3 – In My Time of Dying

Present

Sam bersandar di samping jendela, menatap Impala keluar dari lapangan parkir dan menghilang di kejauhan. Betapa ingin Sam kembali ke mobil itu lagi. Duduk di passenger seat menikmati hembusan angin. Mendengarkan lagu-lagu Metallica yang bikin tuli. Menghirup aroma yang membuatnya merasa aman. Tidur dalam naungan tempat yang paling mendekati rumah baginya.

Lebih daripada itu, ia ingin kembali bersama Dean.

"Sam?"

Sam menoleh. Lily berdiri di belakangnya, tersenyum kecil. "Jake dan Andy sedang berkumpul di kamar Andy. Mau ikut?"

"Maaf, Lily. Aku ingin sendiri dulu," jawab Sam serak. Setiap kali menyaksikan Impala meninggalkan tempat ini, ia jadi ingin menangis.

Cewek mungil itu mengangguk penuh pengertian. "Datanglah kalau kau berubah pikiran, oke?" ia meremas lengan Sam dan pergi menuju sayap lain Rumah Sakit.

Mendesah pelan, Sam menatap lapangan parkir yang lenggang sekali lagi, sebelum beranjak ke koridor yang berlawanan dengan Lily. Saat itu mendekati jam makan siang, petugas tampak sibuk mengantarkan makanan. Beberapa kali Sam nyaris tertabrak kereta penuh hidangan, untung saja ia berhasil menghindar. Walau seandainya tertabrak pun, ia tidak yakin akan merasa sakit.

Tiba di depan kamar nomor 15, Sam harus menunggu sejenak sebelum seorang perawat membuka pintu dan masuk untuk menyuntikkan obat. Perawat yang dikenal Sam bernama Olivia itu tidak menyadari pasiennya mengekor di belakangnya.

Olivia menyuntikkan tiga macam obat ke selang infus, memeriksa tekanan darah, mencatat sesuatu, mengecek suhu tubuh, mencatat lagi. Setelah selesai ia meletakkan clipboard-nya di samping kaki Sam. Cowok itu mengawasi dengan perasaan antara geli dan malu saat perawat itu mengecup dahinya. "Cepat sembuh, Sam," bisik Olivia, lalu pergi untuk memeriksa pasien lain.

Sam menghenyakkan diri ke kursi. Ia sudah berbulan-bulan menjalani hidup seperti ini – kalau ini bisa dibilang hidup – dan tetap saja merasa aneh. Berkeliaran kesana kemari sebagai jiwa tak bertubuh, sementara raganya terbaring tak bergerak. Apalagi duduk di kursi plastik seperti seorang penjenguk, hanya saja yang dijenguknya adalah dirinya sendiri. Kondisi ini sangat sureal bahkan bagi Sam yang telah mengalami berbagai peristiwa luar biasa. Kadang ia bertanya-tanya bagaimana perasaan Andy, Lily, dan Jake dalam menghadapi semua ini.

Tawa kecil, tanpa kegembiraan meluncur dari mulut Sam. Andy, Lily dan Jake. Tiga orang itu membuat situasi semakin aneh saja. Berapa besar kemungkinan empat orang yang saling kenal mengalami out of body experience bersamaan? Mungkin hanya mereka yang pernah mengalaminya. Terima kasih pada kakak paling irasional, gila, dan tak berotak sedunia. Juga terima kasih pada Jake Gray, orang paling bangsat sejagad, yang sukses memanfaatkan kelemahan Dean. Kelihatannya saja dia baik, tapi Sam tahu persis siapa cowok itu sebenarnya. Serigala berbulu domba. Demon kecil keparat yang siap memangsa Dean saat ada kesempatan.

Cowok itu menyisir rambut dengan jari, frustasi. Kenapa Dean bisa begitu buta? Setiap kali Dean datang, Sam selalu berdiri di sampingnya, berteriak-teriak persis ke telinga sang kakak, menyerukan betapa bahayanya bekerja sama dengan Jake. Tapi Dean tetap tak bergeming. Dan yang membuat Sam makin tak tahan, adalah perhatian yang diberikan Dean pada Jake. Orang lain mungkin tak menyadari, tapi di balik sikap dingin Dean, ia sebenarnya peduli pada anak itu. Sam bisa tahu karena begitulah cara John menunjukkan rasa sayang pada mereka dulu. Hanya saja, sebagai balasan, Jake tidak akan mengabdi pada Dean sebagaimana Dean mengabdi pada John. Ia akan berkhianat dengan cara paling jahat yang bisa dibayangkan.

"Awas kau, Jake Gray," gumam Sam pelan, "aku bersumpah akan membunuhmu."

* * *

"Minggu lalu aku menggerakkan vas itu dua senti lebih jauh darimu."

"Omong kosong, kau bahkan tidak mampu membuatnya bergetar."

"Kau cuma tidak mau mengakui kekalahanmu, Jake."

"Diam kau, dasar Andy-Pandy."

"Bisa tidak sih kalian berhenti bertingkah seperti sepasang idiot?"

Andy dan Jake menoleh ke sumber suara gusar itu. Lily mendekat dengan pandangan mencela pada keduanya. Dengan sekali dorong, ia menjatuhkan vas bunga objek perdebatan. Benda itu pecah dengan bunyi memekakkan.

"Wow," kata Andy kagum, "kurasa kaulah pemenangnya."

"Pemenang apa?"

"Siapa di antara kita yang paling bisa menyentuh benda-benda badaniah."

Seorang perawat pria masuk, menghentikan pembicaraan mereka. Ketiganya mengawasi dalam diam ketika si perawat, dengan kerut heran di wajahnya, memberesi pecahan vas bunga. Andy nyengir jahil dan meniup leher perawat itu. Si perawat langsung memegangi lehernya, merinding. Ia cepat-cepat keluar dari kamar, menutup pintu lebih keras daripada seharusnya.

Andy dan Jake terkekeh. "Di mana lagi kita bisa menakut-nakuti orang begini?"

Lily berdecak. "Aku heran pada kalian. Bisa-bisanya memikirkan hal konyol seperti itu dalam situasi seperti ini."

Jake mengangkat bahu. "Apa lagi yang bisa kita kerjakan? Sekedar mengingatkan, tidak banyak yang bisa dilakukan manusia tanpa tubuhnya."

"Yeah," timpal Andy, menatap rindu tubuhya yang terbaring tak jauh dari mereka. "Menurut kalian kapan Jake – Jake Gray – akan mengembalikan kita seperti semula?"

"Menurutku tak akan pernah," jawab Lily kecut.

"Kenapa?"

"Yang kita bicarakan itu Jake. Orang – makhluk – paling tidak berperikemanusiaan yang pernah hidup. Oh, sori Jake, maksudku Jake Gray." Lily menatap teman kulit hitamnya dengan pandangan minta maaf.

Jake mendengus. "Ugh, menyebalkan sekali harus punya nama sama dengan dia," gerutunya, "dan aku setuju denganmu, Lily. Sepertinya kita harus menghabiskan sisa waktu kita sebagai arwah."

"Jiwa tak bertubuh," ralat Andy. "Ayolah teman, kenapa sih kalian menilai Gray begitu buruk? Oke – jangan menatapku seperti itu! – Gray memang bukan orang baik. Tapi dia jugalah yang memberi kita kesempatan hidup sekali lagi, kan? Maksudku, kita memang tidak sepenuhnya hidup dan tidak ada orang lain menyadari keberadaan kita, tapi ini lebih baik daripada – kau tahu – benar-benar mati."

"Yeah? Kadang aku merasa lebih baik mati daripada harus hidup bergantung padanya."

"Satu lagi. Gray melakukan ini untuk Dean. Jadi mungkin dia benar-benar akan menolong kita."

"Atau mengkhianati kita dan Dean sekalian. Satu antara dua itu. Dan aku tahu mana yang lebih potensial."

"Kasihan Dean," desah Lily, "dia pasti begitu sedih sampai-sampai membuat keputusan bodoh seperti itu."

"Tapi aku mengerti perasaannya," timpal Jake, teringat pada adik perempuannya nun jauh di rumah. "Jika aku kehilangan adikku, aku akan melakukan segala cara untuk membuatnya kembali."

"Termasuk bekerja sama dengan pembunuh adikmu sendiri?"

"Yeah. Termasuk bekerja sama dengan pembunuh adikku sendiri."

TBC