-Di chapter sebelumnya-
Kagamine Len ditindas habis oleh Oliver demi mendapatkan Rin, sekarang, Oliver malah menyuruh Len melupakan Rin dan melakukan 'forbidden relationship' dengannya, tanpa aba-aba, Oliver langsung mencium Len, tanpa Len sadari... Seseorang melihatnya...
Chapter 4: The misunderstanding
(Gaya berbicara para charas dirubah supaya tak menambah kebingungan, gua diganti jadi aku dan lu diganti jadi kamu/kau sesuai selera author-chan)
DISCLAIMER: Vocaloids, UTAUloids are belong to right owner. I just made the storyline
WARNED: Typos, yaoi inside
-oooo-
'Brak!'
Tanpa sadar, tas wanita itu langsung terjatuh, melihat apa yang berada didepannya
"Len...", seru wanita itu dengan ekspresi tidak percaya dan sedih
-oooo-
NORMAL POV
10 February 06:07 AM
Cuaca cerah dan cuaca yang menyenangkan untuk memulai pagi hari ini, tetapi tidak untuk wanita berambut honey blonde ini, dia terkejut melihat apa yang barusan terjadi didepan matanya, isak tangis mengucur, karena tak tahan melihatnya, ia pun berlari dengan kencang sembari menangis
"Len jahat! Len bodoh!", ucap wanita itu dengan sedikit keras sambil terisak
RIN POV
Aku tak bisa mempercayai ini!... Sungguh! Kupikir Len menyukaiku, tak kusangka rupanya dia adalah homoseksual! Aku tak bisa mempercayai ini!... Len, haruskah aku mengakhiri hubungan ini? Tetapi... Apa gunanya aku selalu mengkhawatirkan keadaannya? Apakah Len telah membenciku? Ataukah kemesraannya denganku hanya sebagai akting? Apakah aku selama ini hanya menjadi mainannya?... Aku menangis, tanpa sadar, aku langsung pingsan karena masih syok
LEN POV
Aku terkulai lemas tak berdaya, Oliver memandangiku dengan perasaan puas, apa mau lelaki bejat yang satu ini? Apa tak puas telah menikamku habis-habisan seminggu yang lalu? Bagaimana kalau Rin ataupun yang lain melihat hal ini? Bisa-bisa harga diriku hancur... Bukan, hidupku juga hancur...!
"Oliver,... B... bisa kau hentikan ini semua...?", seruku dengan nafas yang masih naik turun
Oliver menunduk hingga tingginya menyamaiku yang sedang terduduk, ia mendongkak kepalaku sambil berkata
"Tidak bisa!"
"Apa dasarmu melakukan semua ini...? Apa aku ada salah denganmu?", seruku dengan ekspresi memelas
"Ada! Kau telah mencuri Rin-chan-ku! Kini saatnya kubalaskan penderitaan hatiku saat melihat hal itu kepadamu!"
"Kenapa harus melakukan hal ini?... Kita tidak perlu sampai melakukan adegan homoseksual ini kan?... Apa kau berniat menghancurkan harga diri dan hidupku?!", ucapku dengan nada sedih
"Ya, aku akan menghancurkan hidupmu!... Sampai aku merasa benar-benar puas! Kalau aku tak bisa menghancurkan fisikmu, biarlah aku akan menghancurkan batinmu, perasaanmu!", seru Oliver ganas
'A... apa cuma karena berpacaran dengan Rin aku menjadi sengsara?...', batinku, aku serasa mau menangis, tetapi terpaksa aku tahan karena menyadari posisiku yang berada didepan 'musuh'-ku ini
"Hm...", Oliver memandang kearah gerbang sekolah yang telah ramai akan murid-murid, ia langsung menarikku kesuatu tempat lalu melemparku dengan kasar
"Aduh!", rintihku
"Karena aku masih bisa bertoleransi dengan harga dirimu, kubawa kau kesini, dengan begini, kita aman kan?", seru Oliver sambil tersenyum, senyuman yang membuat aku kesal seketika, meski hatiku berkata lain dengan perbuatanku, aku takkan pernah bisa melawannya karena takut kejadian yang telah lalu kembali berulang
Mendadak diriku berpikir sesuatu, kenapa aku saat itu tidak mati saja? Supaya aku tak perlu lebih ternoda lagi? Kenapa wanita bernama IA itu harus datang menghentikan aksi Oliver yang akan mengakhiri hidupku? Kami-sama, tolonglah cabut nyawaku sekarang juga, aku rela kok... Aku nggak bisa bertahan lagi dalam hal ini... Batinku sudah terlalu sakit...
Oliver sudah siap memasang pose 'mencium' lagi, saat dia sudah siap...
"KRIIING... KRIIING...", bel masuk sekolah berbunyi
"Sial, mengganggu saja!", decih Oliver, lalu melepaskan daguku
"...", aku terdiam
"Sudah, ayo kekelas!", ajak Oliver, matte?
"Ayo?"
"Yaudah kalau nggak mau ikut, bukan berarti aku baik denganmu, aku nggak mau meninggalkan 'mainan'-ku yang berharga!", seru Oliver, lalu pergi
'Mainan... sialan, dia pikir aku nggak ada harga diri gitu?', batinku kesal, tetapi percuma, nyatanya aku cuma bisa diam oleh penindasan batin Oliver
-Di kelas-
(STILL) LEN POV
Aku merasa aneh sejak memasuki kelas, kulirik ke arah Rin, dia melihatku sebentar lalu memalingkan pandangannya, kenapa dia bersikap begitu?
Kupalingkan mukaku ke Oliver, dia tersenyum 'ramah' kepadaku, tersenyum selebar atau seramah apapun tetap kuanggap sebagai senyuman bengis dan senyuman hinaan, tanpa basa basi aku langsung duduk dibangkuku
Oliver memperlihatkan wink-nya kearahku, aku terdiam sejenak (baca: mengacuhkan)
Miku, Kaito, Piko terus memperhatikan gerak gerikku (tanpa kusadari)
-Waktu istirahat-
'Pip... pip...', terdengar getaran hape, langsung kurogoh sakuku
-1 message recieved-
'SMS?', batinku, tanpa menunggu lebih lama kubuka pesan singkat dihapeku itu, isinya...
Hai, yah... Aku Oliver, aku malas berkomunikasi lewat kertas lagi, itu kuno!
Oke, ga usah lama-lama, bisa kau ke halaman belakang sekolah sekarang? Aku bosan... Tolong 'hibur' aku yaa~
Kalau nggak datang, aku akan menjamin kau akan menderita seperti minggu lalu, haha
Aku merasa kesal dengan SMS brengsek dari pengirim yang brengsek ini, dengan menggerutu, aku langsung melesat ke halaman belakang sekolah, meski sebenarnya aku sangat amat mengerti maksud dari kata 'hibur' itu
Dengan perasaan malas aku beranjak ke halaman belakang sekolah, di tengah perjalanan, kulihat Rin sedang menggenggam jeruk, dengan ekspresi seperti tak mau bertemu, dia langsung lari, tapi dengan cekatan aku langsung menahan lengannya
"Rin! Kenapa kamu bertindak aneh sejak tadi?!"
"Aneh?! Kau yang aneh! Dasar mesum!", teriak Rin
'Mesum? Tak pernah Rin berkata denganku dengan kata sepedih itu saat kami berpacaran... Mungkinkah!', batinku seperti orang yang tersadar akan sesuatu
"Rin... Aku mengetahui maksudmu, tetapi itu... itu bukan seperti yang kamu lihat!", seruku menegaskan kepada Rin, tetapi Rin tetap bersikeras
"Aku takkan percaya! Aku telah melihatnya dengan mataku sendiri, akankah aku percaya dengan ucapanmu itu?! Apalagi lelaki itu terlihat bernafsu saat menciummu!"
"Rin, kumohon, percayalah aku!..."
"Kau pikir aku akan mudah mempercayaimu setelah merasakan sakit hati ini, hah?!", ucapan Rin semakin keras
"Ta... tapi Rin..."
Aku memutar badannya hingga kami menjadi berhadapan, kupegang pundaknya lalu berkata
"Rin, tolong percaya aku... tolong, percaya aku... Ini tak seperti yang kau lihat..."
Rin terdiam, lalu menepis tanganku dari pundaknya, setelah itu ia berlari dengan cepat
"Rin!", teriakku memanggil, tetapi percuma, ia telah berlari sangat jauh
Hatiku terasa sakit setelah mendengar Rin yang kalem berkata seperti itu, sebegitunya kah dia tak mempercayaiku? Kalau Rin yang kucintai sudah membenciku, apa yang harus kulakukan? Mengakhiri hidup?
'Pip... Pip'
Dering handphone sontak membuyar lamunanku, kubuka hapeku, ya, isinya adalah SMS masuk, kubaca SMS itu
Oi Len, lama sekali kau? Apa perlu kupaksa hah? Kuharap kau tidak kabur, kuyakin kau trauma dengan apa yang terjadi denganmu minggu lalu!
Oliver... Tolong berhenti memaksaku... Puaskah kau, kuyakin kau akan tertawa keras bila aku berkata Rin membenciku... Kau tak merasa menyesal telah menyakiti seseorang demi seseorang yang amat kau cintai?... Atau kau memang sengaja menyakitiku padahal kau tak memiliki rasa suka dengan dia, tetapi, semua kalimat itu hanya bisa kusimpan dalam hati, nyatanya, aku benar-benar tak mampu mengucapkannya secara terus terang
Karena tak mau mendapat SMS sialan itu lagi, aku memburu ke halaman belakang sekolah
-Sesampainya di halaman belakang sekolah-
"Haai... Lama sekali dikau, apa yang kau perbuat?!", seru lelaki yang pastinya membuatku ingin meninjunya
"Tidak ada apa-apa", ucapku datar, jelas, dan padat
"Oh, sepertinya kau mulai bisa berbohong, okelah kita simpan argumen kita lain kali... Biarkan aku menikmati bibirmu yang indah itu", seru Oliver dengan muka mesum
Sejujurnya, aku nggak mau dengan lelaki kurang waras ini, tetapi apa mau dikata
Oliver mulai menciumiku, tetapi sebelum dia melakukannya, aku telah menahan pergerakannya dan mendorongnya hingga terduduk
"Aku TAKKAN pernah mau menjadi 'mainan'-mu!", seruku kesal, mengingat karena inilah Rin menjadi membenci dan tak mempercayaiku
"Hoo, sudah mulai berani melawan ya", Oliver tersenyum melihat tingkahku
'Apa yang kulakukan barusan? Aku akan dihabisinya!', batinku panik, tiba-tiba Oliver mengeluarkan pisau dan...
'Crass', dia merobek lengan bajuku, karena cara merobeknya yang kasar, kulit lenganku terluka dan memancarkan darah kembali, dengan darah itu mendadak ingatanku kembali ke ingatan seminggu yang lalu
"K... Kenapa kau melukaiku...? Kau takkan melebihi ini kan?", seruku sambil memegangi lengan yang terluka
"Tentu, bila kau mau menuruti perintahku!", seru Oliver lalu memasukkan kembali pisaunya disaku celananya
Terasa terhipnotis, aku berbicara dengan suara pelan
"Ba... baiklah... Your highness..."
"Hahaha, baguslah, sepertinya kau memang berbakat untuk menjadi 'mainan'-ku yang berharga, bukannya dengan begini kau telah aman dari pisau itu kan?"
"...I... iya..."
Oliver lalu menciumiku sambil memegang erat kedua lenganku, karena tak mampu menyeimbangi badannya, aku pun ambruk seketika, setelah aku terjatuh, Oliver memastikan posenya terasa nyaman lalu memegangi belakang kepalaku, ia mendorongnya hingga ciumannya semakin terasa
'Nafasku...', batinku seolah ingin meronta, tetapi ciumannya membuat tubuhku lemas seketika
Setelah Oliver melepaskan ciuman penyiksaannya, aku berbicara
"Kau sebenarnya... hah... hah... menginginkan... Rin... hah... hah... atau aku?!", tanyaku dengan nafas tak beraturan
"Rin!", jawabnya
"Bila aku memberikan Rin, apa kau akan berhenti menyiksaku?", tanyaku
"Hm... Tidak"
"Terus kenapa kau berbicara kau menginginkan Rin?"
"Aku menginginkan ciumanmu dan Rin, jadi meski kau memberikan Rin aku akan tetap terus melakukan ini... Sampai tamat SMA"
"APA?!", seruku kaget
"Ha... Kau tak terbiasa melakukan ini ya?"
"Tentu saja, aku masih normal!", bentakku
"Maukah kubuat kau tidak normal?", tanya Oliver yang membuat pupilku mengecil seketika
"Ma... maksudmu?!", seruku, lalu bersiap ingin kabur
"Aku sudah bosan dengan ciuman, aku ingin melakukan yang lebih dari ini!"
"Tolong lakukan itu, tapi jangan denganku!", bantahku
"Kau ingin aku melakukan ini denganmu, atau dengan Rin tersayangmu?"
Aku terkejut dengan ucapannya,... Diriku langsung membayangkan bila Rin diperlakukan seperti apa yang terjadi denganku barusan, dengan perasaan takut aku berkata
"T... tolong lakukan hal itu... d... denganku..."
"Sepertinya kau akan mudah untuk dipermainkan, aku cuma perlu mengucapkan kata 'Rin' saja ya? Apa segitunya kau menyayangi Rin? Sayangnya, Rin pertama kali berkenalan denganku saat umurku masih 6 tahun, aku bermain dengannya, disaat itu, aku merasa jatuh cinta padanya, sosoknya yang manis dan imut membuatku hampir ingin menciuminya saat itu, tetapi karena sifatnya yang tsundere, dia langsung menolak ciumanku, tetapi disaat itu pula, aku berjanji atas diriku untuk menikahi Rin dan mengajaknya berpacaran dikala kita bertemu lagi, tetapi, saat kulihat kau dekat sekali dengan Rin, batinku terasa hancur! Aku mulai membencimu, makanya saat ini aku ingin melampiaskan kebencianku kepadamu! Tentunya dengan menghancurkan batinmu"
Aku terdiam, tak bisa berkomentar apapun, ya, kini aku sudah mengetahui sebabnya dengan jelas, apa cuma karena itu? Karena seorang wanita yang teramat aku sayangi aku menjadi sengsara seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Oliver... tolong...", seruku dengan nada ingin menangis
"Tolong apa? Melepaskanmu? Tak mungkin!"
"Bukan... tolong... bunuh sajalah aku... Aku tak mungkin berarti lagi untuk hidup disini... Batinku hancur, perasaanku hancur, Rin telah membenciku... Apa yang harus aku lakukan lagi?"
Tangisku pecah seketika, perasaan malu yang besar karena telah menangis didepan 'musuh' ini, Oliver memandangiku
"Menangis ya? Hahaha... Tenang, aku takkan membunuhmu, aku masih 'baik' padamu", seru Oliver lalu membuka bajuku (Baju doang, inget!)
"Eh?! Apa yang akan kau lakukan!?", ujarku, aku ingin menahan pergerakan tangan Oliver, tetapi dia sudah menahan pergerakan tanganku duluan dengan kakinya
"Ini akan lebih menarik, Len-san...", seru Oliver dan...
"UAAAAA", teriakku
-Di kantin (Other's Side)-
NORMAL POV
Rin, Miku, Kaito, dan Piko sedang asik makan makanannya masing-masing dikantin, Miku, Kaito dan Piko asik melirik sana-sini, mencari seseorang, sedangkan Rin asik menikmati makanannya
"Len kemana? Dia masuk sekolah kan?", tanya Piko
"Iya kok dia masuk sekolah, tetapi tumben dia nggak ke kantin, Rin, kamu tau Len dimana?", tanya Miku ke Rin yang sedari tadi masih asik memakan makanannya
"Gak tau", jawab Rin simpel
"Kamu kan pacarnya, kok careless amat sih, bukannya kuatir kek", ucap Miku yang nadanya sedikit ditekan
"Kuatir? Aku sudah cukup mengkuatirkan dia disaat yang lalu"
Rin langsung berdiri dari duduknya (?)
"Maaf, aku pergi dulu", ucapnya lalu berlari pergi meninggalkan teman-temannya
Miku, Piko, dan Kaito bengong melihat Rin
"Kayaknya Rin aneh deh", ucap Kaito
"Bukan cuma dia, Len juga aneh", ujar Miku juga
"Pasangan itu aneh", sambung Piko
RIN POV
Aku langsung menangis, membayangkan kejadian yang tadi, apa benar Len begitu?
Aku melihat sebatang pohon yang kokoh, merasa capek berlari, aku beristirahat disana
...
"Hentikan!"
...
Tiba-tiba aku mendengar seseorang seperti berteriak, sepertinya kukenal suara itu, aku mencari asal suara itu, kutoleh pandanganku kesamping, betapa terkejutnya diriku melihatnya, Len melakukan itu lagi... Dan kini, menjadi lebih parah lagi! Kututup perlahan mulutku menahan rasa mual (Bagi para readers yang fujo jangan berpikir macem-macem ya...), tangisku mengucur kembali, ya, kini aku sudah melihat hal itu dua kali, ingin rasanya aku kesana untuk meneriaki Len, tetapi rerumputan yang amat lebat membuat aku mengurungkan niatku dalam-dalam, ingat saja Len, jangan berpikir aku akan menyapamu lagi!
Dengan perasaan kesal, sakit hati, dan merasa disia-siakan, kulempar jeruk yang terus kugenggam itu ke tanah, setelah itu aku pergi memasuki kelas meski bel istirahat berakhir belum dibunyikan
LEN POV
Oliver semakin 'menggila', aku ingin bel istirahat berakhir cepat berbunyi, dia terus saja memegangi tubuhku, bila aku berbicara sepatah kata saja dia akan langsung menciumiku, oh tidak, bisa-bisa harga diriku bisa hancur hari ini juga
"Oli... hmmmp..."
Oliver menekan mulutku
"Jangan bicara! Kau mengganggu konsentrasiku!", seru Oliver
Oliver langsung *sensor*, aku langsung meringis kesakitan (Len: Kenapa ada tulisan *sensor*nya? | Author: Meski author fujoshi secara alami, namanya common sense, dijiwa author masih ada... | Len: Bilang aja susah nulis | Author: I still care with the readers, I don't want their loses their minds | Len: Au ah)
'Kring... kring...!', tiba-tiba bel berbunyi sedikit keras, Oliver langsung menggerutu, ia melemparkan bajuku (INGET BAJU DOANG! | Readers: IYE TAUUU!) sambil berkata
"Pakai kembali, nanti kita lanjutin!"
'Ga mau...', batinku, lalu memakai bajuku yang sedikit lusuh karena terkena tanah yang kotor
"Bisa kita melanjutkannya dilain hari? Aku capek!", tanyaku berusaha berkompromi
"Maumu itu?", Oliver malah berbalik tanya
"Iya!"
"Tapi, maukah kau bila dilanjutkan lain hari tetapi kita akan melampaui lebih dari yang barusan dilakukan?!", Oliver tersenyum, senyuman mesum, Oliver, sadarkah kau bila aku ini lelaki, atau kau yang melupakan gender-mu?
"Tentu saja tidak!", bantahku secara jelas
"Jadi?", tanya Oliver
"Onegai boku o hanasa...", mohonku
Oliver menatapku sebentar, lalu mendengus
"Ya terserah kau, aku melepaskanmu untuk hari ini, tetapi, bukan berarti aku baik denganmu, bila kau berani kabur di lain hari, aku takkan segan untuk menggoreskan 'sedikit' bagian tubuhmu, ayo kekelas, entar kita malah dihukum"
"Aku bisa sendiri!", seruku lalu langsung berlari
Dihatiku terus bertanya-tanya, yang diinginkan Oliver itu aku atau Rin? Kenapa sampai melakukan forbidden relationship denganku? Apa otaknya sudah kurang waras atau dia memang sudah benar-benar tidak waras lagi?, mungkin itu cuma sebuah misteri yang takkan pernah terungkap...
Ditengah perjalanan, dibawah sebuah pohon besar, terdapat sebuah jeruk yang terjatuh, tidak, lebih tepatnya dijatuhkan orang, karena, saat aku melihat ke arah pohonnya, itu adalah pohon kesemek, nggak mungkin pohon kesemek bisa menghasilkan jeruk, kupungut buah tak berdosa itu, kulihat ke arah kiri, aku terkejut, dari arah kiri tepat ditempat jeruk tak berdosa itu terjatuh itu bisa dilihat dengan jelas bagian belakang halaman sekolah, kulihat lagi jeruk itu dengan tatapan tajam, benar saja, ini kan jeruk milik Rin, karena jeruk ini adalah jeruk yang paling langka diantara jeruk yang paling langka, abaikan masalah jeruk itu, yang terpenting adalah... Apakah Rin melihatku tadi?! Bila iya, habislah riwayatku, bisa-bisa aku takkan pernah dipercayai olehnya lagi...
"Hoi, ngapain kau disana? Istirahat sudah selesai! Bisa-bisa kau digebuk sensei tersayang!", teriak Oliver menyadarkan lamunanku
"Aku tahu! Kau bisa tidak mengikutiku?!", seruku sedikit, tidak, bahkan amat kesal kepada lelaki itu
"Kau tak senang bila aku memperhatikanmu?!", tanya Oliver, gila, ini sebuah pertanyaan yang jelas jawabannya bahkan mungkin nggak perlu ditanyakan
"Ya jelas nggak lah! Kau kan cowok!", teriakku kesal
"Yasudah! Ingat, esok kau harus 'hibur' aku lagi!", seru Oliver lalu pergi
'Sialan anak itu, bisakah aku bebas dari perlakuan kasarnya itu?', batinku, aku ingin sekali melempar jeruk ini ke arah kepalanya, tetapi karena takut mendapatkan goresan kembali, aku urungkan niat itu, kugenggam jeruk itu dengan erat lalu memasuki kelas, untung saja sensei belum masuk
-Sepulang sekolah-
(STILL) LEN POV
13.30 PM
Aku mengemasi bukuku, setelah aku keluar kelas, kulihat Rin melewatiku, dengan perasaan ragu aku menadah tanganku tepat di depannya sambil berkata
"Jerukmu"
Rin memandangku sebentar dan...
'BUAK!'
Rin mengambil jeruk itu dan langsung melempar jeruk itu tepat ke mukaku, aku terjatuh
"Rin! Kenapa sih kau melempariku?!", tanyaku, meski sebenarnya aku tau maksudnya itu apa
Rin diam, memandangiku dengan perasaan marah, lalu berjalan tanpa menjawab pertanyaanku
'Mungkin... dia melihat itu...', batinku dengan perasaan sedih, kupegangi kepalaku yang sedikit benjol itu, kulirik ke arah jeruk yang berguling dilantai, seseorang datang dan memungut jeruk itu
"Yare yare... Pointo o hitto! Hahah, berantem ya?", seru orang itu, kupandangi mukanya
"Kaito?"
"Ah Len, masih ingat dengan namaku rupanya... Wekekekek (?), kupikir kau sudah melupakanku, sudah seminggu kau tak melihatku!", Kaito tertawa bebek, lalu memberikan jeruk Rin padaku
"Simpan nih, kenang-kenangan... Eit, lenganmu berdarah!", Kaito dengan terkejut langsung memegangi lenganku
"Iya aku tau...", aku menarik lenganku, tiba-tiba kuingat kejadianku dengan Oliver
"Kau kenapa sih?", tanya Kaito seraya mengambil kotak P3K
"Nggak..."
Sebenarnya aku mau bilang 'trauma cowok', tetapi bisa saja Kaito langsung salah paham, apalagi mengingat dia terlalu baka
"Len! Isashimuri danaa~~~", seru seorang cewek sambil memelukku, ya, dari suaranya, pasti si rambut tosca yang kelewat panjang itu
"Miku, lepaskan!", seruku sambil berusaha mendorong Miku dari belakang
"Senangnya melihat bisa berkumpul lagi", seru Piko yang mendadak datang tanpa diketahui darimana asal muasalnya
"Piko,..."
"Len, kalau ada masalah, bilang saja ke kami! Kami akan membantumu!", seru Kaito yang selesai memerban luka 'kecil'-ku
"...Terimakasih...", jawabku seraya menunduk
"Pulang bareng?", usul Miku sambil menadahkan tangannya
"Baiklah!", jawabku sedikit mantap sambil menggenggam tangannya
Perasaanku sedikit senang melihat kami dapat berkumpul (minus Rin), tetapi, dalam lubuk hatiku yang terdalam, tetap saja perasaanku sedang sedih karena tak tahu harus bagaimana agar bisa bebas dari kutukan manusia bejat yang bernama Oliver itu
NORMAL POV
Oliver memandangi Len dari kejauhan, lalu menyeringai
"Ini akan semakin menarik, lihatlah... Len-san..."
-To be continued at next chapter-
Author: Chapter 4 comiing... Chapter 4 comiing... Ulalaaa~ *goyang Caisar*
Len dkk.: Author mabuk stadium 3 *sweatdrop*
Ditempat lain-
Rin: *hiks hiks hiks* ('masih' nangis dipojokan)
Back to the other's place-
Len: Authooor! Bisa hentikan yaoi-nya? Dilihat dari sisi manapun aku masih waras!
Author: Biarlah yang berlalu tetap berlalu~~ Ueheheheh~
Len: CEWEK INI MABUK YA?! *nunjuk Author*
Piko: Entahlah... *menaikkan pundak*
Author: Ueheheheh... Gak apa, para fujo pasti akan senang melihat ini... Ueheheheh...
Kaito: And the fujo will losing their minds...Especially the when looking a censored word
Len: Author ga bisa menulisnya kali, itu berhubungan dengan salah satu anggota badan atas, bukan bawah, bila kuucap bawah, semua akan berpikir melenceng ._.
Miku: Wah topiknya menarik *nosebleeding*
Len: -_-
Kaito: Hm... Author, sadarlah, kau harus menyampaikan salam penutupmu...
Author: Fujoo... fujoo...
Kaito: HALOOOOOOO!
Author: Whoops! Apa yang terjadi barusan *sadar*
Len dkk.: *sweatdrop*
Kaito: Kau harus menyampaikan salam penutupmu!
Author: *mandang* *wajah idiot* Harus sekarang ya?
Kaito: *sweatdrop* Nggak, taun depan pun nggak apa kok
Author: Oke, salam penutup chapter ini taun depan ya... Kuharap kalian sabar menunggu, dadaaa~ *ngabur*
Len dkk.: *narik Author* WOOOI TUNGGU...!
Len: -H-A-R-U-S- -S-E-K-A-R-A-N-G-
Author: Okelah... Hm... Apa yang mau diomongin yak?
Len dkk.: *gubrak*
Author: Oke oke Author ngerti kok...
Oke, ini salam penutupnya
'Salam Penutup'
Len dkk: *gubrakkk*
Len: SERIUS!
Author: Iya iyaa...
Oke kali ini serius, Author ucapin maaf karena yaoi-nya kebanyakan, huehehehe...
Bagi yang masih ga ngerti kenapa Oliver nyiksa Len, bisa dibaca ulang atau ditanyakan dalam review, nanti Author jawab sesimpel dan sejelas mungkin
Mungkin di segmen ini Roman antara Len x Rin akan berkurang :D , gak apa, Author mau membiasakan diri dulu buat fanfic yang plot-nya susah buat ditebak (' v ')9
Yang pasti di akhirnya Happy Ending, Sad Ending, atau harus dilanjut di sequel lagi ga tau :D
Dan maaf nih, Author ga tau harus naruh genre apa, soalnya diliat ulang ceritanya kok kayak Hurt/Comfort yak? Ada yang sependapat? (*Nobody raise their hand*) (Author: Oke...), Selama g ada saran tentang genre apa yang harus dipakai di fanfic setelah Roman, Author akan netapin genrenya RomancexDrama... Guahahaha... (?)
Kalau aja ada yang ripiw Len mirip cewek di Chapter ini, satu kata, "Iya" (Len: AUTHOOOR!). Oh sori, maksud Author Len kaga mirip kok, dia cuma trauma dengan apa yang dialaminya dulu jadi terpaksa menuruti apapun kata Oliver, bayangin aja, ditikam pasti sakit, apalagi kalo udah ditikam tapi kaga dibunuh, pasti sakitnya lebih awet, khekhekhe... (Len: Jadi, author pengen aku mati?). Tenang aja, yang pasti tokoh utama akan selalu menang :D
Author juga bingung, kalau diterusin adegan yaoi-nya entar malah 'terpaksa' naikin rating, tapi kalau dilawan kecepatan entar berakhir jadi cepet... Mmm... Gimana ya? Depending on your reviews :D
Dan, motto Author dalam nulis fanfic 'Follow wherever mind goes on and just following the storyline...', gaje? Emang! GUAHAHAHAHAHA (Len: Author gila!)
Soreja, bai bai~~~
