My Innocent Girl
Main Cast: Sehun x Luhan. HunHan.
Other Cast(s): other EXO members (maybe, slight ChanBaek)
Rating: M
GS. OOC. Akan ada typo yang bertebaran.
Xi Luhan. Yeoja asal Cina yang dikagumi banyak orang karena kepolosannya, juga disenangi karena keramahannya. Sampai sekarang ia telah berumur 18 tahun, ia tidak mengerti apa itu cinta, first kiss, dan seks. Oh mungkin ia tahu, namun hanya dari pelajaran Biologi yang ia terima di sekolah saja. Melalui pertukaran pelajar, ia bersekolah di Seoul. Di sinilah ia bertemu seorang laki-laki yang berani merusak kepolosannya, Sehun. Bagaimana jika ia malah jatuh cinta pada laki-laki itu? Sedangkan yang dicintai ternyata hanya memandangnya sebagai alat pemuas nafsu.
Previous Chapter:
Baekhyun baru akan mendekat pada Luhan saat yeoja bermata rusa itu mengisyaratkannya untuk tetap diam di tempat. Luhan menoleh ke arah Sehun. "Baiklah," jawab Luhan sambil tersenyum manis. "Jika itu bisa membuatmu memaafkanku."
Sehun sedikit tersentak. Ia tahu yeoja itu tidak membuat-buat senyumannya. Ck, yeoja bodoh macam apa yang masih bisa tersenyum pada orang yang baru saja membuatnya menangis? Namun Sehun dengan cepat mempertahankan ekspresi dinginnya. Ia tersenyum remeh pada Luhan. "Well, selamat datang budakku, Luhan."
Baekhyun tercengang. Bu-budak?
"Makan dulu," pinta Luhan dengan wajah memelas. Ia menatap penuh harap pada Baekhyun yang memalingkan wajahnya. Baekhyun masih tidak bergeming. Luhan membuang nafas kasar. Ia berganti menatap spaghetti yang sudah tidak mengepulkan asap. "Makananmu sudah dingin."
Baekhyun mendengus kesal. Ia berusaha menahan emosinya. Mereka tengah berada di sebuah cafe di dekat sekolah. Tidak mungkin kan ia berteriak seperti orang kesetanan di sini? Bisa-bisa mereka berdua langsung di tendang keluar oleh si pemilik cafe. Akhirnya, ia menatap Luhan. "Kau ini apa-apaan, Lu?"
Luhan menunduk sedih. "Itu memang salahku. Aku harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab?! Memangnya dengan kau menjadi budaknya, foto itu akan kembali seperti semula? Tidak, kan?!" Nafas Baekhyun memburu, wajahnya memerah karena emosi.
Luhan semakin menunduk. Ia tahu ini semua salahnya. Ia juga tahu perkataan Baekhyun memang benar. Menjadi budak Sehun tidak akan mengembalikan foto itu seperti semula. Namun tetap saja, ia akan melakukan apapun asalkan Sehun memaafkannya. Ya, apa saja, bahkan menjadi budak seorang Oh Sehun sekalipun. Ia tidak keberatan, sungguh. Jelas saja, Luhan kan polos. Memangnya ia peduli bagaimana rendahnya dirinya ketika menjadi budak Sehun?
Baekhyun memijit pelipisnya. "Maaf, Lu. Aku tidak bermaksud membentakmu." Ia menghela nafas pasrah. "Aku khawatir padamu. Sehun itu−Hhh, ia bukan laki-laki yang baik."
Luhan sudah berani menatap Baekhyun. Ia memutar bola matanya. "Semua laki-laki kau bilang seperti itu."
Baekhyun baru saja akan membuka mulutnya, namun Luhan lebih dulu bersuara. "Kecuali Chanyeol." Ia terdiam setelah Luhan berkata seperti itu.
"Lu, aku tidak−"
"Kau menganggapnya spesial ya?" Luhan kembali menyela sambil menyipitkan matanya pada Baekhyun, menatap Baekhyun penuh curiga.
Baekhyun mendorong pelan bahu Luhan. "Yak! Kau ini. Sejak kapan kau bisa bertanya hal semacam itu?"
Luhan meletakkan telunjuknya di dagu, memasang pose berpikir. "Uhm, sepertinya sejak beberapa detik yang lalu."
Oh ya, untuk kalian ketahui, Luhan memang tahu mengenai kedekatan Baekhyun dan Chanyeol karena mereka berdua sering pulang bersama akhir-akhir ini. Baekhyun sendiri memang menceritakan awal perkenalannya dengan Chanyeol. Tentu saja dengan mengarang cerita sendiri. Baekhyun tidak ingin Luhan mengetahui kejadian yang sebenarnya. Lebih tepatnya, ia tidak ingin Luhan mengetahui hal-hal kotor semacam itu.
Luhan menatap Baekhyun dengan tatapan polosnya. "Kau sudah tidak marah padaku, kan?"
Entah sudah keberapa kalinya Baekhyun menghela nafas pasrah. Bagaimana bisa ia marah pada sahabatnya yang super imut dan polos itu? "Terserah kau saja, Lu. Tapi ingat, jika ia menyakitimu, kau harus melaporkannya padaku."
Luhan dengan cepat mengangguk. Ia memberi gerakan hormat pada Baekhyun. "Siap, nyonya Byun!"
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Panggilan macam apa itu?" ucapnya kemudian melahap spaghettinya yang sudah dingin.
.
Luhan mengernyitkan dahinya saat ada yang mengetuk pintu apartmentnya. Ini masih pagi sekali. Meskipun kenyataannya, ia sendiri sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Siapa yang datang? pikir Luhan. Ia buru-buru beranjak dari sofa untuk membuka pintu.
"Selamat pagi," sapa Luhan saat membuka pintu apartmentnya. "Oh, Sehun. Selamat pagi. Ada apa?"
Sehun dengan seenaknya langsung menerobos masuk ke apartment Luhan tanpa menjawab sapaan si pemilik apartment. Kebanyakan orang akan mendengus kesal atau bahkan memaki Sehun karena tindakannya yang seenak jidat. Namun, tidak dengan Luhan. Alih-alih melakukan hal itu, ia malah menutup pintu apartmentnya sambil tersenyum manis.
Luhan mendapati Sehun berbaring santai di sofa ruang tengahnya. "Aku senang kau mau mengunjungiku."
Sehun menoleh dan menatap Luhan dengan malas. "Mengunjungimu? Cih, siapa yang mengunjungimu?"
"Kau, Sehun. Siapa lagi? Kau mengunjungiku sepagi ini," kata Luhan sambil menempatkan diri duduk di sofa yang lain.
"Aku bebas kapan saja datang ke sini. Kau budakku, ingat?" kata Sehun menekankan kata budak. Ia menutup matanya.
"Yeah. Bukan itu maksudku," jawab Luhan seakan-akan Sehun adalah orang bodoh yang tidak mengerti maksud pertanyaannya. "Maksudku, ada keperluan apa kau datang ke sini?"
"Kau mengusir atasanmu?" tanya Sehun tanpa menatap Luhan. Lagi-lagi, ia menekankan kata atasan.
"Bu- bukan begitu, Tuan."
Sehun mengernyit tak suka. "Jangan panggil aku tuan. Menjijikan."
"Baiklah, Sehun. Apa kau ingin sarapan?" Sehun tidak menggubris pertanyaan Luhan. Yeoja bermata rusa itu mengerucutkan bibirnya sebal. Apa susahnya menjawab iya atau tidak, sih?
"Sehun?" panggil Luhan sekali lagi.
Sehun membuka matanya. Ia menatap kesal pada Luhan. "Kau ini berisik sekali."
Setengah jam kemudian, Luhan telah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan Sehun. Ia mengernyit saat tidak mendapati Sehun di ruang tengah. Matanya sibuk mencari keberadaan laki-laki berkulit seputih susu itu.
"Sehun?" panggil Luhan sedikit keras, berharap Sehun akan menjawabnya. Apa ia lebih dulu berangkat ke sekolah?
Luhan baru saja akan kembali ke ruang makan saat matanya menangkap sosok Sehun di balkon apartmentnya. Ia berjalan mendekati Sehun. Sepertinya Sehun terlalu sibuk memfokuskan diri pada ponselnya sampai laki-laki itu tidak menyadari kehadiran Luhan di sampingnya. Luhan melirik layar ponsel itu. Layar ponsel itu menampilkan foto seorang yeoja yang sangat cantik. Matanya hampir sama seperti mata sahabatnya, Baekhyun. Rambut pendek sebahu, hidung yang mancung, dan bibir pink yang tipis. Satu lagi yang sangat menarik perhatian Luhan. Senyum yeoja itu sangat manis, membuatnya terlihat seperti yeoja yang sangat polos. Hanya itu saja yang bisa Luhan lihat karena foto yeoja itu tidak menampilkan foto full body. Namun, Luhan sangat yakin bahwa yeoja itu sempurna.
"Cantik sekali. Ia pasti yeoja yang sempurna." Luhan tidak sengaja menyuarakan pemikirannya, membuat Sehun terkejut dan buru-buru menyimpan ponselnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sehun dingin sambil menatap tajam pada Luhan.
Luhan mengernyit heran. "Ini apartmentku, Sehun. Lagipula, tadi aku mencarimu untuk sarapan. Tapi ternyata kau ada di sini."
Sehun mengalihkan pandangannya pada langit yang semakin terang. Ia baru saja akan mencapai pintu masuk jika Luhan tidak mengeluarkan pertanyaan itu. "Siapa yeoja itu?"
Laki-laki berkulit seputih susu itu mengepalkan kedua tangannya. Posisi tubuhnya membelakangi Luhan, sehingga Luhan tidak bisa melihat wajah Sehun yang memerah karena emosi.
"Yeoja itu cantik, Hun. Ia pasti yeoja yang sempurna," kata Luhan mengulangi pikirannya yang tadi ia suarakan. "Ia terlihat seperti yeoja yang sangat polos. Teman-temanku juga sering menyebutku polos. Apa aku sama polosnya dengan yeoja itu?"
Luhan tidak tahu bahwa kalimat yang ia ucapkan akan membuat Sehun murka. Tepat setelah Luhan menyelesaikan kalimat terakhirnya, Sehun berbalik. Ia langsung mendorong tubuh mungil Luhan ke tembok di balkon itu. Ia menempatkan kedua tangannya di tembok, tepat di samping kiri dan kanan kepala Luhan.
Luhan terkejut dengan perlakuan Sehun yang tiba-tiba seperti itu. Ia bisa melihat ada kilatan emosi di mata Sehun. "Hun?"
"Jangan ikut campur urusanku. Tau apa kau tentangnya?"
Sehun mencengkram kedua pipi Luhan dengan sangat kuat. Ia menyisakan jarak dua senti di depan wajah yeoja itu. "Jangan pernah kau samakan dirimu dengannya. Kau tau, kau tidak lebih dari seonggok sampah," kata Sehun dengan nada mengancam yang sangat kentara. Ia menatap Luhan tepat di matanya.
"Satu lagi, kau memang yeoja polos. Dan aku−" Nada suara Sehun sangat menggantung saat mengucapkan kalimat itu. Ia memalingkan wajahnya, memutuskan kontak matanya dan Luhan.
Sehun tersenyum mengejek sebelum melanjutkan kalimatnya. "−aku membenci yeoja polos."
.
"Luhan! Kenapa pipimu memerah seperti itu?!" panik Baekhyun saat Luhan menghampirinya di kantin. Mereka memang hanya bisa bertemu saat jam makan siang.
"Astaga! Bahkan pipimu bengkak, bukan hanya memerah!" Baekhyun langsung berdiri dan menarik Luhan duduk di sebelahnya. Ia dengan hati-hati menekan bengkak di pipi Luhan, menyebabkan yeoja bermata rusa itu meringis kesakitan. Ck, kenapa aku meringis? rutuk Luhan dalam hati.
"Maaf. Apa sangat sakit?" tanya Baekhyun sambil menatap cemas pada Luhan.
Luhan tersenyum lemah. "Ti- tidak."
"Jangan berbohong! Apa yang terjadi padamu?" sergah Baekhyun. "Apa kau sudah mengobati pipimu?"
Yang ditanya hanya diam saja. Luhan tidak tahu harus berkata apa pada Baekhyun. Jika ia menceritakan kejadian tadi pagi, sudah pasti sahabatnya itu akan langsung menghampiri Sehun, lalu memaki laki-laki itu. Kemungkinan buruk yang akan terjadi, Baekhyun malah akan berakhir mengenaskan di tangan Sehun. Oh, tidak. Luhan tidak ingin mengikut sertakan Baekhyun dalam masalahnya.
"Jawab, Lu."
"Pipiku sakit. Aku kesusahan berbicara," lirih Luhan. Jangan kalian pikir ini hanya alasan Luhan. Kenyataannya, pipinya memang sangat sakit. Tidak berbicara saja sakit, apalagi berbicara.
"Uh-oh. Maaf, Lu. Aku tidak tau. Aku- aku tidak akan memaksamu berbicara lagi," kata Baekhyun pelan. Ia merasa bersalah.
Luhan menggeleng kecil. Ia lagi-lagi tersenyum. Baekhyun cukup pintar untuk menyadari bahwa Luhan sudah dua kali menunjukkan senyum lemah. Dari awal melihat keadaan Luhan, ia bisa menyimpulkan bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada sahabatnya itu. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mengenai Luhan yang tersimpan di otaknya. Rasa penasarannya menggebu-gebu. Namun ia tahu, ia harus menahan diri.
.
"Sebentar, Baek," kata Luhan saat mendengar dering ponselnya. Luhan mengernyit. Nomor siapa ya ini?
"Yeo−"
"Ke kelasku. Sekarang juga."
KLIK. Setelah menyelesaikan kalimatnya yang singkat, padat, dan menyebalkan itu, si pemilik suara langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Luhan tahu jelas siapa yang baru saja menghubunginya.
Baekhyun menatap bingung pada Luhan. "Siapa? Cepat sekali ia berbicara."
"Sehun. Ia memintaku ke kelasnya sekarang juga," jawab Luhan sambil bergegas merapikan alat tulisnya.
"Mau berulah apalagi monster itu?" tanya Baekhyun sedikit sinis, membuat Luhan terkekeh.
"Awww," ringis Luhan sedetik setelah ia terkekeh. Uh, aku melupakan pipiku.
"Hati-hati, Lu. Ayo," ajak Baekhyun saat melihat Luhan telah selesai merapikan alat tulisnya.
Luhan menggeleng. "Aku sendiri saja, Baek."
"Sendiri?! No, no, no. Ia bisa saja menyakitimu. Aku tidak ingin hal itu terjadi," sergah Baekhyun. "Aku akan menemanimu."
Tepat setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Luhan melihat sosok laki-laki jangkung yang melewati kelasnya. Ia berlari ke depan pintu kelas, mengabaikan perkataan Baekhyun sebelumnya.
"Chanyeol!" panggil Luhan. Laki-laki jangkung yang baru saja dipanggil Chanyeol oleh Luhan itu berbalik. Ia berjalan ke arah yeoja bermata rusa itu.
"Hai, Lu. Ada apa?" tanya Chanyeol sambil tersenyum lebar.
"Kau tidak sibuk, kan?" kata Luhan balik bertanya.
"Tidak," jawab Chanyeol sambil berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan keberadaan Baekhyun. Sudah seminggu yeoja bermata sipit itu menolak berbicara padanya.
Luhan melirik Baekhyun yang terdiam di tempatnya sebelum akhirnya berganti melihat Chanyeol. "Tolong antarkan Baekhyun pulang. Aku ada keperluan mendadak."
Mendengar permintaan Luhan, senyuman laki-laki itu bertambah lebar. Tanpa perlu Chanyeol jawab, Luhan tahu laki-laki itu akan menerima permintaannya dengan senang hati.
"Baiklah. Terima kasih. Tolong jaga Baekhyun, ya."
Chanyeol mengangguk antusias. "Pasti. Kau tenang saja."
Luhan kembali melirik Baekhyun yang masih berdiam diri di dalam kelas. "Baekhyun, pulanglah bersama Chanyeol."
"Apa? Hei, hei. Aku tidak−"
Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Luhan lebih dulu menghilang dari pandangannya.
Baekhyun mendengus kesal saat sosok Luhan berganti dengan seorang laki-laki. Ia menatap malas pada laki-laki dengan senyum bodoh yang tertoreh di wajahnya itu. "Kau mau apa? Pergi dari sini."
Bukannya menjauh, Chanyeol malah berjalan mendekat ke tempat Baekhyun tengah berdiri. "Aish, kenapa kau kasar sekali pada kekasihmu?"
.
"Aku tidur di sini," kata Sehun saat memasuki apartment Luhan−yang ia klaim juga miliknya.
Luhan meletakkan tas sekolahnya dan Sehun di sofa. Ia sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya, berusaha mengurangi rasa nyeri karena membawa tas milik Sehun. Ya, tujuan Sehun menghubunginya tadi adalah memerintah yeoja itu membawa tas sekolahnya.
"Aku di kamar. Kau di sofa," tambah Sehun. Luhan hanya mengangguk pasrah. Ia sendiri terlalu lelah untuk sekedar mengeluarkan protesnya.
Untuk yang kedua kalinya, Sehun terkejut melihat reaksi Luhan. Yeoja ini polos atau bodoh, sih? Seharusnya ia marah, kan?
Luhan menahan rasa nyeri yang semakin menyebar di sekitar pipinya. "Kau ingin mandi dulu?"
Sehun tidak menggubris pertanyaan Luhan. Ia langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan cukup keras. Aish, pintuku bisa rusak jika begitu kasarnya cara ia menutup pintu, gerutu Luhan dalam hati. Ia pergi membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah selesai membersihkan diri, Luhan mempersiapkan keperluan sekolahnya untuk lusa. Mulai dari buku-buku yang harus ia bawa, tugas sekolah, sampai seragam yang akan ia kenakan. Ia menguap. Mata rusanya mengerjap-ngerjap imut. Luhan berniat mengambil selimut cadangannya.
"Sehun, aku masuk ya," kata Luhan sambil membuka pintu kamarnya perlahan. Luhan sedikit terkejut saat melihat Sehun yang lebih dulu tertidur pulas. Ia berjalan ke arah lemarinya lalu tangannya sibuk mengangkat tumpukan-tumpukan benda lain di lemari itu. Setelah mendapatkan selimutnya, ia mendekap benda itu di depan dadanya sambil berjalan mendekati tempat tidurnya.
"Wajahmu damai sekali saat tetidur seperti ini. Jika saat ini aku menuduhmu orang jahat, pasti tidak akan ada yang percaya padaku. Tapi, kau memang bukan orang jahat, sih." Luhan tanpa sadar mengeluarkan isi hatinya. Ia masih menatap wajah damai Sehun.
Tiba-tiba Sehun membuka matanya. Manik matanya langsung bertemu pandang dengan Luhan. Luhan baru saja akan berbalik pergi. Namun, Sehun lebih dulu bersuara. "Luhan, mendekatlah."
"Uhm, ya?" tanya Luhan ragu-ragu.
"Mendekatlah," ucap Sehun mengulangi perkataannya. Luhan menuruti permintaan Sehun.
Sehun berdiri dari tempat tidur Luhan. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah yeoja yang berdiri tegang di depannya. Pergerakan Luhan yang berniat menjauh terhenti karena Sehun lebih dulu mencengkram pipinya.
"Awww, Se- Sehun. Sakit..." lirih Luhan sambil tangannya memegang lengan Sehun, meminta laki-laki itu melepas cengkramannya.
"Apa yang tadi kau katakan, huh?" tanya Sehun sambil memperkuat cengkramannya di pipi Luhan.
Luhan menggeleng lemah. "Tolong... Tolong lepaskan, Hun."
"Jangan pernah kau katakan hal menjijikan semacam itu, sampah." Sehun langsung mendorong tubuh Luhan hingga menabrak tembok.
Sehun merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Luhan yang terduduk lemah. Ia tersenyum mengejek kemudian menekan bengkak di pipi Luhan dengan sangat kuat, menyebabkan suara isakan lolos dari bibir cherry Luhan.
.
Sehun tengah berada di ruang tengah. Kejadian beberapa saat lalu cukup membuatnya lelah. Namun sialnya, tidak membuatnya merasa mengantuk sedikitpun. Ia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan tadi pagi, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto seorang yeoja cantik yang terlihat sempurna−seperti pendapat Luhan.
"Maafkan aku. Kenapa kau polos sekali? Aku pantas di sebut bodoh. Aku yang melenyapkanmu. Aku yang seharusnya disalahkan. Iya, kan? Seharusnya saat itu aku datang tepat waktu," lirih Sehun.
Percaya atau tidak, yang barusan itu memang Sehun yang bersuara. Lihatlah, di balik sosok dingin dan angkuhnya, ia tidaklah lebih dari seorang laki-laki rapuh yang dihantui rasa bersalah.
Sehun beranjak mendekati Luhan yang tetidur pulas dengan posisi duduk bersandar di tembok. Ia kembali menekan bagian pipi Luhan yang memerah, membuat yeoja itu mengernyit dalam tidurnya.
"Aku membenci yeoja polos." Dengan itu, Sehun berdiri dan masuk ke kamar Luhan.
.
Luhan merasakan tubuhnya diguncang. Ia mengerang kemudian membuka matanya perlahan. Pandangannya langsung menampilkan sosok Sehun yang berdiri di depannya.
"Sehun. Selamat pagi. Ini hari minggu, kan?" sapa Luhan lirih sambil menggosok matanya imut. Ia merasakan sekujur tubuhnya sakit−terlebih punggungnya−karena tubuhnya menabrak tembok akibat dorongan Sehun, ditambah ia tidur dengan posisi yang tidak sewajarnya.
"Cepat bangun! Buatkan aku sarapan, bodoh!" perintah Sehun setengah berteriak tanpa menggubris sapaan Luhan. Ia menarik tangan Luhan untuk berdiri, membuat yeoja itu meringis kesakitan.
"Baiklah. Sebentar, aku mandi dulu," kata Luhan sambil berjalan ke kamar mandi. Tangannya memegang tembok untuk menumpu tubuhnya yang kesulitan berjalan. Ia berharap ada yang membantunya sekarang. Mungkin Baekhyun? Tidak. Luhan dengan cepat menggeleng. Ia tidak boleh menyusahkan orang lain.
Luhan menatap pantulan wajahnya di cermin. Pipinya masih memerah akibat Sehun yang seringkali mencengkram pipinya. "Eomma..." lirih Luhan. Ia langsung menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.
DUG DUG DUG
"Cepat, bodoh! Kau mandi saja lama sekali," teriak Sehun dari luar pintu kamar mandi. Luhan langsung bergegas mandi secepat kilat.
.
"Kemarikan makananmu," perintah Sehun pada Luhan yang baru saja memasukkan suapan kedua ke mulutnya. Luhan menurut. Ia meletakkan piringnya di depan Sehun.
"Makanan ini juga untukku," kata Sehun yang dijawab anggukan patuh dari Luhan. Sehun mengernyit tak suka.
"Kau tidak perlu makan," tambah Sehun yang lagi-lagi dibalas anggukan. Melawanlah, bodoh. Ck, bodoh sekali sampah ini.
"Jika masih kurang, aku bisa membuatkannya lagi untukmu," jawab Luhan sambil beranjak pergi ke dapur. Ia mengeluarkan bahan-bahan makanan yang tadi sudah ia simpan.
"Luhan," panggil Sehun. "Tidak perlu. Ini sudah cukup."
Luhan kembali ke ruang makan. "Benarkah? Tidak apa-apa jika memang masih kurang."
Sehun menggeleng. Ia memijit pelipisnya. Sial, aku tidak seharusnya bersikap baik padanya.
Setengah jam kemudian, Sehun telah menyelesaikan makanannya. Ia duduk di ruang tengah. Sedangkan Luhan, ia sibuk mencuci piring kotor dan alat-alat bekas ia memasak. Saat tengah sibuk dengan pekerjaannya, ia merasa ada menarik pergelangan tangannya. Ia tahu itu Sehun. Memangnya siapa lagi? Di apartmentnya hanya ada mereka berdua.
Sehun mendorong tubuh Luhan sampai membentur tembok. Luhan meringis kesakitan. Sekarang ia cukup menyesal karena di apartmentnya ada banyak sekali tembok. Mungkin aku bisa meruntuhkan beberapa setelah ini, batin Luhan di tengah rasa sakitnya.
"Berhentilah mendorongku ke tembok. Punggungku sakit, Sehun," ucap Luhan sedikit keras. Apa tidak bisa meski sehari saja ia memperlakukanku secara wajar? Ia sendiri sangat bingung dengan perubahan sikap Sehun yang begitu cepat. Meskipun sikap baiknya hanya sekali-dua kali. Tentu saja sikap kasar lebih mendominasi laki-laki berwajah datar itu.
Sehun menempatkan tangannya di samping tempat Luhan mencuci piring untuk menopang tubuhnya. Ia menatap Luhan sambil tersenyum remeh. "Cih, memangnya aku peduli?" decih Sehun.
Laki-laki berkulit seputih susu itu berjalan ke samping Luhan. Ia menyeringai sebelum membisikkan sesuatu yang membuat Luhan mengernyit heran.
"Mak−"
Perkataan Luhan terpotong karena Sehun lebih dulu membungkam bibirnya dengan ciuman. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat Sehun terus berusaha membuka belahan bibir cherrynya. Tangan Luhan sibuk mendorong tubuh Sehun agar menjauh. Sehun tidak kehabisan akal. Ia menggigit-gigit bibir Luhan sehingga yeoja itu meringis. Kesempatan itu tidak Sehun sia-siakan. Ia langsung menjelajahi bagian dalam mulut Luhan dengan lidahnya. Sedangkan Luhan, ia bingung dengan tubuhnya sendiri. Seluruh tubuhnya memanas, jantungnya berdetak sangat cepat, nafasnya tercekat. Lelehan saliva−entah itu saliva Luhan atau Sehun, atau mungkin campuran saliva keduanya−mengalir turun melalui sudut bibirnya. Setelah beberapa menit, Luhan akhirnya berhasil mendorong tubuh Sehun untuk menjauh. Nafasnya tersenggal-senggal, seakan-akan ia baru saja berlari ratusan ribu kilometer.
Belum terlatih untuk mendesah rupanya, pikir Sehun. Ia menyeringai melihat keadaan Luhan yang sedikit berantakan dengan lelehan saliva di sudut bibirnya. Sehun memajukan tubuhnya untuk menjilat lelehan saliva itu. Luhan yang masih menstabilkan pernapasannya tidak dapat menolak perlakuan Sehun yang tiba-tiba itu.
Setelahnya, lidah Sehun turun untuk membasahi leher mulus Luhan, membuat Luhan bergerak tak nyaman. Masih tidak mendesah juga? Well, sepertinya aku harus mengajarimu lebih, batin Sehun.
"Ini hanya permulaan. Selamat menikmati permainan ini," kata Sehun kemudian melumat kilat bibir Luhan.
.
"Kenapa Kai ke Jepang?" tanya Luhan sambil melahap makan siangnya.
Baekhyun mengedikkan bahunya acuh. "Kau masih saja menanyakannya. Jae seonsaengnim bilang, Kai harus mengurus perusahaan milik appanya di Jepang."
Luhan membulatkan matanya kagum. "Ia sudah bekerja? Membantu appanya? Wah, hebat sekali. Tapi, bagaimana dengan sekolahnya?"
Baekhyun kembali mengedikkan bahunya acuh. Luhan tidak ambil pusing, ia kembali melahap makan siangnya. Akhirnya, aku bisa menikmati makanan ini. Hhh, pasti aku tampak seperti makhluk kelaparan yang tidak makan selama bertahun-tahun. Biar sajalah, yang penting aku menuntaskan rasa laparku dulu. Daripada aku mati kelaparan. Tidak lucu kan?
"Sepertinya keadaanmu semakin memburuk," kata Baekhyun sambil mengamati Luhan yang tengah melahap makan siangnya. "Terakhir kali bertemu denganmu, keadaanmu jauh lebih baik dari ini. Pipimu tidak kunjung sembuh. Bibirmu bengkak. Kau juga kesusahan berjalan. Sebenarnya ada apa?"
Luhan membuang nafas kasar. Ia tahu seharusnya ia menceritakan semuanya pada Baekhyun. Bagaimanapun, Baekhyun sahabatnya. Baekhyun juga sangat peduli dan sayang padanya.
"Sehun," kata Luhan memulai pembicaraan, membuat mata Baekhyun memicing curiga. "Ia mengingap di apartmentku."
"AP−"
Luhan membekap mulut Baekhyun yang hendak berteriak. "Sssh, kau dengarkan saja ceritaku. Jika kau menyela, aku tidak akan melanjutkan ceritaku."
Baekhyun melepaskan bekapan tangan Luhan setelah mengangguk patuh. Ia mengerucutkan bibirnya sebal. "Lanjutkan ceritamu."
"Sehun tidur di kamarku. Ia memintaku tidur di sofa. Namun terakhir kali, aku berakhir tidur di lantai dengan posisi terduduk bersandar di tembok. Malam itu Sehun mendorongku, sepertinya ia marah padaku. Besoknya, ia kembali mendorongku ke tembok. Rasanya sakit, Baek. Badanku serasa remuk." Luhan menunduk mengingat hal itu. Ia masih bisa merasakan nyeri di punggungnya. Air matanya mengalir turun membasahi pipinya yang masih memerah.
"Ia membisikkan sesuatu yang tidak kumengerti. Setelahnya, ia melumat bibirku," lanjut Luhan sambil memegang bibirnya yang terasa sedikit perih. "Ya, sampai situ."
Baekhyun mengepalkan tangannya karena emosi. Bajingan kau, Sehun. Apa maumu? Apa kau berniat melampiaskan emosimu padanya? Dasar makhluk bodoh. Kau pikir apa yang kau perbuat sekarang ini bisa membalaskan rasa sakitnya? Kau pikir ia senang melihatmu seperti ini? Setelah kebodohan yang kau perbuat, kau masih mau berbuat bodoh untuk yang kedua kalinya?
"Apa yang ia katakan padamu?" tanya Baekhyun yang masih berusaha meredam emosinya. Ia berusaha untuk tidak menumpahkan amarahnya di depan Luhan. Namun, jawaban yang keluar dari mulut Luhan membuat pertahanan emosinya runtuh. Saat itu juga, ia merasa ingin membunuh Oh Sehun.
"Sehun memintaku untuk menjadi pemuas nafsunya."
.
.
.
T B C
Annyeong. Ini chapter selanjutnya. Gimana? Makin aneh kah jalan ceritanya? HunHan momentnya gimana? Meskipun momentnya ga ada manis-manisnya sedikitpun. Yang penting, HunHan. Hahaha.. Bagian kissingnya, maaf kalo ga jelas dan aneh. Jujur aja, aku bingung nyusun kalimatnya gimana. Jadilah abstrak kayak gitu.
Untuk yang nanya Kai kemana? Kai ngapain ke Jepang? Dan pertanyaan sejenisnya yang berhubungan dengan Kai, udah ketemu kan jawabannya di fanfic ini?
Untuk yang nanya foto yang kena lelehan ice cream itu, gimana yaa.. Hayo foto siapa itu, hehe. Mungkin dari chapter ini, kalian udah ada gambaran foto siapa itu.
Omong-omong, bentar lagi kan puasa. Oh ya, aku nggak puasa karena aku bukan muslim. Tapi aku menghargai kalian yang puasa. Jadi, ada kemungkinan fanfic ini di stop dulu. Gimana menurut readers? Kalo aku update, kebanyakan kalian kayaknya ga akan bisa baca. Soalnya, fanfic ini aja ratingnya udah M. Dan untuk kedepannya, kayaknya bakal ada scene yang menyimpang. Daripada puasanya batal. Lagian, masa pas masa puasa update fanfic rating M, hehe. Rencananya, selama aku ga update, aku bakal siapin fanfic ini berchapter chapter. Jadi selesai puasa nanti tinggal update-update aja deh ^.^ gimana? Aku tunggu pendapat reader :) kalo masih keburu, satu chapter selanjutnya bakalan aku update sebelum puasa.
Oke, maaf aku selalu berkoar panjang lebar. Bye!
Thank you buat yang udah review di chapter ini,
zoldyk, delimandriyani, shounarutos, ChenChen, saY You (idnya ga muncul kalo pakai titik), sfournia, ereng, minbyuliee, Guest1, HyunRa, driccha, Xiao HunHan, luludeer, kkamjongyehet, ruixi, lisnana1, irna lee 96 (the same, idnya ga muncul kalo pakai titik), younlaycious88, Park Hye Hoon, Gigi onta, exindira, luhansmanly, Row Chun, Ai Rin Lee, kaihunhan, AmeliaBellatrix, Name HunHan SHP, HunHanCherry1220, Aria Sweden, RZHH 261220 II, doremifaseul (maaf kalau ada yang ketinggalan atau mungkin salah tulis idnya T_T)
Juga buat yang udah review di chapter-chapter sebelumnya, yang favorite, dan yang udah jadi followers. Thank you!
Mind to RnR?
makasih buat yang udah baca, terlebih yang udah tinggalin review
