"Kamu pasti suka pemandianku..." katanya pelan.
Aku tertawa kecil. "Oh, akhirnya satu kalimat darimu yang dikatakan dengan percaya diri."
Wajahnya langsung semerah tomat. "B-Bukan begitu..."
"Ya. Aku suka pemandianmu."
Matanya berbinar-binar mendengarnya. Lalu wajahnya kembali memerah. Ia menggit bibirnya sambil memainkan kedua telunjuknya.
"Eh... k-k-k-kalau b-b-b-begitu..." Entah mengapa aku merasa gagapnya makin parah, mungkin pertanyaan selanjutnya penting. "A-A-Apa... umh... k-kamu... m-menyukaiku?"
Aku menyeringai mendengarnya. Aku beranjak ke tempatnya lalu menyodorkan tanganku. "Ayo kita makan lagi."
Padahal aku belum menjawab pertanyaannya, namun senyumnya melebar melihat tanganku. Begitu meraih tanganku, bukannya berdiri ia malah menarikku hingga aku jatuh menimpanya. Ia tertawa melihat wajahku. Aku hanya menaikkan sebelah alis, lalu begitu tawanya mereda, ia mendekatkan wajahnya padaku dan memejamkan matanya.
Selama beberapa saat aku hanya memperhatikan wajah Hinata Hyuuga yang sedikit memerah dengan bibir manyum minta dicium. Aku sadar pasti ada cengiran lebar di wajahku yang membuatku terlihat tolol. Tapi aku tak peduli.
Kurasa Hinata akan meninjuku kalau aku tak menciumnya sekarang.
Haha.
Malam itu, aku tidak bercinta dengan Hinata. Malam itu kami terjaga sampai pagi dengan berpelukan sambil bercerita tentang kisah kami masing-masing. Keesokan paginya aku pulang ke Sunagakure. Hinata mengucapkan sampai jumpa padaku di gerbang Konoha dan memberi beberapa gelas klindamycin untuk lukaku. Dan itulah terakhir kalinya kami bertemu selama beberapa bulan. Selama beberapa bulan itu aku tak pernah berhenti memikirkannya. Saat aku kembali ke Konoha, lukaku sudah seratus persen sembuh. Dengan percaya diri, aku pun melamarnya. Dia menolak, karena menurutnya aku harus berusaha lebih keras dari hanya sekedar berkata "maukah kau menjadi milikku?" Aku mengganti strategiku dengan berbagai macam bunga, musik, cokelat, dan anak anjing. Namun ia masih tetap mengatakan tidak. Akhirnya aku kembali menginap di pemandian air panasnya. Kami pun kembali mandi bersama, dan saat itu aku berhasil bercinta dengannya. Ia bilang ia selalu tahu kalau first time-nya pasti akan di pemandian itu. Mungkin dia punya semacam indera keenam? Saat itu aku kembali melamarnya untuk kesekian kalinya, dan ia berkata ya! Kami pun bercinta sekali lagi dan aku mengambil kesimpulan bahwa ternyata yang harus kulakukan hanyalah memilih tempat yang tepat dan suasana yang tepat untuk menanyakan pertanyaannya.
Beberapa bulan kemudian aku menikah dengan Hinata. Hiashi Hyuuga? Well, dia menyesal karena sudah memperlakukan anaknya dengan buruk. Tapi dia tetap datang ke acara pernikahan kami dan tetap memberikan restunya. Maksudku, orang tua macam apa yang tak mau memiliki Kazekage sebagai menantu? Dan... Sakura? Well, dia bertunangan dengan Naruto dan mereka merupakan tamu utama di pesta pernikahan kami. Setelah itu, aku memboyong Hinata ke Sunagakure. Tapi untuk berjaga-jaga, aku membeli pemandian air panasnya dan menjadikannya rumah pribadi kami. Pemandian tempat kami bercinta pertama kali sudah kuanggap sebagai tempat sakral yang tak boleh dimasuki siapapun kecuali kami. Hinata menganggap aku berlebihan. Tapi tak berapa lama ia juga menganggap itu ide yang bagus dan sekarang ia malah lebih memilih bercinta di tempat itu daripada di kamar kami sendiri.
Aku terkadang berpikir, apa yang akan terjadi seandainya aku tak terkena pestisida di greenhouse si Yamanaka? Apa yang akan terjadi seandainya aku tak mengikuti Sakura ke rumah sakit? Apa yang akan terjadi seandainya malam itu aku tidak nyasar?
Kurasa... Kebencian tak selamanya merupakan akar dari sesuatu yang buruk. Baiklah, mungkin kalau terlalu mendalami kebenciannya pada Sakura, Hinata mungkin akan berubah menjadi wanita merana yang menganggap dirinya tak akan pernah dicintai siapapun.
Tapi... kebencian yang sama jugalah yang membuatnya bertemu denganku. Mungkin pertemuan pertama kami tak berjalan bergitu baik. Tapi pertemuan kedua jelas-jelas menimbulkan bekas yang indah pada memori kami masing-masing.
Dan pada akhirnya menjadikannya wanita yang paling dicintai di dunia ini.
Dicintai olehku, tentunya.
Woah! Selesai? Selesai? Aku masih ga percaya! Multi chapter pertamaku yang selesai! Woohoo!
Pertama-tama aku mau ucapin terima kasih buat semua readers yang dengan baik hati meluangkan waktunya untuk membaca, mereview dan bakhan memfavorite! XD Kisses and hugs for you guys!
Kedua aku mau minta maaf kalau ide cerita ini agak twisted dan endingnya agak dipaksakan. Hinata dan Gaara memang agak OOC disini. Apalagi Hinata.
Ketiga... HAPPY BIRTHDAY GAARA! Gaara kita tersayang hari ini ulang tahun dan chapter terakhir ini didekasikan untuk dia seorang ;)
Akhir kata, semoga kalian puas dengan akhir cerita ini. Opini, komentar, kritik, saran, atau hanya ingin sekedar berkenalan dengan saya *eaaa pede banged* silahkan isi di kolom review xD
Sampai jumpa di cerita saya berikutnya.
xoxo
shiorinsan
