Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata
Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.
Warning:
Yaoi inside!Don't like, don't read! Simple right?
Terima kasih. Selamat membaca!
.
.
.
{{Part 3}}
.
.
.
Musik itu mengalun memenuhi aula. Dan seketika itu juga Jongin ternganga.
Uke ini... uke ini...
Antusiasme langsung memenuhi diri Jongin, membanjirinya, ini adalah rasa yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Baekhyun memainkan setiap gesekan nada dengan begitu mudahnya, seolah setiap nada bukanlah sesuatu yang sulit untuknya. Padahal musik yang dia mainkan membutuhkan latihan intensif dan konsentrasi tersendiri. Tchaikovsky tentu saja adalah favorit Jongin. Dia menguasai semuanya, dan suka mendengarkannya, amat sangat tahu tingkat kesulitannya.
Baekhyun memainkannya dengan begitu mudah, gerakan tangannya menggesek biola, berpadu dengan jemarinya bergerak secara alami, semuanya begitu sempurna. Uke ini memiliki bakat alami, hanya saja belum terasah benar.
Jantung Jongin berdebar, anak ini adalah berlian yang belum diasah. Jongin tidak bisa melepaskannya begitu saja, antusiasme yang dibawa oleh nada-nada yang dimainkan oleh Baekhyun memberikan perasaan meluap-luap di dadanya, membuatnya ingin bermain. Dia langsung berdiri, melirik ke arah salah satu pegawai yang dengan sigap mengerti maksudnya. Pegawai itu langsung mengantarkan biolanya yang dengan hati-hati diletakkan di meja khusus.
Tentu saja Jongin tidak menggunakan biola berharga yang diwariskan oleh ayahnya, biola dari ayahnya adalah Stradivarius, buatan abad ke 17, salah satu dari biola langka dan Jongin amat sangat menjaga biola itu yang sekarang diletakkan di kotak kaca di rumah mamanya. Biola yang sering dipakai Jongin sekarang sangat mahal dan langka, diberikan oleh seorang komposer di Austria sebagai hadiah atas kekagumannya akan permainan biola Jongin, dibuat ratusan tahun yang lalu. Biola ini dibuat untuk Paganini tahun 1759, seorang pemain biola luar biasa, terkenal jenius dengan permainan biola yang sangat brilian. Biola Paganini sangat sulit dimainkan karena perbedaan yang kontras antara nada tinggi dan nada rendahnya, membuat sang violinist haruslah orang yang benar-benar ahli, tetapi jika dimainkan dengan baik hasilnya sepadan, suara yang dihasilkannya amat sangat indah, bening dan memukau. Hanya ada beberapa violinist di dunia yang mampu memainkan biola Paganini dengan baik, Jongin adalah salah satu orang yang istimewa itu.
Setelah biola berada di tangannya, Jongin membuka tempatnya, mengambilnya, lalu berdiri, dan kemudian masuk ke tengah musik, memainkan nada mengiringi permainan biola Baekhyun.
Seluruh ruangan terkesiap. Semuanya takjub akan alunan biola Jongin yang ajaib, alunan dari si violinist jenius yang sangat jarang bisa mereka dengarkan secara langsung. Sekarang Jongin bermain di depan aula, mengiringi permainan Baekhyun, menjadikan kesempatan ini sebagai kesempatan yang luar biasa bagi semua peserta audisi.
Baekhyun terperanjat ketika merasakan alunan biola yang indah dan sangat ahli mengiringinya di belakangnya, dia membuka matanya yang sedari tadi terpejam mengikuti musik yang dimainkannya, menoleh mengikuti arah suara itu, dan langsung bertatapan dengan mata indah Jongin yang tajam.
Lanjutkan. Jongin memberikan isyarat dengan matanya.
Antusiasme itu menular. Alunan musik biola Jongin yang indah dan tanpa cela, membuat Baekhyun seperti dibangkitkan, dia lalu memainkan setiap nadanya dengan sepenuh hatinya. Bermain biola dengan diiringi oleh maestro sekelas Jongin itu luar biasa! Astaga... benar-benar kesempatan yang luar biasa.
Alunan nada dari dua biola itu berjalinan, menciptakan simponi yang indah, membius seluruh aula. Semuanya terpana seperti terhipnotis, mendengarkan dengan mata berbinar. Dan kemudian, jatah waktu lima menit untuk Baekhyun berubah menjadi dua puluh menit lebih, memainkan nada awal Tchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35 sampai akhir, diiringi oleh Jongin.
Ketika Baekhyun memainkan nada tinggi dan kemudian merendah dengan dramatis di akhir musik, semua peserta audisi ikut menghela napas, Jongin tentu saja mengiringi dengan sempurna. Sampai kemudian gesekan terakhir yang menyayat, semakin pelan dan menghipnotis. Lalu selesai.
Baekhyun berdiri di sana, terengah-engah menatap ke arah penonton yang terpana. Jongin berdiri di belakangnya, ada senyum puas di bibirnya.
Kemudian salah satu penonton memecah keheningan dengan tepuk tangannya. Seketika itu juga ruangan riuh rendah oleh karena tepuk tangan dan teriakan antusias, semua peserta audisi berdiri dan memuji.
Baekhyun menoleh mencari-cari Chanyeol, dan dia melihat lelaki itu tersenyum lebar, bertepuk tangan penuh semangat, lalu mengedipkan matanya memuji ke arah Baekhyun, membuat pipi Baekhyun memerah.
Baekhyun menoleh ke arah Jongin yang masih berdiri di sana, dan kemudian membungkukkan tubuhnya penuh penghargaan atas kesediaan lelaki itu mengiringinya, memberikan pertunjukan dan pengalaman luar biasa kepada seluruh penonton di aula itu. Setelah itu, Baekhyun melangkah mundur meninggalkan panggung depan aula.
Semua orang menyenggol dan tersenyum lebar kepadanya di jalannya menuju ke arah Chanyeol, beberapa memuji dan menyelamatinya atas kesempatan langka itu, bisa bermain diiringi oleh Jongin. Tapi yang dituju oleh Baekhyun hanyalah Chanyeol. Lelaki itu tersenyum bangga dan membuka lengannya lebar, membuat Baekhyun tanpa bisa menahan diri memeluk lelaki itu erat-erat.
"Hebat. Hebat." Chanyeol memeluk Baekhyun, setengah mengangkat tubuh mungilnya dengan sayang. Sementara Baekhyun meluapkan seluruh perasaannya, bangga, bahagia, antusias dan takjub di pelukan Chanyeol.
Jauh di atas panggung, di bagian depan aula, Jongin menatap Baekhyun yang menghambur ke pelukan Chanyeol.
Ternyata uke itu sudah punya pacar.
Jongin mengernyit. Lagipula, apa pedulinya? Tidak ada hubungannya dengannya bukan?
Salah satu mentor senior kemudian mendekati mic dan meminta seluruh peserta beristirahat dan makan di area makan yang telah disediakan sementara para mentor dan Jongin akan berdiskusi. Pengumuman nama-nama peserta yang lolos akan diumumkan satu jam kemudian.
.
.
.
"Kau pasti mau Baekhyun masuk dalam list." Tuan Lee tersenyum menatap Jongin, "Sebelumnya aku tak pernah melihatmu bermain secara spontan seperti itu, Jongin. Permainan anak itu memang hebat, meskipun belum terasah benar, di bawah tanganmu aku yakin dia akan menjadi hebat."
"Ya. Masukkan dia." mata Jongin tampak kosong, "Aku tidak akan bisa benar-benar mengasah berlian itu. Aku hanya akan melatihnya selama tiga bulan."
Tuan Lee menatap Jongin dan tersenyum, "Kau bisa mengangkatnya sebagai murid khususmu setelahnya. Pada usiamu, aku dulu sudah membimbing murid khususku. Dan aku hanya melakukannya pada anak-anak yang memang benar-benar kulihat bakatnya, mengembangkannya dengan sempurna."
"Akan kupertimbangkan, aku baru melihatnya bermain satu kali." Jongin mengerutkan keningnya, "Jadi dimana daftarnya?"
Tuan Lee menyerahkan kertas lembar daftar sementara itu, "Evaluasi dulu, kalau-kalau ada yang ingin kau ubah."
Jongin termenung menatap dua puluh nama-nama yang terpilih itu, matanya mengarah ke nomor 199 yang masuk ke dalam list, lelaki yang dia tahu dipeluk oleh Baekhyun setelah permainannya tadi. Nama lelaki itu Park Chanyeol... Tiba-tiba Jongin tersenyum ketika menyadari bahwa itu adalah nama direktur Akademi musik ini. Jadi akhirnya anak lelaki direktur berhasil lolos juga.
Dan anak lelaki direktur itu adalah pacar Baekhyun.
Sepertinya tiga bulan ke depan akan sangat menarik bagi Jongin.
.
.
.
Semua peserta audisi duduk di meja-meja yang telah disediakan di area prasmanan. Meskipun semua tampak ceria, tetapi Baekhyun bisa melihat wajah-wajah cemas yang ada di setiap siswa, tentu saja, nasib semuanya akan ditentukan dalam beberapa menit lagi.
Baekhyun melahap roti pisang di depannya - makanan penutupnya - dengan nikmat, ternyata dia lapar. Karena mendapatkan giliran terakhir, sepertinya Baekhyun yang paling lama menahan rasa tegang, karena itulah perutnya jadi keroncongan. Setelah menghabiskan rotinya, Baekhyun meminum teh manisnya dengan senang.
Sementara itu Chanyeol menatapnya dan tersenyum, lelaki itu telah menghabiskan makanannya dari tadi dan meminum secangkir kopi sambil menunggu Baekhyun selesai makan,
"Melihat tubuh kecilmu, orang tak akan percaya kalau selera makanmu sebesar ini." gumamnya menggoda, membuat Baekhyun membelalakkan matanya pura-pura marah,
"Aku lapar." gumamnya sambil tertawa.
Chanyeol tersenyum, menatap Baekhyun kagum, "Kau hebat sekali tadi, luar biasa bisa membuat Jongin mengiringi permainanmu, dan kau hebat, bisa mengimbangi permainannya, kalau aku berada di posisimu, aku pasti akan gugup dan jemariku membeku."
Baekhyun tertawa, "Mungkin aku hanya beruntung. Jongin sepertinya telah merencanakan memberikan penutup kejutan untuk semua peserta audisi, kebetulan aku berada di nomor urutan terakhir, jadi akulah yang beruntung."
Tidak. Baekhyun tidak sekedar beruntung, Chanyeol tahu pasti akan hal itu. Ketika Baekhyun memainkan biolanya, dia kebetulan sedang mengamati ekspresi Jongin. Lelaki itu telah memasang wajah datar sepanjang audisi, tetapi ketika mendengar permainan Baekhyun, matanya bercahaya, mula-mula terkejut, lalu antusias. Chanyeol tahu pasti bahwa Jongin ikut bermain tadi karena dorongan spontannya, bukan direncanakan.
Suara panggilan terdengar di ruang besar aula, membuat Chanyeol terkesiap. Itu panggilan untuk berkumpul karena nama-nama yang lolos audisi akan diumumkan. Chanyeol menyesap kopinya untuk terakhir kali, lalu setengah berdiri dengan bersemangat,
"Ayo Baekhyun." ajaknya, dan tanpa kata Baekhyun mengikuti langkah-langkah cepatnya ke ruang besar aula.
.
.
.
Semua orang berkumpul dengan harap-harap cemas, menatap Jongin yang duduk tenang di kursinya, masih dengan wajahnya yang tak terbaca. Lelaki itu menyerahkan selembar kertas kepada mentor senior yang mendampinginya, dan mentor itupun menghadap mic, mengumumkan semua nama.
Nama-nama disebut secara berurutan. Menimbulkan berbagai emosi, bagi yang disebut namanya tentu saja itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa, ucapan syukur terdengar diantara kerumunan, beberapa menerima ucapan selamat dari yang lain. Tetapi semakin banyak jumlah nama yang diumumkan, semakin banyak pula wajah-wajah cemas dan tegang di antara semua peserta audisi, karena kesempatan mereka dipanggil akan semakin kecil.
Chanyeol tanpa sadar menggenggam tangan Baekhyun erat-erat, Matanya menatap tegang, terpaku pada sang mentor yang mengumumkan semua nama berurutan. Baekhyun melirik jemari mereka yang bertaut dan tersenyum, sesungguhnya dia tidak peduli dengan hasil pengumuman ini. Berdiri di sini, berbagi rasa tegang dengan Chanyeol dan bergenggaman tangan sungguh merupakan suatu momen yang tak tergantikan.
Pengumuman sudah sampai ke nomor sembilan belas, jantung Baekhyun tiba-tiba ikut berdebar, tinggal dua nama lagi dan Chanyeol belum disebut. Dia berdoa dalam hati memohon supaya Chanyeol lolos, memohon dengan sangat supaya lelaki itu tidak mendapatkan kekecewaan lagi.
Dan ternyata Tuhan mengabulkan doanya. nama Chanyeol disebut. Lelaki itu menegang, dan kemudian tersenyum lebar ketika Baekhyun memeluknya setengah memekik dengan bersemangat. Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat.
"Akhirnya aku lolos Baekhyun!" serunya penuh kegembiraan, menenggelamkan Baekhyun dalam pelukannya.
Dan pada saat yang sama, nama terakhir yang lolos diumumkan, dan itu adalah nama Baekhyun. Chanyeol dan Baekhyun membeku, bertatapan seakan tak percaya. Lalu Chanyeol tertawa bahagia,
"Kau lolos juga!" serunya senang, "Kita akan masuk kelas khusus bersama-sama!" dengan bahagia dipeluknya tubuh mungil Baekhyun, setengah diangkat.
Orang-orang berkerumun memberi selamat. Ada wajah kecewa ada wajah bahagia dalam kerumunan itu, sebagian pasti juga berpikir akan mencoba lagi tahun depan di kesempatan berbeda. Setelah pengumuman ditutup, kerumunan itupun bubar.
Dalam perjalanan ke mobil mereka, Chanyeol dan Baekhyun masih berangkulan, tertawa begitu bahagia, masih tidak percaya dengan keberuntungan mereka.
"Tiga bulan ke depan pasti akan luar biasa, aku tidak percaya kita berdua lolos bersama-sama, sungguh menyenangkan." Chanyeol masih bergumam tidak percaya akan betapa beruntungnya mereka.
Baekhyun sendiri tentunya terkejut. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi salah satu dari dua puluh anak yang beruntung. Setahunya, masih banyak peserta dengan teknik yang lebih sempurna dari dirinya. Tetapi bagaimanapun juga, dia tidak tahu bagaimana pertimbangan penilaian audisi itu. Mungkin saja mereka semua memiliki pertimbangan sendiri.
Tiba-tiba langkah Chanyeol yang masih merangkulnya terhenti, membuat langkah Baekhyun yang sedang melamun terhenti seketika. Baekhyun mendongak, menatap bingung ke arah Chanyeol.
"Kenapa kita berhenti..." matanya mengikuti arah mata Chanyeol yang terpaku dan tertegun, dan kemudian dia melihat Jongin... lelaki itu berdiri dengan tenang di tempat tersembunyi di area parkiran mobil hanya sekitar empat langkah dari posisi mereka berdiri sekarang. Pandangannya lurus ke arah Baekhyun, dan sepertinya dia sedang menunggu mereka...
Karena Chanyeol masih terperangah membeku tak percaya akan apa yang dia lihat, Jonginlah yang melangkah mendekat lebih dulu. Tersenyum dengan senyum khasnya yang mempesona,
"Selamat, kalian berdua lolos masuk ke kelas khusus." lelaki itu mengulurkan tangan dengan sopan.
Chanyeol tampak terpaku, tetapi dengan cepat dia menjabat tangan Jongin, tak kalah sopan,
"Terimakasih, sungguh suatu kebanggan sendiri bisa masuk ke kelas anda. Anda adalah motivasi terbesar saya dalam bermain biola..." Chanyeol langsung menghentikan kalimatnya, menyadari kalau dia terlalu banyak berkata-kata.
Jongin hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia lalu menolehkan kepalanya kepada Baekhyun.
"Hai. Kita bertemu lagi. Meskipun pertemuan terakhir kita sepertinya tidak begitu menyenangkan." tatapannya tersirat, penuh arti membuat pipi Baekhyun memerah.
Apanya yang tidak menyenangkan? Bukankah lelaki itu yang bersikap galak di pertemuan terakhir mereka? Baekhyun kan hanya mengikuti alunan musik secara tidak sengaja?
Ketika Baekhyun hanya diam saja, Jongin melanjutkan.
"Permainan biolamu sangat hebat, dan duet kita tadi menyenangkan. Semoga tiga bulan ke depan banyak ilmu yang bisa kau dapatkan." gumamnya lembut.
Dan kemudian tanpa diduga, Jongin meraih tangan Baekhyun dan mengecupnya lembut. Membuat Baekhyun terperangah sampai lupa menutup bibirnya.
"Sampai jumpa lagi." gumam Jongin setengah geli melihat ekspresi Baekhyun. Lelaki itu lalu menganggukkan kepala kepada Chanyeol dan kemudian melangkah pergi. Meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang masih terpaku kebingungan.
.
.
.
"Kenapa kau diam saja sepanjang malam ini, sayang?" Minhyun, kekasih terbaru Jongin. Seorang janda muda dan kaya berusia tiga puluh tahun yang sangat cantik cemberut dan melirik ke arah Jongin yang hanya diam sepanjang tadi. Mereka berdua sedang berada di pesta yang diadakan oleh sahabat Minhyun. Sejenis pesta jamuan malam yang diakhiri dengan acara bincang-bincang. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi pesta ini masih ramai, Minhyun dan Jongin duduk di sofa besar di sudut ruangan, bersama pasangan lainnya dan sedang membicarakan hal-hal tidak berarti.
Jongin melirik ke arah Minhyun dan tiba-tiba saja merasa muak. Oh Tentu saja, Minhyun adalah korbannya yang berikutnya. Uke ini jelas-jelas murahan dan gila harta seperti ibunya, Minhyun telah memperoleh bagian cukup besar dari perceraiannya yang menghebohkan itu dan kemudian menggunakannya untuk berfoya-foya. Uke itu memang memiliki koneksi di dunia musik karena suaminya adalah mantan promotor konser musik klasik di negara ini. Mereka bertemu tanpa sengaja di suatu pesta dan tanpa malu-malu Minhyun melemparkan umpan kepada Jongin, mengatakan bahwa dia benar-benar tertarik kepada Jongin.
Jongin tentu saja langsung memakan umpannya. Uke seperti inilah yang dicarinya, uke bodoh, genit, gila harta yang akan menjadi pelampiasan tepat untuk dendam yang masih membara di benaknya. Saat ini, seperti biasa dia sedang berperan sebagai kekasih yang baik. Minhyun akan dibuatnya jatuh cinta setengah mati kepadanya. Dan ketika sampai di titik Minhyun tidak bisa hidup tanpanya, Jongin akan mencampakkannya dengan kejam.
"Aku lelah, kau tahu aku baru saja mengaudisi dua ratus siswa tadi." Jongin bergumam dingin, berusaha bersikap biasa ketika dengan menggoda Minhyun duduk merapat padanya, dengan sengaja menyenggolkan dadanya yang ranum dan hanya dibungkus kemeja dengan belahan dada sangat rendah untuk memamerkan belahannya.
Tapi Jongin sedang tidak tertarik, pun ketika Minhyun berusaha memberi isyarat meminta untuk bercumbu dengannya. Lelaki itu malahan berdiri dan menggelengkan kepalanya,
"Kurasa aku harus pulang. Aku lelah." dia mengedikkan bahunya kepada Minhyun, "Sampai nanti Minhyun."
Dan kemudian Jongin meninggalkan Minhyun yang masih memanggil-manggil namanya. Dia tidak peduli. Lagipula dia tidak berkewajiban mengantar Minhyun pulang karena uke itu tadi datang kemari sendiri dengan diantar oleh supirnya.
.
.
.
Sekali lagi Jongin terbaring dalam keheningan malam di kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Sekelilingnya gelap karena Jongin mematikan semua lampu.
Seharusnya dia bisa langsung tertidur karena dia lelah sekali. Tetapi dia tidak bisa tidur. Ketika dia memejamkan mata, alunan musik itu terbayang di benaknya, alunan musik yang memainkan nada indah... nada duetnya bersama Baekhyun.
Uke kecil itu adalah berlian. Jongin mengulang kembali kesimpulannya. Berlian itu harus diasah di tangan yang benar, kalau tidak dia akan rusak. Dan Jongin tidak akan membiarkannya rusak.
Ada yang harus dilakukannya besok, pagi-pagi sekali.
.
.
.
"Aku tak percaya kau lolos." Mamanya meletakkan sepiring omelet di depan Baekhyun, yang langsung dimakan Baekhyun dengan lahap.
Mereka sedang sarapan bersama di pagi hari. Dan mamanya masih saja membahas hasil pengumuman kemarin.
"Mungkin permainan biolaku cukup bagus." Baekhyun tertawa, menggoda mamanya yang mengerutkan keningnya. Mamanya tampaknya sangat serius dalam segala hal terutama menyangkut musik, Baekhyun takut hal itu akan menambah keriput di wajah mamanya yang masih cantik.
"Mama yakin masih banyak yang lebih sempurna darimu. Kau selama ini hanya mempelajari biola setengah-setengah, tidak sepenuh hasratmu." Mama Baekhyun duduk di depan Baekhyun dan tatapannya berubah serius, "Kalau kau sudah menjalani kelas khusus bersama Jongin ini, kau harus menetapkan pilihanmu pada biola dan menjalaninya dengan serius Baekhyun."
Sebelum Baekhyun menjawab, telepon rumahnya berbunyi. Sang mama mengerutkan keningnya, bergumam tentang siapa yang menelepon rumah sepagi ini, lalu beranjak berdiri dan mengangkat telepon.
Baekhyun tentu saja tidak mendengarkan pembicaraan mamanya ditelepon yang terdengar sangat serius itu. Dia malahan asyik melahap omelet buatan mamanya yang sangat enak.
Sampai kemudian mamanya meletakkan telepon, wajahnya pucat... mungkin efek dari pembicaraannya? Dan kemudian dia duduk di depan Baekhyun dengan mata membelalak tak percaya.
Lama kemudian mamanya masih seperti itu hingga Baekhyun merasa cemas,
"Ada apa mama?"
Mamanya tergeragap, seolah dibangunkan dari lamunannya, tetapi ekspresi takjub masih tampak di matanya, bibirnya membuka sedikit gemetar,
"Itu tadi... Astaga. Itu tadi Jongin sendiri yang menelepon! Dia meminta kita datang ke akademi, katanya dia ingin menjadikanmu murid bimbingan khususnya yang pertama!"
.
.
.
Bersambung ke part 4
