My Nerdy Girl
Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Lee (Kim) Taemin
Lee Teuk
Genre: Romance, fluff, school life
Warning: Genderswitch! Adaptasi dari manga 'My Nerdy Girl' karya AIKAWA SAKI
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
.
Yeoja cilik itu mempoutkan bibirnya. "Namaku Taemin. Kamarnya di sini." Taemin lalu menuntun Yunho menuju kamar Jaejoong. Sementara di punggung Yunho, tampak Jaejoong yang menggeliat nyaman.
'Hm? Punggung yang besar.. Hangat..'
Merasa sedikit pergerakan, Yunho menolehkan wajahnya ke belakang, menatap wajah lain yang terlihat begitu damai.
'Aku bisa mendengar dia menggumamkan sesuatu. Waktu itu, juga hari ini.. ada yang aneh. Aku jadi tidak membenci saat aku bersama dengannya. Kenapa ya..?'
.
.
CHAPTER 4
.
.
Usai merebahkan dan menyelimuti Jaejoong di kasur lantai miliknya *itu loh, kasur lipat yang dipake di lantai kaya drama2 korea xD*, Yunho mengamati kamar yang terlihat sederhana itu. Tak ada banyak barang di sini. Hanya ada sebuah meja kecil di pojok ruangan, rak kecil yang penuh buku, lemari pakaian, dan meja belajar.
'Kamarnya rakyat jelata,' batinnya.
Yunho lalu mengalihkan pandangannya pada Jaejoong yang tengah tertidur pulas. Mata musangnya tak sengaja menangkap sesuatu yang aneh pada pergelangan tangan yeoja itu. Dia mengamatinya dengan teliti.
"Hmph, rasi bintang? Tahi lalat yang aneh. Apa itu rasi Cassiopeia?" gumamnya pada diri sendiri begitu melihat tahi lalat yang tampak membentuk sebuah rasi W di pergelangan tangan kiri Jaejoong.
Perlahan, Yunho menyingkap rambut yang menutupi wajah yeoja berkacamata itu. Wajah damainya terlihat lelah.
"Dia belajar dan bekerja sampai jatuh kelelahan begini.." Yunho menatap Jaejoong prihatin. "Kenapa dia begitu berambisi jadi murid beasiswa, ya?"
"Demi menggantikan ayah dan ibu membesarkan kami, eonni berjuang agar jadi orang hebat yang bisa menghasilkan banyak uang."
Yunho menoleh ke belakang dan mendapati Taemin tengah duduk manis di depan meja kecil yang entah sejak kapan dipindahkannya ke tengah ruangan. Dia meyodorkan segelas teh yang dipegangnya di atas meja.
"Silahkan tehnya."
"Ah.. ne, gomawo." Yunho mendekati meja dan mulai meneguk tehnya. Tahu saja dia tengah kehausan. "Dia memang pernah bilang begitu padaku," ucapnya teringat akan kata-kata Jaejoong saat yeoja itu menjelaskan tentang kerja paruh waktunya.
"Ne, makanya kumohon jangan bilang siapa-siapa kalau eonni kerja paruh waktu!" pinta Taemin menatap lurus-lurus mata Yunho. Mata bulatnya yang sama dengan Jaejoong menyiratkan permohonan sekaligus kecemasan.
Yunho terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. " Tenang saja, aku mengerti kok. Aku tidak bermaksud menghalangi usaha keras kakakmu." Yunho mengusap-usap rambut Taemin, mencoba menenangkan bocah itu. Sesaat kemudian dia kembali terdiam, seakan baru tersadar sesuatu.
"Apa disini tidak ada orang lain? Kau hanya tinggal berdua dengan si kutu.. maksudku kakakmu?" tanya Yunho penasaran.
"Ada Changmin oppa juga, kok."
"Changmin?" Yunho berpikir. Seorang namja?
Taemin langsung bangkit dari duduknya. "Mau lihat fotonya?! Ganteng, lho!" serunya antusias.
Yunho langsung sweatdrop. "Eh.. tidak juga, sih.."
Tanpa memperdulikan ucapan Yunho, Taemin keluar kamar dan tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sebuah foto. Dia memperlihatkan foto itu pada Yunho dengan senyum lebarnya.
"Ini dia Changmin oppa!"
Yunho meraih foto itu dan seketika mata sipitnya membulat melihat sosok namja yang tengah menggendong Taemin sambil ber-piece ria. Orang ini.. namja keren yang waktu itu?! Yunho menatap foto itu tak percaya. Dia lalu mendongak menatap Taemin.
"Oi, bocah."
"Namaku bukan 'bocah'!" Taemin menatap Yunho sengit. Yunho mengabaikannya.
"Apa namja ini juga dekat dengan kakakmu?"
"Tentu saja."
"Ja.. Jadi, dia selalu ada di sini?"
Taemin menatapnya bingung. "Ne, dia selalu ada di sini," jawabnya polos. Dia lalu kembali melihat foto Changmin sambil senyam-senyum gaje, tidak memperdulikan tampang shock Yunho saat mendengar jawabannya.
Omo, ayah macam apa itu?! Bisa-bisanya dia pergi ke luar negeri begitu saja. Sementara orang tuanya tidak ada, anak-anak ini malah membawa namja ke dalam rumah! Yunho horror sendiri dengan pemikirannya. Tapi sesaat kemudian kesadaran menghampirinya.
Hah?
Astaga.. Yunho menarik-narik kerah kemejanya. 'Kenapa aku jadi panas begini, sih? Si kutu buku punya pacar atau tidak, itu bukan urusanku!'
Yunho menggendong tasnya. Lebih baik dia pergi dari sini. "Urusanku sudah selesai, aku pulang dulu." Yunho sudah bersiap untuk pergi ketika tiba-tiba dirasanya sebuah tangan menarik seragamnya. Yunho menoleh dan melihat Taemin tengah menahannya.
"Eonni mengajarkanku untuk tidak berhutang pada orang. Jadi, hari ini silahkan makan malam dulu sebelum pulang," pinta Taemin.
"Eh..." Yunho bingung harus menjawab apa.
"Kumohon!"
Aish, akhirnya mau tak mau Yunho mengangguk.
'Kecil-kecil sudah mirip kakaknya.'
.
.
Jaejoong membuka pintu kamarnya dengan lesu. Khas orang baru bangun tidur. Tiba-tiba dia terdiam di tempat saat matanya disuguhi pemandangan yang tak mengenakan.
Ternyata bukan mimpi.
'Kenapa dia masih ada di sini?' batinnya. Sekilas memori menyerempet di kepala Jaejoong membuat yeoja itu bergidig. Walaupun setengah sadar tapi dia ingat benar bahwa dia tadi sempat digendong Yunho. Sejarah hitamnya bertambah lagi...
Dengan langkah malas-malasan Jaejoong menghampiri dua manusia berbeda gender dan umur yang sedang bersiap untuk makan itu. Dia ikut duduk di lantai sambil matanya tak pernah lepas dari Yunho.
"Kukira sudah pulang. Kok masih di sini?" tanya Jaejoong mencoba menjaga kata-katanya agar tidak terdengar seperti mengusir. Tapi tetap saja Yunho menyadarinya dan sewot.
"Hoi! Sudah bagus aku menggendongmu, kau malah pasang tampang tidak senang begitu?! Aku di sini karena bocah ini menyuruhku makan dulu sebelum pulang, tahu!"
Makan? Uh.. Jaejoong memalingkan wajahnya kesal. Dia memang selalu mewanti-wanti Taemin agar tidak berhutang pada orang.. tapi bukan begini maksudnya! Sayang makanan mereka kalau dikasih ke tuan muda macam Yunho.
Jaejoong kembali menatap Yunho, kali ini dengan tatapan sengit. "Aku tahu kau pasti akan bilang tidak enak. Tapi kalau kau mengeluh lebih baik tidak usah makan. Mubazir!"
"Mubazir?! Aku bahkan belum bilang apa-apa!" seru Yunho tak terima.
Jaejoong mengabaikannya dan tetap mempertahankan tatapan sengitnya pada Yunho yang mulai menyuapkan nasi serta lauk ke mulutnya. Dia tahu Yunho ke sini hanya untuk memuaskan rasa penasarannya saja. Kalau Yunho sampai mengejek, akan dia usir namja itu!
"Emm! Lumayan enak juga."
...Hah? Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apalagi ketika dilihatnya Yunho mulai mengambil lauk-lauk lainnya dengan antusias.
"Wah, boleh juga nih," komentar Yunho sambil terus memasukan makanan ke mulutnya tanpa henti.
"Ini buatan eonni, lho. Enak kan! Tadi aku tinggal memanaskannya saja," bangga Taemin.
"Jeongmal? Hebat juga kau, kutu buku," puji Yunho dengan wajah cerah.
Deg. Jaejoong langsung merona. Tapi sedetik kemudian dia segera memalingkan wajahnya. Astaga, ke.. kenapa dia jadi berdebar-debar?! Memang apa yang membuat dia senang?!
"Men.. menjijikkan." Akhirnya sebuah kata keluar dari mulut Jaejoong.
"Hah?!"
"Kalau kau yang memuji pasti akan ada hal buruk yang terjadi!"
"Ya! Sudah bagus aku memujimu! Kenapa malah bicara begitu, sih?! Dari tadi membuatku kesal saja!"
"Aku jijik karena yang kau lakukan itu tidak cocok dengan sifatmu! Amit-amit!"
"Mwo?! Aish, terserah. Aku capek bicara denganmu!"
"Kau pikir aku tidak!"
"Dasar kutu buku!"
"Tuan muda kurang kerjaan!"
"Huh!"
"Huh!"
Keduanya saling memalingkan muka. Sementara itu Taemin hanya menatap mereka dengan tatapan kagum. Tidak berani bersuara atau bahkan sekedar bercicit. 'Apa mereka memang selalu seperti ini?'
.
.
Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya yang membulat kaget. Bagaimana tidak, begitu sampai di kelasnya dia mendapati mejanya penuh dengan setumpukkan kotak yang terbungkus kertas kado.
"A.. a, a, apa ini?" gagapnya. Jaejoong memeriksa kotak-kotak itu dengan excited.
"Balasan yang kemarin," jawab Yunho yang entah sejak kapan sudah duduk di depan Jaejoong. "Di rumah ada banyak sekali barang yang tidak terpakai. Makanya aku bawakan untukmu."
"Eh?! Untukku?!" seru Jaejoong tak percaya. Dia mulai mengamati dan memegang barang-barang di mejanya dengan wajah bersinar. "Waah, asyik!"
Yunho memalingkan wajahnya begitu melihat reaksi Jaejoong, berusaha menyembunyikan senyum puasnya. 'Huh, dia senang. Ayo bilang terima kasih!'
Jaejoong berhenti mengagumi hadiah-hadiahnya lalu menatap Yunho. Apa namja itu repot-repot membawa barang sebanyak ini ke sekolah hanya untuk diberikan padanya..? Bayangan Yunho yang menenteng-nenteng banyak tas di kedua tangannya tiba-tiba terlintas di kepalanya, membuat Jaejoong menutup mulutnya guna menahan tawa.
'Tidak cocok.'
Tapi seketika Jaejoong terdiam begitu menyadari suatu kemungkinan.
"Jangan-jangan ada udang di balik batu..." Jaejoong menyuarakan pikirannya sambil menatap Yunho horror.
"Tidak ada!" seru Yunho cepat. "Ini untuk pembayaran di muka," tambahnya.
"Pembayaran di muka?"
Yunho mengangguk. "Buatkan aku makanan rakyat jelata lagi. Anggap ini sebagai pembayaran di muka untuk itu."
Jaejoong terdiam. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdesir halus. Dia mencoba mencerna perkataan Yunho. Apa ini maksudnya Yunho ingin dia memasak untuknya lagi? Serius?
Selama ini dia pikir Yunho hanya bersikap baik pada Youngwoong. Tapi akhir-akhir ini dia sadar kalau itu tidak benar. Ini aneh. Dia tidak suka mengakuinya, tapi dia tidak keberatan berada di dekat Yunho... Malah rasanya menyenangkan.
Tunggu, jangan-jangan dia...
.
.
'Tidak-tidak... Pasti karena belakangan ini sering bersama Yunho, aku jadi bingung. Aku goyah karena melihat sisi dirinya yang tidak kuketahui.' Jaejoong berusaha berpikir positif sekaligus memberi sugesti pada dirinya sendiri.
Dia menatap bayangannya di cermin dalam ruang ganti karyawan sambil sesekali memperbaiki tatanan wig cokelat panjangnya. Yah, saat ini dia sedang berada di kafe dan entah kenapa pikiran mengenai Yunho terus mengusik dirinya.
Jaejoong menunduk. Dia harus segera membuat Yunho melupakan Youngwoong. Sedikit-sedikit dia merasa tidak enak hati... dia merasa seperti sedang menipu Yunho.
Sementara itu di dalam kafe...
Ting!
Leeteuk yang tengah mengawasi para pekerjanya menoleh begitu mendengar bel berbunyi. Dengan segera namja yang memakai wig dan yukata itu menghampiri si pendatang baru.
"Selamat dataaaang!" sambutnya sambil tersenyum semanis mungkin. Tapi seketika raut wajahnya berubah 180° begitu melihat namja di depannya. Setelah mempersilahkannya masuk, Leeteuk bergegas menghampiri Jaejoong yang baru saja keluar dari ruang karyawan.
"Jae, cepat sembunyi sana!" bisik Leeteuk panik.
"Eh?" Jaejoong menatap Leeteuk tak mengerti.
"Namja SMA yang waktu itu ke sini, sekarang datang dengan Lee Joon-ssi!"
"Eh?!"
"Dia datang dengan pelanggan, jadi aku tidak bisa menolaknya masuk. Lagipula dia juga tidak pakai seragam, sih." Leeteuk menggerutu.
Jaejoong tidak berkata apa-apa. Dari sudut matanya dia bisa melihat Yunho duduk di salah satu meja dengan Lee Joon. Dia tak menyangka mereka berdua ternyata berteman. Lagi, jantungnya tiba-tiba berdebar tak menentu saat melihat wajah tampan itu.
Yunho...
Jaejoong menggenggam erat note di tangannya. Dengan memantapkan hatinya, dia mulai berjalan.
"Lho.. Jae?!" ucap Leeteuk tak mengerti.
"Tidak apa-apa. Biar aku yang terima pesanan mereka," kata Jaejoong tenang. Dengan pelan dia melangkah mendekati meja mereka. Kenapa dadanya jadi bergemuruh begini? Bukannya sejak awal dia sudah tahu Yunho memang mengincar Youngwoong... Tapi kenapa dia jadi kesal begini?
Tenang... Dia hanya harus tersenyum dan memberi salam seperti biasa. Tidak mungkin dia goyah hanya karena masalah seperti ini.
"Selamat datang! Sudah siap memesan?" tanya Jaejoong seraya tersenyum manis begitu sampai di meja Yunho dan Lee Joon. Kedua tangannya sudah siap memegang note dan spidol untuk mencatat pesanan.
"Youngwoong-ah!" seru Yunho begitu melihat Jaejoong.
Lee Joon menatap Yunho. "Jadi dia yang ingin kau temui itu?" tanyanya. Dia lalu beralih menatap Jaejoong. "Tapi bukankah namamu Hero-chan... Apa Youngwoong itu nama aslimu?"
"Ah.. bukan. Di kafe ini namaku memang Hero-chan. Tapi Youngwoong bukanlah nama asliku," jawab Jaejoong kalem, masih mempertahankan senyumnya.
"Eh.. tapi kau bilang namamu Youngwoong." Yunho menatap Jaejoong tak mengerti.
"Ah.. itu karena tidak mau repot, jadi aku pakai nama palsu," jelas Jaejoong dengan wajah innocent.
Mata sipit Yunho membulat mendengar pengakuan Jaejoong. Raut wajahnya mengeras. Jaejoong yang menangkap perubahan wajah Yunho segera mengalihkan pandangannya. Kenapa ekspresinya begitu? Apa Yunho begitu begitu sukanya pada 'Youngwoong' yang berdandan cantik ini?
"Jangan begitu, Hero-chan. Dia ini anaknya presdir lho," ujar Lee Joon. Matanya tak lepas dari wajah cantik Jaejoong.
"Oh, ya? Habis, aku tidak begitu ingat namanya. Aku tidak tertarik pada anak SMA yang bermain-main dengan uang orang tuanya."
"Waah, kau tega."
"Duh, aku keceplosan." Jaejoong terkekeh manis sambil menutup mulutnya, sementara sudut matanya terus melirik Yunho yang sedari tadi menunduk. Sepertinya dia kecewa. Apa sebegitu terpukulnya?
Jaejoong memegang erat note dan spidol di tangannya. Dia hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak salah! Tidak salah!
Tapi...
Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan sendu. Entah kenapa hatinya berdenyut sakit melihat Yunho yang seperti itu. Kenapa jadi seperti ini.. dia tidak mengatakan hal yang jahat, kok.
Yunho menatap meja di bawahnya dengan tatapan kosong. 'Youngwoong' itu nama palsu.. Hah~ Yunho tersenyum miris. Apa-apaan itu? Jadi, sejak awal dia dipermainkan? Astaga, benar-benar...
Yunho melirik Jaejoong. Dia terbelalak begitu matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang familiar pada pergelangan tangan kiri Jaejoong.
"Hmph, rasi bintang? Tahi lalat yang aneh. Apa itu rasi Cassiopeia?"
Yunho buru-buru menggelengkan kepalanya. Hahaha... tidak mungkin! Pasti cuma kebetulan mereka memiliki tahi lalat yang sama.
Tapi...
Yunho terdiam, mencoba berpikir.
"Young-eh, Hero-chan!" panggil Yunho tiba-tiba. Jaejoong menoleh dan menatapnya tak mengerti. Sedetik kemudian dia memekik kaget begitu Yunho merebut spidol di tangannya dan menarik pergelangan tangan kanannya. Dengan lihai Yunho menggerak-gerakkan spidol itu di atas kulit putih Jaejoong.
Jaejoong hanya tercengang melihat tulisan hangeul yang kini menghiasi pergelangan tangannya.
Jung Yunho.
"Ini namaku. Kali ini jangan sampai lupa ya," ujar Yunho seraya menatapnya penuh arti. Jaejoong terdiam dengan wajah yang mulai merona. Tak tahu harus berkata apa. Bahkan ketika Yunho berdiri dari kursinya pun dia masih mematung.
"Mian, hyung.. hari ini cukup sampai di sini saja, aku mau pulang."
"Eh? Kok tiba-tiba? Kita bahkan belum memesan apa-apa." Lee Joon menatap Yunho heran.
"Aku baru ingat besok ada ujian. Aku benar-benar minta maaf, hyung. Aku pergi dulu, ne?" Usai berkata begitu Yunho berjalan keluar kafe. Meninggalkan Jaejoong yang terus menggenggam pergelangan tangan kanannya sambil menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
.
.
Brakk
Jaejoong menutup pintu lokernya dengan kasar. Dia sudah dalam penampilan normalnya sekarang setelah berganti baju dan melepas wig-nya.
"Apaan, sih! Bisa-bisanya dia menulis di lengan orang dengan spidol permanen! Tulis nama pula! Sudah jelas-jelas aku sengaja bilang tidak ingat namanya, kan! Aku sengaja, tahu!" Jaejoong mengumpat kesal mengingat kejadian tadi.
Masih dengan bersungut-sungut, dia meraih tas sekolahnya lalu membuka pintu keluar samping dengan pelan. Setelah yakin di luar tidak orang, Jaejoong keluar dan kembali menutup pintu.
'Fiuh.. untung dia tidak ada.'
"Eh! Kutu buku juga ada di sini."
Deg. Jaejoong terperanjat kaget. Suara itu... Dengan gerakkan slow motion Jaejoong membalikan badannya. Seketika itu juga Jaejoong menelan ludahnya gugup begitu melihat seorang namja dengan santainya bersandar di dinding luar kafe sambil melipat kedua tangannya.
Yunho...
"Kau... sedang apa kau di sini? Youngwoong sudah pulang dari tadi, " ucap Jaejoong basa-basi, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. Sialan, bukankah dia sudah pernah bilang pada Yunho untuk tidak menunggunya di depan kafe.
"Oh, begitu..."
Jaejoong menggenggam ujung roknya salah tingkah saat Yunho menatapnya tajam dengan kedua mata musangnya. Perlahan, namja tampan itu mulai berjalan mendekatinya.
'Omo, omo, mau apa dia?' pikir Jaejoong panik. Dengan gugup dia memundurkan tubuhnya seiring dengan langkah Yunho yang mencoba mendekat.
Brak. Jaejoong berhenti ketika punggungnya menabrak dinding. Gawat!
Grep
Jaejoong tersentak ketika tiba-tiba Yunho menarik tangannya dan menggenggamnya erat. "Ap-"
"Coba perlihatkan lenganmu!"
Deg.
.
.
.
To be continue...
Wah~ apa Jaejoong udah ketahuan? wkwk
Annyeong chingu, mian aku lama update. Akhir-akhir ini ada beberapa hal yang sedang membebani pikiranku, dan aku ga bisa nulis dengan keadaan seperti itu. Mian ne *bow*
Bagaimana dengan chapter ini? Memuaskankah? Atau ada yang kurang? Insyaallah sekitar 2 chapter lagi ff ni bakal tamat. Maklumlah, manga-nya sendiri bukan termasuk manga series, jadi ceritanya pendek.
Gomawo untuk yang sudah mereview dan memberi kritik di chap kemarin. Ini ucapan batin mereka udah aku kasih tanda petik, chingu. Hehe...
Sampai jumpa di next chap! Dan aku tunggu review dari kalian :D
