Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
KONEKO, MY CUTE GIRLFRIEND
By Hikari Syarahmia and my friend
Pairing : Naruto x Koneko
Genre : romance/humor/hurt/comfort
Selasa, 7 Juli 2015
.
.
.
Koneko, My Cute Girlfriend
Chapter 4 : Kencan pertama yang kacau (part 2)
.
.
.
Masih di Konoha Garden, sebuah taman bermain yang sangat besar di pusat Kota Konoha. Bermacam-macam permainan yang menghibur terdapat di dalamnya. Banyak orang yang tengah menikmati permainan-permainan yang ada di Konoha Garden. Salah satunya pasangan utama dalam cerita ini.
Di antara orang-orang yang terus membludak dan mengisi berbagai sudut Konoha Garden. Tampak dua anak manusia yang sedang berjalan cepat. Mereka berdua adalah Naruto dan Koneko.
Wajah Koneko sangat berseri-seri. Ia sangat gembira karena Naruto telah mengajaknya kencan di hari Sabtu ini. Ini pertama kalinya dia bisa menikmati kebebasan. Ini pertama kalinya ia bisa bersenang-senang. Tentunya bersama orang yang dicintainya ini.
Sudah banyak wahana yang ada di Konoha Garden, Koneko dan Naruto mencoba untuk menaikinya. Mereka memanfaatkan waktu kencan ini dengan sebaik-baiknya. Karena hari ini adalah hari kencan pertama mereka berdua.
Naruto senang karena bisa membahagiakan hati kekasihnya itu. Koneko selalu tersenyum setiap saat. Naruto suka melihatnya.
Koneko terus menarik tangan Naruto. Ia ingin mencari wahana yang tak pernah ia coba. Koneko dan Naruto terus berjalan di antara orang-orang yang lewat di jalan paving block itu.
"Koneko-chan, tunggu dulu!" seru Naruto panik saat tangannya ditarik kuat oleh Koneko.
Naruto kewalahan karena Koneko terus menyeretnya. Hingga tatapan mata emas Koneko tertancap ke arah wahana yang menarik.
Koneko tersenyum senang. Ia menunjuk ke arah sebuah wahana yang cukup menyeramkan yaitu Ghost House.
"Naruto-kun, ayo kita masuk ke rumah hantu itu!"
Naruto melirik ke arah yang ditunjuk oleh Koneko.
DOOONG!
Saat itu juga wajah Naruto menjadi horror. Ia menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Koneko.
"A-apa? Ru-rumah han-hantu?"
"Iya," Koneko menatap ke arah Naruto."Tapi, kenapa wajahmu menjadi seperti itu?"
Koneko menjadi heran karena melihat perubahan dari wajah Naruto. Naruto menyadarinya.
"Ah, ti-tidak ada apa-apa, Koneko-chan," Naruto tersenyum kikuk.
"Apa benar?" Koneko mengerutkan keningnya.
"I-iya."
"Jadi, kamu mau menemani aku masuk ke sana?"
Wajah Koneko berseri-seri. Membuat Naruto terpaku melihatnya. Wajah Naruto sedikit memerah.
"I-iya, aku mau."
Naruto mengangguk. Koneko tersenyum senang melihatnya.
"Ayo!"
Secara langsung Koneko menarik tangan Naruto dengan cepat. Mereka mulai masuk ke wahana Ghost House itu. Bersamaan dengan pengunjung lain yang juga masuk ke dalam sana.
.
.
.
DUA PULUH MENIT KEMUDIAN ...
"Wah, seru sekali di dalamnya. Aku senang, Naruto-kun!" Koneko tertawa kecil untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia masih menarik tangan Naruto setelah keluar dari Ghost House itu.
Apa yang terjadi dengan Naruto?
Wajah Naruto sangat pucat. Rambutnya berantakan. Penampilannya juga kusut. Badannya sangat gemetaran karena ketakutan.
"Koneko-chan ...," panggil Naruto dengan suara parau dan pelan. Tiba-tiba ...
BRUUK!
Sang Namikaze pun tepar dan pingsan di tempat!
Koneko kaget setengah mati. Ia langsung menghampiri Naruto yang telah terkapar di dekat jalan paving block yang cukup sunyi. Masih di area wahana Ghost House.
"Naruto-kun, kamu kenapa?" sahut Koneko yang sangat panik sambil menggoyang-goyangkan badan Naruto. Berharap Naruto segera sadar.
Tapi, beberapa kali pun badan Naruto digoyang-goyangkan. Naruto tetap tidak sadar juga. Membuat Koneko semakin panik saja.
"Naruto-kun ... Kamu kenapa?" Koneko memasang wajah kusut. Ia tidak mengerti mengapa Naruto bisa pingsan setelah keluar dari wahana Ghost House. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya Naruto itu takut dengan yang namanya hantu.
Koneko menepuk pelan kedua pipi Naruto. Tapi, tetap saja tidak ada respon.
Tanpa disadari oleh Koneko, ada seseorang yang berjalan tepat ke arahnya.
BETS!
Secara langsung seseorang itu membekap mulut Koneko dari belakang dengan menggunakan sapu tangan. Koneko menjadi kaget lagi.
"Hmmm," Koneko memberontak di saat mulutnya dibekap dan tangan seseorang itu membelit leher Koneko dengan kuat.
Beberapa detik kemudian, Koneko pun pingsan. Orang asing itu segera menggendong Koneko dengan posisi bridal style. Lalu membawa Koneko menjauh dari tempat itu.
Gawat, Koneko diculik oleh orang yang tidak dikenal. Tidak ada yang mengetahui kejadian itu. Hingga beberapa jam lamanya.
.
.
.
Naruto sadar ketika merasakan ada sesuatu yang basah menimpa wajahnya. Seseorang menyiramnya dengan air yang berasal dari botol mineral. Hasilnya Naruto sadar juga.
Naruto membuka matanya secara perlahan-lahan dan mendapati wajah seorang laki-laki berambut hitam.
"Si-siapa?" gumam Naruto pelan.
Samar-samar cahaya mulai masuk ke dalam retina mata birunya. Naruto langsung membelalakkan matanya. Setelah tahu siapa yang berdiri di sampingnya kini.
"Te-teme!" seru Naruto bangkit dan terduduk di tempat. Ia celingak-celinguk sebentar. Lalu memandang Sasuke lagi.
"A-aku ada di mana sekarang?" tanya Naruto yang mendadak linglung. Ia memegangi kepalanya.
Sasuke berwajah datar.
"Di Konoha Garden, Dobe."
Naruto terpaku sebentar saat melihat Sasuke. Mendadak ia teringat sesuatu.
"Terus apa yang kamu lakukan di sini, Teme?" Naruto langsung bangkit berdiri dan menunjuk tepat ke arah wajah Sasuke."Jangan-jangan kamu ..."
Sasuke menyingkirkan telunjuk Naruto itu dari wajahnya. Dengan bersikap tenang dan dingin, ia mulai menjawab perkataan Naruto itu.
"Kebetulan aku sedang jalan-jalan ke sini juga."
"Bersama Sakura?"
"Tidak. Sendirian."
Naruto bengong. Ia bingung karena sahabatnya ini juga berada di sini. Tidak mungkin kebetulan. Pasti Sasuke mengikutinya atas suruhan sang ibu. Naruto tahu itu.
JIITS!
Wajah Naruto menjadi sewot. Matanya menajam untuk menyelidiki Sasuke. Sasuke menyadarinya.
"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke mengerutkan keningnya.
Naruto semakin sewot.
"Pasti kamu mengikuti aku atas suruhan Kaasan-ku, kan? Ayo, mengaku!"
Naruto melototi Sasuke. Sasuke hanya menatap datar si Naruto.
BLEETAAK!
Kepala Naruto dijitak oleh Sasuke.
"Aduh," seru Naruto meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang telah mengeluarkan bola merah.
"Dasar Dobe. Daripada itu yang kamu permasalahkan, lebih baik kamu mencari kekasihmu itu. Dia menghilang mendadak saat kamu pingsan tadi."
Naruto membelalakkan matanya saat mendengar berita buruk itu dari Sasuke.
"Eh, Koneko menghilang mendadak? Dia kemana?" tanya Naruto yang berwajah panik.
"Entahlah, tadi rasanya aku melihat ada seseorang yang menggendong Koneko dan membawanya entah kemana. Kejadiannya begitu cepat saat kamu pingsan tadi."
BLEETAAK!
Giliran kepala Sasuke yang dijitak oleh Naruto.
"Aw, kenapa kamu malah memukul kepalaku, hah?" sembur Sasuke marah sambil memegang kepalanya yang juga mengeluarkan bola merah. Dilihatnya, wajah Naruto sudah memerah padam karena kesal.
"DASAR, TEME! KENAPA SAAT AKU PINGSAN TADI, KAU TIDAK MENOLONG KONEKO, HAH? KAMU MEMANG SAHABAT YANG TIDAK DAPAT DIANDALKAN!"
Naruto naik pitam. Ia mencengkeram kerah baju Sasuke. Sasuke tetap bersikap tenang menghadapinya.
"Tenang, Dobe. Tahan emosimu."
"BAGAIMANA AKU TIDAK EMOSI! KAMU MELIHAT KONEKO DICULIK SESEORANG. TAPI, KAMU TIDAK MENOLONGNYA. DASAR, KAU SANGAT MENYEBALKAN!"
Wajah Naruto menegang. Sasuke tetap bersikap tenang. Ia tidak emosi dan berusaha untuk tidak melawan Naruto.
"Tapi, seharusnya yang menjaga Koneko adalah kamukan, Dobe? Kamu malah pingsan hanya karena ketakutan saat keluar dari wahana rumah hantu itu. Jadi, siapa yang salah atas kejadian ini? Aku atau kamu? Coba pikirkan itu. Kamu memang pengecut. Kamu memang belum bisa menjadi pelindung yang kuat untuk Koneko. Nyalimu masih sebesar kacang. Kamu memang lemah. Hanya karena hantu, kamu bisa menjadi orang yang sangat penakut. Bagaimana jika kamu dihadapkan dalam kejadian yang sangat seram? Kamu pasti lari duluan dan meninggalkan Koneko sendirian di tempat itu. Kamu belum bisa mengendalikan dirimu. Karena itu, jangan menyalahkan orang lain atas kejadian ini. Apakah kamu mengerti, Dobe?"
Sasuke mencoba memberi nasehat kepada Naruto. Naruto menjadi terdiam ketika mendengarkannya.
Akhirnya cengkeraman tangan Naruto terlepas dari kerah baju Sasuke. Naruto berwajah suram. Kedua matanya menyipit sayu. Ia menjauh jarak dari Sasuke. Ia terdiam sebentar.
Tak lama kemudian, Naruto menoleh ke arah Sasuke.
"Ya, kamu benar, Teme. Aku ini memang payah," Naruto berwajah suram."Maafkan aku, sobat."
Sasuke mengangguk. Ia berjalan pelan ke arah Naruto. Ia menepuk pelan pundak Naruto. Lalu ia tersenyum simpul.
"Tidak apa-apa, sobat."
Naruto sedikit tersenyum mendengarnya.
"Hm, terima kasih, Teme."
"Hn, lebih baik kamu coba telepon Koneko. Mana tahu handphone-nya masih aktif atau tidak."
Naruto mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya dari saku dalam jaketnya. Atas saran Sasuke, Naruto segera menelepon Koneko.
["Tut ... Tut ... Tut ...]
Panggilan masuk pada ponsel Koneko aktif. Menghasilkan bunyi yang menderu. Tapi, ponsel itu tidak diangkat.
Naruto menjadi gusar karenanya. Dicobanya menelepon Koneko lagi.
["Tut ... Tut ... Tut ...!"]
Tapi, tidak juga diangkat. Naruto menjadi kesal. Dicobanya lagi hingga beberapa kali pun itu, Koneko tidak mengangkatnya juga.
"Sial ... Payah!" seru Naruto kesal sekali. Ingin rasanya membanting ponselnya ke tanah sekarang juga.
"Bagaimana, Dobe?" tanya Sasuke.
Naruto melirik Sasuke.
"Tidak diangkat."
"Sepertinya Koneko memang diculik."
"Jadi, bagaimana sekarang?"
Sasuke memegang dagunya untuk berpikir sebentar. Sementara Naruto mondar-mandir sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu pulang saja dulu, Dobe."
Naruto tercengang.
"Hah, pulang?" Naruto naik pitam lagi."ITU TIDAK MUNGKIN. TEME, KAU GILA APA? MANA MUNGKIN AKU PULANG. SEMENTARA KEKASIHKU DICULIK. AKU TIDAK AKAN TENANG SEBELUM AKU BERHASIL MENEMUKAN KEKASIHKU!"
Naruto mencak-mencak. Ia geram sekali. Sasuke cuma berwajah innocent.
"Iya, itu saranku. Kamu pulang dulu. Biar aku dan teman-teman yang mencari Koneko. Kamu jangan khawatir. Jika Koneko sudah ditemukan, pasti aku akan menghubungimu. Bagaimana?"
Naruto berwajah seperti biasa. Sasuke menatap Naruto dengan serius.
"Ya, boleh juga sih."
Tiba-tiba Sasuke mendorong Naruto dengan cepat. Sehingga membuat Naruto terjatuh dan mencium tanah.
BRUK!
"Ayo, pulang sana!" perintah Sasuke sambil berbalik badan.
Naruto geram melihatnya.
"TAPI, JANGAN DORONG-DORONG AKU SEPERTI ITU DONG! DASAR TEME MENYEBALKAN!" Naruto bangkit berdiri dengan wajah yang memerah padam. Keningnya pun berdarah akibat jatuh tadi.
Sasuke langsung pergi sambil menelepon seseorang. Tanpa mempedulikan teriakan kemarahan Naruto yang mengamuk seperti gorilla yang keluar dari kandangnya. Membuat siapa saja akan terheran-heran melihatnya.
"TEME! KAU MEMANG ANEH!"
.
.
.
Di suatu tempat yang gelap gulita dan hening, terlihat seseorang duduk di kursi kayu sambil bersilang kaki. Wajahnya tidak tampak karena terselimuti oleh kegelapan. Di depannya kini, terdapat beberapa orang yang berpakaian hitam sedang berdiri sambil memberi hormat kepadanya.
"Bagaimana?" tanya seseorang itu.
Salah satu dari orang yang berpakaian hitam maju ke depan.
"Atas perintah Bos, kami berhasil menangkap gadis kecil yang bernama Toujou Koneko. Sesuai dengan petunjuk di foto itu, Bos."
Seorang yang dipanggil Bos itu. Ia hanya tersenyum simpul.
"Bagus. Mana gadis itu?"
BRUK!
Sebuah karung beras diletakkan tepat di lantai, tepat di depan si Bos.
Si Bos pun sweatdrop di tempat.
"Apa-apaan ini? Mengapa kalian malah membawa karung beras, hah? Aku memerintahkan kalian untuk menangkap gadis yang bernama Toujou Koneko itu. Bukan menangkap karung beras. Kalian ini bagaimana sih?" si Bos malah marah-marah. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar bagaikan bendera. Para anak buah pun sweatdrop di tempat.
"Ma-maaf, bos. Gadis yang kami tangkap itu ada di dalam karung beras ini," sahut salah satu para anak buahnya. Lantas ia langsung membuka tali yang mengikat karung goni itu.
Srek!
Maka seorang gadis berambut perak model bob dikeluarkan dari dalam karung beras itu. Kedua tangannya diikat dari arah belakang dan dua kakinya juga diikat. Ia terkapar tak berdaya di lantai granit itu. Karena ia masih pingsan akibat terhirup obat bius yang berasal dari sapu tangan yang membekap mulutnya saat diculik tadi.
Si Bos berdiri dari duduknya. Lalu ia berjalan pelan ke arah Koneko. Kemudian ia bersimpuh di samping Koneko.
"Jadi, ini dia orangnya. Seorang gadis yang sudah berani menjadi pacar Naruto," si Bos memperhatikan penampilan Koneko dari atas sampai bawah."Gadis loli. Chibi dan manis juga. Aku tidak menyangka Naruto bisa menyukai tipe gadis seperti ini. Naruto memang sudah gila. Tapi ..."
Si Bos menyipitkan matanya. Ia melirik ke arah para anak buahnya.
"Hm, aku ingin kalian membawa gadis ini ke tempatku. Lalu aku akan memberikan sebuah pelajaran yang berat buat gadis ini. Karena ia sudah membuat Naruto berpaling dariku. Aku akan membuatnya menderita."
Para anak buahnya mengangguk patuh. Mereka memberi hormat kepada si Bos.
"Baiklah, bos. Perintah anda akan kami laksanakan!
Si Bos bangkit berdiri. Dia tersenyum sinis.
"Pasti setelah ini akan menjadi menarik. Naruto, lihat saja nanti."
.
.
.
Naruto pulang ke rumahnya dalam keadaan yang menyedihkan. Wajahnya suram. Keningnya berdarah. Jalannya gontai. Penampilannya kusut. Pokoknya galau berat dengan aura kesuraman di atas kepalanya.
Hari kencan pertamanya dengan Koneko berakhir menyedihkan. Koneko diculik oleh orang yang tidak dikenal.
"Tadaima!" seru Naruto saat membuka pintu rumahnya. Ia memegang keningnya yang berdarah dengan sapu tangan miliknya.
"Okaeri!" terdengar suara lembut yang menjawab dari arah dalam. Tentu saja suara sang ibu.
Naruto terus berjalan gontai hingga sampai ke ruang tengah. Mendapati sang ibu yang tersenyum dengan manisnya. Ibunya sedang membersihkan meja makan.
"Halo, Naruto-chan. Kamu sudah pulang?" tanya ibu dengan lembut.
"Iya, aku pulang, Kaasan," jawab Naruto dengan lesu sambil melirik sang ibu sekilas.
Kushina menyadari perubahan sikap Naruto.
"Naruto-chan, kamu kenapa?"
Naruto terus berjalan gontai ke arah tangga menuju lantai dua.
"Tidak ada apa-apa, Kaasan. Aku pergi ke kamar dulu."
Naruto menaiki anak tangga satu persatu. Sang ibu menatap kepergian Naruto sampai hilang dari pandangannya. Ibu tersenyum simpul.
"Naruto-chan. Hehehe ..."
.
.
.
Naruto merebahkan badannya di atas kasurnya yang empuk. Ia tetap memegang keningnya yang terasa sakit. Wajahnya sangat muram. Karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan Koneko.
"Koneko-chan, kamu ada di mana?" Naruto menatap kosong langit-langit rumahnya yang cukup tinggi itu. Wajahnya suram sekali.
Ia sudah mencari Koneko kemana-mana. Dari sekolah, taman, dan berbagai sudut kota Konoha. Hingga usaha pencarian Koneko dilakukan sampai sore hari. Tapi, Koneko tidak juga ditemukan.
Naruto cemas. Naruto khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Koneko. Ia berharap Koneko akan baik-baik saja.
Lalu ia menghelakan napas beratnya sambil mengambil ponselnya dari dalam saku dalam jaketnya. Ia berpikir ingin menghubungi polisi agar Koneko cepat ditemukan.
Tapi, kalau dipikirkan lagi. Harus menunggu 24 jam dulu untuk memastikan Koneko benar-benar hilang. Baru setelah 24 jam, bisa menghubungi polisi untuk memberitahukan adanya kasus penculikan. Biasanya begitu prinsipnya. Naruto benar-benar memikirkan itu.
"Hm, mungkin lebih baik aku menunggu kabar dari Sasuke dan teman-temannya dulu. Semoga mereka cepat menemukan Koneko. Aku benar-benar sangat mencemaskannya."
Naruto menatap layar utama ponsel yang menampilkan foto koneko berpakaian sekolah. Naruto memperhatikan foto tersebut dengan lama.
"Koneko-chan ...," Naruto melekatkan ponsel itu ke dadanya."Semoga kamu baik-baik saja, sayang."
Sedetik kemudian, Naruto tertidur pulas. Karena kecapekan seharian mencari Koneko kemana-mana. Ia benar-benar sudah berusaha mencari Koneko. Naruto memang sangat mencintai gadis imut itu.
.
.
.
Secercah cahaya sang mentari menyapa Naruto ketika sudah memasuki pagi hari. Sorotan cahaya yang menyembul di balik ventilasi jendela kamar, menghangatkan suasana. Naruto terbangun bersamaan terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras.
TOK! TOK! TOK!
Naruto segera bangkit dari tempat tidurnya.
"Ya, sebentar."
Dengan langkah yang malas, Naruto membuka pintu kamarnya.
Krieet ...
Muncul seseorang yang berdiri di balik pintu. Naruto kaget setengah mati. Ia membelalakkan matanya.
Ada apa?
Seseorang yang ia cemaskan. Seseorang yang ia khawatirkan. Kini seseorang itu berdiri di depannya. Tapi, mengapa?
"Ko-Koneko-chan?" Naruto tercengang. Ia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
Naruto tidak mengerti. Kenapa Koneko bisa ada di rumahnya sekarang? Bahkan Koneko berdiri tepat di depan matanya. Dalam keadaan sehat. Tanpa ada luka sedikitpun.
Tapi, bukankah Sasuke bilang kalau Koneko diculik?
Tubuh Naruto bergetar. Kedua mata birunya berkaca-kaca.
Grep!
Naruto langsung memeluk pundak Koneko dengan erat. Ia benar-benar senang karena Koneko sudah ditemukan.
Gadis yang memang Koneko. Ia keheranan karena Naruto langsung memeluknya dengan erat. Bahkan ia mendengar isakan tangis yang pelan dari Naruto. Sang ketua OSIS menangis?
"Na-Naruto-kun ...?" Koneko bingung."Kamu menangis?"
"Koneko-chan, kemarin kamu kemana saja? Kata Sasuke, kamu diculik seseorang. Aku sangat mencemaskanmu. Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku sampai seperti orang gila saja saat tahu kamu menghilang mendadak. Aku benar-benar mau mati rasanya jika kamu hilang dariku."
Koneko terpaku mendengarnya. Sedetik kemudian, ia tersenyum simpul.
"Naruto-kun ..."
"Tapi, apakah aku bermimpi? Ini benar-benar kamu, kan?"
"Iya, ini benar-benar aku, Naruto-kun."
"Benar?"
"Benar."
"Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu diculik, Koneko-chan?"
"Aku memang diculik, Naruto-kun."
Naruto melepaskan pelukannya. Tangisannya benar-benar berhenti.
"Siapa yang menculikmu?"
Koneko terus tersenyum.
"Nanti kamu tahu sendiri."
Naruto mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan maksud Koneko.
Lalu Koneko melihat luka yang menganga di kening Naruto.
"Kenapa keningmu terluka?" tanya Koneko sambil meraba kening Naruto.
"Oh, ini. Karena terjatuh."
"Kamu ceroboh sekali. Tidak diobati?"
"Tidak apa-apa. Nanti bisa sembuh sendiri kok."
Naruto tersenyum sambil menggenggam tangan Koneko yang memegang keningnya tadi. Koneko berwajah datar.
"Tapi, harus diobati. Kamu punya kotak obat?"
"Ada. Di dalam kamarku. Ayo, masuk!"
Secara langsung, Naruto masuk ke dalam kamarnya. Diikuti oleh Koneko.
Naruto mengambil kotak obat yang berada di dalam laci meja belajarnya. Lalu memberikan kotak obat itu kepada Koneko. Koneko menerimanya.
"Tidak apa-apa. Tidak usah diobati seperti itu," kata Naruto tersenyum.
Koneko berwajah tegas. Ia menatap tajam ke arah Naruto.
"Tapi, harus diobati, Naruto-kun. Aku tidak mau tahu," Koneko menunjuk ke arah bawah."Ayo, kamu duduk di lantai sekarang juga!"
Naruto hanya mengangguk pelan ketika ditatapi tajam oleh Koneko.
"Oh, baiklah dokter."
Naruto duduk bersila. Membiarkan Koneko mengobati lukanya yang berada di keningnya itu. Naruto terus memandangi Koneko dengan lama. Sampai Koneko selesai mengobati lukanya itu.
"Sudah selesai ...," Koneko membereskan semua peralatan medis itu dan memasukkannya ke dalam kotaknya.
Koneko hendak bangkit berdiri. Tapi, tangannya ditangkap oleh Naruto. Koneko menoleh ke arah Naruto. Naruto juga bangkit berdiri.
"Naruto-kun, ada apa?" Koneko heran.
Naruto hanya diam saja. Koneko semakin heran. Karena Naruto memandanginya dengan lama.
'Naruto-kun ... Dia kenapa memandangiku seperti itu? Atau jangan-jangan ...'
Wajah Koneko memerah seketika. Ia mundur sedikit ke belakang. Jantungnya berdetak kencang. Naruto terus menatapnya dengan aneh.
"Na-Naruto-kun ..."
Koneko panik. Ia mundur dan mundur. Ia takut sekali. Karena ia sadar ia berada di dalam kamar Naruto.
Naruto terus berjalan pelan ke arah Koneko yang terus mundur. Tanpa Koneko sadari, ia menemukan jalan buntu. Ia terjebak. Sekarang ia telah berdiri di dekat dinding. Sedangkan Naruto sudah berdiri tepat di depannya sekarang.
"Naruto-kun ...," Koneko merasa berdebar-debar tatkala bagian belakang lehernya dipegang oleh Naruto. Wajahnya memerah ketika dagunya diangkat oleh tangan Naruto. Wajahnya kini berdekatan dengan wajah Naruto.
"Aishiteru, Koneko-chan ...," bisik Naruto pelan saat hidungnya bersentuhan dengan hidung Koneko. Wajah Koneko memerah padam.
"Aishiteru, Naruto-kun ..." Koneko merasa gugup.
"Arigatou, Koneko-chan. Karena kamu sudah mengobati aku."
"Iya, Na- ..."
Belum sempat Koneko meneruskan kata-katanya. Naruto langsung melekatkan bibirnya lagi ke pipi Koneko. Naruto mengecup pipi Koneko begitu lama. Karena ia sangat merindukan Koneko. Setelah mengetahui Koneko menghilang karena diculik, Naruto tidak mau Koneko hilang lagi dari tangannya. Ia ingin Koneko selalu berada di dekatnya.
Tak lama kemudian, Naruto melepaskan ciumannya dari pipi Koneko. Wajah Koneko memerah padam. Naruto masih memegang dagu Koneko. Ia menatap wajah Koneko begitu lama.
"Koneko-chan ..."
"I-iya, Naruto-kun."
"Aku tidak ingin melepaskanmu. Tetaplah berada di dekatku."
Naruto menyibak poni rambut Koneko. Lalu ia mencium kening Koneko itu. Wajah Koneko tetap memerah. Ia menutup matanya rapat-rapat.
Setelah mencium kening Koneko, Naruto menatap wajah Koneko lagi. Karena Koneko masih menutup matanya. Naruto terpesona karena wajah Koneko sangat imut ketika ia menutup matanya. Ditambah wajahnya yang merona merah.
"Koneko-chan ..."
Naruto mengangkat dagu Koneko lagi. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Koneko lagi. Ia mengecup pipi Koneko. Koneko dapat merasakan bahwa Naruto mencium pipinya lagi.
'Naruto-kun ... Dia menciumku lagi,' batin Koneko membuka salah satu matanya.
Lalu Koneko menutup matanya lagi. Ia membiarkan Naruto menciumnya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari tadi. Naruto masih mencium pipi Koneko. Hingga seseorang itu berdehem keras.
"EHEM!"
Naruto dan Koneko kaget setengah mati karena mendengar suara deheman itu. Naruto melepaskan ciumannya. Lalu ia melirik ke arah seseorang yang sedang berkacak pinggang.
"Kaasan!"
Rupanya Kushina. Naruto berwajah horror. Sedangkan Koneko menunduk karena malu. Wajah Koneko memerah padam.
Wajah Kushina sudah seperti hantu. Menggelap begitu. Naruto merasakan aura membunuh muncul di balik belakang tubuh sang ibu.
"Naruto-chan ..."
Glek!
Naruto menelan ludahnya. Ia menjauh jarak dari Koneko.
"I-iya, Kaasan!"
"APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADA KONEKO-CHAN, HAH? DASAR!"
BUAAAK!
Saat itu juga, terdengar pertandingan tinju di kamar Naruto itu.
Nasib naas menimpa Naruto di pagi hari yang cerah.
Kasihan sekali kamu, Naruto.
.
.
.
Sebuah kain kassa yang diplester menempel di pipi kanan Naruto. Kening Naruto juga ditempeli sebuah kain kassa yang diplester. Naruto benar-benar babak belur.
Kini Naruto sedang makan pagi bersama Koneko dan Kushina. Minato tidak terlihat di antara mereka bertiga. Karena Minato sedang pergi ke suatu tempat.
Mereka bertiga makan dengan tenang. Hingga Naruto membuka percakapan duluan.
"Kaasan ..."
"Hm, apa Naruto-chan?"
Kushina menatap Naruto yang duduk berhadapan dengannya.
"Kenapa Koneko bisa ada di sini? Lalu kenapa Kaasan bisa mengenal Koneko? Padahal aku belum mengenalkan Koneko kepada Kaasan dan Tousan," tanya Naruto penasaran. Ia menghentikan makannya sejenak.
Kushina juga menghentikan makannya. Sementara Koneko terdiam mendengarkan percakapan ibu dan putranya itu.
Kushina tersenyum.
"Tentu saja. Kaasan mengenal Koneko. Karena Kaasan yang telah menculik Koneko."
Naruto membulatkan kedua matanya. Ia kaget sekali.
"A-APA? KAASAN MENCULIK KONEKO? APA MAKSUDNYA INI? AKU TIDAK MENGERTI!"
Kushina tetap tersenyum. Koneko yang duduk di samping Naruto. Ia juga menghentikan makannya sebentar.
"Karena Kaasan ingin mengenal calon menantu Kaasan ini lebih dekat. Makanya Kaasan menculiknya. Agar Kaasan mengetahui bagaimana karakter gadis yang kamu sukai ini. Ya, seperti yang kamu lihat," Kushina menatap Koneko."Kaasan suka dengan kekasihmu ini. Karena dia mirip sekali dengan Kaasan. Kamu memang pandai dalam memilih calon istri."
Wajah Naruto dan Koneko sama-sama memerah.
"Calon menantu? Calon istri?" kata Naruto terpaku di tempat.
"Iya, Kaasan merestui hubungan kalian berdua," Kushina mengangguk senang."
Naruto terpaku lagi mendengarnya.
"Yang benar, Kaasan?"
"Hm ... Kaasan harap kalian berdua secepatnya bertunangan. Biar tidak ada seorang pun yang mengganggu hubungan kalian ini. Apakah kalian setuju?"
"Setuju, Kaasan!" seru Naruto bersemangat sambil melirik Koneko."Koneko-chan, bagaimana denganmu?"
Wajah Koneko merona merah. Ia menjadi salah tingkah.
"A-aku setuju saja, Naruto-kun."
"Yes, Koneko-chan setuju. Aku senang sekali."
Secara refleks, Naruto meraih tangan Koneko. Wajah Koneko semakin memerah saat Naruto melemparkan senyum manisnya. Lalu Koneko menunduk malu.
Kushina senang melihat mereka berdua. Naruto kelihatan bahagia bersama Koneko. Si gadis imut yang sangat menarik perhatian.
Naruto menggenggam kuat tangan Koneko. Ia memandang Koneko begitu lama.
Betapa Naruto mencintainya. Koneko sungguh beruntung mendapat laki-laki tampan ini. Kini hubungan Naruto dan Koneko disetujui oleh Kushina. Tentu Minato juga menyetujuinya.
Tapi, bagaimana dengan ibu Koneko itu?
Akan kita lihat bagaimana perjuangan Naruto untuk mendapatkan restu dari ibu Koneko itu.
Apakah Ibu Koneko akan menyetujuinya atau tidak?
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N :
Update cepat lagi. Mumpung ada ide nih dari teman. Yang ngetik adalah teman saya. Jadi, dia yang tahu tentang kelanjutan cerita ini. Saya hanya diam melihatnya. Sambil memperbaiki bagian yang salah.
Seharusnya semalam, cerita ini saya update. Tapi, karena saya sedang sakit demam. Jadinya sekarang ini saya update cerita ini. Saat inipun, saya masih sakit. Entahlah, akhir-akhir ini saya sering sakit. Jadi, mohon maaf jika cerita-cerita yang lain belum bisa saya lanjutkan. Ya, karena sakit ini. Tapi, setelah sembuh. Pasti bakal saya lanjutkan cerita yang belum selesai.
Saya pikir cerita ini jadi aneh. Hm, entahlah. Saya tidak tahu.
Ok, segini saja. Jika ada waktu bakal saya lanjutkan. Mungkin dijadwalkan chapter 5 bakal update pada tanggal 25 Juli 2015 ini. Karena banyak yang ingin saya kerjakan.
See you next ... Jika ada waktu, akan saya balas review kamu semuanya.
Hikari Syarahmia and my friend ...
Please your review ...
