Disclaimer © kimsangraa

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~

N.B : Kai is a property of me—I mean, of Kyungsoo / Kai is Kyungsoo's, dan sebaliknya, kkk.

Annyonggg! Back with me! Oke, ada tokoh baru, hwehwehwe. Ini adalah part empat, yang saya peringatkan, yang nggak mau baca ya back aja, oke? No copas, no plagiat, and no, no yang lainnya.

.

.

Happy reading!

.

.

Krystal mengangguk malas pada temannya. Bibirnya dikerucutkan, berkali-kali ia mengibaskan rambutnya di dalam kafe yang suhunya tidak panas juga tidak dingin ini. Choi Sulli, nama temannya.

"Jadi, Kryst, kakek benar-benar menjodohkanku dengan lelaki itu!"

Krystal memutar bola matanya, capek. Lalu sembari menyeruput mocca dingin, ia menjawab omongan Sulli. "Apa enaknya dijodohkan sih?" tanya Krystal—pertanyaan ini sempat disimpannya dalam waktu yang lama.

"Ya… dia keren, sih. Aku suka."

"Oh?" Krystal menopang dagunya. "Keren?"

"He-em."

Sulli menganggukkan kepalanya dengan semangat. Krystal menghela nafas kuat-kuat, sampai beberapa helai rambutnya juga ikut bergerak.

"Kalau kau melihat dari luarnya saja, sama saja kan seperti kau menatap kakak sepupumu, aktor Choi Siwon itu? Dia juga tampan, keren, berotot. Dan tidak ada yang memaksanya mengikuti perjodohan. Orang sekarang yang tidak mengerti pasti berkata perjodohan itu bodoh." kata Krystal.

Sulli menekuk wajahnya. "Kakakmu juga ikut perjodohan, kan?"

"Mereka berdua sudah menjadi teman sejak sekolah dasar. Dan awalnya pun keduanya sudah saling memberi perhatian."

"Dasar tidak asyik."

"Aku hanya merasa kasihan pada cucu kakek itu. Hidupnya pasti tidak enak harus mendampingi seorang anak manja dari keluarga Choi." balas Krystal. Sulli menyatukan alisnya.

"Apa maksudmu, Nona Jung?" tanya Sulli, intonasinya terdengar dingin. Krystal mengangkat bahunya.

"Aku hanya tidak setuju dengan taktikmu, Nona Choi. Cucu keluarga itu akan sangat tertekan menghadapi ini. Aku tidak setuju. Sampai. Kapanpun." kata Krystal, mengangkat Gucci-nya dengan gerakan halus, lalu melenggang keluar, meninggalkan Sulli yang menghentakkan kakinya kesal.

Lihat saja, Krystal, kau juga akan terpesona dengan cucunya.

.

.

Kyungsoo tengah membaca-baca novel misteri ketika ibunya memanggil dari arah dapur.

"Kyungsoo, bisakah kau membeli beberapa gula di toko depan perumahan?"

Ia menaruh novel itu di atas rak buku kecil, dan melangkah memasuki dapur. "Ya, kira-kira berapa butir?" tanya Kyungsoo. Ibunya hanya tertawa kecil seraya memberi uang.

"Dua bungkus, yang setengah kilogram."

"Oke."

Kyungsoo menuju garasi mobil, dimana sepeda merahnya berada. Kyungsoo menaikinya, membuka pagar rendah dengan ia masih berada di atas sepeda, lalu mengayuhnya keluar. Sejenak ia terdiam, sore hari ini semuanya terasa lebih menenangkan—atau perumahannya saja yang sepi?

Sejak kejadiannya bersama Jongin, Kyungsoo jadi lebih merasa paranoid kalau ada lelaki separuh baya yang memperhatikannya. Atau ada lelaki berandalan yang duduk di sebelahnya di subway. Atau jika ia sendirian melewati gang kecil. Untunglah Kyungsoo bisa beberapa teknik taekwondo, jadi ia merasa masih aman.

Toko 24-jam yang berada beberapa meter di sebelah pintu masuk perumahannya itu juga agak sepi. Kyungsoo turun, memarkir sepedanya di ujung, lalu memandang mobil sport berwarna merah marun di sebelahnya. Mengkilap sekali. Kyungsoo melihat beberapa hiasan yang terpasang di dashboard dan menyimpulkan kalau pemiliknya adalah seorang gadis.

"Nanti kau bisa membelinya. Nanti, sabar, Kyungsoo." gumamnya seraya tersenyum kecut.

Kyungsoo memasuki toko itu dengan santai. Ia akan membeli gula, dan beberapa camilan kecil. Ketika ia bingung ingin membeli stik coklat atau biskuit keju, ia merasa seseorang menepuk bahunya dengan gerakan pelan dan sedikit menyentak. Kyungsoo menoleh dengan tergesa.

"Onii-chan?"

Seorang gadis tinggi dengan rambut kecoklatan dan manik biru bersinar menyapanya. Kyungsoo mengernyit dengan wajah lucu—gadis itu tertawa.

"Ah! Krystal! Benar, kan?"

Krystal tersenyum manis. Dipeluknya lelaki bermata bulat itu dengan sayang sejenak, lalu dilepasnya lagi. Krystal memerhatikan keseluruhan wajah Kyungsoo yang balas menatapnya dengan lucu.

"Ah, kawaii~! Onii-chan, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini! Aaaah! Aku kangen sekali denganmu! Onii-chan sekarang godeung haksaeng /siswa SMA/ kelas tiga ya?" tanya Krystal. Kyungsoo mengangguk, lalu berpikir kalau Krystal kelas dua.

"Iya… Kau sendiri? Pindah ke sini?" tanya Kyungsoo, memutuskan mengambil biskuit keju, lalu berjalan ke arah rak yang berisi bumbu-bumbu. Krystal mengikutinya.

"Iya, aku mengikuti ayahku yang dipindah ke sini. Bagaimana kabar Do-ahjumma?" tanya Krystal. Kyungsoo mengangkat bahu sembari mengambil dua plastik gula dengan berat setengah kilogram.

"Baik-baik saja. Kau sudah berapa bulan di Korea?"

"Eummm… lima bulan? Ah, iya. Benar. Apa… Do-ahjumma ada di rumah? Boleh aku mampir?" tanya Krystal. Kyungsoo mengangkat bahu lagi.

"Boleh saja, Kryst. Kau ke sini dengan apa?"

"Mobil."

"Ohh…"

Kyungsoo tertawa kecil dalam hati ketika mengingat bagaimana wajahnya saat menatap mobil merah tadi. Ia menuju kasir, dengan Krystal yang membawa belanjaan di belakangnya, ia membayar.

"Kukira tadi mobil merah marun ini milik siapa, ternyata milikmu, ya?" tanya Kyungsoo. Krystal tertawa sambil memasuki mobilnya.

"Ya… begitulah, haha. Ayah tidak mengijinkanku berkeliaran tanpa kendaraan pribadi." katanya, memasukkan kunci dan memutarnya menuju tulisan 'on', dan menyalakannya.

Kyungsoo mengangguk ringan, mengerti bagaimana Jung-ahjussi memang agak protektif pada Krystal, dan eonni-nya, Jessica. Lelaki itu mulai mengayuh sepeda perlahan, seraya memberi waktu pada Krystal untuk mengikuti di belakang.

.

.

Hari Senin.

Orang bisa menganggap hari ini apapun. Menyenangkan menurut Sehun, suram menurut Kai, biasa saja menurut Chanyeol serta Baekhyun, dan rasa yang tidak dapat dideskripsikan menurut Kyungsoo.

Sehun bilang hari ini menyenangkan karena kemarin dia baru saja kencan dengan Luhan. Ia belum menyatakan perasaan pada lelaki berparas cantik itu, walaupun ia berpikir kalau seorang Luhan bisa membuat jantungnya bagai berdebum keras setiap detakan.

Kai bilang hari ini suram, karena ia memang sangat tidak berniat untuk masuk sekolah karena masalah yang sedang mengganggunya. Jadi dari tadi ia hanya duduk di mejanya, mendengarkan lagu dari i-Pod, mengabaikan gadis-deul yang berteriak-teriak karena bersyukur Kai tidak apa-apa, dan sesekali memandang Kyungsoo yang juga terdiam.

Biasa saja menurut Chanyeol dan Baekhyun, karena memang hari ini Senin seperti biasa. Senin yang mengandung jadwal matematika, lalu jam kedua bahasa, jam ketiga biologi, dan terakhir bimbingan konseling umum yang tentu saja sangat membosankan.

Tidak dapat dideskripsikan menurut Kyungsoo, karena hari ini, Kai memutuskan untuk masuk. Lelaki bermata doe itu hanya terdiam di kursi dengan ekspresi yang membuat semua orang ingin mencubit pipinya. Tapi memang sudah ada yang melakukan sih—Kyuhyun si jahil dari kelas sebelah yang kebetulan lewat tadi pagi.

"Jadi anak-anak, persamaan rumus ini terhadap ini adalah bla-bla dikali bla-bla, lalu diakarkan, jadilah angka yang terdiri dari ini-ini, selanjutnya dikali dengan itu, maka hasil akhirnya adalah susah sekali."

Suara Mistress Han berubah di otak Kyungsoo. Lelaki itu tak mampu berbuat apa-apa untuk membetulkan otaknya, sekeras apapun hari ini ia berusaha—

—yang ada di pikiran Kyungsoo hanyalah seorang lelaki di sebelah kanan—Kai, Kai, dan Kai. Dan mungkin aroma green-tea-nya yang membuat Kyungsoo dari tadi menghirup dalam-dalam agar aroma itu masuk ke pernapasan dan membuatnya kembali tenang.

Menyukai seorang lelaki tentu bukan suatu keputus-asaan bagi Kyungsoo. Terlebih lelaki yang disukainya itu Kim Jongin. Jadi—

"Kyungsoo, jangan melamun. Perhatikan pelajaran saya dengan baik." ucap Mistress Han. Kyungsoo segera mengedipkan matanya.

"Ne, Mistress Han, jwesonghamnida."

Ketika Mistress Han sudah berkutat dengan papan tulis penuh rumusnya, maka Kyungsoo akan kembali berimajinasi tentang Kai.

Hal itu terus terjadi selama hari ini. Seperti sebuah siklus—siklus dadakan yang membuat Kyungsoo sendiri bingung kenapa ia jadi seperti ini. Sebenarnya, ia ingin cepat-cepat menyampirkan tasnya dipunggung dan berjalan pulang ke rumah, tapi ada hal yang ingin ia sampaikan ke Kai, maka ia menunggu.

Jika melirik Kai, ia akan melihat pandangan kosong lelaki tan itu ke papan tulis. Ia nyaris tak bisa melawan hawa nafsunya untuk mengajak Kai mengobrol—tapi setelah itu dengan tarikan nafas pelan dan hembusan perlahan, ia bisa menetralkan keinginan itu.

Kyungsoo berharap semuanya lebih cepat selesai.

.

.

Kriiinnnnggg!

"Untuk nama-nama yang saya panggil, tolong tinggal di sini dulu!"

Anak-anak yang sudah siap meninggalkan kelas terduduk lagi dengan wajah lesu. Kai terduduk di kursi, menunggu sampai guru konseling itu selesai membacakan nama, dan ia akan keluar dari sini.

Mungkinkah waktu belum memberinya kesempatan?

Ia ingin bertanya pada Kyungsoo tentang kemarin, tapi tadi ditengah pelajaran bimbingan konseling umum, Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol dipanggil lewat pengeras suara, karena pesta ulang tahun sekolah tinggal sebentar lagi dan mereka harus latihan.

Jadi selama sisa jam pelajaran BK, Kai hanya mengumpulkan kertas yang ia remas menjadi bulatan kecil, dan melemparkannya ke Sehun terus menerus—yang maknae itu hanya mengaduh tanpa bisa membalas apa-apa karena Kai begitu cekatan untuk menghindar.

Sekarang semua sudah selesai—Kai menatap jam tangannya. Ia sudah seperempat jam duduk di sini sejak guru konseling selesai membacakan nama, jadi sekarang sudah pukul satu lebih lima belas menit.

Kai menghela nafas, mengabaikan para gadis yang berteriak karena ulah 'keren'nya—atau mereka yang terlalu berlebihan—dan Kai keluar kelas lewat pintu yang tidak dipenuhi para gadis.

Ia berjalan dengan kedua tangan di saku celana—setelahnya memutuskan untuk duduk di kursi pemisah ruang latihan tari dan ruang latihan vokal. Kai merenungi, apa yang ia lakukan ketika hubungannya dengan Kyungsoo semakin dekat. Sadar, ia menghela nafas, ia tidak lagi menggunakan piercing, kalung hitam berbandul emoticon yang aneh, atau aksesoris lainnya yang memperlihatkan ia adalah bad-boy.

Tapi di saat setelahnya—setelah ia kedapatan masalah seperti ini—keinginannya menyeruak lagi untuk menjadi seseorang yang melawan arah. Ia benci terhadap orang-orang yang tidak memiliki pemikiran sama dengannya. Ia benci orangtuanya yang seperti ini kepadanya. Ia hanya ingin bebas, tapi sepertinya waktu belum mengizinkan.

Ia menghela nafas berat lagi sembari memejamkan onyx-nya yang mulai berkantung mata. Ia berangan-angan, jika tangan Kyungsoo tiba-tiba melingkari lehernya, menciumnya dengan hembusan nafas—memberikan suatu ketenangan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Alih-alih mendapat ketenangan, sesaat kemudian, ia malah mendengar derap langkah kaki, lalu matanya terbuka. Sosok pertama yang dilihat Kai di koridor adalah siluet seorang gadis.

"Maaf—"

Gadis dengan tubuh tinggi itu tampak terengah-engah begitu sampai di sisi Kai. Rambut panjangnya agak berantakan, tapi tetap saja tak mengurangi sisi kecantikannya. Kai terdiam memperhatikan sampai gadis itu mengangkat sebelah lengannya.

"Maaf, apa sunbae tahu dimana Do Kyungsoo? Dia anak kelas dua."

Kai mengangguk ringan. "Aku tahu. Kau siapa?"

"Sepupunya, Jung Krystal imnida." jawab gadis itu, kali ini tangannya dengan sekilas membetulkan tatanan rambutnya.

"Baiklah, tunggu sebentar."

Kai berdiri—melangkahkan kakinya ke ruang latihan vokal. Ia melihat ke kaca, dan dengan itulah ia dapat melihat sosok berwajah polos sedang terdiam. Walaupun kelihatan polos, nyatanya Kai tahu lelaki itu merasa kelelahan.

"Kyungsoo." panggilnya.

Lelaki itu tak bergeming. Matanya seperti sedang mengamati satu objek di ruangan itu—kelihatan melamun—padahal teman-teman yang lainnya sedang asyik bersenda gurau, memanfaatkan jam istirahat yang hanya sebentar untuk melemaskan diri.

"Kyungsoo!"

Intonasi Kai yang tinggi tampak mengagetkan Kyungsoo. Semuanya terdiam—Kyungsoo berjalan menuju pintu untuk bertanya apa maksud Kai meneriakinya tadi. Setelah pintu terbuka, mereka bertatapan sejenak, mencoba meraih sedikit momentum kerinduan yang ada.

Sebenarnya tidak ada yang ingin mengalihkan tatapan itu, tapi Kai lebih cepat sadar kalau ini bukan waktu yang tepat.

"Ada seorang gadis bernama Jung Krystal mencarimu." ucapnya perlahan. Kyungsoo melihat ke belakang Kai, dimana Krystal tampak berada di sana.

"Krystal? Ada apa?"

"Ah, Onii-chan! Ada tamu penting yang mau datang ke rumah seperempat jam lagi. Do-ahjussi memintaku untuk menjemputmu."

Kyungsoo dan Kai berpandangan lagi dalam sejenak.

"Baiklah… Aku ijin dulu ke Mistress Song."

Kyungsoo meninggalkan Kai dan Krystal untuk masuk ke ruang latihan vokal. Dua orang yang ditinggalkan terdiam, sebelum Krystal memutuskan untuk bertanya siapa lelaki tampan di depannya.

"Sunbae teman baik Kyungsoo-oppa?"

Kai mengangguk. "Bisa dibilang begitu. Tapi kami sedang bertengkar." ia menambahkan dengan senyum masam. "Kim Jongin imnida, tapi teman-teman biasa memanggilku Kai."

Krystal mengangguk paham. Entahlah, walaupun seingatnya ia tidak pernah mengenal lelaki ini, tapi namanya terkesan familiar di pendengaran Krystal. Rasanya seperti ia pernah mendengar seseorang mengatakan nama ini—tapi… siapa?—ia mengabaikan fakta itu sesaat.

"Kau sekolah dimana?"

"Sonyeo School. Aku baru kelas dua." jawab Krystal sembari tersenyum. Kai hanya diam sebagai reaksi. Krystal mencoba memicu obrolan. "Mmmm, karena Kai-sunbae adalah teman baik Kyungsoo-oppa, maka sebaiknya kuberi tahu satu hal yang lucu tentangnya, yang sepertinya baru aku yang tahu hal ini."

Kai mengernyit. Gadis di depannya tampak sedang mencari perhatian atau apa—tapi ia mengabaikannya. Toh, informasi yang hendak diberitahukannya berkaitan dengan Kyungsoo. "Memangnya apa?"

Krystal mengikik kecil sebelum berkata. "Ia takut dengan badut. Dan ia juga fobia kegelapan."

Kai membulatkan matanya. "Badut? Maksudku, orang yang takut dengan kegelapan memang biasa, tapi—'badut'?"

"Hm!"

Mereka tertawa bersama, sebelum Kyungsoo datang dengan tas di punggungnya. Bibirnya membentuk lengkungan pelangi—ia sedikit menampakkan raut tidak suka melihat lelaki yang disukainya dan gadis lain tertawa bersama, walaupun itu sepupunya sendiri.

"Ah, Onii-chan, ayo kita pulang. Kai-sunbae, kami pulang dulu!" kata Krystal sambil melambai—satu tangannya menggandeng lengan Kyungsoo.

Kai balas melambai, kali ini dengan senyum menghiasi wajahnya. "Terimakasih atas hiburannya, Krystal. Hati-hati."

Kai dan Kyungsoo berpandangan selama beberapa detik, sebelum Kyungsoo berbalik arah sambil menarik Krystal agar mereka berjalan cepat ke mobil.

Sekali lagi Kai menghela nafas. Kenapa menyelesaikan satu masalah saja susah seperti ini?

.

.

"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda, Tuan Choi."

Kyungsoo tersenyum. Kali ini bibirnya membentuk lengkungan pelangi terbalik—walaupun terpaksa, tapi Kyungsoo sangat pandai menyembunyikan perasaan itu.

"Senang bertemu denganmu, Nak. Ini anakku, Sulli." balas Tuan Choi, menepuk bahu Sulli agar gadis itu memperkenalkan dirinya.

"Choi Sulli imnida."

"Do Kyungsoo imnida."

Suara mereka berdua sama-sama enggan.

Walaupun Kyungsoo pintar menyembunyikan perasaan, di sisi lain ia juga peka terhadap apa yang dirasakan orang lain. Tuan Choi begitu ramah, menurutnya, tapi senyum anaknya tidak seperti yang ayahnya lakukan. Seperti ada sesuatu yang lebih penting dilakukan daripada berkunjung ke rumah relasi kerja ayahnya.

Selanjutnya, para orang tua terlibat dalam obrolan seru tentang bisnis. Sulli sibuk dengan ponselnya, Kyungsoo terdiam di sofa sebelah ibunya sambil sesekali menjawab apapun yang ditujukan untuknya, sementara Krystal yang katanya tidak ada urusan untuk bertemu Sulli sedang membaca koleksi komik di kamar Kyungsoo.

Lama-kelamaan Kyungsoo jengah.

"Kyungsoo, Sulli, kalian bisa ke ruang tengah untuk mengobrol. Panggil Krystal juga kalau bisa, ya!" ujar ayah Kyungsoo ramah. Sementara Tuan Choi hanya tersenyum.

Kyungsoo memasuki ruang tengah, diikuti Sulli yang tampak malas di belakangnya. Mata gadis itu tidak teralihkan dari ponsel pintar yang dipegangnya. Kyungsoo tidak ada apapun untuk dibicarakan, jadi ia hanya diam saja didepan gadis itu. Mereka terdiam sampai sekitar sepuluh detik sampai kemudian Sulli membuka percakapan.

"Kau punya pacar?"

Kyungsoo terdiam—ia butuh beberapa detik untuk menjawab pertanyaan itu. Punya? Atau tidak? Bukan Kyungsoo berpikiran macam-macam, tapi dengan perlakuan Kai yang ambigu… bolehkah ia mengatakan—

"Hey, kau dengar aku tidak?"

"Ah, maaf. Tidak, aku tidak punya pacar."

Sulli memainkan rambut panjang ikalnya, tidak lagi sepenuhnya fokus pada smartphone yang masih tergenggam. "Begitu. Aku ikut perjodohan."

Kyungsoo mengangkat kepalanya. "Perjodohan? Apa kau keberatan dengannya? Maksudku—biasanya orang yang ikut perjodohan akan…"

"Ya, aku tahu maksudmu." sela Sulli, gadis itu menggaruk belakang kepalanya, seolah malu-malu untuk mengatakan kalimat selanjutnya. "Tapi aku menyukai lelaki itu dan… em…"

"Lelaki itu juga menyukaimu?"

Kyungsoo tersenyum cerah—ia yakin tebakannya benar ketika melihat Sulli tersenyum kaku. Sulli tidak seburuk yang ia kira ternyata.

Tapi yang terjadi sebenarnya—gadis itu telah menempatkan diri ditengah situasi yang sulit.

~TBC~


Note :

Geurae wolf, naega wolf, auuuuuuu, a~saranghaeyo~! Semuanya cakeeeppppp! CAKEP! Cakepun bin bangetun! YOHOOOWS! *menggila*

And... yah, saya mau curcol aja. First, I give a big thanks to sonewbamin [i love you!] because she helped me much. Second, oke, saya agak gimana gitu sama tmn2. Soalnya mereka tau kalo saya ChanBaek-hardcore-shipper tapi mreka mlah pada bikin HunBaek sama KaiBaek [yang of course saya jadi agak sebel gitu, mereka ngehanyutin di belakang sih] [ya itu sebenernya terserah mereka sih] [hidup mereka] [urusan mereka] [whatever] [masa labil].

Udah deh, daripada saya malah ngomong yang nggak-nggak. Ini salah saya juga yang terlalu egois sama ChanBaek [i love chanbaek couple so much].


Review yah? Please, your review is a support for make a next part, it's for real.