Doa Terakhir

By : Razux

Disclaimer : Gakuen Alice belong to Higuchi Tachibana

.

.

.

Chapter III


A.E 321-Aera

Natsume duduk menyandarkan tubuhnya pada pohon sakura di tempat persembunyiannya. Mata merah keemasannya terus menatap pohon yang ada di depannya. Meski dia tidak mau mengakuinya, dia sedang menatap pohon itu dan berharap Mikan akan berlari keluar lagi ke arahnya.

Tidak tahu mengapa, Natsume tidak bisa menghapus wajah Mikan dari pikirannya. Wajahnya yang tersenyum manis selalu terbayang setiap kali dia menutp mata. Apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya? Kenapa dia menjadi seperti ini? Seharusnya dia membenci Mikan yang merupakan seorang bangsawan, tapi kenapa dia tidak bisa membencinya? Apakah ini karena dia adalah orang pertama yang memeluknya? Orang pertama yang tersenyum padanya? Orang pertama yang memanggil namanya dengan lembut dan juga orang pertama yang tidak menatapnya dengan pandangan menghina dan merendah?

Menutup mata dan menghela napas, Natsume merasa seperti orang bodoh sekarang. Mikan tidak akan mungkin datang kemari lagi, kemarin dia bisa mencapai tempat ini karena dia tersesat, dan yang terpenting, keluarganya tidak akan mungkin membiarkan dia datang ke hutan ini lagi setelah semua yang terjadi. Namun, apa yang dipikirkannya itu ternyata terbukti salah, belum sempat dia membuka matanya, dia kembali mendengar suara teriakkan seorang gadis kecil yang sangat familiar baginya.

"KYAAAA! TIDAK!"

Mata Natsume terbelalak saat dia melihat Mikan berlari keluar dari balik pohon di depannya itu sambil menangis.

"NATSUME!" teriak Mikan sambil berlari ke arah Natsume dan memeluknya dengan erat.

Natsume benar-benar terkejut dan hampir tidak mempercayai apa yang terjadi, Mikan benar-benar muncul di depannya dan memeluknya dengan erat seperti pertama kali mereka bertemu? Hatinya tiba-tiba terasa sangat hangat, dia merasa bibirnya itu sekarang seakan-akan ingin terangkat dan tersenyum lebar.

"Makhluk apa lagi kali ini, Polkadot?" tanya Natsume datar, berusaha menyembunyikan perasaan yang dia rasakan sekarang.

"Laba-laba Natsume! Ada laba-laba besar!" jawab Mikan tanpa melepaskan pelukannya.

"Laba-laba? Apakah kali ini dia mengejarmu lagi?"

Mikan menggeleng kepala "Tidak tahu. Saat aku berusaha untuk mencari tempat ini, laba-laba itu tiba-tiba turun dari pohon dan menakutiku. Aku sangat terkejut dan ketakutan, aku langsung berlari tanpa melihat ke belakang lagi.."

Natsume benar-benar ingin tertawa mendengar jawaban Mikan. Dia hanya bisa berpikir betapa bodohnya gadis yang ada di depannya sekarang.

"T-Tapi berkat laba-laba itu, aku berhasil menemukan tempat ini—" tambah Mikan pelan sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya untuk menatap wajah Natsume. Namun senyum di wajahnya itu langsung menghilang saat dia melihat memar serta luka yang ada di wajah dan tubuh Natsume. Matanya terbelalak karena terkejut. "NATSUME! KENAPA DENGANMU?! KENAPA KAU TERLUKA!?" teriak Mikan penuh ketakutan. Air mata yang sempat terhenti kembali mengalir menuruni pipinya.

Natsume merasakan perasaan bahagia menjalar memenuhi hatinya. Mikan menghawatirkannya? Ada yang menangis dan menghawatirkannya saat dia terluka?

"Aku tidak apa-apa, idiot." Jawab Natsume tetap datar.

"T-tapi, tapi—" balas Mikan sambil terisak-isak. Tangan kecil dengan pelan dan hati-hati terangkat untuk menyentuh pipi Natsume.

"Berisik Polkadot!" potong Natsume sambil menghapus air mata Mikan. "Wajah jelekmu semakin jelek saja kalau kau terus menangis seperti ini."

"Apakah sakit Natsume? Apakah lukamu itu sakit?" tanya Mikan tidak mempedulikan ejakan Natsume sedikitpun. Seluruh perhatiannya masih terpusat pada memar dan Luka anak laki-laki di depannya.

Melihat Mikan yang terus saja menangis, Natsume sama sekali tidak mempedulikan apapun lagi, dia mengangkat tangan dan memeluk tubuh kecil itu dengan erat. "Bukankah aku sudah mengatakan aku sama sekali tidak apa-apa? Jadi, jangan menangis lagi, Mikan.." Bisiknya pelan.

Mendengar bisikan Natsume, tangis Mikan bukannya berhenti, malah, tanggis semakin keras. Mengangkat tangan membalas pelukkan Natsume dengan sama eratnya, hatinya terasa sangat senang dan sedih bersamaan. Dia senang karena ini adalah pertama kalinya Natsume memanggil namanya, dan dia sedih karena dia bisa melihat memar dan luka di tubuh Natsume dengan jelas; dia tidak mau melihatnya terluka.

"Bagaimana kau bisa datang kemari?" tanya Natsume tanpa melepaskan pelukannya, berusaha mengalihkan perhatian Mikan dan merubah pokok pembicaraan mereka.

"B-bukannya tadi sudah aku jawab, berkat laba-laba." Jawab Mikan polos sambil terisak-isak dan melepaskan pelukannya menatap Natsume.

"Bukan itu maksudku, Idiot. Maksudku itu bagaimana kau bisa berada di hutan ini? Kakakmu pasti tidak akan pernah mengijinkanmu kemari lagi kan?" tanyanya lagi dan menghapus air mata yang masih ada di pipi Mikan.

"Natsume! jangan panggil aku, Idiot! Bukannya kau barusan sudah memanggilku Mikan!" protes Mikan dengan wajah cemberut. Air matanya telah terhenti, walau kedua pipinya masih sedikit basah.

"Hn. Jawab saja pertanyaanku itu, Polkadot." Balas Natsume cuek.

"NATSUME!" teriak Mikan penuh kemarahan dengan wajah memerah menahan emosinya yang sudah hampir meledak sambil berdiri karena kesal.

Natsume sama sekali tidak mempedulikan Mikan, dia tetap menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi walau jauh dalam hatinya dia berpikir betapa lucu dan mengemaskannya Mikan yang digodanya sekarang. Gadis yang aneh, dia bisa tersenyum, menangis dan juga marah sedetik kemudian.

Mata merah keemasan yang menatapnya, segera membuat Mikan merasa bahwa dia tidak akan menang melawan Natsume dalam perdebatan ini jika di teruskan. Mengigit bibir bawahnya, akhirnya dia memutuskan untuk bisa kembali menahan emosinya dan kembali duduk kembali. Menatap Natsume lagi dengan pandangan yang penuh kesedihan, dengan pelan, dia mengangkat tangan menyentuh pipi Natsume lagi. Matanya kembali berkaca-kaca menahan air mata yang ingin menetes ke bawah. "Sakitkah, Natsume? Maaf, maafkan aku karena aku tidak bisa menyembuhkanmu. Aku sama sekali tidak bisa sihir penyembuh, dan juga obat-obatan untuk lukamu sekarang…"

Merasakan kehangatan tangan kecil Mikan di pipinya, tidak tahu mengapa, Natsume jadi merasa perlu berterima kasih kepada Reo dan teman-temannya. Dia tidak akan mendapatkan perhatian dan merasakan kehangatan ini jika dia tidak pukul hingga babak belur oleh mereka. Mengangkat tangannya dan menyentuh lembut tangan Mikan yang ada di pipinya, dia menutup mata. "Kau ini cerewet sekali, bukankah aku sudah mengatakan, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir."

Mikan mengangguk kepala dan air mata yang tidak dapat ditahannya lagi kembali mengalir dari turun dari kedua mata coklat keemasannya.

"Dasar cengeng," ejek Natsume sambil tersenyum menyeringai dan menghapus air mata Mikan "Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa kemari?"

Mikan tersenyum mendengar pertanyaan Natsume itu lagi, "Aku menipu mereka semua. Ayahanda, Ibunda, Kak Rei dan semuanya sama sekali tidak mengijinkanku kembali kemari lagi. Karena itu, dengan berpura-pura mau tidur siang, aku mengendap-gendap keluar. Lalu melalui jalan rahasia yang hanya aku ketahui, aku berhasil kemari." Jelasnya penuh kebanggan.

"Kenapa kau mau kemari lagi? Bukankah kau sangat ketakutan berjalan sendirian di hutan ini?"

"Eh! Kenapa? Tentu saja untuk bertemu denaganmu." Jawab Mikan sambil menatap Natsume dengan penuh kebingungan.

Mata Natsume terbelalak. Mati-matian dia berusaha untuk menyembunyikan senyum yang sudah hampir mengembang di wajahnya mendengar jawaban Mikan.

"Kak Rei terus mengatakan padaku bahwa kau sama sekali tidak ada, dan kau hanyalah khayalanku. Tapi, aku tahu kau benar-benar ada." Tambah Mikan lagi.

"Bagaimana jika kau tidak menemukanku di sini? Kau tidak tahu jalan untuk keluar dari hutan ini bukan?"

Mikan tersenyum lebar. "Aku yakin sekali bahwa kau pasti ada di sini, dan aku sama sekali tidak takut tersesat atau kehilangan arah di hutan ini, sebab aku percaya, kau pasti akan mengantarku keluar dari hutan ini. Selama kau ada, aku tidak akan pernah kehilangan arah dan tersesat."

Natsume tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. Perasaan hangat memenuhi setiap relung hatinya. Ada yang mempercayainya di dunia ini, ada yang mempercayainya yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Selama hidupnya, inilah pertama kalinya dia tersenyum dari dalam lubuk hatinya.

Mata Mikan terbelalak saat melihat senyum Natsume. "Natsume! Natsume! Kau tersenyum! Kau tersenyum!" tawanya gembira.

"Tentu saja aku bisa, idiot. Aku bukan batu tahu?" balas Natsume risih dan kembali memasang wajah tanpa ekspresi. Dia merasa malu karena telah menunjukkan ekspresi wajah yang dia sendiri baru sadar dimilikinya.

"Kau seharusnya lebih sering tersenyum, Natsume. Aku suka sekali dengan wajah tersenyummu." kata Mikan cemberut saat menatap wajah Natsume yang kembali tidak berekspresi itu.

Jantung Natsume bagaikan terhenti saat mendengar ucapan Mikan. Mikan menyukai senyumnya? Dia suka sekali dengan wajah tersenyumnya? Perasaannya bahagia sekali, hangat sekali, kenapa dengan sepatah-dua kata darinya saja, dia telah berhasil membuatnya merasa sebahagia ini? Apa yang sesungguhnya terjadi padanya?

.xOx.

"KAK REI!" teriak Mikan sambil berlari di koridor Istana ke arah Rei yang sedang berjalan di depan dan memeluknya.

"Ada apa, Mikan?" tanya Rei bingung, dia tidak pernah melihat adiknya bersikap seperti ini sebelumnya.

"Ajarkan aku sihir penyembuh." Pinta Mikan sambil mengangkat wajahnya menatap Rei yang lebih tinggi darinya.

"Kenapa kau tiba-tiba mau belajar sihir penyembuh?"

"Karena…" Jawab Mikan, namun jawabannya itu langsung terhenti saat dia teringat dengan pembicaraannya dengan Natsume saat anak laki-laki itu mengantarnya keluar dari hutan.

"Jangan pernah menceritakan pertemuan kita pada siapapun." Perintah Natsume dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kenapa?" tanya Mikan kebingungan.

"Karena kita berasal dari dunia yang berbeda."

"Berbeda? MaksudmuEH! Kau bukan manusia ya? Siapa kau sebenarnya? Apakah itu alasan kenapa Kak Rei tidak bisa melihatmu kemarin?" tanya Mikan terkejut.

Natsume menatap Mikan dengan pandangan penuh keheranan. Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikir gadis di depannya, kenapa gadis ini idiot sekali?

"Apakah kau adalah peri hutan ini?" tanya Mikan lagi dengan mata berbinar-binar.

Natsume tidak menjawab pertanyaan Mikan itu lagi, dia mencuekinnya dan kembali menolehkan wajah ke depan, berjalan menjauh.

"NATSUME TUNGGU!" teriak Mikan mengejar Nastume.

"Karena apa?" tanya Rei menyadarkan Mikan dari pikirannya sendiri.

"Eh! I-Itu karena… Karena… Karena aku bermimpi Kak Rei terluka." jawab Mikan sambil tertawa gugup. "Iya. Karena aku bermimpi Kak Rei terluka! Aku ingin bisa menyembuhkan luka Kak Rei jika kelak Kak Rei benar-benar terluka!"

Rei menatap Mikan dengan tajam, dia tahu adiknya sedang berbohong. Mikan bukanlah orang yang bisa berbohong, apapun yang dipikirkannya selalu tertulis dengan jelas di wajahnya. Dia bagaikan sebuah buku yang terbuka lebar dan dapat dibaca siapa saja.

"Benarkah?" tanya Rei lagi.

Wajah Mikan memucat. "B-Benar…"

"Bagaimana aku bisa terluka dalam mimpimu?"

"Eh! I-Itu… Itu…," jawab Mikan gugup dan tiba-tiba dia menangis. "Maaf! Maafkan aku, Kak Rei, aku bohong. Aku hanya ingin menguasai sihir penyembuh untuk menyembuhkan temanku yang terluka.."

"Temanmu yang terluka? Siapa itu?"

"D-dia bukan manusia… Dia.." Jawab Mikan terisak-isak sambil menundukkan wajahnya ke bawah.

Rei tersenyum melihat Mikan. Teman yang dimaksudnya pasti adalah binatang-binatang kecil yang hidup di hutan samping Istana. Selama ini, Mikan selalu menangis dan datang mencarinya sambil membawakan burung ataupun kelinci yang terluka, memintanya untuk menyembuhkan luka mereka. Kali ini pasti juga begitu, hanya saja kali ini dia ingin menyembuhkannya sendiri.

"Baiklah." Senyum Rei lembut.

Air mata Mikan segera berhenti dan dia segera mengangkat wajahnya menatap Rei. "Benarkah?"

Rei mengangguk kepala dan mengulurkan tangan pada Mikan "Ayo, kita bisa memulai pelajaran kita sekarang."

Senyum lebar mengembang di wajah Mikan dan dia segera meloncat memeluk Rei "Terima kasih, Kak Rei!"

Rei tertawa dan membalas pelukan Mikan dengan erat. Menggendong badan kecil adik kesayangannya dari atas lantai, dia berjalan ke ruang baca istana sambil mengelus pelan rambut coklat panjangnya, sedangkan untuk Mikan, dia hanya tersenyum bahagia karena telah menemukan salah satu cara untuk membantu teman barunya.

"Tunggu aku, Natsume. Aku pasti akan menyembuhkan lukamu besok."

.xOx.

Natsume berjalan dengan pelan memasuki kediaman Livith sambil menyembunyikan dirinya dari pandangan setiap orang. Dia terus melirik kanan dan kiri penuh siaga jika melihat seseorang dibelakang halaman kediaman megah tersebut. Namun, langkah kakinya segera terhenti saat dia mendengar suara Shiro, Kakeknya yang berhasil ditangkap telinganya.

"Angkat tanganmu lebih tinggi lagi! Pertahankan keseimbanganmu!"

Dengan segera dan hati-hati agar tidak terlihat, Natsume bersembunyi di dalam rumput hias tinggi yang ada di sampingnya. Menahan napas, dia mencuri lihat ke arah sumber suara, dan di sana, sepasang mata keemasannya menangkap sosok Shiro yang sedang mengajari Reo menggunakan pedang di bawah sebatang pohon besar.

"Sulit sekali, Kakek! Seluruh badanku sakit sekali!" ujar Reo frustasi sambil terduduk di atas tanah.

"Jangan menyerah begitu mudah Reo, kau pasti bisa." Senyum Shiro menyemangati Reo yang terlihat jelas telah menyerah dalam latihannya.

"Aku tidak mau latihan lagi, Kakek. Aku tidak mau mempelajari pedang atau sihir lagi!" melempar pedang kayu di tangannya ke samping, Reo langsung berbaring di atas tanah.

Natsume tetap tidak bersuara ataupun bergerak dari tempatnya bersembunyi. Jika dirinya berani melangkah kaki keluar dari tempatnya bersembunyi dan ketahuan, dia pasti akan dijadikan sebagai samsak latihan bagi Reo.

Shiro menghela napas melihat sikap cucunya yang semaunya itu. "Kau istirahat saja dulu, Reo. Lihat Kakek."

Berjalan agak menjauh dari Reo, Shiro mencabut pedang yang ada di pinggangnya dan menghunuskannya ke depan. Dengan cepat, ringan dan tangkas, dia mengayunkan pedang tersebut.

Mata Natsume terbelalak saat melihat Shiro mengayunkan pedang di tangannya. Dalam mata merah keemasannya, apa yang dilakukan Shiro itu sangat indah, kuat dan penuh kebanggan. Suara pedang yang membelah angin, serta gerakan yang sangat rapi sekaligus bertenaga tersebut benar-benar membuatnya terpesona. Seperti tarian, namun bukan tarian, seperti sebuah seni—seni yang sangat mematikan. Tanpa disadarinya sedikitpun, tangannya terangkat dan bergerak mengikuti setiap gerakan yang ada di depannya.

Shiro tiba-tiba mengayunkan pedang di tangannya dengan kecepatan yang luar biasa. Daun-daun yang jatuh dari pohon di atasnya tiba-tiba terbelah dua, lalu saat dia berhenti mengayunkan pedangnya, sebuah lingkaran sihir merah muncul di bawah kakinya. Cahaya merah melesat keluar dari dalam lingkaran sihir tersebut, berpercah menjadi ribuan berkas cahaya kecil yang berpacu-pacu dengan cepat, menyentuh daun yang ada dan menghancurkannya menjadi ribuan serpihan kecil.

"KAKEK! KEREN SEKALI! JURUS APA ITU?" teriak Reo dengan mata berbinar-binar dan berlari ke arah Shiro.

Shiro menurunkan pedangnya dan tersenyum pada Reo yang menatapnya penuh kekaguman. "Ini adalah salah satu jurus warisan keluarga Livith, Reo. Jurus ini juga merupakan jurus terkuat dan tertua yang diakui seluruh dunia."

"Ajari aku, Kakek! Aku adalah pewaris keluarga ini dan Jenderal Besar Kerajaan Aera di masa depan. Aku pasti bisa menguasainya dalam waktu singkat."

Shiro tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja. Tapi Kakek ragu kau bisa menguasainya dalam waktu singkat. Jurus-jurus ini adalah jurus yang sangat sulit dikuasai, Kakek saja menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh tahun untuk menguasainya, bahkan sampai sekarang Kakek belum menguasainya dengan sempurna."

"Aku pasti bisa menguasainya dalam waktu yang sangat singkat, Kakek! Karena itu ajari aku, sekarang!" protes Reo penuh pemaksaan.

"Baiklah, baiklah, Kakek akan mengajarimu," tawa Shiro gembira dan menepuk-nepuk kepala cucu kesayangannya. "Mulai hari ini, di jam ini dan di tempat ini, Kakek akan mengajarimu. Jadi, persiapkan dirimu."

Natsume terus menatap Shiro dan Reo. Melihat Shiro yang kembali mengajari Reo dari tempat persembunyiannya, dia tetap tidak menyadari sedikitpun tangannya yang terus bergerak mengikuti gerakan yang di depan. Bagaikan terukir dengan begitu jelas, dia sama sekali tidak bisa menghapus setiap langkah serta gerakan akan apa yang baru dilihatnya dari pikiran.

.xOx.

Natsume berjalan keluar dari pintu belakang kediaman keluarga Livith diam-diam untuk ke hutan di samping Istana Raja Aera. Dia telah berjanji untuk bertemu dengan Mikan lagi hari ini. Sebenarnya, dirinya sama sekali tidak mengerti kenapa dia setuju untuk memenuhi janjinya pada Mikan yang memintanya untuk bertemu lagi hari ini. Dia telah menunjukkan pada Mikan jalan menuju pohon sakura itu, namun dia ragu gadis kecil itu bisa menemukannya, karena itulah dia memutuskan pergi lebuh cepat, dia akan menunggunya di depan hutan.

Natsume menguap, dia tidak bisa tidur dengan semalam, namun, itu semua bukan karena dia kedinginan ataupun kelaparan. Dia tidak bisa tidur karena gerakan-gerakan jurus yang diajarkan Shiro pada Reo terus berputar dalam kepalanya, dan dalam mimpinya, dia terus memimpikan Mikan yang tersenyum padanya dan memperagakan jurus-jurus itu.

"Jangan bergerak! Berdiri di sana anak berengsek!" perintah seseorang tiba-tiba mengejutkan Natsume dari belakang, namun tanpa melihat ke belakangpun dia tahu siapa itu; Reo.

"Balikkan badanmu menghadapku!" Perintah Reo lagi.

Natsume menghela napas dan membalikkan badan menghadap Reo yang tersenyum menyeringai menatapnya dengan sebuah pedang kayu di tangannya.

"Bagus! Jangan bergerak sedikitpun." Senyum Reo dan berjalan mendekati Natsume.

Saat Reo tiba di depan Natsume, tiba-tiba dia mengangkat pedang kayu di tangannya dan menyerangnya. Natsume yang sama sekali tidak bisa menghindar serangan Reo yang tiba-tiba itu, hanya bisa memegang perutnya saat ujung pedang kayu tersebut menusuk perutnya. Ujung pedang kayu itu memang tidak tajam, tapi rasa sakit yang diakibatkannya luar biasa menyakitkan.

Melihat Natsume yang kesakitan, Reo tertawa, tanpa mempedulikan kesakitan yang dirasakannya, dia mengangkat pedang kayu di tangan menyerang lagi dengan membabi-buta.

Natsume hanya bisa mengangkat kedua tangannya untuk melindungi dirinya dari serangan Reo. Luka lama di seluruh tubuhnya akibat Reo serta teman-temannya kemarin kembali terbuka dan mulai ditimpa lagi dengan luka baru. Darah mengalir dari luka Natsume, namun Reo tetap saja tidak menghentikan aksinya.

"Rasakan Anak berengsek! Aku sudah bisa menggunakan pedang sekarang, jangan berpikir kau bisa kabur dariku!" tawa Reo gembira.

Natsume yang tidak bisa menahan perlakuan Reo lagi, tiba-tiba mengangkat kedua tangannya dan mendorong Reo sekuat tenaga hingga terjatuh ke bawah tanah. Tanpa membuang waktu yang ada, dia segera berlari keluar dari kediaman keluarga Livith.

"HE! BERHENTI! AWAS KAU!" teriak Reo penuh kemarahan dan berlari mengejar Natsume.

Natsume tidak mempedulikan teriakan Reo, dia bahkan tidak menoleh wajah ke belakang sedikit pu lagi. Berlari sekuat tenaganya, dia menuju hutan di samping Istana Raja Aera yang memang terletak di samping kediaman Livith; menuju tempat persembunyiannya.

.xOx.

Mikan berjalan melihat sekeliling dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Dia tidak tahu di mana dia berada sekarang, otaknya sama sekali tidak bisa mengingat jalan menuju pohon sakura tempat janjiannya dengan Natsume walau anak laki-laki itu telah menunjukkannya kemarin. Menatap sekeliling yang menurutnya sama saja yakni; penuh pohon, dia menghela napas, apakah dia perlu mencari penghuni hutan ini yang bisa mengagetkan serta menakutinya sehingga membuatnya berlari tidak tentu arah dan menemukan pohon sakura itu lagi?

Mikan hanya bisa berpikir dan akhirnya tersenyum. Dia tahu, memang itulah satu-satunya cara terbaik yang dimilikinya untuk mencari tempat janjian mereka. Dia merasa, jika dia ketakutan, instingnya pasti akan menuntunnya ke tempat pohon sakura itu berada atau lebih tepatnya ke tempat Natsume berada.

Tiba-tiba semak-semak di depan Mikan bergerak. Menelan ludah, dia segera mempersiapkan dirinya untuk melihat makhluk apa lagi yang akan muncul untuk menakutinya. Ular? Laba-laba? Atau makhluk menyeramkan lainnya? Namun, ketakutannya segera menghilang saat dia melihat seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata merah keemasan seusianya berlari keluar; Natsume.

"NATSUME!" panggil Mikan sambil gembira. Namun kegembiraan di wajahnya segera menghilang digantikan ketakutan kembali saat melihat luka dan darah di tubuh dan wajah Natsume.

"NATSUME! ADA APA DENGANMU?" tanya Mikan ketakutan sambil berlari ke arah Natsume. Air mata dengan deras mengalir menuruni pipinya tanpa bisa dihentikan lagi.

Natsume sangat terkejut dengan kehadiran Mikan, namun saat dia melihat ketakutan dan air matanya, hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit, melebihi rasa sakit luka yang dialaminya sekarang. Dia membuatnya ketakutan lagi, dia membuatnya sedih lagi; dia membuatnya menangis lagi.

"Natsume ada apa denganmu? Kenapa lukamu bertambah banyak?" tanya Mikan panik. Tangan putihnya yang bergemetaran terangkat pelan untuk menyentuh wajah di depannya.

"A-Aku tidak apa-apa.." Jawab Natsume pelan.

"Apanya yang tidak apa-apa?! Lukamu semakin parah dan banyak saja!" balas Mikan sambil mengeleng kepala dan menangis terisak-isak. "K-kau, kau tidak tah—"

"B-Bantu aku ke pohon sakura.." Potong Natsume pelan tanpa mempedulikan ucapan Mikan. Dia berlama-lama di tempat ini, dia takut Reo yang mengejar akan menemukan mereka.

Mikan yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi segera membantu Natsume berjalan ke tempat pohon sakura itu dengan petunjukkan Natsume. Saat mereka tiba di tempat tujuan, Mikan segera membantu Natsume duduk di bawahnya. Air mata mengalir menuruni pipinya, dia sangat ketakutan melihat kondisi anak laki-laki yang babak beluk di depannya.

"Jangan menangis lagi, Idiot. Aku sama sekali tidak apa-apa." Hibur Natsume datar menatap Mikan. Dia tidak mau lagi gadis kecil di depannya menangis karena dirinya. Sejak pertemuan mereka sampai sekarang, sudah tidak tahu lagi telah berapa kali dia membuatnya menangis.

Air mata Mikan tetap tidak berhenti "A-Aku sama sekali tidak bisa menyembuhkan lukamu, Natsume. Aku sudah belajar sihir penyembuh. T-tapi, tapi aku s-sama sekali b-belum menguasainya. A-Aku sama sekali tidak bisa menyembuhkan lukamu.."

Natsume tidak suka melihat air mata Mikan. Betapa dia membenci air mata itu. Mengangkat tangannya dengan pelan, dia menghapus air mata yang terus berjatuhan tersebut. "Kubilang jangan menangis lagi, kan? Wajahmu sekarang benar-benar luar biasa jelek tahu."

Mikan mengangguk kepala dan berusaha keras untuk menahan air matanya. Namun, itu semua gagal, malahan isak tanggisnya menjadi semakin kuat. Melihat luka di sekujur tubuh itu, hatinya terasa sangat sakit hingga rasanya sulit untuk bernapas. Natsume menjadi sangat kebingungan dengan sikap Mikan, dia tidak pernah mengalami sistuasi seperti ini selama hidupnya ini, yang bisa dia lakukan kemudian hanyalah memeluk erat gadis itu, membenamkan wajah cantik itu di dadanya sambil mengelur lembut rambut coklat panjang.

"Aku tidak apa-apa. Sungguh, aku benar-benar tidak apa-apa. Karena itu, jangan menangis lagi.." Bisik Natsume pelan di telingan Mikan.

Mikan membalas pelukan Natsume dan mengangguk kepala. Mereka terus berada dalam posisi seperti itu hingga akhirnya tangis Mikan mereda. Melepaskan dirinya dari pelukan Natsume, Mikan kemudia membuka kotak kecil yang dibawanya. Dengan tangan yang gemetaran dia mengeluarkan kain perban dan botol-botol keil dari dalamnya.

"Apa itu, Polkadot?" tanya Natsume bingung.

"I-Ini obat-obatan Natsume. Aku tidak bisa menyembuhkanmu dengan sihir, sebab aku yang b-begini bodoh tidak masih belum menguasainya," jawab Mikan kembali sesengukan. "J-jadi aku membawakanmu obat-obatan ini. Meski kau bukan manusia, obat ini juga bisa kau gunakan, kan?"

"Hah? Apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Natsume bingung dengan jawaban yang tidak dapat dimengertinya.

"Kau peri kan?" tanya Mikan lagi sambil menatap lurus Natsume.

Natsume kehilangan suaranya mendengar pertanyaan yang benar-benar tidak dapat diterima akal sehatnya. Peri? Peri? Dari mana gadis kecil ini mendapat pemikiran seperti itu?

"Kau bisa menghilang tiba-tiba," jelas Mikan sambil membuka perban serta botol obat yang ada di tangannya. "Dan juga, kemarin kau mengatakan padaku bahwa kita berasal dari dunia yang berbeda. Jadi, aku tahu, kau peri."

Ingin sekali rasanya Natsume memukul dahi dengan telapak tangannya sendiri. Kenapa gadis di depannya sekarang begitu bodoh? Apakah matanya tidak bisa melihat? Dengan badan serta pakaian yang kotor dan lusuh ini, dia lebih kelihatan seperti pengemis atau hantu, bagian mana dari dirinya yang bisa membuatnya kelihatan seperti peri?

Tidak memnyadari sedikitpun pergulatan batin Natsume, Mikan menarik pelan tangan anak laki-laki itu dan mulai mengobatinya. Merasakan sedikit keperihan di atas lukanya yang kini dioles obat, Natsume mengigit bibir bawahnya. Mata merah keemasannya melembut. Hangat. Betapa hangat dan nyamannya tangan kecil yang kini menyentuh tangannya. Senyum kecil mengembang di wajahnya, gadis kecil nan aneh ini memang merupakan satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa seperti ini.

Terus mengobati luka Natsume, air mata Mikan yang sempat terhenti kembali mengalir menuruni pipinya dan menetes ke tangan Natsume. Hatinya sangat sakit dan sedih. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Natsume? Luka lama dan luka baru saling bertindihan, luka itu pasti sakit sekali. "Maaf, maaf, maaf karena aku tidak bisa menyembuhkanmu, Natsume. Maaf karena aku tidak berguna.."

Perasaan bingung kembali muncul dalam hati Natsume. Kenapa Mikan yang meminta maaf? Dia sama sekali tidak salah, malahan dia sedang berusaha mengobatinya? Mikan tidak perlu meminta maaf padanya? Perasaan kebingungan di dalam hatinya segera berubah menjadi perasaan bersalah dan benci pada dirinya sendiri. Bersalah karena membuat Mikan khawatir dan menangis serta benci pada dirinya sendiri karena kenapa dia begitu lemah? Kenapa dia bisa terluka seperti ini? Jika saja dia lebih kuat, jika saja dia bisa melindungi dirinya sendiri, jika saja dia menguasai sihir dan menyembuhkan lukanya sendiri, maka Mikan tidak akan menangis lagi seperti ini, dia pasti akan tersenyum lebar seperti yang diharapkannya.

"Maaf, ya.. Maaf ya.."

Natsume tidak tahan lagi dengan tangisan Mikan yang terus meminta maaf. Tidak mempedulikan semuanya lagi, dia segera mengangkat kedua tangan dan memeluknya dengan erat. "Sudah hentikan!" teriaknya dengan nada tinggi, supaya gadis itu tidak sadar bahwa sebenarnya dia sedang memohon padanya untuk berhenti menangis. "Jangan menangis lagi, aku benar-benar tidak apa-apa. Aku belum mati, kau baru boleh menangis seperti itu saat aku mati nanti!"

Mendengar ucapan Natsume, tangis Mikan bukan berhenti, tangisnya malah bertambah keras. Dia mengangkat tangan membalas pelukan Natsume dengan erat dan balik berteriak, "JANGAN BERKATA SEPERTI ITU! KAU TIDAK BOLEH MATI! AKU TIDAK MENGIJINKAN KAMU MATI!"

Natsume benar-benar terkejut dengan teriakan Mikan. Berusaha melepaskan dirinya dari pelukan tersebut untuk menatap ekspresi Mikan, dia gagal, sebab gadis kecil itu benar-benar memeluk dirinya dengan sangat erat.

"K-kau tidak boleh mati. Natsume tidak boleh mati dan meninggalkan aku sendirian…"

Natsume tertegun. Dirinya bisa mengetahui betapa jujurnya kata-kata yang terucap itu. Selama ini, orang di sekelilingnya selalu mengatakan dia lebih baik mati, keberadaannya di dunia ini hanyalah sebuah benalu. Namun Mikan, gadis yang baru dikenalnya malah mengatakan dia tidak boleh mati, tidak mengijinkan dia untuk mati dan meninggalkannya sendirian. Perasan hangat kembali menjalar ke seluruh hatinya. Hangat sekali, dan untuk pertama kali, dia merasa perasaan yang sama sekali tidak pernah dirasakannya sebelum dia bertemu dengan Mikan, yakni; bahagia.

Memeluk erat kembali badan kecil itu, Natsume membenamkan wajah pada rambut coklat tersebut, menghirup dalam bau bunga sakura yang begitu menyenangkan. "Aku tidak akan mati, Idiot…" bisiknya pelan.

Mikan segera melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata menatap Natsume. jari kelingkingnya terangkat ke atas. "J-janji?"

Natsume menghela napas dan megaitkan jari kelingking tangan kanannya pada jari kelingking Mikan, sedangkan tangan kirinya masih ada di pinggang badan kecil tersebut. Dia sebenarnya tidak mau melakukan janji kelingking yang menurutnya sangat kekanakan, namun, dia tetap melakukannya karena dia berharap tangis Mikan akan berhenti. "Iya. Janji."

Melihat Natsume mengaitkan jari kelingkingnya, air mata Mikan segera berhenti dan sebuah senyum lebar terlukis di wajahnya yang sangat cantik tersebut. Natsume sama tidak berani menatap wajah Mikan, dengan cepat, dia menundukkan wajah ke bawah. Dia bisa merasakan dengan jelas jantungnya berdetak cepat serta pipinya yang terasa sangat panas.

"Jangan pernah lupakan janjimu itu ya, Natsume!" tawa Mikan dan kembali memeluk dan membenamkan wajahnya pada dada Natsume.

Natsume diam membisu. Dengan pelan, dia kemudian kembali mengangkat kedua tangannya memeluk Mikan dan mengangguk kepala, walau yang bersangkutan tidak melihatnya.

Janji.

Janji pada Mikan untuk tidak mati adalah janji pertama yang dibuat Natsume selama hidupnya. Dia mengingatkan dirinya—tidak! Dia bersumpah; dirinya tidak akan melanggarnya. Lalu, dihari itu juga, dia bersumpah pada saat yang bersamaan dengan janjinya tersebut; dia akan menjadi kuat. Kuat untuk melindungi dirinya sendiri agar dia tidak akan terluka lagi, agar Mikan tidak akan menangis lagi, agar senyum selalu ada di wajahnya setiap kali dia melihatnya. Dia bersumpah akan selalu melindungi senyum Mikan.

.xOx.

"KAKAK!" teriak Mikan sambil berlari ke dalam taman istana.

Rei yang sedang berlatih pedang langsung menolehkan wajah menatap Mikan,begitu juga dengan lawan tandingnya.

"Ada apa, Mikan?" tanya Rei dan lawan tandingnya itu bersamaan saat melihat air mata yang terus megalir menuruni pipi Mikan.

"KAKAK!" teriak Mikan lagi sambil terisak-isak dan memeluk kaki Rei dengan erat.

Lawan tanding Rei yang merupakan seorang pemuda berusia sekitar enam belas tahun dengan rambut berwarna hitam serta mata biru tua segera berjalan mendekati Mikan. Berjongkok di depannya, dia mengangkat tangan membelai kepala Mikan dengan lembut "Ada apa, Mikan?"

Mikan melepaskan pelukan pada kaki Rei dan memeluk pemuda itu. "Kak Kuonji..."

Kuonji membalas pelukan Mikan dan terus membelai kepalanya. "Ada apa, Mikan? Jangan menangis. Kalau kau mennagis terus, bisa-bisa Dewi Altha menghukum Kerajaan ini karena membiarkan Putrinya menangis terus."

Mendengar ucapan Kuonji itu, Mikan melepaskan pelukan dan menatap pemuda di depannya dengan wajah cemberut yang masih penuh air mata "Aku bukan Putri Dewi Altha, Kuonji-nii. Aku adalah Putri Ayahanda dan Ibunda. Aku adalah Putri dari Raja Aera."

Kuonji dan Rei tertawa mendengar ucapan Mikan.

"Mikan, mata coklat keemasanmu itu adalah mata yang sama dengan mata Dewi Altha. Karena itulah semua orang mengatakan kau adalah Putri dari sang Dewi yang dititipakannya pada keluarga Kerajaan Aera." Jelas Kuonji sambil menghapus air mata Mikan.

"Itu hanya kebetulan, Kak Kuonji. Aku yakin sekali, pasti masih ada banyak orang yang memiliki mata sepertiku di dunia ini."

Rei tertawa dan menepuk kepala Mikan. "Kau salah, Mikan. Di dunia ini hanya kaulah satu-satunya orang yang memiliki mata seperti itu."

"I-Itu hanya kebetulan.." protes Mikan pelan sambil mengigit bibir bawahnya. Sejak dia lahir, semua orang di sekelilingnya selalu menghormati, menyanjung dan memujanya seakan dia bukanlah manusia. Dia tidak menyukai itu, sebab dia tahu, dia hanyalah manusia biasa.

Melihat ekspresi wajah Mikan, Kuonji tahu, adik kesayangannya ini sama sekali tidak suka jika orang mengatakan dia adalah Putri dari Dewi Altha. Namun, sejak dulu, saat Mikan lahir, dia tidak pernah merasa kata itu salah, sebab, meski Mikan masih kecil, dia luar biasa cantik, baik, polos dan hangat. Dalam matanya, adik kesayangannya itu memang tidak kelihatan seperti manusia yang hidup di dunia ini.

"Tidak peduli kau ini adalah anak dari Dewi Altha ataupun bukan, bagi kami berdua kau adalah satu-satunya adik kesayangan kami yang manis dan lucu." ujar Kuonji pelan sambil terseyum.

"Benar. Kau selamanya akan menjadi adik kesayangan kami berdua." Tambah Rei sambil tertawa dan berjongkok di samping Kuonji.

Mikan tersenyum lebar mendengar ucapan mereka. Meloncat gembira, dia segera memeluk erat kedua kakak laki-lakinya. Dia sangat menyanyangi kedua kakak di depannya ini, meski mereka memiliki ibu yang berbeda. Ibu kandung Mikan adalah Pemaisuri Raja Aera yang sah, sedangkan Ibu kandung Kuonji dan Rei adalah Selir Raja Aera. Raja Aera atau Ayah dari mereka bertiga menikahi kedua wanita itu dalam waktu yang bersamaan. Namun, dari pernikahan itu, Selirlah yang duluan melahirkan dua orang putra bagi Raja Aera, sedangkan Pemaisuri baru melahirkan seorang putri bagi Raja Aera tujuh tahun yang lalu.

Permaisuri Aera atau Ibu kandung Mikan merupakan seorang wanita yang memiliki badan lemah dan sering sakit, dia meningal dunia tidak lama setelah Mikan lahir, sehingga Selir Raja Aera atau Ibu dari Kuonji dan Rei lah yang akhirnya naik menjadi Permaisuri Raja Aera dan membesarkan Mikan.

Walaupun Mikan bukanlah anak kandungnya, Ibu kandung dari Kuonji dan Rei sangat menyanyanginya. Dia membesarkan Mikan bagaikan anak kandungnya sendiri, bahkan di mata orang lain, dia kadang terlihat lebih menyanyangi Mikan dari pada kedua putra kandungnya. Kuonji dan Rei tidak pernah iri ataupun membenci Mikan karena hal itu. Mereka berdua sangat menyanyangi dan mencintainya adik mereka. Mikan memiliki suatu pesona yang sangat tidak biasa, tidak ada seorangpun di dunia ini yang sanggup membencinya.

"Kenapa kau menangis?" tanya Kuonji lagi.

Mendengar pertanyaan Kuonji, Mikan kembali melepaskan pelukannya. Air mata kembali mengalir menuruni pipi. "Kak Kuonji, Kak Rei…" jawabnya terisak-isak. "A-aku sama sekali tidak berguna. A-aku sama sekali tidak bisa menyembuhkan luka Natsume.."

"Natsume? Siapa itu?" tanya Kuonji dan Rei bersamaan.

Mikan segera mengangkat kedua tangan menutup mulutnya saat dia telah sadar bahwa dia telah keceplosan. Dia tidak seharusnya menyebutkan nama Natsume, sebab Natsume telah mengatakan padanya dengan jelas, jangan pernah memberitahu siapapun tentang pertemuan mereka.

"Siapa itu Natsume, Mikan?" tanya Kuonji sambil menatap Mikan dengan tajam, sedangkan Rei yang tidak mengatakan sepatah katapun di sampingnya juga menatap Mikan dengan tatapan yang sama tajamnya. Dilihat dari nama yang disebutkan Mikan itu; Natsume, itu jelas merupakan nama seorang laki-laki. Mereka berdua tidak menyukai sedikit pun kenyataan jika adik mereka menangis karena laki-laki lain selain mereka berdua dan Ayah mereka.

"Dia temanku," jawab Mikan pelan seakan seperti berbisik, walau Kuonji dan Rei bisa mendengarnya dengan jelas. "Dan dia sama sekali bukan manusia.."

Jawaban Mikan seketika juga membuat wajah Kuonji dan Rei melembut. Natsume yang dimaksud Mikan pasti binatang-binatang kecil yang hidup di hutan samping istana ini. Mereka berdua kembali tersenyum dan membelai kepala Mikan.

"Bawalah Natsume itu kemari, biarkan kami yang menyembuhkannya." Ujar Kuonji.

"Tidak! Tidak bisa, Kak Kuonji!" balas Mikan panik.

"Kenapa?" tanya Kuoji dan Rei bersamaan dengan bingung.

"Natsume tidak akan mau datang kemari, dan juga, aku ingin aku sendirilah yang menyembuhkan lukanya. Aku tidak mau merepotkan Kak Kuonji dan Kak Rei terus menerus. Karena itu, ajari aku sihir penyembuh secepat mungkin, aku mohon…" Jelas Mikan sambil menggenggam kedua tangan dan menatap Kuonji serta Rei dengan mata berkaca-kaca.

Kuonji dan Rei hanya bisa menghela napas melihat ekspresi memelas di wajah Mikan. Mereka berdua tidak pernah bisa menolak permintaan Mikan jika dia memesang ekspresi wajah seperti itu, pertanyaan-pertanyaan yang ingin mereka tanyakan langsung menghilang dari pikiran mereka.

"Baiklah. Ayo, kita ke ruang baca saja, akan lebih mudah kami mengajarimu di sana.." Ujar Kuonji pelan sambil berdiri dan mengulurkan tangan kanannya pada Mikan.

Mikan mengangkat kepala menatap Kuonji dan juga Rei yang juga telah berdiri sambil tersnyum dan mengulurkan tangan kiri padanya.

"Ayo!" Senyum Rei.

Mikan tersenyum lebar dan dengan penuh kegembiraan dia mengangkat ke dua tangannya untuk menerima tangan mereka berdua."Terima kasih, Kak Kuonji! Kak Rei!"

.xOx.