An Eyeshield 21 fanfiction
Disclaimer: Yuusuke Murata and Riichiro Inagaki
Warning: AU, OOC, typos, crackpair dan keganjilan lainnya
enjoy it ...
TEEEEEET
Bel keluar main pertama berbunyi memekakkan telinga. Semua siswa-siswi yang semula duduk dengan rapi langsung berhamburan dari tempat duduk masing-masing, sebagian dari mereka ada yang saling berkenalan dan ada pula yang berlarian ke arah kantin. Sedangkan aku dan Wakana termasuk atau tepatnya terjebak di antara para siswa dan siswi yang saling berkenalan. Padahal kami berencana untuk memakan bekal yang kami bawa, jadilah acara makan bekal itu tertunda.
"Namaku Ako dan ini Sara," seru seorang siswi berkacamata pada kami. Ia juga memperkenalkan teman sebangkunya yang berambut hitam tergerai. Aku dan Wakana mengangguk dan tersenyum bersamaan, "Salam kenal."
Di antara kerumunan itu aku berusaha untuk melihat ke arah Karin sensei yang sudah bersiap ingin keluar dari ruangan kelas. Ada perasaan aneh yang melanda hatiku saat memperhatikannya, kutegaskan sekali lagi ini bukanlah perasaan cemburu yang dangkal karena wajahnya yang cantik, tapi perasaan yang lebih rumit dari itu.
Kulihat wanita itu dengan hati-hati dan gugup membawa kanvas yang tadi ia letakkan di atas meja, membuka pintu kelas dan kemudian hilang dari pandanganku.
"Mamori? Kenapa kamu memperhatikan Karin sensei seperti itu?" Wakana memandangku heran.
Aku mengerjapkan mata terkejut, "Bukan apa-apa, Wakana." Aku berkelah dan Wakana dari ekspresinya yang kulihat tak terlalu memusingkan hal itu, syukurlah, "ayo kita makan bekal," ajakku mengalihkan pikirannya, namun ternyata bel masuk sudah terlanjur berbunyi. Padahal perutku belum terisi apa pun dari tadi pagi, ya sudahlah sepertinya tidak apa-apa, toh cuma satu kali ini aku tidak sarapan dan makan bekal.
.
/salahkah jika aku cinta dia?/
.
"Hei Ketua, setelah ini kita belajar apa ya?" Ako bertanya sambil merapikan peralatan belajar miliknya dan memasukkan ke dalam tas, bersiap-siap untuk moving class.
Ketua kelas kami, seorang siswa berambut putih, namanya Kaitani Riku mengangkat bahu, "Hm, aku juga tidak tahu pasti, tapi yang kutahu sekarang kita harus ke labor bahasa dulu." Jawabnya seraya menyambar tasnya dan pergi menuju labor bahasa.
"Riku orangnya cuek ya …," aku sweatdrop melihat reaksinya barusan, "kenapa banyak yang memilihnya jadi ketua kelas tadi?"
Sara menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju, "Riku memang orang yang seperti itu, tapi walaupun dia terkesan cuek, dia perhatian sekali lho,"
"Dari mana kamu tahu?" aku memiringkan kepala bingung, sepertinya Sara amat yakin dengan pernyataannya barusan.
"Aku, Ako dan Riku dulu satu SMP." Sara nyengir, "dia juga pintar, seharusnya dia masih kelas 3 SMP sekarang, tapi dia loncat kelas …,"
Mataku membulat dan mulutku menganga membentuk huruf 'o' mendengar perkataan Sara, "Wah! Dia hebat sekali!"
"Yah begitulah," Ako menimpali, ia sudah selesai memasukkan perlengkapan sekolahnya ke dalam tas seragam sekolah kami yang berwarna hitam.
"Dan juga ia cukup tampan." Wakana mengucapkan kalimatnya dengan wajah bersemu, oh ada yang jatuh hati sepertinya, "Apa dia punya pacar?"
Ako menggeleng pelan, "Belum, sepertinya seleranya tinggi."
Tiba-tiba Sara memekik tertahan saat ia menoleh ke pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam, "Lihat! Sudah pukul berapa sekarang? Kita terlambat masuk kelas bahasa!"
Dengan serentak kami melihat sekeliling, sudah tak ada orang lagi di dalam kelas ini, hanya tinggal kami berempat yang berbincang sedari tadi, selanjutnya kami saling berpandangan dalam diam dan kemudian langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari.
"Kyaaaaaa! Kita ditinggal!"
.
/salahkah jika aku cinta dia?/
.
"Kau saja yang masuk duluan, Mamori!" Ako mendorong pundakku untuk membuka pintu labor dan masuk duluan setelah kita sampai dengan berlarian munuju labor yang ternyata tak terlalu jauh dari kelas.
"He—hei kita masuk saja bersama-sama," ujarku berusaha menahan tubuhku yang terdorong.
"Kalau begitu ayo, satu, dua …,"
Saat tepat tangan kami ingin membuka pintu labor, pintu labor itu dibuka dari arah dalam oleh Riku. Kami berlima sontak sama-sama terkejut.
"Kalian dari mana saja sih? Aku baru ingin mencari kalian. Kukira kalian tersesat." Riku yang sudah sadar dari kagetnya langsung menanyakan kami yang masih mengelus-ngelus dada karena shock.
"Ma, maaf Riku-san, tadi kami hanya berbincang sebentar dan lupa waktu, hehe." Sara mewakili kami untuk menjawab, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudahlah, ayo masuk, sensei sudah menunggu." Ah memang benar kata Sara, Riku orangnya bertanggung jawab.
Kami berempat mengikuti Riku dari belakang, menghela napas kemudian berjalan dengan wajah tertunduk karena malu. Kami takut sekali kalau ternyata sensei bahasa-apa-yang-belum-kami-ketahui ini guru killer. Ajang berdoa dalam hati pun sudah dilaksanakan masing-masing dengan sungguh-sungguh.
"Oh, jadi ini siswi-siswi yang kamu bilang hilang tadi?" tanya suara pria, suara pria dewasa.
.
.
.
DEG
Su, suara ini ….
"Iya, Yamato sensei, mereka yang tadi kubilang hilang." Jawab Riku pada pria yang tengah duduk di meja guru itu. Aku mengintip sedikit wajah orang yang berbicara pada Riku itu untuk memastikan.
.
.
.
Tuh kan memang dia! Oh Tuhan! Bagaimana ini? Hatiku belum siap! Apa bajuku rapi? Apa wajahku terlihat cantik? Apa mukaku berminyak? Aaaaa! Tidak ada cara lain selain menunduk terus agar ia tak sadar dengan keberadaanku, namun sudah terlambat sepertinya, dia sudah mengenaliku terlebih dahulu.
"Hei siswi auburn yang paling ujung, angkat wajahmu," Yamato sensei menahan tawa, ia sudah pasti mengenaliku. Menyuruhku untuk mengangkat wajah segala lagi. Sial!
'Aku tidak bisa bodoh! Wajahku terlalu bersemu!' aku semakin menundukkan wajahku. Rasanya mataku mulai berkunang-kunang, dada ini pun sudah tak sanggup untuk menahan debaran jantung yang berlebihan. Ditambah lagi entah mengapa perutku tiba-tiba terasa sangat melilit dan perih.
'Oh ayolah, jangan perhatikan aku. Aku bisa mati tahu … Aku bisa mati … Aku bisa mati … aku bisa …,'
BRUK
"Sensei! Mamori pingsan!" seisi kelas pun menjadi panik.
Oh Tuhan, yang benar saja ….
.
/salahkah jika aku cinta dia?/
.
Yang kali pertama kulihat saat aku membuka mata adalah langit-langit yang begitu putih, dengan cahaya lampu yang terasa begitu menyilaukan. Samar-samar bau obat menjalar masuk ke hidungku, hei ini di mana?
"Mamori? Kau sudah sadar? Syukurlah!" Wakana meremas-remas tanganku, hei itu sakit!
Aku dibantu bangkit oleh Wakana dari keadaan berbaring kemudian duduk menyandar, "Aku kenapa Wakana? Sekarang kita di mana?" ah, bahasanya seperti orang amnesia saja.
"Kamu pingsan, kita sekarang ada di UKS." Jawab Wakana singkat, namun masih ada gurat-gurat khawatir di wajahnya yang mungil.
Serasa tertimpa meteor, tulang-tulangku langsung terasa lemas, kenapa sampai di bawa ke UKS? "Pingsan?" tanyaku langsung tak mempercayai jawaban Wakana.
Wakana mengangguk dan kemudian memberikan secangkir teh yang terletak di atas meja yang ada di dekat kami ke tanganku, kuseruput teh itu sedikit lalu kukembalikan ke tangan Wakana, ia meletakkannya kembali di atas meja.
"Kamu ingat saat tadi kita di labor bahasa? Yamato sensei menyuruhmu untuk mengangkat wajah dan kamu tak mau?"
Otakku mencoba mencerna kalimat dan mengingat hal memalukan itu, "Ya, ya aku ingat." Ucapku mengalihkan pandangan dari Wakana.
"Setelah itu kau pingsan karena perutmu kosong. Pasti kau tadi pagi tak sarapan 'kan?" Wakana menudingku, aku mengangguk setuju, yah memang tadi pagi aku tak sempat sarapan karena terlalu bersemangat ingin cepat-cepat tiba di sekolah.
"Jangan ulangi itu lagi, Mamori, sarapan sangat penting. Kau tahu, kau tadi sudah membuat semua orang repot, bahkan Yamato sensei harus menggendongmu kesini."
EH—APA?
Seketika kurasakan cahaya putih—sangat sangat putih menabrakku, rasanya aku ingin pingsan lagi, tapi langsung kucoba untuk menahannya kali ini.
"Hm …," aku hanya bergumam-gumam tak jelas, memegangi perutku yang entah kenapa terasa semakin mulas.
"Semua siswi memandangmu iri, Mamori, kau digendong dengan bridal style lho!" Oh Tuhan, jika ini komik, mungkin akan ada adegan aku jatuh dari ranjang saking shocknya, atau adegan aku terbang dengan sayap bagai kupu-kupu saking senangnya. Yang disayangkan, kenapa aku mesti pingsan?
"Hei Wakana, apa jam pelajaran Bahasa Inggrisnya sudah berkakhir?" aku mengalihkan perhatian untuk mencoba tak terlalu menampakkan rasa senangku pada Wakana.
"Belum, kamu hanya pingsan satu jam pelajaran, jadi masih ada satu jam lagi, eh tapi dari mana kau tahu Yamato sensei itu guru Bahasa Inggris?" Wakana menatapku curiga, aku segera berdiri dari ranjang UKS itu dan merapikan seragam, "Hanya menebak." Ucapku seraya menariknya keluar dari UKS.
"Tapi, Mamori, kau yakin sudah sehat?"
"Ya, aku yakin, Wakana tenang saja," aku tersenyum menenangkan sahabat baruku ini.
.
/salahkah jika aku cinta dia?/
.
Hei apa perasaan menyukai gurumu sendiri itu salah? Apakah itu termasuk dosa?
Aku membuka pintu labor perlahan, dari celah pintu yang kubuka aku bisa melihat dia sedang menerangkan sesuatu di depan kelas. Karena mendengar bunyi pintu yang terbuka, serentak seisi kelas (dan tentunya dia juga) menatap ke arah pintu yang terbuka—menatap ke arahku dan Wakana.
"Ayo masuk, saya baru saja memulai sesi perkenalan," dia tersenyum kepada kami dan mempersilakan kami masuk dan mengikuti kelasnya, aku dan Wakana duduk di tempat yang masih kosong, bangku paling belakang, karena bangku depan sudah terisi penuh oleh para siswi dan siswa pemuja pria tampan. Eh siswa? Jangan, jangan ada yaoi di antara kita. Ketampananmu memang mengundang dosa, Sensei.
"Kamu sudah baikan?" dia datang menghampiri mejaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum khas orang yang sedang menahan sakit, "syukurlah kalau begitu," dan ia pun kembali ke tempatnya di depan kelas. Argh! Kenapa tak berlama-lama saja di sampingku?
"Baiklah, akan saya ulangi sekali lagi, nama saya Yamato Takeru, kalian bisa memanggil Yamato sensei dan saya mengajar Bahasa Inggris." Ia tersenyum dan semua siswi yang duduk paling depan sepertinya memekik tertahan, agak norak sih, tapi sebenarnya aku ingin melakukan hal itu juga, "ada yang ingin ditanyakan?" sambungnya.
"Apa sensei sudah punya pacar?" seorang siswi barisan depan langsung menanyakan pertanyaan yang paling ingin ditanyakan. Good job, Girl!
Yamato sensei menggeleng kemudian mengangkat kedua bahunya, "Untuk saat ini belum," dia memberi jeda, membuat semua siswi di sini menahan napasnya, "mungkin ada yang ingin menjadi pacar saya dari kelas ini?"
Semua murid perempuan langsung mengangkat tangannya, mengajukan diri, tentu saja tak terkecuali diriku. Dan ia tersenyum, "tapi sayang ya, kalian terlalu muda sepertinya." Semua siswi mencibir serentak, sedangkan para siswa hanya menertawai kami para siswi. Aku hanya bisa tersenyum kecut.
Memangnya apa yang salah dengan umur? Bukankah cinta tak memandang usia?
.
/salahkah jika aku cinta dia?/
.
Semua pelajaran telah selesai hari ini. Aku bersiap pulang dengan tidak bersemangat mengingat kenyataan tak ada yang rumahnya searah denganku. Langkah kaki pun terasa berat, dulu di SMP aku tak pernah pulang sendirian seperti ini, rasanya sepi sekali. Oh iya, aku harus ke ruang guru dulu mencari Yamato sensei. Bukan, bukan untuk menyatakan cinta, tapi untuk berterima kasih atas bantuannya telah ehm, menggendongku ke UKS tadi.
.
/salahkah jika aku cinta dia?/
.
Aku bersiap-siap mengetuk pintu ruang guru, segenap hati menarik napas untuk menenangkan diri. Hah, padahal biasanya aku tak pernah segugup ini ke ruang guru, malah bagiku itu sudah termasuk rutinitas sehari-hari, namun kali ini berbeda, ya, amat berbeda.
Tok
Ketukan pertama, jantung terasa sudah mau lepas.
Tok
Ketukan kedua, kondisi jantung tetap tak berubah seperti pada ketukan pertama.
Tok
Ketukan ketiga dan …,
"Ya, silakan masuk," suara perempuan dari dalam ruangan terdengar mempersilakanku untuk masuk ke ruang itu. Dengan hati-hati kubuka pintu dan tersenyum, perempuan itu juga tersenyum ke arahku.
"Karin sensei, Yamato sensei-nya ada?" aku bertanya pada perempuan itu—Karin sensei yang sedang berdiri di dekat sebuah dispenser membuat dua cangkir teh hangat.
"Yamato-kun?" Karin sensei melirik jam tangan merah muda yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya, "jam segini sih, biasanya dia sedang belajar di perpustakaan, cari saja di sana, dia pasti ada."
"Oh begitu, terima kasih sensei," ucapku seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Yap, sama-sama," Karin sensei melanjutkan membuat tehnya. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu, dari ekor mataku aku bisa melihat seorang pria tampan menggunakan kacamata hitam duduk tidak jauh dari tempat Karin sensei berdiri. Pria itu tengah asik memainkan gitarnya dengan lembut dan penuh perasaan, mungkin salah satu dari cangkir teh yang dibuat Karin sensei adalah hak pria itu. Jika tebakanku benar, mereka mungkin sedang menjalin suatu hubungan. Romansa antar guru, lebih terdengar masuk akal daripada murid yang mencintai gurunya, aku tahu itu.
.
To be continue
.
a/n: haloooooooo! Adakah yang menantikan fict ini? #ngareptingkattinggi
Yak! Aku kembali dengan cerita romance murid-guru yang entah kenapa sepertinya membuatku fangirlingan sendiri ._.
Maaf jika ceritanya terkesan maksa, abal, gaje, pendek atau semacamnya, author gaje ini sudah berusaha semaksimal mungkin (_ _)
Curhat dikit ah, aku sedang dalam titik jenuh menghadapi sekolah, entah kenapa. Aku tahu itu bukan hal yang baik mengingat hanya setahun lagi aku di SMA, yah tapi mungkin sedikit lagi rasa jenuh itu akan kuenyahkan, hanya tinggal berusaha sedikit lagi :9
Terima kasih pada kalian semua yang sudah membaca ceritaku, review, alert maupun fave #emangada? Atau pun kepada siders yang sudah mau meluangkan waktunya yang berharga untuk membaca fictku ini dan curhatan gaje di atas, aku benar-benar berterima kasih pada kalian. Seandainya kita bisa bertemu ._.d
Baiklah, saatnya balesan ripiu! XD
Mitsuki Ota : makasih udah baca sama review! Yang chap sekarang ada gurunya lho ._.d oh ya tentang kebahasaan aku juga kurang tau yah #pundung
Siebte Gloxinia : hai glo! Di chap ini si omnya ada lho! Nyahahaha XD udah berusaha tapi tetap kayaknya romancenya nggak kerasa T.T maap deh ya chap depan akan lebih berusaha ._.d
BigKuma : cidaha? Apa itu? #eh ini nih udah ada YaMamonya ._.d
Yuki Sasaki : salam kenal yuki! Panggil aku hana aja yah! #promogila makasih udah baca dan review yah! Ini updatennya, semoga suka XD
...
Okeh, pada kamu yang sudah baca sampai sini, reviewnya tolong ya! XD
Sampai jumpa chap depan! ^O^
