PLEASE, LOOK AT ME

Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun

Genre : Married Life, GENDERSWITCH, OOC, dll

.

.

Sorry if you find any typos

.

.

Happy reading.

.

.

Baekhyun berdiri mematung dan menatap nanar pada gundukan tanah yang ada dibawahnya. Berbagai perasaan berkecamuk didalam hatinya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan memejamkan matanya dengan erat, berusaha melawan rasa sakit yang menyergap hatinya. Sampai akhirnya, perempuan itu menyerah. Ia membuka matanya dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Maaf aku baru sempat mengunjungimu lagi, Baekhye." Baekhyun berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan makam saudara kembarnya. Ia meletakkan buket bunga yang ia bawa di atas makam Baekhye.

Hening sesaat.

Baekhyun membiarkan rambut panjangnya yang tergerai tertiup angin yang berhembus cukup kencang. Ia mengatupkan kedua tangannya dan meletakkannya didepan dadanya. Matanya terpejam dan bibirnya terlihat seperti mengucapkan sesuatu. Ia sedang memanjatkan doa, berdoa untuk saudara kembarnya yang mungkin sudah tenang 'disana'.

Baekhyun membuka kembali kedua matanya dan tersenyum. Senyum yang pertama kali terlihat sangat tulus, senyum yang baru pertama kali ia keluarkan sejak kematian saudara kembarnya. Senyum yang tiba-tiba saja membuat hatinya terasa lega.

"Baekhye, terima kasih."

"Terima kasih kau sudah memberikan hadiah yang sangat indah untukku. Meskipun kau harus mengorbankan perasaanmu sendiri."

Baekhyun mendongakkan kepalanya keatas dan mengerjapkan kedua matanya, berusaha menahan liquid bening yang hampir saja menetes di pipinya. Perempuan itu tertawa miris, sebelum ia melanjutkan kembali monolog-nya.

"Kau tau, Baek? Laki-laki itu sangat keras kepala. Dia berulang kali mengatakan padaku kalau dia benar-benar mencintaiku, dia menikahiku bukan karena permintaanmu."

"Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, Baek. Kalau aku…masih sangat menyukainya. Ah, tidak. Bukan menyukai, mungkin perasaanku sudah melebihi batas. Aku sungguh tersiksa dengan egoku sendiri, harus bersikap dingin dan ketus setiap ia berlaku lembut padaku. Apa yang harus aku lakukan, Baek?"

"Aku…masih mencintai Chanyeol."

.

.

.

.

Kris mengetuk-ngetukkan kakinya kelantai dengan bosan. Berkali-kali ia menatap jam yang melingkar di tangannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari perempuan yang ia tunggu diantara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dibandara ini.

Ia mendengus, berusaha bersabar menunggu kedatangan perempuan itu, Luhan. Pesan yang didapatkannya dari Luhan kemarin siang cukup mengejutkannya. Setelah satu tahun perempuan itu tinggal di China, ia memutuskan untuk kembali ke Seoul dengan sangat mendadak tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Kris. Tidak, Kris bukannya tidak suka dengan keputusan Luhan. Hanya saja, kembalinya Luhan ke Seoul mungkin akan memperburuk suasana hatinya.

Entah sejak kapan Kris mulai mengurangi kadar perasaannya pada perempuan bermata rusa itu. Mungkin karena sekarang, Kris sudah memiliki Baekhyun. Meskipun Kris tidak memiliki Baekhyun 'seutuhnya' karena perempuan itu berstatus sebagai istri orang. Park Chanyeol, yang tidak lain adalah kakak dari Luhan.

Situasi yang menjengkelkan. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa Kris membenci seorang Park Chanyeol.

Sekali lagi, Kris melirik jam tangannya. Ia memutuskan untuk menunggu lima menit lagi. Jika Luhan belum juga datang, maka ia memutuskan untuk meninggalkan perempuan itu.

"Kris!"

Kris menolehkan kepalanya ke sumber suara saat ia mendengar namanya dipanggil. Kedua matanya terpaku saat melihat perempuan yang ia tunggu sedang berdiri tak jauh dari tempatnya. Seorang perempuan berkulit putih mulus bermata rusa tengah melambaikan tangannya pada Kris. Ia berjalan mendekati Kris dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.

Tap…tap…tap…

Luhan memeluk tubuh jangkung Kris dengan erat tanpa permisi. Ia begitu merindukan sosok pria yang ada dihadapannya sekarang, meskipun tak bisa dipungkiri ada sebersit rasa kecewa yang menyelimuti hatinya.

Kris yang mendapat perlakuan seperti itu mau tak mau mulai melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Luhan. Tubuh Luhan yang lebih pendek darinya membuat Kris bisa menghirup aroma shampoo yang digunakan Luhan. Ia menghirup dalam-dalam aroma itu. Oh, betapa rindunya Kris dengan perempuan bermata rusa ini. Tapi sayang, mungkin semuanya telah berubah.

Luhan melepaskan pelukannya dari Kris dan mendongak menatap tunagannya itu. Wajah datar Kris membuat Luhan mendengus. Kris terlihat seperti tidak mengharapkan kedatangan Luhan ke Seoul.

"Kris, kau tidak merindukanku, huh?" Luhan mengerucutkan bibirnya.

Kris terkekeh pelan, lalu mengelus lembut surai cokelat milik Luhan. "Tentu saja aku merindukanmu, Lu." Lalu Kris kembali merengkuh tubuh Luhan kedalam pelukannya, tak peduli pada beberapa pasang mata yang menatap iri pada mereka berdua.

.

.

.

.

.

Chanyeol menggeliat dalam tidurnya. Sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya membuatnya terganggu dan terpaksa membuka kedua matanya. Ia menguap lebar sambil menepuk-nepuk sisi yang kosong di sebelahnya. Ia mengernyit, lalu menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati Baekhyun tidak ada disampingnya.

Chanyeol melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Oh ow, ia terlambat bangun. Tugas kantor yang menumpuk semalam membuatnya harus tidur larut. Untungnya hari ini adalah hari minggu, jadi ia bisa beristirahat dirumah.

Chanyeol bangkit dan berjalan keluar kamarnya. Ia menyusuri setiap ruangan dan tak mendapati Baekhyun dimanapun. Kemana perginya dia?

Ia mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan menenggaknya sampai setengah botol itu habis. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat, mungkin kejadian kemarin siang membuat Baekhyun tidak nyaman dan itulah sebabnya Baekhyun pergi pagi-pagi seperti ini tanpa memberitahu Chanyeol.

"Hah, sampai kapan dia akan bersikap seperti ini padaku. Bahkan setelah aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya ia sama sekali tidak berubah. Apa artinya pernikahan ini, tch."

Chanyeol membanting pintu kulkas dan berjalan kembali menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, ponsel yang ia letakkan diatas meja berdering. Ia melirik sekilas dan mendapati nama Eommanya tertera disana. Eommanya mengiriminya pesan.

Chanyeol, bisakah kau datang kerumah Eomma? Luhan sudah kembali dari China. Datanglah kemari, Chanyeol. Kau harus menyambut adikmu dan tunangannya. Ajak Baekhyun agar mereka bisa saling mengenal baik.

Chanyeol mengernyit. Luhan? Kembali ke Seoul? Kenapa gadis itu sama sekali tidak memberinya kabar? Dan apa itu? Tunangan? Sejak kapan Luhan memiliki tunangan? Dan siapa laki-laki beruntung itu?

Setumpuk pertanyaan mengisi otak Chanyeol. Ia membalas pesan Eommanya kalau ia akan datang kesana bersama Baekhyun. Setelah itu ia mengirimi Baekhyun pesan, menyuruhnya agar cepat pulang.

Ia melemparkan ponselnya keatas ranjang, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

.

.

.

.

.

Baekhyun melirik ponselnya yang bergetar diatas meja. Ia terlihat cuek dan melanjutkan menyesap cappuccino nya yang ia pesan tadi. Setelah pulang dari makam Baekhye, ia memutuskan untuk pergi ke café milik teman nya.

Ia melirik keluar café lewat jendela yang ada di sampingnya. Baekhyun sangat menyukai posisi tempat duduk yang dekat dengan jendela, karena ia bisa melihat apapun diluar jika ia merasa bosan dengan lawan bicaranya. Tapi sayangnya, ia duduk sendirian sekarang.

Baekhyun merasakan bimbang pada hatinya. Setelah mengakui kalau ia masih mencintai Chanyeol, ia merasa ada yang salah dengan dirinya dan hatinya. Sebenarnya ia ingin segera pulang, menemui Chanyeol dan memeluk laki-laki itu. Meminta maaf dan mengatakan kalau ia masih dan sangat mencintai Chanyeol. Tapi ia masih saja merasakan keraguan pada setiap pengakuan Chanyeol kepadanya.

ia menopangkan dagunya dengan tangan kirinya. Melamun, menerawang jauh pada masa-masa dimana ia merasakan sakit yang lebih parah dari ini. Mengingat bagaimana Chanyeol memperlakukan Baekhye dengan manis di depannya, laki-laki itu tidak pernah menyadari raut wajah Baekhyun yang berubah menjadi menyedihkan setiap melihat mereka berdua tengah bermesraan. Ia akan merasa sangat tersiksa jika Baekhye dan Chanyeol memaksanya untuk ikut jalan-jalan dengan mereka. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka berdua, apa ia berniat membuat Baekhyun semakin patah hati?

Baekhyun merasa takdir cintanya mempermainkannya. Disaat ia memutuskan untuk melupakan Chanyeol, laki-laki itu justru datang padanya dan memintanya menjadi kekasihnya lalu melamarnya. Oh, sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh Tuhan untuknya?

"Ya, noona. Tolong jawab telepon mu itu. Kau membuat suasana café menjadi berisik oleh dering ponselmu itu."

Baekhyun menoleh pada pasangan yang duduk tak jauh dari tempatnya. Ia meringis lalu meminta maaf pada pasangan tersebut. Baekhyun meraih ponselnya yang berhenti berdering dan mendapati tiga missed call dengan nama Chanyeol disana. Ia juga baru menyadari kalau Chanyeol mengiriminya pesan.

Baek, dimanapun kau berada, cepatlah pulang. Adikku baru saja pulang dari China, dan Eommaku memintaku untuk datang kerumahnya. Eommaku memintaku untuk mengajakmu. Jadi, cepatlah pulang.

Baekhyun mendengus. Ia mengira ada sesuatu yang benar-benar penting atau apapun. Baekhyun memutuskan untuk membalas pesannya.

Aku akan menyusul. Kau, pergilah lebih dulu.

Setelah itu, Baekhyun menyimpan ponselnya kedalam tasnya. Ia berdiri dari kursinya dan beranjak pergi dari café tersebut.

.

.

.

.

.

.

Kris duduk di samping Luhan dengan wajah yang menegang. Ini memang bukan pertama kalinya Kris bertemu dengan orang tua Luhan. Tentu saja karena mereka sudah bertunangan, dan Kris mengenal dengan cukup baik Nyonya Park –calon Ibu mertua nya. Tapi entah kenapa, ada perasaan 'was-was' yang sedari tadi membuatnya gelisah.

Mungkin karena Chanyeol? Bagaimana kalau tiba-tiba Chanyeol datang bersama Baekhyun kemari?

"Eomma, kenapa Chanyeol oppa lama sekali? Apa dia tidak merindukanku, huh? Saudara macam apa dia itu." Ucap Luhan dengan nada merajuk yang dibuat-buat.

"Tentu saja dia merindukanmu, sayang. Dia baru saja mengirimi Eomma pesan kalau dia sedang berada dalam perjalanan."

Mendengar jawaban Nyonya Park, raut wajah Kris semakin menengang. Luhan yang menyadari itu, terkekeh dalam hati.

"Jadi, Kris. Kapan kau berniat akan melangsungkan pernikahan dengan Luhan?"

Kris cepat-cepat mengubah raut wajahnya yang menegang. Ia menyunggingkan senyum nya dengan terpaksa.

"Sebenarnya itu semua kuserahkan pada Luhan. Kapanpun ia siap, aku juga akan siap." Jawabnya dengan santai.

"Ya, apa-apaan kau Kris! Eomma, sebenarnya aku ingin cepat-cepat menikah seperti Chanyeol oppa dengan Baekhyun eonnie, tapi sepertinya pria disampingku ini tidak memiliki keinginan untuk cepat-cepat menikah sepertiku. Mungkin dia masih senang bermain wanita, huh?" Luhan menyikut lengan Kris sambil menaik-turunkan alisnya, bermaksud untuk mengejek. Meskipun sebenarnya itu semua adalah kenyataan.

"Ya, kau tidak percaya padaku huh? Apa kau ingin aku melamarmu sekarang juga?" Balas Kris tidak mau kalah. Ocehan Luhan membuatnya sedikit tidak nyaman, entah sejak kapan Luhan menjadi bawel seperti ini.

Ting tong…

"Nah, sepertinya Chanyeol sudah datang. Tunggu sebentar, Eomma akan membukakan pintu." Nyonya Park berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu rumah, meninggalkan Kris dan Luhan yang wajahnya mulai menegang.

.

.

"Chanyeol? Kau tak datang bersama Baekhyun? Kemana perginya anak itu, huh?" Nyonya Park menatap heran pada anak sulungnya itu.

"Baekhyun bilang ia akan menyusul. Eomma tenang saja, dia akan datang. Jadi, dimana Luhan? Kenapa Eomma tak pernah memberitahuku kalau Luhan sudah bertunangan? Dan siapa tunangannya itu?" Chanyeol langsung mencecar Nyonya Park dengan serentetan pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran.

Nyonya Park tersenyum geli lalu menarik tangan Chanyeol masuk kedalam.

"Lebih baik kau lihat saja ke dalam. Dia sangat tampan dan tinggi sepertimu, nak."

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Chanyeol langsung melesat masuk dan menuju ruang keluarga dengan rasa penasaran yang semakin tinggi. Ia ingin rasa penasarannya itu tertuntaskan sekarang juga.

Dan betapa terkejutnya Chanyeol melihat sosok yang disebut-sebut Eommanya itu sebagai tunangan Luhan. Rahangnya tiba-tiba mengeras, tangannya terkepal dengan kuat. Rasanya Chanyeol ingin menghajar laki-laki itu sekarang juga.

"Oppa!"

Luhan yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Chanyeol berdiri di dekat sofa dengan tatapan tajam yang menuju Kris. Sedangkan Kris langsung menoleh kearah tatapan Luhan dan terkejut mendapati Chanyeol yang menatapnya dengan garang.

"Oppa, kenapa kau lama sekali huh? Dimana Baekhyun eonnie? Kenapa ia tidak datang bersamamu?" Luhan menarik tangan Chanyeol dan mengajaknya untuk duduk di sofa.

Chanyeol tak menjawab, ia masih memusatkan perhatiannya pada laki-laki yang duduk didepannya dengan wajah pucat. Sungguh, rasanya ia ingin segera 'menghabisi' laki-laki ini sekarang juga jika saja tidak ada Luhan dan Eommanya dirumah itu.

"Ya, oppa! Kenapa kau menatap Kris seperti itu, huh? Apa kalian sudah saling mengenal?" Tanya Luhan dengan 'kepura-puraan' nya.

"Senang bertemu denganmu, Chanyeol-ssi." Ucap Kris secara tiba-tiba, tak lupa ia menyunggingkan senyum tipis pada Chanyeol.

Chanyeol semakin mengepalkan tangannya dengan kuat. Sungguh, situasi macam apa ini? Kenapa harus laki-laki brengsek ini yang menjadi tunangan Luhan? Apa gadis itu sama sekali tidak tahu bagaimana perangai Kris selama di Seoul? Oh, rasanya Chanyeol menyesal tidak datang ke acara pertunangan Luhan di China. Tentu saja Chanyeol akan menentangnya habis-habisan, bila perlu ia akan membunuh Kris disana.

Ditengah-tengah situasi yang menegangkan itu, ponsel milik Kris tiba-tiba berdering memecah kesunyian. Kris berdiri dan sedikit menjauh dari kakak-beradik itu untuk mengangkat teleponnya.

"Oppa, kau baik-baik saja?" Luhan mengguncang-guncang lengan Chanyeol dengan pelan. Chanyeol tetap diam, dengan lembut ia menyingkirkan tangan Luhan dan beranjak pergi.

Luhan terkekeh puas dalam hati. Tidak, seharusnya ia belum boleh puas. Karena Baekhyun belum mengetahui hal yang sebenarnya. Luhan beralih memandang Kris yang masih sibuk dengan teleponnya. Laki-laki itu, hanya Luhan gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Baekhyun. Tidak, Luhan tidak lagi mencintai Kris. Perasaannya telah hilang entah kemana. Ia sengaja mempertahankan Kris sampai Baekhyun tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dan tentunya, Eommanya –Nyonya Park juga harus mengetahui bagaimana perangai Baekhyun selama ini.

"Lu, sepertinya aku harus pergi sekarang. Tiba-tiba ada urusan yang sangat mendadak. Dimana Chanyeol dan Eommamu?" sebenarnya tidak ada urusan mendadak seperti yang dikatakan Kris. Hanya saja ia ingin lari dari situasi menjengkelkan ini. Dan juga, Kris sedikit lega karena Baekhyun tak datang bersama Chanyeol. Tapi dia yakin, sewaktu-waktu jika Chanyeol bertemu dengannya lagi, nyawanya tidak akan selamat.

"Mungkin mereka sedang di dalam. Tidak apa-apa, kau pulang saja. Nanti akan kusampaikan."

Luhan mengantarkan Kris sampai depan pintu rumahnya. Kris masuk kedalam mobilnya dan melambai pada Luhan. Lalu mobil itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah Luhan.

.

.

Baekhyun keluar dari taksi yang ditumpanginya. Ia memandang rumah megah yang ada dihadapannya. Baekhyun menghela nafasnya, lalu melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan rumah tersebut.

Mobil Porsche biru milik Chanyeol sudah terparkir disana. Baekhyun menduga Chanyeol sudah ada di dalam. Ia dengan canggung memencet bell rumah keluarga Park. Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis yang baru kali ini Baekhyun lihat.

"Baekhyun eonnie!" pekik gadis itu.

Baekhyun mengernyit menatap gadis bermata rusa yang ada di depannya. Siapa gadis ini? Kenapa dia ada di rumah Keluarga Park?

"Aku Park Luhan. Aku adik angkat Chanyeol oppa, mungkin kau baru kali ini melihatku karena beberapa tahun terakhir ini aku tinggal di China. Aku sudah melihat foto pernikahan Chanyeol oppa, dan ternyata wanita pilihan Chanyeol oppa sangat bagus." Luhan terkekeh diakhir kalimatnya.

"Masuklah, eonnie. Chanyeol oppa sudah menunggumu di dalam." Belum sempat Baekhyun membalas ucapannya, Luhan sudah menarik tangannya untuk masuk kedalam.

'Kau datang di saat yang tidak tepat, tch.' Batin Luhan dalam hati.

Luhan membawa Baekhyun menuju ruang makan dan ternyata Chanyeol dan Nyonya Park sudah berada di sana. Nyonya Park tersenyum melihat kedatangan Baekhyun dan menyambut Baekhyun dengan ramah.

"Bagaimana kabarmu, Baekhyun?"

Baekhyun membungkukkan badannya sedikit lalu tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Eommonim." Baekhyun menarik kursi yang ada di sebelah Chanyeol dan duduk diatasnya.

"Ternyata Baekhyun eonnie lebih cantik jika dilihat dari dekat daripada dilihat dari foto." Luhan menopangkan dagunya dengan tangan kirinya dan mengerlingkan mata rusanya pada Baekhyun.

"Luhan, jaga ucapan mu." Tegur Nyonya Park. "Dia adik angkat Chanyeol, Baekhyun. Mungkin ini pertama kalinya kau bertemu dengannya." Baekhyun hanya tertawa kecil menanggapi pembicaraan Ibu mertuanya.

"Chanyeol, kenapa kau diam saja?" Nyonya Park melirik heran pada Chanyeol yang dari tadi diam saja. Sejak kedatangannya kemari dan bertemu Kris, Chanyeol jadi lebih diam. Nyonya Park merasa ada yang tidak beres dengan tingkah anak sulungnya itu.

"Aku baik-baik saja, Eomma." Chanyeol menyendokkan makanannya dengan terpaksa. Sesekali ia melirik kearah Baekhyun yang bersikap tenang. Chanyeol ingin menarik Baekhyun pergi dari sini dan mengajukan semua pertanyaan yang memenuhi otaknya sejak tadi. Dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk membahas itu semua.

"Chanyeol, kapan kau akan mengajak Baekhyun berbulan madu? Eomma sudah tidak sabar untuk segera memiliki cucu. Jika masalah perusahaan adalah halangannya, kau bisa menyerahkannya pada Luhan atau Jongin, bukan?"

Baekhyun yang sedang mengunyah makanannya tiba-tiba saja tersedak. Ia cepat-cepat mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya sampai habis. Setelah merasa lebih baik, ia menolehkan wajahnya pada Chanyeol yang juga sedang menatapnya khawatir. Tapi, sedetik kemudian namja itu mengalihkan tatapannya pada Nyonya Park.

"Aku tidak ingin pergi, Eomma." Jawab Chanyeol singkat yang langsung mengundang tatapan heran Baekhyun.

Baekhyun menundukkan wajahnya, ia meremas-remas ujung baju yang dikenakannya. Kenapa sikap Chanyeol berubah seperti ini? Sejak kedatangannya kemari, bahkan Chanyeol sama sekali tidak mengajak Baekhyun berbicara.

Nyonya Park yang menyadari ada sesuatu diantara Baekhyun dan Chanyeol, menghela nafasnya dengan berat.

"Kau harus pergi Chanyeol. Itu adalah ritual wajib yang dilakukan oleh sepasang suami-istri yang baru saja menikah." Tegas Nyonya Park. Ini juga merupakan rencana Nyonya Park untuk 'menyatukan' anak dan menantunya. Ia tahu kalau pernikahan Chanyeol dan Baekhyun 'tidak sehat'.

"Aku akan memikirkannya kembali."

Chanyeol langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Baekhyun, Eomma dan Luhan di ruang makan. Luhan yang melihat sikap Chanyeol hanya bisa tertawa puas dalam hati. Oh tidak, sebenarnya Luhan tidak berniat sama sekali untuk menghancurkan Chanyeol, ia hanya berniat untuk membuat perempuan yang ada disamping Chanyeol hancur.

"Eommonim, Luhan, aku permisi." Baekhyun ikut bangkit dari tempat duduknya, membungkukkan badannya, lalu berlari menyusul Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol duduk diatas ayunan yang ada di halaman rumahnya. Kepalanya terasa sangat berat, dia tidak mengerti kenapa begitu banyak kejutan tidak menyenangkan yang diberikan padanya hari ini. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih mengingat bagaimana Kris memperkenalkan diri padanya dengan wajah tak berdosa. Bagaimana bisa laki-laki itu mempermainkan orang-orang yang di sayanginya? Luhan dan Baekhyun. Keduanya sama-sama penting baginya.

Apa Baekhyun sudah tahu hal ini?

Entah kenapa, Chanyeol tidak ingin Baekhyun mengetahui hal ini. Mungkin, jika Chanyeol mengatakan yang sebenarnya pada Baekhyun, ia tidak akan percaya. Baekhyun memang tidak pernah percaya dengan apa yang dikatakan Chanyeol. Sialnya, dia hanya mempercayai laki-laki brengsek itu.

Chanyeol menolehkan wajahnya kesamping saat ia merasakan ayunan di sebelahnya bergerak. Matanya sedikit membulat begitu melihat Baekhyun duduk diatas ayunan tersebut.

Baekhyun menghentikan ayunan kakinya, ia menatap Chanyeol lurus-lurus tepat ke manik mata suaminya. Cukup lama mereka berdua bertatapan dalam diam. Baekhyun bisa melihat sorot mata sedih Chanyeol yang mengarah padanya. Hatinya berdesir, lagi-lagi perasaan aneh itu datang.

Sedangkan Chanyeol bisa melihat kerapuhan yang ada pada diri istrinya itu lewat kedua mata sipitnya. Meskipun Baekhyun tidak menunjukkan itu, Chanyeol bisa merasakannya. Chanyeol mengangkat tangannya dan mengelus pipi kanan Baekhyun dengan lembut. Membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya dan merona hebat.

Baekhyun menepis tangan Chanyeol dengan lembut.

"Kenapa kau pergi begitu saja?" Baekhyun membuka pembicaraan lebih awal. Ia kembali pada posisinya dan menatap lurus kearah pohon yang tak jauh dari tempatnya duduk.

"Aku hanya ingin mencari udara segar." Jawab Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari Baekhyun.

"Kenapa…kenapa kau menolak permintaan Eomma?"

Chanyeol tersenyum tipis, "Bukankah kau tidak menginginkannya? Aku akan mencari alasan lain agar Eomma tak memaksa kita lagi."

"Kau bahkan tak pernah meminta pendapatku." Jawab Baekhyun dengan dingin.

"Karena aku tidak ingin memaksamu, Baekhyun."

"Chan…yeol, kenapa kau bersikap dingin seperti ini?"

Baekhyun berdiri dari ayunan-nya. Berdiri di depan Chanyeol dan menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol sedikit terperangah oleh pertanyaan yang diajukan Baekhyun. Biasanya, Baekhyun tidak akan peduli dengan sikapnya. Bahkan perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu tidak pernah memperhatikannya. Dan tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh pertanyaan Baekhyun barusan.

Chanyeol terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana. Ia membuang pandangannya jauh-jauh, asal tidak menatap Baekhyun. Ia belum siap untuk mengatakan apa yang ia rasakan saat ini. Ia hanya takut, takut perempuan itu semakin terluka. Kenyataan bahwa orang yang ia cintai –Kris tidak sebaik yang ia pikirkan. Dan mungkin saat ini Baekhyun masih terbebani dengan pernikahannya dengan dirinya.

"Sebaiknya kita masuk ke dalam. Eomma pasti khawatir dengan kita." Ucap Chanyeol. Ia berdiri dan masuk ke dalam rumah, tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun dan meninggalkan perempuan itu sendirian.

Baekhyun merasakan matanya memanas dan mulai berair. Ia begitu terluka dengan sikap Chanyeol yang tidak seperti biasa. Berbagai pikiran buruk datang menghampirinya. Mungkinkah Chanyeol sudah bosan? Mungkinkah Chanyeol sudah lelah menghadapinya selama ini? Mungkinkah…Chanyeol tidak mencintainya lagi?

Andai saja Baekhyun tahu, Chanyeol bersikap dingin bukan karena semua itu.

'Sudah terlambat untuk menyesal, Baekhyun.' Batin Baekhyun dalam hati.

.

.

.

.

"Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan anda, Park Chanyeol."

Chanyeol tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Kim Junmyeon –presdir Kim Corp yang memiliki wajah angelic tersebut. Chanyeol sedikit lega kenyataannya Junmyeon sama sekali tidak kecewa karena meeting minggu kemarin di batalkan karena insiden Baekhyun.

"Kau harus bangga, Baekhyun-ssi. Karena kau memiliki suami yang berotak jenius seperti Chanyeol." Junmyeon melirik Baekhyun yang berdiri di samping Chanyeol. Perempuan itu sedikit tersipu karena ucapan Junmyeon.

Setelah itu, Chanyeol dan Baekhyun memutuskan untuk kembali ke kantor. Chanyeol melangkahkan kakinya dengan cepat, membuat Baekhyun kesulitan untuk mensejajarkan langkahnya. Chanyeol juga tidak menggandeng tangan Baekhyun seperti biasanya. Laki-laki itu menjadi lebih dingin saat ini. Sudah empat hari Chanyeol bersikap demikian. Awalnya, Baekhyun memutuskan untuk tidak peduli. Tapi lama kelamaan, ia merasa aneh dengan sikap Chanyeol. Baekhyun ingin bertanya, tapi ia tidak ingin memulainya lebih dulu. Egonya masih terlalu tinggi.

Sekarang, mereka berdua sudah duduk di dalam mobil. Tak ada yang membukakan pintu mobil untuk Baekhyun, seperti biasanya. Tak ada juga yang mengingatkan Baekhyun untuk memakai seatbelt nya dengan benar. Chanyeol sama sekali tidak membuka mulutnya, bahkan sejak kedatangan mereka di Kim Corp.

Chanyeol melajukan mobilnya dengan santai. Ia sangat bahagia atas keberhasilannya menjalin kerjasama dengan Junmyeon, sampai-sampai ia mengacuhkan perempuan di sampingnya. Ia baru menyadari sejak tadi ia sama sekali tidak mengajak Baekhyun bicara.

"Kau ingin makan siang, Baek?" Chanyeol memecah keheningan yang tercipta diantara mereka. Moodnya yang mulai membaik membuat sikap Chanyeol berubah kembali menjadi seperti biasa.

Baekhyun menggeleng, "Aku sudah kenyang."

"Bahkan sejak pagi tadi kau belum mengisi perutmu dengan apapun. Jangan berbohong." Chanyeol terkekeh pelan. "Ayo kita makan siang." Ajaknya.

Drrttt..drrtttt…

Ponsel Baekhyun yang diletakkan diatas dashboard mobil tiba-tiba bergetar. Baekhyun meraih ponselnya dan melihat nama Kris tertera disana. Tanpa menunggu apapun, ia langsung mengangkat telepon dari Kris.

"Ada apa Kris?"

"Aku baru saja selesai meeting. Aku tak sempat membalas pesanmu."

Chanyeol melirik Baekhyun sekilas lalu mendecih. Mood nya tiba-tiba menurun drastis.

"Aku sedang bersama Chanyeol untuk pergi makan –akh!"

Chanyeol mendadak menginjak rem-nya. Membuat kepala Baekhyun terantuk kedepan. Perempuan itu mendengus kesal.

"Kris, nanti aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa." Baekhyun memutuskan teleponnya dengan Kris. "Apa yang kau lakukan, hah?!" baekhyun menatap Chanyeol dengan tajam. Ia sungguh benar-benar tidak mengerti dengan sikap Chanyeol.

Tapi laki-laki itu malah tersenyum sinis. "Bisakah kau tak bermesraan dengan laki-laki sialan itu di depanku, Baek?"

Baekhyun mulai tersulut emosi saat Chanyeol berkata demikian. "Kau bahkan tak mengenalnya dengan baik, Chanyeol. Kris sepuluh kali lipat lebih baik darimu."

"Benarkah? Kau tidak tahu kalau selama ini Kris…"

Chanyeol menggantungkan kalimatnya. Hampir saja ia ingin membocorkan kalau selama ini Kris sudah memiliki tunangan, dan selama ini Kris hanya mempermainkan Baekhyun. Chanyeol tidak ingin Baekhyun tahu….

"Kenapa kau tiba-tiba diam? Ada apa dengan Kris?! Katakan padaku, Park Chanyeol!" Baekhyun berteriak di depan wajah Chanyeol, tapi Chanyeol membisu seketika.

Baekhyun mendecih karena Chanyeol tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Kalau kau ingin membuatku untuk melihatmu dan melupakan Kris, kau tidak perlu mencemarkan nama Kris di depanku, Chanyeol." Baekhyun melepaskan seatbelt nya. Ia baru saja akan membuka pintu mobil, hendak keluar dari mobil Chanyeol. Tapi tangan Chanyeol menahannya. Ia menarik Baekhyun kedalam pelukannya. Memeluk Baekhyun dengan erat sampai membuat perempuan itu terasa sesak. Baekhyun meronta, mendorong tubuh Chanyeol sekuat tenaganya namun sia-sia.

"Aku mencintaimu…Baekhyun." Lirih Chanyeol, terdengar seperti orang yang putus asa. Memang benar, Chanyeol sudah berada diujung kesabarannya menghadapi kehidupan pernikahannya. Dia ingin Baekhyun melupakan Kris, dan beralih pada dirinya. Ia ingin Baekhyun hanya melihatnya saja. Karena entah sejak kapan, Baekhyun benar-benar menempati posisi terpenting di hatinya. Bukan lagi Baekhye, saudara kembarnya. Chanyeol sudah yakin ia benar-benar mencintai Baekhyun.

"Aku tidak mencintaimu Chanyeol, lepaskan aku!"

"Kau bohong Baekhyun. Kau mencintaiku, bahkan kau hampir seperti orang gila setiap kali melihatku dengan Baekhye. Kau masih mencintaiku Baekhyun, kau belum bisa melupakanku."

Baekhyun merasakan tubuhnya melemah, semua yang dikatakan Chanyeol benar. Ia memang belum bisa melupakan Chanyeol dan masih sangat mencintai Chanyeol. Baekhyun hanya belum siap untuk mengakui itu semua.

Chanyeol melepaskan pelukannya pada Baekhyun yang menundukkan wajahnya. Ia tersenyum miris, jika Baekhyun masih mengira Chanyeol menikahinya hanya karena Baekhye, entahlah…sepertinya laki-laki itu akan menyerah.

Jemari Chanyeol menyentuh dagu Baekhyun, dan sedikit memaksa agar Baekhyun mengangkat wajahnya. Chanyeol bisa melihat mata Baekhyun yang memerah, ia menangis. Baekhyun berusaha mengalihkan tatapannya, asal ia tidak menatap Chanyeol. Tapi, Chanyeol malah menekan tengkuk Baekhyun, membuat wajah mereka berdua berdekatan. Hidung mereka bersentuhan. Baekhyun bisa merasakan napas Chanyeol yang hangat menggelitik hidungnya. Dan Chanyeol bisa merasakan hidungnya basah karena tetesan air mata Baekhyun.

"Lupakan Kris, Baekhyun. Dia bukan laki-laki yang baik untukmu…"

Belum sempat Baekhyun menjawab, bibir Chanyeol sudah lebih dulu mengunci bibir Baekhyun. Chanyeol menempelkan bibirnya pada bibir merah Baekhyun dan sedikit melumatnya. Ia tidak peduli jika Baekhyun tidak membalasnya.

Baekhyun merasa tubuhnya tersengat aliran listrik yang sangat kuat. Perlakuan Chanyeol yang tiba-tiba ini membuatnya melayang. Ciuman dari Chanyeol adalah hal yang Baekhyun inginkan sejak dulu. Ia ingin membalasnya, tapi lagi-lagi egonya menahan dirinya. Karena itu, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol dengan kuat hingga ciuman Chanyeol pada bibirnya terlepas.

"Mianhae Chanyeol." Ucapnya dengan suara yang terdengar parau. "Aku akan mencoba melupakan Kris." Lanjutnya dalam hati.

.

.

.

.

Tbc.

a/n : gilakk ini chapter terabsurd yang aku buat T^T maaf updatenya lama, writers block menyerangku secara tiba-tiba lagi gak mood akhir2 ini buat lanjtuin ff, feelnya gatau kemana…sampe frustasi ini jalan cerita mau dibawa kemana T^T maaf kalau chapter ini mengecewakan dan gak jelas, seperti yang tadi aku bilang. Lagi kena writers block dan maksain buat nulis…

terima kasih juga buat sarannya tentang penggunaan bahasa korea dalam ff. tapi entah kenapa kalo kubuat jadi bahasa indo agak anehh, dan soal apik/tidak bahasanya aku minta maaf, karna aku juga baru enam bulan ada di dunia ff dan kemampuan nulis masih acak-acakan hehehe

Btw, terharu baca review kalian. Makasih jg buat yg udh pada nanya kapan ff ini berlanjut, dan maaf yang sebesar-besarnya baru dilanjut skrg dan hasilnya mengecewakan..

Sumpeh, ini note terngenes yang pernah aku buat /nangis dipangkuan chanyeol/ sepertinya ff ini bakalan discontinue…ah tapi gataudeh tergantung akunya aja hehehe, mian.

Sekali lagi, minta maaf banget kalo chapter ini mengecewakan.

Thanks to

devrina | fardaridah16 | nanacputri1 | mpiet lee | bbaeksong92 | belove | Parkbaekyoda | septhaca | narsih hamdan | Sniaanggrn | calipride | novitawahyuu | CussonsBaekBy | Rina972 | bellasung21 | beng beng max | Shallow Lin | exindira | Yesha1214 | chanbaekyu | vitCB9 | Aku adalah aku | Bunga654 | cucu200293 | Hunhan-111220 | flameshine | Rachel suliss | HanByYoon-Ae | chapira dwii | Guest | Syifa Nurqolbiah | babyxing | PCYpunyaBBH | thestarbaek0506 | SyiSehun | rillakuchan | younlaycious88 | kolorful Chanyeol | Guest | Rly C JaeKyu | cynemo | karwumonica | Kachimato

.