Heart Conqueror © Kuro Tenma
Aldnoah Zero © A-1 pictures - Troyca
Warning : Inaho x fem!Slaine, OOC, terdapat OC untuk mendukung cerita ini
Rate : T
Perhatian! Dilarang melakukan praktek plagiarisme terhadap cerita ini. Hargai ide dan jerih payah penulis. Cerita ini tidak meraup keuntungan dalam bentuk apa pun.
Don't like? Don't read!
AN : Makasih ya buat yang udah review di chapter sebelumnya! Makasih juga buat yang udah follow atau pun memfavorit cerita ini. Spesial buat : YvineparG, , Seijuurou Eisha, annchan, capungterbang, Ichika07
Enjoy!
Chapter 4
"Syukurlah aku sempat mempelajari bahasa Bumi sebelum sampai kemari… Halo, perkenalkan, aku Unn, penduduk planet Xion…" ucap gadis berambut ungu tersebut. "…dan aku adalah awak dari pesawat hitam yang mendarat itu."
.
.
.
"Sebelumnya, kami mengaku salah dan meminta maaf atas kejadian yang menimpa laki-laki yang tadi mendekati pesawat kami. Adikku—Mi, tidak bermaksud membunuh mereka. Hanya saja karena mereka membawa senjata, adikku takut dan langsung menerjang begitu saja ke arah salah satunya. Mi tidak tahu ternyata gerakannya membuat salah satunya mati dan yang lain langsung bergerak menyerang begitu saja. Sesuai hukum pertahanan diri, adikku menghabisi mereka satu per satu." Gadis bernama Unn itu menjelaskan panjang lebar dengan kedua alis berkerut tanda menyesal. Ketika ia bergeser sedikit, tampaklah seorang gadis lain sedang menundukkan kepalanya.
"Kami akan menjelaskan maksud kedatangan kami kemari." Unn kembali bersuara. "Kami datang ke Bumi dengan tujuan meneliti makhluk hidup bernama laki-laki."
Kedua alis Magbaredge beserta awak lainnya terangkat ke atas. Tidak menyangka dengan ucapan yang sampaikan oleh gadis dari planet Xion tersebut.
"Korban terakhir Mi adalah seorang pemuda berambut pirang keemasan. Karena alasan penelitian, kami menculiknya. Kami menerjemahkan data dari sampel darah dan mempelajarinya. Selain itu, Mi menciptakan formula dan menginjeksikannya pada pemuda itu. Voila—tubuhnya bereaksi dan menjadi seorang perempuan." Unn sedikit salah tingkah saat melihat kru Deucalion di ruang kendali—terutama yang laki-laki—terbelalak ngeri mendengar ucapannya. Kecuali, Inaho yang masih berekspresi datar seperti biasa.
"Aku pernah membaca salah satu buku di perpustakaan kerajaan Vers. Di sana sekilas disebutkan tentang sebuah planet mungil yang letaknya jauh dari galaksi Bimasakti dan planet tersebut bernama Xion," ucap Asseylum memecah keheningan. "Di situ dituliskan isi planet tersebut hanya perempuan. Tidak ada laki-laki di sana…"
"Bingo! Dan itulah alasan kami ingin meneliti kaum laki-laki di planet ini." Unn tersenyum lebar menanggapi kalimat Asseylum. "Kami ingin bertemu dengan pemimpin Bumi untuk mendiskusikan hal ini lebih lanjut."
Magbaredge melirik ke layar utama yang menampilkan beberapa orang petinggi Bumi yang sejak awal sudah mendengarkan pembicaraan tersebut. Sebuah anggukan singkat didapatkan. "Baiklah, mari kita adakan pertemuan resmi sekaligus dengan penguasa Mars yang sudah datang kemari…"
Slaine mengerutkan dahinya. Ia mengerang pelan. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Butuh beberapa saat sampai ia bisa menyesuaikan matanya dengan sebuah ruangan yang cukup terang.
"Sudah bangun, Slaine?" suara itu membuat Slaine menengok ke samping. Di sebelahnya, Kaizuka Inaho sedang membaringkan badannya dengan posisi menyamping ke arahnya. Pemuda berambut coklat itu tidur di atas ranjang yang sama dengannya.
Slaine tersentak. Dengan gerakan cepat, ia bangun dari posisi tidurnya ke posisi duduk. Namun, gerakannya yang tiba-tiba membuatnya mengaduh kecil dan seketika pandangannya menghitam.
"Jangan buru-buru. Kamu baru saja sadar dan itu bisa membuatmu pusing," ucap Inaho ikut menegakkan badannya dan duduk di samping Slaine.
"…berisik." Semburat merah menghiasi kedua pipi Slaine. Pandangannya kini berangsur-angsur pulih. Ia memandang ke sekeliling. "Dimana ini?"
"Di rumahku dan kak Yuki," Inaho menjawab santai.
"Hah—"
"Ingat tentang perjanjian kita di penjara? Kalau kamu selamat, maka kebebasan berada di tanganmu."
Slaine terdiam sesaat. Ia hendak mengatakan sesuatu. Namun, gerakannya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat helaian rambut pirang keemasan yang menjuntai di sebelah lengannya. Ia mengambil helaian itu lalu memegangnya sambil menelusurinya sampai ke atas kepala. "Ra-rambutku—" gagapnya dengan wajah panik.
Slaine mengatupkan mulutnya rapat-rapat ketika mendengar sebuah suara yang naik beberapa oktaf. "Aaa—" Ia mengetes suaranya sendiri. "Suaraku…." Kening Slaine tambah mengerut heran. Namun, perhatiannya teralih ketika melihat ke bawah. Entah pengelihatannya yang buruk atau memang pada kenyataannya ada dua gundukan di dadanya? Dan gundukan itu etah mengapa terasa 'berat'.
Karena rasa penasaran, Slaine menarik kerah bajunya lalu mengintip ke dalamnya. Ia tidak menyadari kalau Inaho juga ikut mengintip di sampingnya. "Wow—" gumam Inaho singkat sebelum dagunya terantuk kepala Slaine yang tiba-tiba mendongak. Kedua mata hijau toska itu melotot dramatis. Kedua tangan Slaine bahkan sudah terpasang manis di kerah baju pemuda berambut coklat tersebut.
"Kaizuka Inaho—Orenji-iro—demi Tuhan! Apa yang kamu lakukan padaku, hah?!" Dan lengkingan itu sukses menulikan telinga si pemuda berambut coklat.
.
.
.
"Jadi… yah, seperti yang kuceritakan tadi." Inaho mengusap dagunya yang masih terasa nyeri akibat antukan kepala Slaine yang mendarat mulus tadi.
Slaine memandang dengan tidak percaya ke arah cermin di hadapannya. Di sana yang tercetak bukanlah seorang pemuda berambut pirang keemasan pendek, berbadan tegap, melainkan seorang gadis berambut pirang keemasan panjang sepinggang, berbadan tidak terlalu pendek, namun tidak terlalu tinggi untuk ukuran gadis pada umumnya. Jika dibandingkan dengan Inaho, tingginya malah hanya sedagu pemuda itu.
Dari lubuk hatinya terdalam, jujur, Slaine merasa tidak terima. Pertama, karena dia lebih pendek dari Inaho. Kedua, dari segi kekuatan, jelas sekarang Inaho lebih unggul darinya. Ketiga, ia merasa terperangkap di dalam tubuh asing yang tidak dikenalinya. Oke, alasan satu dan dua memang berhubungan dengan pemuda berambut coklat—menyebalkan—itu. Namun, alasan ketiga benar-benar fatal. Slaine bahkan merasa malu ketika harus pergi ke toilet.
Dan bagaimana seseorang tidak kaget, saat kamu terbangun dengan tubuh yang berubah menjadi lawan jenismu?
"Mulai dari sekarang kamu akan tinggal denganku." Inaho beranjak dari atas kasur dan berjalan mendekati pintu kamar. "…untuk mengantisipasi hal yang mungkin terjadi."
Gadis berambut pirang itu hendak protes. Namun, ketika mengingat ia tidak punya tempat lain, ia mengurungkan niatnya. Dan… kalimat pemuda itu membuatnya teringat kejadian dua tahun silam. Semua perbuatannya kepada orang-orang Bumi, perlakuannya pada Inaho—Slaine kembali merutuk dalam hati. Kenapa dari sekian orang harus Kaizuka Inaho yang paling ia ingat?
"Aku akan memberi tahu kak Yuki. Kupikir kak Yuki akan lebih mengerti keperluanmu dibandingkan aku." Kalimat itu terdengar sebelum pintu kamar tertutup seluruhnya.
Beberapa saat setelah Inaho pergi, Slaine memandang ke sekitarnya. Jika dilihat dari cat tembok yang berwarna biru tua dan putih, serta barang-barang yang ada di dalamnya, bisa dipastikan dengan jelas bahwa kamar itu milik Inaho.
Satu lemari pakaian, kasur ukuran king size, meja belajar, buffet samping tempat tidur dengan lampu di atasnya dan tambahan lemari untuk menaruh buku-buku pelajaran Bumi. Sungguh kamar yang standar.
Kaki Slaine melangkah mendekati kasur berseprei warna biru laut. Ia merebahkan diri di atasnya. Jika melihat jam yang terdapat di dinding kamar itu, saat ini sudah pukul sebelas lewat sedikit. Slaine merangkak di atas kasur dan melihat ke balik gorden jendela dekat tempat tidur. Sudah malam.
Melihat dari kalender digital di atas buffet samping tempat tidur, hari ini masih hari yang sama dengan hari pesawat asing itu mendarat. Sepertinya dia tidur terlalu nyenyak. Gadis itu tersenyum miring. Bahkan ia tidak bisa mengingat kapan saat terakhir ia bisa tidur pulas seperti itu. Ia mengingat hari-hari dipenuhi mimpi buruk selama berada di penjara bawah tanah itu.
Lantainya yang dingin, dinding berwarna kelam, udara lembab bawah tanah. Slaine menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin kembali lagi ke tempat itu. Lebih baik ia terpaksa tinggal berdua dengan Kaizuka Inaho daripada melewati hari-hari membosankan di dalam penjara seperti dua tahun terakhir itu.
Ketukan pintu kamar membuat Slaine bangkit dari kasur dan mendekati pintu kamar. "Ya?" katanya sambil membuka pintu itu perlahan. Rupanya orang yang mengetuk adalah kak Yuki. Ia melirik ke sekeliling. Inaho tidak ada.
"Nao-kun sedang menunggu di luar. Kalau dia yang kamu cari," Yuki tersenyum jahil saat mengatakannya.
"Eh, bu-bukan. Buat apa aku mencarinya—"
"Kalau begitu, Slaine…" Yuki menyela. "Besok, aku akan mengantarmu pergi untuk berbelanja keperluanmu. Tapi, sekarang aku akan mengajarkan hal sederhana menjadi seorang perempuan." Yuki masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar di belakangnya.
To Be Continued
Maaf, ini chaptenya masih pendek (malah super pendek, ya #dikeplak). Chapter depan udah mulai kok romancenya. 8D
Makasih karena udah menyempatkan membaca chapter ini. Silakan meninggalkan review kalau berminat.
Ttd, Kuro T.
