The Red Angel Samurai
.
Diclaimer © Masashi Kishimoto
.
Story © Hanashimi Hani
.
Warning: OOC, Typos, Gaje, Romance, Action, Abal, Karakter Sisipan, dll …
Cerita fiksi hasil rekayasa imajinasi saya, yang terinspirasi dari kisah Kenshin Himura di Anime Samurai X, Inuyasa, dan sedikit alur di Naruto, serta sejarah Jepang memasuki era Meiji. Bersetting di Jepang Kuno. Semoga pembaca dapat terhibur dengan cerita fiksi buatan saya ini. Maaf di chapter kemarin ada kesalahan, seharusanya mata uang Jepang bukan Ryo tapi Yen. Dan mohon bila updatenya lama, sedang tahap memperbaiki alur cerita ini, karena sedikit kacau.
Little Notes:
Keshugonan Tokugawa= Keshogunan Uchiha (Pemerintah kedaerahan yang dipimpin para bangsawan bermarga Uchiha)
Kekaisaran Meiji = Kekaisaran Minato (Pemerintah terpusat yang dipimpin oleh kaisar Minato)
Restorasi Meiji = Restorasi Minato (Pengembalian kekuasan ke tangan kaisar, atau Masa peralihan dari era Uchiha ke era Minato)
Shugo daimyo = Tuan Tanah Daerah atau Penguasa Daerah
Rurouni = Pengembara
Shugon = orang yang berkuasa dalam pemerintahan, penguasa/pejabat.
Otemon = Pintu Gerbang
Before Chapter:
Naruto dan Konohamaru telah bekerja sama untuk mendapat uang 1 juta yen dari tangan Matsuri yang merupakan kakak Konohamaru, namun rencana itu gagal karena tiba-tiba Pasukan Ichibi yang dipimpin Deidara datang untuk membawa geisha bernama Hinata-yang melarikan diri dan bersembunyi diantara mereka- untuk kembali ke Okiya. Gaara yang semula ingin menyelamatkan adik Matsuri dari tangan Naruto akhirnya bekerja sama dengan Naruto untuk menyelamatkan sang geisha dan membuat mereka harus mengalami pertempuran melawan pasukan Ichibi.
Setelah kepala pemimpin Ichibi berhasil ditaklukan;beserta pasukannya, mereka harus mempersiapkan diri untuk pertempuran selanjutnya melawan pasukan shinobi –yang merupakan pasukan bantuan dari unit samurai akatsuki- dengan dibantu teman baru bernama Shikamaru;seorang anak Shugo daimyo, Nara Shikaku, sekaliguspendekar bangsawan yang berkeinginan untuk membunuh Madara Uchiha yang telah merampas hak milik keluarganya di Nara.
Kini 3 pendekar itu;Gaara, Naruto, Shikamaru sedang bersiap-siap menghadapi genjatan senjata dari pasukan shinobi yang sedang berlari menuju mereka. terbukti, mereka sudah menempati pos mereka masing-masing dengan senjata sudah di tangan, kilatan tajam bak pisau iris sudah tercetak jelas di mata mereka, mengambarkan keseriusan pertempuran yang akan mereka hadapi.
Next Chapter
Hiaat, teriakan menggema menggetarkan hati bagi siapapun yang mendengar dari pendekar bangsawan yang sudah menunjukan taring kebuasannya. Kemudian disusul dengan dentuman keras dari tongkat yang dipukul ke tanah, Bruuk. Terbelah tanah, menimbulkan retakan lebar yang membuat sebagian pasukan shinobi terjerembab ke dalam retakan lubang tanah yang dibuatnya. Si pembuat lubang tersenyum angkuh melihat musuhnya terjerembab dan tidak bisa keluar.
"Wow, sialan! kau kuat juga, tuan bangsawan!" Seorang pemuda berkumis kucing menatap miris sebagian pasukan shinobi yang terjerembab. Ia tak pernah menyangka bahwa bangsawan bermulut besar bernama Nara Shikamaru yang selalu berpikir bahwa hidup ini merepotkan mempunyai kekuatan yang besar.
"Ini baru serangan pembuka," ucap Shikamaru sambil menyeringai. Membuat pemuda berkumis kucing terpancing gairah bertarung. Ucapan Shikamaru menjadi tolak ukur untuk segera menunjukan taringnya agar sang bangsawan bermulut besar tidak lagi menyombongan diri. "Jangan sombong dulu, lihatlah siapa yang terlebih dulu membabat musuh!" jelasnya penuh nada keangkuhan disetiap kalimatnya. Tanpa basa basi Naruto segera menerjang pasukan shinobi yang datang selanjutnya dengan busur panah yang sudah siap membidik sasaran tembak tepat di jatung korban.
Pasukan shinobi yang datang selanjutnya terheran-heran dengan kehadiran tiga pendekar berbeda aliran menghadang laju mereka. sebenarnya, apa urusan tiga pendekar itu. padahal mereka tidak mempunyai masalah bahkan mereka baru berjumpa. Mereka pun kompak menghentikan pelariannya dan bertanya "Siapa kalian? kami tidak memiliki urusan dengan kalian. Mingirlah! sebelum kami memenggal kepala kalian!" ucap salah satu anggota pasukan shinobi dengan nada penuh kesombongan tanpa takut melihat sosok garang mereka.
Suukk, anak panah telah tertancap sempurna di jantung pembicara dengan sekali bidikan tanpa terlebih dahulu menjelaskan maksud mereka menghadang laju pasukan shinobi. Bruukk, satu tubuh ambruk menghempas tanah keras bertikar daun bambu kering, membuat sebagian daun bambu kering menerbang terkena efek angin gravitasi, juga membuat sekumpulan orang tercegang dan dilanda ketakutan luar biasa mendapati temannya terbujur kaku. Mereka takut bila korban selanjutnya adalah dirinya.
"Upss satu orang telah binasa. Siapa giliran selanjutnya?" si tersangka bernama Naruto mengelilingkan pupil matanya pada pasukan shinobi yang tubuhnya terlihat gemetaran ketika tertangkap basah ditatap Naruto.
Namun saat Naruto akan kembali membidikan sasaran tembaknya, dan Shikamaru akan kembali melancarkan aungan tongkatnya. Gaara menghadang, membentengkan badannya didepan mereka, membuat sasaran tembak mereka terhalangi. Dengan heran, Naruto segera bertanya, meminta penjelasan Gaara;si pengguna katana. "Apa yang kau lakukan? minggirlah! Jangan menghalangi kesenanganku!" sungut Naruto, lalu disusul Shikamaru yang ikut mengompori ucapan Naruto "Benar, cepatlah minggir!"
Dengan bijak Gaara mencoba menjelaskan, "Selama mereka tidak berontak sebaiknya kita tahan emosi sesaat ini. jangan biarkan emosi balas dendam menguasai hati kita. Selama hati kita dikuasai nafsu, kita tidak akan menuai hasil apapun, yang ada kegelapan hati kita semakin pekat dan semakin sulit menemukan cahaya. Lagipula, mereka tidak tau apa-apa." Penjelasan Gaara sarat akan pesan dan nilai historis, penjelasan Gaara bukan sesuatu yang terjadi begitu saja karena dia memang pernah mengalaminya sendiri. Terombang-ambing dalam kegelapan ketidakpastian, yang membuat hidup Gaara semakin terpuruk. Hanya untuk balas dendam terhadap seseorang yang telah membunuh kedua orangtuanya, Gaara rela membunuh gurunya sendiri –yang katanya pembunuh orangtuanya sekaligus mata2 Ke-shugon-anUchiha- yang telah merawat dan mendidiknya dari kecil demi kepuasan dendam semata, dendam itu membuat Gaara semakin haus akan darah. Kebuasan Gaara saat itu dimanfaatkan untuk mengakhiri rezim keshogunan Uchiha ke restorasi Minato. Gaara ikut andil dalam beberapa pertarungan seperti perang boshin melawan kemiliteran pihak keshogunan Uchiha.
"Tapi mereka adalah sekumpulan wayang akatsuki yang didalangi Madara Uchiha. Eksistensi mereka adalah bukti kejahatan yang nyata. Kita harus bertindak sesuatu atas kejahatan ini, dengan membunuh pelaku kejahatan, seperti mereka itu" tunjuk Naruto pada Pasukan Shinobi yang terlihat ketakutan ketika ditunjuk.
Kemudian Gaara menyarungkan pedangnya, menandakan bahwa dia tidak akan bertarung. Sikap Gaara membuat kedua temannya terheran-heran. Sejujurnya, Gaara hanya akan bertarung bila lawannya memang memberontak. Dia sudah berjanji pada dirinya tidak akan hidup sebagai Hitokiri Battousai;Battousaipembunuhmanusia- lagi setelah rezim Uchiha berakhir, sudah cukup kejahatan tak termaafkan di masa lalunya. Di era Minato ini, dia ingin menjadi rurouni yang hidup bebas serta normal dan bisa melindungi orang-orang dengan pedangnya, bukan malah mengambil nyawa orang dengan pedangnya-seperti di masa lalu. Meskipun hidup di era ini sangat sulit bagi samurai seperti dirinya, karena ada hukum larangan penggunaan pedang, kecuali pihak yang telah diberi wewenang, namun Gaara tetap bersi kukuh pada pendiriannya untuk melindungi orang-orang dengan pedangnya meskipun orang itu yang berpapasan dengannya. Gaara berusaha menciptakan keadilan terhadap oknum yang mempermainkan keadilan dengan kekuasannya . Prinsip ini sebagai usaha untuk menghapus dosanya dimasa lalu.
Kembali pada percakapan Naruto dan Gaara.
Gaara berjalan perlahan menghampiri Naruto dan Shikamaru yang berdiri segaris dengan posisi berjauhan, Naruto;kanan, Shikamaru;kiri. kemudian Gaara berhenti ditengah-tengah mereka dan mulai menjelaskan apa yang ada dihatinya "Pada dasarnya anak singa dikendalikan oleh induk singa. Kelangsungan hidup anak singa tergantung penjagaan induk singa. Jadi, yang harus kita kalahkan adalah induk singa. Kita manfaatkan anak singa untuk membongkar keberadaan sarang mereka. Sehingga mempermudah kita untuk menangkap induk singa bersama-sama."
Penjelasan bijak Gaara segera dimengerti oleh Shikamaru yang memang kecepatan tangkap otaknya jauh diatas rata-rata. Dibanding Naruto yang daya tangkapnya kurang diatas rata-rata, dia malah kebingungan dan menggerutu tidak jelas. "Hei. kenapa kita harus menangkap induk singa? Membuang-buang waktu saja! Yang harus kita kalahkan itu adalah Madara Uchiha bukan induk singa, Bodoh!"
Mendengar kekurangcakapan Naruto dalam menangkap suatu infomasi tersirat, Shikamaru segera menjitak kepalanya hingga membenjol sebesar bola sepak. "Memang itulah yang Gaara maksud. Kaulah yang bodoh! dasar otak lemot! Cairkanlah otakmu sedikit," ejek Shikamaru yang menuai reaksi pertarungan adu mulut yang sulit terbantahkan, hampir-hampir kedua kuping Gaara kehilangan fungsinya –karena posisi Gaara ada diantara mereka- sikap mereka seperti kucing dan anjing yang sulit diakurkan, kecuali salah satu dari mereka mengalah. Namun Gaara segera bertindak cepat dengan menarik pedang dari sarungnya lalu melakukan teknik irisan pedang ke udara, membuat mereka seketika membisu saat itu juga.
"Berhenti mengoceh! atau aku yang membunuh kalian berdua!" ancam Gaara, sambil menampakan tatapan menusuknya, membuat badan mereka seketika kaku, sulit digerakan. Tatapan Gaara membuat mereka bergidik dan bepikir bahwa tatapan itu hanya dimiliki seorang Hitokiri yang terkenal kejam. Apa jangan-jangan Gaara memang seorang Hitokiri? Sebenarnya Gaara tidak berniat membunuh, hanya untuk menggertak saja agar mereka diam.
Setelah tuan bangsawan dan tuan pemanah berhenti mengoceh, Gaara membalikkan badan, kemudian menyarungkan kembali pedangnya. Setelah pedang tersarung sempurna hingga menimbulkan suara Klik sebagai tanda benturan penahan pedang dengan mulut sarung. Seketika dua helai rambut terpotong dari tempatnya, jatuh ketanah kemudian terbang oleh hembusan angin. Rupanya irisan pedang Gaara berhasil mengiris sedikit rambut Naruto dan Shikamaru. Naruto dan Shikamaru yang mendapati rambutnya teriris hanya menatapnya dengan tidak percaya, dan menelan ludah mereka, tanda ketakutan.
Setelah membuat 2 pendekar tercengang, lalu Gaara berjalan menghampiri sekumpulan samurai unit kecil shinobi yang beroprasi dibawah Shugon Madara Uchiha, yang merupakan sisa dari kekuasaan feodal keshogunan Uchiha sebelum bangkitnya Kekaisaran Minato. Wajah mereka tampak ketakutan saat Gaara hampiri, sebagian yang lain tampak bertanya-tanya dan menerka tentang sosok Gaara. "Apakah dia Hitokiri Battousai yang tuan Madara Maksud?" . "Dilihat dari rambut merah dan tanda silang didahinya. Jangan-jangan dia adalah Red Angel yang tuan Madara maksudkan juga." "Mungkin benar dia adalah Hitokiri Battousai dan Red Angel yang dimaksudkan." "Kita harus bergegas pergi sebelum kepala kita terpenggal." Itulah selentingan-selentingan yang bisa diperdengarkan.
Saat Gaara benar-benar telah mendekat, mereka semua tersujud-sujud meminta ampun untuk tidak dibunuh. Gaara terheran-heran dengan sikap mereka, padahal Gaara tidak ada niatan untuk membunuh, dia hanya ingin bertanya. "Tolong jangan bunuh kami! Kami akan melakukan apapun yang tuan inginkan, asalkan tuan tidak membunuh kami," Pinta mereka disela sujudnya. "Apapun." sambung Gaara dengan sumringah. "Ya, apapun yang tuan inginkan," tandas mereka.
"Kalau begitu, tengadahkan kepala kalian dan duduklah dengan santai, ada sesuatu yang ingin kutanyakan." Tutur Gaara dengan nada dan sikap ramah, membuat mereka merasa aman berdekatan dengannya. Perintah Gaara segera dituruti, terbukti mereka sudah duduk berkelompok dihadapan Gaara, layaknya organisasi kemasyaratan yang sedang merapatkan suatu masalah, Naruto dan Shikamaru juga ikut dalam diskusian.
"Kita mulai dengan Kakakku." Gaara membuka diskusian, kemudian terdengar seruan "Ya" dari semuanya. "Kalian pernah mendengar nama Temari dan Kankurou?" tanya Gaara pada semuanya. Namun tidak ada yang merespon karena tidak ada satupun yang mengenal, Gaara menjadi putus asa, namun acungan tangan dari seseorang dibelakang membuat Gaara bahagia, katanya dia kenal dengan seseorang bernama Temari, kemudian Gaara memerintahkan orang tersebut maju kehadapannya untuk menjelaskan.
"Kalau tidak salah. Temari-dono adalah seorang geisha yang dipungut tuan Madara bersama Hinata-hime dari Okiya di daerah Tokyo. Temari akan dijadikan istri ke-12 pada awal bulan ke-5 tahun 11 era Minato." Jelas orang tersebut yang membuat Gaara dan 2 temannya tercengang, "Bulan ke-5 tahun 10 Minato!" ucap Naruto memperjelas sambil membelalakan matanya, tak percaya. "Berarti 4 bulan dari sekarang," analisis Shikamaru. Gaara tampak mengepalkan tangannya erat menahan emosi agar tidak meledak-ledak, berita ini membuat hati Gaara terpukul dan menyesali dirinya yang kurang singgap memperhatikan nasib kakak perempuannya, dulu ia lebih mementingkan bagaimana caranya memuaskan hasrat balas dendam dan haus akan darah bukan memikirkan nasib keluargaya yang masih hidup.
"Kalau boleh tahu, Bagaimana ciri-ciri Temari yang kau maksudkan? Mungkin saja orang itu bukan Temari kakaknya Gaara." Pinta Shikamaru, kemudian orang itu pun mengangguk singkat dan melanjutkan penjelasannya "Rambutnya pirang, manic matanya kehijauan seperti jamrud khatulistiwa. Hanya itu yang kutahu." Gaara terlihat menundukan kepala sedih mendengar ciri-ciri yang disebutkan sama persis dengan ciri kakak perempuannya. "Ciri-ciri itu dimiliki persis oleh kakakku," ungkap Gaara dengan penuh kesedihan mendalam. Mendengar penuturan sang narasumber, Shikamaru nampak diam dan terlihat seperti sedang mengingat sesuatu. Jangan-jangan itu gadis yang kutemui di Nara, terka Shikamaru dalam hati.
"Rumor mengatakan bahwa dia berasal dari Nara, kemudian dibawa ke Tokyo untuk pelatihan geisha selanjutnya," sambung sang Narasumber membuat Shikamaru tercekat, berarti gadis itu memang orangnya. Gadis yang meminta pertolongan untuk dibebaskan agar bisa bertemu dengan kedua adiknya. Namun saat itu Shikamaru mengacuhkannya karena berpikiran bahwa semua geisha menginginkan hal itu agar bisa terbebas dari Okiya dengan berbagai alasan mendukung. Membebaskan seorang geisha berarti harus membayar semua tagihan selama belajar di Okiya dan itu sangat merepotkan bagi Shikamaru. Shikamaru jadi merasa bersalah pada Gaara karena telah mengacuhkan Kakaknya.
"Sekarang, dimana keberadaannya?" tanya Gaara. "Tidak tau pasti dimana posisinya. Yang pasti dia berada di Kyoto disalah satu rumah kayu tradisional yang letaknya tidak jauh dari sungai Katsura," jawab Narasumber. "Baiklah , sekarang giliranku?" Shikamaru memulai pendiskusian. "Kalian tahu. dimana Madara Uchiha menyimpan harta rampasannya?" tanya Shikamaru penuh keseriusan. "Hal itu tidak kami ketahui sama sekali. Karena tuan Madara merahasiakannya baik pada orang dalam maupun orang luar, terkecuali pada tangan kanannya." Jelas Narasumber membuat Naruto heran dan berpikir; apa hubungannya tangan kanan dengan Madara Uchiha? Jangan-jangan Madara tidak waras karena berteman dengan tangannya sendiri.
"Siapa tangan kanan Madara Uchiha?" Shikamaru kembali bertanya, namun hasilnya nihil mereka tidak tahu sama sekali siapa yang menjadi tangan kanannya karena tidak pernah diberi tahu, membuat Shikamaru kesal saja. Kekesalan Shikamaru semakin menjadi tatkala bertanya tentang keberadaan Madara Uchiha, namun rupanya mereka tidak tahu pasti karena posisi Madara Uchiha selalu berpindah tempat. Kewaspadaan Madara memang sangat apik dan patut diacungi jempol karena begitu memperhatikan hal yang dinggap sepele. Namun kewaspadaan itu justru membuat mereka semakin sulit melacak keberadaan Madara Uchiha.
"Jika Madara Uchiha selalu berpindah tempat, lalu bagaimana pemerintahannya di Kyoto?" tanya Gaara yang mulai membuka suara. "Pemerintahannya diwakilkan oleh daimyo terpilih, yang ia tunjuk sendiri dari pengikutnya," jelas Narasumber. Diskusian pun hening, tidak ada yang memulai pembicaraan karena mereka terlihat seperti orang yang sedang kebingungan dan sedang berpikir apa yang seharusnya dilakukan.
Akhirnya diskusian sudah pada titik akhir, dan semua yang ikut dalam diskusian akan segera pergi ke tempat yang ditujunya. Hasil diskusi tidak menunjukan kepuasan sebagian pihak karena tidak menunjukan titik terang dimana keberadaan Madara Uchiha berada. Diskusi ditutup dengan ucapan "Terimakasih sudah berpartisipasi dalam diskusian ini." dengan sikap hormat dari pemimpin rapat;Gaara. Setelah itu, semuanya berdiri dan saling membungkukan badan tanda menghormat.
"Terimakasih atas kebaikan tuan yang tetap membiarkan kami hidup," terdengar salah satu suara yang menjadi panel;wakil pembicara dari sekumpulan pasukan Shinobi sambil membungkukan badan. Gaara pun membalas dengan seruan "Hn" saja tanda mengiyakan. Setelah itu mereka saling membelakangi, berjalan ke arah yang mereka tuju. Namun saat akan melangkah, terdengar teriakan yang tak asing ditelinga Gaara, Gaara pun ingat bahwa ada orang yang terlupakan, seseorang yang terjebak oleh perangkap hutan buatan Shikamaru.
"Hei, tunggu! Kalian melupakan seseorang diatas sini!" Teriak orang itu. semua pun menengadahkan wajah, menatap ke langit hutan yang tertutupi ranting bambu berdaun lebat. "Matsuri-dono. Maafkan saya. Saya hampir melupakan Anda," tandas Gaara sambil memamerkan senyum tak berdosanya pada Matsuri yang sedang menatapnya kesal dari atas. Setelah menandaskan bicaranya, Gaara segera memotong tali kait yang membuat Matsuri dan Konohamaru terjaring.
Haap, tubuh Matsuri berhasil tertangkap sempurna pada tadahan tangan Gaara, membuat tubuhnya melekat di dada bidang Gaara, sebuah pangkuan yang membuat mata mereka terpaut beberapa detik;menatap keindahan paras yang ditatapnya. Sementara Konohamaru, mendarat dengan tidak sempurna karena tak ada seorang yang mau menadahnya Sampai sebuah deheman, membuat mereka –Gaara&Matsuri- tersadar dan Gaara segera menurunkan tubuh Matsuri dari pangkuannya.
"Cinta memang selalu datang tiba-tiba yah?" sindir seseorang berparas bangsawan, membuat seseorang berwajah cantik memerah pipinya, sementara Gaara terlihat biasa-biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu. "Wah, pipi kakak memerah," Konohamaru ikut mengompori membuat Matsuri semakin malu dan segera mengejarnya sambil mengatakan bahwa yang dikatakan Konohamaru tidak benar.
Waktu berjalan, akhirnya 2 kubu berbeda sudah berjalan berjauhan, kubu Gaara berjalan ke utara, sementara kubu Shinobi ke selatan. Setelah cukup jauh berjalan, kubu Gaara mendengar rintihan dan gesekan antar katana yang beradu kekuatan di tempat pertemuan. Rintihan yang mencolok itu, membuat mereka bergegas lari ke tempat semula, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagai suara alarm di dini hari yang masih sunyi, mereka semua terlonjak kaget melihat pemandangan lautan darah dihadapan mereka. Sebuah insiden mengerikan yang membuat siapapun bergidik ngeri; Mayat bergelimpangan dimana-mana dengan sobekan di perut yang melebar, membuat organ dalam terbulai keluar-berantakan, ada yang kepalanya hampir terpisah dengan lehernya, juga ada yang lehernya digantung dibatang bambu dengan tusukan pedang, juga perut yang tertusuk pedang dan melekat dengan batang bambu.
Matsuri yang memang seorang perempuan, tak kuasa melihat pemandangaan sadis ini. ia berusaha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gaara -yang terbungkus hakama- yang posisinya memang sangat dekat dengan Matsuri.
"Bukankah mereka pasukan shinobi tadi," pikir Naruto. "Siapa yang tega melakukan ini?" sambung Shikamaru.
"Ini ulah pasukan Ichibi," jelas Gaara yang membuat semuanya kaget, pasalnya pasukan Ichibi dan Shinobi adalah sekutu, sama-sama dalam naungan kemiliteran akatsuki. "Bukankah mereka sekutu?" tanya Matsuri yang sudah bersikap normal. "Ada benarnya juga apa yang dikatakan Gaara. mungkin mereka dibunuh karena telah memboncorkan rahasia tentang keberadaan Madara. Bukankah pasukan Ichibi tadi terjaring jebakanku? Sepertinya mereka diselamatkan pasukan shinobi, setelah bebas lalu mereka membunuhnya." Analisis Shikamaru dapat diterima semua, karena memang sangat masuk akal. Buktinya, jaring yang menjerat pasukan Ichibi terputus.
"Dasar tidak tau berterimakasih!" tandas Konohamaru."Itulah mereka. Mereka tidak segan-segan membunuh siapa pun yang membocorkan rahasia tentang keberadaan Madara dan Misi yang akan dijalankannya. Setelah diberi grasi;ampunan dari Kaisar Minato, bukannya patuh terhadap kekaisaran Minato, pihak Uchiha malah akan melakukan pemberontakan untuk menggulingkan Kekaisaran Minato, sebagai tindakan balas dendam atas kekalahannya di masa restorasi Minato, 10 tahun yang lalu," jelas Shikamaru yang membuat semua tercengang –terkecuali Gaara yang terlihat tidak bereaksi apapun, dia seolah tahu apa yang terjadi- ternyata Shikamaru tahu banyak hal tentang sepak terjang kekaisaran Minato
"Hebat, kau banyak tahu tentang politik,," puji Naruto, namun itu tak membuat Shikamaru terpukau. "Payah kau!, Seorang daimyo seperti kami, memang sudah sepantasnya tahu tentang informasi kepemerintahan karena setiap harinya para daimyo berkecimpung di dunia politik." Jelas Shikamaru pada Naruto yang membuat semuanya mengerti, terkecuali Gaara yang sikapnya selalu biasanya, seolah dia tahu banyak hal tentang dunia politik.
"Dengan kata lain. Kau menjadi sasaran empuk Madara untuk dilenyapkan karena kau banyak tahu tentang Madara serta misinya," terka Gaara yang membuat Shikamaru terpukau. "Benar, kebocoran informasi ini di kalangan keluargaku, membuat keluargaku menjadi bulan-bulan pihak Madara untuk dilenyapkan, aku merupakan anggota terakhir yang tersisa. Pihak kekaisaran belum tahu tentang rencana Madara. tadinya kami akan menyerahkan kekuasan kami sebagai shugo daimyo kepada kekaisaran sekaligus membocorkan rencana Madara, tapi keluargaku terbunuh sebelum itu terjadi sekaligus merebut kekuasan wilayah han Nara dari kami untuk dijadikan daerah kekuasannya," tutur Shikamaru yang membuat semuanya jelas apa tujuan Shikamaru menjadi bangsawan pengembara. "Licik sekali mereka itu!" tandas Matsuri kasar.
Mendengar nama Madara Uchiha terus disebut dalam perbincangan ini, Matsuri jadi teringat sesuatu, "Bukankah Madara Uchiha adalah pendiri pertama keshogunan Uchiha yang tangguh itu, seharusnya dia sudah meninggal." Pikir Matsuri. "Itu juga yang masih kuherankan, apa latar belakang mereka mengatasnamakan Madara Uchiha sebagai penguasa tertinggi," jelas Shikamaru. "Mungkin saja itu memang Madara, bukankah Madara itu abadi," jelas Naruto yang membuat semuanya semakin heran. Apakah memang benar Madara itu memang Abadi sesuai namanya. Tapi, bukankah manusia memiliki rentang waktu terbatas untuk hidup. Atau memang Madara punya ajian keabadian. Dalam perbincangan itu juga disebutkan tentang seorang Hittokiri Battousai legendaris yang telah membunuh banyak kalangan yang menghalangi terbentuknya kekaisaran Minato, Hittokiri itu menghilang saat rezim Uchiha berakhir dan belum diketemukan sampai sekarang setelah 10 tahun lamanya.
# #
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, begitu juga dengan perbincangan yang sudah berlalu beberapa jam sebelumnya. senja telah nampak di langit Kyoto, menguratkan sebaris keindahan di hati sebagian orang. Di senja ini, Matsuri, Konohamaru dan Gaara sedang berjalan menyusuri jalanan pasar yang cukup ramai, mereka baru saja keluar di salah satu kedai makanan tradisional jepang Ichiraku di daerah Kyoto -yang merupakan kedai langganannya.
Mereka baru saja makan daging panggang di kedai tersebut bersama Naruto juga Shikamaru, namun nantinya berpisah karena tujuan mereka berbeda. Matsuri yang mengajak mereka makan di kedai Ichiraku, kemudian menyuruh Shikamaru mentraktir mereka makan karena dia seorang bangsawan. Semula Shikamaru mengira bahwa dia memang akan makan gratis, rupanya dia juga yang harus membayar. Dasar wanita yang pandai memanfaatkan keadaan! Shikamaru jadi tertipu.
Selama perjalanan, Matsuri tak henti menatap punggung Gaara yang ada dihadapannya, mencoba berpikir tentang siapa Gaara sebenarnya? Dan apa alasan Gaara mengembara? Tentu dia punya alasan yang menyebabkan dia menjadi rurouni, dan Matsuri ingin tahu apa alasannya. Matsuri tak pernah sepenasaran ini sebelumnya tentang sosok seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
Selama perbincangan mengenai Madara dan seorang legendaris Hittokiri Battousai, Gaara selalu diam dan tak pernah membuka suara sama sekali, membuat Matsuri terheran. Apa yang menyebabkan kediaman tuan Gaara? Matsuri mulai berpikir bahwa Gaara adalah Hittokiri itu dan Red Angel yang banyak dibicarakan orang namun segera ditepisnya. Mana mungkin seorang Hittokiri sudah beberapa kali menolong nyawanya. Sekarang, Matsuri benar-benar frustasi
"Ahh! katakanlah siapa sebenarnya kau?!" teriak Matsuri dengan spontan tanpa disaring dahulu ucapannya. Teriakan ini sontak membuat Gaara dan Konohamaru segera berbalik menatapnya dan bertanya "Ada apa?" . Matsuri yang baru sadar tingkah bodohnya, segera berbalik badan "Bodoh, seharusnya aku tidak boleh mencampuri masa lalu orang? Matsuri-chan bodoh, bodoh." bisik Matsuri sambil menjitak kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Lalu kembali membalikkan badan, menghadap Gaara dan Konohamaru sambil tersenyum dan berkata "Ah, Bukan apa-apa?" namun ternyata mereka sudah meninggalkan Matsuri sendirian dijembatan kayu yang melewati sungai Kamo yang airnya jernih, yang merupakan salah satu sungai yang ada di Kyoto yang alirannya bersatu dengan aliran Takano di bagian tengah.
"Hei, tunggu aku!" teriak Matsuri sambil berlari menyusul mereka tanpa melihat pijakan, membuat satu kerikil tergelincir karena tersepak kaki Matsuri dan akhirnya jatuh ke aliran sungai, membentuk gelombang rambat berbentuk lingkaran sempurna.
# #
Beberapa detik lagi, matahari akan tenggelam di ufuk barat, melenyapkan semua sinar emasnya, dan menggantikannya dengan sinar pantulan keperakan sang rembulan malam. Di masa pergantian malam ini, Gaara, Matsuri, dan Konohamaru sudah berada di otemon;pintugerbangkediaman keluarga Matsuri yang hanya ditempati oleh Matsuri dan adiknya saja karena kedua orangtua mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sebuah insiden tak termaafkan. Konohamaru sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat. Sementara Gaara dan Matsuri masih berada di otemon, sedang berbincang.
Sebelumnya, Gaara hanya berniat mengantarnya pulang, memastikan bahwa mereka pulang dengan selamat, Gaara menyadari bahwa dia bukan orang yang pantas tinggal disana, hanya seorang rurouni yang singgah sementara waktu, yang tidak punya tempat menetap secara permanen, dan akhirnya pergi ke suatu tempat yang berbeda untuk mencari pengalaman, sudah lebih dari 10 tahun sejak rezim Uchiha berakhir, Gaara menjadi seorang rurouni yang hidupnya tidak jelas, yang tidak tahu kemana akhir pengelanaannya berlabuh karena tidak ada seorangpun yang mau menerimanya sebagai rurouni yang tidak jelas asal usulnya, dalam pengelanaannya ia mempunyai satu tujuan untuk bertemu dengan kedua kakaknya dan membawanya kembali pulang untuk membentuk kembali ikatan kekeluarga yang sempat redup ditelan waktu. Namun kini dihadapannya ada seorang wanita baik hati yang mau menerimanya, mengulurkan bantuan tanpa syarat apapun, yang sedang mencegahnya supaya mau menetap, walau pun hanya dalam kurun waktu yang pendek.
"Seorang rurouni sepertimu, pasti tidak punya tempat menetap yang pasti. Kenapa kau tidak tinggal disini saja?" tawar Matsuri dengan wajah yang seramah mungkin dari biasanya, berusaha meyakinkan Gaara untuk menetap disini, dirumah besarnya yang juga mengelola sebuah dojo;sekolahkendo peninggalan keluarganya bernama Kazuhiro Kasshin Style, yang kini sudah bangkrut karena banyak muridnya yang keluar akibat falfasah yang bertentangan dengan keinginan mereka. Falfasah yang mengatakan bahwa Pedang adalah senjata untuk melindungi seseorang.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku adalah orang yang tidak pantas dikasihani oleh orang sebaik nona Matsuri. Sudah sepantasnya aku diperlakukan layaknya patung tak bernyawa, diacuhkan, tidak diperdulikan. Atas apa yang kulakukan di masa lalu," tutur Gaara sehalus mungkin sambil memperlihatkan seulas senyum keramahan pada Matsuri. Setelah itu Gaara membalikan badannya, menolak tawaranya, mengacuhkan pandangan kesedihan yang tercetak di mata Matsuri, memunggungi Matsuri yang wajahnya sudah tertunduk sedih, berjalan perlahan menuju mulut otemon yang terbuka lebar.
"Aku tidak perduli siapa dia dimasa lalu, ataupun bagaimana kehidupannya di masa itu! Yang terpenting bagiku adalah apa yang dilakukannya di masa kini!"
Deg, teriakan Matsuri yang begitu kontras di telinga Gaara, membuat Gaara berhenti melangkah, tepat di bibir luar otemon, menghentikan sejenak aktifitasnya untuk mengetahui kesungguhan hati wanita yang mencegah kepergiannya. Ada rasa penasaran yang bersemanyam dalam hati, yang berusaha mengorek Siapa Matsuri? dan Kenapa namanya selalu hadir di lubuk hati? Seolah ada ikatan kehidupan di masa lalu yang sulit dijelaskan.
Melihat Gaara masih bergeming ditempatnya, tidak mau bergerak, Matsuri tidak tinggal diam. Dia kembali berteriak tanpa disaring dahulu ucapannya, "Tanpamu kehidupan kami akan rapuh! dan aku tidak mungkin bisa mempertahankan dojo ini tanpamu. Orang sepertimulah yang kubutuhkan. Aku benar-benar membutuhkanmu, Gaara-kun!" sadar bahwa apa yang dikatakannya bukan permintaan yang wajar, melainkan permintaan yang berlebihan. Hap, Matsuri segera membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, lalu berbalik badan untuk menyembunyikan gurat malu yang tercetak di wajahnya. Kemudian mengetok-getok kepalanya sendiri atas tindakan bodohnya "Bodoh, apa yang kulakukan!" bisiknya. Kemudian Matsuri berusaha untuk kembali bersikap biasa, layaknya tidak terjadi sesuatu. Setelah itu Matsuri membusungkan dada angkuh dengan tangan tersidekap sempurna tanpa mau menoleh ke arah Gaara. "Jika kau tetap bersi keras, Pergilah! Aku tidak akan memaksamu!" gertak Matsuri dengan sikap angkuhnya.
Blamm, terdengar suara hentakan dari mulut otemon yang tertutup sempurna, membuat Matsuri sedih akan sosok yang menghilang disana. Wajah kekecewaan terlihat jelas di paras indahnya tanpa mengeluarkan setetesan air mata, melainkan dengan hembusan nafas panjang dan sedikit gerutuan supaya membuat dirinya tenang dalam menghadapi kenyataan pahit yang terjadi, "Fiuhh, tidak ada harapan lagi. dia memang benar-benar akan pergi. Siapa juga yang menginginkan orang angkuh seperti dia. membuat jengkel saja," gerutunya.
"Mungkin sudah saatnya untuk aku berhenti mengembara."
Deg, suara itu membuat Matsuri kaget sekaligus bercampur bahagia, sampai-sampai ia bingung mau mengatakan apa. Sebuah letupan kebahagiaan yang tidak dapat diukur oleh piranti apapun, tercipta di hatinya. Kesumringahan terlihat jelas di paras indahnya. Segera ia berbalik badan untuk menatap wajah yang telah dinantinya. Terlihat Gaara sedang tersenyum penuh keramahan, membuat diri Matsuri ikut tersenyum juga. Perlahan Gaara berjalan menghampirinya sambil memperlihatkan segurat senyum itu, dan sambil berkata-kata hal yang memungkinkan terjadi dikemudian hari.
"Mungkin kaki ini memang sudah lelah mengembara, namun bukan berarti hatiku juga. Aku tidak tahu kapan kaki ini akan melangkah kembali, menapaki setiap gurat kehidupan yang dituju. Rasanya kaki ini sulit terpisahkan dari perjalanan waktuku," tutur Gaara dengan senyum kecilnya.
Matsuri yang melihat Gaara berjalan mendekat sambil berkata-kata menjadi ikut berjalan menghampirinya -Menghampirinya, sebagai ungkapan selamat datang dari tuan rumah yang dengan senang hati menyambut baik tamunya- Matsuri berjalan sambil menanggapi setiap pernyataan juga pertanyaan yang dilontarkan Gaara padanya. Sungguh ini adalah suguhan menarik melihat dua insan itu berjalan saling menghampiri sambil saling timpal-menimpali celotehan mereka, seolah mereka adalah kutub magnet yang berbeda muatan, yang saling tarik menarik.
"Tak apa, kau boleh kemari lagi jika kau mau," ungkap Matsuri sebagai reaksi pernyataan Gaara tadi.
"Meskipun aku kembali tanpa membawa apa-apa," sambung Gaara sebagai reaksi ungkapan Matsuri.
"Yang terpenting kau selamat," timpal Matsuri sambil tersenyum.
Mendengar jawaban dan reaksi Matsuri, Gaara menjadi tersenyum. Ada rasa tenang dan senang menjadi seseorang yang diakui keberadaannya. Gaara kembali berceloteh dengan mengungkap beberapa peringai buruknya, yang mungkin akan menyusahkan Matsuri di kemudian hari jika dirinya terus berada di rumah ini. "Aku adalah orang ceroboh yang mungkin akan menyusahmu?" ucap Gaara yang mengingat kejadian tadi, dimana Matsuri, dan Konohamaru hampir akan ditinggalkan di hutan,
"Tak apa. Aku bahkan lebih ceroboh darimu," ungkap Matsuri.
"Meskipun aku akan meninggalkanmu, seperti waktu itu," sambung Gaara.
"Jika hal itu sampai terjadi, aku yang akan menghajarmu," ungkap Matsuri yang sudah mengepalkan tangan dan siap meninju Gaara yang sudah semakin dekat kearahnya. Tanpa basa basi, Matsuri segera meninjukan kepalan tangannya tanpa diperhitungkan dahulu. Bug, tanpa disangka tinjuannya berhasil mengenai wajah seseorang, membuat seseorang terjatuh ke tanah seketika itu juga, brukk.
Mendengar suara seseorang yang terjatuh, Matsuri segera membuka matanya, ingin melihat apa yang terjadi. alahkah kagetnya dia, bahwa seseorang yang terjatuh itu adalah orang yang ia ajak bicara tadi, Gaara. Segera Matsuri berteriak histeris dan bertingkah konyol melihat korban pemukulannya terbujur kaku.
"Huaa...baka! Aku pikir kau akan menghindari seranganku!" Jerit Matsuri dengan tingkah konyolnya. "Baka! Bukankah kau seorang pendekar, harusnya kau mampu menghindari serangan seperti ini," sambung Matsuri. Sementara Gaara yang terbujur kaku malah memujinya "Ternyata tinjuanmu cukup kuat juga yah," ungkap Gaara yang pipi kanannya masih merasakan sakit akibat tinjuan tadi, juga dengan mata yang masing berkunang-kunang, yang masih memperlihatkan sekumpulan burung yang terbang memutari kepalanya.
Mulai saat ini dan seterusnnya, Gaara menjadi bagian dari rumah ini yang tak akan terpisahkan, termasuk semua yang ada didalamnya. Di tempat ini Gaara akan mencoba mengistirahatkan jiwanya dari penatnya dunia masa kelam, belajar untuk menjadi samurai dengan kehidupan yang normal pada umumnya, merasakan indahnya dunia yang memiliki beragam hal seperti wewangian, warna, kehidupan, dll, tanpa kehilangan harapan bahwa dia akan menemukan kedua kakaknya. Ditempat ini, akan banyak anggota yang bergabung dan menjadi bagian di rumah ini, membuatnya semakin ramai dan harmonisasi semakin terjalin erat.
.
.
.
Bersambung
.
Thanks for Reading
Bila sudah membaca, sisihkan waktu untuk mereview cerita ini, berilah tanggapan, saran atau kritik dengan bahasa yang sopan. Review dengan tanggapan positif sangat saya butuhkan, sebagai acuan melanjutkan cerita ini ke jenjang berikutnya,serta menjadi acuan untuk memperpanjang alur cerita per chapternya. Hehe . ditunggu, reviewnya. Sayonara ^_^
