NARUTO © Masashi Kishimoto

BEFORE SUNSET © Uchiha 'Kim Bum' Vnie-chan

.

.

Genre(s) : Romance/General

Rated : T

Main character : Haruno Sakura, Sabaku no Gaara, Hyuuga Neji

Pairing(s) : STRAIGHT : GaaSaku, NejiSaku; slight SasuSaku, NejiHina

Warning : OOCness, AU, terdapat beberapa bahasa kasar yang tidak baik untuk ditiru

.

.

Stand by me... Together make it love, Forever make it your smile.

.

.

Summary : Do You Know... Aku mendengarnya, aku melihatnya sekarang. Setiap kali angin berhembus, aku menutup mata perlahan. Dan membisikkan keindahan cinta. Dapatkah kau merasakan hatiku?

.

.

.

Aroma yang begitu nyaman dan menggoda adalah hal pertama yang tertangkap indera penciumannya. Seperti ladang penuh bunga yang begitu manis, hangat, dan lembut.

'Nyaman sekali... Dan seseorang membuat badanku... badanku... Seseorang memijit badanku!'

Perlahan mata emerald itu terbuka.

"Tak perlu ada sedot lemak, 'kan?"

"Tidak usah, lagipula itu bukan lemak, itu otot."

"Kau sudah menyiapkan lasernya bukan?"

"Kita harus mem-wax-nya sebelum itu."

Mata emerald indah itu mengerjap-ngerjap, mencoba memperbaiki penglihatannya.

"Aaaaaaaa!"


Sakura masih tak percaya apa yang terjadi padanya saat ini. Beberapa orang yang terus memakaikan zat-zat kimia untuk menambah kecantikan ke wajahnya, rambut lurus panjangnya yang ditata sebagus mungkin, seseorang yang memilihkan gaun untuknya, dan menawarkan sepatu-sepatu super indah yang tak terhitung jumlahnya―ah, dan juga harganya.

Otak encernya mencoba berpikir, mencerna semua ini.

'Tadi aku diculik oleh sekelompok bodyguard, lalu tiba-tiba aku ada di sini. Apa maksudnya semua ini?'

Dan saat dirinya yang telah menjelma menjadi seorang puteri yang anggun dan sangat cantik, seorang pria tua mendekatinya dan mengajaknya pergi.

Dan lagi-lagi mata emeraldnya terbelalak kaget melihat dimana dia berada sekarang. Rumah atau gedung atau apalah itu namanya, begitu besar dan benar-benar mewah! Bahkan ini tiga kali lipat dari besar rumahnya sendiri!

Mata emeraldnya menangkap pemandangan indah yang terlihat dari balik jendela besar salah satu ruangan. Lapangan golf yang begitu luas, hamparan rumput hijau yang entah ada ujungnya atau tidak.

Beberapa pelayan yang tengah membersihkan ruangan itu berbisik-bisik saat melihat sosok gadis itu.

'Apa ada yang aneh dengan tubuhku?'

Sakura kembali mengikuti langkah pria tua di depannya.

"Semua orang sangat penasaran. Ini pertama kalinya Tuan Muda membawa seorang gadis ke rumah."

Sakura menatap pria tua itu, mencoba mencari kejelasan.

"Ano, bolehkah aku bertanya, emm..."

Pria tua itu menyela, "Baki, nama saya Baki. Tentu saja Anda boleh bertanya."

Sakura mencoba memasang senyum wajar, "Baki-san, apakah kita masih ada di Jepang?"

Pria tua itu—Baki, menoleh, lalu mengangguk. "Ya. Kita masih di Konoha."

"Boleh aku bertanya lagi?"

"Ya, silahkan, nona."

"Ah, tidak usah memanggilku nona. Panggil saja aku Sakura. Haruno Sakura."

Baki mengangguk, "Baik, nona Haruno."

Sakura menghembuskan nafas, berat. "Kenapa aku di sini?"

"Saya tidak tahu tentang itu, Nona."

"Kemana kita sekarang?"

Baki menghentikan langkahnya di salah satu dari sekian banyak pintu yang telah di lalui mereka berdua. "Kita sudah sampai. Ia menunggumu."

"Menungguku? Siapa?"

Baki tak menjawab. Hanya isyarat tangannya yang mengatakan "Silahkan masuk."

Perlahan, ragu, Sakura masuk ke dalam ruangan itu—sendirian. Ruangan yang sangat besar, dan aksen mewah benar-benar melekat padanya. Ornamen-ornamen indah, juga desain interior yang benar-benar bagus. Lagi-lagi ia dibuat kagum karenanya.

Kaki mulus jenjangnya yang dibalut high heels indah, menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati. Ah, ia tak terbiasa menggunakan sepatu seperti itu.

Matanya tetap menjelajah setiap sudut ruangan itu yang disertai decakan kagum saat ia melihat setiap inci ruangan itu. Dan semuanya terhenti ketika ia melihat sesosok pria yang tengah memandang ke luar melalui sebuah jendela.

Sakura berjalan mendekat. Memastikan semuanya dan menutup rasa penasaran yang terus menghinggapi dirinya.

Dan betapa terkejutnya ia saat sosok pria itu berbalik menghadapnya. Wajah tampan itu menunjukan ekspresinya yang biasa : dingin.

"Kau! Kenapa kau di sini?"

Sosok itu menatap heran, "Apa yang aneh aku berada di rumahku sendiri?"

"Rumahmu? Jadi ini rumahmu, Gaara?"

Sosok pria tampan itu mendekat, "Kenapa?"

Sakura memandang curiga, "Apa yang kau rencanakan? Kau ingin mengerjaiku?" dan kuda-kuda segera dipasang gadis itu.

"Aku telah melakukan apa yang ku inginkan."

"Huh..?"

Gaara menarik gadis itu, menghadapkannya pada sebuah cermin. "Lihat. Kau terkejut, 'kan? Bahkan itik buruk rupa sepertimu bisa berubah menjadi bangau."

"Bukankah maksudmu angsa?" gadis itu menjawab. "Ah, sudahlah itu tidak penting. Tapi apa yang sebenarnya kau inginkan?"

Gaara menyeringai sebelum mengatakan, "Hey, gadis liar. Kalau kau menyukaiku, katakan saja."

"Apa?"

"Kau tak perlu bersandiwara lagi di hadapanku."

Sakura menarik nafas dalam. "Gaara. Lelucon yang kau buat itu ada batasnya. Ini penculikan. Ini tindakan kriminal! Aku bisa melaporkanmu ke polisi atas apa yang kau perbuat padaku!"

Dan kata-kata gadis itu benar-benar membuat Gaara tertawa kecil. "Disini tak ada orang lain selain kita berdua. Kau bisa berterus terang padaku kalau kau menyukaiku. Dan kau diberi kehormatan menjadi pacar pertama Sabaku no Gaara yang hebat."

"Kau ini benar-benar gila, ya? Apa otakmu sudah tersumbat makanan-makanan berkolesterol tinggi? Lupakan saja tawaranmu itu, aku sama sekali tidak tertarik. Aku pergi."

Langkah Sakura terhenti, lagi-lagi karena ulah Gaara. "Otakmu yang bermasalah."

Sakura mencoba mengatur nafasnya yang mulai tak karuan, "Minggirlah selagi aku masih bersabar."

"Lihatlah dirimu. Kau menjelma menjadi seorang puteri karena aku. Aku bisa berikan apapun yang kau mau, kalau kau jadi kekasihku."

Sakura menggeram kecil, "Ku bilang aku tak mau."

"Aku selalu dapatkan apa yang ku mau, Sakura. Termasuk dirimu. Aku punya segalanya. Aku tampan, aku kaya, aku pandai. Apalagi yang kurang?"

"Dengar ya, Gaara. Semua yang ada pada dirimu itu benar-benar membuat aku membencimu. Rambut merahmu, tatoomu, wajah konyolmu, caramu berjalan, juga sikapmu yang benar-benar memuakkan. Saat melihat wajahmu, rasanya ada kutu yang merambat di sekujur tubuhku."

"Hah?"

"Jika ini yang kau inginkan," gadis itu melepaskan segala aksesoris di tubuhnya, "...ambil saja, aku tak butuh." Namun saat tangannya hendak melepaskan gaun indah berwarna pastel yang melekat di tubuhnya, ia tersadar, "Kembalikan seragamku!"


Sedari tadi Gaara terus berkeliling kamarnya dengan langkah gusar.

"Buang semua barang yang dipakainya hari ini. Dan apa-apaan dengan baju dan rambutnya? Apa penata riasnya itu tak bisa melakukan yang lebih baik? Cari orang yang lebih baik."

Baki menjawab Tuan Muda-nya yang sedang dikuasai amarah itu, "Tapi mereka adalah yang terbaik..."

"Aku tidak peduli! Pecat mereka!"

Pelayan setia itu menghela nafas, "Baiklah Tuan Muda. Aku mengerti."

"Argh! Dasar gadis bodoh!"

Dan detik berikutnya, barang-barang mahal di ruangan itu menjadi korban kebrutalan Gaara.


Sakura mempercepat langkah kakinya. Lebih cepat meninggalkan rumah itu, semakin baik untuknya. Tentu saja gerutuan menjadi lagu pengantar langkahnya.

Gerutuannya makin menjadi saat ia mengingat suatu hal yang penting saat ini.

"Sial, aku tak tahu jalan pulang."

Sebuah mobil Ferrari hitam berhenti tepat di samping Sakura. Kaca mobilnya yang turun perlahan, menampakan sang pengemudi yang tersenyum pada gadis itu.

"Neji-senpai?"


Sebuah bangku yang terletak di taman menjadi tujuan mereka. Menghabiskan satu-dua menit di tempat itu nampaknya tak masalah.

"Ah, kenapa aku merasa saat kita bertemu, aku selalu melihatmu dalam situasi dramatis..."

Sakura tertawa canggung, "Seperti sudah ditakdirkan. Aku jadi malu sendiri."

Neji tersenyum tipis saat melihat wajah gadis di hadapannya itu memerah. Lalu mata lavendernya beralih menatap kaki telanjang Sakura. "Kakimu kenapa? Dan yang terpenting, aku tak tahu kalau rumahmu di sekitar sini—yang artinya satu arah dengan rumahku, juga rumah Gaara. Bukankah kau katakan akan pulang menggunakan bis? Setahuku, tak ada satu bis pun yang memiliki rute masuk kawasan ini."

Wajah Sakura berubah masam mengingat kejadian yang dialaminya hari ini. Dan dengan suara putus asa yang terselip rasa amarah di antaranya, Sakura menjelaskan, "Ini semua karena ulah sahabat senpai yang gila itu..."

"Maksudmu, Gaara?"

"Memangnya siapa lagi? Dialah yang selalu membuat hidupku terasa sial. Sama seperti hari ini..."

Neji mencoba menerka apa yang mungkin dilakukan sahabatnya pada gadis itu, "Dia mengerjaimu? Atau memukulmu? Memarahimu?"

"Lebih dari itu. Dia menculikku..."

"Menculikmu?"

"Ya. Dengan seenaknya dia menculikku dan menjadikanku tawanan di rumahnya dan membuatku tampak begitu bodoh! Lalu dengan seenaknya pula dia menawarkan aku untuk menjadi kekasihnya."

"Jadi dia tak main-main dengan perkataannya?" gumam Neji. Ada perasaan tak karuan yang membuncah di hatinya. "Dan kau... menerimanya?"

"Senpai bercanda, ya? Tentu saja tidak! Dia pikir siapa dia? Bisa membeliku dengan uang?" Sakura mengakhiri luapan emosinya dengan sebuah hembusan nafas berat.

"Kau sungguh mengatakan itu padanya?"

"Ya."

Neji tersenyum tipis dan mengacak rambut Sakura, lembut. "Ku pikir tak akan ada wanita yang menolak pesona seorang Sabaku no Gaara," lalu ia mengambil sebuah kotak di mobilnya, "Kau tak mungkin pulang tanpa alas kaki," dan ia membuka kotak itu dan mengambil sepasang sepatu kets di dalamnya. Dan yang tak pernah Sakura duga, pemuda itu memasangkan sepatu itu di kakinya. Memasangkannya!

"Ano, senpai..." wjah gadis itu kian memerah.

"Sudah selesai. Kau tampak lebih baik jika seperti ini," Neji menatap puas hasil pekerjaannya. "Kau mau pulang?"

Sakura yang masih tersipu-sipu mengangguk.

"Mari, ku antar pulang."

Sakura menggeleng, "Tak perlu senpai. Aku bisa pulang sendiri." Meskipun sedetik kemudian ada perasaan menyesal dalam hatinya. Tapi ia tak mau terlihat lemah di hadapan Neji.

"Kau tak akan bisa pulang, Sakura. Hari masih mendung dan kemungkinan hujan turun lagi masih ada. Lagipula halte bis cukup jauh dari tempat ini. Dan kau pikir aku akan membiarkan seorang wanita mengalami situasi seperti itu sendirian?"

Dan tanpa Sakura bisa menolak, tangan kekar Neji menariknya ke dalam mobil, memasangkan sabuk pengaman, lalu mobil itu melaju kencang setelah Sakura memberitahu alamat rumahnya.


"Aku senang sekali hari ini..." adalah kalimat yang semenjak tadi Sakura ucapkan sambil berputar-putar layaknya penari balet. Tentu saja, lupakan insiden penculikan yang didalangi Gaara dan pertemuan dramatisnya dengan Sasuke. Hari ini adalah satu dari sedikit hari yang mampu membuatnya tersenyum sendiri dan menari-nari seperti orang tak waras.

Dan prasangka itupun tumbuh di hati orang tuanya dan juga sahabatnya yang kini tengah menatapnya aneh.

"Sakura, kau baik-baik saja, 'kan?" Ino, sahabatnya itu tak juga lepas menatap Sakura.

"Tebak apa yang terjadi padaku hari ini, Ino!"

"Menang lotre? Atau mendapat nilai seratus di tugas praktik seni rupa?"

Sakura menghentikan tariannya lalu duduk di samping sahabat berambut pirangnya itu. "Hari ini, ada banyak kejadian. Mulai dengan pagi yang indah diawali sapaan dari pangeranku, mengobrol dengan pangeranku di kolam ikan, sampai ia menawarkan untuk mengantarku pulang..."

Ino menaikkan sebelah alisnya, "Pengeranmu?"

"Sayang sekali, aku menolak diantarnya pulang. Lalu di jalan, aku bertemu dengan Sasuke..."

"Sasuke? Apa yang dia lakukan?" Ino tampat terkejut mendengar penjelasan Sakura.

"Hanya mengajakku untuk kembali padanya. Tapi tentu saja aku menolak! Lalu aku diculik oleh orang gila bernama Gaara..."

"Diculik? Bagaimana kau bisa merasa hari ini begitu menyenangkan saat kau bertemu Sasuke dan diculik Gaara?"

Sakura memutar bola matanya, "Lupakan dua insiden itu. Karena setelahnya, kau tahu, Ino, aku bertemu dengan pangeran yang lagi-lagi menolongku. Dan puncaknya, dia mengantarku pulang! Ino, aku senang sekali..."

Ino menarik nafas, tak sabar, "Stop, Sakura! Berhenti untuk menjadi gila. Memang siapa pangeran yang kau maksud itu?"

Sakura tersenyum bahagia saat mulut tipisnya mendeklarasikan, "Hyuuga Neji."

"Neji? Apa kau berpikir hal yang sama denganku, Sakura?"

Sakura mengalihkan pandangannya yang menerawang. Dan kini, ia tengah menatap wajah sahabatnya yang terlihat sok misterius. "Apa?"

"Kau, sedang jatuh cinta."

"Ah?"


Pagi kembali merajai bumi mengambil alih kuasa malam yang telah lalu; takdir Tuhan yang tak pernah berubah. Hari yang telah berganti, menyisakan kenangan masa lalu untuk memulai lembaran baru. Karena hari ini harus lebih baik dari sebelumnya.

Sebuah janji yang telah terucap dari mulut gadis itu. Tak akan ada tangis. Tak ada lagi air mata. Ia telah menepatinya. Dan kini, hatinya tak akan pernah gentar oleh semua itu.

Beberapa hal yang telah ia bahas bersama sahabatnya kemarin mulai menunjukan titik terang. Ia ingat saat sahabatnya itu bilang, "Kau jatuh cinta". Dan kini ia yakin bahwa sahabatnya itu benar.

Ia jatuh cinta. Pada Hyuuga Neji.

Sosok yang telah meredakan tangisnya, melindunginya, juga membuat senyum ceria kembali terpeta di wajahnya.


Langkah kaki gadis itu semakin lama semakin cepat saat dilihatnya sosok lelaki yang tengah dicarinya. Tangannya memegang erat kotak sepatu, mencoba meredam bunyi detak jantungnya yang kian menggila. Bibir tipisnya tak henti menggambarkan senyuman manis, dan mata emeraldnya berbinar bahagia.

Namun sedikit demi sedikit, semua keceriaan itu hilang. Saat dilihatnya satu sosok lain di samping pria itu. Dan semuanya semakin memburuk saat telinganya menangkap dialog yang tengah dilakoni dua pria itu.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Kau pikir apa yang bisa kulakukan selain menerima semua ini?"

"Tapi, aku tahu Neji, ini tak adil untukmu..."

"Bukankah kau yang selalu mengingatkanku, bahwa orang-orang seperti kita tak pantas mendapatkan cinta sejati?"

"Ku pikir kau masih mencintai Tenten..."

"Aku tahu apa yang terbaik untuknya. Dan aku tahu, itu bukan aku."

"Kau berhak mengejar kebahagianmu sendiri."

"Masa depan kita telah diatur oleh mereka—orang tua kita. Aku harus terima itu. Karena ini adalah yang terbaik."

"Kau yakin?"

"Lagipula dia bilang, dia mencintaiku. Mungkin tak akan sulit untukku belajar mencintainya."

"Kalau memang itu adalah keputusanmu, aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu. Semoga kau tak menyesal, Neji..."

"Tak ada waktu untuk menyesal. Pertunangannya hanya tinggal 3 hari lagi..."

Langit terasa runtuh dalam dunia gadis itu. Seluruh organ yang ada dalam tubuhnya seakan tidak berfungsi lagi. Otaknya pun kehilangan kendali atas dirinya. Dan kotak sepatu itu pun sukses jatuh ke permukaan tanah.

Ingat Sakura. Kau tak boleh menangis...

Sekuat tenaga ia menahan butiran-butiran kristal yang siap meluncur dari kedua mata emeraldnya yang meredup. Ia sudah berjanji. Tak akan ada airmata lagi dalam hidupnya...

Dan detik berikutnya, langkah kakinya menjauh, mencoba untuk melupakan rasa sakit yang kian menghujam di hatinya.


Neji menangkap sebuah suara di balik pohon Sakura itu. Seperti bunyi sebuah benda yang menghantam tanah. Lalu ia mendekat, dan mata lavendernya menemukan sebuah kotak yang terbuka dan sepasang benda yang sangat dikenalnya.

"Ada apa, Neji?" sosok pria berambut merah menatap bingung wajah sahabatnya itu yang berubah ekspresi. Ekspresi yang seperti menggambarkan kekecewaan, penyesalan, dan rasa sakit.

"Tidak ada apa-apa." Neji menggenggam erat sepatu kets itu—benda yang ia temukan itu, "Jadi dia tahu semuanya..."


Konsentrasinya tak jua kembali, bahkan saat pelajaran olahraga di lapangan. Beberapa kali ia kehilangan kendali akan bola basket yang ditangkapnya, serta mendapat celaan atas kecerobohannya.

Matsuri yang menyadari ada yang tak beres dengan gadis itu berkali-kali bertanya dan menatapnya cemas, "Kau baik-baik saja, Sakura? Apa kau sakit?"

Namun hanya gelengan lemah yang diberikan gadis itu sebagai jawabannya.

Dan puncak ketidaksadarannya adalah saat bola basket itu melayang dan mendarat tepat di wajahnya.

"Sakura!"

Dan semuanya menjadi gelap dalam pandangan gadis itu.


Pria tampan berambut merah itu baru saja keluar dari toilet—tentu saja yang dibuat khusus untuknya dan Neji. Pandangannya tertuju pada lapangan basket yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun sebenarnya, fokusnya hanya pada satu sosok. Ya, gadis berambut merah muda yang tengah berlari sambil terhuyung-huyung.

Bahkan saat seperti itupun, tetap saja terlihat cantik di matanya...

'Eh? Apa? Tidak, tidak seperti itu! Siapa bilang itik buruk rupa itu cantik di mataku?'

Dan sebuah teriakan mampu membuatnya kembali sadar dari dunia inner-nya.

"Sakura!"

Secepat kilat ia berlari, bahkan sesekali menabrak orang-orang yang tengah berjalan di lorong itu. Yang dipikirkannya hanya satu, menolong gadis itu.

Gadis yang kini tak sadarkan diri.

Gadis yang kini berada dipelukannya.

Ia kembali berlari—sambil menggendong gadis itu tentunya, meneriakan kata "awas!" sepanjang jalan. Langkahnya semakin dipercepat saat dilihatnya darah mengalir dari hidung gadis itu.

"Shit! Kenapa UKS-nya jauh sekali, sih?"

Dan saat ia tiba di ruangan berbau obat-obatan itu, ia berteriak panik memanggil petugas piket UKS.

"Dia pingsan setelah kepalanya terhantam bola. Cepat obati dia!"

Dan kecemasan terpeta jelas di wajahnya. Dia terus berdoa dalam hatinya. Apapun akan dilakukannya untuk gadis itu. Untuk Sakura.


Matsuri masih menatap tak percaya pemandangan yang baru saja terjadi.

Gaara dengan wajah yang terlihat sangat cemas, meneriakkan nama gadis itu. Sahabatnya.

Dan saat pria itu menggendong tubuh mungil Sakura, membawa gadis itu kedalam pelukannya.

Kepalanya terasa pening mengingat semua kejadian itu. Dan kristal-kristal bening di sudut matanya pun sukses mencair.

"Tidak mungkin..."


Mangkok-mangkok ramen yang berserakan di meja yang ia tempati untuk menghabiskan makan siangnya cukup menjelaskan keadaan gadis itu saat ini.

Bukan. Bukan karena lapar sebenarnya.

Hanya pelampiasan emosi saja. Ya, terkadang wanita yang sedang stres memang melakukan hal-hal aneh.

Siswa-siswa yang tengah berada di kantin bintang lima itu, sebentar-sebentar melirik ke arahnya, lalu berbisik-bisik. Sebenarnya tak masalah jika hanya satu-dua orang yang melakukan hal itu. Tapi kenyataannya, lebih dari setengah jumlah siswa sekolah ini yang sedang berada di kantin super luas itu. Dan semuanya melakukan hal yang sama!

Awalnya Sakura memang tidak terlalu peduli. Toh, ia sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan orang sejak dirinya dinyatakan sebagai kekasih seorang Uchiha Sasuke. Tapi kali ini jadi berbeda. Bahkan lebih parah!

Wajahnya semakin memerah saat ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Bagaimana tidak! Saat dirinya terbangun dari ketidaksadarannya, sosok pertama yang tertangkap penglihatannya adalah orang itu. Orang yang tengah menggenggam tangannya erat dan wajah tampan itu menunjukan ekspresi kecemasan. Ia masih menganggap itu hanya fatamorgana sebelum sosok itu mengatakan "Hey, gadis bodoh! Apa yang kau pikirkan sampai bisa terhantam bola seperti ini? Itu sungguh bukan dirimu!". Ingin rasanya detik itu juga melayangkan pukulan ke wajah menyebalkan itu. Tapi tak bisa, ia masih terlalu lemah.

Alih-alih mengucapkan terima kasih, gadis itu membalas perkataan pria itu dengan teriakan, "Lepaskan tanganku! Dan kau, aku tak pernah mau ditolong olehmu! Lebih baik aku mati saja daripada harus berhutang padamu!"

Namun terlambat. Pemuda itu terlanjur memberikan pertolongan—lebih menyebalkannya lagi, ia bilang gadis itu telah berhutang banyak padanya.

"Bagaimana Gaara bisa menolong gadis itu ya?" "Apa sih istimewanya dia?" "Jangan-jangan, Gaara menyukainya!" "Ah, itu tidak mungkin!" "Justru lebih tidak mungkin kalau Gaara menolongnya tanpa alasan."

Bisik-bisik itu terlalu jelas di telinga Sakura dan membuatnya semakin bernafsu menghambiskan semangkuk ramen lagi.

"Sakura, aku mau bicara."

Gadis itu mendongak, menemukan sosok sahabat yang dikenalnya. "Ada apa, Matsuri?"

"Apa kau..." Matsuri terlihat ragu,"...punya hubungan spesial dengan Gaara?"

Sakura tertawa kecil sebelum menjawab, "Tentu saja itu..."

Teng! Teng! Teng! Teng!

"Kyaa! Itu 2Prince!" demi suara lonceng yang dibunyikan pria tampan berambut merah itu, seluruh orang yang ada di kantin berkumpul mendekat dua sosok pria yang begitu mereka kagumi. Tentu saja Sakura dan Matsuri tidak ikut serta. Namun, dari kursi yang tengah mereka duduki, dapat terlihat jelas dua pemuda itu.

Sakura melengos saat mata emeraldnya beradu pandang dengan mata hijau milik Gaara.

"Atas nama 2Prince, aku ada sebuah pengumuman penting!"

Gaara menoleh pada Neji di sampingnya dan dibalas anggukan oleh pria itu.

"Aku akan mengenalkan anggota baru 2Prince. Ah, kami berganti nama menjadi F3..."

Keheningan yang sempat tercipta beberapa saat yang lalu berganti keributan. Orang-orang mencoba menebak siapa kiranya orang yang begitu beruntung menjadi bagian dari genk terpopuler di seantero negara ini.

"Dia juga siswa baru di sekolah ini..."

Sakura yang awalnya tak tertarik mendengar pengumuman yang dianggapnya tak penting itu, akhirnya merasa penasaran juga.

Dan sosok itu muncul di belakang Gaara dan Neji. Menutup semua tanda tanya besar yang muncul di benak orang-orang itu—juga Sakura.

Sosok tinggi berkulit putih pucat, berambut model emo berwarna hitam kebiruan. Wajah tampannya yang menunjukan ekspresi dingin, juga mata onyx-nya yang terlihat begitu menawan—juga misterius.

"Dia... Uchiha Sasuke."

Mata emerald milik gadis itu membulat, tersentak kaget, "APA?"

ToBeContinue~

Next chapter: Pesta pertunangan Neji dan Hinata. Sebuah kejutan menanti di sana. Anggota baru, masalah baru. Kerumitan cinta yang semakin mewarnai persahabatan itu. Lalu, siapa yang pengkhianat?

Balas review dulu. Tapi saya satukan saja ya. (Menghemat tempat dan waktu *ditonjok minna-san*)

Yup! Gaara memang kepedean. Bisa-bisanya berspekulasi tak masuk akal seperti itu! Dasar bodoh! *DiSabaku* Chapter lalu memang fokus pada NejiSaku. Saya ingin memperlihatkan, seberapa dekatnya hubungan mereka, juga arti Sakura di mata Neji, juga sebaliknya. Sasuke pun tak akan menyerah begitu saja, namun kesempatannya memang sudah diperkecil. Tapi, pecinta SasuSaku masih bisa mendapatkan scene mereka berdua di chapter selanjutnya. Tentu saja karena saya pecinta SasuSaku Forever!

Saya juga ucapkan terima kasih atas dukungan—juga pujian yang telah minna-san berikan. Itu sangat berarti bagi saya. *Terharu*

Saya usahakan update kilat. Tinggal 2 chapter lagi menuju ending. Saya akan berusaha sekuat tenaga!

p.s : Review fic saya yang baru dong : RACER.

Summary: Sebuah pertaruhan akan mimpi dan impian. Roda-roda yang berputar begitu cepat, meski harus terhenti karena sebuah keputusan. Garis finish bukanlah tujuan akhir. Dan dia tahu itu... Adapted of Cars. NaruHina, SasuSaku, etc.

Pecinta balap mobil wajib baca! Juga pecinta film Cars! :)

Terima kasih telah membaca fic saia.

Saia tunggu kritik dan sarannya.

Uchiha Vnie-chan