Seth Clearwater
Memalukan, memang. Tapi aku tak akan takut untuk mengakuinya. Aku mendengarkan percakapan mereka semalam. Tak ada hal yang kurasakan, selain kekaguman pada cinta Grace untuk Ben. Aneh. Tak akan ada yang mengerti, kecuali kau adalah seseorang yang berbagi perasaan dengannya. Perasaannya murni dan indah, sekaligus berduri seakan melindungi sebelum ada yang mencoba menyakiti. Seperti berlian yang ditemukan dalam gua gelap, berkilau tapi penuh dengan ujung tajam.
"Hentikan itu, Seth!", teriak Jake. Aku terlonjak dari kursiku dan tak mengerti apa yang dia bicarakan. "Aku bisa merasakannya. Hentikan sebelum terlambat."
Dua detik kemudian aku tahu apa yang dia maksud. "Aku.. Aku tak jatuh cinta padanya."
"Belum," kata Jake menghela napas berat. "Apa kau tidak mengerti? Aku mencoba untuk menyelamatkanmu!"
Aku bingung. "Menyelamatkan?"
Jake menggerang. Dia sering menggerang setelah mendengar pertanyaanku. Quil tertawa dan Embry menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa kau begitu bodoh?", gerutu Leah.
"Kenapa kau selalu merasa pintar?", tanyaku balik. Otak Leah yang terbatas tidak mampu membantahku, jadi dia cuma bisa mendengus. Itu membuktikan kalau pertanyaanku benar.
"Jawab pertanyaan ini dengan jujur dan serius," kata Jake bersungguh-sungguh, menatap mataku tajam. Aku berdiri tegak dan dalam posisi siap. "Kau benar-benar tak mengerti maksudku?"
Aku mengangguk, "Iya. Sungguh. Kau merasakan kalau aku tidak mengerti bukan?"
Jake menepuk kepalanya keras, "Tentu saja aku merasakannya. Hanya saja aku tidak percaya kalau kau tidak mengerti."
"Look, aku makin bingung. Beri saja aku perintah dan aku akan melaksanakannya," kataku memberi hormat dengan senyuman. Jake biasanya akan tenang ketika aku melakukannya.
Kali ini tidak. "Sederhana. Menjauh-dari-nya!", teriak Jake tegas dan frustasi.
Aku termenung. Aku tak bisa melakukannya. "Aku tak bisa, Jake. Maaf."
Jake menatapku kaget. "Kau tak pernah membantah Jake sebelumnya," kata Quil terkejut. Embry mendongak dari koran yang dibacanya. Ya, dia memang rutin membaca koran. Tak ada yang berani mengejek kebiasaannya ini, karena jika iya orang itu akan dibayangi pandangan mata yang lebih menakutkan dari Jake. Leah tidak peduli dan terus memakan satu pint es krim di pagi hari pada awal musim semi yang dingin ini. Ya, dia memang gila, aku tahu. Sebenarnya cuaca ini juga gila. Salju turun lagi kemarin malam, kami seperti berada di tengah-tengah musim dingin.
"Aku tak pernah membantahnya karena selama ini aku yakin bisa melaksanakannya," jawabku. "Aku tidak akan menjanjikan sesuatu yang tak bisa kulakukan."
"Kenapa kau tak bisa menjauh darinya?", tanya Llyod yang tiba-tiba muncul. Dia sudah mendengar pembicaraan kami daritadi.
"Aku tak tahu," jawabku lirih.
Jake makin frustasi dan masih menahan marahnya. Aku yakin sebentar lagi dia akan mengumpat-umpatku. "Seth," kata Llyod. "Tunggulah beberapa minggu sampai kita tahu siapa dia sebenarnya. Kalau Jake terlalu khawatir denganmu, aku bisa menyelidikinya terlebih dahulu."
"Tapi... Apa kalian tidak merasakan kebaikan hatinya?", tanyaku terbata. Kenapa mereka tidak bisa mempercayainya sedikit saja? Grace selalu dipojokkan oleh shape-shifter dan itu sebabnya dia lebih menyukai vampir. Jika Jake ingin Grace menerima bagian shape-shifternya, jalan satu-satunya adalah dengan berbuat baik padanya.
"Dia setengah vampir, Seth. Tidak seperti Nessy, kemungkinan dia adalah satu-satunya hybrid shape-shifter yang ada. Kita benar-benar tidak tahu siapa dia, darimana asalnya, dan apa kau tidak memikirkan kemungkinan dia bisa memanipulasi pikirannya?"
"Manipulasi pikiran?" Aku tak pernah mendengarnya. Jika dia vampir, mungkin bisa saja itu terjadi. Tapi itu tak mungkin!
"Mengerti?", tanya Llyod perlahan. Aku mengangguk pelan, berharap bahwa teori mereka salah. "Bagus," katanya menepuk bahuku dan menatap Jake, "Masalah selesai. Aku yang akan mendekati Grace."
"Aku tidak akan mengizinkannya," kata Jake. Aku mulai putus asa mendengarnya. "Bagaimana jika kau yang malah mengimprint. . . Tunggu. . ." Kami semua memandang Llyod, ada yang berbeda darinya. Di bibirnya tersungging senyuman lebar. Dia... Dia sudah mengimprint!
"Selamat!"
"Rasanya hebat bukan?"
"Kapan?"
"Siapa?"
Hanya Leah yang tidak menunjukkan perhatiannya. "Baru saja. Dengan Amelia," jawab Llyod malu-malu. Kami semua menertawakannya. Amelia adalah anak umur sepuluh tahun yang paling dibenci Llyod, sampai Llyod tidak sudi menatap matanya. Amelia selalu mengikuti Llyod kemanapun dia pergi. Kemanapun.
Llyod terlihat bahagia. Aku ikut bahagia untuknya. Dan suatu saat nanti aku yakin aku akan mengalaminya. "Sesuai perjanjian, kau harus mentraktir kami!", kataku semangat. Oiya. Ngomong-ngomong soal makanan, bukankah aku ada janji dengan Grace? Tapi aku tak ingat kapan.
"Kau membuat janji?!", teriak Jake histeris. Oh, tidak. Dia merasakannya. Dia tahu. "Jangan bilang kalau kau mengajaknya keluar."
Seketika satu ruangan terdiam, menatapku. Aku harap Chris atau James akan datang membawa berita kalau mereka sudah mengimprint untuk menyelamatkanku. Kurasa itu tak akan terjadi. Aku memejamkan mata, siap untuk menelan semua sumpah serapah Jake. Bukannya Chris atau James, Llyod lagi-lagi menyelamatkanku. "Bagaimana kalau aku yang mengajaknya terlebih dulu?"
Kalau aku tidak setuju...aku tidak bisa tidak setuju. Tapi jika aku setuju, itu terasa sangat..salah. "Baiklah," kataku akhirnya.
"Kalau begitu antarkan aku ke rumah Cullens, kenalkan aku padanya."
Aku sangat 'beruntung' hari ini karena yang membuka pintu adalah Jasper, apalagi saat aku bersama Llyod. Ini seperti mempertemukan singa hutan dan singa padang rumput. Dua-duanya sama-sama kuat dan dominan, mengintai satu sama lain tapi tak ada yang menerkam. Seperti sekarang, mereka berdua bertarung dalam diam, saling mengeluarkan tatapan membunuh. Llyod punya darah tentara mengalir dalam tubuhnya dan seingatku aku juga pernah mendengar soal Jasper yang menjadi tentara. "Mungkin itu sebabnya," kata Jake waktu aku tanya kenapa mereka saling membenci. Aku makin bingung. Aku tak mengerti kenapa persamaan bisa menjadi sumber masalah. "Hey, Jaz," kataku, awkward. "Apa Grace ada di dalam?"
"Dia sedang keluar bersama Alice dan Rosalie, juga Emmet untuk berbelanja. Emmet hari ini tidak beruntung," katanya. Lalu dia melanjutkan pertarungannya dengan Llyod.
Aku bertanya lagi, "Apa kau tahu dimana mereka?"
Jasper menaikkan alis, menatapku heran seakan-akan mendengar pertanyaan 'apa kau tahu dimana letak Amerika?'. "Hanya ada beberapa toko baju disini. Ini kota kecil. Kau tak akan sulit menemukan mereka. Jadi, apa ada urusan lain? Kau tidak mau masuk menunggu mereka, bukan?"
Kalimat yang sangat halus untuk pengganti 'go away'. "Tidak, thanks." jawabku tersenyum. "Sampaikan salamku untuk Edward. Ayo, Llyod."
Sedikit sentakan menyadarkan Llyod untuk mengikutiku. Beberapa langkah dari rumah Cullens dia masih diam berusaha mengatur emosi. Pikirannya mengatakan ini efek dari shape-shifter baru. Aku mengalaminya selama beberapa minggu, saat itulah aku marah sampai berteriak untuk yang pertama kalinya pada seseorang dan Leah yang mendapat kehormatan itu. Aku harap itu yang terakhir kalinya, karena marah sebenarnya lebih menyakitkan daripada sedih. "Jika kau sudah bisa mengontrolnya, ambillah posisi third-in-command secepatnya," kataku.
"Kenapa kau tak menginginkannya? Kau menyerahkannya pada Embry begitu saja."
Aku mendongak. Dia sedikit lebih tinggi dariku. "Kenapa aku harus menginginkannya?"
"Karena itu sebuah pangkat. Dan karena kau anak buah kesayangan Jake."
"Aku melihatnya sebagai tanggungjawab," kataku tertawa kecil. "Aku senang aku dipercaya Jake untuk posisi itu, tapi kurasa aku bukan orang yang cocok untuk tanggungjawab."
"Biasanya kau selalu optimis dalam segala hal."
"Aku cocok untuk banyak hal lain," kataku, masih tersenyum. Lalu aku berhenti, menyadari kalau kita telah berjalan tanpa arah. "Kita mau kemana?"
Lagi-lagi aku mendapat pandangan heran seakan aku bertanya 'kita mau ke Forks?' padahal kita ada di Forks. "Tentu saja menyusul mereka."
"Bukankah akan terlihat aneh? Kenapa tidak besok saja?"
Llyod menggaruk belakang kepalanya, "Amelia pergi studiwisata hari ini, tepat setelah aku mengimprintnya. Bukankah itu sangat menyebalkan? Dia akan pulang minggu depan. Aku bisa gila kalau terus-terusan berdiam diri menunggunya pulang." Aku tersenyum. Imprint adalah hal yang indah. Itu bisa mendekatkan seseorang yang dulunya jauh. Llyod merasakan pikiranku, dia membatah, "Nah. Imprint adalah hal paling merepotkan sedunia. Lihat saja Sam dan Quil. Dulu aku menertawakan mereka. Lihat aku sekarang."
Aku bisa mendengar suara mereka dari tepi hutan. Alice berjalan kesana kemari untuk mengambil baju yang menurutnya cocok untuk Grace. Rosalie, seperti biasa duduk dengan angkuh sambil memainkan kukunya, melirik sekali lalu berkata 'yes' dan 'no' setelah Grace mencobanya. Emmet 'tertidur' di sebelah Rosalie. Ketika Alice dan Rosalie berbeda pendapat mereka berdebat, kadang mereka menginginkan baju yang dipakai oleh Grace, namun setelah mencobanya mereka merasa itu tidak cocok untuk mereka. Grace sering tertawa kecil karena senang, sesekali bertanya pada Alice bagaimana cara memakai baju yang dipegangnya.
"Girls," keluh Llyod saat dia mulai bisa mendengar mereka, "Mereka senang membuat dunia yang sederhana menjadi gulungan benang rumit."
"Memang, tapi menyenangkan mendengar mereka bersenang-senang. Dan apa kau merasakan perasaan Grace? Indah bukan? Dan juga Cullens sangat baik, ya? Bahkan Emmet pun mau menemani mereka untuk memilih baju. Pengorbanan yang besar," kataku tertawa.
Llyod tersenyum kepadaku, tapi dia berkata, "Terkadang aku tak mengerti bagaimana cara otakmu bekerja. Terlalu 'bercahaya'. Mungkin kau punya halo tak terlihat di atas kepalamu," katanya membuat lingkaran di atas kepalaku. Aku meraba kepalaku, benarkah ada halo yang tidak terlihat? Llyod tertawa melihat ulahku, lalu menambahkan, "Ya, perasaannya begitu indah. Seperti payung di tengah hujan dan jaket di kala dingin. Menghangatkan hatimu, walaupun penuh dengan kekhawatiran yang tak perlu. Sekarang aku tahu kenapa kau tertarik dengannya. Tapi kau tahu, kau memiliki perasaan yang sama persis dengannya, hanya saja seperti yang aku katakan, kau lebih 'terang'."
"Benarkah?"
Llyod tak menjawab dan membuka pintu toko. Aku tersenyum pada mereka yang sudah pasti tahu kalau kami datang satu kilometer sebelum kami sampai. Tapi karena ada manusia, mereka bertindak seperti biasa. "Oh, Llyod, Seth. Aku tak tahu kalau kau juga pergi ke butik," kata Alice tertawa kecil. Kata 'kau' jelas ditujukan untukku. Kurasa wajahku merah ketika tahu kalau kami masuk ke butik baju perempuan. Llyod mengambil alih keadaan, "Dia menolongku. Aku butuh gaun spesial untuk gadis kecil yang spesial."
"Apa kau yakin bertanya pada bocah yang belum pernah berkencan?", kata Emmet yang 'terbangun' setelah ada objek untuk dia mainkan: aku.
"Aku mulai menyesalinya setelah kami berkeliling Forks tanpa hasil apapun," jawab Llyod tersenyum. Wow, dia pintar sekali mengendalikan keadaan. "Hey, itu gaun yang bagus. Cocok untukmu."
Grace menunduk, jadi aku bisa menatapnya. "Terimakasih," katanya malu-malu. Kalimat Llyod adalah kalimat yang harusnya aku ucapkan. Kali ini Llyod terlalu menguasai keadaan. Pikiran Grace dipenuhi kegelisahan entah karena apa, tapi juga penuh kebahagiaan yang membuatmu merasa bahagia juga. Grace memang sangat cantik. Dia memakai rok selutut berwarna baby pink dan...
Sebuah sodokan keras mendarat tepat di igaku. Aku tak akan merasakannya jika yang melakukannya manusia, tapi ini Llyod. Siku Llyod yang tajam. Aku hanya mengerutkan wajahku seperti setelah memakan jeruk asam untuk menahan sakitnya. Emmet tertawa dan Rosalie menyeringai, diam-diam juga menikmati hiburan yang disukai Emmet. Alice yang menghilang di sudut butik telah kembali dengan dua gaun, "Jadi, apa tipe pacarmu? Yang manis atau sexy?"
Aku menatap kedua gaun yang ditunjukkan Alice. Aku tak tahu dimana perbedaanya. "Kedua gaun itu terlihat sama." Komentarku menyebabkan tawa diantara mereka, kecuali Grace yang juga tidak mengerti.
Llyod mengusap rambutnya perlahan dan berkata malu-malu, "Sebenarnya bukan untuk pacarku. Dia...adikku yang berumur 10 tahun." Pacar di masa depan, tambahku dalam hati. Aku menghindar tepat pada saat siku Llyod mundur. Alice ternganga dan aku bersumpah aku melihat taring putihnya. Bulu kudukku sedikit berdiri, begitu juga dengan Llyod. Itu mengingatkan kami pada Volturi dan vampir-vampir 'teman' mereka.
Ketakutan kami dihapus oleh suara denting lonceng dari suara Grace, "Mungkin ini cocok," katanya mengambil gaun kecil berwarna biru.
Llyod tersenyum lembut dan menghampiri Grace, "Perfect. Dia suka biru."
Entah darimana, Alice sudah membawa gunting lalu berjalan ke arah Grace. Orang yang melihatnya akan mendapat firasat buruk kalau dia akan memotong leher Grace, begitu juga aku. Tapi dia mengambil barcode di balik baju Grace dan menguntingnya, "Jangan lupakan yang ini." Emmet meregangkan badannya, menguap dan berkata, "Akhirnya."
Itu tindakan yang mirip manusia. Tidak perlu gunting, dengan sedikit goresan dari kukunya vampir bisa memotong tali tambang dari baja sekalipun. Dan Emmet, tentu saja tidak perlu menguap. Dan Rosalie tak perlu memainkan kukunya. Semua memerankan perannya dengan baik. Mengagumkan. Aku saja yang mendekati rupa manusia lupa untuk merasa kesakitan ketika bermain bola dan bolanya mengenai daerah 'rawan' milikku karena memang tidak sakit. Hampir saja teman-temanku menganggap aku ini perempuan. Untung saja dari bangku penonton James memberiku sinyal.
Mata Grace membelalak, tapi dengan lembut dan berbinar-binar. "Kalian akan membeli semuanya?"
"Tentu saja," jawab Alice sambil menekan tombol-tombol mesin kartu kredit. "Dan yang lainnya juga, di toko-toko sebelumnya."
"Tidak perlu sebanyak itu," katanya lagi, menyusuri kain lembut bajunya, "Baju yang ini saja sudah sangat...indah."
"Sangat perlu, apalagi setelah kita membuang baju-baju lamamu," kata Alice tertawa. Emmet membawa semua tas berisi baju yang kurasa bisa dibagikan untuk seluruh wanita di Forks. Alice menutup mulut Grace dengan satu jari, "No, no. Jangan bilang terimakasih lagi. Sekarang bantulah Llyod mencari baju untuk adiknya, kami duluan."
Jantung Grace berdetak beberapa kali, membuat para vampir berhenti. "Maaf," kata Grace. "Aku terlalu gugup saat banyak manusia...mm..orang."
"Llyod akan menjagamu. Lagipula dia bukan 'orang' biasa. Kau tidak pulang, Seth?", tanya Emmet menyeringai lebar. Kenapa aku harus pulang? Llyod...
Llyod menyuruhku untuk pulang.
Aku tidak tahu apa alasannya, tapi Jake selalu berkata kalau aku tidak harus tahu alasan dibalik sebuah perintah, walaupun aku tak pernah bertanya dan selalu menuruti perintahnya. Kurasa dia benar-benar tahu kalau terkadang aku menuruti perintah tanpa tahu apa yang sebenarnya aku lakukan. Dulu posisiku memang masih di atas Llyod, tapi sebentar lagi Llyod yang akan mengambil posisi ini. Kurasa sekarang aku tahu kenapa orang-orang sangat tergila-gila dengan pangkat.
Mau tidak mau aku harus menurut, meskipun lagi-lagi bagiku ini terasa 'salah'.
Grace Ateara
Aku baru dua hari mengenal Cullens dan dua hari itu adalah hari terindah dalam hidupku. Malam yang kuhabiskan dengan Ben... Tunggu, kalimat itu tidak terasa benar. Malam disaat aku mengobrol dengan Ben adalah malam yang sama dengan sinar bulan yang sama seperti seratus tahun lalu, tapi terasa berbeda. Tidak lama setelah aku tenggelam dalam pandangan matanya, sifat manusiaku datang dan merusak semuanya. Aku menguap, lebar. Dia tertawa lalu mengantarku untuk tidur... Lagi-lagi kalimat yang ini juga tidak tepat. Dia tertawa lalu dengan curang mengambil start lebih awal untuk kembali ke rumah. Betapa kesalnya dia ketika aku masih lebih cepat darinya.
Lalu aku tertidur, tanpa mimpi, tiba-tiba terbangun tepat enam jam kemudian. Ya, aku tidur tanpa mimpi, jadi aku tak tahu persis bagaimana rasanya bermimpi. Tapi bertemu dengan vampir sebaik Cullens itu rasanya seperti mimpi. Aku selalu menyebut hal yang indah sebagai mimpi, untuk jaga-jaga ketika aku 'terbangun' atau kehilangan hal indah itu, aku tak akan menangisinya karena itu hanya mimpi. Begitulah cara aku melindungi hatiku dan itu terbukti efektif untuk mengobati hatiku selama ini.
Tapi sebenarnya luka itu sedikit, kuulangi, sedikit terbuka saat nama 'Clearwater' muncul kembali dalam kehidupanku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak mengingat orang itu. Lagipula, Seth berbeda jauh darinya.
Ketukan di pintu membuatku tersadar sepenuhnya. Itu Alice. Aku membuka pintu. "Good morning!", katanya dengan ceria. "Ayo kita berjalan-jalan ke kota."
Aku ragu, "Ke...Kemana? Aku..tidak terlalu bisa bergaul dengan manusia."
"Tenang saja, kita hanya berempat kok, aku, kau, Rosalie dan Emmet."
"Menurut saja, kau tidak akan menang melawannya," terdengar suara Bella dari kejauhan.
Aku tertawa kecil melihat ekspresi lucu Alice yang kesal, "Baiklah kalau begitu."
Aku kembali dengan bajuku dan lagi-lagi ekspresi Alice selalu menunjukkan apa yang ada di hatinya. Dia tak menyukai bajuku, benci mungkin. Tapi baru kali ini aku mendapatkan pandangan benci hanya untuk bajuku, bukan orang yang ada di dalamnya. Jadi aku cukup senang. "Kau benar-benar membutuhkan baju baru."
Aku menggeleng. Aku tak ingin datang dan meminta mereka memberiku baju, bukan seperti itu maksudku. "Ini nyaman kok."
Alice mengeluh dan menggandeng tanganku melewati kamar Ben yang ada di dekat tangga. Ini sedikit menyeramkan, juga sedikit membuatku malu walau aku tidak tahu kenapa. Menyeramkan karena dia vampir peminum darah manusia dan dia belum minum entah sejak kapan. Semakin aku mendekati pintu kamar Ben, aku semakin gugup. Waktu terasa berjalan dengan lambat, padahal Alice setengah berlari untuk menggandengku, seakan-akan tokonya akan tutup sebelum matahari terbit sepenuhnya. Kuamati selama dua hari ini matahari tak pernah muncul, bahkan di akhir musim dingin. Tempat yang bagus untuk persembunyian mereka.
Tiba-tiba kepala Ben muncul dari pintu kamarnya, membuatku melompat mundur. Bahkan Alice saja terkejut. "Apa yang kau lakukan?", tanya Alice kesal.
Ben tertawa. Tawa yang..indah. Tak ada kata lain yang bisa mengungkapkannya. "Aku ingin membuat jantungnya berdetak, itu saja."
Aku menunduk, "Aku sudah berlatih untuk tidak lagi."
"Jangan," jawab Ben, lagi-lagi menunduk untuk menatapku. Aku baru sadar kalau aku begitu kecil, lebih kecil daripada Alice. Dan Ben tinggi seperti Edward, gagah seperti Jasper. Juga hangat.
"Ben, apa mungkin kau bisa ke bawah untuk membicarakan soal dietmu?", tanya Edward dari bawah. Oiya, ada Edward. Kurasa sekarang wajahku memerah. Aku lupa kalau aku harus berhati-hati dengan pikiranku.
"Oke," kata Ben tersenyum, meluncur cepat ke bawah dengan kecepatan vampir. Seseorang menegurnya, mengingatkannya untuk bertindak seperti manusia. Siapa lagi kalau bukan Jasper.
"Carlisle masih praktek di rumah sakit," jelas Esme setelah mengucapkan selamat pagi padaku. Aku belum sempat membalas sapaannya. "Mungkin dia akan pulang siang nanti. Pastikan Grace sudah ada di rumah."
Alice menggeleng, memelukku, "Grace milikku seharian ini." Wajahku memerah. Belum pernah ada yang ingin bersamaku seharian. Esme tersenyum mendengar jawaban Alice, "Berita bagus," katanya menatapku, "Bersenang-senanglah hari ini. Aku tak ingin kau merasa tak nyaman di hari-hari pertamamu disini karena Carlisle 'meneliti'mu." Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tak ingin membuatnya salah paham. Apa dia akan marah jika aku mengatakan aku ingin diteliti?
"Kalian membuatnya bingung," kata Edward. Bella menimpali, tersenyum dan memeluk Edward dari belakang, "Aku setuju dengannya. Sebaiknya kalian cepat-cepat pergi bersenang-senang."
Edward memberinya ciuman ringan lalu berkata, "Kau masih sedikit berat, vampir baru."
"Well, aku sedang menjalankan diet yang ketat," katanya tersenyum. Edward tertawa.
Jantungku berdetak lagi, lembut. Dulu aku kira cinta itu masalah, tapi yang sekarang aku lihat selama dua hari mengubah pandanganku selama seratus tahun. Bella dan Edward, aku mendengar kisah mereka dari Nahuel. Butuh pengorbanan besar bagi Bella untuk melepaskan semua kehidupannya dan melangkah ke kehidupan baru, baik secara kiasan maupun dalam arti yang sebenarnya. Dr. Cullen dan Esme yang pasti sudah ratusan tahun sejak mereka pertama kali bertemu, tapi masih saling menatap dengan penuh kekaguman. Jasper dan Alice yang mempunyai dua sifat berbeda jauh, disatukan dengan cinta. Bahkan Emmet dan Rosalie.
Nessy berlari dengan lompatan kecil dari pangkuan Ben, seperti malaikat, mengulurkan tangannya padaku. "Menunduklah," kata Ben tersenyum. Aku menunduk dan Nessy menyentuh pipiku dengan tangan kecilnya yang hangat. Kau sangat cantik.
Aku tersenyum dan menyentuh pipinya juga. Aku merasakannya. Kekuatan untuk membiarkan seseorang membaca pikiranmu. Kekuatan yang spesial, unik dan cocok untuk malaikat kecil sepertinya. Kau juga. Kataku dalam pikiran. Dia merasakannya.
Matanya membulat penuh kekaguman, lalu dia berlari memeluk Edward. Pipinya bersemu merah, sesekali mengintipku dibalik bahu Edward. Edward memeluknya dengan penuh kasih sayang, tersenyum bahagia mendengar pikiran Nessy apapun itu. Itu hal yang normal dilakukan oleh seorang Ayah. Ayahku tidak termasuk normal. Gadis kecil cantik yang beruntung. Aku ikut bahagia untuknya.
"Don't be gloomy," kata suara besar di belakangku. Emmet menepuk kepalaku. Aku tidak takut lagi padanya karena ternyata dia menyenangkan, tapi aku takut saat Rosalie memandangku tajam setelah Emmet bicara padaku. "Ayo, semakin cepat kita pergi, semakin cepat kita kembali."
"Semakin cepat kita kembali, semakin sering kita pergi," timpal Rosalie. "Sebaiknya kita berbelanja seharian hari ini."
Emmet mengeluh, tapi mencium pipi Rosalie dengan lembut, "Baiklah, my princess." Dan Rosalie tidak merubah ekspresi sedikit pun, tapi aku tahu dia malu.
"Kau mau aku membelikan baju untuk Nessy?", tanya Alice.
"Lagi?", tanya Bella balik.
Alice memandangnya terkejut seakan Bella berkata 'Nessy tidak perlu memakai baju'. "Tentu saja, dia tumbuh dengan cepat bukan?"
"Aku rasa itu tidak perlu, Alice," kata Edward angkat bicara. Nessy masih ada dipangkuannya, tapi bermain bersama Ben. "Itu akan membuat 'mereka' curiga."
Aku tahu mereka itu manusia. Alice menyerah, "Well, kalau itu alasannya..."
"Kau membuat Alice mengalah," kata Jasper tersenyum, memandang Alice yang meliriknya kesal. "Itu hebat."
Melihat senyumannya aku merasa takut lagi. Bukan karena senyumnya menyeramkan. Tapi karena aku tak menyangka vampir dengan luka sebanyak itu mempunyai senyuman yang sama hangatnya dengan Alice. Dan senyuman itu hanya untuk Alice. Mereka mengagumkan. Cullens. Cara mereka menghormati kehidupan makhluk rendahan yang bernama manusia dan cara mereka saling mencintai tak akan berhenti membuatku kagum.
Aku mencoba ratusan gaun. Merepotkan membuka baju berkali-kali, tapi entah kenapa aku merasa senang. Alice dan Rosalie terkadang berkata 'no' untuk gaun yang tadinya mereka kagumi dan berkata 'yes' untuk gaun-gaun yang terlalu pendek. Mereka juga memilihkan aku beberapa baju dan celana. Aku sampai tidak tahu lagi mana yang akan mereka beli. Kami sudah berpindah-pindah di beberapa toko, dan walaupun ini menyenangkan, aku berharap ini toko yang terakhir. Setiap kami akan meninggalkan toko, Alice berkata pada kasir bahwa mereka akan membayarnya nanti dan mengatakan untuk menyimpannya terlebih dahulu. Perlu berjalan untuk pergi dari satu toko ke toko lainnya dan mereka harus berjalan kesana kemari dengan kecepatan manusia. Itu terlalu lambat.
Makin aku mencoba baju, makin aku merasa bersalah. Ini sudah terlalu banyak. Aku harap ada seseorang yang menyelamatkanku. Tiba-tiba aura serigala mendekat dan itu membuatku khawatir. Apa ini masuk dalam perbatasan Quileute?
Mengetahui kekhawatiranku, Alice berbisik sambil menarik retsleting di belakang punggungku, "Itu hanya dua anak anjing kecil."
Yang melintas di pikiranku pertama adalah Seth. Aku harap itu Seth. Sama seperti Ben, dia membuatku hangat. Baru kali ini ada anjing yang bisa membuatku hangat. Berada di dekatnya membuatku kedinginan secara fisik, tapi hangat jauh di dalam hatiku. Mungkin senyuman ramahnya yang bisa membuat dia seperti itu.
"...menghangatkan hatimu, walaupun penuh dengan kekhawatiran yang tak perlu. Sekarang aku tahu kenapa kau tertarik dengannya. Tapi kau tahu, kau memiliki perasaan yang sama persis dengannya, hanya saja seperti yang aku katakan, kau lebih 'terang'," terdengar suara yang tak kukenal. Itu bukan Seth dan untungnya bukan anggota Sam. Tapi...dia datang bersama Seth. Siapa yang mereka bicarakan? Apa Seth sudah mengimprint? Kalau iya, bolehkah aku menatap matanya? Aku berkonsentrasi untuk mendengarkan pikiran Seth. Dia belum mengimprint juga. Ini membuatku sedikit kecewa karena aku harus menunggu lama hanya untuk berteman dengannya. "Hey, itu gaun yang bagus. Cocok untukmu," kata orang itu lagi.
Setelah dua detik aku baru menyadari kalau itu ditujukan untukku. "Terimakasih," kataku malu, sudah lama aku tidak menerima pujian. Ini memang gaun yang bagus dan nyaman, tapi entah kenapa aku masih merasa aku tak pantas memakainya. Tunggu. Aku mendengar erangan kesakitan dari Seth, tapi dia baik-baik saja. Apa hybrid bisa berhalusinasi?
"Jadi, apa tipe pacarmu? Yang manis atau sexy?", kata Alice yang sudah membawa dua gaun lain.
Aku menatap kedua gaun yang ditunjukkan Alice. Alice pintar memilih baju, dua-duanya terlihat cantik walaupun satunya lebih terbuka dari yang lainnya. "Kedua gaun itu terlihat sama," kata Seth. Yang lain tertawa, tapi aku tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Aku terlihat bodoh.
Anjing yang satunya berkata dengan malu-malu, "Sebenarnya bukan untuk pacarku. Dia...adikku yang berumur 10 tahun." Wow. Dia kakak yang perhatian. Itu membuat pipiku memerah, padahal aku bukan adiknya. Aku rasa dia mirip Nahuel. Nahuel adalah satu-satunya orang yang menyayangiku, meskipun aku selalu menjaga jarak dengannya. Aku tak ingin terikat dengan siapapun karena aku tahu pasti akan ada perpisahan. Oiya, tadi aku lihat ada gaun kecil biru yang sederhana dan manis. Seandainya aku masih kecil pasti aku akan memilih gaun itu. "Mungkin ini cocok," kataku. Kemudian aku sadar aku telah memotong pembicaraan mereka. Aku menutup mulutuku.
Sebelum aku sempat meminta maaf, dia tersenyum lembut dan menghampiriku, "Perfect. Dia suka biru." Aku mengambil satu langkah mundur darinya dan secepatnya memalingkan wajah untuk mencari baju kecil lagi. Aku tahu dia adalah salah satu dari anjing yang kemarin. Kenyataan bahwa dia anggota Jake tidak membuat kewaspadaanku berkurang.
Aku mendengar tombol kasir di tekan dan suara kertas tagihan yang panjangnya sudah melebihi satu meter. Astaga. "Kalian akan membeli semuanya?"
"Tentu saja. Dan yang lainnya juga, di toko-toko sebelumnya."
Astaga. Harusnya aku tahu aku harus berhenti mencoba baju walaupun aku tahu Alice akan memaksaku. "Ti...tidak perlu sebanyak itu. Baju yang ini saja sudah sangat...indah," kataku sambil memandangi kain satin baby pink yang menyibak dengan anggun saat aku bergerak. Benarkah monster sepertiku pantas memakai baju seorang putri?
"Sangat perlu, apalagi setelah kita membuang baju-baju lamamu," kata Alice. Sebelum aku bisa bicara, Alice menutup mulutku dengan satu jari, "No, no. Jangan bilang terimakasih lagi. Sekarang bantulah Llyod mencari baju untuk adiknya, kami duluan."
Membantu..Llyod? Orang itu? Bersama Seth dan Llyod? Kenapa mereka harus duluan? Jantungku berdetak beberapa kali, membuat mereka berhenti. "Maaf," kataku. "Aku terlalu gugup saat banyak manu...mm..orang."
"Llyod akan menjagamu. Lagipula dia bukan 'orang' biasa. Kau tidak pulang, Seth?", tanya Emmet. Kenapa Seth harus pulang? Aku tak berani memandang Seth, takut dia sedang memandangku. Kumohon jangan pulang, aku tak pernah harus berjalan berdua dengan anjing. Pernah, tapi...hanya dalam mimpi, seabad yang lalu.
"Kau benar, aku harus...pulang," kata Seth canggung. "See you, Grace."
Jantungku berdetak satu kali lagi. Dia tak mengatakan selamat tinggal. Well, aku harap aku benar-benar bisa 'melihatnya'.
"Apa kau tertarik dengannya?", tanya Llyod di belakangku. Untuk beberapa saat aku tak menyadari keberadaannya. Jatungku berdetak lagi dengan kencang. Astaga, kenapa sejak datang kesini aku tak bisa mengontrol jantungku?
"Hatinya...sangat hangat. Aku belum pernah bertemu dengan anji..mm...orang dengan hati semurni itu," kataku menunduk, menghindari tatapan matanya.
"Tidak apa-apa," katanya, berbisik untuk memelankan suaranya, "Aku sudah mengimprint." Telingaku membeku seperti terkena frostbit saat dia melakukannya. Dia sekali lagi menatap gaunku, "Gaun ini memang cocok untukmu, tapi tidak cocok untuk dipakai cuaca sedingin ini. Ayo kita berjalan-jalan sebentar."
"Kau tidak jadi membeli gaun untuk adikmu?"
Dia tertawa kecil, "Sebenarnya aku tidak punya uang." Berkata jujur seperti itu cukup rendah hati untuk ukuran anjing. Ketika keluar toko, kami baru bisa bicara bebas karena dijalan sepi manusia. Salju masih turun sedikit. Dia menyampirkan jaketnya padaku. Aku menerimanya, walaupun baunya busuk tapi cukup untuk menghangatkanku. Tapi aku tak mengerti kenapa dia mempunyai jaket. "Aku tidak tahu kalau ada anjing yang bisa kedinginan."
"Untuk jaga-jaga kalau baju kita robek saat berubah," jawab Llyod. "Aku juga tidak tahu kalau ada vampir yang bisa kedinginan."
"Lalu kenapa kau menyampirkan jaketmu kepadaku?"
"Insting lelaki," jawabnya menyeringai bangga.
Aku mendengus. "Aku kedinginan hanya saat ada anjing di dekatku," jawabku. Dia benar-benar dingin dan bau. Pikiran positifku padanya sudah meleleh di hari sedingin ini. Bagaimanapun anjing tetaplah anjing. Tapi entah kenapa, aku tak bisa menggunakan kalimat itu pada Seth.
"Apa kau mempunyai kepribadian ganda?", tanyanya tiba-tiba, sepertinya tidak menyukai perbedaan perilakuku pada Cullens dan pada anjing.
"Aku kan memang hybrid," jawabku datar.
"Kau setengah shape-shifter, setidaknya akuilah itu," katanya berhenti di depanku.
"Aku mengakuinya, makanya terkadang aku berlagak angkuh, sama seperti kalian," kataku mendorongnya pelan, berjalan melewatinya. Aku harap dia kesal dan pergi. Walaupun aku tidak tahu aku berjalan ke arah mana.
"Apa shape-shifter disana benar-benar sekejam itu?", tanyanya.
Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan perlahan. "Sekejam...apa?"
"Apa yang mereka lakukan sehingga orang dengan hati semurni Seth sepertimu bisa membenci sesuatu?", tanya Llyod menatapku dalam. Seperti anjing lainya, matanya hitam pekat. Aku berusaha membayangkan wajah Seth dengan mata hitam itu, tapi tak bisa karena aku sebenarnya juga tak pernah menatap wajahnya. Tunggu..."Hati semurni Seth?" Apa mungkin aku mempunyai hati seperti itu? "Aku tak mungkin memilikinya." Sebelum dia berkata apapun, aku mendahuluinya, "Siapa yang mengirimmu? Jake atau Sam?"
Dia pura-pura tidak mengerti.
"Jangan terlihat bodoh. Untuk apa orang yang tidak mempunyai uang berkeliling mencari gaun jika bukan untuk mencari sesuatu yang lain? Mencariku, misalnya," kataku.
Dia menyeringai, aku mulai benci melihat ekspresi itu di wajahnya. Ben sering menyeringai, tapi efeknya lebih ke 'hangat', bukan menghina. "Kau cerdas." Suaranya berubah menjadi serius, "Tak ada yang menyuruhku. Aku 'mengajukan diri'. Jake begitu gelisah melihat Seth dekat denganmu. Perasaan gelisah itu menganggu kami semua, begitu juga perasaan Seth yang mengagumimu."
"Seth...mengagumiku?", tanyaku heran. Jatungku berdetak lagi. "Aku bukan seseorang yang pantas untuk dikagumi. Bukankah justru dia yang lebih pantas? Aku saja mengaguminya."
Llyod menatapku dengan mata berbinar, setelah beberapa detik tadi dia menyeringai dengan penuh penghinaan. Kurasa dialah yang kepribadian ganda "Kau benar-benar Seth versi perempuan. Dan versi vampir." Aku tidak mengerti apa maksudnya. Yang jelas tidak mungkin aku bisa disamakan dengan orang sebaik dan seramah Seth. "Karena Jake sudah menitipkan kalian berdua padaku, mau tidak mau kau harus berkencan denganku selama beberapa hari."
Lihat kan? Sifat anjing yang seenaknya sendiri keluar. "Aku tidak melihat apa hubungannya," kataku sebal.
"Kau ingin berteman dengan Seth bukan? Semua itu bergantung padaku. Jake percaya penuh padaku, dengan semua yang aku laporkan."
Anjing menyebalkan. Aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku ingin berteman dengan seseorang. Bukankah aku selalu menjaga jarak dengan semua makhluk hidup? Terutama anjing dan manusia. Aku tidak ingin terikat karena pada akhirnya aku pasti akan terluka. "Laporkan sesuka hatimu. Aku tidak peduli."
"Kau mencoba untuk tidak peduli," katanya menekankan kata 'mencoba'. "Kenapa kau sangat takut terluka?"
"Kenapa kau sangat berisik?", kataku kesal. "Setiap makhluk hidup yang sadar pasti takut terluka. Berhentilah mengorek-ngorek perasaanku."
"'mengorek' terdengar sangat tidak keren. 'menyelidiki' mungkin," kata Llyod. Baru aku mau menusuknya dengan persediaan kalimat-kalimat pedasku, dia berkata, "Aku akan datang ke rumah Cullens yang mengerikan itu setiap hari."
"Kau tidak menyukainya kan? Kau tidak perlu melakukannya," kataku. "Aku berjanji aku tidak akan membuat masalah."
"Itulah bedanya vampir dengan serigala. Karena kau tidak menyukainya, bukan berarti kau tidak harus melakukannya. Aku punya kewajiban pada kawananku dan aku sudah berjanji pada Alpha-ku," katanya. Jujur saja, itu adalah satu-satunya sifat anjing yang membuatku kagum. Setia kawan. Tapi tidak percuma aku tinggal dengan anjing seumur hidupku jika aku tidak tahu kelemahan mereka. "Bagaimana dengan imprintee-mu? Apa dia tak akan cemburu?"
Sifat cerianya berhenti tiba-tiba. Aku tersenyum penuh kemenangan. "Sedihnya, dia tak akan cemburu. Dan dia baru akan kembali seminggu lagi."
"Daripada kau tinggal disini mengurusi hal yang seharusnya diurus oleh Jake, kenapa kau tidak menyusulnya?"
Dia terhenti. Di pikirannya terdengar 'benar juga' yang sangat kencang seperti lonceng gereja dan aku tahu aku sudah menang. Aku berjalan dengan ceria ke rumah Cullens - entah sejak kapan kami sudah sampai di hutan. Aku lebih cepat menghapal jalan di hutan daripada di kota. "Tunggu," katanya tiba-tiba, mengenggam tanganku dan menatap mataku dalam. "Kau terlalu cerdas. Itu membuatku merasa tertantang. Aku tak akan menyusulnya," katanya. Kalimat terakhir diucapkannya dengan sulit seperti ada sepuluh kelereng di dalam mulutnya dan kodok di tenggorokannya.
"Susul saja," saranku.
"Tidak akan," katanya tegas, menatap mataku. Dengan sorot mata itu dia cocok untuk menjadi Beta.
"Terserah kau saja," kataku menarik napas. Udara segar memasuki tubuhku. "Kita lihat nanti siapa yang akan menyelidiki siapa."
Llyod mengantarku pulang. Menyebut pergi ke rumah Cullens dengan kata 'pulang' membuatku bahagia. Dan merasa malu juga, karena aku sudah seenaknya menganggap rumah mereka adalah rumahku. Dr. Cullen mengundang Llyod untuk masuk karena saat itu salju mulai turun dengan lebat. Tentu saja Llyod menolak. Dan aku tak tahu kenapa ada sedikit rasa tegang di dalam dirinya saat dia melihat Jasper. Itu persamaan pertama kami.
Mereka semua sedang bersantai. Keluarga kecil Edward berkunjung ke rumah Cullens dan sedang duduk-duduk di ruang tengah bersama Dr. Cullen. Mereka benar-benar bersandar pada sofa, sangat manusia. Aku juga harus belajar pada mereka agar manusia tak ada yang curiga denganku. Aku tak merasakan keberadaan tiga vampir yang paling kuat: Jasper, Emmet dan Ben. Rumah ini terasa makin sejuk tanpa kehadiran Jasper. Astaga apa yang aku pikirkan? Maksudku...rumah ini terasa makin sejuk tanpa aura Jasper yang dominan. Hanya auranya. Edward menyeringai kecil seakan setuju dengan pikiranku.
"Kenapa kau pulang cepat?", tanya Alice kecewa. Apa mereka sedang membicarakan masalah keluarga? Apa kepulanganku menggangu itu?
Edward tersenyum dan berkata, "Berhenti memikirkan hal-hal negatif."
"Kenapa kau tersenyum ketika mendengar pikirannya negatif?", tanya Alice.
"Karena pikirannya terlalu menggelikan," kata Edward masih tersenyum.
"Memangnya apa yang dia pikirkan?"
"Dia berpikir seharusnya dia pergi lebih lama karena takut menganggu kita," katanya. Itu persis dengan apa yang aku pikirkan dan dideskripsikan dengan satu kalimat sederhana. Dia mengagumkan.
"Oh, sayangku," kata Esme dari lantai atas, "Kita tak akan pernah merasa terganggu dengan kehadiranmu." Belum pernah ada yang memanggilku 'sayang'. Ini membuat jantung berdebar perlahan. Aku...merasa bahagia. Aku bahkan tak tahu harus merespon apa dan hanya menunduk.
"Pertanyaanmu membuat dia salah paham," kata Edward pada Alice.
"Ah, itu... Bukan karena Alice, cara kerja pikiranku memang seperti itu," kataku.
Alice tersenyum, mencubit pipiku perlahan, "Aku bertanya karena aku harap kau bisa bersenang-senang lebih lama dengan Llyod, silly."
Aku tidak mengerti. "Aku rasa seorang vampir tidak akan bisa bersenang-senang dengan anjing, bahkan hybrid sekalipun."
"Totally agree," kata Rosalie dari lantai atas.
Alice memutar bola matanya, lalu berkata serius padaku, "Setidaknya seorang perempuan bisa bersenang-senang dengan laki-laki."
"Alice," tegur Bella yang baru sampai entah dari mana. "Tidak di depan Nessy." Nessy menatap Bella dengan pandangan 'Apa? Kenapa?'. "By the way, kau terlihat 'gorgeous' dengan baju itu," tambah Bella.
"Aku rasa dia lebih pantas disebut 'graceful'," kata Alice ceria.
"Grace," panggil seseorang dengan nada yang ramah. Itu Dr. Cullen. "Aku sedang berpikir... Kalau kau mau mempertimbangkannya," katanya bersemangat. Matanya berbinar sama seperti Alice, hangat seperti Edward, tegas seperti Jasper, membuatmu tersenyum seperti Emmet dan tajam seperti Rosalie. Jika ada orang yang memberitahuku kalau mereka adalah anak kandung Dr. Cullen, aku pasti langsung percaya. "Jika kau tidak mau, tidak apa-apa," sambungnya tiba-tiba. Aku memang bukan pembaca pikiran seperti Edward, tapi aku tahu jelas apa yang dia maksud.
"Aku mau," kataku pasti. "Aku penasaran kenapa terkadang aku tidak bisa berjalan tiba-tiba." Mereka semua memandangku dengan tatapan 'benarkah?!'. "Terjadi hanya dua puluh tahun sekali, tapi akhir-akhir ini frekuensinya makin sering sehingga membuatku sedikit khawatir."
"Kau harus cepat-cepat menyelidiki itu," kata Esme khawatir. Bukan padaku, tapi pada Dr. Cullen. Syukurlah dia tidak marah.
"Tapi tadi sudah kubilang, seharian ini Grace milikku!", kata Alice. Dia menggandeng tanganku, tangannya hangat dan lembut seperti sapuan kapur di papan tulis namun tanpa debu, sama seperti vampir lainnya. "Kau harus melihat baju barumu."
Tidak sampai satu detik kita sudah sampai. Sepertinya Alice sangat ingin menunjukkannya sehingga harus berjalan dengan kecepatan vampir. Dia membuka lemari di kamarku dengan efek suara, "Tada!" Mereka indah saat di toko, dan lebih indah lagi saat berada di dalam lemari. Warna-warnanya lembut dan cerah, jauh berbeda dari baju-baju lamaku yang kusam semua. "Mereka sangat cantik."
"Cocok untuk dipakai seseorang yang cantik," jawab Alice.
"Terima..."
"No no. Sudah kubilang tak usah bilang terimakasih." Setetes airmata jatuh dari pipiku. "Hey, kenapa kau menangis?", tanya Alice khawatir. "Tunggu. Apa Llyod melakukan sesuatu padamu?", tanyanya siaga.
"Tidak," kataku menggeleng dan cepat-cepat mengusap airmata itu. "Aku menangis karena merasa bahagia."
"Oh, Grace," kata Alice memelukku. Aku tak tahu cara membalas pelukannya. Untungnya pelukan itu berlangsung dengan cepat. "Kau manis sekali. Jangan pernah menangisi hal-hal kecil seperti ini lagi, oke? Ini bukan apa-apa."
"Tapi aku tak mengerti kenapa kalian selalu baik padaku."
Alice tertawa kecil, "Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan, silly."
"Aku rasa aku tidak termasuk 'semua orang'."
"Maksudku semua orang," katanya lagi, memandangku dengan lembut, "Itu berarti 'semua'."
Aku membalas senyumannya.
Suasana hatinya berubah jadi ceria dalam hitungan detik. "Katakan padaku, apa yang terjadi dengan Llyod dan kau?"
Aku tak mengerti kenapa Alice bersemangat untuk mendengarnya, tapi aku tak peduli. Jika memang Alice senang aku juga senang. "Well, kita sempat berdebat beberapa saat."
"Lalu?", tanyanya tak sabar. Aku tersenyum padanya. Aku suka saat melihat mata Alice berbinar.
"Dia menantangku untuk berkencan," kataku berbisik. Entah kenapa aku merasa malu mengatakannya. Berkencan dengan anjing bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Mulut Alice terbuka. Matanya membulat. "Benarkah? Tunggu. Menantang?"
"Iya. Kita melakukan semacam taruhan sebenarnya. Saling mempermainkan satu sama lain," kataku. Sejauh ini kalimat yang melintas di kepalaku hanyalah itu. Alice tak akan mengerti. "Ini hanya semacam mempertaruhkan 'kesombongan'. Siapa yang lebih dominan dari siapa. You know, 'dog's things'. Sayangnya, bagaimanapun juga aku setengah anjing. Jadi aku mewarisi sifat angkuh mereka."
"Aku tak mengerti keseluruhannya, tapi aku mengerti intinya," kata Alice tersenyum. "Kalahkan dia, oke?"
Aku mengangguk, tersenyum.
Oiya. Baju itu. "Alice? Dimana baju-baju lamaku?"
"Tadinya aku mau membuangnya," kata Alice. Kalimat itu membuat tubuhku merasakan sensasi jatuh dari jurang setinggi 500 meter. "Tapi Carlisle bilang aku tidak boleh membuang barang orang sembarangan, jadi aku meletakkannya di kardus itu. Apa ada barang yang kau cari?" Sebelum kalimat Alice selesai aku sudah berlari ke kardus yang dia tunjuk dan membukanya. Untungnya baju itu ada di tumpukan paling atas. Aku menarik napas lega. "Kau menemukannya?", tanya Alice.
Tapi kenapa aku harus mencarinya? Sebenarnya aku berharap Alice akan membuang jauh-jauh baju itu.
"Grace?"
"I..iya," jawabku terbata. Sayangnya iya. "Aku menemukannya."
"Syukurlah," kata Alice menghembuskan napas lega. Tanganku bergetar mengusap kain katun tipis kemeja itu. Kenapa benda ini tak bisa lepas dariku? Kenapa aku juga tak bisa lepas dari benda ini? "Grace, apa kau baik-baik saja?"
"Ya," jawabku lesu. "Hanya sedikit mengantuk mungkin."
"Kalau begitu, tidurlah. Di dalam lemarimu ada piyama," kata Alice, mengambil satu piyama dari lemari. Alice menatapku yang masih terdiam di depan baju itu. "Apa kau yakin kau baik-baik saja?"
"Ya," kataku, kali ini dengan senyuman. "Jauh dari baik." Aku kembali menutup kardus itu agar tak melihat baju itu.
Seandainya hal yang sama bisa aku lakukan pada hatiku.
