Uhuk!
Double update!
Aku gatau apa yang mendorongku untuk update the fourth chapter sekaligus, tapi, oh well...
Aku cuman lagi gada kerjaan, nungguin cucian selesai dan masih merenungi acara sekolahku yang kutonton kemarin. Para pemain Xpelliarmus, kalian keren! Padahal gatau mereka baca ini atau gak, LOL.
So, I don't want to waste the time, here. Welcome to chapter four, yeorobeun!
Chapter 4: Angel
Baekhyun terduduk di kamarnya, tangannya masih menggenggam jubah yang baru saja dia lepas.
Dia merasa kalut, tak mengerti. Percakapannya dengan Chanyeol menamparnya seperti petir di malam sunyi. "Sembuhkan mereka." Gadis itu menjatuhkan dirinya ke kasur empuknya ketika kalimat pangeran itu terngiang di kepalanya.
Dia bukan dokter.
Dia hanyalah gadis yang kebetulan cukup pintar di bidang alam semasa sekolah, hanya itu dasarnya ketika dia melihat gejala mereka. Diagnosanya takkan pernah tepat, mungkin takkan pernah tepat. Ditambah lagi, gejala mereka tampak campur aduk tak karuan.
Jika dia pintar dia tak mungkin bekerja serabutan untuk memenuhi hidupnya, dia bisa saja berleha-leha di rumah setelah seharian bekerja kantoran. Tapi lihatlah dia, mengantar koran dan susu di pagi hari dan di toko buku sampai malam. Dan lihat dia sekarang, di ruangan istana dunia yang disebut sebagai El Dorado, dimana dia diminta oleh seorang pangeran untuk menyembuhkan rakyatnya di desa terpencil.
Bunuh saja aku.
Baekhyun menarik bantal dan meletakkannya di bawah kepalanya, menghela nafas.
Ketika dia membuka mata, Kyungsoo sudah ada di depannya, menatapnya dengan mata bulat lebarnya. Wanita itu membiarkan Baekhyun duduk dengan topangan tangannya sebelum bertanya,
"Kau dan Orabeoni menghilang sepanjang pagi. Kalian kemana?" tanyanya tepat sasaran dan menatap jubah yang masih Baekhyun genggam bahkan dalam tidurnya. "Itu sseugae-chima milik Daebi-Mama dulu." Ucap Kyungsoo.
"Daebi-Mama?" tanya Baekhyun perlahan, melihat raut wajah Kyungsoo yang tampak sedih. "Siapa itu?"
"Hajin-Mama, ibu suri kami, Ibu Orabeoni." Jelasnya dan Baekhyun menatap jubah itu. Ini milik ibu Chanyeol? Pikirnya, lalu kenapa memberikannya ini?
"Omong-omong, pembesar istana akan datang malam ini." mata Baekhyun membelalak mendengarnya. "Seperti biasa, mereka membahas wabah yang terjadi." Gumam Kyungsoo. "Orabeoni dan Sebang-nim akan datang."
"Lalu bagaimana denganku?" gumam Baekhyun, "Aku akan terkunci disini, iyakan?"
Kyungsoo menggelengkan kepala, "Kau bebas kemana saja, tapi bawa satu pelayan bersamamu." Jelas Kyungsoo. "Dan juga, menteri-menteri itu sedikit sensitif jika hal tak berjalan sesuai keinginan mereka. Untuk berjaga-jaga saja, untuk malam ini panggil Orabeoni dengan sebutan Seja-Jeoha. Dia sudah raja, sih, tapi belum dinobatkan, jadi masih dengan panggilan Wangseja."
"Kyungsoo," tahan si brunet, "aku tak mengerti."
"Mereka bisa marah jika mendengarmu berkata 'kau' dengan tak sopan pada Orabeoni. Jadi untuk berjaga, panggil dia dengan sebutan Seja-Jeoha malam ini."
Akhirnya, setelah banyak sekali penjelasan tentang tata gelar kerajaan dari Kyungsoo yang membuatnya serasa kembali ke masa sekolah dimana mata pelajaran sejarah berlangsung, akhirnya wanita itu meninggalkannya setelah memastikan Baekhyun benar-benar mengerti tentang hal itu.
Wangseja... telaah Baekhyun dalam hati. Dia benar-benar bermimpi. Atau mungkin setelah dia terjatuh di lantai kamar mandi itu, dia koma tanpa alasan yang jelas. Atau mungkin dia sudah mati namun jiwanya tersesat.
"Jadi Chanyeol adalah Wangseja, Kyungsoo itu pasti disebut Ma-nim, dia sudah menikah... aku apa? Agasshi? Bang-nyeo?" Baekhyun terus memperkirakan sebutannya hingga tak menyadari pintu terbuka dan seseorang berdiri di sampingnya.
"Agasshi?" tanya orang di belakangnya dan dia melonjak, menatap Chanyeol yang menahan tawanya.
"Kukira kau itu pangeran, kenapa masuk tanpa izin, ke kamar perempuan lagi." Cebik Baekhyun, menatapnya kesal.
"Kau menyebutku itu tanpa gelar." Sindir Chanyeol, menganggukkan kepala, " Bagus sekali, Agasshi."
Baekhyun memutar bola matanya, "Iya, Seja-Jeoha." Ucapnya sarkastis, "Sangat aneh memanggilmu itu, tak bisakah aku hanya memanggil namamu?" Protes gadis itu.
"Dan kau mau ditatap sinis sampai kau merasa ingin mati oleh para menteri itu? Silahkan." Sekali lagi, bibir Baekhyun mencebik mendengar perkataan yang keluar dari pangeran itu.
Baekhyun melirik bungkusan yang dibawa Chanyeol, sebuah bungkusan kotak sedang dengan kain keunguan membungkusnya. Menyadari si brunet terus memperhatikan benda itu, Chanyeol menyerahkannya.
"Pakai ini nanti." Pintanya. Membuat Baekhyun berasumsi bahwa yang ada di dalam bungkusan tersebut adalah setelan hanbok. "Kenapa? Tak mau? Kau bahkan belum membukanya." Tanyanya ketika melihat raut wajah gadis itu yang menunduk.
"Aku berniat untuk disini saja, aku tak yakin aku mau keluar kamar." Akunya. Dia merasa malu, lagi dia bukan anggota kerajaan. Menter-menteri itu pasti mencurigai wajah baru yang muncul, apalagi seorang gadis.
"Apa maksudmu? Kau tak bisa tetap disini, kau tak bisa terkurung." Tolak Chanyeol, jelas tak menyukai gagasan Baekhyun untuk tetap di kamarnya hingga mereka pergi. "Kenapa?" tanyanya lagi dan Baekhyun memberanikan diri untuk mengangkat kepala untuk menatap royalty di depannya.
"Aku malu," jawabnya dan pangeran itu berjongkok di depannya yang duduk di sisi tempat tidur. "Aku bukan siapa-siapa."
"Bukan siapa-siapa?" ulang Chanyeol, kata-kata keluar dari mulutnya dengan penuh kebingungan dan rasa tak percaya. "Setelah sekian lama, kaulah yang mengoceh tentang penyakit mereka. Memang aneh dan gila, namun aku mempercayainya. Dan aku yakin kau lebih dari bukan siapa-siapa."
"Cheonsa." Jelas pria itu lagi, "itulah kau."
Dan Baekhyun akhirnya keluar dari kamarnya.
Hanbok yang diberikan Chanyeol terasa berat di tubuhnya. Terlalu banyak lapisan, berbeda dengan yang diberikan Kyungsoo, seolah dia adalah gadis bangsawan yang patut diperebutkan. Rambutnya tak lagi dijalin ke belakang, namun tergerai dengan jalinan kecil yang tergulung membentuk bando di kepalanya. Sisanya tergerai bebas.
Seorang gadis pelayan bernama Yeoreum bersedia menemaninya hari ini, dan dengan berat hati mengikuti keinginan Baekhyun untuk melihat-lihat kota setelah mendengar dari Kyungsoo bahwa tempat itu sangat indah di malam hari.
Memang benar, dan sepertinya justru lebih meriah berada di luar istana.
Lampu terus berkelap-kelip di tepi jalanan dan suara musik terus berputar. Baekhyun dapat dengan mudah menghafal lirik lagu meriah tersebut dan ikut menyanyikannya, membuat Yeoreum sedikit kewalahan. Dia harus minta maaf nanti.
Setelah beberapa tusuk permen kapas dan ddeokbokki lagi, akhirnya dua gadis muda tersebut terduduk di sebuah bangku panjang. Kelelahan.
"Yeoreum, maaf. Aku terlalu bersemangat malam ini." ujar Baekhyun, melihat gadis itu yang memukul-mukul kakinya akibat kewalahan mengikuti Baekhyun.
"Tak apa, Agasshi." Jawabnya singkat.
Chanyeol hanya terus mendengar ocehan menter-menterinya yang terus membicarakan wabah yang menimpa desa tersebut. Itu memang hanyalah desa terpencil, namun bukan itu sebenarnya.
Yang dikhawatirkan adalah bagaimana jika merambah ke kota lain, bagaimana jika ini ancaman. Pangeran muda itu memutar bola mata dengan sembunyi-sembunyi. Apa yang seharusnya dikhawatirkan adalah bagaimana penduduk disana sudah sekarat, bukan bagaimana itu adalah desa terpencil.
Jongin yang melihatnya hanya membisikkan kata "Jeoha," untuk memanggilnya, membuatnya fokus ke pertemuan itu lagi.
"Dan lagi, ada rumor mengatakan bagaimana seorang gadis asing masuk ke istana." Ujar satu menteri, mendapat anggukan dari yang lain. Dan spontan membuat kepala Chanyeol menegak untuk mendengarkan lebih. "Jeoha, apa rumor ini benar?"
Sebelum dia bisa menjawab, seorang lagi berkata, "Seseorang juga melihatnya dengan Anda di desa itu. Apa yang Anda pikirkan dengan mengajaknya kesana?"
Chanyeol berusaha mencari cara untuk mendiamkan mereka. Dia tak bisa membuat mereka tahu apa tujuan Baekhyun, lagi mereka belum siap menerimanya. Dengan gadis itu yang praktisnya adalah manusia, mereka takkan percaya.
Dimana Baekhyun? Pikirnya dan menatap Jongin. Sepupunya pun mengangguk padanya.
"Kemana kalian akan membawaku?" tanya gadis itu pada para pengawal yang dengan seragam kerajaan yang menghalanginya, mengklaim bahwa mereka harus menjemputnya. "Dia sudah bilang untuk membiarkanku," Baekhyun berdeham, "Wangseja."
"Seja-Jeoha meminta kami membawa Anda pulang segera." Dan melirik ke arah Yeoreum, gadis pelayan itu mengangguk.
"Agasshi, aku mengenali mereka. Ayo."
"Kau yakin?" dia mengangguk, membuat Baekhyun menurut dan mengikuti mereka.
Sudah, jawab Jongin, menatap sepupunya. Tenanglah, Hyung-nim.
Dengan segera, putra mahkota tersebut membubarkan para menteri, mengatakan bahwa pertemuan malam ini disudahi dan beranjak keluar dari ruangan, diikuti Jongin dan Sehun yang berpencar dari barisan mereka.
Dia harus melihat Baekhyun.
Para menteri tahu tentang dia dan Chanyeol tak pernah mengharapkan bahwa mereka akan tahu begitu cepat.
"Biarkan saja rumor itu, Hyung-nim," saran Sehun, "dia akan selesai sendiri nantinya."
"Masalahnya ini tentang Baekhyun, bukan tentangku." Jawab Chanyeol tanpa berpikir, membuat sahabat masa kecilnya itu kembali berpikir. Baekhyun yang baru tinggal dua hari di El Dorado membuat Park Chanyeol seperti itu, tidak mungkin.
Mungkinkah?
Dun dun dun!
Sehun, jebal, jangan kepo, kkkkkk
Anyway, aku gak tau kalian sadar atau tidak, aku juga gak tahu istilah-istilah pakaian yang mereka pakai itu benar atau tidak. Internet adalah andalanku, LOL.
Jadi seperti biasa, tolong di review kalau ada yang salah.
aku mulai confidence nulis disini karena mungkin ini seolah permulaan baru karena saat aku nulis di W (Sorry, gaboleh nyebut merk) rada lonely, LOL, jadi aku hanya berharap disini kalian terbuka sama rookie sepertiku.
Oh, my God, why do I sound so melancholy all of a sudden, LOL.
Jadi, sampai disini ya, chapter ke empatnya.
Yoon Soo Ji, out!
Annyeong!
